Beranda blog Halaman 37

Seberapa Penting Mengetahui Sejarah Pasang Surut Peradaban Islam ?

0

Oleh: St. Syamsiah Abdullah, Ketua MMW Mushida Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Setiap peradaban besar termasuk Peradaban Islam, memiliki proses sejarah masing-masing. Mengalami pasang surut sejarah, tumbuh berkembang, maju. berjaya, anti klimaks hingga mengalami kemunduran, bahkan tak sedikit ada yang hancur.

Islam lahir oleh sebuah kondisi masyarakat Arab yang telah terpuruk dalam segala aspek tatanan kehidupannya. Keterpanggilan (Rasulullah) Muhammad untuk mencari jalan keluar dari problematika itu, akhirnya mendapatkan solusi fundamental, dengan Allah menurunkan wahyu-Nya.

Walau lahir di masyarakat gurun Arab, Islam mampu tersebar ke seluruh penjuru dunia menjadi peradaban besar dan eksis hingga berabad-abad lamanya. Berawal dari Kota Madinah, terbangunlah pusat peradaban di berbagai penjuru dunia sampai terakhir di kekhalifaan Turki Usmani.

Kemunculan, kemahsyuran dan kemumduran, serta kemunduran Peradaban Islam adalah perjalanan sejarah panjang pasang surut peradaban. Hal itu adalah pelajaran menarik dan berharga yang wajib dipelajari dan dipahami secara mendalam bagi umat Islam dan generasi berikutnya.

Diantaranya adalah: Pertama, kita memiliki wawasan pengetahuan luas, lebih detail tentang apa, siapa, kapan, di mana dan dampak dari peristiwa atau kejadian sejarah peradaban masa lampau Peradaban Islam itu.

Kedua, Membangun jiwa pembelajar sejati. Mempelajari dan mencari tahu sebuah peristiwa sejarah, dan itu tidak mudah. Setiap peristiwa dan perjalanan sejarah, harus dianalisis menggunakan metodologi tertentu dengan keabsahan sumbernya, serta memberi kemampuan analisis yang lebih tajam. Apalagi sejarah peradaban Islam memiliki berbagai peristiwa keunikan yang mempengaruhi peradaban dunia.

Ketiga, memahami sejarah panjang kehidupan peradaban Islam yang beragam dan peristiwa sejarah yang berbeda-beda. Dapat memahami bagaimana sejarah dimulainya Peradaban Islam dibentuk, faktor mendorong menggapai kekayaan dan penyebab-penyebab terjadinya kemumduran bahkan kehancurannya.

Keempat, menarik hikmah dibalik berbagai peristiwa sejarah. Dimana kita dapat belajar dari kesalahan. Suatu peristiwa dianggap bersejarah apabila memiliki dampak bagi kehidupan selanjutnya,. Dimana akan diketahui latar belakang terjadinya peristiwa, sebagaimana halnya tentang kejayaan dan kemunduran dalam peradaban Islam.

Khusus tentang kemunduran, akan dipahami tentang prinsip utama kesalahan baik dalam tatanan syariat-Nya ataupun dalam membuat suatu keputusan politik pada pemimpinnya. Dengan belajar sejarah tersebut berarti kita tidak akan mengulang kesalahan yang sama berikutnya.

Kelima, kita harus bisa membuat keputusan dan langkah kongkrit yang bisa memberi dampak positif bagi terbangunnya kembali kekayaan dan kejayaan peradaban Islam berdasarkan metode awal Rasulullah membangun peradaban Islam di Madinah bersama para sahabatnya. Kurun atau peradaban terbaik sepanjang masa.(*)

Lagi, Hidayatullah Parepare Buka RQH. Unit ke 10

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Parepare kembali membuka Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH).

Bertempat di kediaman H Ramli di Jalan Lasinrang, Soreang ,Kota Parepare, RQH Hj Netti Herawati merupakan unit kesepuluh resmi dilaunching Sabtu, 17 Dzulqa’dah Malam 1445 H (25/05/2024).

Pembukaan RQH tersebut setelah dua hari sebelumnya DPD Hidayatullah Parepare meresmikan RQH ke 9.

“Alhamdulillah menyambut niat baik tuan rumah dan jama’ah maka tak berselang lama RQH Ke 10 diresmikan,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Parepare Ahmad Syahril SPd.

Launching RQH Hj Netti Herawati dihadiri seluruh perwakilan elemen organisasi. Perwakilan DPW, Kampus Madya, Gerai BMH, POS Da’i, Sekolah Da’i, serta orpen Pemuda dan Mushida.

