Beranda blog Halaman 31

Safari Dakwah Hidayatullah di Pedalaman Toraja Utara Rela Lalui Medan Berat

0

Torut, HidayatullahSulsel.or.id — Ramadhan bulan yang penuh berkah dan ampunan. Namun, bagi tim safari dakwah Hidayatullah Susel, Ramadhan adalah bulan dakwah dan jihad. Sehingga kesempatam tiap Ramadhan, menjadi moment untuk menyebarkan cahaya Islam salah satu lokasi safari dakwah di pedalaman Toraja dan Toraja Utara.

Tim Safari Dakwah DPW Hidayatullah Susel ini berjumlah 4 orang. Mereka yang tergabung dalam tim tersebut diantaranya adalah Ustad Anwar Baits, Kadep. Organisasi DPW Hidayatullah Sulsel, Ustad Muharram (Pembina Yayasan Madinatul Izzah Mubarak), Ustad Reskyaman (Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel) dan Ustad Ahmad Syahril (Ketua Pos Dai Sulsel).

Dengan mengendarai mobil Innova operasional DPW Hidayatulla Sulsel, rombongan tim safari mulai bergerak sejak 13 Ramadhan (13/3) hingga 19 Ramadhan 1446 H.

Cerita perjalanan tim Safari ini mulai start dari Enrekang, kemudian bergeser ke Toraja Utara. Selama tiga hari di Toraja Utara, mereka sempat berdakwah di daerah ; Rantepao, Balusu, Tokarau, dan Lembang Rantebua.

Selajutnya tim safari melanjutkan perjalanan dakwahnya selama 3 hari di Toraja. Di Toraja Induk ini tim mengencangkan dakwahnya di beberapa tempat yakni; Malea, Maulu, Renbon, Makale, dan Kecamatan Mengkendek.

Dinginnya udara dan sulitnya jalan tidak menyurutkan semangat pada dai untuk turun ke gelanggang dakwah. Misalnya saja perjalanan tim safari dakwah Hidayatullah ke Lembang Rantebua, Torut. Mereka harus menempuh jarak yang jauh dan medan yang berat untuk sampai ke masjid yang dituju.

Ustad Ahmad Syahril, Ketua PosDai Sulsel, harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sampai ke masjid tempatnya untuk ceramah, jalan kaki itu dilalui, itupun setelah mengendarai motor berkilometer dengan medan yang berat dan pendakian yang terjal.

Cerita menarik dari Ustad Ikhsan, Ketua DPD Hidayatullah Torut, yang turut membersamai Ustad Reskyaman, Kadep Dakwah DPW Sulsel.

Sepeda motor yang ditumpanginya hampir saja terjun bebas ke jurang karena kondisi jalan yang terjal dan licin. Namun, semangat mereka tidak surut, mereka tidak menyerah dan terus melanjutkan perjalanan.

Setelah sampai di masjid, tim safari dakwah Hidayatullah melakukan kegiatan pencerahan keagamaan dan berbagi ilmu dan ceramah dengan masyarakat setempat. Adapun Ustad Muharram, mendapat peran untuk mengisi ceramah Ramadhan di Masjid Raya Torut.

Selain kesulitan medan jalan, juga ada kendala lain. Tim safari yang berjalan tidak membawa bekal ifthor. Karena yang ada di benak mereka, di setiap masjid akan menyediakan ifthor, sebagaimana masjid-masjid lain yang ada di kota. Saat tiba di masjid yang dituju, ternyata mereka tidak menyediakan.

Kebiasaan masyarakat pedalaman Toraja Utara adalah diberi, bukan memberi, sehingga tim safari dakwah Hidayatullah harus mengandalkan kemurahan hati masyarakat setempat.

Meskipun demikian, tim safari dakwah Hidayatullah tidak menyerah. Mereka terus melanjutkan kegiatan mereka dan berbagi ilmu dengan masyarakat setempat. Mereka juga mengharapkan adanya dukungan dari berbagai pihak untuk membantu dalam menyebarkan cahaya Islam di pedalaman Toraja Utara.

Kegiatan dakwah Hidayatullah di pedalaman Toraja Utara dapat menjadi contoh tentang pentingnya menyebarkan cahaya Islam dan berbagi ilmu dengan masyarakat.

Sekilas tentang Toraja Utara, Dakwah dan Tantangannya

Toraja Utara, Sulawesi Selatan, dikenal sebagai salah satu daerah dengan mayoritas penduduk non-Muslim. Namun, di tengah-tengah kebudayaan dan tradisi yang kuat, dakwah Hidayatullah tetap hadir di sana. Selain ada komunitas Muslim yang berjuang untuk menjaga dan menyebarkan ajaran Islam.

