Beranda blog Halaman 32

Pemuda Hidayatullah Sulsel Gelar Tarhib Ramadhan Virtual

0

HidayatullahSulsel.id.com — Pemuda Hidayatullah (Pemhida) Sulawesi Selatan menggelar Tarhib Ramadhan secara virtual pada Rabu (26/2/2025). Kegiatan dengan tema “Ramadhan Level Up: Boost Iman dan Power Up Ibadah” tersebut bertujuan memotivasi kaum muda untuk meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadhan.

Ketua Pemuda Hidayatullah Sulsel, Abdurrahman “Abid” Sibghatullah, menekankan Ramadhan harus menjadi momentum untuk naik level dalam ibadah dan spiritualitas.

“Kalau bahasa anak sekarang, naik level. Artinya, Ramadhan ini jangan sama kualitasnya seperti tahun sebelumnya, tapi harus lebih baik dan lebih berdampak bagi orang lain,” ujarnya.

Acara ini menghadirkan Ustadz Muhammad Fathun, Lc, mahasiswa pascasarjana Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, sebagai pemateri.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai ibadah yang harus dilaksanakan selama Ramadhan beserta keutamaannya. Ia juga mencontohkan bagaimana para ulama terdahulu selalu meniatkan banyak hal sebelum memasuki bulan suci tersebut.

Sebagai langkah konkret, pemateri yang juga alumnus PUZ-STIS Hidayatullah Balikpapan ini mengajak peserta menuliskan target-target mereka selama Ramadhan.

Acara ini diikuti oleh puluhan peserta yang antusias mengikuti sesi materi dan diskusi interaktif.

Tarhib Ramadhan ini terselenggara melalui kerja sama dengan BEM STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar, Ikatan Alumni Al-Bayan, Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) Sulsel, dan Pesmadai Makassar.

Seorang peserta, Hamzah Aminullah, mahasiswa Institut Teknologi BJ Habibie, memberikan testimoni positif.
“Acara seperti ini sangat menarik dan bermanfaat. Saya berharap kegiatan serupa bisa terus diadakan ke depannya,” harapnya.

Tarhib ini merupakan kegiatan ketiga Pemuda Hidayatullah Sulsel menjelang Ramadhan. Sebelumnya, telah mengadakan Mabit dan Mini Touring ke Pangkep.

“Dengan adanya acara ini, diharapkan para peserta lebih siap menyambut Ramadhan dengan semangat ibadah yang lebih tinggi,” tambah Ust Abid. (rls/*)

Hidayatullah Sulsel Kembali Jadi Tujuan Penugasan PKD Mahasiswi STIS Balikpapan 2025

0
Suasana pembacaan ikrar penugasan PKD pada momen pelepasan sebelum berangkat tugas.

Hidayatullah Sulawesi Selatan kembali menjadi salah satu tujuan penugasan Praktik Kuliah Dakwah (PKD) Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan. Hal itu terungkap dari salinan Surat Keputusan (SK) Nomor 3 Tahun 2025 tertanggal 19 Februari 2025 tentang Penugasan PKD yang diterima media ini pada Kamis lalu (20/2/2025).

Dalam SK tersebut disebutkan bahwa penugasan ini bertujuan untuk melanjutkan proses pengaderan, menjaga, serta menguji militansi dan tanggung jawab kader STIS Hidayatullah Balikpapan. “Dipandang perlu melakukan penugasan Praktik Kuliah Dakwah STIS Hidayatullah Balikpapan di tempat yang telah disepakati,” demikian bunyi salah satu poin dalam SK yang ditanda-tangani Ketua STIS Ustadz Muh. Zaim Azhar, Lc., M.H., tersebut.

Sebanyak 51 mahasiswi ditugaskan dalam program PKD tahun 2025 ini, dengan 8 orang di antaranya ditempatkan di Sulawesi Selatan. Kedelapan mahasiswi tersebut akan tersebar di 4 sekolah/kampus jaringan Hidayatullah Sulsel yang berlokasi di berbagai daerah berbeda. Berikut adalah daftar nama mahasiswi beserta lokasi penugasannya:

  1. Miftahul Jannah – Kampus Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto
  2. Fatma Fatima – Kampus Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto
  3. Atiatul Widad – Kampus Darul Mubarok Menro, Pinrang
  4. Fadilah Nur Awalia – Kampus Darul Mubarok Menro, Pinrang
  5. Siti Mardia – Kampus Ulul Albab Boarding School Sudu, Enrekang
  6. Khairunnisa – Kampus Ulul Albab Boarding School Sudu, Enrekang
  7. Najmatun Jihadiah – Kampus Al-Azhar Bungadidi, Luwu Utara
  8. Nurul Amani – Kampus Al-Azhar Bungadidi, Luwu Utara

Penempatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung kepada para mahasiswi dalam mengaplikasikan ilmu, sekaligus memperkuat sinergi antarlembaga di bawah naungan Hidayatullah.