“Kita bersyukur telah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti tuan rumah dan keluarga besar H Ramli. Niatan beliau menjadikan rumahnya sebagai wasilah pembelajaran Qur’an akhirnya tercapai malam ini, maka kita semua yang hadir patut mendukung dan support penuh terselenggaranya Kegiatan-kegiatan Qur’ani dirumah ini,” harap Ust Ahmad Syahril.

Ia mendoakan dengan keberadaan RQH menjadi sebab kampung atau kompleks perumahan akan semakin berkah karena ada tempat yang didalamnya digaungkan tilawah Al Qur’an.

Penamaan RQH Hj Netti Herawati mengabadikan nama dari almarhumah istri H Ramli.

“Alhamdulillah terima kasih banyak kepada program dakwah pelayanan ummat DPD Hidayatullah Parepare, niatan kami selama ini akhirnya terwujud. Harapan kami selaku tuan rumah mudah-mudahan RQH ini awet, orang-orang yang belajar di sini nantinya istiqomah sampai bisa menterjemahkan Al Qur’an serta menjadi pahala jariyah bagi keluarga kami sendiri” harap H Ramli.

Kadept Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Rezkiyaman SW SPd MM dalam sambutan pembukaan RQH berpesan bahwa kesempurnaan sholat itu merujuk pada bacaan Qur’an yang sempurna.

“Bacaan surah Al Fatihah kita harus sesempurna mungkin karena ia adalah rukun sholat, bacaan Qur’an yang sempurna akan menentramkan hati bahkan kehidupan kita, silahkan kita rasakan,” ujarnya.

Menurutnya, waktu yang kita khususkan bersama Qur’an maka akan berefek besar bagi kehidupan kita karena ia adalah pedoman hidup.

“Hadirnya RQH ini InSyaa Allah menjadi wasilah kemudahan bagi kita tuk lebih giat belajar Qur’an,” harapnya.

Pada kesempatan ini Yayasan Kampus Madya Ar Risalah Hidayatullah Parepare sebagai partner sinergi berkesempatan mempromosikan program Pendidikan yang diselenggarakannya.

Ketua Yayasan Ar risalah Ustadz Abdul Jabbar SE memohon doa dan sinergi dari orang tua santri yang hadir untuk terus istiqomah bersama-sama mendidik generasi milenial dan selalu mendekatkan hari-harinya dengan Qur’an, seperti halnya pembelajaran yang ada di sekolah Ar Risalah.

Ibu Hasna perwakilan dari jama’ah RQH tertua di Parepare menyampaikan testimoninya selama belajar di RQH,

Ia mengaku bacaan Qur’anbya sudah standar setelah melewati beberapa tahap pembelajaran di RQH Husnul Khatimah, karena setiap buku paket yang diajarkan pembimbing itu relevan dengan keadaan.

“Pesan kami kepada ibu-ibu nantinya yang belajar di sini Sabarki’ belajar Qur’an In Syaa Allah lambat laun akan fasih,” ujarnya.(Abu Haniyyah)

Pahamilah Orang Lain, Jangan Minta Dipahami

0

Obituari KH Muhammad Hasyim HS

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Setiap tokoh besar memiliki karakteristik khusus dari prinsip hidup yang dipegangnya. Demikian halnya KH Muhammad Hasyim HS, memiliki prinsip hidup yang dalam dengan makna, yakni “pahamilah orang jangan mau dipahami”

Prinsip ini penulis dapatkan langsung dari Ust Hasyim, panggilan akrab Allahu Yarham KH.Muhammad Hasyim.HS, pendiri Hidayatullah Balikpapan, ketika penulis berkunjung ke kediamannya, dan meminta nasehat khusus tentang bagaimana kiat sukses menempuh jalan dakwah.

Menariknya, ketika penulis berkunjung lagi beberapa kali, prinsip itu masih saja diulangi dan diejakannya. Bahkan saat penulis minta lagi nasehat lainnya, dengan senyum khasnya, beliau katakan, “itu saja jangan mau dipahami, tapi pahamah orang lain.”

Nasehat itu menjadi energi dahayat bagi penulis. Yang kala itu, usia muda penulis tak sebanding dengan beban berat mengawal berjalannya dengan baik penyelenggaraan pendidikan di Kampus Pusat Gunung Tembak, kini bersama Kampus Induk ‘Ummul Quro’.

Awalnya penulis merasa kurang puas dengan hanya seuntai kalimat itu saja yg beliau sampaikan. Namun setelah beliau jelaskan, bahwa “ini adalah nasehat jitu dari Abdullah Said, ketika saya mau di SK-kan tugas merintis cabang Hidayatullah di daerah”.

