Beranda blog Halaman 34

Gubernur Sulsel Ajak Hidayatullah Sulsel Terlibat di Program Pemprov

0

HidayatullahSulsel.com — Pejabat Gubernur Sulsel Prof. DR. Zudan Arif Fakhrullah mengajak Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel terlibat pada program pembangunan Pemprov Sulsel.

Ajakan tersebut disampaikan pada Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Nasri Bukhari MPd didampingi Kadep Ekonomi Hidayatullah Ust Muhammad Imran dan Ketua Pemuda Hidayatullah Sulsel Abid Sibgatullah Lc di rumah jabatan gubernur, Makassar, Jumat (16/8/2024).

“Jika DPW Hidayatullah buat program sebaiknya buat program yang ada cantolan programnya dengan program dari OPD (Organisasi Perangkat Daerah) agar penganggarannya bisa dilekatkan melalui OPD-OPD tersebut, Misalnya Pelatihan Wirausaha Masyarakat Pedalaman, Pekan Penghijauan atau Bimbingan Teknis Kesehatan Masyarakat Pedesaan,” rincinya.

Hal itu merespon wacana disampaikan Ust Nasri soal alokasi anggaran APBD dalam bentuk hibah untuk ormas-ormas di Sulsel,

Prof. Zudan menjelaskan bahwa untuk pengusulan dan pembahasan bantuan hibah setiap tahunnya berakhir pada akhir bulan Juni.

“Sebagai pejabat gubernur kami hanya berwenang mengemas setiap program yang telah dianggarkan lewat APBD agar lebih terarah dan tepat sasaran,” ujarnya.

Prof Zudan juga pada kesempatan itu berjanji untuk siap hadir pada event yang diselenggarakan DPW Hidayatullah Sulsel.(fir)

DPW-DMW Hidayatullah Sulsel Gelar Lailatul Ijtima Halaqah Wustha Bersama Ust Aziz

0

Halaqah Wustha Gabungan Zona Selatan si Pulau Sanrobangi Takalar

HidayatullahSulsel.com — Dewan Murabbi Wilayah (DMW) dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel kembali menyelenggaraan Lailatul Ijtima Halaqah Wustha.

Kali ini dilaksanakan di Kawasan wisata halal Wadi Barakah di Ponpes Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu

Seratusan peserta kader Halaqah Wustha dari Makassar, Gowa, Maris dan Pangkep pada Sabtu-Ahad (17-18/8/2024) direncanakan hadir.

Panitia Lailatul Ijtima Arfah Bandule MM menjelaskan kegiatan kali ini akan turut menghadirkan Dewan Pertimbangan Hidayatullah Dr KH Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi yang akan menyampaikan spirit dan tausyiah utama.

Juga akan menyampaikan tausyiah Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Nasri Bukhari MPd, Ketua SMW Hidayatullah Sulsel Ust Ir H Abdul Majid MA dan Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Ahkam Sumadiyana MA.

Kegiatan serupa, Halaqah Wustha Gabungan Hidayatullah Zona Selatan juga akan dilaksanakan pada Jumat-Sabtu (16-17/8/2024).

Para kader dari Hidayatullah Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Ainkai dan Hidayatullah Masago akan berhalaqah di Pulau Sanrobangi Takalar.(fir)

Hidayatullah Takalar Perdana Tuan Rumah DMU

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya bagi pelaksanaan Daurah Marhala Ula (DMU).

DMU dilaksanakan Departemen Pengkaderan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel di Masjid binaan DPD Hidayatullah Takalar, akhir pekan lalu.

“Tentunya kami antuaias sebagai tuan rumah apalagi DMU ini diadakan untuk mencetak kader-kader yang unggul dan berkualitas dengan menyasar masyarakat umum dan simpatisan Hidayatullah,” jelas Ketua DPD Hidayatullah Takalar, Ust Arham.

Sebanyak 15 peserta dari berbagai daerah berpartisipasi aktif dalam DMU tersebut. DPD Gowa mengutus 3 peserta, DPD Makassar 3 peserta. Turut juga hadir peserta utusan Maros, Bone, Bulukumba, Jeneponto, dan juga tuan rumah DPD Takalar.

DMW Hidayatullah Sulsel memberikan mandat kepada empat instruktur untuk membawakan materi dalam DMU ini. Hadir menyampaikan materi Ketua DMW Hidayatullah Sulsel Al-Ustadz KH Abdul Majid MA, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Al-Ustadz Nasri Bohari MPd, Anggota DMW Al-Ustadz DR Musjaya Muh Khaerun MA dan Muh Nashrullah Alwi Lc Kadep Perkaderan Hidayatullah Sulsel.

