Beranda blog Halaman 35

Ibrah dari Pendiri Hidayatullah (64)

0

HidayatullahSulsel.com — Segala hal yang Allah perintahkan, pasti akan memberi dampak positif bagi yang mentaatinya, begitu pula sebaliknya, apapun yang dilarang untuk dikerjakan, sekalipun secara lahiriah terlihat menguntungkan, namun hakikatnya pasti akan merugikan, jika ada yang tetap nekat melanggarnya.

Pahala dan dosa, hanyalah motivasi dan juga ancaman tambahan bagi setiap insan, untuk taat terhadap apa pun yang menjadi ketentuanNya. Sehingga dapat dikatakan, walau tanpa ada kehidupan akhirat, termasuk surga dan neraka tentunya, bagi orang yang paham, dia tetap akan patuh atas setiap perintah dan laranganNya.

Dalam kehidupan berjamaah, di mana salah satu pilar utamanya, adalah terwujudnya ukhuwah, maka tidak ada pilihan bagi siapapun yang tergabung di dalamnya, mutlak menjaga dan terus memperkuatnya, sebab hanya dengan itu, hidup berjamaah akan terasa manfaatnya.

Karenanya, segala hal yang berpotensi mengganggu dan apa lagi sampai merusak ukhuwah di antara anggota jamaah, harus benar-benar dihindari. Termasuklah di dalamnya, kebiasaan mencari-cari lalu memperbincangkan aib sesama.

Dalam surat Al-Hujurat ayat 12, secara tegas Allah melarang untuk bergunjing, bahkan aktivitas ghibah sampai dianalogikan dengan memakan bangkai saudara sendiri, di mana manusia normal tidak akan mungkin ada yang mau melakukannya.

Namun… Sehebat apa pun doktrin yang diberikan, melalui berbagai forum pencerahan, agar jangan sampai ada anggota jamaah yang melakukan ghibah, niscaya segala upaya tersebut akan berujung sia-sia, jika di pihak lain, ada-ada saja orang yang justru asyik memproduksi bahan ghibah.

Semakin gencar larangan bergunjing disosialisasikan, biasanya kian memancing rasa penasaran orang untuk mencari tahu, ada apa gerangan, sehingga persoalan tersebut tiba-tiba menjadi tema sentral, alias menjadi bahasan utama di berbagai forum.

Sebaliknya, jangankan dilarang, bahkan diperintahkan sekalipun, orang pasti akan kebingungan, untuk membicarakan aib orang lain, ketika mereka tidak menemukan hal-hal yang berpotensi untuk dicurigai, sehingga memaksakan untuk itu, malah bisa memancing serangan balik dari berbagai pihak.

Suatu waktu, Rasulullah mengantar istrinya di malam hari, lalu berpapasan dengan dua orang sahabat dan mereka segera bergegas untuk pergi, namun kemudian Rasulullah memanggil keduanya, seraya mengatakan:
“Dia adalah Shafiyyah binti Huyyai, saya perlu tegaskan, sebab khawatir setan memasukkan sesuatu ke dalam hati kalian berdua”.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah di atas, sungguh memberi pelajaran yang luar biasa, agar seseorang memiliki kepekaan yang tinggi, bahwa jika ada satu hal yang berpotensi membuat orang berpikiran yang tidak-tidak, maka perlu dilakukan klarifikasi dari awal, sehingga ruang untuk berghibah menjadi tertutup.

Ust. Abdullah Said, bagi orang yang mengenalnya dengan baik, pasti memahami betapa Beliau adalah sosok yang sangat sensitif. Setiap kali ada hal-hal yang bisa memancing rasa curiga, dengan sigap Beliau meresponnya, dengan memberi penjelasan detail tentang hal tersebut.

UAS sangat menyadari, jika sesama anggota sudah ada kecurigaan, itu isyarat perjalanan ke depan tidak akan sehat, apa lagi jika hal tersebut ditujukan kepada diri Beliau selaku Pimpinan. Inilah salah satu alasan utama, kenapa sejak awal Beliau menegaskan, bahwa tidak akan ada harta berupa materi yang saya wariskan buat istri dan anak-anak.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: FB dan WAG H Indonesia

Galeri – Upgrading Murabbi Halaqah Wustho se-Sultanbatara

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel dan Dewan Murabbi Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menyelenggarakan Sosialisasi Hasil Revisi 60 Jadwal Bayani Jatidiri dan Upgrading Murabbi Halaqah Wustho di Hidayatullah Pinrang, Senin-Selasa (5-7/8/2024).