Prinsip tersebut begitu melekat dan mendalam bagi kepribadian Ust.Hasyim. Mengkarakter, menguatkan sikapnya yang irit bicara, kecuali yang penting dan diperlukan saja untuk didengar, serta dibutuhkan bagi yang mendengarnya.

Kalaupun dia berbicara, senyum khasnya selalu mendahului sebelum lisannya berbicara pada hal-hal yang penting-penting saja.

Prinsip “pahamilah dan jangan mau dipahami” ini dapat disaksikan dari setiap kali ada panggilan tugas, secara personal maupun secara umum, tanpa banyak komentar ‘ba..bi..bu’, Ust.Hasyim selalu terdepan melakukannya.

Secara tidak langsung memberi contoh untuk lebih banyak berbuat dan sedikit berbicara.

Prinsip tersebut mambuat beliau tidak mau banyak memberi pengarahan apalagi berceramah. Tapi sifatnya lebih banyak mendengar saran dan masukan dari berbagai pihak sebelum memutuskan sesuatu terutama di saat beliau sementara diamanahi berbagai amanah kepemimpinan di Kampus Gunung Tembak.

Inilah membuat muru’ahnya tetap terjaga, kharismatik penuh kewibawaan. Figur teladan bagi murid atau santri, serta jama’ah umumnya. Menteladankan bagaimana mendedikasikan seluruh usia, waktu, pikiran dn ilmunya demi terwujudnya cita-cita mulia dalam jihad fiisabilillah.

Selamat jalan Guruku, Ustadzku. Semoga mendapatkan balasan terbaik disisi-Nya.

Shinrin-Yoku dan Equilibrium Kehidupan Ala Wadi Barakah

0

Oleh : Irfan Yahya, Aktivis Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Manusia modern saat ini acap kali didera oleh berbagai macam aktivitas kehidupan yang mengalami perubahan yang serba cepat, terjebak dalam rutinitas harian yang melelahkan, penuh dengan tekanan dan ketegangan.

Ritme hidup dengan kecepatan yang tiada henti membuat kita acap kali abai dengan keajaiban sederhana yang ditawarkan oleh alam.

Alam, dengan segala keindahannya, memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa, dan salah satu cara untuk memanfaatkannya adalah melalui praktik Shinrin-yoku.

Shinrin-Yoku, adalah tradisi masyarakat Jepang yang mulai dipopulerkan pada era 80an, sebuah aktivitas relaksasi yang full berinteraksi dengan alam. Dewasa ini telah banyak diminati bukan hanya di Jepang, tapi juga sudah merambah ke Eropa, Amerika, dan juga di Indonesia.

Shinrin-yoku atau biasa dikenal dengan istilah forest bathing secara sederhana adalah aktivitas memanjakan seluruh pancaindra dengan bermandikan suasana alam, seperti hutan.

Artinya, untuk melakukan aktivitas ini hanya perlu berada di alam dan menikmati suasananya melalui indra pendengaran, rasa, penciuman, perabaan.

Shinrin-yoku mengajarkan kita untuk meleburkan diri menyatu dalam ketenangan dan keindahan alam. Lebih dari sekadar beraktivitas di hutan, praktik ini menekankan pentingnya pengalaman sensorik yang mendalam.

Merasakan setiap belaian angin dengan penuh kelembutan, gemercik riak air yang mengalir di sungai, kicauan burung dan jenis binatang lainnya serta aroma tanah dan rerumputan yang segar.

Berharap segenap elemen ini meransek masuk ke alam bawah sadar kita, meresapi setiap detail, dan membiarkan mekanisme alam bekerja mendefragmentasi jiwa raga kita.

Kehidupan modern yang kerap dipenuhi oleh hiruk pikuk dan kegaduhan, Shinrin-yoku menawarkan sebuah solusi menuju ketenangan.

Konsep ini memiliki manfaat yang tak terbantahkan. Penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di alam dapat mengurangi kadar kortisol, hormon stres dalam tubuh kita.

Tidak hanya itu, forest bathing juga dapat meningkatkan suasana hati, mengurangi kecemasan, dan bahkan memperbaiki fungsi kognitif.

Dalam hamparan alam terbuka, kita menemukan sebuah tempat di mana beban hidup kita terasa lebih ringan, dan kita dapat merenung serta menemukan kembali diri kita yang sebenarnya sehingga keseimbangan hidup dapat kita raih.

Konsep keseimbangan hidup atau equilibrium kehidupan, sangat relevan dalam konteks ini.

