Beranda blog Halaman 30

Mengajar Bahasa, Menemukan Makna Dakwah

0
Suasana pembacaan ikrar penugasan PKD pada momen pelepasan sebelum berangkat tugas.

Sebuah catatan reflektif dari Nurul Amani, Mahasiswi Program PKD STIS Hidayatullah Balikpapan, yang bertugas di Kampus Pesantren Hidayatullah Bungadidi, Luwu Utara.

“Apa anti tidak capek, dek?” tanya salah satu ustadzah senior, malam itu, sambil menepuk pelan pundakku. Aku hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan. Padahal sejujurnya, tubuhku sudah terasa remuk. Tapi, entah mengapa, hatiku tetap ingin lanjut. Rasanya ada sesuatu yang harus terus aku kerjakan, meski tak pernah diminta. Mungkin inilah dakwah yang sesungguhnya—saat semua rasa lelah tak pernah cukup kuat untuk membuatku mundur.

Namaku Nurul Amani, berasal dari Bulukumba. Aku adalah mahasantri jurusan Hukum Keluarga di STIS Hidayatullah Balikpapan. Tiga bulan yang lalu, aku memulai perjalanan singkat tapi penuh makna dalam program Praktik Kerja Dakwah (PKD), yang membawaku ke sebuah tempat yang awalnya asing: Pesantren Hidayatullah Bungadidi, Sulawesi Selatan.

Keputusan mengikuti PKD bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ada rasa penasaran yang tumbuh sejak lama terhadap cara berdakwah ala Hidayatullah—yang tak kenal henti, tak banyak sorotan, tapi nyata dalam geraknya. Aku ingin tahu, seperti apa rasanya terjun langsung, meski hanya di lingkup pesantren. Ada harapan yang kubawa saat itu: semoga apa yang sedikit-sedikit kami punya, bisa menjadi ladang dakwah untuk masa depan.

Namun, tak bisa kupungkiri, ada rasa was-was sebelum berangkat. Ilmu yang kupunya terasa belum cukup. Ekspektasi terhadap lokasi juga bercampur dengan ketakutan kecil—takut tak mampu, takut tak berguna.

Sesampainya di Bungadidi, kenyataan segera menyambutku. Pesantren ini kecil secara jumlah, hanya tiga warga mukim dan sekitar 35 santri putri, dan 10 santri putra cilik. Namun semangat mereka luar biasa. Fokus utama mereka adalah tahfizh, terutama untuk usia sekolah menengah. Yang lebih mengejutkan, tempat belajar santri masih sangat sederhana—bahkan kadang masih seperti “belajar di alam”.

Hari-hariku di sana penuh warna. Aku mengajar, mengasuh santri, menjadi panitia dauroh Qur’an, bahkan terlibat dalam taklim dan bimbingan tahfizh. Tapi peran yang paling sering kujalani adalah sebagai pengajar bahasa. Dan dari situlah, aku banyak belajar—lebih dari yang pernah diajarkan di ruang kelas manapun.

Mengajar ternyata bukan hanya soal menyampaikan materi. Itu tentang memahami karakter, membaca situasi, dan menciptakan rasa nyaman. Santri-santri itu, meski masih muda, punya jiwa yang lembut. Tapi tetap, mereka butuh pendekatan. Butuh cerita-cerita. Butuh guru yang percaya diri berdiri di depan mereka—meski kadang, akulah yang sebenarnya gemetar.

Tantangan terbesarku adalah menjaga ritme selama 24 jam. Menjadi pengasuh berarti harus siap menegur, bahkan tengah malam sekali pun. Tapi dari situ aku belajar bahwa dakwah bukan hanya di mimbar, tapi dalam tindakan paling kecil, seperti memastikan santri tidur dengan tertib, atau menegur mereka dengan lembut tapi tegas.

Tak ada momen yang benar-benar membuatku ingin menyerah. Mungkin karena sejak awal aku sudah menanamkan satu prinsip: “jangan mudah menyerah selama berdakwah di jalan Allah.” Dan aku bersyukur, itu bukan sekadar kalimat indah—itu jadi pegangan yang nyata, terutama saat badan lelah tapi harus tetap tersenyum.