Upgrading dan sosialisasi tersebut menghadirkan Ketua Dewan Murabbi Pusat KH Dr Tasyrif Amin MPd, KH Hanifullah Hanan dan Nasi Arsyad Lc MA.

Para peserta yang hadir merupakan para murabbi halaqah Wustho dari Sulsel, Sulbar dan Sulawesi Tenggara.(fir)

Ibrah dari Pendiri Hidayatullah (63)

0

HidayatullahSulsel.com — Tak dapat dipungkiri, bahwa salah satu faktor yang seringkali membuat sebuah rencana terpaksa harus ditunda, bahkan terkadang sampai dibatalkan sama sekali, ketika dana yang dibutuhkan untuk menjalankan rencana tersebut tidak mencukupi.

Ironisnya, sebab realitas di atas bukan saja dialami oleh orang per orang, namun juga seringkali dirasakan oleh sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah komunitas, tak terkecuali organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan.

Tentu saja menjadi sangat tragis, ketika kekurangan apa lagi ketiadaan dana, justru dialami oleh umat Islam, khususnya ketika mengangkat proyek strategis, yang punya pengaruh signifikan, bagi kelanjutan dan pengembangan program keumatan di masa depan.

Tanpa bermaksud untuk mendramatisir, jika menggunakan kata sangat tragis, untuk membahasakan realitas di atas, sebab sejatinya, bila dilihat secara individu, khususnya dalam konteks Indonesia, bahkan di internal sebuah organisasi, tidak sedikit orang yang berkecimpung di dalamnya, justru memiliki harta yang cukup lumayan.

Jika dilakukan evaluasi secara mendalam, sangat mungkin ditemukan, beberapa faktor yang menjadi pemicu, kenapa kemudian program “pengumpulan” dana lewat berbagai cara dan jalur, masih saja mengalami kesulitan, bahkan untuk sebatas membiayai program yang nota bene sangatlah kecil.

Bukan bermaksud menuding dan menyalahkan pihak tertentu, apa lagi sampai memvonis beberapa orang secara individu, namun hal tersebut harus diakui, bahwa salah satu sebab yang kadang membuat orang agak ragu, untuk turut berpartisipasi, adalah persoalan trust.

Dalam berbagai kesempatan, Alm. Ust. Abdullah Said (UAS) seringkali mengutarakan, bahwa gelar Al-Amin yang disematkan orang pada diri Rasulullah, punya pengaruh yang sangat besar, pada perjalanan perjuangan dakwah Beliau, hingga meraih kesuksesan yang sangat spektakuler.

Menjadi orang yang terpercaya, apa lagi di mata sekian banyak orang, bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan secara instan, melainkan butuh waktu dan proses yang panjang, melalui berbagai ujian kehidupan yang tidak sederhana.

Faktor terbesar, kenapa Khadijah begitu terpesona pada diri Rasulullah, kemudian tanpa sungkan mengambil inisiatif, bahkan boleh dikata cenderung agresif, untuk bisa menjadi istri Beliau, adalah karena integritasnya yang tidak menyisakan keraguan sedikitpun.

Karenanya, UAS sangat mewanti-wanti kepada para kadernya, untuk sukses dalam menjalankan amanah, jangan bermain-main, alias menganggap remeh persoalan trust. Sebab sekali umat kehilangan kepercayaan, akan sangat sulit merehabilitasinya, karenanya ada pepatah yang mengatakan “sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak akan dipercaya”.

Menyepelekan administrasi keuangan, dan hanya mengharap pada sangka baik orang lain, sebuah langkah yang sangat spekulatif, dan merupakan lahan empuk bagi setan, untuk melakukan aksinya, buat memporak porandakan sebuah shaf perjuangan.

Semakin memancing kalau tidak mau dikatakan, orang dipaksa untuk berpikiran yang tidak-tidak, ketika sepak terjang dan lakon seseorang yang berharap untuk dipercaya, justru melakukan banyak hal yang sangat mencurigakan.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar, Sumber: WAG H Indonesia

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (62)

0

HidayatullahSulsel.com — Manusia adalah makhluk sosial, yang pengertian sederhananya adalah, tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian, setiap orang dengan segala kelebihan yang melekat pada dirinya, tetap membutuhkan peran dan konstribusi orang lain, guna memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya.

