Beranda blog Halaman 33

Tingkatkan Mutu Sekolah, Dikdasmen Hidayatullah Sulsel Assesmen dan Up Grading Guru Rayon Luwu Raya

0

HidayatullahSulsel.com — DPW Hidayatullah Sulsel melalui Departemen Dikdasmen melakukan serangkaian kegiatan assesment dan up grading para guru di 3 Kampus Pesantren Hidayatullah Rayon Luwu Raya, (24-26/8/2024).

Assesmen Penerapan Kurikulum Pendidikan Integral Berbasis Tsuhid (PIBT) dilaksanakan di SD Integral Hidayatullah Bosso, Luwu dan SD Islam Hidayatullah Lambara di Luwu Timur.

Dua assessor PIBT DPW Hidayatullah Sulsel melakukan penilaian secara langsung di lapangan terkait pemenuhan standar administrasi, standar pengelolaan SDM dan penerapan kurikulum. PIBT yang menitikberatkan standar pembelajaran Al Qur’an, penanaman adab, diniyah dan kepanduan.

Pelaksanaan assesmen PIBT di SD Integral Hidayatullah Bosso dan SD Integral Hidayatullah Lambara ber jalan lancar, berlangsung dari pagi hari hingga tiba waktu sholat Dhuhur.

Ketua Departamen Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) Dwi Subagyo SSi yang bertindak sebagai Ketua Tim Asessor PIBT yang didampingi Drs Anwar Baits sebagai anggota Tim assesor memberikan arahan terkait pentingnya penerapan Kurikulum PIBT sebagai karakteristik dan keunggulan sekolah.

Juga mengajak kepada seluruh unsur pengelola sekolah dan para guru untuk pro aktif memenuhi seluruh standar dan muatan yang ada dalam Kurikulum PIBT.

Jeda waktu dari rangkaian kegiatan Assesmen PIBT yakni pada hari Ahad tanggal 25 Augustus 2024 dimanfaatkan untuk melakukan Up Grading Guru yang dilaksanakan di Aula Kantor Yayasan Al Mubarak Kampus Hidayatullah Palopo dengan topik materi ” Profetic and Profesional Teacher of Hidayatullah ” dengan nara sumber Ketua Departamen Dikdasmen DPW Hidayatullah Dwi Subagyo SSi.

Diskusi dan sharing terkait profil guru Hidayatullah berlangsung seru. Peserta yang didominasi guru-guru wanita sangat antusias mengajukan tanggapan dan pertanyaan terkait idealistas guru Hidayatullah dalam tataran konsep dan realitas serta hambatan yang dihadapi para gurú di lapangan.(dwi)

Menikahlah Walau Maharmu Sepasang Sandal

0

Oleh: Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Pernikahan di Sasak tahun 2020 lalu di Lombok Tengah sempat viral, Pasalnya karena sang mempelai wanita hanya meminta maskawin (mahar) berupa sandal jepit dan segelas air. Motifnya karena tidak mau menyusahkan suami dan keluarganya dan menjadi kenang-kenangan yang akan diceritakan pada anak-anaknya kelak.

(Walau belakangan kejadian tersebut terendus hanya sekedar konten medsos)

Peristiwa serupa pernah terjadi di zaman Rasul (ini tentunya kejadian sebenarnya, bukan rekayasa) seperti dikisahkan dalam hadits, bahwa seorang perempuan dari Bani Fazarah dinikahkan dengan mahar sepasang sandal.

Rasulullah SAW bertanya, “Apakah engkau ridha dari dirimu dan hartamu dengan sepasang sandal?” perempuan tersebut menjawab, “ya” Rasulullah pun membolehkannya. [HR Tirmidzi].

Dalam kisah lain, seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, kawinkanlah saya dengan itu…..Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu yang dapat kamu pergunakan sebagai mahar untuknya ?”.

Ia menjawab, “Saya tidak memiliki apapun melainkan pakaian ini”. Lalu Nabi bersabda, “Jika pakaianmu itu kamu berikan kepadanya maka kamu tidak berpakaian lagi. Maka carilah sesuatu yang lain”.