Penduduk Muslim di Toraja Utara hanya sekitar 7-8% dari total penduduk. Namun, di beberapa daerah seperti Lembang Rantebua, Kecamatan Rantebua, persentase penduduk Muslim lebih tinggi, yaitu sekitar 30-40%.

Dakwah di Toraja Utara tidaklah mudah. Beberapa tantangan yang dihadapi oleh para dai dan komunitas Muslim di daerah ini antara lain: Akses jalan yang sulit di tempuh, sehingga membuat sulit bagi para dai untuk mencapai daerah-daerah terpencil.

Selain itu keberadaan kaum Muslim yang berpencar-pencar, sehingga membuat sulit bagi mereka untuk berkumpul dan melakukan kegiatan keagamaan.

Juga kesadaran kaum Muslimin dalam beribadah yang masih rendah, sehingga membuat sulit bagi mereka untuk mempertahankan kegiatan keagamaan.

Mata pencaharian utama seperti berkebun dan bersawah, sehingga membuat sulit bagi mereka untuk konsisten beribadah dan menghidupkan masjid.

Meskipun demikian, ada beberapa harapan yang dapat dilihat dari komunitas Muslim di Toraja Utara. Beberapa di antaranya adalah: Keberadaan masjid yang mulai dibangun di beberapa daerah, sehingga membuat lebih mudah bagi kaum Muslim untuk melakukan kegiatan keagamaan.

Peluang dakwah lainnya, adanya beberapa tokoh agama yang berjuang untuk menyebarkan ajaran Islam dan mempertahankan kegiatan keagamaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh komunitas Muslim di Toraja Utara, seperti safari Ramadhan dan kegiatan keagamaan lainnya. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh komunitas Muslim di daerah ini.

Kehadiran Tim Safari Dakwah Ramadhan Hidayatullah untuk tahun depan perlu lebih dimatangkan. Diperlukan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak untuk membantu perjalanan tim Safari Dakwah di Toraja Utara dalam menyebarkan cahaya Islam di Toraja Utara dan Toraja. (Abu Yusuf)

Menyambut 10 Hari Terakhir Ramadhan

0

Kamis malam mendatang (20 Maret 2025), kita akan memasuki malam ke-21 Ramadhan 1446 H. Ini adalah babak akhir yang krusial dari perjalanan Ramadhan kita—10 hari terakhir yang penuh berkah. Ibarat kompetisi, inilah fase puncak untuk meraih kemenangan tertinggi: Lailatul Qadr.

Mengapa 10 Hari Terakhir Begitu Istimewa?
Al-Hafidz Ibnu Rajab (w. 1393 H) mengingatkan:

“Wahai para hamba Allah, bulan Ramadhan telah bersiap untuk pergi, dan hanya tersisa sedikit waktunya. Siapa yang telah berbuat baik, sempurnakanlah. Siapa yang lalai, tutuplah dengan kebaikan.”

Rasulullah ﷺ memberikan teladan nyata dalam menyambut fase ini. Beliau meningkatkan kesungguhan ibadah, mengisi malam dengan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah, dan membangkitkan semangat keluarga.

Teladan Nabi di 10 Hari Terakhir
Diriwayatkan oleh Aisyah RA:

“Nabi ﷺ bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu lain.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain:

“Jika memasuki sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggang (simbol keseriusan), menghidupkan malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 1449 H) menjelaskan, “menghidupkan malam” berarti mengisinya dengan ketaatan seperti shalat malam, tilawah, dan dzikir. Imam An-Nawawi (w. 1277 H) menambahkan, inilah momentum untuk memperbanyak amalan sunnah.

Lailatul Qadr: Malam yang Lebih Baik dari 1000 Bulan
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa menghidupkan Lailatul Qadr dengan iman dan mengharap pahala, dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari-Muslim)

Malam ini tidak ditemukan di pusat perbelanjaan atau keramaian, tetapi dalam keheningan ibadah: qiyamullail, munajat, dan refleksi spiritual. Waktunya singkat—dari usai Isya hingga terbit fajar.

Kapan Mencarinya?
Nabi ﷺ memberi petunjuk:

“Carilah di malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Keutamaan yang Tak Tertandingi
Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 224 H) mengisahkan:

“Seorang ahli ibadah dari Bani Israil berjihad siang-malam selama 1000 bulan. Namun, ibadah satu malam Lailatul Qadr melebihi itu semua.” (Tafsir Ath-Thabari)

Imam Al-Qurthubi (w. 1273 H) menegaskan:

“Ibadah satu malam ini lebih mulia daripada kekuasaan Nabi Sulaiman dan Dzulkarnain yang berlangsung 1000 bulan.”

