Beranda blog Halaman 36

Hidayatullah Sulsel Kembali Tebar Puluhan Dai Khatib Ied Adha. Dari Pelosok Hingga Samudra

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel kembali menebar puluhan dai dan ulamanya bertugas sebagai khatib pada shalat Ied Adha, tahun ini.

Tercatat mulai dari anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Dr KH Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, pengurus yayasan kampus utama, madya, kampus pratama hingga puluhan pengurus DPD akan bertindak sebagai khatib dan imam di berbagai titik dan wilayah di Sulsel.

“Ust Aziz berkesempatan pada tahun ini menjadi khatib di kampus utama Hidayatullah Makassar. Masyarakat sekitar BTP dan Tamalanrea bisa bergabung mengikuti shalat Ied,” ungkap Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd.

Malah, tambahnya, bukan saja di pelosok dan wilayah minoritas Islam, tugas khatib juga di tengah samudra pada shalat Ied, Senin (17/6/2024).

“Saya sendiri akan menjadi khatib shalat Ied di kapal Darma Lautan Utama. Sebagai bagian dari komitmen mainstream gerakan Hidayatullah dakwah dan tarbiyah kepada masyarakat,” tambahnya.

Kadep Tarbiyah DPW Hidayatullah Sulsel Ust Reskyaman memastikan tak kurang dari 70an titik tempat sholat Ied akan diisi oleh dai Hidayatullah sebagai khatib.

Berikut daftar khatib Dai Hidayatullah Sulsel dan lokasi penyelenggaraan Shalat Ied Adha