Kemudian laki-laki itu berkata, “Saya tidak mendapatkan sesuatu yang lain”. Lalu Nabi SAW bersabda, “Carilah (maskawin), meskipun berupa cincin dari besi”. Lalu laki-laki itu mencari, tetapi ia tidak mendapatkannya.

Kemudian Nabi SAW bertanya kepadanya, “Apakah kamu memiliki hafalan ayat Al-Qur’an ?”. Ia menjawab, “Ya. Surat ini dan surat ini”. Ia menyebutkan nama-nama surat tersebut. Kemudian Nabi SAW bersabda kepadanya, “Sungguh aku telah menikahkan kamu dengannya dengan apa yang kamu miliki dari Al-Qur’an itu”. [HR Bukhari]

Pernikahan adalah salah satu kebutuhan biologis dan fitrawi yang sangat azazi. Logis bahkan strategis kalau Islam sebagai agama fitrah sangat concern terhadap urusan tersebut. Semestinya tatatan dan pranata-pranata untuk melangsungkannya dimudahkan dan diringankan prosesnya, termasuk penyediaan mahar sebagai syarat sah pernikahan

Mahar yang bermakna tanda pengikat [Kamus al-Munjid] atau stempel [Kamus Munawwir], yang wajib diberikan oleh seorang pria terhadap seorang wanita yang disebut dalam akad nikah sebagai pernyataan persetujuan antara pria dan wanita itu untuk hidup bersama sebagai suami istri.[ al-Fiqh ‘Ala al-Mazahib al-Arba’ah].

Sebagaimana peristiswa serta dari hadis tersebut, sepatutnya mahar pernikahan tidaklah mesti dengan benda atau harta yang tinggi nilainya, yang bisa memberatkan, dan berujung mempersulit terlaksananya pernikahan.

Walau mempelai laki-laki mampu memberi mahar mahal, kesederhanaan mahar adalah prilaku positif, dan lebih memperhatikan terhadap yang lebih utama, yakni nilai-nilai syatriat dalam prosesi pernikahan.

Tidak bermaksud merendahkan keberadaan mahar, namun terlalu menstandarkan tinggi mahar terkadang membuat seseorang lebih memilih menunda pernikahan.

Lebih parah lagi, banyak lebih memilih berpacaran dulu, setelah dirasa uang cukup untuk mahar baruLah menikah. Kalau terjadi seperti ini, berarti akan membuka lubang terjadinya perbuatan dan pergaulan yang tidak Islami.

Wahai kawan, permudalah pernikahan, ringankanlah mahar. Ketika siap mental dan iman, segeralah menikah.

Nabi bersabda: “Nikah termasuk sunnahku. Barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku, ia tidak termasuk golonganku. Menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku. Barangsiapa memiliki kemampuan untuk menikah, maka menikahlah.” (HR Ibnu Majah).(*)

DPW Kembali Gelar Pernikahan Mubarak di Hidayatullah Jeneponto

0

HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel akan kembali melaksanakan Pernikahan Mubarak bagi kader Hidayatullah di Sulsel.

Ketua Panitia yang juga Kadep Sosial Pelayanan Ummat Ust Armin Karim mengungkapkan pelaksanaan pernikahan Mubarak akan kembali dilaksanakan di Jeneponto, DPD Hidayatullah Jeneponto sebagai tuan rumah pada 1 September mendatang.

Kegiatan serupa sebelumnya juga dilaksanakan di Jeneponto yang dihadiri Bupati Jeneponto. “Bupati surprise dan menyebut sebagai kegiatan pertama pernikahan massal di wilayahnya,” jelas Ust Armin.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Drs Nasri Bukhari MPd mengungkapkan saat ini sudah ada tujuh pasang dai dan daiyah kader Hidayatullah yang akan menjadi peserta pernikahan Mubarak tersebut.

“InsyaAllah kegiatan akan lebih spesial dengan rencana kehadiran Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Aziz (Dr Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi) yang akan membersamai dan tentnuya memberikan tausyiah dan spirit membangun keluarga pejuang Islam,” ungkapnya.

