Beranda blog Halaman 38

Dari Halaqah Kubra (3): Taushiyah Ust Hanifullah, Bahagianya Berkurban

0

HidayatullahSulsel.com — Berikut petikannya taushiyah Ust Hanifullah Dewan Murrabi Pusat Hidayatullah dari arena Halaqah Kubra Hidayatullah Sulsel:

Kehidupan ini akan berjalan dengan baik dan lebih baik kalau ada orang orang yang berkorban. Sebab karena pengorbanan itulah kemudian membuat kehidupan itu menjadi lebih baik dan nyaman.

Islam sebagai agama yang Rahmatan Lillalamin itu hadir dalam kehidupan kita, sebab adanya orang yang berkorban. Bukan sekedar hadir begitu saja, tapi hadirnya Islam itu karena pengorbanan.

Maka pengorbanan itu harus kita lakukan jika ingin hidup kita lebih baik dan berkualitas. Pengorbanan itu dilakukan dalam segala hal, apalagi itu kalau kita berkorban dalam garis perjuangan Islam.

Oleh karena itu sebagai ummat Rasulullah, kita harus tanamkan dalam diri kita perasaan gembira, bahagia kalau sudah berkorban. Terlebih kalau perasaan bahagia itu jika sudah berkorban melayani saudaranya.

Kapan ada orang seperti ini berarti ada spirit perjuangan yang luar biasa dalam dirinya.

Dalam mukadimah pada alinea peraturan organisasi. Ada di sana disebutkan, “Untuk mewujudkan cita-cita Islam yang Rahmatan Lilalamin itu butuh pengorbanan yang besar”. Sehingga sangat penting spirit perjuangan itu terus menerus dipelihara.

Begitu luar biasanya kita jika diberikan oleh Allah Ta’ala nikmat kebahagiaan berjuang. Dan lebih luar biasanya lagi jika nikmat spirit perjuangan itu bisa kita jaga dengan baik.

Fase fase yang dapat menjaga spirit bagaimana kita menikmati pengorbanan dalam berjuang itu. Ketika spirit kita, ibadah kita, cita cita, nilai nilai yang kita jadikan sebagai pedoman dalam melangkah di kehidupan ini dijadikan sebagai motivasi untuk senantiasa terus ditingkatkan.

Maka perlu kemudian spirit manhaj itu dijaga, sebab ini jadi ukurannya. Kalau spirit manhajnya meningkat, maka pasti kita menikmati perjuangan ini. tapi kalau spiritnya melemah maka otomatis akan mengalami pergeseran. Pada saat itulah kemudian akan terjadi ukuran ukuran yang bersifat kenikmatan duniawi semata.

Spirit perjuangan ini harus terus digelorakan. Karena untuk membangun perjuangan Islam. Untuk mewarnai Islam di seluruh aspek kehidupan itu butuh pengorbanan yang besar.(Ridwan Gagah)

Dari Halaqah Kubra (2): Ini Halaqah Nasional

0

HidayatullahSulsel.com — Perjuangan di Hidayatullah, butuh untuk diretas menjadi sebuah diskusi, butuh disemangati, agar spirit perjuangan itu terus menggelora dalam diri setiap kadernya.

Halaqah Kubra yang dilaksanakan DPW dan DMW Hidayatullah Sulsel didukung kampus utama Al Bayan Hidayatullah Makassar dan menggelar sebuah gelaran acara spektakuker, yang tidak biasa di Wadi Barakah kawasan Ponpes Ummul Quro Hidayatullah Tompobulu, Maros.

Bisalah disebut sebagai Halaqah Kubro yang bertaraf nasional. Dengan sebuah tema yang cukup menarik, br”Transformasi Spirit Perjuangan Menuju 100 Tahun Hidayatullah”.

Halaqah ini dihadiri oleh 8 pengurus Kampus Induk dan Utama Hidayatullah dari seluruh Indonesia, yakni Medan, Batam, Jakarta, Surabaya, Timika, dan Makassar.