Refleksi Akhir: Semangat Menuju Garis Finish
Ibnul Jauzi (w. 1201 H) memberikan analogi menggugah:

“Kuda pacu akan memacu seluruh tenaga saat mendekati garis akhir. Jangan sampai kuda lebih cerdas darimu! Amalan dinilai di akhirnya. Jika awalmu kurang, sempurnakanlah di penutupan.”

Doa Penutup
Semoga Allah ﷻ memberi taufik untuk memaksimalkan 10 hari terakhir ini. Mari pacu diri meraih kemenangan Ramadhan: Lailatul Qadr dan predikat takwa.

Disampaikan pada Kajian Fikih dan Ibadah Ramadhan untuk Guru-guru, 17 Maret 2025

Mushida Takalar “Go To School” di SD Bontopanno

0

Takalar, 14 Maret 2025 – Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan, Muslimat Hidayatullah (Mushida) Takalar menggelar program Go To School bertajuk “Ramadhan Ceria” di SD Bontopanno. Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi keislaman, menanamkan semangat ibadah, serta menghadirkan keceriaan bagi siswa dalam menyambut bulan penuh berkah.

Acara ini dihadiri oleh pengurus Muslimat Hidayatullah Takalar, para guru, serta siswa-siswi yang tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan.

Rangkaian Acara yang Edukatif dan Interaktif

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala SD Bontopanno, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program ini. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya membekali anak-anak dengan ilmu agama sejak dini, terutama dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Sesi utama diisi dengan motivasi Ramadhan yang disampaikan oleh Ustadzah Awalia Nurfitrah, yang juga bertindak sebagai MC. Dengan bahasa yang ringan, interaktif, dan mudah dipahami, siswa diajak mengenal lebih dalam tentang keutamaan Ramadhan, manfaat berpuasa, serta pentingnya meningkatkan ibadah seperti sholat, tadarus Al-Qur’an, dan berbagi dengan sesama.

Untuk menambah semarak acara, berbagai perlombaan Islami juga digelar, antara lain:
✔ Kuis seputar Ramadhan
✔ Lomba hafalan doa dan surat pendek
✔ Lomba tebak surah
✔ Lomba cerita kisah Nabi dan sahabat

Para siswa sangat antusias mengikuti perlombaan ini. Semangat kompetisi yang sehat dan nilai-nilai islami yang ditanamkan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi mereka. Para pemenang pun diberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas usaha dan prestasi mereka.

Menanamkan Semangat Ramadhan Sejak Dini

Ketua Muslimat Hidayatullah Takalar menyampaikan bahwa program Go To School ini merupakan bagian dari agenda tahunan yang bertujuan untuk membangun generasi muslim yang cinta terhadap ibadah dan nilai-nilai Islam.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak, sehingga mereka lebih semangat dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan serta menerapkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dengan kegiatan seperti Ramadhan Ceria, diharapkan anak-anak sejak dini tidak hanya memahami makna ibadah, tetapi juga menikmati setiap prosesnya dengan penuh keceriaan.

Acara ini ditutup dengan doa bersama dan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba.


Mushida Bulukumba “Gelar Ramadhan” Produktif di SDN 234 Garanta

0

Bulukumba, 13 Maret 2025 – Mushida Bulukumba sukses menyelenggarakan kegiatan Ramadhan Produktif di SDN 224 Garanta dengan tema “Bahagia Menggapai Takwa”, 12-13 Maret 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan keimanan siswa dalam memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai kesempatan meningkatkan kualitas diri dan meraih gelar takwa.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh seluruh siswa SDN 224 Garanta dari kelas satu hingga kelas enam. Hari pertama dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama. Setelah itu, siswa mendapatkan materi Fiqih Puasa yang disampaikan oleh Departemen Keputrian Mushida, Ustadzah Misbah Jannah. Selanjutnya, Departemen Sosial Mushida, Ustadzah Nurul Hidayah, memberikan materi tentang Mahkrajul Huruf sebagai bagian dari pengenalan Al-Qur’an.

Pada hari kedua, siswa diajak mengenal lebih dekat sosok Nabi Muhammad melalui materi Sirah Nabawiyah yang dibawakan oleh Ustadzah Farah. Setelah itu, Ketua LPIH Al-Hikmah Bulukumba, Ustadz Muhammad Erwin, S.Ag., memberikan sosialisasi tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan doa bersama.