Ust Nasri juga merupakan panitia pengarah bersama Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Ir H Abdul Majid MA, Ketua Yayasan Al Bayan kampus utama Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatah MM, Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel Ust Sumariadi dan Ketua STAI Al Bayan Abdul Qadir Al Qitri MA.

Saat ini peserta sedang menjalani masa training dan pembekalan selama sepekan untuk semakin mempersiapkan pemahaman dan kematangan mental dan jiwa peserta

“Peserta diselekai ketat bagaimana peran dan fungsi maupun dedikasi pengabdiannya selama ini. Termasuk kematangan untuk menjadi keluarga pejuang Islam bersama Hidayatullah, ” tambahnya.

Pernikahan Mubarak merupakan program dan kegiatan rutin tahunan Hidayatullah di seluruh Indonesia menikahkan secara bersamaan para kadernya sejak era awal kehadiran Hidayatullah 50 tahun lalu.

“Semua unsur dan lembaga di Hidayatullah berkolaborasi mulai dari DPW, DPD, kampus utama, BMH maupun organisasi pendukung seperti Pemuda Hidayatullah dan Mushida (Muslimah Hidayatullah),” tambah Ust Nasri.(*)

Nikmatnya Kawin Setelah Nikah

0

Jelang Pernikahan Mubarak Kader Hidayatullah di Hidayatullah Jeneponto

Oleh: Ust Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Banyak yang mengidentikkan kawin semakna dengan nikah. Seperti ketika orang bertanya, ‘sudah kawin ?, maka dijawabnya, iya, saya sudah kawin beberapa bulan lalu’. Dan yang dimaksud ‘sudah kawin’ dalam diskusi tersebut adalah ‘sudah nikah’.

Padahal kawin dan dan nikah itu sangat berbeda, segi makna dan pelaksanaan serta yang melakukannya. Banyak yang melakukan perkawinan tapi dia belum tentu telah melakukan pernikahan.

Pengertian kawin adalah hubungan biologis atau hubungan seksual antara pasangan suami dan istri atau antara laki dan perempuan.

Sementara hubungan biologis antara dua jenis kelamin, jantan dan betina, pada binatang atau hewan serta tumbuhan ataupun tanaman, juga diistilahkan dengan kawin.

Berbeda halnya dengan pengertian nikah, bermakna suatu ikatan sakral antara suami dan istri (laki-laki dan perempuan) yang sah di mata agama, adat, dan negara, yang tidak diberlakukan istilah tersebut pada selain manusia.

Dalam perfektif Islam, pernikahan adalah salah satu fase dalam hidup seorang muslim untuk menemukan pasangan hidup yang abadi, yang siap, mampu dan matang secara mental, emosional maupun finansial dalam memasuki kehidupan rumah tangga.

Bahkan dengan menjalankan syariat pernikahan adalah penyempurna terhadap separuh agamanya. Sesuatu yang dilakukan sebelumnya dikategorikan sebagai perbuatan larangan, dengan menikah hubungan suami-istri dalam mahliga rumah tangga akan bernilai menjalankan sunnah dan ibadah kepada-Nya.

“Siapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang salihah, berarti Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah setengah sisanya,” (H.R. Baihaqi).

Dalam pernikahan, terikata perjanjian antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama, yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.

Lebih dari itu, diperintahkannya untuk mampu melakukan perkawinan diantara keduanya, mewujudkan salah tujuan nikah yakni untuk memperoleh keturunan yang baik.

Begitu istimewanya syariat Islam, mendudukkan eksistensi nikah agar terjalin hubungan diberkahi antara laki-laki dan perempuan.

Memposisikan kawin dapat bernilai ibadah jika diikat oleh ikatan pernikahan. Dan sebaliknya, diganjar sebagai perbuatan dosa besar jika melakukan hubungan perkawinan tanpa ikatan pernikahan

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji [kemaluan]. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sehungan dengan hadits tersebut, dan berdasarkan konteks dan keadaan yang dialami seorang muslim, ketika mampu melangsungkan pernikahan, untuk segera mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan, mewujudkan sunnah Nabi.