Equilibrium hidup merujuk pada keadaan di mana seseorang menemukan keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan, keluarga, kesehatan, dan kesejahteraan.

Dalam kehidupan modern yang sering kali mendominasi perhatian kita, menemukan keseimbangan ini bisa menjadi sesuatu yang sangat sulit ditemukan.

Equilibrium adalah proses interaksi yang terjadi antara komponen-komponen yang ada di dalam aktivitas hidup umat manusia dapat berjalan secara harmonis dan juga berimbang, serta memberikan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan umat manusia.

Konsep equiblirium kehidupan dalam Islam adalah hal yang mutlak harus dihadirkan dan sangat jelas intruksinya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Al-Qashash ayat ke- 77.

Kawasan Wadi Barakah, adalah sebuah destinasi yang sangat pas dan cocok untuk menerapkan kedua konsep tersebut.

Kawasan ini hadir dengan konsep kawasan wisata halal dengan menyediakan villa Qur’an, Agrowisata, Camping Ground dan Wahana Outbond.

Kawasan ini berupaya mengintegrasikan pesona alam dan implementasi iman dalam kehidupan sehari-hari sebagai landasan gerak sekaligus sebagai orientasi hidup dan kehidupan.

Hal ini sekaligus menjadi wujud ikhtiar untuk kembali ke akar-akar kehidupan yang sangat fundamental, ke tempat di mana kita bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan sejati.

Dalam Kawasan Wadi Barakah, kita senantiasa diajak merefleksikan diri yang sering kali tersembunyi oleh kesibukan sehari-hari. Diajak untuk melihat ke dalam diri kita sendiri, mengakui perasaan dan pikiran kita, dan membiarkan mekanisme alam bekerja membantu kita merefleksikan kehidupan kita.

Rutinitas dalam kawasan ini sangat memungkinkan untuk itu, pada malam hari di bawah kanopi langit yang bergelimpangan bintang, di atas hamparan rumput yang basah akibat terpahan kabut, dengan cahaya temaram penerangan yang mengitari kawasan Wadi Barakah kita dapat menikmati sensasi shalat berjama’ah, shalat Magrib, Isya dan Subuh.

Sepertiga malam diisi dengan kiyamul lail, berdiri tegak menengadahkan tangan ke langit seraya bermujat menundukkan qalbu menyimak lantunan ayat-ayat suci Alquran dengan bacaan tartil dan bersanad.

Aktivitas infaq sadaqah digalakkan, wirid, tadarrus dan tadabbur Qur’an, silaturrahim dan silaturfikir sesama yang hadir di kawasan Wadi Barakah.

Shinrin-yoku dan equiblirium ala Wadih Barakah juga mengajarkan pentingnya menghargai alam dan merawatnya.

Alam memberi kita begitu banyak tanpa meminta balasan, dan sudah saatnya kita belajar untuk hidup selaras dengan lingkungan sekitar kita.

Melalui praktik ini, kita bisa belajar untuk menghargai setiap makhluk hidup, setiap pohon, setiap sungai, sebagai bagian dari kehidupan kita yang saling terhubung. Inilah esensi dari equilibrium hidup: sebuah keseimbangan yang tidak hanya memperhatikan kesejahteraan pribadi, tetapi juga kesejahteraan lingkungan dan dunia di sekitar kita.

Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian, konsep Shinrin-yoku dan equilibrium kehidupan ala Wadi Barakah menawarkan sebuah cara untuk menemukan kedamaian.

Ini adalah sebuah perjalanan yang membawa kita kembali ke akar-akar kita, ke dalam pelukan alam yang menenangkan. Setiap kali kita merasa tertekan oleh hidup, kawasan Wadi Barakah hadir, siap untuk menerima kita, menawarkan ketenangan dan kedamaian hidup.

Melalui keseimbangan ini, kita menemukan bahwa harmoni dengan alam juga membawa harmoni dalam hidup kita sendiri.

Mari kita bersama-sama menemukan kembali keajaiban alam dan kedamaian jiwa melalui praktik Shinrin-yoku dan Equiblirium Kehidupan di kawasan Wadi Barakah.

Kita biarkan mekanisme alam mendefpragmentasi alur kehidupan kita, dan dalam prosesnya, kita juga belajar untuk lebih menghargai dan merawat alam. Dengan demikian, kita mencapai equilibrium hidup, keseimbangan yang harmonis antara diri kita dan alam semesta dengan tuntunan qalbu yang tercelup wahyu. Wallahualam.(*)

Hidayatullah Parepare Launching RQH ke 9

0

HidayatullahSulsel com — Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Al Khairiyah resmi dilaunching Kamis, 16 Dzulqa’dah Malam 1445 H (23/05/2024) bertempat di kediaman Haris, Jalan Syamsul Alam Bulu, Bumi Harapan, Parepare.