Gelaran acara Halaqah Kubro kali ini, memang dilaksanakan usai penutupan Rakor Kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah di Kampus Al Bayan Hidayatullah Makassar, (7-8/05).

Peserta inti dari acara Halaqah Kubro yang digelar sehari semalam ini, adalah seluruh anggota halaqah Wustho di Hidayatullah Sulsel. Juga tentunya hadir jajaran pengurus DPD Hidayatullah dan DPW Hidayatullah Sulsel.

Yang sangat menarik dari acaranya ini, adalah para pemateri yang bisa dikatakan mewakili seluruh unsur struktur di organisasi Hidayatullah.

Materi pertama, pada Rabu malam, 08/05, dibawakan langsung oleh Ustad Dr. Tasrif Amin, M.Pd, Ketua Dewan Murobbi Pusat. Materinya beliau banyak membahas spirit kader-kader awal di Hidayatullah Makassar, yang berjuang dari jual majalah, cari donatur hingga ke parlemen.

Acara halaqah Kubro tersebut menjadi sangat syahdu, saat acara qimayullail berjamaah di tanah lapangan kawasan Wisata Barokah, Pucak Maros digelar. Masya Allah terasa nikmat beribadah beratapkan langit dan berlantaikan bumi.

Usai sholat subuh dan wirid pagi, (Kamis, 09/05), pencerahan ke Jamaah di lanjutkan dengan Materi dari Ustad Hanif Hannan. Beliau banyak menjelaskan tentang pengorbanan dalam perjuangan di Hidayatullah, dan pentingnya menjaga spirit perjuangan di lembaga ini.

Acara halaqah semakin menarik, saat taushiyah Ustad Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah, sekaligus beliau selaku tuan rumah pada acara tersebut.

Taushiyah Ustad AQM tentu lebih menarik, dengan melihat Hidayatullah yang lalu, sekarang, dan akan datang.

“Kondisi kritis generasi Hidayatullah, ada pada generasi ketiga, yakni generasi yang tidak lagi terlibat secara langsung dengan pengkaderan Ustad Abdullah Said dan para pendiri Hidayatullah” ungkap ketua pembina yayasan Al Bayan ini.

Kehangatan dan kesahduan acara semakin terasa, saat Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad memberikan Taushiyah nya.

Pada taushiyah beliau, yang banyak membahas surah Al Maarij, ayat 3-7. Taushiyah BPU Hidayatullah yang berdurasi hampir dua jam ini, mengungkapkan tentang pentingnya sabar dalam Perjuangan di Hidayatullah yang akan menghasilkan keindahan.

Acara taushiyah ditutup dengan doa dari BPU. Setelah acara taushiyah, kegiatan dilanjutkan dengan acara bebas, sarapan pagi dan mandi-mandi di sungai Kawan Wisata Wadi Barakah.

Semoga semua peserta dapat menangkap spirit dari gelaran halaqah kubro yang sangat bergengsi ini.(Sarmadani)

Dari Halaqah Qubra (1): Pertama, Seratusan Kader Wusta Halaqah Bersama Pimpinan Hidayatullah

0

HidayatullahSulsel.com — Untuk pertama kalinya penyelenggaraan halaqah qubra DPW dan DMW Hidayatullah Sulsel dihadiri lengkap pimpinan Hidayatullah.

Halaqah qubra kader wustha Hidayatullah se-Sulsel dilaksanakan di kawasan wisata halal Wadi Barakah, Ponpes Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu Pucak, Maros, Rabu-Kamis (9-10/5/2024).

Hadir menyampaikan taushiyah utama bapak Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, spirit perjuangan dan kelembagaan anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah KH Hanifullah dan Dr KH Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, serta Ketua Dewan Murrabi Pusat Dr KH Tasrif Amin MPdI.

Membersamai hampir 200an kader dan para pengurus DPD Hidayatullah se-Sulsel itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq Lc MA bersama jajarannya, serta pengurus dan pembina yayasan kampus induk dan kampus utama (KIKU) Hidayatullah se-Indonesia yang berkesempatan hadir usai mengikuti musyawarah khusus KIKU di Ponpes Al Bayan Hidayatullah Makassar, BTP Tamalanrea Makassar.