Yang paling berkesan? Tentu saja saat mengajar. Bukan karena aku hebat, justru karena saat itulah aku menyadari betapa banyak yang belum aku tahu. Di sana, ketika aku berdiri sebagai guru, aku justru merasa menjadi murid yang sesungguhnya. Ada momen ketika aku merasa: inilah makna dakwah yang sebenarnya—saat aku menjalankan tugas yang sebetulnya di luar kompetensiku, hanya karena tidak ada yang bisa menggantikan.

Interaksi dengan santri dan para ustadz membuatku sadar satu hal yang sangat penting: sopan santun terhadap yang lebih tua. Sebuah nilai yang tampak sederhana, tapi mulai langka di luar sana. Di sini, hal itu menjadi napas keseharian.

Masyarakat di sekitar Bungadidi sangat terbuka. Bahkan pengurus pesantren—ustadz Alauddin Subandi sebagai ketua yayasan, dan ustadz Aswan Husain sebagai sekretaris—selalu mendukung penuh kehadiran kami. Mereka bukan hanya membimbing, tapi juga mempercayai kami. Itu membuatku merasa benar-benar menjadi bagian dari pesantren ini. Bahkan para santri sempat bilang mereka berharap kami kembali lagi. Sebuah kalimat sederhana, tapi cukup untuk membuat hati ini hangat berhari-hari.

Namun tak bisa kupungkiri, aku berharap ada peningkatan di tempat ini. Misalnya, semoga ke depan bisa dibangun sekolah formal untuk jenjang SMP dan SMA. Dengan begitu, para santri tak perlu lagi mencari pendidikan umum ke tempat lain.

Pengalaman PKD ini begitu memengaruhi cara pandangku terhadap dakwah. Ternyata teori yang kami pelajari di kampus cukup relevan, tapi tetap saja praktik di lapangan jauh lebih kompleks dan menuntut improvisasi. Tapi dari situ jugalah aku belajar bahwa dalam dakwah, kita harus “tahu meski tidak tahu”—karena kadang, keadaan tak menunggu kesiapan kita.

Jika ditanya, apakah aku ingin ikut PKD lagi? Jawabanku mungkin akan mengejutkan: tidak. Tapi bukan karena aku tidak suka. Justru karena waktu tiga bulan terasa terlalu singkat. Kalau bisa memilih, aku ingin waktu yang lebih lama. Karena di sanalah aku menemukan versi diriku yang lebih jernih—yang lebih kuat, yang lebih ikhlas.

Kepada adik tingkatku nanti yang akan menjalani PKD, aku hanya ingin berpesan: siaplah, apapun yang terjadi. Karena medan dakwah tak selalu sesuai rencana. Tapi jika kau siap, maka semua akan terasa lebih ringan.

Pengalaman ini juga menegaskan kembali arah hidupku. Dakwah bukan lagi sekadar pilihan, tapi jalan yang harus aku jalani dengan kesungguhan. Suatu saat nanti, aku ingin menulis kisah khusus tentang PKD ini, agar orang-orang tahu: betapa banyak yang bisa kita temukan saat kita terjun langsung, bukan hanya membaca dari buku atau mendengar dari dosen.

Satu nasihat dari guruku selalu terngiang hingga hari ini: Tetap sabar, dan taat. Dua kata yang singkat, tapi menjadi pijakan sepanjang jalan. Dan kini, ketika aku menengok ke belakang, aku hanya ingin berkata:

“PKD ini bukan sekadar tugas kampus. Ini adalah episode hidup yang akan selalu aku kenang—karena di sanalah aku belajar, bukan hanya cara mengajar, tapi juga cara mencintai jalan dakwah.”

(Nurul Amani, Mahasiswi PKD STIS Hidayatullah Balikpapan, periode tugas Februari-April 2025)

Yayasan Ulul Albab Enrekang Gelar Wisuda Tahfizh, Ada yang Tembus 30 Juz

0

Yayasan Ulul Albab Sudu, Enrekang kembali menggelar acara Wisuda Tahfizh pada Kamis kemarin (1/5/2025). Sebanyak 43 santri dari jenjang Mts dan SMA Hidayatullah Islamic Boarding School Enrekang mengikuti acara yang berlangsung khidmat di Gedung Aula SD Integral Ulul Albab Hidayatullah Enrekang tersebut.

