Beranda blog Halaman 41

BMH Maros Salurkan Wakaf Lahan Senilai Rp 7 Miliar

0

Maros, HidayatullahSulsel.com — Baitul Maal Hidayatullah ( BMH) Gerai Maros mendapatkan kepercayaan menyalurkan tanah wakaf dari masyarakat di kabupaten Maros.

“Ada enam lokasi tanah wakaf yang telah diterima jika dirupiahkan kurang lebih senilai Rp 7 miliar, tiga tanah wakaf telah dipusatkan menjadi pondok pesantren tahfidzul Qur’an, dua dibangun masjid dan menjadi pusat pembelajaran warga sekitar masjid, satu lokasi masih belum difungsikan berada di wilayah Cenrana,” rinci Ketua BMH Gerai Maros Fatahillah Abu Sitta di Maros, belum lama ini.

Selain itu, jelasnya, BMH Maros juga melaksanakan program kebaikan lain seperti di Mandai dan Tanralili ada empat titik menjadi pusat kegiatan program pendidikan dan dakwah.brbrSementara menjelang Ramadhan tahun ini, BMH Maros menebar baliho sosialisasi di beberapa titik pada Jumat (1/3/2024).

BMH Gerai Maros juga bekerjasama dengan Pesantren Tahfidzul Qur’an Hidayatullah membuka program pembinaan ummat melalui gerakan Belajar Mengajar Qur’an

Sudah enam titik pembinaan ummat yang telah dijalankan di masyarakat, dan pondok pesantren. “Pembinaan ini kita gerakkan santri dan ustadz ke masyarakat untuk mengajar Al Qur’an,” tutur Fatahillah selaku ketua BMH gerai Maros.(rls)

Mempertemukan Tawakkal, Nasib dengan Takdir

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Pernakah mendengar pendapat mengatakan, bila telah ditakdirkan terjadi, semua pasti terjadi, baik dia telah berdoa dan berusaha ataupun tidak. Sebaliknya, bila tidak ditakdirkan terjadi maka tidak terjadi, baik dia memohon ataupun tidak.

Terkesan pendapat itu benar secara mutlak, sehingga yang meyakininya tidak mau lagi berusaha bahkan berdoa sama sekali. Memandang remeh doa dan melemahkan mujahadah.

Pendapat tersebut bisa diluruskan dengan sebuah pertanyaan balik. Bukankah tidak kenyang seseorang kalau tidak makan. Manusia tidak berkembang biak kalau nikah dan kawin?

Kekeliruan berpikir dapat memunculkan persepsi, bahwa takdir itu berpihak pada orang tertentu. Yang kaya adalah untuk orang profesional dan pintar. Dan yang diterima doanya hanya untuk kyai dan ustadz. Yang jadi penguasa adalah memiliki trah orangtua penguasa.

Padahal, manusia dikaruniai Allah masing-masing akal dan pikiran untuk dimanfaatkan menjadi maju dan berkembang dan menjaga keberlangsungan hidup. Lalu kenapa tidak dimanfaatkan dengan baik.

Sementara hewan saja yang diberikan hanya naluri dibanding manusia dilengkapi akal dan naluri, namun pun hewan tetap berusaha untuk bertahan hidup dan menjaga keberlangsungan hidupnya.

Kekeliruan Memahami Tawakkal

Tawakal yang keliru muncul dari persepsi memahami takdir sama dengan nasib. Dia berpendapat, bahwa kondisi hidup yang dialaminya adalah takdir dari sebuah nasib dan kepasrahan yang harus diterimanya.

Tak heran orang sering beralibi dengan pepatah, ‘apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur’. Padahal bubur itu sendiri bisa jadi bukan akhir dari nasib, tapi bahan utama yang bisa menjadi makanan bernilai ketika diolah menjadi berbagai aneka menu yang nikmat.

Tawakkal itu bukan nasib, tawakkal juga bukan takdir yang datang begitu saja. Dalam tawakkal terdapat mujahadah, usaha keras dan kebulatan tekad.

Memiliki sifat tawakkal adalah sifat takdir baik, yakni sifat kebaikan pada diri seseorang. Sehingga merubah takdir menjadi takdir. Umar bin Khatab pernah berkata “lari dari takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain”

Nasib itu kepasrahan menerima keadaan tanpa ada upaya lagi merubahnya. Sementara tawakkal adalah sifat revolusioner, yakni kesungguhan berusaha menggunakan potensi diri untuk merubah nasib menjadi lebih baik dan dikuatkan dengan doa.

Agus Mustofa dalam bukunya “Mengubah Takdir”, bertutur , bahwasanya nasib bukanlah takdir. Nasib itu sendiri akan mengarah kepada perilaku-perilaku yang statis, pasrah, dan malas.

Sedangkan takdir itu berorientasi kepada perilaku yang dinamis serta meniscayakan kreatifitas dengan usaha maksimal untuk meraih takdir yang baik.

Hubungan Sebab Akibat

Usaha maksimal lalu bertawakkal serta takdir adalah hubungan kausalitas, karena menyangkut hubungan sebab akibat antara dua atau lebih sebuah keadaan. Sebab itu yang memicu suatu akibat. Mujahadah lalu tawakkal adalah sebab, sedangkan takdir itu adalah akibat.