1. Ustadz Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si
(Lapangan Al Bayan Kampus Utama Hidayatullah Makassar)

2. Ustadz Abdul Qadir Mahmud, M.A (Lapangan Tala BTP, Makassar)

3. Ustadz Ahmad Zaki Ibrahim, Lc (Masjid Ummu Abdurrahman NHP, Makassar)

4. Ustadz Abdul Majid, M.A (Masjid Nurul Ansari BTN Taniaga Permai, depan ponpes Darul Istiqamah 100 M masuk Kab Maros)

5. Ustadz Ahkam Sumadiana, M.A (Hidayatullah Balocci Pangkep)

6. Ustadz Dr. Misjaya Muhammad Khairun, M.Pd (Masjid Baitul Kariim Hidayatullah,Jln Damai lr.2 Makassar)

7. Ustadz Suwito Fatah, M.M
(Masjid Perumahan Bank Indonesia)

8. Ust. Reskyaman S.W, S.Pd., MM (Masjid Nurul Jihad Pinrang)

9. Ust. Ahmad Syahril, S.Pd.I (Masjid Nurul Yaqin Pinrang)

10. Ustadz Dr. Nasrullah Sapa, Lc., M.M (Masjid Ar Rahmah Areopala, Makassar)

11. Ustaz DR. Arfan (Lapangan Pana Enrekang Alla)

12. Ust. Habibi Nur Salam, S.Pd.I (Masjid Babul Falah Type.D PT.Unggul Widya Baras)

13. Jumawir, S.Pd.I (Masjid Al-Jihad Bulukumba)

14. Usts.Abdullah (Patimpeng Bone)

15. Ustadz H Burhanuddin Abd. Jabbar Mannawing, M Pd.I (Mesjid Raodatul Jannah Kab Berau KalTim)

16. Ust Muhsin Qahar, B.Sh (Masjid Al Hijrah, Pacongang Pinrang)

17. Ustadz Syamsul, S.Pd (Masjid Fathul Khaer Panaikang, Makassar)

18. Ustadz Baso Dzulfikar, S.H (Pesantren Lorong Mangga 3, Makassar)

19. Ustadz Firdaus Umar, S.H.I (Masjid Ar Rayyan NHP, Makassar)

20. Ustadz Ahmad Harun, M.M (Masjid Allahu Akbar Tompobulu,Maros)

21. Ustadz Darmoyo Nusarto SH (Masjid Ummu Halijah BSS2, Maros)

22. Ikhsan Saleh, S.Pd.I (Masjid Husain Mu’Minin. Kec. Sesean Toraja Utara)

23. Ustadz Tasrun, SP.d (Masjid Hamad Muharib, Burau Lutim)

24. Ustadz Kasman (Masjid Al ijtihad Balo Balo Pantai, Wotu Lutim)

25. Ustadz Abubakar Bessah (Masjid Al Hijrah Tokalembo, Towuti Lutim)

26. Ustadz Abu Hurairah (Masjid Baiturrahim Atue Lutim)

27. Ust. Nasrullah Alwi, Lc (Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare)

28. Hamzah Sulthan (Masjid Nurul Muttaqin Perumahan PNS, Belopa)

29. Muhammad Arifuddin (Masjid Al Mukminun, Kel. Balo-Balo, Belopa)

30. Hardiansyah (Masjid Babul Jannah Taddette, Kel. Senga Selatan, Belopa)

31. Fauzan Ahmad (Masjid Babul Khair, Desa Sampeang Kec. Bajo Barat)

32. Abdullah (Masjid Nurul Taqwa Paradoa, Desa Padang Lambe, Kec. Suli)

33. Asri Bahruddin (Masjid Babul Khaer Tamara, Suli)

34. Syahril Utsman (Masjid Nurul Hijrah, Kel. Noling, Kec. Bua Ponrang)

35. Ilman Nafi’an (Masjid Nurul Yakin, Padang Redo, Kec. Bua Ponrang)

36. Ilham Sijaya (Masjid Al Mujahidin, Makawa, Desa Siteba, Kec. Walenrang Utara)

37. Amal, S.Pd (Balakala Kec. Masamba, Luwu Utara)

38. Muh. Thorik (Salubomban Pincara Kec. Masamba, Luwu Utara)

39. Sukron Amin, S.Pd.I (Rura Baru Pongo Kec. Masamba, Luwu Utara)

40. Muh. Qoyyim, S.Pd (Masjid Simpang Tiga Kec. Malangke Barat)

41. Ustadz Usman, S.Pd (Masjid Assalam Kota Parepare)

42. Ustadz Dr. Sahril, M.Pd.I (Masjid Al Birr Perumnas Kota Parepare)

43. Ustadz. Firdaus (Masjid Balocci)

44. Ustadz Haris Mahmuddin (Masjid Khairullah BTP Blok A, Makassar)

45. Arjun, S. Sos (Masjid Nurul Huda, Belopa 2)
46

Ilusi Kosmik Versus Kesabaran Bertauhid. Tausyiah DM Hidayatullah di Kampus Parepare

0

Parepare, HidayatullahSulsel.com — Bertempat di Masjid Al Mubarak, Kampus Hidayatullah Parepare, anggota Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah, Ustadz Suharsono memberikan tausyiah di hadapan jamaah sholat subuh yang didominasi wargan dan santri Pesantren Hidayatullah Parepare, Selasa (4/6/2024).

Dengan gaya khas orasi Ilmiah, ayah dari 12 anak ini mengawali thausiyah dengan mengajak seluruh jamaah untuk selalu berpikir cerdas dan kritis menghadapi problematika kehidupan yang semakin kompleks agar tidak terjebak pada ilusi-ilusi kosmik atau gambaran -gambaran negatif tentang masa depan yang mendominasi benak atau pikiran manusia.

Ilusi-ikusi itu, ungkapnya, telah banyak menyelewengkan manusia dari fitrahnya dan cenderung mengarah pada kehidupan materialistik, dalam pengertian menjadikan harta sebagai ukuran keberhasilan dan kebahagiaan.

“Rasa was-was dan kecemasan yang berlebihan terhadap jaminan kehidupan masa depan membuat begitu banyak orang yang kehilangan ketenangan dan kebahagiannya,” tegasnya.

Munculnya Ilusi ilusi berlebihan berupa ketakutan akan kekurangan harta dan fasilitas, rincinya, tentu saja akan berimbas merusak mentalitas manusia, tidak mustahil juga menjangkiti sebagian dari aktifis pejuang dakwah.

Contoh konkrit Ilusi kosmik yang melanda masyarakat adalah paham materialisme yang selalu menilai manusia dari harta yang dimiliki seperti pepatah “Kalau ingin tahu seseorang lihatlah apa yang dikendarainya”

Berbeda nilainya antara orang yang mengendari sepeda ontel atau sepeda motor dengan orang yang mengendarai BMW. Jadi ukuran penilaiannya bukan lagi akhlak dan integritas.

Lebih lanjut mantan tokoh HMI ini menjelaskan, dalam skala global geopolitik dunia yang terjadi saat ini, iIusi kosmik akan hilangnya harta dan kekayaan, menjadi titik lemah yang digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk membungkam kekuatan negara-negara Islam.

Fakta luluh lantaknya negeri Palestina dan pembantaian sadis penduduknya oleh Israel tanpa perlawanan yang berarti menjadi bukti nyata bahwa Ummat Islam sudah begitu dalam terjebak dalam penyakit cinta dunia.

Kepada para kader-kader muda Ustadz Suharsono, mengingatkan agar tidak hanya mengandalkan narasi kognitif dalam ber-Islam, tapi lebih mengasah kecerdasan dalam memaknai dan mengimplementasikan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan serta kesadaran serta kesabaran dalam menerima segala konsekuensi.

Selain kecerdasan bertauhid, kesabaran bertauhid juga harus menjadi perhatian serius karena dua hal tersebut saling terkait dan tidak bisa dipisahkan sebagaimana Ibrah kesabaran dalam kisah nabi Musa dan nabi Khaidir.