Sebab dengan menikah akan mengantar seseorang terhindar dari kehidupan liberal, kehidupan yang melenakan untuk bebas bergaul, berhubungan, hingga terjerumus ke sifat kebinatangan, kawin mawin tanpa ikatan pernikahan, dan tidak pernah takut akan azab Allah.

Wahai pemuda, bersegerakanlah dirimu untuk menikah, sebagai bentuk keta’atan pada Allah dan Rasulnya. Niscaya engkau akan menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat, yakni kebahagiaan ketika mengawini istrimu yang sah, kebahagiaan menggapai ridho-Nya, serta mendapatkan keturunan yang baik.(*)

Ketua DMW Hidayatullah Sulsel: GNH Standar Karakter Seorang Kader

0

HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel Ust Ir H Abdul Majid MA berkunjung di Kampus Madya Hidayatullah Palopo,

Kunjungan tersebut juga bersama pengurus DPW Hidayatullah Sulsel. Kesempatan kunjungan itu menyampaikan taushiyahnya Subuh, Sabtu (24/8/2024).

Ia menjelaskan standarisasi kader Hidayatulah khususnya dalam pelaksanaan GNH (Gerakan Nawafil Hidayatullah).

“Seorang kader wajib bersungguh-sungguh menegakkan GNH dalam dirinya dalam kondisi apapun, GNH adalah merupakan salah satu karakter kader Hidayatullah dan sekaligus menjadi media tarbiyah secara ruhiyah bagi setiap kader,” jelasnya.

Menurutnua, seorang kader jangan sampai selalu merawat sifat malas dan tidak disiplin dalam dirinya, karena itu akan merusak karakter dan kepribadiannya sebagai seorang Kader.

“Kita harus memiliki mental pejuang sebagaimana mental yang dimiliki oleh para sahabat Rasulullah SAW,” ucapnya.

Kunjungan Ketua DMW ke Luwu Raya dalam rangkaian pembinaan wilayah dan sekaligus melakukan pemantauan aktivitas kemurabbian khususnya di Wilayah Luwu Raya.(imran)

Kemerdekaan Menurut Al Quran

0

Oleh: Ust Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

KEBEBASAN sering identik dengan kemerdekaan, dan bagai saudara kembar. Tak ada arti kemerdekaan tanpa kebebasan. Sebab kemerdekaan adalah manakala tidak ada yang menekan, menghalang-halangi serta menguasai kebebasan.

Sebaliknya banyak merasa memiliki kebebasan tapi tidak menjadi merdeka yang sesungguhnya.

Kebebasannya dipengaruhi oleh tekanan dan penguasaan nafsu dalam dirinya atau oleh ketidak berdayaannya melawan pengaruh dan tekanan kuat dari luar dirinya.

Kemerdekaan dan kebebasan harus diposisikan pada makna yang tepat. Kemerdekaan bermakna sebagai kebebasan berpikir, bertindak, berperilaku dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal menjalankan agama.

Sedangkan makna kebebasan secara umum adalah terlepasnya diri dari segala yang mengekang dan menghambat serta menghalangi dirinya berbuat atau berprilaku sesuai keinginannya.

Sekalipun keinginan itu bertentangan dan bertolak belakan dengan kaidah dan norma yang berlaku.

Memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan berbuat tanpa koridor dan batasan, sesungguhnya dia telah masuk ke jurang ketidak merdekaan. Sebab hidup ini pada hakekatnya adalah kesempatan diberikan oleh Allah untuk mengaktualisasikan potensi dirinya dalam ruang dan waktu tertentu, yang dengan sendirinya memiliki keterbatasan.

Hidup bebas bukanlah berarti hidup tanpa keterbatasan dalam kehidupannya. Sebab manusia memiliki keterbatasan berbuat, bersosialisaasi dan juga bermuamalah antara satu dengan yang lainnya.