Penugasan ini merupakan bagian dari program akademik STIS Hidayatullah yang dirancang untuk membekali mahasiswi dengan keterampilan dakwah praktis. Selama menjalani PKD, para mahasiswi akan terlibat dalam berbagai kegiatan keislaman, seperti pengajaran Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syar’i, pembinaan santri, serta pendampingan masyarakat dalam program-program keagamaan.

Terpilihnya Hidayatullah Sulsel sebagai tujuan penugasan PKD STIS Hidayatullah Balikpapan semakin mempertegas potensi dakwah dan jaringan kampus Hidayatullah di Sulsel. Keberagaman wilayah dan tantangan dakwah di Sulsel juga menjadi alasan utama dipilihnya daerah ini. Mulai dari daerah pesisir hingga pegunungan, para mahasiswi PKD akan mendapatkan pengalaman langsung dalam menghadapi dinamika masyarakat yang berbeda-beda. Hal ini diharapkan dapat mengasah kemampuan adaptasi dan kreativitas mereka dalam memberikan pengajaran.

“Kami menyambut baik kedatangan mahasiswi STIS Hidayatullah Balikpapan di Sulsel. Ini adalah kesempatan untuk belajar langusng di ruang-ruang kelas terbuka. Semoga pengalaman-pengalaman langsung bersentuhan dengan santri dan terlibat di masyarakat, dapat memberikan gambaran awal terkait kebutuhan keilmuan yang dibutuhkan di masyarakat,” ujar perwakilan DPW Hidayatullah Sulsel.

Diketahui, program ini rutin dilakukan oleh salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) milik Hidayatullah dengan sistem berasrama tersebut setiap tahunnya, dan diperuntukkan kepada mahasiswa(i) tahun ke-3. Selama 2-3 bulan, mereka akan bertugas di berbagai sekolah-sekolah dan kampus-kampus pendidikan di seluruh Indonesia.

Pada tahun 2025 ini selain Sulawesi Selatan, beberapa daerah lain juga menjadi tujuan penugasan PKD STIS Hidayatullah, seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Bangka Belitung. Program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswi, tetapi juga memperkuat jaringan dakwah Hidayatullah di seluruh Indonesia.

Ramadhan Berilmu dan Berquran

0

Oleh : Azhari, S.H.I., M.Pd.I.*

اللهم بارك لنا في شعبان و بلغنا رمضان

Doa ini menjadi sangat krusial di detik-detik akhir bulan Sya’ban, dengan kenyataan banyaknya yang wafat orang-orang di sekitar kita. Informasi ini didapat baik dari media, maupun flayer-flayer duka cita yg tak berhenti dishare di grup-grup pertemanan.

Sebagai contoh, Rabu malam 14 Sya’ban lalu, seorang guru, tetangga depan rumah telah meninggal dunia, menyentak kita semua. Kamis tanggal 22 Sya’ban kemarin, seorang imam masjid di pondok, juga meninggal ayahnya saat sedang menjalankan ibadah umroh. Ia menghembuskan nafas terakhirnya saat sedang berada di Kota Nabi, Madinah Al Munawwarah.

Bahkan, semalam sebelum tidur, tetiba seorang kawan di Berau, Kaltim memposting flayer dukacita atas wafatnya ibunda tercinta. Dan tentunya masih sangat banyak lagi kasus serupa, kembali ke haribaan Ilahi sebelum sampai padanya Bulan Ramadhan.

اللهم اشف مرضانا و مرضى المسلمين و ارحم موتانا و موتى المسلمين.

Ini bukti bahwa kehidupan dan kematian memang merupakan hak prerogatif Allah SWT semata. Sekaligus juga kasih sayang Allah berupa kesempatan pada siapa yg dikehendakinya untuk masih bisa mencicipi nikmatnya hidangan Ramadhan tahun ini.

Disinilah urgensinya doa di atas sebagai muqaddimah tulisan ini. Dalam riwayat disebutkan bahwa enam bulan sebelum Ramadhan, para salafus sholeh dahulu sudah senantiasa berdoa agar disampaikan pada bulan Ramadhan.

Bekal Ilmu

Sebagai upaya menarik benang merah esensi dari value tarhib Ramadhan. Yang hari-hari ini diselenggarakan di berbagai tempat. Penting bagi kita menyambutnya dengan persiapan bekal ilmu yang memadai, dan melihat bulan ini dengan status privilege-nya yg unik.

Tentu berbeda, orang yang memandang Ramadhan dengan perspektif B aja, dibanding orang yang melihat dan memaknai Ramadhan dengan adanya hak istimewa yang diberikan langsung oleh Allah SWT.

Siapa yang tidak tergiur dengan segala macam bisyarah yang ditawarkan pada bulan ini.

Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Saw bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan, Allah wajibkan berpuasa didalamnya, dibukakan didalamnya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu para setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang dihalangi dari kebaikannya, sungguh ia telah dihalangi dari segala kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda:

إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب السماء وفي رواية ( أبواب الجنة) وفي رواية (أبواب الرحمة) وغلقت أبواب جنهم وسلسلت الشياطين.