“Ini hal yang membanggakan kami di DPW dan Dewan Murrabi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, kesempatan langka dibersamai dan mendengarkan langsung motivasi dan taushiyah dari ustad-ustad pimpinan di Hidayatullah,” jelas Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd.

Para peserta halaqah mulai menikmati taushiyah sejak malam Kamis yang disampaikan Ust Tasrif tentang Jati diri Hidayatullah di lapangan terbuka beratap langit berselimut hawa sejuk perbukitan Tompobulu.

Selanjutnya dini hari peserta menikmati shalat lail berjamaah dipimpin oleh Ust Darmoyo pembina santri di ponpes Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu dengan alunan suaranya yang syahdu.

Ba’da shalat subuh dilanjutkan taushiyah Ust Hanif dan Ust Aziz serta taushiyah panjang KH Abdurrahman Muhammad yang menyemangati kesabaran dan keistiqomahan para pengurus dan kader Hidayatullah di Sulsel.

(Kutipan isi taushiyah dapat diikuti pada artikel selanjutnya)

Kegiatan halaqah ditutup dengan kegiatan refreshing makan ikan bakar dan mandi bersama di sungai jernih nan sejuk yang membelah kawasan agrowisata, camping ground, outbond dan villa Qur’an Wadi Barakah tersebut.

Pimpinan Hidayatullah yang hadir tak hentinya berdecak kagum dengan nikmat keindahan panorama dan wahana alam yang tersaji.

“Wadi Barakah selain untuk dakwah dan bisnis (destinasi wisata) juga kita obsesikan menjadi pusat kegiatan Pandu jambore nasional Hidayatullah seperti Cibubur. Yang representatif dengan alamnya maupun fasilitasnya,” jelas Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Aziz.(fir)

Halaqah Qubra Kader Hidayatullah Sulsel akan Dihadiri BPU dan Ketum Hidayatullah

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murrabi Wilayah Hidayatullah Sulsel akan menggelar Halaqah Qubra kader wustha Hidayatullah se-Sulsel di Wadi Barakah kawasan Ponpes Hidayatullah Tompobulu Pucak Maros, Kamis (9/5/2024).

“Alhamdulillah halaqah qubra kali ini spesial karena akan dihadiri Bapak Pemimpin Umum (BPU) dan Ketua Umum (Ketum) DPP Hidayatullah,” ungkap Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd di Makassar, Ahad (5/5/2024).

Selain Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad yang akan menyampaikan taushiyah utama, halaqah juga diisi rangkaian spirit perjuangan dan manhaj oleh Ketua Dewan Pertimbangan KH Hamim Thohari MSi dan Ketua Dewan Murrabi Pusat DR KH Tasrif Amin MPdI.

Juga spirit dari Ketua Umum DPP Hidayatullah DR KH Nashirul Haq Lc MA dan Dewan Pertimbangan Hidayatullah yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar DR KH Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi.

“Halaqah qubra kali ini sekaligus mengobati kerinduan para kader dan pengurus Hidayatullah di Sulsel untuk mendengarkan langsung motivasi perjuangan dakwah dan tarbiyah dari orang tua dan ustadz kita,” tambah Ketua DPW Hidayatullah Sulsel KH Abdul Majid MA.

Selain kader wustha, halaqah qubra juga dimungkinkan untuk dihadiri pula oleh kader Ulla yang berdomisili di wilayah Makassar sekitar seperti Maros, Gowa, Pangkep dan Takalar.

“Karena kapan lagi halaqah seperti ini akan lengkap dihadiri para pemimpin kita di Hidayatulllah,” tambahnya.

Sementara peserta Musyawarah Khusus Kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah se-Indonesia dan pimpinan Perguruan Tinggi Hidayatullah juga akan hadir menambah semarak halaqah qubra yang pertama kali di gelar di kawasan agrowisata spiritual Wadi Barakah tersebut.