Ketika seseorang berbuat melampau batasan kemanusiaannya, alias berbuat sesuka dirinya sebagai bentuk pola pikir kebebasan, akan terjadilah kerusakan menimpa dirinya dan manusia lain serta alam sekitarnya.

Berbuat sesuka hati dan memperturutkan keinginannya, sebagai bentuk aktualisasi dari arti sebuah kebebasan, berarti dia telah berbuat melampaui batasan kehidupan kemanusiaannya yang terikat yang dibatasi oleh keterkaitan dan kepentingan dengan yang lainnya.

Dengan demikian, memaknai kemerdekaan yang hakiki dan tepat bilamana kebebasan difahami sebagai peluang mengaktualisasikan segala potensi diri guna menggapai kebahagiaan yang hakiki.

Yakni kebebasan berpikir, bertindak dan mengaktualisasi segala potensi dirinya sesuai aturan dan koridor dari pembuat dan pemelihara alam semesta, Allah Azza Wajalla.

Kemerdekaan dalam perspektif Alquran (QS.2:256-257), adalah kebebasan yang didasari oleh akal fikiran yang sehat untuk mampu membedakan yang baik dan benar dan juga yang salah. Untuk keluar dari belenggu syaitan dan tahogut serta nafsu dalam dirinya. Pada akhirnya menjadi hamba Allah taat dan tunduk pada aturan-Nya, sebagai pegangan kuat menggapai kebahagiaan hakiki dalam Ridho Ilahi.(*)

Lailatul Ijtima DPW-DMW Hidayatullah Sulsel Diskusikan Kebahagiaan Berhalaqah

0

HidayatullahSulsel.com — Lailatul ijtima Halaqah Wustha Hidayatullah wilayah Makassar, Maros, Pangkep dan Gowa berlangsung khitmat dan seru oleh dialog dan diskusi seputar kebahagiaan berhalaqah.

Kegiatan tiap tiga bulan DPW-DMW Hidayatullah Sulsel itu dilaksanakan di kawasan wisata halal Wadi Barakah Ponpes Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu, Maros, Sabtu-Ahad (17-18/8/2024).

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Nasri Bohari MPd menjelaskan bahwa kegiatan halaqah dimanajemeni olek Departemen Pengkaderan dengan koordinasi pada Dewan Murabbi Wilayah (DMW).

Program Halaqah di Sulsel, rincinya dibagi 4 zona. Zona Luwu Raya dengan pembina Ust Dr Khairun Misjaya Ajatapareng oleh Ust Ismail Muhtar, Zona Selatan oleh ust Nasrulah Alwi Lc, dan Zona Makassar dan sekitar oleh ust Majid MA.

Panitia pelaksana dari Halaqah Ali bin Abuthalib  sengaja mengangkat tema lailatul ijtima yang menghadirkan Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Dr Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi itu tentang “Bahagia dengan Halaqah”.

Dialog seputar tema berlangsung seru karena menjadi tempat baik oleh para murabbi maupun mutarabbi menuangkan uneg-uneg dan dinamika halaqah masing-masing.

Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Ir H Abdul Majid MA menjadi pemateri tema Bahagia dengan Halaqah, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Nasri Bohari MPd tentang Tantangan Tarbiyah dan Dakwah di Sulsel, serta Murabbi pusat Hidayatullah Ust Ahkam Sumadiyana MA tentang Posisi dan Peran Hidayatullah di antara Ormas Islam.

Menurut Ust Majid di halaqah banyak sekali kebaikan diperoleh, bukan semata kebahagiaan tapi juga peluang berbuat baik, penguatan ukhuwah dan spirit maupun militansi.

“Maka kita harus selalu bersyukur dan bersabar dengan keberadaan di lembaga perjuangan ini dengan kegiatan halaqahnya karena membuat kita ikhlas, ridho dan tawakal,” jelasnya.

Hal lain yang akan membuat bahagia dengan berhalaqah, tambahnya, diantaranya mudah memaafkan, tidak mengeluh dan tidak merasa berat, menahan marah dan suka beristigfar serta selalu berprasangka baik.