“Jika datang bulan ramadhan maka dibukakan semua pintu langit, dan dalam riwayat yang lain pintu-pintu surga, dalam riwayat yang lain pintu-pintu rahmat, dan dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu semua setan.” (Muttafaqun alaih)

Sebagaimana kata Ibnu Rajab al-Hanbali (w.1393) bahwasanya Sya’ban adalah muqaddimah Ramadhan yang bertujuan agar seseorang memperoleh persiapan bertemu Ramadhan, dan jiwanya tertempa untuk ketaatan kepada Allah. (Lathoiful-Ma’arif).

Tentu, saat memasuki Ramadhan, kita mutlak butuh bekal ilmu, mental dan jiwa yg kuat, serta fisik yg prima dalam mengarungi samudera kebaikan yg disebar oleh Allah SWT.

Kata Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H),


يَجب عَلَيْهِ أَنْ يَطلبَ مِنْ الْعِلْمِ مَا يَقُومُ بِهِ دِينهُ ولا يفرط ذلك. الْفَرْضَ الَّذِي يَجِب عَلَيْهِ فِي نَفْسِهِ لَا بُد لَهُ مِنْ طَلَبِهِ.

Wajib atas setiap muslim mempelajari ilmu yang dapat menegakkan agamanya, dan tidak mengabaikannya. Kewajiban yang wajib atas dirinya, maka wajib ia mempelajarinya. (Ibn Muflih al-Maqdisi dalam al-Adab al-Syar’iyyah)

Bahwa puasa ini adalah syariat (2:183), maka melekat padanya hukum fiqh yang menyertainya, sehingga wajib bagi seorang muslim untuk memahami tatacara pelaksanaannya.

Pada puasa di siang hari, untuk diketahui: syarat wajib, syarat sah, rukun, pembatal puasa, adab-adab dalam berpuasa puasa, termasuklah apa yang tetap mubah dilakukan atau makruh dikerjakan.

Tentang qiyamnya di malam hari, tidak mungkin tanpa ilmu bagaimana salat tarawih, tahajud dan witir dilaksanakan. Begitupun dengan itikaf, saat masuk fase akhir bulan Ramadhan untuk mencaritemukan Lailatul Qadar.

Hal lain seputar zakat fitrah dan zakat maal, serta fiqh puasa bagi wanita.

Sebab, syarat diterimanya amal ibadah ada dua, selain ikhlas, juga mesti mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw (ittiba’).

Syahrul Qur’an

Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an karena dipilih oleh Allah SWT untuk menurunkan Al-Qur’an (Qs. 2:185). Sesuatu yang terpilih, pastilah istimewa. Maka asbab itulah, entitas lainnya menjadi mulia karena wasilah Ramadhan sebagai pilihan Allah dan Al-Qur’an sebagai objek yang berada di dalamnya.

Sehingga muncullah the miracle of Qur’an itu: bahwa Al-Qur’an ini adalah Kalamullah Al Karim, sehingga Jibril as. menjadi akramul malaikah, malaikat paling mulia karena membawa Al-Qur’an. Dan untuk diketahui bahwa nama lain malaikat Jibril adalah ar-Ruuh, juga nama lain Al-Qur’an adalah Ruh. Itulah sebabnya ruh atau jiwa manusia akan terus hidup dan menyala ketika membaca Alquran.

Rasulullah Saw, menjadi khairul anam, sayyidul anbiya’ wal muraslin, karena diberikan Al-Qur’an.

Makkah Al-Mukarramah, Madinah Al-Munawwarah, dan Baitul Maqdis, menjadi tanah yg paling mulia di muka bumi ini karena Al-Qur’an turun di negeri tersebut (dalam satu pendapat bahwa ada ayat Alqur’an yang sempat turun di Baitul Maqdis).

Ramadhan menjadi sayyidus syuhur, bulan paling mulia. The best time, karena di dalamnya turun Al-Quran. Bahkan pada bulan Ramadhan, terdapat lailatulqadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, juga karena dipilih oleh Allah untuk menurunkan Al-Quran (Qs. 97:1-3).

Dalam sejarah pun, pertama kalinya turun Al-Qur’an kepada Rasulullah Saw terjadi di Gua Hira, pada bulan Ramadhan. Yaitu Qs. Al-Alaq ayat 1-5, sekaligus menjadi SK pengangkatannya menjadi seorang nabi dan rasul.

Bisa dibayangkan jika Al-Qur’an itu juga nuzul dalam hidup kita, menjelma menjadi cahaya petunjuk dalam kehidupan di dunia ini. Apa tidak menyala hidup yang kita jalani ini, brader!