“Konsep halaqah kali ini dalam suasana khusus pula di alam terbuka menikmati keindahan panorama alam Tompobulu,” tambah Panitia yang juga Kadep Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulsel Ust Nasrullah Alwi Lc.(fir)

Mushida Sulsel Pelatihan Implementasi Kurikulum Integral di Hidayatulllah Palopo

0

Palopo, HidayatullahSulsel.com — Departemen Pendidikan Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulawesi Selatan menggelar Pelatihan dan Workshop TK/PAUD Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Pelatihan dilaksanakan menurut Kadep Pendidikan PW Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadzah Susilawati, S.Pd.Gr.untuk peningkatan profesionalisme kepala sekolah dan guru. Dilaksanakan di Kampus/Pondok Pesantren Hidayatullah Palopo 26-28 April 2024.

“Kegiatan pelatihan dan workshop ini untuk lebih memaksimalkan pelaksanaan Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) se-Sulsel implementasi dari hasil Pelatihan KIBT tahap 1 dan tahap 2 yang dilaksanakan oleh PP Muslimat Hidayatullah,” urainya.

Semoga, harapnya, melalui pelatihan ini adameningkatkan profesionalisme Kepala Sekolah dan Guru dalam mengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Sekolah-sekolah TK/PAUD Hidayatullah se Sulawesi Selatan.

Kegiatan pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz H Dwi Subagyo, SSi mewakili Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd.

Kegiatan dihadiri pula Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan termasuk Ketua PW Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadzah Rahmatia ZR, SH.I.

Peserta Pelatihan terdiri dari para Kepala Sekolah dan Guru di 16 TK/PAUD Hidayatullah Sulawesi Selatan dengan jumlah peserta sebanyak 24 Orang.

Jumlah ini sedikit berkurang dari target yang direncanakan, oleh karena ada beberapa Kepala Sekolah dan Guru berhalangan hadir.

Materi pelatihan oleh para Instruktur dari alumni Pelatihan KIBT Tahap 1 dan 2 yang dilaksanakan oleh PP Muslimat Hidayatullah dan Instruktur Parenting Wilayah.

“Setelah kegiatan pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) ke dalam proses pembelajaran agar pengelolaan PAUD Integral Hidayatullah berjalan dengan standard,” tambah Ustadzah Susilawati.

Kegiatan didukung pula oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Selatan dan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan.(Reskyaman)

Spirit Kelembagaan Ketum DPP Hidayatullah: Kepemimpinan Ala Rasulullah

0

HidayatullahSulsel.com — Ketua Umum (Ketum) DPP Hidayatullah KH DR Nasirul Haq Lc MA menyampaikan spirit kelembagaan secara online di ajang Silaturahmi Syawal DPW Hidayatullah Sulsel di kampus Hidayatullah Enrekang, Ahad (28/4/2024). Berikut kutipannya.

Kepemimpinan dalam Islam itu berprinsip sebagaimana ditekankan oleh Allah ta’ala dalam Al-qur’an surah Ali-Imran Ayat 103.br”wa’tasimu bihablillahi jami’a wala tafarraqu”brbrMaka Rasulullah SAW menjadi contoh dan model kepemimpinan yang sempurna. Sehingga sampai kapanpun tidak akan ada yang akan melebihi bahkan menyamai model kepemimpinan beliau.

Maka kita bisa melihat kepemimpinan Rasulullah SAW begitu sangat komplit dan sistematis sekali, mengelola dan mengatur mulai dari hal-hal rumit sampai yang teknis.

Salah satu karakteristik utama model kepemimpinan Nabi Muhammad SAW adalah kita bisa jumpai dalam Qur’an Surah At Taubah ayat 128

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (Dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

Kalau kita mengkaji lebih jauh arti dari ayat ini maka penggalan ayat yang disampaikan itu benar-benar memberikan penjelasan yang sempurna.