Nabi Musa kurang bersabar karena tidak memiliki pengetahuan sebagai mana yang dimiliki oleh nabi Khaidir.

“Kesimpulannya adalah dibutuhkan kualitas kesabaran bertauhid yang baik agar ilusi-ilusi kosmik tidak mendominasi orientasi dan alur berpikir manusia,” jelasnya.(Dwi Subagyo)

Peluang dan Tantangan Pengelolaan Tambang oleh Ormas

0

Oleh: Basori Shobirin, Pegiat Sosial pengurus BMH Perwakilan Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Di sementer awal kuliah hukum, Haji Wakiyo mengajak ke Balikpapan Seberang. Ia dikenal sebagai pelaku tambang yang hijrah. Di perjalan itu tugas saya mendokumentasikan pertemuan di balai Desa Tanjung. Bukan tanpa sebab, aset yang telah dibeli itu tidak dapat dilanjutkan kepengurusan suratnya.

Si pembeli mewakili lembaga telah wafat, sedang si penjual enggan dengan tegas menyerahkan tanah. Saksi hidup dari transaksi itu adalah si pemilik lahan. Sedang akte jual beli atau kwitansi tanda penjualan tak kunjung ditemukan.

Tanah itu, kini masuk di Penajam Paser Utara, yang sudah barang tentu berstatus Ibu Kota Nusantara (IKN) letaknya dekat dengan bibir pantai. Tanah itu seperti sejumput berlian, sekali waktu para pemerintah daerah akan membangun jembatan menghubungkan selat, sekali waktu jadi destinasi wisata.

Tanah yang berserak kadang kala hanya berstatus de jure, sah di mata hukum dengan seperangkat legalitas yang dimiliki. Sedangkan faktanya, asas manfaat dan nilai tambah tak dapat diraih.

Di atasnya hanya tumbuh ilalang, seakan tak bertuan. Kadang batas dan patok mengelinding, menyempitkan lahan. De facto menjerat de jure. Lahan itu tidak terolah baik.

Kali ini pemerintah akan membagikan lahan konsesi tambang pada para ormas, sang menteri dengan berapi-api mengatakan bahwa organisasi masa berbasis agama juga berhak atas kesejahteraan, konstribusi mereka tak lekang di makan waktu baik masa pergolakan maupun dalam mengisi kemerdekaan.

Prokontra terjadi, masyarakat dalam komunitas ormas tidak satu suara, mereka mengira ini bisa menjadi jebakan yang bisa merusak lembaga. Terlebih tambang identik dengan promocorah, perusakan alam dan permainan kotor. Disisi lain lahan tambang itu dapar dimiliki tampa mengeluarkan model kapital besar.

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2024 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Batubara memberi tiga alasan terkait pemberian konsesi tambang untuk ormas.

Pertama tambang diharap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan terdistibusinya lebih merata kepada berbagai lapis masyarakat. Kedua, Pemberdayaan Ekonomi Ormas yang dimaksudkan memberi sumber pendanaan untuk menjalankan program-program sosial dan keagamaan. Ketiga pemerintah melihat ormas telah berpengalaman dalam usaha dan bisnis besar.

DAMPAK POSITIF

Tambang menjanjikan kesejahteraan bagi pelakunya. Pundi-pundi rupiah itu dapat mengakselerasi ekonomi masyarakat, yang tentu ini akan berdampak pada terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan termasuk di dalamnya investasi dan tabungan.

Peningkatan Kesejahteraan: Tambang dapat membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Yang sudah pasti meningkatkan daya beli dan taraf hidup masyarakat.

Pendapatan Negara: Pajak dan royalti menjadi sumber penerimaan bagi negara. Penerimaan pajak itu dapat digunakan perbendaharaan negera untuk membangun dan memenuhi kas negara.

Peluang Bisnis: Kegiatan pertambangan dapat membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat lokal, seperti penyediaan jasa logistik, makanan, dan akomodasi.

DAMPAK NEGATIF

Memandang konsesi dengan satu frame terbatas tentu menyiksa diri. Namun jika konsensi tanah tambang yang tak terkendali juga mati bunuh diri. Jika tanah itu perlambang kesejahteraan, di atas tanah tumbuh berbagai pohon, buah, alirah sungai yang menghidupi manusia. Didalam perutnya, batu bara yang menghitam tanda kalori yang semakin menebalkan kantong, atau galir-galir emas yang mempesona, atau bebatuan kehijauan yang mengandung nikel untuk si mobil pintar.

Setiap tindakan itu mengandung konsekwensi. Kadang indah di atas kertas, acakadut di dunia nyata. Apakah masyarakat telah berdamai, diam tertekan, atau menikmati tambang dekat pemukiman. Tak jarang anak-anak tengelam dalam galian, jalan berlumpur dan debu tak terkira. Belum bau khas dari bukaan batu bara. Namun setiap orang banga dengan seragam tambang. Uang gaji besar, dan itu berarti kesejahteraan masyarakat meningkat, daya beli tinggi terjadi.