RQH ini merupakan unit kesembilan yang dibuka oleh DPD Hidayatullah Parepare. Peresmian RQH oleh Kadept Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Rezkiyaman SW SPd MM.

Di RQH masyarakat akan diajarkan belajar membaca Qur’an dengan metode GranD MBA. Metode ini akan mempermudah pembelajaran Al Qur’an.

“Saya pesankan kepada seluruh jama’ah yang akan belajar nantinya di sini, mari nikmati alur pembelajaran di RQH ini, sabar, konsisten adalah kuncinya. Karena metode ini In Syaa Allah akan memudahkan dan membuat kita jauh dari kata bosan belajar Qur’an” ujarnya.

Ketua DPD Hidayatullah Parepare, Ahmad Syahril SPd menyampaikan syukur dan terima kasih kepada tuan rumah yang telah bersedia menjadikan rumahnya sebagai wasilah belajar Qur’an.

“Ada satu hadits dari Rasulullah bahwa di bumi ada keluarganya Allah, siapa mereka? Adalah Ahlul Qur’an, manusia yang selalu dekat dengan Qur’an, selalu BerQur’an, istiqomah dengan Qur’an,” jelasnya.

Satriani selaku tuan rumah sangat antusias menyambut program ini. Ia terharu melihat kekompakan dan semangat belajar para ibu dan jama’ah yang telah lebih dulu terlibat dalam program ini.

Di kesempatan launching tersebut turut hadir membersamai partner sinergi DPD Hidayatullah Parepare Ketua Gerai BMH Parepare, POS Da’i Sulsel, Sekolah Da’i, Yayasan Kampus Madya Ar Risalah, Mushida, Pemuda Parepare, serta perwakilan RQH Binaan. (Abu Haniyyah)

Wafatnya KH Muhammad Hasyim HS. Perginya Semua Pendiri Hidayatullah

0

“PARA PENDIRI BENAR-BENAR TELAH HABIS”

Oleh : Aqib Junaid Kahar, Dewan Murrabi Pusat Hidayatullah

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Kepergian Ust. Muhammad Hasyim HS. kemarin siang, akhirnya benar-benar melengkapi kepergian semua para pendiri Hidayatullah, yang terdiri dari lima orang anak muda dan masih berstatus bujangan ketika itu.

Bukan menolak dan siap beradu argumentasi, kalau ada orang yang mencoba untuk menyebutkan kekurangan Hidayatullah, namun kami semua sungguh sangat takut, jika termasuk dalam kategori orangn yang kufur nikmat.

Melihat sekian banyak kader, yang menyebar bukan saja di seluruh penjuru tanah air Indonesia, bahkan dalam beberapa tahun terakhir sudah merambah ke berbagai negara, dengan jumlah mencapai ratusan dengan aneka variasi aktivitas.

Kehadiran para kader di tempat tugas, tak sebatas menambah jumlah penduduk setempat, melainkan tampil ke gelanggang dengan segala dinamikanya, sebagai pembuktian bahwa Hidayatullah senantiasa memberi manfaat kepada sebanyak mungkin orang.

Sama sekali tak bermaksud untuk menyombongkan diri, semata refleksi dari rasa syukur yang luar biasa, bahwa jika saja capaian Hidayatullah hari ini, ingin diurai satu persatu dan diceritakan secara detail, entah berapa jilid buku yg harus ditulis.

Yang pasti… Kami para kader sangat menyadari, bahwa sehebat apapun yang telah dicapai hari ini dan yang akan kita songsong di hari-hari mendatang, kesemuanya menjadi sangat kecil dan nyaris tidak ada artinya sama sekali, bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh para pendiri.

Satu langkah awal, jauh lebih berarti dibandingkan sejuta langkah selanjutnya. Ungkapan ini bukanlah pernyataan retoris sama sekali, tapi memang berangkat dari fakta yang melahirkan kesadaran akan hal itu.

Dari sekian banyak mutiara hikmah, yang telah ditaburkan oleh para pendiri, kemudian menjadi modal besar bagi kader dalam mengemban amanah, agar jiwa kami tetap stabil, satu poin di antaranya yang sangat berbekas di benak kami, dan itu dilontarkan oleh Alm. Ust. Muhammad Hasyim HS. adalah “Bersyukurlah kalian, karena Hidayatullah ini masih memiliki sekian banyak kekurangan”.