Pertama, “Min Anfusikum, A’zizun A’laihi” Gerakan dakwah ini adalah gerakan kepedulian karena harus memahami betul kondisi dirinya, keluarga dan masyarakatnya terlebih dahulu. Maka beliau harus menjadi bagian, dekat dan terlibat dengan kehidupan masyarakat agar mudah diterima di tengah-tengah masyarakat.

Oleh sebab itu Allah Ta’ala memproses Rasulullah SAW itu dengan sangat panjang. Beliau disiapkan mulai dari pra wahyu sampai mendapatkan wahyu.

Saat yatim, apa alasan terbesar Allah Ta’ala jadikannya yatim. Ini semua dirancang sebab Allah ingin menjadikan Rasulullah itu memiliki kepedulian, empati dan rasa tanggung jawab yang luar biasa untuk memperbaiki kondisi masyarakat.

Kalau pemimpin itu tidak memiliki kepedulian yang luar biasa. Maka pasti nilai kepemimpinan itu akan biasa-biasa saja. Makanya pemimpin yang luar biasa itu lahir dari penderitaan, konflik dan sebagainya.

Karena itu dalam kurun waktu dua tahun, Rasulullah benar-benar jadi contoh dan teladan yang sempurna. Puncaknya berhasil mengantarkan rakyatnya dekat kepada Allah Ta’ala.

Selanjutnya adalah “Harishun alaikum” Yakni membimbing masyarakat untuk bersedia berpegang teguh pada tali keimanan dan keselamatan dalam bingkai keislaman.

Jadi pemimpin yang dicontohkan Rasulullah itu harus memiliki rasa tanggung jawab serta keinginan kuat untuk bisa menyelamatkan dan mensejahterakan ummatnya.

Maka ambisi bagi seorang pemimpin ita sangat penting. Ambisi di sini adalah keinginan yang kuat untuk mengantar saudara-saudara kita untuk senantiasa meningkat nilai keimannya kepada Allah Ta’ala.

Sehingga ada kesadaran dan keprihatinan serta rasa berdosa kalau tidak ada ummatnya tidak selamat atau tidak meningkat kualitas imannya.

Kemudian “Bilmu’minina Roufurrohim” yakni memilik sifat kasih sayang yang tinggi kepada orang-orang yang beriman.

Membangun komunitas orang-orang beriman yang saling menyantuni dan penuh kasih sayang satu dengan yang lainnya.

Karena begitu tingginya sifat kasih sayang Nabi kepada ummatnya, maka Nabi itu betul-betul menjaga perasaan mereka. Maka Nabi itu tidak pernah menegur dan mempermalukan sahabatnya diidepan umum. Tapi kalau dia menyampaikan teguran maka dia melakukan dengan bahasa yang global.

Banyak contoh yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW itu menegur dengan cara yang baik di depan umum. Salah satu contoh Hadits Rasulullah SAW:

Artinya, “Dari Abu Mas’ud yaitu ‘Uqbah bin ‘Amr al-Badri ra, berkata, ‘Ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, ‘Sesungguhnya saya pasti tidak ikut shalat subuh berjamaah karena si Fulan itu, karena ia memanjangkan bacaan suratnya untuk kita.’ Maka saya (Abu Mas’ud) sama sekali tidak pernah melihat Nabi ﷺ marah dalam nasihatnya lebih daripada marahnya pada hari itu.”

“Beliau ﷺ bersabda, ‘Hai sekalian manusia, sesungguhnya di antara engkau semua ada orang-orang yang menyebabkan orang lain lari. Maka siapa saja di antara kalian yang menjadi imam shalat untuk orang banyak, hendaklah ia mempersingkat bacaannya, sebab sesungguhnya di belakangnya itu ada orang yang sudah tua, anak kecil, dan ada pula orang yang segera hendak mengurus keperluannya.’” (Muttafaq ‘alaih)

Begitu cara Rasulullah menegur, tidak menyebutkan nama. Karena khawatir kalau disebutkan namanya mungkin bisa menyebabkan ketersinggungan. Teguran umum ini baik, siapa tahu mungkin diantara ummatnya ada yang juga melakukan perbuatan yang sama, maka bisa langsung instrospeksi diri.