DMU merupakan agenda rutin tahunan yang diprogramkan oleh DPW Hidayatullah Sulsel untuk kaderisasi di Hidayatullah Sulsel.

“Kita ingin agar Hidayatullah Sulsel setiap tahunnya bisa menambah jumlah kader agar bisa nantinya mengisi pos-pos di kepengurusan organisasi, amal usaha, dan badan usaha milik Hidayatullah yang masih banyak kosong,” jelas Nashrullah Alwi, dalam sesi pembukaan DMU.

Ust Misjaya dalam materinya menekankan tentang pentingnya berhalaqah bagi setiap kader Hidayatullah sebagai aktualisasi dari pengamalan nilai-nilai Sistematika Wahyu.

Bahkan Komandan Bikers Hidayatullah itu menegaskan, bahwa seorang kader itu diukur tingkat kekaderannya dari dua hal; pertama berhalaqah dan kedua berkepemimpinan.

Kader yang tidak berhalaqah menurutnya dianggap telah hilang 50% kekaderannya. Dan jika tidak berkepimimpinan, dalam artian tidak menaati keputusan pimpinan dan organisasi, maka hilanglah seluruh nilai kekaderannya.(rls)

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (70)

0

HidayatullahSulsel.com — Salah satu tabiat dasar manusia adalah butuh yang namanya pengakuan. Jika seseorang merasa dirinya tidak dianggap niscaya akan membuat perasaannya terpuruk. Dari situlah ego setiap orang terlecut.

Dalam kehidupan yang normal, pengakuan itu pasti berbanding lurus dengan prestasi, semakin tinggi prestasi yang dicapai, semakin besar pula pengakuan yang dia akan dapatkan.

Pengakuan yang diberikan kepada seseorang, bisa beraneka ragam bentuknya, ada yang bangga sebagai bagian dari keluarganya, meskipun jika dirunut silsilahnya, lumayan berputar-putar untuk menyambungnya.

Ada pula yang mengaku sebagai kawan dekat, minimal mereka saling mengenal satu sama lain, dan bisa dibuktikan dengan sekian foto bahkan video saat bersamanya, sehingga arsip sejarah yang dia punya, benar-benar didokumentasikan dengan rapi.

Sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki prestasi apa-apa, jangankan pengakuan, hatta dilirik pun orang menjadi enggan, jangankan diakui sebagai keluarga, kadang berpapasan di jalan seakan tak pernah kenal.

Kebutuhan akan pengakuan atas eksistensi dirinya, inilah yang seringkali membuat orang kadang berbuat tidak normal, dan saking banyaknya orang yang membutuhkan hal yang sama, sehingga batasan normal kadang menjadi samar, bahkan sampai terjungkir balik.

Jangankan pada aspek yang sifatnya duniawi, mulai dari harta, karir (jabatan), gelar akademik, penampilan fisik, pasangan dll. bahkan yang nyata-nyata berkaitan dengan kehidupan akhirat sekalipun, orang butuh akan pengakuan.

Pada awal ayat 17 surat 49 (Al-Hujurat) Allah berfirman, bahwa ada orang yang merasa jika dirinya telah berjasa karena keislaman mereka, یَمُنُّونَ عَلَیۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُوا۟ۖ. Hal tersebut benar-benar terjadi pada masa Rasulullah.

Allah segera merespon dengan jawaban yang sangat tegas di ayat yang sama,

قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَیَّ إِسۡلَـٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ یَمُنُّ عَلَیۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِیمَـٰنِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ

Jelaskan kepada mereka, jangan pernah punya perasaan yang seperti itu, sebab hakikatnya, justru Allah yang telah memberikan nikmat, dengan memberikan hidayah kepadamu, jika kamu oramg yang benar.

Jika di masa Rasulullah saja ada orang yang berani punya perasaan seperti itu dan dibahasakan secara vulgar, apa lagi di masa sekarang, dan semua orang berpotensi untuk dihinggapi rasa tersebut.

Merasa berjasa, adalah pintu gerbang dari upaya seseorang untuk mendapatkan pengakuan, yang tentu saja akan diiringi dengan beberapa tuntutan, mulai dari penghormatan sampai kepada penghargaan.

Mengantisipasi rasa seperti itu, Ustadz Abdullah Said kadang “terpaksa” melakukan hal yang ekstrim, seakan tidak punya perasaan, namun itu adalah wujud dari rasa sayang yang amat dalam kepada para kadernya, agar iman yang telah dimiliki, dan juga telah dibuktikan dengan karya nyata, jangan dirusak dengan munculnya perasaan yang tidak wajar.