Ibnu Qayyim Al Jauzy mengatakan, ‘sesuatu ditakdirkan dengan berbagai sebab. Salah satu sebab itu adalah doa. Segala sesuatu ditakdirkan tak lepas dari sebab-sebabnya.

Oleh karena itu, bila seorang hamba membawa sebab tersebut, pasti terjadi. Namun bila dia tidak membawa sebab tersebut takdir tidak terjadi.

Tawakkal yang baik adalah dengan mujahadah, tidak bermaksiat pada Allah dan doa. Doa bulkan pelengkap dari tawakkal. Doa adalah senjatanya orang beriman.

Bahkan Ibnu Qayyim mengatakan, ‘doa merupakan unsur sebab paling utama. Tidak ada sebab yang lebih bermanfaat dari pada doa untuk memperoleh sesuatu yang diharapkan.

Barang siapa diilhami berdoa, berarti ia akan mendapatkan ijabah. Alah Ta’ala berfirman. “….berdoa kepada-Ku, niscaya aku akan kabulkan” (QS.Ghafir;60). Ibnu Katsir mengatakan, ‘doa adalah ibadah.

Dengan demikian tawakkalnya orang beriman manakala dia tetap pada ketaatan kepada-Nya, maksimalitas mujahadahnya telah dilakukan lalu dipasrahkannya segalanya kepada Allah dengan doa penuh harap.

Barulah ada alasan Allah menentukan takdirnya untuk memudahkan segala urusannya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu”. (Q.S At-Talaq [65] : 3).(*)

Kekhawatiran Melahirkan Harapan Kebahagiaan

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Setiap orang yang berharap sering dilingkupi kekhawatiran. Khawatir muncul karena tidak terjaminnya harapan yang dinginkan akan terwujud. Kekhawatiran berlebihan menjadikan antara khawatir dan harapan seakan tak bisa bertemu

Harapan berbeda dengan angan-angan. Harapan, menginginkan sesuatu untuk diwujudkan atau diperoleh. Sedangkan harapan yang tidak terkait sesuatu adalah menjadi  angan-angan belaka.

Pada hakekatnya, kekhawatiran adalah sesuatu yang baik, manakala timbul rasa khawatir akan tak terwujudnya suatu harapan. Sebab setiap orang orang yang berharap pasti ada rasa khawatir. Khawatir tak digapai atau pun takut kehilangan sesuatu

Ibnu Qayyim al-Jauzy mengatakan “Siapa mengharap sesuatu, maka disyariatkan adanya tiga hal, pertama; menyukai apa yang diharapkan, kedua; khawatir akan kehilangan apa yang diharapkan, ketiga; berusaha keras untuk mendapatkannya.”

Hidup ini ibarat sebuah perjalanan membawa barang dagangan yang tak ternilai harganya, menuju keberuntungan, kebahagiaan dan kedamaian di dunia dan di akhirat.

Dalam Jami’nya, Turmudzi mengutip hadits dari riwayat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Siapa yang merasa takut (khawatir), ia akan berangkat di waktu malam. Siapa yang berangkat pasti sampai ke rumah. Sungguh dagangan Allah itu mahal. Dagangan Allah itu surga”

Hadits tersebut bermakna, oang mengharap surga Allah haruslah melalui perjuangan berat seperti orang yang berjalan di waktu malam hingga sampai ke rumah.

Allah lah menjadikan harapan bagi orang yang beramal shaleh, dan Allah juga menjadikan rasa khawatir pada mereka. Sehingga harapan dan rasa khawatir yang berguna adalah dengan berbuat amal sholeh.

Kekhawatiran adalah karunia Allah. Dengan kekhawatiran akan memunculkan rasa takut akan azab Allah. Membuat tumbuh semangat untuk bersegera beramal shaleh.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya,” (QS Al.Mulminun: 57-61)

Ayat tersebut bermakna, bahwa setiap orang beriman menghendaki kebaikan-kebaikan guna menggapai kebahagiaan. Disamping Allah mensifati yang bahagia dengan ihsan, kebaikan, juga mengaruniainya dengan khauf, kekhawatiran

Ibnu Qayyim mengatakan orang yang berbuat amal sholeh itu pasti bahagia, namun mereka tetap merasa khawatir. Sedangkan orang yang berbuat kejahatan pasti hina, tetapi ia merasa aman-aman saja

Posisi puncak amal akan ditemukan pada keadaan para sahabat Rasulullah SAW, bersamaan pada diri sahabat ditemukan pula puncak rssa kekhawatiran.

Sedangkan kita semua berada pada puncak kekurangan, bahkan melampaui batas, tetapi tidak pernah khawatir dan merasa aman-aman aja. Naudzu Billah mindzalik

Diriwayatkan tentang Abu Bakar ash Shiddiq, bahwa ia memegangi lidahnya lalu berkata “Inilah yang menyeretku ke tempat berbahaya”, Lalu dia pun menangis seraya dia berkata “Menangislah, kalau tidak menangis, berpura-pura menangislah”.

Selama iman masih bersemi dalam dada, kita senantiasa berlindung pada Allah dari tidak adanya rasa kekhawatiran.