Acara ini merupakan bagian dari program tahunan pesantren yang menandai capaian para santri dalam menghafal Al-Qur’an. Dari 43 peserta wisuda, satu orang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz, disusul satu orang dengan 20 juz, satu orang dengan 15 juz, satu orang dengan 12 juz, empat orang dengan 10 juz, dan mayoritas lainnya berada dalam rentang 5–9 juz serta di bawahnya.

Ketua Yayasan, Ustadz Ilham Syawal, S.H.I, memberikan sambutan utama dalam acara tersebut. Dalam pesannya, alumnus UMI Makassar tersebut berpesan agar para wisudawan tetap menjaga hafalan mereka di mana pun berada. “Hafalan Al-Qur’an adalah amanah, bukan sekadar prestasi. Jangan pernah berhenti memurojaah,” ujarnya penuh haru.

Acara dimulai pukul 09.30 WITA dengan pembukaan, lantunan ayat suci Al-Qur’an dan sari tilawah, dilanjutkan dengan penampilan nasyid, puisi, dan ujian hafalan oleh para santri. Selain prosesi pengalungan medali dan pembagian sertifikat, acara juga dirangkaikan dengan pengajian yang diisi oleh Ustadz Imran Jufri, S.Pd.I., Ketua Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Sulsel.

Salah satu wisudawan menyampaikan rasa syukurnya saat diwawancarai seusai acara. “Alhamdulillah, bersyukur bisa sampai di titik ini. Terima kasih untuk para guru, khususnya murabbi halaqah yang tidak lelah mendampingi hingga sampai di sini,” ujarnya dengan mata berbinar.

Tidak hanya itu, hari itu juga menjadi momentum penting lainnya bagi keluarga besar pesantren. Acara wisuda digabung dengan beberapa kegiatan, antara lain Madrasah Orang Tua (pengajian bulanan wali santri), pelepasan alumni jenjang MTs dan SMA, pengangkatan pengurus GPH periode 2025/2026, dan pemberian apresiasi kepada santri terbaik. Wali santri juga diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesan mereka secara langsung.

Meskipun tidak ada penghargaan resmi untuk wisudawan terbaik, suasana tetap hangat dan penuh apresiasi terhadap perjuangan para santri.

Panitia menjaga kekhidmatan acara dengan penataan ruangan yang rapi, susunan acara yang terorganisir, dan dokumentasi resmi berupa foto dan video untuk keperluan publikasi internal dan media sosial.

Acara berakhir sekitar pukul 14.30 WITA dengan doa bersama dan suasana haru penuh syukur. Pihak pesantren berharap program tahfizh ini terus berkembang. “Kami ingin melahirkan lebih banyak penghafal Al-Qur’an yang berkualitas dari tahun ke tahun,” ungkap salah satu panitia.

Ke depan, Pondok Pesantren Hidayatullah Enrekang berkomitmen untuk terus membina para santri agar tidak hanya menyelesaikan hafalan, tetapi juga memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

(Mardiah/Hidayatullah-Sudu)

Ngopi, Antara Ekonomis dan Ideologis

0

Dalam perjalanan dari Jogja menuju Makassar hari ini, saya mengalami dua pengalaman ngopi yang sangat berbeda—bukan hanya dari harga, tapi juga dari makna.

Pagi menjelang siang, saya singgah sejenak di emperan Malioboro. Ngopi gratis, dari layanan self-service di sebuah toko parfum. Kopi kapal api sachet, tanpa gula, diseduh dalam gelas plastik. Harganya? Mungkin hanya lima ratusan. Rasanya? Nikmat, apalagi diminum di emperan Malioboro, di antara lalu lalang orang dan semilir angin jalanan.

Sore harinya, pengalaman ngopi kedua terjadi di ruang tunggu Bandara YIA. Kali ini, Americano panas tanpa gula, kopi robusta, dibeli seharga Rp37.500—belum termasuk pajak. Tempatnya lebih nyaman, ber-AC, rapi. Tapi rasa kopinya? Tidak jauh berbeda dari kopi pagi tadi.

Sekali ngopi gratisan, sekali ngopi mahalan. Bedanya? Hanya soal waktu dan tempat. Selebihnya, soal rasa dan semangat, tetap sama.