Kerusakan Lingkungan: Acuhnya pelaku tambang, diamnya pemangku kebijakan dan tak berkutiknya warga sekitar tambang adalah akumulan terjadinya deforestasi, pencemaran air, dan pencemaran udara. Kebisingan, banjir, debu, jalan hancur yang diterima warga.

Konflik Sosial: Sebagai sumber kekayaan, lahan selalu menjadi rebutan baik oleh pemodal, masyarakat sekitar, atau masyarakat adat. Jika para pihak-pihak berkepentingan tidak mendapatkan haknya, maka bukan saja tidak mensejahterakan namun juga memicu permasalahan sosial.

Hak Asasi Manusia: luasan area tambang, tumpang tindih adminstrasi dan asas manfaat di atasnya bisa saja mengalami pergesekan dengan masyarakat, seperti intimidasi, perampasan lahan garapan, pelangaran hak dasar hidup dan hajat hidup manusia sekitar terbatas.

SOLUSI

Kajian mendalam: Lakukan kajian mendalam dan transparan untuk menilai kelayakan pemberian konsesi tambang kepada ormas. Kajian ini harus mencakup analisis dampak positif dan negatif, serta mempertimbangkan kemampuan ormas dalam mengelola tambang secara bertanggung jawab.

Kriteria selektif: Tetapkan kriteria selektif yang ketat untuk memilih ormas yang berhak menerima konsesi tambang. Kriteria ini harus mempertimbangkan track record ormas, visi misi, dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Pendampingan dan pelatihan: Berikan pendampingan dan pelatihan kepada ormas yang menerima konsesi tambang untuk memastikan mereka mampu mengelola tambang secara profesional dan berkelanjutan. Pendampingan ini dapat mencakup pelatihan teknis, manajemen lingkungan, dan tata kelola yang baik.

Mekanisme pengawasan: Buat mekanisme pengawasan yang kuat untuk memastikan ormas yang menerima konsesi tambang mematuhi peraturan lingkungan dan sosial yang berlaku. Mekanisme ini dapat melibatkan pihak pemerintah, masyarakat sipil, dan lembaga independen.

Skema bagi hasil yang adil: Rancang skema bagi hasil yang adil untuk memastikan keuntungan dari tambang dibagikan secara adil kepada masyarakat lokal dan ormas penerima konsesi. Skema ini harus transparan dan akuntabel.

SARAN

Keterbukaan Informasi dan komitmen: tambang sebagai sumber mineral termasuk high risk karena dapat berdampak langsung pada resiko geologi, resiko lingkungan maupun resiko sosial. Maka melibatkan masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan terkait pemberian konsesi tambang kepada ormas menjadi penting, mungkin akan akan banyak dan kontra, selama para pihak dapat mendapatkan menfaat tentu akan mendapatkan dukungan.

Gunakan teknologi: Manfaatkan teknologi untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan tambang oleh ormas. Teknologi dapat digunakan untuk melacak kegiatan tambang, monitoring dampak lingkungan, dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan.

Bangun kemitraan: Masih sangat sedikit ormas yang bergerak di bidang tambang, jika dapat dikatakan belum ada. Namun tentu diantara ormas itu ada orang-orang yang kompoten dalam bidang tertentu, sehinga membangun kemitraan antara ormas, perusahaan swasta, dan lembaga internasional untuk mengembangkan praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan sangat di anjurkan.

Tingkatkan literasi tambang: para penggerak organisasi yang menerima konsesi pada akhirnya harus beradabtasi pada perubahan. Keraguan hanya dapat diatasi jika kita memiliki referensi dan pengetahuaan. Lini bisnis dapat berjalan dan mampu menopang laju ke organisasi yang lebih modern.
Disisi lain kewajiban utama dalam mendidik umat, tidak terlantar atau berubah halauan ke bisnis,

Bisnis besar, dengan hasil besar makan akan diiringi resiko besar. Maka meningkatkan edukasi kepada masyarakat atau anggota organisasi pada manfaat dan risiko pertambangan, serta hak-hak mereka terkait dengan pengelolaan sumber daya alam menjadi penting.

Lahan tambang itu tentu saja harus produktif, bukan saja di miliki tapi tidak di kelola. Maka menyikapi konsesi tambang yang akan terus menjadi perbinjangan perlu pengkajian dan putusan sikap dari organisasi bersangkutan.(*)

DM Serap Aspirasi Kader dan Pengurus Hidayatullah di Sulsel

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah menerima sejumlah pertanyaan hingga pengaduan berbagai persialan dari kader dan pengurus Hidayatullah di Sulsel pada forum Serap Aspirasi di gedung dakwah Hidayatullah, Parepare, Selasa (4/6/2024).