Sebagaimana Ali bin Abi Tholib menangisi dirinya dengan tangisan dan kekhawatirannya. Rasa takut yang ada padanya disebabkan dua hal, panjang angan-angan dan hawa nafsu yang diperturutkan

Lanjut kata Ali bin Abi Thalib, “panjang’ angan-angan akan menyebabkan seseorang lupa pada akhirat. Sedangkan hawa nafsu yang diperturutkan akan menghalangi orang dari kebenaran”.

Senantiasalah berada pada kekhawatiran diri, agar tetap berada pada rel kehidupan yang benar dan selalu berbuat Ihsan. Sehingga harapan menggapai kebahagiaan niscaya akan diraih dan dirasakan.dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.(*)

Secuil Hikmah di Balik Perang Badar dan Uhud

0

Oleh : Ust Akib Junaid Kahar, Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Tanpa bermaksud mengecilkan, apa lagi sampai menafikan peran sekian banyak shahabat yang mendampingi Rasulullah dalam perjalanan dakwahnya, namun yang pasti, ada beberapa diantara para sahabat tersebut memiliki keistimewaan di atas standar rata-rata.

Salah satu sosok yang kami maksudkan, adalah Paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib. Keistimewaan beliau miliki diantaranya dapat terlihat melalui gelar disematkan oleh Rasulullah kepadanya, yakni “Asadullah (Singa Allah)”.

Pemberian gelar kepada Hamzah ketika itu, tentu saja tidak mengandung unsur nepotisme di dalamnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan faktor kekerabatan, apa lagi melalui cara-cara yang licik dan tidak bermoral.

Kemuliaan diraihnya murni karena penilaian obyektif, berdasar pada sepak terjang dan prestasi yang diukirnya, dan semua orang mengenal sosoknya, pasti memberi pengakuan sama.

Pengakuan diberikan kepada Hamzah, benar-benar berbasis pada penilaian sangat rasional dan berdasarkan pada hati nurani yang bersih. Bukan karena faktor tekanan, akibat tersandera oleh sekian banyak ulah mereka yang berpotensi untuk dipermasalahkan.

Sebagaimana lazimnya, Rasulullah memberi gelar kehormatan sebagai bentuk apresiasi, sekaligus menjadi motivasi dan inspirasi bagi sebanyak mungkin orang. Bukan karena ada tendensi tertentu, apa lagi bertujuan untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas Hamzah, agar layak menduduki posisi sebagai panglima perang saat itu, sekalipun usianya belum cukup.

Maka menjadi wajar kemudian, tatkala Hamzah menghembuskan nafas terakhir memicu kesedihan yang sangat mendalam di kalangan kaum muslimin ketika itu, tak terkecuali nabiullah Muhammad.

Kesedihan dirasakan akibat kematian Hamzah pada tahun ketiga Hijriah, sejatinya hanyalah pelengkap atas kesedihan yang telah merata sebelumnya, sebagai dampak kekalahan sangat menyakitkan dialami umat Islam pada perang Uhud.

Betapa tidak, baru saja 1 tahun sebelumnya, umat Islam merasakan euforia luar biasa, tatkala mereka berhasil keluar sebagai pemenang sangat spektakuler di perang Badar.

Kalau saja saat itu sudah ada lembaga survey, maka tidak satupun diantara mereka yang berani berspekulasi, memberikan prediksi kemenangan akan diraih kaum muslimin, sebab ditinjau dari segala sisi, mereka sangat mudah untuk dipecundangi.

Sempurnalah kemudian, sebab sejatinya pada perang Uhud, jika dianalogikan dalam pemilihan umum, di putaran pertama kaum muslimin sempat keluar sebagai pemenang, dan membuat pasukan kafir porak poranda.

Ada keyakinan yang sangat kuat, jika peperangan kali itu, mereka kembali akan keluar sebagai pemenang dan cukup dengan satu putaran.

Namun yang terjadi kemudian, benar-benar diluar dugaan, situasinya tiba-tiba berbalik, dan berguguranlah beberapa sahabat utama ketika itu, termasuk diantaranya sahabat Mush’ab bin Umair.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa Allah kemudian memberikan hiburan kepada kaum muslimin yang dilanda kegalauan luar biasa, berupa turunnya ayat 139 surat Ali Imran.

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu adalah orang yg benar-benar beriman”.

Pesan tersirat yang digambarkan dalam tafsir tersebut, penekanan pada kalimat terakhir dalam ayat itu, bahwa pada akhirnya tempat terpuji dan kemenangan pasti akan berpihak kepada orang yang beriman.

Karenanya, dalam konteks kehidupan kita hari ini, menjadi pekerjaan utama dan tugas terbesar kita sesungguhnya, adalah bagaimana menjadikan diri kita termasuk dalam barisan orang-orang yg beriman, yang tentu saja akan melalui aneka ragam ujian dengan sekian banyak levelnya.

Pada ayat 140, merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, setelah Allah memberikan penekanan bahwa menang dan kalah adalah bagian dari takdirNya yang senantiasa dipergilirkan, secara khusus disebutkan dengan sangat gamblang

وَلِیَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟

Bahwa kekalahan dialami umat Islam dalam setiap peperangan, dimaksudkan sebagai proses seleksi, mana yang benar-benar pejuang sejati, yg siap menerima dan menanggung segala resiko sebagai konsekwensi logisnya, dan siapa orang-orang yang berada pada barisan para pecundang, yang merupakan penumpang gelap, yang hanya mau berebut keuntungan saat kemenangan berhasil diraih.