Cerita ini bermula dari sahur subuh tadi, bersama para santri Cahyaqu di Pakem, Jogja. Saya sudah berniat puasa, meskipun dalam keadaan safar. Namun, dalam perjalanan menuju bandara, saat mampir membeli parfum, sebuah tawaran sederhana mengubah segalanya.

“Monggo, Pak, silakan minum. Tersedia minuman dingin, kopi, dan teh,” ujar pelayan toko, ramah.

Tawaran itu menggoda. Saya teringat bahwa musafir tak dibebani kewajiban puasa Ramadan, apalagi puasa sunnah. Pikiran saya sederhana: kenapa menolak nikmat ini?

Saya seduh satu sachet kopi kapal api, menambahkan sedikit madu yang saya bawa dari Makassar. Kopi panas itu lalu saya bawa keluar, ke emperan Malioboro, sambil membuka bekal bakpia. Sederhana, ekonomis, tapi penuh makna.

Ngopi kedua terjadi setelah informasi mendadak: pesawat delay, bahkan berganti maskapai. Dari jadwal 14.40 menjadi 20.00. Ada enam jam menunggu. Di ruang tunggu itu, saya membeli segelas Americano, sekadar menjaga ritme: kopi tetap mengalir, waktu tetap berjalan.

Dua pengalaman ngopi, dua dunia berbeda. Yang satu murah meriah, yang satu mahal dan berkesan boros. Tapi bagi saya, keduanya berbicara tentang satu hal: menjaga spirit ngopi.

Dalam dunia ekonomi, istilah “ekonomis” mengacu pada bagaimana kita mengelola sumber daya — tentang produksi, distribusi, konsumsi barang dan jasa. Tapi dalam keseharian, “ekonomis” bukan sekadar angka-angka. Ia tentang pilihan, tentang bagaimana kita mengukur apa yang cukup.

Pertama, soal efisiensi: memanfaatkan apa yang ada untuk mencapai tujuan — bahkan kalau tujuannya hanya sekadar menikmati kopi.

Kedua, tentang manajemen biaya: kapan perlu hemat, kapan harus keluar lebih.

Ketiga, tentang keputusan: kapan kita harus rasional, dan kapan membiarkan hati memilih.

Dalam teori, modal kecil bisa menghasilkan dampak besar. Tapi dalam praktik, kadang kita sengaja “mengabaikan” hitung-hitungan itu, demi sesuatu yang lebih: pengalaman, perasaan, bahkan prinsip.

Ngopi, bagi sebagian orang, mungkin hanyalah soal memenuhi kebutuhan kafein. Tapi bagi sebagian lainnya—seperti saya hari ini—ngopi adalah bagian dari prinsip hidup. Bukan sekadar aktivitas pragmatis, melainkan sebuah ritual kecil yang sarat nilai dan perlawanan terhadap rutinitas.

Ngopi bisa menjadi soal pilihan: antara sekadar mengisi waktu, atau meneguhkan diri dalam prinsip.

Hari ini saya belajar, bahwa ekonomi penting. Tapi ideologi kadang lebih penting.

Ngopi bukan soal murah atau mahal. Di emperan jalan atau di bandara megah, ngopi tetap ngopi. Bedanya hanya soal cara kita memaknai.

Ngopi, bagi saya, adalah soal kesadaran.

YIA, 28/04/2025

Aku Ada Karena Iman

0

“Cogito, ergo sum” artinya “Saya berpikir, maka saya ada.” Begitulah kata René Descartes.

Gagasan ini mengandung keyakinan bahwa kemampuan berpikir dan kesadaran adalah inti dari keberadaan manusia.

Dalam filsafat, “Manusia ada karena dia berpikir” dianggap sebagai landasan eksistensi. Merujuk pada ide bahwa kemampuan berpikir dan ber-kesadaran adalah landasan utama eksistensi manusia. Ini, menurut René Descartes.

René Descartes adalah seorang filsuf, matematikawan, dan ilmuwan asal Perancis yang hidup pada abad ke-17. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat.

Descartes lahir pada tahun 1596 di La Haye, Perancis, dan wafat pada tahun 1650 di Stockholm, Swedia. Ia mewariskan kontribusi besar dalam bidang filsafat, matematika, dan ilmu pengetahuan.

Namun, pertanyaan kritisnya: apakah benar manusia ada hanya karena dia berpikir? Ataukah ada aspek lain yang lebih mendasar dari keberadaan manusia?