Selain materi keislaman, siswa juga diajak untuk berbagi dengan sesama melalui pembagian zakat fitrah dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Kepala SDN 224 Garanta, Muhammad Asdar, S.Pd., mengapresiasi kegiatan ini dan menyampaikan rasa terima kasih kepada Mushida Bulukumba. “Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam membentuk karakter dan keimanan siswa. Kami berterima kasih kepada Mushida yang telah memilih sekolah kami sebagai lokasi kegiatan Ramadhan Produktif tahun ini,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya Ramadhan Produktif di SDN 224 Garanta, diharapkan para siswa semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri dan mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Pesantren Hidayatullah Sudu-Enrekang Kirim 8 Pengajar Sebagai Narasumber Program Ramadhan Mengaji Andalan Hati

0
module: a; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: Auto; cct_value: 5115; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 322.30054; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~25: 0.0;

Enrekang – Pesantren Hidayatullah Sudu Enrekang turut berpartisipasi dalam program Ramadhan Mengaji Andalan Hati (RMAH) dengan mengirimkan delapan pengajarnya sebagai narasumber.

Program ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi untuk meningkatkan literasi baca Al-Qur’an dan pendalaman ibadah praktis bagi siswa SMA di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.

Program Ramadhan Mengaji Andalan Hati dijalankan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel bekerja sama dengan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sulsel. BKPRMI Sulsel kemudian mengoordinasikan penjaringan narasumber ke tingkat kota/kabupaten agar program ini dapat berjalan secara optimal di seluruh daerah.

Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, mulai 6 hingga 12 Maret 2025, dan dilaksanakan di masing-masing sekolah yang menjadi sasaran program. Program ini dirancang agar seluruh siswa SMA di wilayah kerja Disdik Sulsel dapat mengikuti kegiatan belajar mengaji dan pendalaman ibadah dengan bimbingan narasumber yang kompeten.

Untuk menyukseskan program ini di Kabupaten Enrekang, Pesantren Hidayatullah Sudu Enrekang menugaskan delapan pengajarnya di tiga sekolah menengah atas negeri yang berada di Kecamatan Alla dan Kecamatan Anggeraja. Mereka akan bertugas sebagai narasumber untuk memberikan bimbingan langsung kepada para siswa mengenai bacaan Al-Qur’an dan praktik ibadah sehari-hari.

Berdasarkan salinan Surat Keputusan (SK) yang diterima media ini, diketahui bahwa tiga pengajar dari Pesantren Hidayatullah Sudu Enrekang akan bertugas di SMKN 1 Enrekang, 1 orang di SMKN 2 Enrekang, sedangkan empat pengajar lainnya ditempatkan di SMAN 3 Enrekang. Setiap kelompok akan bekerja sama dengan narasumber dari berbagai unsur lainnya untuk menjalankan program ini dengan efektif.

Di SMKN 1 Enrekang, tiga pengajar dari Pesantren Hidayatullah Sudu yang bertugas adalah Ustadz Muh. Arfan Kasim, S.H.I, M.Pd., Ustadz Ahmad Shaleh, S.Sos.I., dan Ustadz Karim Ibrahim, S.Pd.

Mereka akan bekerja bersama empat narasumber lainnya dari BKPRMI Enrekang untuk membimbing 580 siswa di sekolah yang beralamat di Kalosi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang tersebut.

Sementara itu, di SMAN 3 Enrekang, empat pengajar Pesantren Hidayatullah yang bertugas adalah Ustadz Ilham Syawal, S.H.I, Ustadz Alimuddin, S.Pd.I., Ustadz Aminuddin Sahab, S.H., dan Ustadz Abu Ayman, S.H.I. Mereka akan didampingi oleh enam narasumber lainnya yang berasal dari BKPRMI Enrekang serta Tenaga Ahli Keagamaan (TAK) Enrekang.

Kesepuluh narasumber tersebut akan memberikan bimbingan kepada 922 siswa di sekolah yang berlokasi di Kelurahan Buntu Sugi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang itu.

Sedangkan di SMKN 2 Enrekang yang beralamat di Bubun Lamba, Kec. Anggeraja, Enrekang, Pesantren Hidayatullah Sudu menugaskan Ustadz Muhammad, S.Ag. Pada salinan SK yang ada, ustadz yang juga Kepala Madrasah Tsanawiyah Ulul Albab Plus Enrekang tersebut akan bersendiri dalam membimbing 90-an siswa di sekolah tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, Ustadz Ilham Syawal, selaku pimpinan Pesantren Hidayatullah Sudu, menegaskan bahwa keterlibatan pesantrennya dalam program ini selain sebagai komitmen dukungan terhadap program-program pemerintah, juga merupakan wujud nyata dari komitmen mereka dalam memperkuat pendidikan Islam di tengah masyarakat.