Ketua dan anggota DM Hidayatullah yang hadir melayani dialog tersebut Ust drg H Fathul Adhim MKes, Ust Akib Junaid Kahar dan Ust Suharsono.

Forum Serap Aspirasi merupakan program roadshow DM Hidayatullah keseluruhan Indonesia untuk mendengarkan berbagai pertanyaan dan usulan untuk penyempurnaan kebijakan organisasi dan memaksimalkan program dakwah dan tarbiyah Hidayatullah.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd pada kesempatan membuka kegiatan tersebut berharap apa yang didiskusikan semakin menambah ketaatan.

“Karena ketaatan hal utama untuk optimal kinerja organisasi dan mainstream gerakan,” harapnya.

Ust Fathul Adhim menjelaskan kegiatan Serap Aspirasi untuk menerima aspirasi sebagai bahan menyempurnakan dan menyusun regulasi atau peraturan organisasi (PO) Hidayatullah.

PO Hidayatullah yang telah disusun dan telah ditetapkan diantaranya tentang keuangan, amal usaha, sumber daya insani, maupun pengawasan.

“Saat ini PO yang sedang disusun tentang Kepesantrenan,” tambahnya. Hadir sebagai peserta dialog jajaran pengurus DPW Hidayatullah Sulsel dan pengurus DPD sekitar Parepare yang berkesempatan hadir. Sedangkan pengurus yang tak hadir mengikuti melalui online.

DM Hidayatullah berfungsi untuk membantu pemimpin umum untuk pengawasan. “Karena banyak masalah dan kekurangan di Hidayatullah maka dibutuhkan aspirasi utk sebuah regulasi yang akan menjadi solusi,” rincinya.

Pada sesi dialog sejumlah persoalan mengemuka mulai dari mekanisme daurah kaderisasi, distribusi penugasan kader, keadilan, hingga kualitas lembaga pendidikan dan kepemimpinan di daerah.

“Terima kasih atas semua masukan. Bahwa sesungguhnya masih banyak kelemahan dan kekurangan kita di lembaga ini namun lebih banyak hal yang bisa kita syukuri pula dengan keberadaan kita di Hidayatulllah,” ujar Ust Akib.

Apalagi menurut Ust Suharsono, melalui manhaj dakwah yang diterapkan menjadi keunggulan tersendiri di Hidayatullah untuk para kader dan pengurus lebih optimal mengemban amanah masing-masing.(fir)

Tausyiah Subuh DM di Hidayatulllah Pinrang,

0

HidayatullahSulsel.com — Anggota Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah Ustadz Aqib Junaid Kahar menyampaikan taushiyah subuh di masjid Kampus Hidayatullah Menro, Pinrang, Selasa (4/6/2024).

Taushiyah Subuh disampaikan di hadapan santri dan warga Hidayatullah Pinrang tersebut sebagai rangkaian agenda silaturahmi dan kunjungan Serap Aspirasi DM Hidayatullah di Sulsel.

Dalam Taushiyahnya, Ust Aqib menyampaikan rasa syukurnya bisa berkunjung kembali ke Hidayatullah Pinrang yang telah mengalami begitu banyak perkembangan.

Namun ia mengingatkan bahwa ini hanya bagian kecil dari kesuksesan. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika target terbaik yang sudah ditetapkan tercapai. “Dan target hanya bisa tercapai jika mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,” ujarnya.

Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa orang-orang yang sukses di dunia, hampir seluruh waktunya digunakan untuk kerja keras dan latihan.

“Dan tidak sedikit orang yang mengalami kegagalan karena salah dalam menetapkan target, pun salah dalam memanfaatkan waktu,” tambahnya.

Pendiri Hidayatullah KH. Abdullah Said rahimahullah juga ungkapnya, sering mengilustrasikan bahwa andaikata sudah tidak ada yang bisa dikerja, maka bongkar yang sudah jadi dan dikerja kembali.

“Begitu seriusnya beliau mengingatkan kadernya agar tidak menyia-nyiakan waktu dengan berleha-leha tanpa beraktivitas,” urai sosok yang aktif menulis melalui akun medsosnya tersebut.

Setelah dari Pinrang, DM Hidayatullah melanjutkan agendanya hari ini untuk dialog dan serap aspirasi di Gedung Dakwah Hidayatullah Parepare bersama kader dan pengurus Hidayatullah di Sulsel.(Hamzah Sultan)

Pembukaan Training Hidayatullah Institute, Integritas Modal Kepemimpinan

0

HidayatullahSulsel.com — Hidayatullah Institut (HI), kembali mengadakan Leadershif Training bagi pengurus DPD Hidayatullah se Indonesia. Acara ini akan berlangsung selama 5 hari di kantor DPP Hidayatullah, Jakarta, 3-7 Juni 2024.