Oleh karena itu, semoga momentum Ramadhan ini memberi spirit nuzululqur’an pada jiwa kita lewat tilawah, tadabbur, hingga pengamalan dalam sehari hari di bawah naungan Al-Qur’an, sekaligus menjadi titik balik perubahan hidup dalam segala dimensinya. (Bersambung)

*) Alumni SMA Al-Bayan Hidayatullah Makassar

Hidayatullah Sulsel Sinergi dengan PUZ Balikpapan Hadirkan Imam Ramadhan 2025 di Sulsel

0

Makassar – Dalam rangka menyukseskan ibadah dan menyemarakkan Ramadhan 2025, DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan kembali menjalin sinergi dengan Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Ummul Qura Balikpapan untuk menghadirkan imam-imam pilihan di berbagai kampus Hidayatullah se-Sulsel. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas ibadah warga dan santri, khususnya dalam pelaksanaan shalat tarawih dan qiyamul lail selama bulan Ramadhan 1446 H.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari, M.Pd., menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk kepedulian dalam membangun atmosfer keislaman yang lebih baik selama Ramadan. “Kami berterima kasih kepada PUZ Balikpapan yang telah bersinergi dalam menghadirkan para imam terbaik untuk mengisi Ramadan di kampus-kampus Hidayatullah di Sulsel. Semoga program ini memberikan manfaat bagi umat dan semakin memperkokoh peran PUZ dalam mencetak calon ulama yang pemimpin,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan dari PUZ Balikpapan, Ustadz Sayyid Jundullah, S.H., menuturkan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya menyalurkan sumber daya keislaman ke daerah-daerah yang membutuhkan. “Kami berharap kehadiran para imam ini dapat memperkuat semangat ibadah warga dan santri pesantren dan tentunya masyarakat sekitar dan menciptakan Ramadan yang lebih berkah,” ungkapnya.

Adapun daftar kampus Hidayatullah Sulsel yang akan mendapatkan imam Ramadan, sebagaimana konfirmasi dari pihak PUZ Balikpapan adalah sebagai berikut:

Maros: Naufal dan Fadlul
Enrekang: Basyir
Luwu Timur: Faiz
Pinrang: Wahyu R
Luwu: Adlan

Program ini direncanakan berlangsung selama Ramadan dan akan mencakup berbagai kabupaten/kota yang menjadi pusat aktivitas dakwah dan pendidikan Hidayatullah di Sulsel. Para imam yang dikirim merupakan mahasantri-mahasantri pilihan dengan bacaan al-Qur’an yang tartil dan berstandar sanad dan telah memiliki bekal keilmuan islam yang memadai. Selain menjadi imam, mereka juga akan bertugas menjadi muallim-muallim al-Qur’an di daerah penugasan masing-masing.

Dengan adanya program ini, diharapkan Ramadan tahun 2025 ini dapat menjadi momentum kebangkitan spiritual bagi umat Islam, khususnya di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar kampus Hidayatullah.

Diketahui, PUZ merupakan program khusus besutan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan yang berfokus pada upaya melahirkan calon ulama yang pemimpin, dengan kemampuan terhadap Al-Qur’an, Bahasa Arab dan Ulumus Syar’i yang memadai.

Lailatul Ijtimak Kader Hidayatullah Sulsel Zona Mamminasata: Mengokohkan Spirit Perkaderan

0

Makassar, 22 Februari 2025 – Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan sukses menggelar kegiatan Lailatul Ijtimak pada Jumat-Sabtu (21-22/2/2025) di Kampus Al-Bayan Hidayatullah Makassar. Kegiatan ini diikuti oleh kader halaqah Wustha dari Zona Mamminasata, yang meliputi Makassar, Maros, Pangkep, Gowa, Takalar, dan Jeneponto.

Acara yang digelar sejak Ba’da Isya pada Jumat (21/2/2025) tersebut diikuti 12 halaqah yang tersebar di zona Mammisata. Acara yang ditutup pada Sabtu pagi (22//2/2025) ini bertujuan untuk memperkuat komitmen dakwah, mempererat ukhuwah, serta mengokohkan pemahaman keislaman dan kelembagaan bagi para kader.

Di sesi ba’da Isya, peserta mendapatkan pembekalan dengan materi bertajuk “Menumbuhkan Militansi Dakwah Kader”, yang disampaikan oleh Ustadz Ahkam Sumadiana bersama Ustadz Abdul Majid. Ustadz Ahkam menekankan pentingnya militansi dakwah seorang kader. Beliau berbagi pengalaman pribadi, “Dulu, setiap saya tugas, tidak ada lorong yang tidak saya masuki. Saya terus mengencangkan silaturahmi, sehingga sering mendapatkan tanah wakaf.” Beliau juga menegaskan bahwa kader yang tajam seharusnya mampu merekrut minimal satu anggota baru setiap tahun.

Ustadz Ir. H. Abdul Majid, M.A., Ketua DMW Hidayatullah Sulsel turut mengamini penyampaian Ustadz Ahkam dengan menekankan betapa pentingnya mengaplikasikan nasehat beliau. “Saya hanya ingin menguatkan, bahwa yang perlu dari setiap kader adalah segera mengamalkan nasehat-nasehat dari Ustadz Ahkam.”

Memasuki sepertiga malam, tepatnya pukul 02.30 dini hari, para peserta melaksanakan shalat tahajjud yang dipimpin oleh Ustadz Darmoyo, S.H. Momentum ini menjadi salah satu puncak spiritual dalam acara Lailatul Ijtimak, di mana para peserta bermunajat bersama, memperkuat hubungan dengan Allah, serta meneguhkan tekad dalam menjalankan amanah dakwah.