“Kami ingin berkontribusi dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cakap dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak yang baik serta pemahaman agama yang kuat,” ujarnya.

Ia juga berharap bahwa program ini dapat memberikan dampak nyata dalam meningkatkan pemahaman agama serta membentuk karakter islami bagi para peserta didik di Sulawesi Selatan.

“Kami ingin memastikan bahwa nilai-nilai keislaman terus tertanam kuat di kalangan generasi muda, sehingga mereka dapat menjadikannya sebagai bekal dalam kehidupan mereka di masa depan,” tambahnya.

Ramadhan Sebagai Tazkiyah

0

Oleh : Azhari, S.H.I., M.Pd.I.*

Makna Ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah adalah tumbuh dan bertambahnya segala bentuk kebaikan. Hak istimewa ini melekat padanya yang tidak ditemui di luar Ramadhan.

Bentuk keistimewaan yang paling nyata dari bulan ini adalah sebagai tazkiyah an-nafs: yaitu pembersihan diri dari dosa, penyucian jiwa dari noda, penghapusan segala kesalahan, pemaafan atas khilaf hingga mahgfirah ampunan apa yang telah dilakukan pada masa lalu.

Kita tahu, bahwa amalan paling utama di bulan ini adalah puasa, karena merupakan rukun Islam. Maka semua keutamaan puasa menjadi penguat atas keberkahan yang ada di bulan ini.

Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim, Imam Masjid Nabawi sekaligus Qadhi di Madinah berkata:

الصيام يصلح النفوس، و يدفع إلى اكتساب المحامد والبعد عن المفاسد، به تغفر الذنوب و تكفر السيئات.
“Bahwa puasa di bulan Ramadhan akan memperbaiki jiwa, mendorong seseorang mendapatkan sesuatu yang terpuji, menjauhkan diri dari kerusakan. Dengan puasa juga, dosa-dosa diampuni dan menghapus segala keburukan.”

Bahkan Nabi Saw memberi kabar gembira kepada orang yang berpuasa.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ: مَن صام رمضان إيمانًا واحتسابًا غُفر له ما تقدَّم من ذنبه. (متَّفق عليه)

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ramadhan adalah timeline hingga finish, yaitu garis waktu sampai batas akhirnya. Siang malamnya, hari-harinya, fase demi fase, semuanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisah. Utuh dan menyeluruh.

Artinya Ramadhan tidak sebatas puasa di siang hari, tapi juga ada ibadah di malam harinya yaitu qiyamullail: salat tarawih, tahajud, dan witir. Tapi apa janji Allah bagi orang-orang yang qiyam di malam Ramadhan? Jawabnya, persis sebagaimana balasan orang berpuasa, pembersihan diri berupa ampunan atas dosa yang telah lalu.

Nabi Saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa qiyamullail (menghidupkan malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Tak berhenti disitu, bahkan sampai fase akhir, yang merupakan puncak dari rangkaian timeline Ramadhan ini. Yaitu qiyam yang dimaksudkan untuk mencari Lailatul Qadar. Satu waktu khusus di malam tersebut yang disebutkan Allah SWT lebih baik dari 1000 bulan. Ternyata balasannya, lagi-lagi persis sebagaimana balasan orang berpuasa dan orang yang qiyamullail tadi, pembersihan diri berupa ampunan atas dosanya yang telah lalu.

Nabi Saw menegaskan hal tersebut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (متَّفق عليه)

“Barangsiapa menghidupkan malam di malam kemuliaan (Lailatul Qadar) karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bagaimana jika seandainya pada malam itu kita dapati kenyataan Lailatul Qadar. Bahkan kita haqqul yakin, inilah malam yang dimaksudkan itu. Setelah segala daya, upaya dan mujahadah mengarah kesana.

Ternyata petunjuknya juga sama, kita diarahkan untuk memohon dan berdoa agar dimaafkan oleh Allah SWT, Dzat Yang Maha Pemaaf, atas kesalahan dan khilaf yang dilakukan. Artinya hatta di malam Lailatul Qadar sekalipun kita dihantarkan untuk melakukan pembersihan diri dengan berdoa terkait hal tersebut.

Mari kita lihat saran Nabi Saw kepada istrinya Aisyah ra ketika tahu bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadar.

عن عائشة – رضي الله عنها – قالت: قلت: يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني (رواه أحمد)

Dari Aisyah RA, beliau berkata:
“Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku’.” (HR Ahmad)

Mungkin kita bertanya. Sarannya ko’ simple banget, minta maaf kepada Allah. Padahal kan ini Lailatul Qadar, malam kemuliaan yang jangkauannya unlimited, 1000 bulan lebih bahkan tak terhingga. Mengapa tidak disuruh minta yang lainnya. Hanya sebaris kalimat tadi.