Pelatihan kepemimpinan dibuka oleh Ustad Drs Hamim Thohari, Ketua Majelis Pertimbangan Hidayatullah. Hadir beberapa pengurus DPP Hidayatullah dan juga anggota DMP. HI merupakan lembaga training milik Hidayatullah.

Pelatihan mengangkat tema Kepemimpinan Manhaji, Visioner, dan Progresif. Hadir menyampaikan sambutan pembukaan Direktur HI Ustad Dr Muzakkir Asyari dan Kadep Sumber Daya Insani DPP Hidayatullah Dr Arfan AU.

Dalam sambutannya, Ustad Hamim menegaskan pentingnya integritas seorang kader dalam mengemban amanah sebagai ketua DPD Hidayatullah.

“Seorang ketua DPD, atau kader Hidayatullah, harus punya integritas yang kuat. Integritas inilah yang menjadi modal besar kita. Jangan sampai ada kader yang tidak punya integritas,” tegasnya.

Pada pelatihan kepemimpinan kali ini, Hidayatullah Sulsel mengutus lima peserta ketua DPD Hidayatullah Parepare, Enrekang, Takalar, Pinrang dan Sidrap.(Sarmadani)

Pekan Ini, DM Hidayatullah Kunjungan dan Serap Aspirasi di Sulsel

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah akan melakukan kunjungan dan serap aspirasi dari kader dan pengurus Hidayatullah di Sulsel pada pekan ini.

“DM akan bersilaturahim langsung dengan kader hingga ke lapisan terbawah, berdialog, mendengarkan masukan dan usulan untuk dinamika kelembagaan dan optimalisasi dakwah dan tarbiyah yang menjadi mainstream gerakan Hidayatullah,” jelas Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel, Ust Drs Nasri Bukhari MPd di Makassar, Senin (3/5/2024).

Kunjungan dan serap aspirasi di Sulsel oleh Ketua dan anggota DM Hidayatullah Ustad Drg Fathul Adhim MKes, Ustad Suharsono dan Ust Akib Junaid Kahar. Dewan Mudzakarah merupakan “DPR-nya” Hidayatullah.

Rangkaian agenda kegiatan DM Hidayatullah di Sulsel akan dimulai dengan taushiyah di kampus Hidayatullah Pinrang dan Parepare pada Selasa (4/6/2024), selanjutnya digelar agenda utama Serap Aspirasi Hidayatullah Sulsel dilaksanakan di aula Gedung Dakwah Hidayatullah, Parepare.

Sementara untuk agenda kunjungannbsp; akan dilaksanakan di kampus Parengki dan Lamatanre Pinrang serta kampus Hidayatullah Pangkep.

Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel Ust Sumariadi merinci, agenda hari kedua kunjungan dan serap aspirasi DM Hidayatullah dilanjutkan di Makassar dan Gowa.

Mulai dari agenda silaturahmi di kampus utama Al Bayan Hidayatullah Makassar, kunjungan ke kampus Hidayatullah Bollangi, Gowa.

“Juga akan dilaksanakan talkshow ‘Masa Depan Gerakan Dakwah dan Tarbiyah’ di kampus Al Bayan bersama sejumlah kader dan pengurus Hidayatullah di Makassar dan sekitar,” tambahnya.

Sebagai penutup agenda kegiatan kunjungan DM Hidayatullah di Sulsel direncanakan kunjungan di kawasan wisata halal Wadi Barakah di kampus Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu Pucak Maros.(fir)

Memahami Sirah Nabawiyah, Rujukan Menegakan Peradaban Islam

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Peristiwa sejarah dapat dikatakan sejarah jika memiliki tiga unsur yakni manusia, ruang dan waktu. Namun manusialah yang memiliki perann terpenting dalam sejarah.

Seperti pada Sirah Nabawi, adalah sejarah yang banyak bercerita tentang tokoh sentral, yakni Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.

Dalam Sirah Nabawi, berisikan kumpulan pelajaran berharga tentang sepak terjang perjuangan Rasulullah sebagai pembawa risalah. Beliau bersama shahabatnya mengorbankan jiwa dan raga serta hartanya dalam menegakkan kalimat tauhid “Laailaha Illallah”.

Dengan penuh ketekunan, beliau membimbing sahabatnya memiliki keyakinan dan kesabaran yang kuat dan tangguh. Bersama shahabatnya pulalah, Rasulullah memulai dan mengawal terwujudnya konsep Islam secara ril dan kaaffah.

Sungguh fenomenal, tidak pernah terjadi sebelumnya, hanya dalam waktu 23 tahun bisan terwujud peradaban Madani di Madinah. Peradaban berlandaskan ajaran Qur’an. Dan tidak hanya dirasakan kebaikan dan kebahagiannya bagi umat Islam, tapi juga dirasakan kedamaian bagi umat agama lain seperti Yahudi dan Nasrani, yang hidup rukun di kota Madinah.