Proses interaksi antara sesama manusia menuntut adanya aturan yang mengikat semua pihak, sebab jika tidak, niscaya dapat dipastikan, kehidupan akan menjadi carut marut alias tidak akan beraturan. Sebab watak dasar setiap orang, bukan saja tidak mau dirugikan, namun sedapat mungkin bisa meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Keberadaan sebuah aturan, yang umumnya menyangkut hak dan kewajiban, dimaksudkan agar setiap orang dapat mengontrol diri, sehingga tidak seenaknya berbuat sesuai kehendaknya, di samping dia punya hak, juga memiliki kewajiban, dan yang paling utama harus disadari, bahwa orang lain pun memiliki hak yang tidak bisa diabaikan.

Namun, sebaik apapun sebuah aturan, bahkan sudah menjadi kesepakatan bersama, pada akhirnya akan menjadi sia-sia, sebab peraturan itu akan menjadi lumpuh, alias tidak bisa ditegakkan sebagaimana seharusnya, jika saja aturan itu dibiarkan berjalan sendiri, tanpa adanya pengawalan dalam proses penegakannya.

Mengawal aturan agar bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya, sesungguhnya menjadi tugas utama dari sebuah kepemimpinan. Maka menjadi konyol, jika ada orang yang menginginkan kehidupan yang teratur, di mana segala hal dalam aspek kehidupannya tertata dengan baik, namun di pihak lain, dia tidak menginginkan adanya kepemimpinan.

Kesimpulan dari apa yang dipaparkan di atas, bahwa keberadaan seorang pemimpin, adalah tuntutan yang tidak bisa dinafikan, dan hal ini berlaku dalam segala levelnya, mulai dari lingkup terkecil, yakni dalam rumah tangga, sampai dalam level bernegara. Terlepas dari pembahasan soal proses pengangkatan dan juga sistem yang dijalankan kemudian.

Dari sekian banyak hal yang menjadi tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin, maka sikap adil menjadi ruh atas segalanya, dan hal inilah yang menjadi faktor utama, bagaimana harmonisasi kehidupan dapat dirasakan dan dinikmati oleh semua pihak. Ketika keadilan tidak menjadi prioritas, maka sebuah kepemimpinan sedang menggali kuburannya sendiri, hanya soal waktu, di mana dia akan terbenam dengan kenangan yang sangat buruk.

Salah satu persoalan yang sangat krusial, di mana soal kepemimpinan benar-benar akan teruji, utamanya ketika dikaitkan soal keadilan, adalah persoalan distribusi kekayaan (harta) yang berstatus milik bersama, mulai dari penetapan aturan yang menjadi acuan, sampai pengawalan terhadap peraturan tersebut, agar benar-benar dijalankan sebagaimana seharusnya.

Lebih jauh berbicara soal distribusi, apa lagi jika dikaitkan dengan keadilan, maka basis utama yang sangat dibutuhkan, adalah transparansi dan akuntabilitas, ketika ada pihak yang menjadi bahagian, dari proses alur perjalanan “kekayaan”, tidak transparan, maka itulah yang akan menjadi titik awal, di mana keadilan tidak berjalan sebagaimana harusnya.

Penilaian atas transparansi dan akuntabiltas hanya bisa dilakukan dengan baik jika ada sistem administrasi yang rapi. Tanpa hal tersebut maka akan menjadi lahan empuk bagi iblis dan kroninya, guna mengobok-obok nafsu setiap orang, sehingga berkembanglah yang namanya prasangka, dan berbuntut dengan sekian banyak dampaknya.

Berbicara soal kerapian administrasi, lagi-lagi Ust. Abdullah Said memberikan contoh yang luar biasa, bagaimana seorang pemimpin dituntut untuk jeli dan sensitif, dan hal tersebut menjadi bahagian dari tugas berat yang tidak bisa diabaikan.