Lebih jauh, Imam Syafi’i juga pernah menyampaikan agar jangan menegur dirinya di tempat umum. “Siapa yang menasehati aku di tempat ramai maka sungguh dia telah mempermalukan aku.”

Demikian pula yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hambal saat mendapati muridnya Harun Ibnu Abdullah sedang mengajar murid-muridnya yang terkena terik matahari sementara Harun bernaung dibawa bayangan pepohonan.

Imam Ahmad tidak langsung menegur di tempat itu, tapi mendatanginya dalam kesunyian sendiri.

Dia berkata, “Maafkan aku ya Harun. Aku tahu engkau biasanya masih terjaga meneliti hadis selarut ini. Maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sejak siang tadi.”

Harun pun terkejut. “Sejak siang? Apakah itu guru?” Suara Imam Ahmad kembali dipelankan bahkan dengan berbisik.

“Siang tadi aku lewat di samping majelismu saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadis-hadis. Sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan,” terang Ahmad bin Hanbal.

“Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun. Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk. “ Harun pun tercekat tanpa mampu berkata apa-apa.

Sang guru berbisik lagi lalu memohon pamit. Dia melangkah berjingkat dan dengan hati-hati menutup pintu.

Beberapa kisah ini memberi inspirasi kepada kita agar tidak menyakiti hati saudara kita dalam memberi teguran atau nasehat.

Demikianlah gambaran model kepemimpinan Rasulullah SAW. Sehingga dengan begitu mudah diterima dengan baik oleh ummatnya hingga saat ini.(Ridwan Gagah)

Silaturahmi Syawal DPW Sulsel di Hidayatullah Enrekang. Kuatkan Komitmen Tegaknya Peradaban Islam

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menggelar Silaturahmi Syawal 1445 H di kampus Hidayatullah Enrekang, Sabtu-Ahad 18-19 Syawal (27-28/4/2023).

“Alhamdulillah ini sebagai kepercayaan terhadap kami di Hidayatulllah Enrekang menjadi tuan rumah kegiatan rutin tahunan Silaturahmi Syawal yang menghadirkan para pengurus inti lembaga,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Enrekang Ust Syawal.

Peserta yang hadir para Ketua, Sekertaris dan Bendahara DPD Hidayatullah se-Sulsel, pengurus yayasan kampus (ponpes) utama, madya dan Pratama dan organisasi pendukung Pemuda Hidayatullah hingga manajemen unit usaha lainnya seperti BMH, BTH dan HiTrave.

Manajemen HiTrave turut memanfaatkan event tersebut untuk mengenalkan travel haji umrah milik Hidayatullah tersebut dan menyampaikan paket dan programnya.

“Semoga Silaturahmi Syawal yang telah dilaksanakan menjadi penambah spirit perjuangan dan dakwah serta semakin menguatkan ikatan berjamaah dan ukhuwah,” jelas Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Drs Nasri Bukhari MPd.

Ia juga berharap dari beberapa spirit maupun kajian manhaj yang disampaikan di ajang Silaturahmi Syawal semakin menjadikan kampus-kampus Hidayatullah di Sulsel semakin terbuka dan pihak lain memandangnya tak ekslusif.

Hadir menyampaikan kajian manhaj dan kepemimpinan selama dua hari pelaksanaan instruktur nasional Hidayatullah KH Anwar Hambali.

Salah satu poin disampaikan mengingatkan kembali tugas kerja Peradaban Islam yang menjadi visi Hidayatullah yakni mengajak orang beriman dan melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT.

Selain mengajak melakukan kebaikan kepada manusia dan mencegah kemungkaran. “Tentunya pula terus mengembangkan tempat yang akan dan telah menjadi kampus untuk menjadi miniatur pelaksanaan nilai-nilai peradaban Islam,” harapnya.