Kegiatan ditutup dengan tausiyah umum ba’da Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Nasri Bohari. Dalam tausiyahnya, beliau menguatkan konsep profesionalisme kader dan manajemen dakwah yang tertata rapi. Ustadz Nasri juga menjelaskan tentang tiga tingkatan keyakinan dalam Islam, yaitu ilmu yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin, sebagai landasan spiritual dan intelektual bagi para kader.

Dengan terselenggaranya Lailatul Ijtimak ini, diharapkan para kader halaqah Wustha semakin memiliki pemahaman yang kuat serta kesiapan dalam menghadapi tantangan dakwah di berbagai lini. Sinergi dan soliditas antarkader menjadi modal utama dalam membangun peradaban Islam yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

“Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum untuk menguatkan komitmen dan profesionalisme kader dalam menjalankan misi dakwah,” jelas Ustadz Nashrullah Alwi, Kadep Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel.

Diketahui, gelaran Lailatul Ijtimak merupakan program rutin Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel, yang dinakhodai langsung ketua departemennya yaitu Ustadz H. Nashrullah Alwi, Lc. dan digelar khusus untuk anggota-anggota halaqah wustha. Setiap dua-tiga bulan sekali, para anggota halaqah berkumpul sesuai zona masing-masing di kampus pilihan yang menjadi tuan rumah kegiatan. Pada zona Mamminasata kali ini, kampus utama Al-Bayan Makassar mendapat amanah sebagai tuan rumah.

Reporter: Cakdul
Editor: Lafiri

Sambut Ramadhan 2025, Kampus-Kampus Hidayatullah Sulsel Gelar Tarhib

0

Dalam rangka syiar dan memberikan bekal keilmuan dalam menyambut bulan Ramadhan 2025, kampus-kampus Hidayatullah se-Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Tarhib Ramadhan 1446 H. “Kita berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana bagi umat untuk meningkatkan kesiapan spiritual dan intelektual mereka dalam menyambut Ramadhan,” ujar Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust. Nasri Bohari, M.Pd.

Kampus Hidayatullah Enrekang menjadi yang pertama mengadakan kegiatan ini pada Ahad (16/2/2025), dengan menghadirkan Ust. Dr. Khairun Misjaya sebagai pemateri tunggal. Anggota Dewan Murabbi Hidayatullah Sulsel tersebut membawakan tema besar “Mengokohkan Ilmu, Menggapai Puncak Kemuliaan Ramadhan.” Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Madrasah Orang Tua dan Silaturahim Warga Hidayatullah Sudu-Enrekang yang rutin digelar setiap bulan.

Selanjutnya, Kampus Hidayatullah Palopo menggelar acara serupa pada Selasa (18/2/2025), dengan menghadirkan H. Nashrullah Alwi, Lc. sebagai pembicara utama. Ustadz alumni Madinah ini menyampaikan kajian keislaman terkait persiapan menyambut Ramadhan di hadapan warga, santri, dan kader Hidayatullah se-Palopo.

Kampus Hidayatullah Maros juga mengadakan kegiatan serupa pada Jumat (21/2/2025) pagi dengan menghadirkan Dr. Khairun Misjaya. Bertempat di Masjid Darul Hijrah, acara ini mengusung tema besar “Menggapai Kemuliaan Ramadhan dengan Ilmu Syar’i” serta dirangkaikan dengan Silaturahmi Orang Tua Wali Santri Pesantren Darul Hijrah Maros.

Masih di hari yang sama, Kampus Panyula Bone turut menggelar acara serupa selepas salat Jumat. Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust. Nasri Bohari, M.Pd., bertindak sebagai pemateri dengan membawakan tema “Ramadhan: Membangun Kesalehan Pribadi dan Sosial.” Dalam penyampaiannya, Ketua DPW Sultra 2015–2020 tersebut menekankan pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai momentum peningkatan kualitas diri dan hubungan sosial.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini juga akan menyusul di berbagai daerah lain. Hingga berita ini diturunkan, beberapa daerah telah terkonfirmasi akan menggelar acara serupa, di antaranya:

  • Luwu Timur (Lutim) menghadirkan Ust. Dr. Nashrullah Sapa, Lc. pada Ahad (23/2/2025),
  • Bulukumba akan menghadirkan Ustadz Dg. Taba,
  • Pinrang akan menghadirkan Ustadz Ismail Mukhtar, S.Pd.I.,
  • Lambara akan menghadirkan Ustadz Yusuf Gattti,
  • Parepare akan menghadirkan Ustadz Dr. Tasyrif Amin.

Selain itu, di tingkat wilayah, DPW Hidayatullah Sulsel akan menggelar kegiatan serupa di Kampus Al-Bayan Hidayatullah BTP Makassar pada Sabtu pagi (22/2/2025). Acara ini juga akan dirangkaikan dengan Lailatul Ijtimak untuk kader wustha se-Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba, yang akan berlangsung mulai Jumat malam (21/2/2025) hingga keesokan paginya.