Salah satu langkah ekstrim yang kami maksudkan, yang kadang dilakukan oleh UAS, satu diantaranya, adalah mutasi kader dari satu daerah ke daerah lain, meskipun tentu saja, niatan dari rotasi tersebut, tidak hanya sebatas itu, sebab banyak pertimbangan lain yang sangat strategis.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (69)

0

HidayatullahSulsel.com — Pada hakikatnya, kehidupan umat manusia di dunia ini, adalah kehidupan yang senantiasa ditandai dengan ujian terus menerus, tidak akan ada habisnya, hingga kehidupan masing-masing orang, benar-benar telah berakhir.

Sebagaimana lazimnya, setiap ujian yang diberikan, akan berujung pada penilaian, dan hasilnya, tentu saja bergantung pada bagaimana setiap orang, menyikapi ujian demi ujian yang datang silih berganti. Inilah substansi dari firman Allah

ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَیَوٰةَ لِیَبۡلُوَكُمۡ أَیُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلࣰاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡغَفُورُ

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Surah 67 (Al-Mulk) ayat 2.

Dalam kajian Surah Al-Alaq, yang menjadi fokus utama dari perenungan Ust. Abdullah Said, yang kemudian menjadi salah satu titik tekan dan paling sering diintrodusir kepada para kadernya, betapa Allah benar-benar Maha Perkasa.

Khusus dalam konteks pertarungan, antara para pejuang kebenaran melawan pengusung kebatilan, UAS seringkali mengangkat contoh sejarah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, guna membuktikan keperkasaan Allah, yang kesimpulannya, betapa sederhananya menghancurkan musuh, jika Allah telah menghendakinya.

Hancurnya pasukan gajah yang dipimpin Abrahah, hanya melalui gerombolan burung, tumbangnya Jalut lewat ketapel Nabi Daud, yang waktu itu Daud masih belia, hancurnya Fir’aun dengan bala tentaranya, perantara tongkat Nabi Musa, belum lagi Nabi Ibrahim yang selamat pasca dibakar pada gundukan api yang laksana gunung, dan akhirnya malah Namrud yang tewas menggenaskan.

Rentetan peristiwa di atas, adalah bukti kongkrit, betapa secara ekstrim dapat disimpulkan, yang seharusnya kita lakukan, bukan dibuat “pusing” oleh ulah para begundal, yang memang tujuannya untuk menghalangi para pejuang kebenaran, agar jangan sampai ada yang eksis, sebab itu isyarat, mereka tak lagi bisa berbuat seenaknya.

Melainkan yang harusnya menjadi fokus perhatian adalah bagaimana agar Allah berkenan memberikan bantuanNya. Sebab jika para mujahid, telah sampai pada level layak untuk dibantu, maka dengan sendirinya, kita hanya menanti waktunya, kapan gerangan kemenangan akan tiba, terlepas dari seperti apa bentuknya.

Salah satu syarat utama, dan hal ini tidak bisa ditawar-tawar, agar Allah mencintai para pejuang, yang tentu saja akan berlanjut dengan turunnya bantuan dari sisiNya, adalah ketika barisan mujahid telah tersusun rapi, laksana bangunan yang kokoh, inilah yang ditegaskan pada surat 61(Ash-Shaf) ayat 4

إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلَّذِینَ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِهِۦ صَفࣰّا كَأَنَّهُم بُنۡیَـٰنࣱ مَّرۡصُوصࣱ

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama, bagaimana agar setiap person mengambil peran, demi terwujudnya barisan yang rapi laksana bangunan yang kokoh, satu diantaranya, adalah menjaga kepemimpinan, yang ditandai dengan kesiapan untuk mentaati setiap perintah, berikut semua aturan yang menjadi turunannya.

Upaya menegakkan kepemimpinan, yang ditandai dengan ketaatan, inilah yang menjadi ujian terbesar dalam barisan para mujahid sesungguhnya, sebab masing-masing orang akan diperhadapkan dengan egonya sendiri, dan inilah yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (68)

0

HidayatullahSulsel.com — Kata orang bijak, “Jangan berharap mata hari akan terbit dua kali dalam sehari.” Demikianlah kehidupan manusia di dunia ini, setelah masanya berakhir, tidak akan ada orang yang dilahirkan kembali ke dunia, maka sungguh kerugian yang amat besar, ketika kesempatan yang hanya sekali ini, tidak termanfaatkan sebagaimana harusnya.