Hadir pula menyampaikan spirit dari Dewan Murrabi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel KH Ismail Muhtar. Juga refleksi Ramadhan oleh sejumlah Ketua DPD di antara DPD Gowa, Toraja Utara, Bantaeng maupun DPD Luwu dan Wajo.

Rangkaian silaturahmi kader tersebut diisi pula taushiah online oleh Ketua Umum Hidayatullah KH DR Nashirul Haq Lc MA.

Dalam taushiyah tersebut ulama muda kelahiran Sinjai tersebut menekan tentang menguatkan sistem kepemimpinan Nubuwah menuju era 50 tahun kedua Hidayatullah.

“Setiap kader Hidayatullah khususnya sekarang lagi menjabat sebagai pengurus untuk membuat legacy kepemimpinan dengan lahirnya sistem kepemimpinan, supra struktur, infra struktur dn kultur berjamaah,” urainya.(fir)

Skala Getaran Tanpa Batas (13)

0

Keterlahiran Membutuhkan Perawatan

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Kita lanjutkan obrolan tentang keterkaitan antara kelahiran dan perawatan. Sebagaimana halnya kelahiran secara biologis, maka keterlahiran ideologis atau keyakinan memerlukan proses lahir dan perawatan maksimal sesudah terlahir.

Ideologi atau pun keyakinan adalah proses perenungan yang panjang, dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah iqra’. Yakni meng-iqra’ eksistensial diri sebagai hamba di hadapan “kebesaran” Rabb (Tuhan) sebagai yang Maha Pencipta (iqra’ bismirabbik).

Dari iqra’ bismirabbik’ inilah, mengantarkannya ke titik penting, “titik nol”, yakni kesadaran akan kehinaan dan ketidak berdayaan dirinya di sisi Sang Khaliq. Dan inilah yang melahirkan suatu pengakuan dan persaksian keyakinan atau keimanan kepada-Nya, serta segala konsekwensi logis dari keimanannya itu. Semakin luas dan tajam iqra’ seseorang akan semakin kuat pondasi keimanannya.

Seperti halnya bangunan, legitimasi kuat atau rapuhnya bangunan ditentukan oleh kondisi konstruksi bangunannya. Apakah memiliki ketahanan menghadapi goncangan, beban massa, dan perjalanan usia pada bangunan itu.

Demikian halnya iman, kuatnya atau tidaknya (ke-istiqomahnya) imannya bisa diukur dari kekuatan dan ketahanan menghadapi ujian godaan, bahkan rongrongan keyakinannya. Ujian yang membentuk karakter kesabaran dalam pendakian iman menuju perjumpaan dengan Sang Khaliq.

Agar iman tetap eksis dan kokoh dalam diri seseorang, maka harus dijaga dan dirawat. Adapun penjaga dan perawatnya adalah ketaqwaan. Taqwa itu sendiri disamping adalah hasil dari kualitas keimanan, dan juga berfungsi sebagai penjaga dan perawat iman.

Sangat wajar kalau kesuksesannya mukmin menjalani ibadah shiyam serta amalan Sunnah yang menyertainya selama Ramadhan akhirnya mampu melahirkan orang-orang muttaqim. Itulah Insan bertaqwa yang bersemi tertanam kuat iman di dadanya. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Takwa itu di sini (sambil menunjuk dada)”.

Taqwa yang fungsional merawat iman adalah menjadi modal besar strategis terbangunnya mental maupun spirit seseorang yang mampu membangun karya-karya besar dan monumental yang berpengaruh. Serta memiliki benteng pertahanan yang amat kuat menghadapi segala tantangan dan problematika hidup.

Tentu lebih lengkaplah dia ketika iman yang dirawat oleh taqwanya juga imunnya dirawat oleh isterinya yang perawat.(*)

Skala Getaran Tanpa Batas (12)

0

Melahirkan dan Merawat

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Melahirkan dan merawat adalah bagian terpenting dalam eksistensi keberlangsungan kehidupan manusia. Keduanya memiliki keterkaitan, namun memiliki perbedaan mewujudkannya.