Sekilas mungkin menimbulkan kebingungan, kok banyaknya kekurangan justru harus disyukuri, namun kemudian menjadi hentakan yang sangat dahsyat, ketika Alm. melanjutkan, “…bahwa kekurangan yang banyak itu, adalah modal paling besar, mengantarkan kita untuk senantiasa mendekat kepada Zat Maha Kuasa, dan itulah karunia besar tak ternilai”.

Kesuksesan dalam berbagai bentuknya, sejatinya adalah kode keras yang harus disikapi serius, sebab umumnya menjadi pemicu utama, kita menjaga jarak kepada Pencipta, yang pada akhirnya ada sikap mental seolah benar-benar tidak membutuhkan kehadiran dan bantuanNya. Dan inilah musibah terbesar dalam hidup.

Secara pribadi saya sangat bersyukur, memiliki beberapa kenangan indah dengan para pendiri, wabilkhusus dengan Alm. Ust. M. Hasyim HS. Termasuk tatkala Beliau baru saja menikah, di mana saya masih kanak-kanak ketika itu.

Kedekatan saya dengan beberapa santri putri saat itu, yang umumnya saya panggil Kakak, mulai dari Ka Irma (istri Ust. Abd. Latif Usman), Ka Hafsah (Istri. Alm. Ust. Budi Setiawan), Kak Intan (istri. Alm. Ust. Syamsu Rijal Aswin) dll. Termasuklah Ka Rosmala (Istri Alm. Ust. Hasim HS), membuat saya seringkali bermanja-manja kepada mereka, termasuk ngotot untuk dipangku saat berada di mobil, ketika pertama kali Ust. Hasyim akan ke rumah mertua ketika itu.

Akhirnya… Kami para kader mendoakan setulus-tulusnya, agar kiranya para “senior” Hidayatullah yang telah berpulang terlebih dahulu, khususnya para pendiri, dan utamanya Ust. Hasyim HS yang baru meninggal kemarin siang, mendapat ampunan, sekaligus memperoleh ganjaran terbaik atas segala perjuangannya, sembari berharap kami semua dipertemukan kembali kelak di dalam surga Allah.(*)

Taushiyah KH Abdurrahman Muhammad di Halaqah Kubro: Dengan Istiqomah dan Pengorbanan, Sabar Itu Indah

0

HidayatullahSulsel com — Kutipan taushiyah Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad di Halaqah Kubro Hidayatullah Sulsel di Wadi Barakah kawasan Ponpes Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu Pucak Maros, 9 Mei 2024 :

Alhamdulillah, ditengah persaksian Allah Subḥānahu wa Ta’ālā atas kehadiran kita di tenpat ini, kita pun bersaksi atas segala karunia yang telah diberikanNya.

Hal ini dibuktikan dengan adanya barisan saff perjuangan kita di Hidayatullah, yang Allah di dalam perjuangan ini memberikan cinta.

إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلَّذِینَ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِهِۦ صَفࣰّا كَأَنَّهُم بُنۡیَـٰنࣱ مَّرۡصُوصࣱ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaf: 4).

Perjumpaan kita saat ini, karena dipersaksikan oleh langit. Hal ini sama dengan haji wada, yang juga dipersaksikan langit. Hal ini terasa lebih nikmat, Karena kita langsung bersatu dengan alam (di kawasan wisata halal Wadi Barakah ini).

Ada kesempurnaan kenikmatan.

ٱلۡیَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِینَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَیۡكُمۡ نِعۡمَتِی وَرَضِیتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِینࣰاۚ”

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.[Surat Al-Ma’idah: 3]

Alhamdulillah, antara semua cerita itu, ada mata rantai yang bersambung…

Dan alhamdulilah, kita masuk dalam mata rantai barisan saff perjuangan ini.

(Beliau terhenti sesaat dan menangis)

Astagfirullah… Saya sebenarnya selalu menahan tangis, jangan menangis, karena takut bermasalah. Karena kalau menangis tidak bisa bicara..

Tadi dalam perjalanan saya, tiba-tiba teringat ayat di surah Al Maarij (tempat-tempat naik)

{ مِّنَ ٱللَّهِ ذِی ٱلۡمَعَارِجِ (3) تَعۡرُجُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَیۡهِ فِی یَوۡمࣲ كَانَ مِقۡدَارُهُۥ خَمۡسِینَ أَلۡفَ سَنَةࣲ (4) فَٱصۡبِرۡ صَبۡرࣰا جَمِیلًا (5)

Ini yang dikatakan sabar itu indah. Saya sempat bertanya sama Ustad Nasri, Siapa yang menemukan (lokasi pondok kita di Pucak ini), tapi beliau sendiri tidak tahu.