Pada ayat 10 surah Quran 63 (Al-Munafiqun), Allah menggambarkan permintaan manusia kepada Rabnya, sebagai bentuk ekspresi penyesalan, ketika kematian telah tiba, adalah memohon supaya masih diberi waktu walau hanya sesaat, agar dia bisa menginfakkan harta yang dimilikinya.

Pada lanjutan ayat, Allah menekankan, bahwa tidak seorangpun yang akan mendapatkan dispensasi seperti itu, sebab kesempatan tidak akan diberikan untuk kali kedua, dan yang sangat mengerikan, sebab Allah menutup firmanNya dengan penegasan وَٱللَّهُ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Terkait soal ketelitian atas apapun yang dilakukan oleh seorang hamba, pada surat 18 (Al-Kahfi) ayat 49 Allah memberi gambaran, Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak mendzalimi seorang jua pun.

Jika yang nyata-nyata harta milik pribadi, yang tentu saja proses mendapatkannya tidak mengandung unsur syubhat apa lagi haram, masih memicu penyesalan, dan berharap agar diberi kesempatan untuk menginfakkannya, lantas bagaimana jika harta yang dikelola adalah milik bersama, yang peruntukannya sudah jelas pengaturannya, lantas tidak disalurkan sebagaimana seharusnya.

Saat Ibnu Abbas menyampaikan perihal permintaan orang untuk dikembalikan ke dunia, ada seorang laki-laki yang tiba-tiba menyela dan meminta Ibnu Abbas untuk bertakwa, sebab yang akan menyesal setelah matinya dan minta dikembalikan, hanyalah orang-orang kafir.

Ibnu Abbas lalu meresponnya dengan membacakan ayat 9 di surat Al-Munafiqun, betapa Allah mewanti-wanti, justru kepada orang beriman, bahwa jangan sampai harta-hartamu, demikian pula anak-anakmu, membuatmu terlalai dari mengingat Allah. Yang tentu saja bisa memicu sekian banyak penyimpangan.

Sungguh. Tenaga administrasi, yang mencatat seluruh pergerakan manusia, tidak terkecuali soal keuangan, baik sumber maupun pengeluarannya, yang ditugaskan oleh Allah, adalah makhluk yang integritas dan profesionalismenya tidak diragukan, sehingga tak ada satu digit pun yang luput dari pantauannya, akan ada saatnya semua catatan dibuka, yang tentu saja diberi imbalan, tanpa seorang pun yang dizalimi.

Jika ada program kerja yang nyata-nyata untuk kepentingan perjuangan, dimana keputusannya melalui proses musyawarah, sesuai ketentuan yang telah disepakati, kemudian sampai tersendat atau tertunda, terlebih jika harus dibatalkan, dimana pemicunya adalah kekurangan dana, disebabkan adanya pihak pengelola yang tidak menunaikan kewajibannya, sungguh perbuatan yang sangat merugikan.

Kebiasaan mengabaikan sebuah aturan, akan berpotensi untuk mengantar dirinya menjadi raja-raja kecil, yang seolah dirinya adalah pemilik dan penguasa di daerah tugasnya, sehingga seenaknya membuat kebijakan dan keputusan sendiri.

Ada banyak hikmah yang dapat dipetik, dari kebijakan Ustadz Abdullah Said, di mana para kadernya senantiasa dirotasi dari satu daerah ke daerah lainnya, di samping untuk menambah pengalaman dan juga wawasan, sebagaimana yang selalu tertuang pada SK penugasan, di mana pada poin menimbang, termaktub perlunya tour of duty.

Hikmah lain yang tidak kurang pentingnya, dibalik rotasi tempat tugas para kader, sekalipun tidak terbahasakan dalam SK, namun seringkali disampaikan secara lisan, untuk menjaga idealisme kader (tidak terjebak pada zona aman dan nyaman), agar kehadiran dan bantuan Allah terus dinomorsatukan. Dan puncak dari itu semua, jangan ada kader yang kemudian menjadi raja-raja kecil di tempat tugasnya, sebab hal tersebut akan meruntuhkan kepemimpinan yang sudah susah payah dibangun.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (67)

0

HidayatullahSulsel.com — Allah Ta’ala berfirman dan Quran

وَمَا كَانَ لِنَبِیٍّ أَن یَغُلَّۚ وَمَن یَغۡلُلۡ یَأۡتِ بِمَا غَلَّ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسࣲ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا یُظۡلَمُونَ

Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan ghanimah). Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi. Surat Ali ‘Imran: 161

Dari firman Allah di atas, kita dapat memahami, bahwa selain nabi, semua berpeluang untuk melakukan pengkhianatan, dan Allah pasti akan memberi balasan yang sempurna, terhadap setiap bentuk pengkhianatan yang dilakukan oleh siapapun juga.