Jika kita mencermati secara mendalam, khususnya pada perang Badar dan Uhud, maka ada hikmah besar yang sangat urgen untuk menjadi perhatian kita bersama.

Memenangkan sebuah pertarungan, tidak cukup hanya bermodalkan pada niat baik, ibadah tekun, semangat menggebu-gebu, keberanian yang luar biasa, kesiapan berkorban, bahkan termasuk mengandalkan dahsyatnya kekuatan doa.

Tapi lebih jauh dari itu, kita dituntut untuk memiliki perencanaan matang, khususnya pada pemilihan dan penguasaan tempat atau pos-pos strategis.

Pada perang Badar kita diajarkan, bagaimana Rasulullah seketika memutuskan untuk memindahkan markas perang, ketika seorang sahabat memberi masukan, berdasarkan ilmu strategi perang diketahuinya.

Dan berdasarkan Sunnatullah, merujuk pada ayat 11 Surah Ar – Ra’d “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Termasuklah diantaranya, mutlaknya strategi yang jitu dalam pertarungan.

Tak dapat dipungkiri, secara manusiawi dan berdasarkan pada sunnatullah, pemicu utama kekalahan pada perang Uhud, adalah ketika posisi strategis yang dikuasai oleh pasukan pemanah ditinggalkan sebelum ada perintah dari Rasulullah.

Jika dianalogikan dalam konteks pemilu, maka yang dibutuhkan tidak hanya banyaknya pendukung, apa lagi perhitungannya pada kehadiran mereka di berbagai kegiatan, piawainya para team kampanye, hebatnya para jurkam yang tampil, termasuk kecerdasan kandidat dalam memilih kata dan merangkai kalimat yg memukau.

Semuanya akan menjadi sia-sia, tatkala posisi strategis diabaikan, mulai dari Petugas KPPS  sampai ketua KPU, dari panwas di TPS hingga ketua Bawaslu, dan begitulah seterusnya.

Akhirnya….

Semoga kita semua adalah generasi pejuang, yang bukan sebatas pembaca dan penikmat sejarah, tapi akan tiba saatnya, kita akan turut mengukir sejarah dengan tinta emas, keluar sebagai pemenang dalam pertarungan antara Al Haq dan Al Bathil.(*)

BMH Jelang Ramadhan. Diawali Khataman Quran, Diakhiri Buka Puasa

0

HidayatullahSulsel.com — Jelang ramadhan, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) mengelar program buka puasa spesial setiap Senin dan Kamis. Kegiatan diikuti oleh seribu lebih santri hadir di 9 titik pesantren binaan di Sulawesi Selatan.

Kegiatan diawali khataman atau penamatan pembacaan al-qur’an 30 juz oleh para santri, yang kemudian dilanjurkan dengan pembacaan doa dari hajat para donatur.

Turut pula dihadiri Ustadz Zainuddin Musaddad, dai dan pakar parenting Jakarta, Senin (5/2/2023).

Ust Zainuddin menyampaikan apreasiasi kepada santri dan mendorong para santri agar istiqomah menempa diri dengan berpuasa. Juga berpesan untuk menguatkan nilai-nilai ibadah dan fokus pelajar agat berprestasi sehingga kedepannya dapat memberikan konstribusi bagi bangsa dan negara.

Di kesempatan yang sama, dalam doanya dan diaminkan oleh para santri tahfidz mengatakan “Lanjutkan kenikmatan berbagi agar Allah senantiasa menambah kebaikan yang kita peroleh,” ujarnya.

Fitrah, salah seorang santri yang mengukuti kegiatan program buka puasa spesial itu mengungkapkan kegembiraan, ia bersama teman-temannya dapat terkondisikan murajaah bacaan dan hafalan Al-Qur’an dan terlebih di akhir sesi ada menu buka puasa spesial yang disiapkan oleh Laznas BMH.

“Terimakasih kepada Laznas BMH dan donatur yang telah berbagai, semoga kebaikan, kesehatan dan kemurahan rezeki menyeratai bapak dan ibu” Fitra yang kini telah hafal 30 Juz.

Selain di kota Makassar, kegiatan buka puasa juga digelar di Ponpes Ar Risalah Parepare dan ponpes Ahlusuffa Luwu Timur.

Bagi yang berminat memberikan bantuan dapat berdonasi bantuan melalui Kantor Laznas BMH Jalan Tamalanrea Raya No.27A Makassar. Layanan jemput donasi HP/WA : 0857 1994 2004. Rekening Donasi an. Baitul Maal Hidayatullah. BRI : 305701003964504.(Rizki Dacosta⁩)

Tetaplah di Level Kebenaran Walau Cemoohan Menghimpit

0

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Meniti jalan kebenaran adalah pilihan, bukan keterpaksaan. Apalagi di akhir zaman seperti ini, dimana banyak jebakan-jebakan dan ujian yang menguji nyali keimanan kita. Untuk tetap berada dalam kebenaran atau ikut tergerus iman kita.