***

Tulisan ini lahir dari upaya membangun jiwa kritis terhadap diri saya sendiri. Saat ini, saya tengah serius, betul-betul serius, menempuh perjalanan akademik strata satu.

Tadi pagi, 24/04, saya menghadapi ujian meja—memaparkan skripsi di hadapan para penguji, pembimbing, dosen, dan beberapa mahasiswa yang hadir.

Rasanya, saya pernah mengalami masa di mana tubuh ini hadir, tapi pikiran entah ke mana. Meskipun secara fisik saya ada, tapi saya tidak menggunakan otak saya untuk berpikir sungguh-sungguh. Pikiran ini tidak bekerja maksimal.

Setelah ujian itu, saya bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya selama ini sungguh ada?
Apakah keberadaan saya berarti?
Apakah saya sekadar nama, sekadar angka, sekadar jejak yang mudah hilang?

Dalam Surah Al-‘Ashr, Allah mengingatkan, bahwa keberadaan seseorang baru dianggap nyata bila ia beriman, beramal sholeh, menasihati dalam kebenaran, dan menasihati dalam kesabaran.

Tanpa iman, tanpa amal, tanpa dakwah kebenaran dan kesabaran, manusia adalah pecundang sejati. Ia ada, tapi tidak dihitung. Ia hidup, tapi merugi. Ia berjalan, tapi sesungguhnya kosong.

Dan untuk bisa beramal, untuk bisa menasihati kebenaran dan kesabaran, fondasinya hanya satu: iman.
Tanpa iman, semua kerja keras, semua amal, semua kata-kata, hanyalah fatamorgana. Tak bernilai. Nol besar.

Maka hari ini, saya sadar:
Bukan sekadar berpikir yang membuat saya ada.
Tapi iman.
Imanlah yang menghidupkan pikiran, menggerakkan amal, dan menjadikan keberadaan ini berarti.

Saya beriman, maka saya ada.

BTP, 24/4

Membingkai Keberkahan dengan Semangat Syawal

0

Setelah melalui Ramadhan yang penuh ujian, perjuangan, dan mujahadah—akhirnya kita sampai juga di gerbang kemenangan. Fajar Syawal pun menyingsing, membawa nuansa baru yang sarat dengan keberkahan dan harapan.

Tapi Syawal bukan sekadar penanda waktu berganti. Ia adalah simbol kebangkitan, cahaya kemenangan yang memancar dari hati yang kembali fitrah. Di bulan inilah, kita menyaksikan diri yang telah ditempa sebulan penuh, kini berdiri dengan semangat baru dan tingkat keimanan yang semoga semakin tinggi.

Buah dari mujahadah Ramadhan itu bernama taqwa. Dan di situlah letak keberkahan Syawal—sebagai hadiah dari Allah bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Idul Fitri bukan hanya pesta kemenangan, melainkan perayaan kesucian jiwa, simbol kembalinya kita pada jati diri sebagai hamba.

Syawal membuka lembaran baru. Di sinilah kita diberi kesempatan untuk menyempurnakan penghambaan kepada Allah. Keberkahan yang mengalir di bulan ini bukan hanya bonus spiritual, tapi juga alat penjaga. Ia menjaga kita tetap berada di jalur kebaikan, menjauhkan dari keburukan, dan menguatkan tekad untuk terus bertumbuh.

Kesabaran yang ditanam selama Ramadhan kini mulai berbuah manis. Tapi buah ini perlu dijaga. Perlu dipelihara. Dan salah satu bentuk pemeliharaannya adalah puasa Syawal—enam hari yang bisa menjadi penyambung energi spiritual dari Ramadhan.

Bulan ini juga jadi momentum terbaik untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibentuk. Qiyamul lail, gemar berinfaq, itikaf, tilawah, dzikir, istighfar, hingga semangat untuk selalu berbuat baik—semua itu jangan dibiarkan berlalu begitu saja. Syawal adalah saat yang pas untuk memastikan semua itu tetap hidup dalam diri kita.

Semangat Syawal sejatinya adalah shiratal mustaqim, jalan lurus yang mengantar kita pada pendakian keimanan yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih indah. Ia bukan akhir, tapi justru jembatan menuju kedekatan hakiki dengan Sang Maha Pengasih.