Melahirkan adalah proses “mengadakan” kepermukaan bumi. Sedangkan merawat adalah proses “pemeliharaan”, kepastian kelahiran yang terpelihara dengan baik hingga tumbuh besar dan dewasa.

Dalam benak kita mungkin kita bertanya, mana yang paling penting, serta paling berat melaksakannya, antara melahirkan dan merawat ?

Bisa saja ada berpandangan “melahirkan” lah sebab tidak akan ada perawatan tanpa melahirkan terlebih dahulu.

Tapi, ada alasan tak kalah kuatnya bagi yang memilih “marawat”, sebab tidak ada guna dan arti “melahirkan” tanpa perawatan. Semua yang terlahir akan sia-sia, kerdil bahkan sirna sebelum tumbuh berkembang.

Menurut saya, kedua-duanya berada pada posisi penting dan utama dari keberlangsungan kehidupan manusia, dan keduanya adalah siklus kehidupan. Manusia lahir perlu perawatan, hingga tumbuh dewasa dan selanjutnya melahirkan. Dan seterusnya tersiklus dalam kehidupan.

Jika dikaitkan dengan eksistensi diri kita sebagai hamba-Nya, walaupun tujuan manusia diciptakan sebagai hamba, tidak dengan sendirinya melahirkan manusia sadar akan eksistensinya sebagai hamba-Nya.

Lahirlah kesadaran kehambaan memerlukan perenungan pemikiran panjang dan luas. Proses inilah disebut dengan “iqra”. Yakni “iqra’ ” melahirkan iman. Dan proses lahirnya iman inilah yang akan kita bahas pada sesi selanjutnya.

Sebelum kita akhiri, ada kekhawatiran ranah diskusi ini terbawa kediskusinya Abunawas. Diskusi tak berujung pangkal, tentang “mana duluan ada, apakah telur atau ayam….” (*)

Skala Getaran Tanpa Batas (11)

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Sering kita berpersepsi dengan pemahaman, bahwa orang shaleh dipastikan beruntung, bahagia di dunia dan balasan surga di akhirat.

Tak terpikirkan, bahwa sering kali orang shaleh yang rajin beribadah, rajin berpuasa dan berbuat banyak amalan keshalehan lainnya, akan berakhir dengan kerugian di akhirat.

Siapa gerangan yang termasuk golongan tersebut ?…. Dialah yang terus mengejar dunia, dan Allah pun memberikan balasan dan disempurnakan sepenuhnya atas berbagai macam kebutuhan dan kenikmatan dunianya.

Hal tersebut diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. (Q.S Hud [11] : 15).

Namun kesempurnaan kehidupan dunianya melahirlah sifat sombong, dan berbuat riya. Karena merasa kesuksesannya adalah atas usahanya sendiri. Terhadap sifat itu, Allah berfirman: “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”.(Q.S Hud [11] : 16).

Penafsiran terhadap ayat tersebut, Ibnu Abbas mengatakan, barang siapa berbuat amal shaleh untuk mencari keduniawian, seperti melakukan puasa, shalat dan bertahajjud di malam hari, yang semua itu dia kerjakan hanya semata-mata hanya mencari keduniawian. Maka Allah berfirman, “Aku akan akan memenuhi apa yang dicarinya di dunia, ini sebagai pembalasannya, sedangkan amalnya yang ia kerjakan untuk mencari keduniawian itu akan digugurkan, dan dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi”.

Agar tidak menjadi orang-orang yang tidak merugi, jadikanlah dunia ladang amal, dengan memposisikan semua aktivitas keseharian kita adalah semata dalam rangkaian pengabdian kepada Allah. Niscaya kita memiliki bekal dari Allah Ta’ala, berupa jaminan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat kelak.

Oleh getaran keimanan, meyakini kalau Allah menjamin itu kepastian yang tidak boleh ada keraguan. Beda dengan urusan proposal, tidak dijamin cepat cair kecuali ada ‘ordal’…. (*)