Lebih jauh, sebuah peristiwa dikisahkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia bercerita: “Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menuju Khaibar. Lalu Allah memberikan kemenangan untuk kami. Kami tidak mendapatkan harta rampasan perang berupa emas maupun perak saat itu, akan tetapi berupa peralatan makanan dan pakaian.”

Pada waktu kami tiba di persinggahan di sebuah lembah, seorang laki-laki berdiri hendak melepaskan pelana Nabi. Namun sebilah anak panah lewat mengenainya dan membunuhnya.

Spontan kami berseru: “Selamat baginya, dia telah mati syahid wahai Rasulullah.” Namun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

كَلاَّ. وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! إِنَّ الشَّمْلَةَ لَتَلْتَهِبُ عَلَيْهِ نَارا. أَخَذَهَا مِنَ الْغَنَائِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ. لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ

‘Tidak demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, dia tidak seperti yang kalian kira. Sesungguhnya jubah yang digelapkannya pada Perang Khaibar pada waktu harta belum dibagikan akan membakar dirinya di neraka pada hari kiamat nanti.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah di atas, sungguh memberi pelajaran yang sangat berharga, bahwa seseorang yang nyata-nyata terlihat dengan kasat mata, jika dia mati terbunuh di medan perang, nasibnya justru sangat menggenaskan di akhirat nanti, jika ada ghanimah yang diambilnya, tidak sesuai aturan yang berlaku.

Seorang hamba dengan tingkat kesalehan yang di atas standar rata-rata, selama dia bukan malaikat, tetap saja berpeluang melakukan kesalahan, sebab ada hawa nafsu yang melekat pada dirinya, dan yang namanya hawa nafsu, sebagaimana firman Allah pada surat 12 ayat 53, selalu mendorong pada kejahatan.

Nafsu yang lepas kendali, niscaya tidak akan mengenal kata puas, dia akan terus menerus melakukan teror, terhadap orang-orang yang sudah menjadi budaknya, dan nafsu akan semakin menjadi-jadi, tatkala di waktu yang bersamaan, setan memiliki ruang yang leluasa, untuk melancarkan serangan lewat berbagai jurusnya.

Khusus dalam konteks harta, terlebih yang berkaitan dengan hak orang lain, apa lagi jika nyata-nyata memang milik bersama, maka salah satu kata kunci utamanya, guna meredam hawa nafsu dan mempersempit ruang gerak setan, adalah dengan tertib administrasi, di mana transparansi dan akuntabilitas, benar-benar terpenuhi sesuai standar.

Belajar dari spirit para pendiri, khususnya Ust Abdullah Said, yang memang sangat perhatian dan begitu teliti dalam hal administrasi, sehingga jangankan soal angka, bahkan satu huruf saja yang bermasalah dalam pengetikan, sekalipun setiap orang yang membacanya pasti paham akan maksudnya, tetap saja surat itu tak akan ditandatangani.

Untuk itulah, seiring dengan perkembangan lembaga, di mana aset terus bertambah dan kian menggoda, di periode kepemimpinan Ust. Abdurahman Muhammad, yang dibantu oleh 5 institusi tingkat pusat, melalui forum Musyawarah Majelis Syura (MMS), lahirlah berbagai keputusan, yang dibuat dalam bentuk Peraturan Organisasi (PO).

Ada keyakinan yang sangat kuat, jika PO benar-benar dibaca, dipahami dan dijalankan sebagaimana seharusnya, terbayang masa depan yang sangat menjanjikan, dalam pengertian, apa yang dicita-citakan, berupa terbangunnya sebuah peradaban yang ideal, benar-benar akan terwujud.(*)

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (66)

0

HidayatullahSulsel.com — Kehidupan yang baik di dunia, serta ganjaran yang jauh lebih baik di akhirat, niscaya akan diberikan kepada siapapun, baik laki-laki maupun perempuan, selama dia beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh. Demikian yang Allah janjikan pada surat 16 (An-Nahl) ayat 97.

Pengertian amal saleh, sebagaimana yang dimaksud pada ayat di atas, adalah segala hal yang diperintahkan oleh Allah dan juga Rasulnya. Jika yang dikerjakan, adalah sesuatu yang nyata-nyata dilarang, maka hal itu termasuk perbuatan salah, dan tidak mungkin bisa mendapatkan apa yang dijanjikan di atas.