Jangankan soal angka yang salah ketik, apa lagi yang salah dalam penempatannya, yang tentu saja bisa berdampak sangat fatal, hatta sebatas surat biasa dan hanya diperuntukkan untuk internal, itupun dibaca oleh kalangan yang sangat terbatas, bukan hanya soal huruf yang salah ketik atau salah penempatan, sebatas ujung kiri dan kanan yang tidak sejajar, maka pengetikannya harus diulang, padahal masa itu, para staf dan asisten, masih menggunakan mesin ketik biasa.(*)

Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia

Pemimpin Umum Kunjungi Hidayatullah Al Alaq Maros

0

Maros, HidayatullahSulsel. com — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad didampingi Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muhammad Kaisar mengunjungi pesantren modern Tahfidzul Qur’an Hidayatullah Al Alaq Maros

Kunjungan tersebut usai memberikan taujih di Rakernas Pemuda Hidayatullah. KH Abdurrahman mengelilingi pondok menyaksikan pembangunan masjid, gedung sekolah dan asrama Al Muzammil,

Ia berharap kepada jajaran dewan pengurus daerah Hidayatullah Maros agar memaksimalkan lokasi wakaf keempat yang bertempat di Batangase, Dusun Mangngai Desa Damai, Tanralili, tersebut.

“Tolong segera diselesaikan surat-surat wakafnya, lokasi sangat strategis dekat dari bandara, sehingga bisa lebih mudah untuk singgah untuk istirahat,” harapnya.

Ustadz Kaisar berjanji akan terus mengupayakan penyelesaian surat-surat wakaf pondok dan berupaya memaksimalkan mengelola SDM yang ada di Maros.(fatahillah)

Tausyi BPU di Rakernas Pemuda: Pemuda itu Pelopor dan Pendobrak

0

HidayatullahSulsel.com — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad Hafidzahullah ta’ala hadir menyampaikan spirit dan tausyiah di arena Rakernas II Pemuda Hidayatullah di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Ahad (4/8/2024).

Berikut kutipan tausyiah tersebut disarikan oleh Ketua Hidayatullah gerai Maros, Ust Fatahillah:

Alhamdulillah gambaran pemuda itu senantiasa rajin membaca, semangat beribadah, tajam berfikir, dan menuntaskan seluruh amanah dan tanggung jawab tanpa tapi, tanpa nanti dan tanpa letih, pantang pemuda mengeluh apalagi berucap tidak bisa, ketika ada tugas.

Wajah penting pemuda adalah selalu melibatkan pemilik langit dan bumi dalam setiap kegiatan, selalu mengasah keterampilan berfikir, dan mengokohkan akar iman dengan selalu mendetailkan doa di malam hari, merinci seluruh gerakan yang akan dilaksanakan

Al alaq yang dipahami dengan baik akan teraktualisasi dalam gerakan Al Muzammil, ia juga menjadi manusia aktif, kreatif, dan inovatif dalam meniti rute perjalanan perjuangan

Pemuda selalu hadir menjadi fikiran dan hati masyarakat, ia menjadi darah bagi kaum lemah, rakyat jelata dan seluruh manusia yang membutuhkan keadilan.

Penajaman doa kembali diasah melalui sholat duha, agar denyut nadi langit terus terhubung dan menyalah disetiap hembusan nafas gerakan, karena beban pemuda dan harapan ummat dan Ummahat tertitip dipundak pemuda Hidayatullah

Rute sejarah mencatat pemuda merupakan pelopor dan pendobrak segala hal yang tidak berkeadilan, pemuda selalu hadir menjadi warna indah dalam memajukan jiwa raga ummat manusia

Spirit Al Fatihah dan Al Qolam merupakan kekuatan besar dalam meniti rute perjuangan, menjadi syarat utama dan mutlak untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan dunia akhirat.(*)

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (61)

0

HidayatullahSulsel.com — Sejak awal penciptaan manusia, dan akan terus berlanjut hingga akhir zaman, di mana setiap orang pasti dilengkapi dengan hawa nafsu, dan sudah menjadi sunnatullah, jika hawa nafsu tidak mungkin dihilangkan, maka satu-satunya upaya yang bisa dilakukan, adalah dengan jalan mengendalikannya.

Nafsu yang tidak terkendali, dapat dipastikan seseorang tidak akan mungkin bisa menikmati kehidupan yang tenang, sebab setiap saat dia dirongrong oleh tuntutan nafsunya, persis ibarat orang yang kehausan, di mana tidak ada pilihan air yang dapat diminumnya, kecuali air laut, bisa ditebak apa yang akan dirasakan, semakin diminum, membuat dahaga kian menjadi-jadi.