Alhamdulillah, dulu saya masih diberikan kekuatan naik mobil kesana kemari. Ke Sumatra, Papua… Hari ini ke Pucak. perjalanan pendek, tapi mengasyikkan.

Kita perlu pertahankan rumah-rumah panggung, sapi yang berkeliaran, anjing yang ada di jalan, biarkan semua itu karena ini keindahan.

Tapi yang saya mau ceritakan adalah jalan berliku perjuangan selama ini, turun naik, ternyata di sini (Tompobulu Pucak Maros) indahnya.

Sabar itu identik dengan pengorbanan saja.

{ فَٱصۡبِرۡ صَبۡرࣰا جَمِیلًا }

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik. [Surat Al-Ma’arij: 5].

Bersabarlah, karena sabar itu indah. Ketika Rasulullah hendak berhijrah, waktu itu turun jin dari Afrika, setan itu rapat, jangan penjara Muhammad, tapi bunuh saja.

Saya kenal baik dengan Ustad Abdulla Said, ketika saya masih di Parepare, saat beliau naik kapal kayu bersama sapi.

Di Parepare itu, beliau saya kenang karena mandi malamnya jam 12 malam, dan suaranya sholat lail yang khas, bacaanya yang khas. Makanya sumur di gedung Peradaban Hidayatullah di Pare itu saya larang ditutup, ada cerita sejarah di situ.

Itu lah indahnya Iman dan sabar ini… Pertanyaan kenapa kita memilih tempat di Pucak ini, kenapa kita dakwah sampai ke Irian, ini ada perjuangan yang di dalamnya ada iman dan kesabaran. Sehingga kita bisa merasakan keindahan saat ini.

Di balik itu tentu ada pengorbanan. Pengorbanan harta dan jiwa orang-orang terdahulu. Dalam meniti kesabaran ini, energi itu tidak akan boleh habis. Kalau energi itu habis, maka parkir dia.

Hanya bagi orang kafir { إِنَّهُمۡ یَرَوۡنَهُۥ بَعِیدࣰا } Mereka memandang (azab) itu jauh (mustahil). (Surat Al-Ma’arij: 6) وَنَرَىٰهُ قَرِیبࣰا Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). (Surat Al-Ma’arij: 7).(Sarmadani/Bersambung)

Hidayatullah Parepare dan Pesantren Alam Sinergi Program Quran

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Sinergi Program Qur’an Hidayatullah Parepare dengan SMA Islam Pesantren Alam Indonesia

Comingsoon

Wujudkan Pendidikan Berkualitas Hidayatullah di Sulsel, DPW Gelar FGD

0

HidayatullahSulsel.com — Departemen Tarbiyah dan Kepesantrenan Dewan Pengurus Wilayah (DPW( Hidayatullah Sulsel menyelenggarakan focus group discution (FGD) di ruang rapat Ponpes Al Bayan Hidayatullah Makassar, 9-10 Mei 2024.

“Rekonstruksi dan standardisasi sekolah menjadi tema sentral diskusi yang disampaikan Kadep Dikdasmen DPP Hidayatullah Dr Nanang Nurpatria MPd dan Kadep Kepesantrenan DPP Hidayatullah Ust Syakir Syafii,” jelas Kadep Tarbiyah dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel H Dwi Subagyo.

FGD diikuti unsur Ketua Departemen Pendidikan DPD, pengurus Yayasan, dan Kepala Sekolah perwakilan Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Di akhir kegiatan FGD dilaksanakan penandatanganan kerjasama program standardisasi bahasa Inggris berstandar internasional dengan Penerbit Mentari Group.(Dwi)

Rumusan Hasil FGD Pendidikan 2024 Hidayatullah Sulsel

1.Tri program prioritas Depdik DPW Sulsel 2024
a. Standar SDI
b. Standar Finansial
c. Standar Pengelolaan

2. Penetapan 4 Rayon MKKS PIBT Hidayatullah Sulsel.
a. Rayon MKKS Luwu Raya (Luwu, Palopo, Lutra, Lutim) Koordinator : Ust. Jumawir
b. Rayon MKKS Ajatapareng (Barru, Parepare, Sidrap, Pinrang, Enrekang) Koordinator: Abdul Djabbar
c. Rayon MKKS Zona Selatan ( Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar Jeneponto, Bantaeng)
Koordinator : Edi Qays, M.Si
d Rayon MKKS Bosowasibuse ( Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Bulukumba, Selayar) Koordinator : Ust. Ahmad Munsif, S.Pd

3. Kegiatan MKKS Offline dilaksanakan per triwulan dan online setiap bulan.

4. Merealisasikan Standar Bahasa (Arab dan Inggris) dengan pengadaan buku paket kerjasama dengan Deptren untuk Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dengan Penerbit Mentari Group.