Puncak dari rangkaian Tarhib Ramadhan Sulsel ini akan menghadirkan Ustadz Dr. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar sebagai pemateri utama. Eks senator DPD RI 3 periode asal Sulsel tersebut, dijadwalkan mengisi kajian pada Sabtu pagi dengan tema besar “Powerful Ramadhan bersama Al-Qur’an.”

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi umat Islam, khususnya warga Hidayatullah, untuk semakin mempersiapkan diri dalam menyambut Ramadhan dengan ilmu dan kesadaran spiritual yang lebih baik.

DPW Hidayatullah Sulsel Ucapkan Selamat atas Pelantikan Gubernur, Wakil Gubernur, dan Kepala Daerah se-Sulsel

0

Makassar, 20 Februari 2025 – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) HidayatullahSulawesi Selatan mengucapkan selamat atas pelantikan Bapak Andi Sudirman Sulaiman dan Ibu Fatmawati Rusdi (Andalan Hati) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan periode 2025–2030. Pelantikan ini dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, Kamis (20/2/2025).

Pelantikan tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Ketua dan Wakil Ketua MPR RI, Wakil Ketua DPR RI, pimpinan lembaga negara, para Menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan partai politik, dan tamu undangan lainnya.

Momen ini menjadi sejarah baru bagi bangsa Indonesia karena untuk pertama kalinya Presiden melakukan pelantikan serentak terhadap 961 kepala daerah dari 481 daerah. Jumlah tersebut terdiri dari 33 Gubernur dan 33 Wakil Gubernur, 363 Bupati, 362 Wakil Bupati, 85 Wali Kota, dan 85 Wakil Wali Kota.

Selain pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, beberapa kepala daerah dari Sulawesi Selatan yang turut dilantik secara serentak meliputi:

  1. Pilkada Maros – Chaidir Syam – A Muetazim Mansyur
  2. Pilkada Barru – Andi Ina Kartika Sari – Abustan
  3. Pilkada Luwu – Patahuddin – Muhammad Dhevy Bijak
  4. Pilkada Luwu Utara – A. Abdullah Rahim – Jumail Mappile
  5. Pilkada Luwu Timur – Irwan Bachri Syam – Puspawati Husler
  6. Pilkada Enrekang – Yusuf Ritangnga – Andi Tenri Liwang La Tinro
  7. Pilkada Tana Toraja – Zadrak Tombeg – Erianto Laso’ Paundanan
  8. Pilkada Gowa – Husniah Talenrang – Darmawangsyah Muin
  9. Pilkada Bantaeng – Muhammad Fathul Fauzy Nurdin – Sahabuddin
  10. Pilkada Sinjai – Ratnawati Arif – Andi Mahyanto
  11. Pilkada Wajo – Andi Rosman – dr Baso Rahmanuddin
  12. Pilkada Soppeng – Suwardi Haseng – Selle Ks Dalle
  13. Pilkada Sidrap – Syaharuddin Alrif – Nurkanaah
  14. Pilkada Pinrang – Irwan Hamid – Sudirman Bungi
  15. Pilkada Toraja Utara – Frederik V Palimbong – Andrew Branch Silambi
  16. Pilkada Bulukumba – Andi Muchtar Ali Yusuf – A Edy Manaf
  17. Pilkada Takalar – Firdaus Daeng Manye – Hengky Yasin
  18. Pilkada Pangkep – Muhammad Yusran Lalogau – Abdul Rahman Assegaf
  19. Pilkada Selayar – Natsir Ali – Muhtar
  20. Pilkada Bone – Andi Asman Sulaiman – Andi Akmal Pasluddin
  21. Pilkada Kota Parepare – Tasming Hamid – Hermanto
  22. Pilkada Kota Makassar – Munafri Arifuddin – Aliyah Mustika Ilham

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd., menyampaikan harapannya agar para pemimpin yang baru dilantik dapat menjalankan amanah dengan baik dan membawa Sulawesi Selatan ke arah yang lebih maju, sejahtera, dan berkeadilan.

“Kami mengucapkan selamat bertugas kepada Bapak Andi Sudirman, Ibu Fatmawati, serta seluruh kepala daerah se-Sulsel yang baru dilantik. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan petunjuk dalam mengemban amanah ini,” ujar Ustadz Nasri.

Lebih lanjut, DPW Hidayatullah Sulsel menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dalam membangun umat di berbagai bidang, sebagaimana misi yang diemban oleh para kepala daerah.

“Sebagai organisasi yang bergerak dalam dakwah dan pendidikan, kami siap bersinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan berbasis nilai-nilai keislaman, pemberdayaan umat, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di Sulawesi Selatan,” tambahnya.

Dengan pelantikan ini, DPW Hidayatullah Sulsel berharap adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah dan elemen masyarakat dalam mewujudkan visi pembangunan yang lebih baik bagi seluruh warga Sulawesi Selatan.

Diketahui, Hidayatullah Sulsel telah memiliki jaringan yang tersebar di seluruh kota/kabupaten di Sulawesi Selatan. Selain itu, berbagai amal usaha juga telah berdiri di bawah naungan Hidayatullah. Potensi jaringan dan sebaran amal usaha ini menjadi peluang besar untuk ikut terlibat dalam program-program sinergi dengan pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun daerah.