Oleh karenanya, dengan belajar Sirah Nabawi, kita mendapatkan banyak pelajaran berharga khususnya dalam mengusung visi Peradaban Islam, diantaranya adalah;

Pertama; memahami akan begitu pentingnya keberadaan sosok figur terhadap keterwujudan Peradaban Islam, yaitu Muhammad sebagai Rasul. Dia juga adalah teladan dan sumber rujukan ilmu tentang ketauhidan kepada Allah, serta tentang tata cara penyembahan dan pengabdian kepada-Nya.

Kedua, kita akan memahami bagaimana metodologi dakwah dan tarbiyyah yang dilakukan oleh Rasulullah sehingga mampu mancetak kader shahabat tangguh penuh dedikasi dan integritas tinggi pada Islam.

Ketiga adalah, Kita dapat memahami bagaimana sistematika pembentukan generasi awal lahirnya kader Qur’an, berdasarkan sistematika awal turunnya ayat dan surah al-Quran, yakni al-Alaq, Al-Qalam, Al-Mizammil, Al-Midatsir dan Al-fatihah.

Selanjutnya keempat adalah kitapun dapat memahami bagaimana Rasulullah memulai dan mewujudkan tatanan masyarakat berperadaban Islam. Serta bagaimana pola datar terbangunnya sistem kepemimpinan Islam dibawah bimbingan dan kepemimpinan Rasulullah.(*)

Taat, Niat dan Perjuangan

0

Catatan Pelatihan Kepemimpinan Hidayatullah Institut (1)

Oleh: Ust Sarmadani Kirani, Ketua DPD Hidayatullah Sidrap

HidayatullahSulsel.com — Seribu kalimat bisa keluar untuk tidak taat. Cukup satu kata untuk taat,

Bismillah… Malam itu, selepas Isya di kampus Al Bayan Hidayatullah Makassar, Senin malam, (26/05), waktu menunjukkan pukul 20.25 malam. Nang ning nang ning nong… nang ning nang nong… hape ku berdering.

Telpon via wa dari Ketua DPW. “Posisi sudah dimana?…” Tanya beliau. “Sudah masuk pondok Ustad” jawab ku singkat. “Baik, saya tunggu di belakang (cafe interlud)” lanjut beliau.

Malam itu, aku baru saja bersilaturahim dari Hidayatullah Tanralili. Saya gas mobil menuju Bonto Ramba, menurunkan anak-anak di rumah dan bergegas menuju warkop interlude, tepat di belakang pondok.

Masuk warkop, sempat berjumpa dengan beberapa kawan-kawan yang mau rapat, dan kemudian kami mengambil posisi berdua.

Rapat, berdua, seakan berhalaqah jibril. Cerita dimulai, setelah pesan kopi, ubi goreng dan pisang goreng susu gula merah.

Cerita yang dimulai pukul 20.30, malam itu, diawali. Cerita pengembangan diri, ceramah motivasi dari beliau sebagai seorang guru.

Antum ini kader, punya potensi, harus banyak belajar, bla…bla… dan intinya jangan kuttu. Kurang lebih begitu.

Banyak cerita yang terus berkembang, sambil senyum dan tertawa, kunikmati nasihat dari sang guru, Ustad Drs. Nasri Buhari, M.Pd., klKetua DPW Hidayatullah Sulsel saat ini.

Malam itu aku terus tersudut, akibat ungkapan rasa malas untuk mengikuti training Hidayatullah Institut di Jakarta. Secara terang-terangan aku sudah menolaknya lewat kadep organisasi, Ustad Anwar.

Aku tidak bisa berangkat, cari saja yang lain, insyaallah saya sudah tidak kemana-mana, ucapku meyakinkan Ustad Anwar Baits.

Tapi, malam itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel terus mencecar, hingga beliau melihat urgensi nya seorang kader, tampil di depan, menjadi sosok figur kultural dalam segala. Bahasa Qurannya, Kuntum khaira ummah, ukhrijat linnas … ila akhiril ayat.

Hal ini yang rasanya membuat saya ter-skak mat, dalam istilah catur. Raja sudah skak mat, dan tidak ada lagi jalan melangkah, tidak juga ada perlindungan.

Jika masih skak ster, itu masih lumayan. Bicara berlomba-lomba dalam kebaikan, ini yang tidak bisa ditawar lagi. Bismillah, saya ikut Ustad. Saya akan segera balik ke Sidrap, dan mempersiapkan diri berangkat.

Jujur, malam itu belum ada uang. Saya taat saja. Janji untuk mengambil telur mentah 30 rak di Baranti, saya batalkan dulu, untuk sementara produksi telur asin dipending, ownernya mau ikut acara pelatihan kepemimpinan di Jakarta.