Memegang teguh kebenaran adalah level orang yang sadar bahwa tidak ada kata menyerah untuk tetap berbuat baik. Mengajak orang lain untuk ke jalur hidup yang benar, walau mendapatkan cemoohan, makian dan ujian selalu menghimpit sebagai pembawa kebenaran.

Allah memberi tuntunan untuk seseorang selalu kuat dalam membawa panji-panji kebenaran. Walau terdapat rongrongan datang bertubi-tubi dari orang yang tidak menghendaki tegaknya dakwah di tengah-tengah umat dan bangsa

Sebagaimana yang diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa.” (Q.S Al-A’raf [7] : 164).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perihal penduduk kota terpecah belah menjadi tiga kelompok: Satu kelompok melanggar larangan dan memakai tipu muslihat dalam berburu ikan di hari Sabtu.

Satu kelompok lagi melarang perbuatan itu dan memisahkan diri dari mereka yang melanggar, dan yang terakhir ialah kelompok yang bersikap diam, tidak mengerjakan, tidak pula melarang, tetapi mereka mengatakan kepada kelompok yang memprotes perbuatan tersebut.

Seperti yang dituturkan oleh firman-Nya, “Mengampa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras? (Al-A’raf: 164)

Artinya, mengapa kalian melarang mereka, padahal kalian telah mengetahui bahwa mereka akan binasa dan berhak mendapat hukuman dari Allah. Maka tiada faedahnya bagi larangan kalian terhadap mereka. Maka kelompok yang memprotes perbuatan itu menjawab perkataan mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian. (Al-A’raf: 164)

Sebagian ulama membacanya rafa’,  seakan-akan makna yang dimaksud adalah “Kami sengaja melakukan ini untuk pelepas tanggung jawab kepada Tuhan kalian.” Dengan kata lain, janji yang telah ditetapkan Allah atas diri kami untuk menjalankan amar ma ‘ruf dan nahi munkar.

Di kalimat terakhir terdapat kata “dan supaya mereka bertakwa”. (Al-A’raf: 164). Oleh Ibnu Katsir selanjutnya dikatakan “Mudah-mudahan dengan adanya protes ini mereka menjadi takut terhadap perbuatan mereka dan mau menghentikannya, serta mau kembali bertobat kepada Allah. Apabila mereka bertobat kepada Allah, niscaya Allah menerima tobat mereka dan merahmati mereka.”

Ketangguhan dan konsistensi berada pada jalan kebenaran dan tetap menjadi pembawa panji-panji kebenaran bukan jalan mudah. Onak duri, cacian bahkan ancaman jiwa adalah aksioma yang melekat pada dirinya dalam kehidupan kesehariannya.

Namun setiap ujian dan tantangan itu adalah penambahan motivasi dan penguat komitmen jiwa untuk tetap berada pada jalur kebenaran yang dipilihnya.

Tidak akan lahir orang-orang besar dari tempat dan suasana yang hidup nyaman. Setiap ujian, tantangan serta apapun bentuk tangan.hidup yang diterima akan semakin meningkatkan level, kemaqam mulia, yang tidak ditemukan oleh selainnya.

Anjing menggonggong kafilah berlalu, walau banyak meronrong pembawa panji kebenaran tetaplah berlalu. Saat umumnya manusia memilih diam terhadap kebathilan dan kemaksiatan, muncul insan yang berjuang untuk menciptakan masyarakat yang saling mencintai, dan komitmen pada kebenaran.

Tidak takut terhadap siapa pun yang mencelahnya, berani menegakkan kebenaran, walau di tengah-tengah kemaksiatan dan kebatilan. Istiqomah pada pilihannya sebagai penegak kebenaran hingga levelnya terus menanjak sebagai mujahid dakwah dan panutan masyarakat.(*)

Hikmah di Balik Turunnya Wahyu Pertama

0

Oleh : Bachtiar Aras, Dai Hidayatullah Sulawesi Selatan

HidayatullahSulsel.com — Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan yang lainnya yaitu pada bulan suci ini awal mula turunnya wahyu (al-quran) kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Suatu momentum sejarah yang tak pernah dilupakan oleh umat Islam.

Pada saat Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira (Jabal Nur). Sesuai dengan firman Allah: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Tak diragukan lagi, al-qur’an pertama kali diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala di bulan Ramadhan. Adapun mengenai waktunya, ulama berbeda pendapa seperti misalnya seorang ulama ahli tafsir Abul Qosim Muhammad bin Ahmad Al-Kalbi, dalam kitab tafsirnya At-Tashil Li Ulumi At-Tanzil, menyebutkan paling tidak, ada 16 pendapat ulama tentang waktu turunnya al-quran.

Namun yang paling khusus yang dijadikan hujjah ada 2 pendapat yaitu, pendapat pertama menyatakan bahwa al quran pertama kali diturunkan pada malam ke 17 Ramadhan dengan dalil : “Dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Anfal: 41)

Yang dimaksud hari Furqon adalah hari terjadinya perang Badr, yaitu pagi 17 Ramadhan 2 H. Sehingga berdasarkan ayat ini, al-quran pertama kali diturunkan di malam 17 Ramadhan.

Pendapat kedua menyatakan bahwa pertama kali al-quran diturunkan di salah satu malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. Karena pada malam-malam itulah Lailatul Qadar berada. Dalilnya adalah surat Al-Qadr : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar… (QS. Al-Qadr: 1).