Sebelumnya Ust Ahkam menjelaskan positioning Hidayatullah telah jelas dalam jati dirinya sebagai jamaatun minal muslimin. “Ini sebagai jalan tengah wastiyah sehingga Hidayatullah tak merasa benar sendiri dan berjuang sendiri. Dan terhindar dari ashobiyah dan taasyub,” tegasnya.

Menurutnya karena Hidayatullah sebagai jamaahrun minal muslimin maka kader harus serius berjamaah. “Karena jika hari ini kiamat dan kita meninggal namun dengan ketaatan sempurna maka kita insyallah mati dalam keadaan berjamaah bukan jahiliyah,” jelasnya.

Sementara Ust Nasri mengungkapkan tantangan dakwah Hidayatullah di Sulsel bukan dari ekternal tapi dari internal dari dan kader Hidayatullah.

“Tidak ada tempat dan pihak yang menolak dan menilai buruk dakwah kita namun kesiapan dan kualitas diri kita saja yang harus menjadi perhatian untuk terus ditingkatkan,” ungkapnya.

Lailatul ijtima zona Makassar Raya selanjutnya pada November mendatang dengan tuan rumah Hidayatullah Pangkep.(fir)

Bahagiakan Hidupmu dengan Berhalaqah

0

Oleh: Irfan Yahya, Mutarabbi Halaqah Umar Bin Khattab Hidayatullah Makassar

HidayatullahSulsel.com — Tulisan ini terinspirasi dari kegiatan Lailatul Ijtima’ Halaqah Wusta gabungan Hidayatullah Makassar, Gowa, Maros dan Pangkep di Kawasan Wadi Barakah Pondok Tahfidz Ummul Quro Hidayatullah Tompobulu Maros yang menjadi agenda rutin DMW-DPW Hidayatullah Sulsel, diseleggarakan pada Sabtu-Ahad, 17-18 Agustus 2024 dengan mengambil tema “Bahagia dengan Halaqah”.

Sesi pertama hadir tiga panelis yakni: Ustad Ahkam Sumadiana (Murabbi Nasional), ustad Abd. Majid (Ketua Dewan Murabbi Wilayah Sulsel), ustad Nasri Buhari (Ketua DPW Hidayatullah Sulsel).
Selanjutnya sesi ke dua diisi dengan Taujih Manhaji oleh Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah dan Ketua Dewan Pembina Kumpus Utama Al Bayan Hidayatullah Makassar ustad Abd. Aziz Qahhar Mudzakkar.

Temanya cukup menarik karena sesungguhnya kebahagiaan sejati bagi seorang Muslim tidak hanya diukur dari pencapaian materi atau prestasi duniawi belaka, namun kebahagian hakiki seorang manusia muslim itu digapai ketika idealitas manusia yang paling puncak bertemu dengan realitas kediriannya dalam kehidupan sehari-hari. Idealitas manusia muslim itu harus sesuai dengan visi eksistensialnya yakni sebagai hamba dan sebagai khalifah.

Visi eksistensial juga tak lain adalah visi hidup seorang manusia di dunia ini. Jika seorang manusia visi eksistensialnya tidak bertemu dengan realitas kediriannya maka dijamin hidupnya tidak akan bahagia.

Dalam konsep hidup ala manhaj Nubuwa, setiap insan dituntun untuk sampai pada dua visi hidup tersebut. Salah satu wasilah yang paling efektif dalam tuntunan itu dengan berhalaqah.

Halaqah adalah tradisi hidup ala manhaj Nubuwa yang telah terbukti melandingkan pondasi dasar peradaban Islam di Madinah. Dalam halaqah mengantar pada proses transformasi sosial yang utuh dan holistik dengan bukan hanya sebagai wasilah pencerahan dan pengoptimalan kualitas spiritual saja tapi terjadi proses ta’aruf, tafahum, ta’awun dan takaful.

Dalam realitas kehidupan modern saat ini, banyak manusia yang terjebak dalam rutinitas tak berujung dan tekanan yang membuat mereka kehilangan arah dari visi ini.