Bagi orang yang berpikiran waras, dalam artian ada kesadaran untuk meredam gejolak hawa nafsu, kian terasa urgensinya lingkungan yang kondusif untuk itu, sebab pertarungan akan sangat berat, jika lingkungan sekitar, justru memberi angin segar, untuk hawa nafsu semakin bergejolak.

Bagi orang yang berada dalam sebuah komunitas yang sama, di mana materi (harta) menjadi prioritas utama, menjadi wajar jika kesibukan mereka terfokus untuk mendapatkannya, kadang sampai ke tingkat menghalalkan segala cara. Maka menjadi aneh menurut mereka, bahkan bisa dicap gila, jika kemudian ada orang yang terkesan begitu cuek dengan urusan mengejar materi.

Hal yang sama akan terjadi sebaliknya, orang-orang yang berhimpum dalam satu wadah, di mana materi hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan dasar (tidak terpengaruh pada tuntutan gaya hidup), akan kasihan dan iba kepada orang yang sampai diperbudak oleh hawa nafsunya, untuk terus mengejar dan menumpuk harta sebanyak mungkin.

Dalam konteks Hidayatullah, yang secara khusus mendesain setiap kampusnya, agar para penghuni bisa mengendalikan hawa nafsunya, bukan berarti 100 % mereka tidak akan terjun di dunia usaha, melainkan ada motivasi yang sangat berbeda, di mana keseriusan mereka dalam bisnis, semata didedikasikan untuk kepentingan perjuangan.

Ketika lembaga mengalami kemajuan, ditandai dengan pertumbuhan aset yang terus berkembang, dengan sendirinya akan berimbas pada kesejahteraan orang-orang berkecimpung di dalamnya, inilah yang dimaksud, hidupkanlah Hidayatullah dan hiduplah bersama Hidayatullah. Namun, jika salah dalam pengelolaannya, aset yang terus bertambah, justru menjadi maslaah baru, yang kadang berujung tragis.

Dalam tulisan ke 55 yang lalu, poin kesatu disebutkan, soal kepemilikan harta pribadi, yang merujuk pada filosofi rambut dalam perjanjian Hudaibiyah, dimana masing-masing orang memiliki kebebasan dalam mengaturnya, maka berbeda halnya dengan harta pada poin berikutnya.

  1. Harta Milik Bersama

Sekalipun sudah menjadi pemahaman umum, bahwa uang bukanlah segala-galanya, namun realitas yang kita saksikan hari ini, betapa uang memiliki posisi yang sangat strategis, sampai lahir ungkapan selanjutnya, bahwa segala-galanya butuh uang. Dalam sebuah kesempatan, Ust. Abdullah Said sampai menganalogikan, “keberadaan dana dalam perjuangan, laksana darah dalam tubuh”.

Analogi di atas, tentu tidak bisa dipahami secara kaku, melainkan sebatas penegasan, bahwa dana memiliki peran yang sangat strategis dalam perjuangan, sehingga keberadaannya menjadi sangat dibutuhkan, maka upaya untuk mendapatkan dan mengumpulkan sebanyak mungkin, adalah sebuah keniscayaan.

Karena status dana perjuangan adalah harta milik bersama, tentu penggunaannya akan sangat berbeda dengan harta milik pribadi, di mana ada beberapa syarat utama dalam pengelolaannya, dan jika syarat itu diabaikan, di situlah keberadaan dana menjadi bumerang.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia

Ibrah Para Pendiri Hidayatullah (60)

0

HidayatullahSulsel.com — Pada BAB III Pasal 5 Pedoman Dasar Organisasi, tercantum dengan jelas, bahwa Visi Hidayatullah adalah membangun Peradaban Islam. Adapun definisi peradaban yang dimaksud dalam visi tersebut, adalah manifestasi iman dalam setiap aspek kehidupan.

Refleksi iman yang meliputi seluruh bentuk aktivitas inilah yang dimaksudkan oleh Allah pada surat Al-Baqarah ayat 208, dimana setiap orang beriman dituntut untuk tunduk dan patuh secara totalitas terhadap setiap aturan yang Allah telah tetàpkan.

Berislam secara kaaffah, sebagaimana yang Allah firmankan pada ayat di atas, adalah sebuah kewajiban setiap individu, yang tidak bisa ditawar-tawar, karenanya, segala hal yang menjadi syarat untuk mewujudkannya, otomatis menjadi wajib dengan sendirinya.