Penulis lebih cenderung kepada pendapat yang kedua ini. Namun satu hal yang perlu diperhatikan bahwasanya kita tak perlu terlalu mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting dan utama adalah bagaimana kita selaku kaum muslimin dan muslimat dapat memetik hikmah dan pelajaran dari peristiwa turunnya al-quran ini.

Peristiwa turunnya al-quran terjadi pada saat Rasulullah berumur 40 tahun di tengah-tengah masyarakat jahiliyah (bodoh). Masyarakat jahiliyah di sini tidak diartikansebagai masyarakat yang tidak pandai atau tidak mengetahui ilmu pengetahuan, ekonomi dan lain-lain.

Malah kalau dilihat ternyata sebagian besar orang Arab pada saat itu terkenal dengan kecerdasan otak dan linguistik (sastra) serta kelihaian dalam perdagangan perdagangan (lihat surah Quraisy). Namun yang dimaksud jahiliyah itu adalah walaupun mereka cerdas intelligence-nya tapi karena tidak mengenal Tuhan yang sebenarnya bahkan mereka menjadikan berhala yang mereka buat sendiri sebagai tuhan alias sesembahannya.

Karena mengingkari keyakinan adanya Allah itulah yang menyebabkan mereka melakukan kemaksiatan mulai dari perzinaan, berfoya-foya, mabuk-mabukan sampai pada tingkat seringnya mereka perang antara suku dan golongan.

Semua perilaku bejat dan amoral ini menjadi kesukaan dan kebanggaan mereka hampir di seluruh kalangan masyarakat Arab. Di sinilah letak kejahiliahan mereka.

Di tengah kondisi dan situasi seperti itu. Allah mengirimkan seorang Rasul yang akan menjadi pendobrak sendi-sendi budaya dekaden bangsa Arab. Allah sebutkan dalam al-qur’an : “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai saksi”. (QS.Fath : 28)

Itulah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan kepribadian “Al-Amin”, beliau dikenal memiliki hati nurani yang suci. Dengan kesucian hati dan keluhuran akhlaqnya, beliau terpanggil untuk mengubah gelombang kenistaan yang melanda manusia di sekitarnya, tentunya atas bantuan dan pertolongan Allah.

Namun beliau mengakui kelemahannya sebagai manusia biasa sehingga tiada tempat untuk meminta pertolongan untuk mengubah kondisi ini kecuali kepada Yang Maha Pencipta. Pemilik hidup dan mati. Penguasa di atas yang kuasa, Dialah Allah, Rabb semesta alam.

Untuk lebih memenangkan pikirannya, sementara rasa tanggung jawab untuk adanya perubahan situasi semakin meledak-ledak, akhirnya Rasullullah berangkat mencari tempat pengasingan, mencari tempat untuk menyendiri. Dan tempat yang dituju terletak di sebuah bukit yang disebut Jabal Nur di mana ada sebuah gua yang dikenal dengan Gua Hira.

Di sinilah Rasulullah dengan segala unek-unek yang berkecamuk dalam jiwa. Ia banyak merenungkan nasib masyarakat sekitarnya dengan melakukan meditasi di tempat yang dikenal angker dan penuh binatang buas ini.

Di tempat inilah Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya sekaligus menawarkan solusi kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, dengan menurunkan wahyu yang pertama kali lewat malaikat Jibril.

Peristiwa bergua Hira, yang dilakukan oleh Rasulullah dapat dijadikan pelajaran bahwa betapa beliau dengan segala keseriusannya siap berkorban mengalahkan ambisi dan interest pribadinya untuk bersusah payah mendaki tempat tinggi dan berlama-lama di dalam gua yang belum pernah dikunjungi oleh siapapun.

Padahal kalau dipikir, bukankah Muhammad pada saat itu telah mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat dengan gelar Al-Aminnya? Apalagi peluang untuk menjadi penguasa tertinggi tanah Arab terbuka lebar.

Beliau juga sudah mempunyai seorang istri yang kaya dan setia. Kenapa semua itu ia tinggalkan? Hampir lima tahun lamanya Nabi mondar-mandir antara rumah dengan Gua Hira. Walaupun perjalanan menuju ke sana mengundang bahaya yang tidak sedikit, harus melewati padang sahara yang gersang dan tandus bermil-mil jauhnya.

Walaupun harus mendaki tebing yang tajam dan terjal dengan bekal makanan yang sangat minim.
Semua ini didorong oleh gelombang idealisme yang berkecamuk dalam petala jiwa, ia tetap melakukan perjalanan itu sebagai bukti bahwa ia telah berjuang dengan segala kesungguhannya untuk bertemu dengan Tuhannya.

Beliau buktikan keseriusannya itu dengan pengorbanan habis-habisan dengan meninggalkan segala kemewahan hidup, kemuliaan derajat, dengan meninggalkan anak dan istri tercinta.

***

Kita sudah mafhum, di dalam perjuangan mesti ada yang dikorbankan. Apa yang paling utama harus dikorbankan? Nafsu dan interest melekat pada jiwa setiap insan itulah yang harus dikorbankan karena ia merupakan tembok penghalang masuknya wahyu ke dalam hati sanubari setiap manusia.