Kondisi manusia modern sering kali dicirikan dengan hidup yang serba cepat, penuh dengan tekanan pekerjaan, dan dikelilingi oleh budaya konsumtif yang mengukur kebahagiaan dari seberapa banyak harta yang dimiliki atau kesuksesan yang diraih.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sibuk, manusia sering kali merasa terasing, baik dari orang lain maupun dari dirinya sendiri.

Rasa kosong dan kehilangan makna menjadi pengalaman yang umum, meskipun dari luar mereka tampak “berhasil” dalam mindset kehidupan materialistik.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa banyak orang, meski berhasil secara material, tidak benar-benar bahagia karena mereka hidup dalam keterputusan antara visi eksistensial mereka dan realitas kedirian mereka dalam interaksi kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang tidak memiliki pegangan yang kuat dalam menjalani visi hidupnya, ia akan merasa seperti berjalan tanpa arah, terombang-ambing oleh arus kehidupan yang tidak menentu.

Inilah yang membuat kebahagiaan terasa begitu jauh, meski secara lahiriah segala kebutuhan sudah terpenuhi.

Dalam konteks ini, halaqah muncul sebagai solusi yang bukan hanya menawarkan pencerahan spiritual, tetapi juga alat yang efektif untuk menyelaraskan kembali idealitas dan realitas hidup seseorang.

Halaqah, sebagai tradisi yang berakar pada manhaj Nubuwa, menawarkan ruang bagi individu untuk tidak hanya mengenal jati diri di mana ia berproses dan berjuang, tetapi juga untuk memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan solidaritas dalam jama’ah. Melalui halaqah, proses ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling membantu), dan takaful (saling menanggung) berupaya dihidupkan kembali, membawa individu pada transformasi sosial yang holistik.

Proses ta’aruf dalam halaqah memungkinkan setiap anggota untuk saling mengenal lebih dalam, bukan hanya dalam aspek lahiriah, tetapi juga dalam memahami visi hidup, masalah, dan harapan masing-masing. Ini menciptakan lingkungan yang mendukung di mana setiap orang merasa dihargai dan didengarkan, yang sangat penting dalam kehidupan modern di mana banyak orang merasa terisolasi.

Halaqah juga mendorong tafahum, proses saling memahami, yang memperkuat hubungan antar individu dengan membangun empati dan pengertian. Dalam dunia yang penuh dengan kesalahpahaman dan konflik, tafahum menjadi kunci untuk menciptakan kohesi dan harmoni dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, ta’awun atau saling membantu dalam halaqah membawa individu pada praktik nyata dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya gotong royong dan kerjasama.

Dalam kehidupan yang sering kali individualistis, di mana orang lebih mementingkan diri sendiri, halaqah mengajarkan pentingnya berbagi beban dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Terakhir, takaful atau saling menanggung dalam halaqah mengajarkan tentang pentingnya solidaritas sosial dalam bingkai jama’ah, di mana setiap individu bertanggung jawab atas kesejahteraan orang lain dalam komunitas. Ini sangat relevan dalam konteks modern di mana ketimpangan sosial semakin terlihat, dan banyak orang yang merasa tidak ada yang peduli dengan nasib mereka.

Dengan rutin dan disiplin mengikuti halaqah, seorang kader Muslim tidak hanya menguatkan hubungannya dengan Allah, tetapi juga memperbaiki kualitas hubungan sosialnya.

Halaqah membawa kita kembali kepada nilai-nilai fundamental Islam yang sering kali terlupakan dalam kesibukan kehidupan modern. Melalui halaqah, visi eksistensial sebagai hamba dan khalifah dapat dihidupkan kembali, menyatu dengan realitas sehari-hari, sehingga kebahagiaan sejati pun dapat diraih.