Secara sederhana dapat disimpulkan, jika ada orang atau sekelompok orang, dalam hidupnya selalu dirundung masalah, seakan kebahagiaan hidup di dunia, adalah hal yang mustahil untuk bisa dinikmati, maka ada dua kemungkinannya, entah karena ada perintah yang tidak dikerjakan, atau ada larangan yang justru dilanggar.

Kehidupan yang baik di dunia, sebagaimana yang dijanjikan pada ayat di atas, tentu saja tidak identik dengan harta yang melimpah, baik dalam bentuk banyaknya aset yang dipunya, tempat tinggal yang megah, kendaraan yang mewah, lengkapnya perabot, perhiasan yang menghiasi sekujur tubuh, termasuk istri yang lebih dari satu.

Namun. Jika bertambahnya harta dengan aneka ragam bentuknya, justru berbanding lurus dengan masalah yang menghimpit, entah langsung melalui dirinya, atau lewat pasangannya, dan juga anak-anaknya, maka sesungguhnya itu adalah kode keras, bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupannya.

Realitas yang terbahasakan pada alinea terakhir di atas, tentu saja bukan dan tidak dimaksudkan untuk menduga-duga, apa lagi memvonis siapa-siapa, melainkan menjadi peringatan bagi siapa saja, untuk tetap mawas diri, agar jangan sampai ikut terperosok ke dalam situasi yang seperti itu.

Khusus dalam konteks harta lembaga alias milik bersama, sangat mungkin menjadi pemicu timbulnya persoalan, ketika cara pengelolaannya tidak dilaksanakan sebagaimana petunjuk yang telah ditetapkan, satu di antaranya, adalah ketika sistem administrasinya tidak baik, sehingga berdampak pada amburadulnya pendataan harta tersebut.

Masalah paling minimal yang akan terjadi ketika harta milik lembaga tidak terdata dengan baik, maka berpotensi untuk tercampur aduk dengan harta milik pribadi, sehingga pasti akan bermasalah dalam proses pemanfaatannya. Baik digunakan bagi kepentingan umum maupun dibelanjakan untuk kebutuhan keluarga.

Tafsir yang keliru besar dan sangat menyesatkan jika slogan Ust Abdullah Said “hidupkanlah Hidayatullah dan hiduplah bersama Hidayatullah”, dimaknai menyatunya antara harta pribadi dan milik lembaga, dalam pengertian, apa yang kita punya adalah milik lembaga, dan apa yang menjadi milik lembaga juga milik kita.

Bagi yang mendapat informasi yang cukup, bagaimana UAS memperlakukan istri dan anak-anaknya, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, pasti akan paham seperti apa seharusnya memisahkan dana lembaga dan harta milik pribadi. Apa yang diterima dan dikelola oleh istri Beliau, benar-benar hanya sebatas tunjangan rutin dari bandahara, dan itu bisa terlihat dari menu sehari-hari yang dihidangkan saat waktu makan tiba.

Bagi yang tidak paham, khususnya yang hanya menyaksikan hidangan saat ada tamu yang datang, tentu persepsinya akan berbeda, sebab sejak awal UAS memberi perhatian serius terhadap memuliakan tamu, termasuk soal makanannya, maka pengeluaran untuk itu, sumbernya langsung dari bendahara, yang waktu itu lebih populer dengan sebutan Baitul Mal.

Untuk menyiasati keterbatasan anggaran, termasuk buat pelayanan tamu “tidak resmi” (di luar tanggungan lembaga), Ibu Aida berinisiatif melakukan bisnis kecil-kecilan, antara lain dengan menjual kue, sekaligus menjadi media latihan keterampilan buat santri putri, guna menjadi tambahan bekal bagi mereka, saat nantinya bertugas di berbagai daerah.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia

Ibrah dari Pendiri Hidayatullah (65)

0

HidayatullahSulsel.com — Melalui beberapa hadits dan juga penjelasan para ulama, dapat dipahami, jika Rasulullah memberi perhatian sangat serius terhadap shalat berjamaah di masjid, yang tentu saja tidak sebatas pada besarnya ganjaran pahala yang akan diperoleh, bagi siapapun yang melaksanakannya.

Dari kebiasaan yang dilakukan oleh Ustadz Abdullah Said, terlihat betapa shalat berjamaah di masjid, merupakan media konsolidasi yang sangat efektif. Dari seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan selama di masjid, baik sebelum dan setelah shalat berjamaah dilaksanakan, tatapan mata UAS terlihat sangat tajam, mengamati satu persatu setiap jamaah yang hadir.