5. Menjadikan SD Integral Al Bayan sebagai Sister School dan sekolah Model jenjang Sekolah Dasar.

Dari Halaqah Kubra (4): Spirit Kelembagaan Ust Aziz, Kepemimpinan dan Hidayatullah di 50 Tahun Kedua

0

HidayatullahSulsel.com — Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Dr KH Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi menyampaikan Spirit Kelembagaan pada Halaqoh Kubro di Wadi Barakah kawasan Ponpes Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu Pucak Maros. Berikut petikannya :

Di grand strategi Hidayatullah yang baru, masa transisi yang sangat penting adalah pada tahun 2023-2033. Asumsinya karena inilah masa dimana Hidayatullah diuji, sejauh mana transformasi dan transmisi kekaderan ini benar benar akan diuji.

Karena 10 tahun ke depan Hidayatullah akan dihadapkan pada kondisi dimana pengendali Hidayatullah bukan lagi hasil pengkaderan langsung KH. Abdullah Said. Tapi kader yang lahir belakangan.

Hidayatullah saat ini sudah melalui 50 tahun perjalanan. Dalam perjalanannya, Hidayatullah sudah mengalami dua kepemimpinan. Yaitu KH Abdullah Said sebagai founder atau tokoh sentral kepemimpinan Hidayatullah yang telah sukses memimpin selama 25 tahun.

Kemudian dilanjutkan oleh KH Abdurrahman Muhammad dari tahun 1998 sampai sekarang 2024. Selama periode kedua itu kita mengalami perubahan pola pemimpinan. yaitu dengan sistem syuro.

KH Abdullah Said tidak secara tertulis meninggalkan konsep kepemimpinan Hidayatullah. Manhaj jatidiri Hidayatullah itu tidak ditulis secara utuh. tapi kita hanya diwariskan transkrip bahasa lisan di training-training kader Hidayatillah.

Transkrip bahasa lisan ini yang disampaikan dalam serpihan-serpihan ceramah beliau itulah yang kemudian menggerakkan kader-kadernya tertransformasi dan transmisi untuk senantiasa menjadikan mereka terus terjaga spiritnya.

Sehingga saat beliau meninggal, para kader yang langsung ditangani beliau bisa tetap konsisten berjuang sampai sekarang ini. Sekalipun sudah meninggal, generasi ke 3 sekarang ini, Hidayatullah seperti masih dikader oleh KH. Abdullah Said.

Maka peran kita yang sangat penting saat ini adalah bagaimana mempersiapakan Hidayatullah di 50 tahun Hidayatullah yang kedua ini.

Setelah sepeninggalan KH. Abdullah Said sebagai pemimpin one man show dengan gaya kepemimpinan yang melakukan semua fungsi sendiri.

Tidak sederhana Hidayatullah itu setelah ditinggal beliau. Di buku 50 tahun saya menceritakan bagaimana rekayasa suksesi Hidayatullah yang kedua ini dibawah kepemimpinan KH. Abdurrahman Muhammad.

Intinya bahwa 25 tahun kedua ini berjalan dengan baik walaupun ada dinamika. Tapi kita harus bersyukur Hidayatullah masih tetap eksis seperti sekarang.

Semua itu tidak terlepas dari pengorbanan penting dari pemimpin-pemimpin Hidayatullah yang kedua ini dalam melanjutkan estafet kepemimpinan KH. Abdulla Said.

Ada perbedaan yang sangt terlihat jelas pada dua periode kepemimpinan ini. KH Abdullah Said sebagai founder dan ideolog tunggal di periode pertama. Kemudian pemimpin kedua agak berbeda.

Pemimpin Umum, KH Abdurrahman Muhammad pernah bilang “Saya ini bukan Ustadz Abdullah Said yang mampu memimpin dengan menjalankan semua fungsi sendiri. Maka saya ingin kepemimpinan kolektif atau syuro”.

Gaya kepemimpinan syuro ini selalu dikampanyekan KH Abdurrahman Muhammad di awal kepemimpinannya. Dan Alhamdulillah wujudnya bisa kita lihat di tangan beliau gaya kepemimpinan tersebut bisa terlembagakan.(Ridwan Gagah)