Lewat perenungan yang mendalam, setelah melahap sekian banyak referensi yang bisa menjadi rujukan, akhirnya Ust. Abdullah Said, menyimpulkan, bahwa upaya untuk mewujudkan Islam Kaaffah, mutlak adanya dukungan lingkungan atau sebuah kawasan yang memang didesain khusus untuk itu.

Tanpa adanya dukungan lingkungan yang kondusif, maka usaha mempertahankan kualitas iman, apa lagi mengembangkannya, sungguh sebuah usaha yang spekulatif, sebab hawa nafsu yang melekat pada diri setiap orang, senantiasa bergejolak dengan sekian banyak tuntutan, yang setiap saat minta dipenuhi.

Sejak awal Rasulullah mewanti-wanti, bahwa iman pada diri setiap orang, senantiasa fluktuatif, sewaktu-waktu dia bisa naik, di lain waktu mengalami penurunan, dan salah satu kata kuncinya, ada pada pengendalian hawa nafsu.

Semakin terasa beratnya upaya perawatan dan pengembangan iman, sebab di samping ada nafsu, juga ada makhluk lain yang bernama Iblis, yang programnya hanya satu, bagaimana agar manusia tidak tunduk pada aturan Allah, apa lagi sampai mentaatinya secara keseluruhan.

Iblis dengan seluruh kroninya, akan sangat leluasa dalam menjalankan aksinya, sehingga dengan mudah memperdayai targetnya, ketika seseorang berada pada lingkungan yang tidak memberi daya dukung, agar kekuatan iman bisa memproteksinya, dari rongrongan hawa nafsu yang tidak mengenal kata puas.

Jejak peninggalan para pahlawan terdahulu, dengan segala kekurangannya, Indonesia memberi ruang yang cukup memadai, khususnya dibandingkan dengan beberapa negara lain, terlebih dengan adanya lembaga pendidikan yang berbentuk pesantren, dimana para pengelolanya memiliki keleluasaan untuk berkreasi dalam pengembangannya.

Semangat berIslam secara kaaffah, yang hanya bisa diwujudkan jika ada kawasan yang diformat sedemikian rupa, ditopang dengan situasi dan kondisi Indonesia saat itu, jadilah Hidayatullah dalam bentuk pesantren, sebagai wadah berhimpunnya orang-orang yang memiliki cita-cita yang sama,

Upaya meredam tuntutan hawa nafsu, tentu tidak dalam bentuk mengkebirinya, dalam artian menutup rapat-rapat semua saluran untuk itu, melainkan sebatas mempersempit ruang geraknya, agar jangan sampai dia dominan dalam pengendalian aktivitas yang dilakoni. Dan salah satu tuntutan terberatnya, adalah terkait dengan kepemilikan harta.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (59)

0

HidayatullahSulsel.com — KH. Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah, sangat terkenal dengan ungkapan yang pernah beliau lontarkan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah”.

Adagium pendiri Muhammadiyah di atas, tampaknya cukup mendarah daging di kalangan para kadernya, terbukti dengan perkembangan dan capaiannya yang sungguh spektakuler.

Bukannya berprinsip asal tampil beda, alias tak mau ikut-ikutan, di mana Ustadz Abdullah Said membuat adagium yang berbeda, yakni “Hidupkanlah Hidayatullah, dan hiduplah bersama Hidayatullah”.

Perbedaan dari dua ungkapan di atas, disebabkan dengan latar belakang berdirinya yang memang berbeda, sejak awal Muhammadiyah didirikan, berstatus sebagai perserikatan (organisasi), di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya, sama dengan organisasi pada umumnya.

Adapun Hidayatullah, karena sejak awal berdirinya berstatus pesantren, di mana semua orang yang terlibat didalamnya, adalah orang-orang yang waktu, tenaga dan pikirannya, nyaris 100 % diperuntukkan untuk pesantren, sehingga tidak memungkinkan untuk mencari penghidupan lain di luar pesantren.

Bahkan lebih jauh, karakteristik (profil) kader yang ingin dilahirkan memang berbeda, sehingga wajar jika sistim pengelolaannya berbeda. Jika ingin membandingkan yang apple to apple, maka pesantren Hidayatullah bisa disandingkan dengan amal usaha Muhammadiyah, seperti Perguruan Tinggi, Rumah Sakit dll.