Tapi sejatinya, ini adalah saran yang luar biasa dari suri teladan manusia, Rasulullah Saw. Sebab esensi dari Ramadhan ini sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu tazkiyah an-nafs: pembersihan diri dari dosa, salah dan khilaf. Mengapa kita tidak minta itu di momentum terbaiknya bulan ini.

Malam itu, para malaikat turun memenuhi bumi. Pencapaian terbesar bagi seorang hamba dalam rangkaian ibadah ramadhan, untuk kemudian sadar merenung dan memaknai hadirnya tamu istimewa ini. Bahwa ia datang sebagai wasilah tazkiyah an-nafs atas khilaf, salah, dan dosa yang telah dilakukannya di masa lalu, lalu mengubahnya kembali ke setelan awal sebagaimana dahulu ia dilahirkan. Idul Fitri, kembali suci.

Sungguh menarik menjadi renungan bagi kita terkait keterangan Nabi Saw, atas kerugian orang-orang mendapati Ramadhan tapi kemudian tidak diampuni dosanya. Sebab ini aneh, bagaimana mungkin semua janji dan balasan atas amalan di bulan Ramadhan adalah pengampunan dosa, justru ia tidak mendapatkannya.

رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له (رواه الترمذي عن أبي هريرة)

“Celakalah seorang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berakhir dalam keadaan belum diampuni dosa-dosanya.” (HR Tirmidzi)

Inilah rangkaian amalan di bulan Ramadhan beserta janji, reward dan balasan yang menyertainya. Bahwa sejatinya Ramadhan datang untuk membersihkan diri, menyucikan jiwa, menghapus kesalahan, hingga mengampuni dan memaafkan dosa-dosa yang telah lalu.

*) Alumni STIS Hidayatullah Balikpapan, kini Pengajar di AISBA Balikpapan

Jati Diri Seorang Hamba (2): Lezatnya Iman dan Durian

0

Bagi pencinta durian, godaan buah beraroma khas tersebut tak akan pernah pudar—bahkan di tengah kesucian Ramadhan. Saya pun tak luput dari bujukan unggahan durian Tombang Luwu milik sahabat karib saya, Ustadz Burhanuddin. Bukan durian biasa, melainkan varietas langka dengan cita rasa menggugah yang hanya ditemukan di pelosok Tombang, Luwu.

Postingan itu mungkin sekadar ajakan halus bagi para penggemar durian untuk menjelajah Tombang. Selain menikmati kelezatan buahnya, pengunjung juga disuguhi pemandangan alam memesona: hutan perawan yang masih membalut sebagian besar wilayah itu.

Kabar soal durian Tombang yang viral ini kerap disebarkan oleh Puang Karua—sapaan akrab Ustadz Burhanuddin—seorang yang memikul dua amanah strategis: Ketua DPD Hidayatullah Palopo dan Ketua Yayasan Pesantren Agro Bisnis Tombang.

Namun, saya sengaja tak ingin terjebak membahas tugas-tugas beliau. Jargonnya yang pernah viral, “Kerja profesional butuh operasional”—sindiran halus bahwa kinerja maksimal mustahil tercapai tanpa dukungan anggaran—bisa jadi pintu diskusi yang tak berujung.

Yang justru menyentuh hati adalah foto petani durian dalam unggahannya. Meski tubuhnya sempoyongan menuruni lereng hutan sambil menggendong hasil panen, raut wajahnya memancarkan sukacita murni. Sebuah kontras yang mengajarkan makna syukur.

Lebih unik lagi, masyarakat Tombang ternyata jarang merawat kebun durian mereka. Sepanjang tahun, pohon-pohon itu dibiarkan tumbuh alami. Baru ketika musim buah tiba, mereka kembali mencari tanda-tanda rezeki di balik kuntum bunga yang merekah.

Durian dan Ramadhan: Dua “Musim” yang Menghadirkan Berkah
Ada benang merah yang mengaitkan kisah durian Tombang dengan kehadiran Ramadhan. Meski kita kerap lalai memelihara konsistensi ibadah usai Ramadhan, bulan suci ini tetap datang setiap tahun bagai tamu agung yang membawa segudang peluang amal dan kebahagiaan.

Laksana durian yang memancar harum dan manis, Ramadhan menghadirkan “buah” keharuman spiritual. Aromanya menyentuh siapa saja—baik yang tekun berpuasa maupun yang belum sepenuhnya menjalankan. Berkah rezeki duniawi pun mengalir deras, dinikmati oleh muslim dan nonmuslim tanpa sekat.