Taat. Tidak cukup di situ. Ada suasana hati yang menyita gerak refleks air mata di pelupuknya. Satu dua tetes mengalir tanpa sadar. Saya sadar, selama ini sudah mulai berkurang, akan nilai heroisme, produktivitas, dan karya-karya di lapangan.

Di Bulcen rasanya tidak lebih dari sekedar sarang penyamun, untuk membegal dunia, lewat usaha telur asin, yang untungnya juga tidak seberapa.

Kutarik tisu di meja Interlude, untuk menyeka dua tetes air mata. Yang lebih parah lagi, rasanya, aku kadang masih terganggu dengan urusan niat.

Nawaitu saya ini, apakah benar-benar sungguh mau berjuang, atau sekedar cari jabatan, atau sekedar mau dibilang hebat, jago, paling berhasil, telah sukses dan kadang itu semua yang membuat kita jumawa.

Jumawa, bukan sekedar merasa ada sakit hati jika nama kita tidak disebut dalam sambutan, padahal dia paling ini, paling itu, pendiri, punya prestasi, mantan ketua yayasan lagi.

Ada sakit. Bahkan, karena prestasi, pernah berkarya, punya hasil nyata, kita tidak mau dipindah tugaskan lagi. Ini yang buat saya menangis.

Jangan sampai saya begini, seperti itu juga. Ya Allah. Tak kuasa aku malam itu. Ya Allah jaga nawaitu ini. Malam itu, kami hingga pukul 10.45. Karena pertemuan malam ini, ada sedikit suasana baru. Harus produktif, progresif, dan tetap menjaga nawaitu.

Berjihad, tapi tetap menata hati untuk meluruskan niat.(*)

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (1)

0

HidayatullahSulsel.com — Dari sekian banyak hal yang membuat orang bingung dan terperangah, ketika mendengarkan cerita seputar karakter kader Hidayatullah, satu diantaranya yang paling mencengangkan, adalah ketaatannya menjalankan perintah.

Di Hidayatullah, ada sekian banyak perintah yang sering diberikan kepada kader, namun ada dua diantaranya yang sangat unik, pertama adalah penugasan ke daerah dan kedua adalah pernikahan.

Sekilas mungkin terkesan biasa-biasa saja, sehingga aneh kalau dikatakan kedua perintah itu adalah sesuatu yang unik. Namun apa yang terjadi di Hidayatullah, sungguh sulit diterima oleh logika umum manusia.

Penugasan ke daerah, umumnya ditandai dengan tidak mengenal waktu dan kondisi, sehingga ungkapan umum yang sudah populer adalah, kapan saja, kemana saja bahkan sebagai apa saja.

Adalah hal yang lumrah bahkan semacam syarat yang mutlak, jika seseorang hendak melakukan perjalanan, terlebih dengan jarak lumayan jauh, apa lagi jika dimaksudkan untuk pindah domisili, adanya persiapan yang baik untuk itu.

Bagi kader Hidayatullah, secara ekstrim dapat dikatakan, kata “persiapan” nyaris tidak pernah menjadi pertimbangan, ketika ada amanah bertugas ke daerah manapun juga. Sehingga waktu keberangkatannya, hanya bergantung pada jadwal kapal tercepat menuju ke tempat tugas.

Semakin aneh penugasan itu, sebab tempat tugas baru, seringkali tidak lebih baik dari tempat sebelumnya, ditinjau dari segala aspeknya. Mulai dari kondisi alam, kultur masyarakat, sampai kepada fasilitas penunjang, bahkan puncaknya, adalah ketersediaan dana, baik untuk biaya hidup, apa lagi biaya operasional untuk menjalankan tugas.

Semakin membuat orang tidak habis pikir, ketika ada kader ditugaskan ke daerah baru, di mana statusnya sebagai daerah rintisan, dalam artian, cerita tentang Hidayatullah di wilayah itu, benar-benar dimulai dari nol koma nol.

Mencermati hal di atas, maka logika umum akan berkata, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama petugas akan segera kembali pulang (entah ke mana) karena kapok, kedua kader itu segara dimakamkan, karena matinya lebih cepat, akibat tekanan psikis yang luar biasa beratnya.

Hal yang kemudian terjadi di Hidayatullah, sungguh diluar dugaan kebanyakan orang. Maka pertanyaan besarnya kemudian, kenapa hari ini ada orang yang segila itu…???

Maka jawaban sederhananya, disitulah letak luar biasanya motivasi yang didoktrinkan oleh para pendiri, dan itu pula sebabnya, kenapa kader sangat bersedih dan merasa betul-betul kehilangan, saat dua hari yang lalu, Ust. Muhammad Hasyim H. melengkapi kepergian untuk selamanya, para pendiri yg dimaksud.(Bersambung)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: Facebook