Memang, tantangan setelah Ramadhan tidak ringan. Godaan mulai berdatangan, keistiqamahan diuji. Tapi justru di situlah letak kemuliaannya. Ketika kita tetap teguh menjaga amal, memperkuat silaturahmi, dan terus merapatkan barisan dalam kebaikan jamaah.

Dan inilah prestasi sejati di bulan Syawal: saat seorang mukmin mampu menjaga ketakwaannya dengan konsistensi dan ketulusan. Ia tetap sabar, tetap bahagia dalam kemuliaan amal, dan tetap teguh pada jalan yang ditempuh selama Ramadhan.

Kembali ke Titik Nol

0

Semakin me-nol-kan diri bukan berarti seseorang semakin tidak berarti. Justru, ia semakin menjadi hebat. Karena ia membuka ruang dalam dirinya untuk terus belajar, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermakna.

Me-nol-kan diri dapat dimaknai sebagai proses kembalinya seseorang ke titik bening—yaitu kembali ke fitrah diri, kesucian, dan kesadaran diri yang lebih murni.

Pencapaian itu akan lebih mudah dengan ilmu yang luas. Lebih banyak belajar, lebih banyak membaca. Dan membaca yang paling tepat adalah dengan metode “iqra’ bismi rabbik”—membaca atas nama Tuhan.

Sebuah metode yang dituntunkan oleh Jibril kepada Muhammad, untuk mengantarnya kepada kesadaran kefitrahan, kesadaran ketauhidan kepada Rabb, Sang Maha Penguasa, Pemilik segala ke-Agungan.

Membaca yang dimaksud adalah membaca dengan cara dan pada apa yang Allah kehendaki. Membaca terhadap segala ke-Maha-Kuasaan Allah sebagai Pencipta, atas ketidakberdayaan manusia sebagai makhluk-Nya.

Kesadaran membaca hanya bisa lahir dari kesadaran akan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan diri. Kesadaran bahwa diri ini tak memiliki banyak ilmu. Kesadaran bahwa segala kepunyaan yang melekat pada dirinya adalah karena pemberian-Nya.

Sekalipun seseorang memiliki banyak sesuatu, itu ada karena kehendak, kemurahan, serta kasih sayang-Nya.

Dengan “iqra’ bismi rabbik”, akan semakin banyak mengantar kesadaran diri kepada titik nol. Proses pengosongan diri, yang membuat diri untuk menjadi lebih bermakna. Semakin kosong, semakin luas ruang dalam jiwa. Semakin tidak merasa memiliki apa-apa, semakin ia mampu menerima apa saja dari-Nya.

Titik nol bukanlah kehampaan yang menyesakkan, melainkan kekosongan yang menenteramkan. Di sana, tidak ada lagi kesombongan, tidak ada lagi keangkuhan, tidak ada lagi pembesaran atas diri sendiri. Yang ada hanyalah kejujuran, kerendahan hati, dan pengakuan yang penuh akan kelemahan dan keterbatasan.

Dan dari titik itulah, seseorang bisa memulai ulang hidupnya dengan lebih jernih. Melangkah dengan lebih ringan. Melihat segala sesuatu dengan kacamata yang baru—kacamata tauhid, yang membuat segala urusan terasa lebih lapang, lebih tenang, dan lebih tertuju kepada satu tujuan: mencari ridha-Nya.

Karena sesungguhnya, kemuliaan yang sejati bukan terletak pada seberapa tinggi kedudukan seseorang di mata manusia, tetapi sejauh mana ia merendahkan dirinya di hadapan Tuhannya. Bukan pada seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa sadar bahwa semua itu hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja.

Maka, me-nol-kan diri bukan berarti menghapus jati diri, tapi justru menemukan jati diri yang sejati. Menjadi hamba yang sadar diri. Dan dari sana, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang merdeka—dari hawa nafsu, dari rasa memiliki, dari beban ingin dilihat dan diakui.

Dan siapa yang mencapai titik tersebut, maka dia telah memulai langkah menuju kemuliaan yang hakiki. Sebuah titik, yang membuat dia justru menjadi penuh.