Namun, puncak kelezatan sesungguhnya terletak pada taqwa—buah iman yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang tunduk. Inilah nikmat tertinggi yang lahir dari hubungan intim antara hamba dengan Sang Pencipta melalui ibadah, zikir, dan tadarus Al-Qur’an.

Kelezatan ini melampaui segala bentuk kesenangan duniawi. Ia menghadirkan ketenangan jiwa, kebahagiaan hakiki, dan kepuasan batin yang tak tergantikan oleh materi atau hawa nafsu—bahkan mengalahkan lezatnya durian jenis apa pun.

Lezat yang Berlipat
Kecuali jika durian itu dinikmati usai buka puasa, diawali dengan doa syukur, lalu dibagikan ke tetangga. Di sinilah lezatnya bertambah lezat: kebahagiaan dunia-akhirat yang bersatu dalam satu kesempatan. Barakallah!

Pesantren Kilat RQH Murad Husain Resmi Dibuka, Dapat Dukungan Penuh dari Kemenag dan Tokoh Setempat

0

Toraja Utara – Pesantren Kilat (Peskil) yang digagas oleh Rumah Quran (RQH) Murad Husain resmi dibuka pagi tadi, Senin, 3 Ramadhan 1446 H (3/3/2025). Acara seremonial pembukaan dipimpin oleh Kepala Seksi Penyelenggaraan Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kemenag Toraja Utara, Mushawwir, S.Ag., M.Pd.

Dalam sambutannya, Mushawwir menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan ini di wilayahnya. Ia bahkan meminta agar para pemangku kepentingan mengkoordinasikan agar Peskil dapat terus diadakan pada Ramadhan tahun-tahun mendatang.

“Kita berharap, tahun depan, Hidayatullah kembali menghadirkan kegiatan ini. Tolong dikoordinasikan juga agar sekolah-sekolah di sekitar sini dapat mengikutsertakan siswa Muslimnya dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Toraja Utara tersebut juga berharap para peserta dapat mengambil manfaat besar dari kegiatan yang direncanakan berlangsung selama tiga hari ini.

Turut hadir dalam acara pembukaan sejumlah tokoh penting, di antaranya Lurah Balusu, Yulius Pongtuluran, S.T., M.T., dan tokoh adat setempat, Opu Andi Kaso Matandung. Keduanya juga memberikan sambutan dan wejangan kepada para peserta.

Dalam sambutannya, Lurah Balusu mengajak para peserta untuk mengikuti kegiatan dengan maksimal dan penuh perhatian. “Semoga ilmu yang didapatkan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan Islam, tetapi juga bagi umat lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Opu Andi Kaso Matandung menyampaikan rasa terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Sebagai pengurus masjid, ia berharap agar masjid di wilayahnya semakin aktif menjadi pusat kegiatan keagamaan, tidak hanya untuk pelaksanaan shalat, tetapi juga untuk kegiatan pendidikan Islam.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh internal Hidayatullah, seperti Ustadz Imran Djufri, Kepala Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Iksan, S.Pd., Ketua DPD Hidayatullah Toraja Utara, serta Ustadzah Jeni, Ketua PD Mushida Toraja Utara.

Sebagaimana diketahui, Peskil ini diselenggarakan di kompleks Tongkonan To’dirak, Lembang Balusu, Kecamatan Balusu, Kabupaten Tana Toraja, yang merupakan milik keluarga besar Ne’ Pandre Ali. Selain menyediakan tempat, pihak keluarga yang dipimpin oleh H. Zainal Abidin Ishak turut memberikan dukungan moril dan finansial. Anggota DPRD Sulteng tersebut bahkan menginisiasi daftar donasi khusus keluarga guna menyukseskan kegiatan ini.

Pesantren kilat yang diikuti oleh sekitar 50 peserta ini merupakan kegiatan kedua yang digelar oleh pengelola RQH Murad Husain dengan kerjasama DPD Hidayatullah Toraja Utara. Tahun lalu, kegiatan serupa dilaksanakan di gedung RQH Murad Husain, Kec. Sa’dan, Toraja Utara.

Jati Diri Seorang Hamba (1) : Menikmati Kenikmatan

0

Bukan perkara mudah bagi seseorang untuk membedakan antara jebakan kenikmatan dan khayalan, sebab keduanya bisa tampak menyenangkan, indah, dan bahkan mengasyikkan.