Penulis : Cakdul
Editor : Lafiri

Pemuda Hidayatullah Sulsel Mini Touring dan Geber di Pangkep

0

Pangkep — Pemuda Hidayatullah (Pemhida) Sulsel menggelar mini Touring dan Geber (Gerakan Bersih-bersih Masjid) Jelang Ramadhan di Hidayatullah Pangkep Balocci, Sabtu-Minggu (15-16/2/2025).

Dengan mengangkat tema
“Offline Sejenak, Online dengan Allah,” kegiatan yang didukung BMH Sulsel tersebut melibatkan mahasiswa dari Pesantren Mahasiswa Da’i (Pesmadai), Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH), dan pengurus Pemuda Hidayatullah Sulsel.

Rombongan melakukan serangkaian kegiatan mini touring, bersih-bersih masjid, tadabbur alam, qiyamullail, diskusi dan berbagai aktivitas lainnya.

Peserta disambut hangat oleh tuan rumah, yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran para pemuda. Dalam sambutannya, Ustadz Karding bercerita tentang perjuangan awal merintis Hidayatullah Pangkep yang secara geografis terletak di kawasan terpencil dengan akses jalan yang tidak memadai.

“Kami memulai dengan mimpi besar untuk membangun peradaban Islam di sini, meskipun banyak tantangan. Pemuda seharusnya memiliki mimpi besar yang berdampak, lalu merealisasikannya dengan melibatkan Allah, khususnya di pertengahan malam,” ujar Ustadz Karding. Pesan ini menginspirasi peserta untuk terus berjuang dalam dakwah.

Ustadz Karding menekankan pentingnya pemuda memiliki visi besar dan tidak takut untuk bermimpi. “Pemuda harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya berwacana, tetapi juga bertindak. Libatkan Allah dalam setiap langkah, terutama di sepertiga malam terakhir,” pesannya.

Ketua Pemhida Sulsel Abdurrahman Sibghatullah menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan 2025, memperkuat ukhuwah islamiyah, dan ajang silaturahmi antaranggota Pesmadai, GMH, dan Pemuda Hidayatullah Sulsel, serta meningkatkan literasi generasi muda, lewat “diskusi berisi”

Bang Abid, sapaannya, berharap semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang baik dalam menyambut Ramadhan 2025 dan memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan di masyarakat.

Salah satu peserta, Farhi, mengatakan, “Kegiatan ini benar-benar memberikan banyak pelajaran. Mini touring dan tadabbur alam membuat saya lebih dekat dengan alam dan menyadari kebesaran Allah. Ditambah dengan Qiyamullail, saya merasa semakin tenang dan semoga bersemangat menyambut Ramadhan.”

Kegiatan ditutup dengan mengunjungi kawasan wisata Sumpang Bita, sebuah destinasi alam dan sejarah yang terkenal di Pangkep. Peserta menikmati keindahan alam sambil merenungi kebesaran Allah SWT melalui ciptaan-Nya.(abid)

DPW Hidayatullah Sulsel Gelar Roadshow Parenting “Jadi Orang Tua Bukan Cuma Modal Sayang”

0

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pengasuhan anak, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menyelenggarakan Roadshow Parenting bertema “Jadi Orang Tua Bukan Cuma Modal Sayang”. Roadshow ini diadakan di empat lokasi berbeda di berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, dengan menghadirkan Abah Zein sebagai pembicara tunggal.

Abah Zein, yang juga anggota Dewan Murabbi Pusat DPP Hidayatullah dan pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Adab & Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah, akan menyampaikan berbagai materi penting tentang bagaimana menjadi orang tua yang efektif dan berpengaruh positif bagi anak-anak. Melalui kegiatan tersebut nantinya, pemilik nama lengkap Drs. H. Zainuddin Musaddad, MA tersebut akan menekankan bahwa cinta saja tidak cukup dalam pengasuhan anak, tetapi juga dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tepat.

Roadshow ini akan dimulai besok pada Sabtu (15/2/2025) di Kampus Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto, kemudian dilanjutkan pada Ahad (16/2/2025) di Kampus PP Ahlul Jannah Takalar. Acara yang digagas Departemen Pembinaan Keluarga dan Anak Usia Dini (PK-AUD) DPW Hidayatullah Sulsel tersebut kemudian berpindah ke Kab. Luwu pada Senin (17/2/2025), tepatnya di Kampus PP Hidayatullah Belopa, Luwu dan berakhir pada Selasa (18/2/2025) di Kampus PP Hidayatullah Bosso, Luwu.

“Menjadi orang tua adalah tugas mulia yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Dalam roadshow ini, kami berharap dapat memberikan panduan dan inspirasi bagi para orang tua untuk lebih memahami peran mereka,” ungkap Ustadz Armin Karim, S.H.I, kadep PK-AUD DPW Hidayatullah Sulsel.