Luasnya kampus dengan aneka aktivitas yang sangat bervariasi, di mana tempat orang-orang melakukan kegiatan tidak fokus pada satu titik, tentu butuh waktu yang tidak sedikit, untuk bertemu dan berinteraksi dengan semuanya. Maka keberadaan masjid menjadi sangat strategis, sebab 5 waktu dalam sehari, orang-orang pada berkumpul.

Datang lebih awal di masjid, yang umumnya hampir bersamaan dengan berakhirnya lantunan adzan dikumandangkan, disamping karena durasi waktu shalat sunnah qabliahnya lumayan panjang (terlebih di waktu duhur dan ashar yang rata-rata Beliau kerjakan 4 rakaat), juga ada rentang waktu yang tersisa untuk mengamati para kadernya sebelum iqomah.

Kian terasa pengamatan yang UAS lakukan, setelah berbalik ke hadapan jamaah sesaat setelah shalat berjamaah dilakukan, yang umumnya akan berlanjut dengan pemanggilan orang-orang tertentu, setelah jamaah secara umum telah dikomando dengan ucapan fantasiru.

Setiap kali kegiatan rutin di masjid usai dilakukan, di tengah keheningan, yang merupakan efek dari kuatnya kharisma yang dimiliki UAS, jamaah umumnya menanti, siapa yang dipanggil ke depan, di satu sisi pada berharap untuk jadi pusat perhatian, di sisi yang lain ada kekhawatiran, kesalahan apa yang telah diperbuat, hingga dapat giliran untuk dipanggil.

Rasa khawatir kian menjadi-jadi, saat masuk di masjid, sempat tertangkap mata Beliau, kalau belum shalat sunnah qabliah, namun iqamah sudah keburu dikumandangkan, bisa dibayangkan, seperti apa rasa yang dialami, jika saat shalat berjamaah, justru termasuk dalam barisan yang masbuk.

Dari perbincangan sesaat, bersama satu atau beberapa orang yang dipanggil ke depan, kadang kala menginspirasi Beliau untuk naik ke mimbar, dan tak jarang materi yang Beliau sampaikan, adalah untuk mengklarifikasi beberapa persoalan, yang menurut Beliau berpotensi disalah pahami, yang tentu saja akan mengganggu perjalanan ke depan.

Apa yang dipaparkan di atas, memberi gambaran, betapa UAS itu adalah sosok yang sengat sensitif, sekaligus pemimpin yang perhatiannya sangat kuat terhadap para kadernya, termasuk utamanya, bagaimana para kader menyikapi persoalan shalat berjamaah.

UAS sangat meyakini, bahwa betapapun karakter seseorang terlihat tidak cukup memberi daya dukung, untuk tercapainya apa yang dicita-citakan, selama dia masih aktif mengikuti rangkaian kegiatan di masjid, apa lagi jika kehadirannya sedikit lebih cepat dari jamaah pada umumnya, maka masih ada asa untuk berubah.

Sebaliknya, sekalipun karakter seorang kader terlihat lumayan baik, namun penyikapannya terhadap ibadah, khususnya shalat berjamaah di masjid terkesan cuek, seolah tanpa beban jika datangnya seringkali terlambat, maka inilah yang membuat Beliau jadi prihatin, sebab UAS sangat meyakini, ketika penyikapan terhadap shalat berjamaah tidak serius, pasti akan memicu masalah.

Terbayang, seperti apa kekhawatiran Beliau, jika yang perhatiannya terhadap ibadah kurang meyakinkan, justru adalah kader yang mendapatkan amanah strategis, termasuk yang turut terlibat dalam “mengelola” keuangan, niscaya ada potensi, transparansi dan akuntabilitas, hanya terlihat pada lembaran laporan (tidak semua tercatat), apa lagi jika administrasinya memang tidak standar.(*)

*) Penulis: Akib Junaid Kahar; Sumber: WAG H Indonesia

Taushiyah BPU : Munajat dan Jihad

0

Oleh: Sarmadani, Ketua DPD Hidayatullah Sidrap

HidayatullahSulsel.com — Bapak Pemimpin Umum (BPU) Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad berkesempatan menyampaikan tausyiah di arena kegiatan sosialisasi revisi jadwal 60 Bayani dan Upgrading Murabbi Halaqah Wustho di di Rumah Quran Hidayatullah Parengki, Suppa, Pinrang, 5-6 Agustus 2024.