Dengan perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh Rasulullah dengan jalan berkhalwat, menyendiri dalam keheningan di Gua Hira. Di dalam gua itu beliau bersembah sujud, mengasah hati, menjernihkan jiwa dan pikiran, mendekatkan diri pada kebenaran dan menjauhkan diri dari kebatilan dengan seluruh kemampuan dan kesungguhannya.

Dalam suasana keheningan di suatu malam di bulan Ramadan, di sanalah Allah berkenan menurunkan wahyu-Nya untuk pertama kalinya kepada hamba-Nya tercinta.

Dikisahkan bahwa Rasulullah didatangi malaikat Jibril alaihissalam dengan membawa surah al-alaq ayat 1-5 sambil menuntun membaca, Iqra (bacalah) hai Muhammad”.
Dengan rasa terkejut dan gemetar, Nabi menjawab kepada Jibril alaihissalam, “Maa anaa biqoori “(saya tidak bisa membaca).

Akhirnya malaikat Jibril memeluk erat nabi Shallallahu alaihi wasallam dan melanjutkan, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS Al-Alaq: 1-5).

Suatu pertanyaan yang mungkin menggelitik para pembaca. Bukankah ini adalah urusan Tuhan, manusia tidak bisa ikut campur tangan dalam wahyu mana yang harus pertama turun.

Kita tak tahu secara pasti, Tapi apa gunanya Allah melengkapi kita dengan instrumen akal kalau bukan untuk menyingkap rahasia ayat-ayat-Nya, baik yang tertulis qauliyah maupun yang tidak tertulis kauniyah.

Paling tidak kita ingin tahu latar belakang turunnya surat tersebut sehingga dari situ kita bisa menangkap pelajaran di balik diturunkannya Al-Alaq 1-5.

Jelas kita lihat pada lima ayat surat Al-Alaq berisi jawaban atas rintihan dan harapan dari Rasulullah. Boleh dikata, sangat pas betul Al-‘Alaq diinformasikan bagi atmosfer kejahiliyahan di tanah Arab, yang mayoritas diliputi kegelisahan dan kegoncangan jiwa itu.

Ibaratnya, di saat orang-orang dilanda kehausan yang teramat sangat, tiba-tiba datang seorang yang merasa bertanggung jawab ingin membantu mencarikan air minum sebagai pelega tenggorokan. Kemudian sang penolong ini berhasil menemukan air buat mereka.

Tentu luapan kegembiraan yang muncul dari orang-orang tadi dan berusaha meraih air minum tersebut..
Begitulah, Al-Alaq 1 – 5 turun sebagai air yang siap menjadi penawar dahaga.

Ia datang untuk menawarkan solusi kepada umat manusia.
Kalau kita mengkaji kelima ayat dalam surah tersebut maka kita menemukan 3 inti ajaran.

Ketiga inti global ini pasti ditemukan di setiap ayat dalam Al quran, yaitu menjelaskan adanya Tuhan (Rabb) Pencipta, Pemurah dan keberadaan dan seluk-beluk manusia (insan), sifat-sifat lainnya, membahas tentang alam beserta perangkat-perangkatnya.

Hal tersebut tergambar jelas pada ayat pertama, Iqra’bismirabbikalladzi khalaq adalah satu instruksi buat manusia agar memperhatikan dan mengambilkan bahan perenungan tentang keberadaan alam dan siapa yang mengadakannya.

Alam yang penuh keindahan. kerapian dan keteraturan. Matahari begitu perkasa memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru alam, taburan bintang di malam hari yang begitu indah, dataran bumi, deretan gunung, hamparan laut adalah gambaran kesempurnaan yang tiada taranya.

Lalu kita bertanya siapa di balik itu semua yang menjadi sutradara? Apakah seorang insinyur arsitektur atau pemborong bangunan yang sudah kuliah sekian tahun di luar negeri? Ternyata bukan.
Ada yang lebih hebat dari itu yang telah menciptakan gugusan bintang, bumi, bulan dan matahari. Dialah Allah Sang Khaliq.

Tak dapat dibayangkan betapa hebatnya gagah dan indahnya Ia. Betapa perkasanya Ia kalau ciptaan-Nya saja seperti itu sungguh.. mengagumkan. Dengan memanfaatkan potensi zikir dan pikir untuk merenungi ayat-ayat-Nya akan melahirkan sikap mental tawadhu’ di dalam mengarungi hidup ini.(*)

Laznas BMH Bagikan Buku Tadabbur Qur’an bagi Santri

0

Gowa, HidayatullahSulsel.com — Sebanyak 20 orang santri putri Ashabul Jannah Pesantren Hidayatullah Gowa menerima hadiah buku Tadabbur Al Quran dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah.

Penyerahan buku oleh Ustadz Rahmat Mahmud dan diterima Ust Ismail Anwar, salah seorang pengurus Pesantren Ashabul Jannah.

Ust Ismail mengungkapkan pembelajaran tadabbur Al-Qur’an menjadi bagian utama dan buku bantuan BMH ini akan menjadi menunjang pembelajaran Al-Qur’an dan menghafal para santri yang saat ini sedang mengikuti pendidikan.

“Alhamdulillah buku telah kami bagikan langsung ke santri putri, ini menjadi hadiah terbaik untuk mereka. Terlebih adik-adik yang kami asuh ini banyak berasal dari keluarga yatim-piatu,” ujarnya.