Oleh karena itu, dalam menghadapi tantangan kehidupan modern, halaqah menawarkan lebih dari sekadar rangkaian seremonial untuk menggugurkan kewajiban seorang kader; tetapi lebih dari itu halaqah memberikan jalan untuk menemukan kembali makna hidup yang sering hilang dalam rutinitas dan tekanan dunia modern. Dengan halaqah, kita diajak untuk merasakan kebahagiaan yang tidak hanya bersifat sementara atau superfisial, tetapi kebahagiaan yang mendalam, berakar pada iman, dan bertumbuh dalam solidaritas jama’ah yang kuat. Wallahualam.(*)

Bikers Hidayatullah Sulsel Tudang Sipulung III di Kajang

0

HidayatullahSulsel.com — Bikers Hidayatullah Sulsel menyelenggarakan kegiatan tudang sipulung ketiga di Hidayatullah Bulukumba cabang Kajang, Sabtu-Ahad (17-18/8/2024).

Hadir sejumlah pengurus dan anggota dalam suasana tadabur alam.

Ketua Biker Hidayatullah Sulsel (BHS) Om Jaya menjelaskan, keberadaan BHS harus terlihat manfaatnya maka tidak ada alasan program dan kerja yang sudah direncanakan tidak jalan.

“Kita sebagai bikers untuk dakwah dan BHS bisa menjadi pintu rekrutmen kader, setidaknya merekrut perasaan para calon pejuang dakwah. Kalau bukan orangnya, minimal perasaannya. Tentunya pula menjadi wadah silaturahmi dengan komunitas bikers lainnya,” jelasnya.

Om Nasrullah salah seorang pengurus yang juga Ketua Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulsel pada kesempatan yang sama berharap komunitas ini perlu hadir dengan resmi dan segera mengukuhkan kepengurusan.

“Sehingga secara kelembagaan Hidayatullah di Sulsel bisa terlibat dengan resmi seperti perlunya terlibat Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel,” tuturnya.

Keberadaan BHS sebagai komunitas bikers dakwah jarapnua, perlu nilai lebih dan strategi khusus agar dakwahnya tercapai.

Kegiatan Tudung Sipilung selanjutnya akan dilaksanakan di  Lasusua pada 15-16 September nanti.(nas)

Membangun Militansi dan Loyalitas Kader

0

HidayatullahSulsel.com — DPW-DMW Hidayatullah Sulsel selain melaksanakan La lailatul Ijtimah Halaqah Wustah Hidayatullah Makassar, Maros, Pangkep dan Gowa di Wadi Barakah Hidayatullah Tompobulu.

Dalam waktu hampir bersamaan juga menyelenggarakan kegiatan serupa untuk Halaqah Wustah di zona selatan, Sulsel di Pulau Sandrobengi, Galesong, Takalar pada Jum’at-Sabtu (16-17/8/2024).

Berikut kutipan yang disarikan dari rangkaian tausyiah Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd pada kegiatan tersebut :

***

Halaqoh yang fungsional itu jika pada seorang kader terbangun jiwa dan ketaatan pada kepemimpinan serta adanya penajaman spirit bagi perjuangan.

Maka halaqoh menjadi penting bagi seorang kader karena akan menjadi stabilizer dalam menjaga orientasinya, membangun budaya ilmu dengan cerdas beramal, dan merekatkan ukhuwwah sebagai implementasi perintah merapatkan shaf atau barusan perjuangan.

Untuk tercapainya semua hal itu maka seorang kader harus melakukan pendakian dengan beberapa hal mulai dari bermunajat melalui gerakan nawarin Hidayatullah (GNH) sebagai bekal pendakiannya, musyawarah untuk membuat kesepakatan.

Selanjutnya bermujahadah dengan berusaha mewujudkan cita-cita perjuangan terwujudnya peradaban Islam.

Juga dengan tetap bermuakho dalam enjaga kebersamaan dan selalu memberi udzur untuk tidak negatif thinking, Walijah dan Itsar yang akan membuahkan sabar dan saling mendoakan.

Sehingga melalui serangkaian pemahaman di atas kita harapkan akan lahir kader yang merupakan manusia terbaik dengan kualitas dirinya yang berilmu, iman yang baik dan istiqomah dalam beramal. (nasrullah)