Ustadz Armin juga berharap, acara ini dapat memberikan dampak positif bagi para peserta, serta memberikan landasan yang kuat bagi para orang tua di untuk mendidik keluarga mereka dengan penuh kasih sayang dan pengetahuan yang memadai untuk terwujudnya ketahanan keluarga.

Uang Panai’, Antara Status Sosial dan Anjuran Syariat Diringankan

0

Oleh: Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Uang panai’ terbilang merupakan salah satu hal yang sakral dalam tradisi pernikahan di suku Bugis-Makassar. Uang Panai’ diberikan oleh pihak mempelai laki-laki untuk membiayai pernikahan pihak perempuan.

Banyak mempersamakan uang panai’ dengan mahar dalam pernikahan, padahal keduanya memiliki kedudukan yang berbeda.

Uang panai’ untuk tujuan membiayai segala kebutuhan pelaksanaan pernikahan pengantin perempuan. Adapun mahar adalah pemberian dari pengantin pria sebagai syarat sahnya pernikahan dan secara sah dan mutlak menjadi milik sang wanita setelah menjadi istri.

Budayawan Bugis-Makassar, Burhan Kadir M.A menjelaskan, bahwa “uang panai’ bagi masyarakat Bugis-Makassar lebih penting dibandingkan mahar, dan sangat penting, bahkan bisa dikatakan wajib ada ketimbang mahar.

Juga menyimpan makna yang dalam pada proses pernikahan, melambangkan perjuangan, keuletan dan kerja keras dari sang mempelai pria untuk meminang seorang wanita Bugis-Makassar.”

Uang Panai’ juga adalah “penjaga” nilai status sosial keluarga dari kedua belah pihak. Dan lebih sering adalah perlambangan status sosial dari pihak perempuan.

Sebelumnya status sosial itu adalah karena dasar pertimbangan sebagai anak bangsawan, belakangan bergeser juga pada status kekayaan, pejabat, pendidikan tinggi, dan pekerjaan mempelaui wanita.

Demi status sosial, uang panai’ dapat dijadikan sebagai penentu harga diiri yang melekat pada dari sang wanita. Dan juga bisa sebagai bentuk penolakan dari sang wanita yakni dengan mahar sangat tinggi, hingga dipandang tak akan sanggup dipenuhi mahar itu oleh laki-laki.

Seiring perkembangan masyarakat yang semakin modern dan hedonisme, makna uang panai’ semakin mengalami pergeseran dari sekedar ‘penjaga’ status sosial menjadi ‘menjaga’ dan mengangkat status sosial, serta menaikkan gensi.

Dimana terasa derajat sosialnya tinggi ketika tersebut dan terdengar tingginya jumlah uang panai’.

Tak jarang demi gengsi, pihak laki-laki dan perempuan berurunan untuk mencukupkan sejumlah kesepakatan uang panai. Lebih ironis lagi, terkadang terjadi main mata dari kedua belah pihak, seperti di tengah keluarga disebut uang panai dengan nilai tinggi, sementara kenyataannya tak sesuai yang diberikan.

***

Uang Panai dalam tinjauan syariah.

Walau sangat urgen dan wajib kedudukan dari uang panai’ dalam tradisi pernikahan di masyarakat Bugis-Makassar, tetapi karena nikah adalah syariat Allah yang disunnahkan oleh Rasulullah, maka hukum uang panai tetaplah harus berdasarkan hukum syariat Islam.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan mengeluarkan fatwa, bahwa uang panai hukumnya mubah atau diperbolehkan. Asalkan tidak mempersulit atau memberatkan pihak pria yang akan mempersunting wanita.

“Yang penting kesepakatan kedua belah pihak. Dalam istilah agama, dua-duanya rela. Tapi jangan memberatkan dan jangan menyulitkan,” kata Ketua MUI Sulsel Prof Najamuddin.” Sabtu (2/7/2022).

Jika dikaji lebih dalam dari aspek pandangan Islam, sebenarnya uang panai’ hanya sebuah tradisi yang disepakati dalam budaya Bugis-Makassar. Bukanlah bagian dari syarat sahnya menikah dan bukan pula salah satu kewajiban yang harus ditunaikan dalam sebuah syariaat pernikahan.

Sebab hakikat pernikahan adalah suatu ikatan yang sangat kuat dan hal yang suci serta mulia (QS. Ar-Ruum 30;22).

Pernikahan dalam Islam adalah mempertemukan dua insan pria dan wanita, menuju mahligah dalam cinta dan Ridhoi Ilahi.

Sehingga terhimpunnya dua keluarga besar dari kedua belah pihak. Dan terus berkembang menjadi masyarakat yang menghasilkan keturunan yang saleh, dari keluar bahagia dan sakinah.

Dengan tetap menghargai tradisi yang berlaku di masuayakat, sunnah pernikahan yang mulia ini, sejatjinya lebih memperhatikan nilai-nilai syariat, dan lebih menyederhanakan acara perayaan pernikahan yang Islami dengan maksud tidak melebih-lebihkan.

Berpedoman kepada anjuran baginda Rasulullah dalam Hadis Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah paling ringan maharnya” (H.R. Ahmad).(*)