Sementara itu, Manager Prodaya Laznas BMH Sulsel, Basori Shobirin, mengatakan saat ini masih dibutuhkan 80 buku tadabbur Al-Qur’an untuk santri putra. BMH Sulsel lembaganya manargetkan sebaran buku tadabbur Al-Qur’an di berbagai wilayah di pedalaman Sulawesi.

“Di tahun ini kami menargetkan dapat berkhidmat dengan menghadirkan juga mushaf Al-Qur’an untuk para santri penghafal Al-Qur’an, mualaf pedalaman, masjid-mushola,” ujarnya.

Sebagai tambahan informasi, buku tadabbur Al-Qur’an open donasi per bukunya senilai Rp 100 ribu, sedangkan mushaf Al-Qur’an, dapat berdonasi senilai Rp 75 ribu.

Donasi bantuan dapat salurkan melalui Kantor Laznas BMH Jalan Tamalanrea Raya No.27A Makassar. Layanan jemput donasi HP/WA : 0857 1994 2004. Rekening Donasi an. Baitul Maal Hidayatullah. BRI : 305701003964504.(rls/*)

Periodesasi Sejarah Islam

0

Pengantar Manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu, Pasang Surut Peradaban Islam (4)

HidayatullahSulsel.com — Secara sederhana, periodesasi sejarah Islam dapat digambarkan sebagai berikut:

Pertama, periode antara abad ke 7-10 M (1-3 H). Selama periode ini kemajuan Islam tercatat sangat cepat. Ahli sejarah menyebutnya sebagai “the most civilized and progressive nation in the world” bangsa yang paling beradab dan paling progresif di dunia.

Saat itu peradaban Islam menjadi mercusuar. Disana sudah ada kota-kota yang indah, masjid-masjid yang molek dan universitas-universitas yang maju.

Kedua, periode antara abad ke 10-15 M (3-8 H). Akibat perang salib, dunia Islam mulai terimbas dogma, kekolotan dan absolutisme yang mengekang kemerdekaan kreasi. Saat ini mulai terlihat tanda-tanda kemunduran Islam.

Karena tanda-tanda kemunduran itu dibiarkan saja, maka dunia Islam pada saatnya mengalami kemunduran total. Kemunduran ini tidak hanya pada bidang amal dan ilmu, tapi juga keimanan.

Ketiga, periode antara abad ke 15-19 M (8-14 H). Pada abad ini Eropa mengalami kebangkitan yang luar biasa. Telah terjadi revolusi besar-besaran, mulai dari revolusi maritim, revolusi perdagangan, hingga revolusi industri.

Ketiga revolusi itu menghasilkan anak kandung berupa kolonialisme dan imperialisme yang menjerat dunia Islam. Pada periode ini dunia Islam seakan terkubur oleh sejarah.

Keempat, periode Islam abad ke 19 M (14 H) hingga kini. Pada masa ini ummat Islam mencoba untuk bangkit. Gejala kebangkitan itu dapat dirasakan dimana-mana. Telah terjadi revitalisasi Islam dalam berbagai bentuk gerakan.

Kebangkitan Islam ini menemukan momentumnya saat akan dimasukinya abad 15 Hijriyyah. Tapi sayang, dunia Islam masih meraba-raba, mencari alternatif yang bisa dijadikan landasan, tempat berpijak untuk melakukan kebangkitan.

Pasang surut peradaban Islam ini juga telah diisyaratkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Hudzaifah ra, bahwa setelah masa Nubuwwah akan ada Khilafah ‘ala manhaj nubuwwah, kemudian Mulkan Adhon, kemudian Mulkan Jabbariyyah, selanjutnya akan kembali Khilafah’ala Manhaj Nubuwwah.(fir/bersambung)

Pengantar Manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (3)

0

• Pasang Surut Peradaban Islam (3)

HidayatullahSulsel.com — Tokoh-tokoh gerakan pembaharuan Islam antara lain, Ibnu Taimiyyah, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad Iqbal.

Sedangkan gerakan yang memfokuskan pada usaha-usaha membangun kembali persatuan ummat Islam dalam satu kekuatan politik, telah dilakukan pula oleh tokoh-tokoh Islam di berbagai negara, seperti Sayyid Jamaluddin Al-Afgani dengan Pan-Islamismenya di India, Hasan Al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya di Mesir, Abul A’la Al-Maududi dengan Jamiat Al- Islaminya di Pakistan dan yang lainnya.

Tidak terkecuali di Indonesia, tokoh-tokoh dan para pemimpin- pemimpin Islam sejak lama telah melakukan usaha yang sama. Usaha untuk mewujudkan sebuah masyarakat Indonesia yang Islami telah diperjuangkan sejak kemerdekaan hingga hari ini. Berbagai strategi telah diuji coba.

Mulai dari yang berbentuk gerakan kultural, gerakan pendidikan dan ilmu pengetahuan, gerakan ekonomi, gerakan dakwah, sampai gerakan yang bersifat politik.

Mulai dari yang bersifat kooperatif sampai yang bersifat konfrontatif pernah dilakukan, namun hingga kini hasilnya masih sangat jauh dari harapan.(fir/bersambung)