Karena sejak awal, Muhammadiyah didedikasikan sebagai organisasi pengabdian, maka otomatis para pengurusnya adalah orang-orang yang sudah memiliki sumber penghasilan tetap, bahkan tidak sedikit diantaranya adalah orang yang benar-benar telah berdaya.

Adapun Hidayatullah, karena format awalnya memang pesantren, dimana menjadi “keharusan” para pengurusnya lebur secara totalitas, alias tidak punya sumber pemghasilan lain, maka wajar jika seperti itu adagium yang dikeluarkan oleh Ust Abdullah Said.

Nantilah sejak tahun 2000, bertepatan Hidayatullah bermetamorfosis menjadi ormas, diharapkan para pengurus organisasi memiliki usaha (sumber pendapatan) lain, sebab tentu saja akan sangat membebani, jika seluruh kebutuhan menjadi tanggungan lembaga.

Proses adaptasi dari orsos menjadi ormas, sangat disadari jika membutuhkan waktu dan seni tersendiri, dan dalam konteks inilah, terkadang menimbulkan berbagai gejolak, karenanya butuh kearifan dalam penyikapannya, apa lagi yang memang nyata-nyata sudah ada regulasi untuk itu.

Sudah diatur dalam bentuk PO saja, yang memberi penjelasan soal mana yang boleh dan mana yang tidak, dalam prakteknya di lapangan, masih menuntut adanya kearifan, apa lagi bagi kader yang memiliki visi membangun peradaban, maka dituntut kepekaan / sensitifitas yang tinggi, soal mana yang pantas dan mana yang tidak wajar untuk dilakukan.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia dan FB

Satu Teladan Lebih Baik Daripada Seribu Nasehat

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd l, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Keteladanan adalah aktualisasi diri yang lahir dari naluri kejiwaan dalam jiwa yang baik. Memberikan satu keteladanan tidaklah semudah dari sekedar teori dan nasehat-nasehat.

Al-quran menguraikan kesuksesan mendidik anak ketika mendahulukan memulai membentuk pribadi terbaik dahulu, serta diiringi dengan keteladan yang baik. Jadilah nasihat-nasihat kebaikan akan diterima dengan baik, cepat memahami dan mudah mencontohkannya.

Hal itu dijelaskan panjang lebar pada QS. Luqman (31), yang bercerita tentang sosok ahli hikmah, Luqmanul Hakim. “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S Luqman [31] :12).

Sebelum Luqman Hakim memberikan nasehat kepada anaknya tentang pentingnya pendidikan karakter, terlebih dahulu dia memberikan keteladanan yang baik. Sehingga nasihat-nasihat dan bekal penting tentang kesuksesan hidup pada beberapa ayat berikutnya, niscaya dapat diterima dan diikuti dengan sepenuh hati.

Mengapa terjadi kerusakan moral pada generasi belakang ini ? Karena yang hanya didapati anak dari orang tua ataupun guru sering hanya sebatas nasehat, banyak perintah, tanpa banyak mendapatkan dan merasakan keteladanan yang baik. Tak memerlukan kesesuaian antara nasihat dengan keteladan dari yang menasehatinya.

Biang kerok krisis keteladan adalah kontra produktif antara penyeru kebaikan yang tidak diiringinya dengan keteladanan yang baik.

Disamping pentingnya figur keteladan, eksistensi keluarga menjadi fondasi yang penting untuk menemukan keteladanan. Dalam keluarga terdapat figur orangtua, baik bapak maupun ibu, menjadi panutan. Kehadiran sosok figur orangtua biasanya anak akan mudah meniru, keteladanannya mempunyai pengaruh besar dalam membentuk karakter baik dalam perkembangan kehidupan anak.

Tepatlah menjadi bahan renungan dari sebuah pepatah Arab, bahwa ‘satu teladan lebih baik dari pada seribu nasehat’. Tanpa mengesampingkan peran penting dari nasihat, kesesuaian antara nasihat yang baik dengan keteladan yang baik adalah kunci sukses mendidik anak.

Momentum Idhul Adha ini, memberi kita ibrah tentang kesesuaian nasehat dan teladan yang dilakoni sosok ayah-ibu, Ibrahim-Hajar, menghasilkan Ismail yang teladan sebagai anak sholeh, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…”.(Q.S Al-Mumtahanah [60]:4).(*)