Perbedaannya terletak pada keberadaan dan dampaknya dalam realitas. Kenikmatan adalah pengalaman nyata yang bisa dirasakan secara fisik maupun emosional, seperti berkumpul dengan orang tercinta, menikmati makanan favorit, mendengarkan musik kesukaan, atau merasakan kebahagiaan dari pencapaian pribadi. Dampaknya dapat langsung dirasakan oleh tubuh dan pikiran.

Sementara itu, khayalan hanyalah gambaran atau pengalaman yang terjadi dalam pikiran tanpa wujud nyata. Misalnya, seseorang membayangkan hidup sebagai orang sukses dengan segala kemewahan—memiliki rumah bak istana, istri cantik seperti bidadari, mobil mewah, pelayan yang patuh, dan segala keinginannya terpenuhi. Khayalan memang bisa memberikan kepuasan sementara, tetapi tidak memiliki dampak langsung pada kehidupan nyata.

Kenikmatan dan Khayalan yang Merusak

Terlalu asyik dengan khayalan dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan berharga dalam hidup. Waktu yang terbatas menjadi sia-sia, sementara hati bisa dipenuhi dengan iri dan dengki yang tidak beralasan.

Sebaliknya, larut dalam kenikmatan tanpa kendali juga bisa melalaikan seseorang. Kenikmatan, pada akhirnya, memiliki batas dan tidak dapat dirasakan selamanya. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa kenikmatan yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi jebakan yang membuat seseorang lupa akan hakikat kehidupannya.

Rasulullah SAW memberikan nasihat berharga tentang dua kenikmatan yang sering membuat manusia lalai:

“نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ”

“Dua kenikmatan yang sering membuat manusia lalai adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari No. 6412)

Kini, Ramadhan telah tiba—sebuah kesempatan berharga untuk beribadah, bekerja, dan berbuat kebajikan. Namun, dalam menjalani bulan mulia ini, kita juga harus menjaga kesehatan agar tidak menyia-nyiakan waktu luang.

Nikmatilah kenikmatan dalam dua hal berharga itu: kesehatan dan waktu. Hiduplah dengan tetap sehat, serta kelola waktu dengan optimal untuk bekerja dan beribadah. Kemuliaan Ramadhan hanya dapat diraih oleh mereka yang benar-benar memuliakannya.

DPD Hidayatullah Toraja Utara Gelar Pesantren Ramadhan di Kompleks Tongkonan To’Dirak

0

Toraja Utara – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Toraja Utara kembali akan menggelar Pesantren Kilat Ramadhan yang rencananya akan berlangsung selama tiga hari pada Ramadhan 1446/2025 kali ini.

Pada Ramadhan sebelumnya, kegiatan serupa dilaksanakan di gedung Rumah Quran Murad Husain, Sa’dan, Kec. Sa’dan, Toraja Utara. Kali ini, kegiatan akan diselenggarakan di kompleks Tongkonan To’Dirak, Kel. Balusu, Kec. Balusu, Toraja Utara, yang merupakan milik keluarga besar Ne’ Pandre Ali.

Pesantren Kilat Ramadhan ini diinisiasi oleh H. Zainal Abidin Ishak Husain, anggota DPRD Sulteng yang merupakan keturunan keempat dari Pandre Ali. Ia menggandeng DPD Hidayatullah Toraja Utara untuk memfasilitasi jalannya kegiatan tersebut. Selain menjadi penggagas, H. Zainal juga mengajak keluarga besar Ne’ Pandre Ali untuk berkontribusi, baik secara moril maupun finansial.

Menurut H. Zainal, kegiatan ini merupakan langkah awal untuk menghadirkan syiar Islam di kawasan tersebut. Ia berharap, ke depannya, kompleks Tongkonan To’Dirak dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat Muslim setempat. “Saya ingin ada kegiatan keagamaan yang rutin di sini. Pesantren Ramadhan ini menjadi awal yang baik untuk syiar Islam di lingkungan ini,” ujarnya.

Pesantren Ramadhan ini menyasar anak-anak usia sekolah dari warga sekitar. Beberapa peserta akan menginap di salah satu bangunan tongkonan yang telah disediakan, sementara yang lain akan mengikuti kegiatan dengan sistem pulang-pergi ke rumah masing-masing. Seluruh rangkaian kegiatan akan dipusatkan di masjid yang juga berada dalam kompleks tongkonan tersebut.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat memperkuat pemahaman keislaman anak-anak serta menumbuhkan semangat kebersamaan dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Selain itu, inisiatif ini menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas keislaman di tengah masyarakat Muslim Toraja Utara, dengan harapan dapat meningkatkan partisipasi generasi muda dalam kegiatan keagamaan serta menumbuhkan kebiasaan positif dalam praktik ibadah sehari-hari.