Ustad Dr. Tasrif Amin Ketua Dewan Murabbi Pusat dalam pesan WA nya memberikan ringkasannya:
“Dalam salah satu uraian BPU tadi pagi, bahwa esensi pergerakan ini ada dua, yaitu munajat dan jihad. Dalam berjihad ada syura, untuk mendapatkan keputusan dan kebijakan dari imam. Selanjutnya para amir membuat perencanaan dan eksekusi program untuk dilaksakan umat secara terpimpin.”

Taushiyah beliau yang berdurasi sekira 2 jam 30 menit ini diiringi dengan nasihat tentang murobbi, cerita dan hikmah perjalanan beliau, serta candaan lepas tentang perjuangan di Hidayatullah yang membuat peserta tetap semangat mengikutinya.

Saya yang hadir sebagai driver BPU, turut mencatat pesan pesan yang beliau sampaikan. Berikut petikan ringkas ceramah di hadapan murabbi se-Sultanbatara tersebut :

***

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, dengan rasa syukur yang tak terhingga, Tuhan yang memberikan hidup ini dalam iman, Islam dan ihsan.

Bersyukurlah kepada Allah, semoga Allah meridhoi semuanya. Memang kita hidup dalam rangka mengharap keridhoan Allah.

Wamaa taufiqi illa billah. Dan tiada taufiq kecuali dari Allah.

Alhamdulillah, kita berjuang ini, atau hidup di dunia ini, karakter utamanya adalah jihad.

Karakter itu bahasa di dalam pengertian orang barat, pengertian unum, karakter itu pembiasaan apa yang selama ini difikiran, kemudian itu dilakukan. Kemudian terbentuk sebuah kebiasaan.

Dalam Islam itu karakter itu moral, karakter itu akhlak. dia berupa karakter dalam ibadah, karakter dalam bekerja.

Semua pembentukan karakter itu dimulai dari iradha. Dan daru Ilmu iradha ini melahirkan jihad.

Perjuangan di Hidayatullah ini tidak bisa ada tanpa munajat dan jihad. Inti dari hidup ini adalah Munajat dan Jihad itu.

Munajat itu sesuatu yang direncanakan, terus didoakan, dan diusahakan. Terus menerus itu dilakukan.

Masjid ini butuh waktu proses yang lama. Ini baru mau selesai, sempat berhenti pembangunannya saat masa Corona. Tapi terus saya munajatkan, sehingga bisa seperti sekarang ini. Dan alhamdulilah bisa kita tempati shalat.

Dari munajat ini kemudian lahir kesungguhan, kesungguhan untuk melakukan kebaikan. Itulah Jihad kita. Kesungguhan kita dalam berjuang di Hidayatullah itulah yang menjadi jihad kita.

Jihad kita di Hidayatullah tentu melalui jalur dakwah dan tarbiyah.

Saya mencoba memunasabah surah Al Ankabut dan Jihad. Apa hubungannya Al Ankabut dan jihad.

وَٱلَّذِینَ جَـٰهَدُوا۟ فِینَا لَنَهۡدِیَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik
[Surat Al-Ankabut: 69]

Rupanya ada yang luar biasa dengan perjuangan Al Ankabut itu dalam membuat sarang. Bagaimana dia memproses membuat sarangnya dengan susah payah. Ia naik membentuk sebuah benang, kemudian menjatuhkan diri, naik lagi, terus begitu dan menjadi sarang.

Setelah itu datang angin bertiup, rusak sarangnya, dan dia buat lagi.

Itulah Jihad Al Ankabut.


Saya sampaikan di Pemuda (saat Rakernas di Makassar akhir pekan lalu) , ada 3 pemuda hebat yang sangat luar biasa. Mereka adalah Musa, Ibrahim dan Ashabul Kahfi

Silahkan kita lihat bagaimana perjalanan tiga pemuda hebat ini.

Mana dari mereka yang kita pilih? Jelas semua hebat, semua adalah pemuda yang progresif.

Dari ketiga perjuangan pemuda ini, mana yang dipilih. Semua dipilih dan dilakukan secara kondisional. Ada saatnya kita berdakwah masih diam, ada saatnya sudah harus turun dari siap bertinju.

Kita ini tidak sekedar membangun karakter, tapi membangun akhlak. Karena bekerja, karena beribadah itu akhlak.

Berfikir itu adalah bagian dari Akhlaq. Akhlaq menghargai pemberian Allah berupa akal.

Akhlak yang benar, ilmu yang benar itu semua harus didasari dengan wahyu, dengan Quran. Ilmu agama yang tidak didasari wahyu itu ilmu khayalan.

Tidak ada jalan berfikir yang benar, tidak ada jalan ibadah yang benar, tidak ada kebaikan benar, kecuali dengan Quran. Wallahu ta’ala a’lam.(*)