Pos Da’i Sulsel Tebar Muballigh sebagai Imam dan Khatib Idul Fitri, dari Kota hingga Pelosok

0
module: a; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: Night; cct_value: 4103; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 297.00366; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~25: 0.0;

Sulawesi Selatan — Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Pos Da’i Sulawesi Selatan mengirim lebih dari 60 muballigh untuk bertugas sebagai khatib dan imam Shalat Id di berbagai daerah. Para muballigh ini tidak hanya melayani masyarakat di wilayah Sulawesi Selatan, tetapi juga ditugaskan hingga ke lintas provinsi.

Ketua Pos Da’i Sulsel, Ahmad Syahril, menyampaikan bahwa penyebaran para muballigh ini bertujuan untuk memberikan pelayanan dakwah kepada umat, terutama di momen penting seperti Idul Fitri.

“Para muballigh tidak hanya bertugas di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah pedalaman. Bahkan, beberapa dari mereka akan bertugas di provinsi lain seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat,” ujarnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Drs. Nasri Bohari, M.Pd.I, menambahkan bahwa momentum Idul Fitri adalah saat yang tepat bagi para da’i untuk memberikan pencerahan kepada umat agar tetap menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

“Shalat Idul Fitri adalah momen kemenangan bagi kaum Muslimin setelah menjalani ibadah Ramadan. Para da’i memiliki peran penting untuk mengingatkan umat agar tetap beristiqamah dalam menjalankan amalan-amalan kebaikan setelah Ramadan. Melalui khutbah yang disampaikan di lapangan dan masjid-masjid, kita berharap umat semakin kokoh dalam ketakwaan kepada Allah serta terus berinteraksi dengan Al-Qur’an dan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Hidayatullah sebagai lembaga dakwah berkomitmen untuk terus mengembangkan gerakan dakwah dan tarbiyah sebagai sarana pelayanan umat. Salah satu bentuk kontribusi nyata adalah pengiriman imam dan khatib Idul Fitri ke berbagai wilayah.

Berikut daftar lokasi penugasan para khatib dan imam Shalat Idul Fitri 1446 H oleh Pos Da’i Sulawesi Selatan:

DAFTAR SEBARAN KHOTIB IDUL FITRI 1446/2025
POS DAI SULAWESI SELATAN

PROVINSI SULAWESI SELATAN:

  • MAKASSAR
  1. Ir. Abdul Majid. M.A – Masjid Hidayatul Mukminin Bukit Katulistiwa, Kota Makassar
  2. Dr. Misjaya Muhammad Khairun, M.Pd.I – Masjid An Nahl BPS Sudiang 2, Kota Makassar
  3. Ahmad Sabil. S.Pd.I., S.H.I – Masjid Fathul Khair Panaikang, Kota Makassar
  4. Suardi Sapa, S.Pd.I – Masjid Baitul kariim Hidayatullah, Kota Makassar
  5. Bachtiar Aras, S.Sos.I – Masjid Nur Hidayah Perumahan Griya Prima Tonasa, Kota Makassar
  6. Mukhtar Dg. Lau, S.Pd.I – Markas Raider 700, Kota Makassar
  7. Dr. Nasrullah Sapa, Lc., MM – Masjid Al Ikhlas Pepabri Antang, Kota Makassar
  8. Ahmad Anshor, S.Pd.I – Masjid At-Thohiriyah Komplek Perumahan Tonasa Racing Center, Kota Makassar
  9. Jumaruddin, M.Pd – Al Bayan Kampus Utama Hidayatullah, Kota Makassar
  • KAB. GOWA
  1. Reskyaman S.W, S.Pd., M.M – Masjid Rahmatullah Timbuseng, Kab. Gowa
  • PANGKEP
  1. Dr. Abdul Qadir Mahmud, M.A – BTN Samalewa Bungoro, Kab. Pangkep
  2. Dr. Amaluddin – Masjid Jami Tarbiyah Jatie Kassi Loe, Kab. Pangkep
  3. Andi Amri, S.Pd.I – Masjid Nurul Iman Kampung Bulu-bulu, Kab. Pangkep
  4. Karding, S.Sos.I – Masjid Alauddin Kilo 5 Padang Lampe, Kab. Pangkep
  5. Ihsan Wahyuddin, S.Pd.I – Masjid Al Mu’minun Baco Api Labbakkang, Kab. Pangkep
  • MAROS
  1. Drs. Muhammad Kaisar – Masjid Kompleks Zipur, Kab. Maros
  2. Muh. Robianto, S. Pd. – Halaman Mushola Al Ghazali, Kab. Maros
  • BULUKUMBA
  1. Irfan Yahya Daeng Taba – Masjid Terapung Tanjung Bira, Kab. Bulukumba
  2. Syamsul Alimin , S.Pd – Masjid Ni’matullah Mattirowalie, Kab. Bulukumba
  3. JUMAWIR, S. Pd. I – Masjid Al Amanah Kindang, Kab. Bulukumba
  4. Muhsin Qahar, BA – Lapangan Komp Kampus Pratama Hidayatullah, Kab. Bulukumba
  5. Muhammad Erwin, S. Ag – Masjid Jami Al Ashar Sampeang, Kab. Bulukumba
  6. Khairullah Misdar S.Pd.I – Masjid Nurul Yaqin Lamantang Kajang, Kab. Bulukumba
  • SINJAI
  1. Tanwir S.Pd.I – Masjid Ar-Rahman Desa Kanrung Sinjai Tengah, Kab. Sinjai
  • BARRU
  1. Usman, S.Pd I – Masjid Fastabiqul Khairat Bojo, Kab. Barru
  • SIDRAP
  1. Sarmadani – Masjid An Nur Desa Otting Pitu Riawa, Kab. Sidrap
  • ENREKANG
  1. Drs. Nasri Bohari, M.Pd – Lapangan Pana Kec. Alla, Kab. Enrekang
  2. Ilham Syawal, S.HI – Masjid Sangtempe Perbatasan Toraja-Kab. Enrekang
  3. M. Karim Ibrahim, S.Pd – Masjid Al Falah Ra’cak. Kec. Anggeraja, Kab. Enrekang
  4. Ahmad Sholeh, S.Sos – Masjid Babul Jannah Syarifah Leha Tanjung Kel. Buntu Sugi Kec. Alla, Kab. Enrekang
  5. Alimuddin, Lc – Masjid Al Anshar Polsek Kec. Alla, Kab. Enrekang
  6. Muh. Abdul Karim, S.Pd – Masjid Al-Muttaqin Tanjung, Kab. Enrekang
  • PALOPO
  1. Muh. Imran Djufrie, S.Pd.I – Masjid Baiturrahman Pajalesang, Kota Palopo
  2. Muh. Fath Al-Haq, Lc – Masjid Ar-Rasyidin Batu, Kota Palopo
  3. Burhan, S.Pd.I – Masjid Al-Muttaqin Telluwanua, Kota Palopo
  • PAREPARE
  1. Ruslan Hanif, S.Pd – Masjid Tarbiyah, Kota Parepare
  2. Dr. Amir Z – Masjid Darul Ilmi Perumnas, Kota Parepare
  3. Dr. Syahril – Masjid Al Musafir, Kota Parepare
  • BONE
  1. Ahmad Munsif, S. Pd – Masjid Pabrik Gula Arasoe, Kab. Bone
  2. Muh. Idris – Masjid Perumahan Majang Madani, Kab. Bone
  3. H Burhanuddin Abd. Jabbar, M.Pd.I – Masjid Nurus Sholehah Pajalele Kec Sibulue, Kab. Bone
  • PINRANG
  1. Muh. Nasrullah Alwi, Lc – Masjid Al Hijrah, Kab. Pinrang
  2. Ahmad Syahril, S.Pd.I – Masjid Al Furqon, Kab. Pinrang
  3. Anwar Baits, S.Pd – Kampus Lamatanre Suppa, Kab. Pinrang
  • LUWU UTARA
  1. Ikhsan Saleh – Masjid Balannalu Kec. Rongkong, Kab. Luwu Utara
  2. Lukman Al faht, S.Pd.I, M.Pd – Mesjid Al Ikhlas Sukamaju, Kab. Luwu Utara
  3. Alauddin Subandi, M.Pd.I – Lapangan Hidayatullah Bungadidi, Kab. Luwu Utara
  4. Muh Qayyum, S.Pd – Masjid Mujahidah Masamba, Kab. Luwu Utara
  • LUWU TIMUR
  1. Drs. Ahkam Sumadiana. M.A – Mahalona, Kab. Luwu Timur
  2. Abu Bakar Bessah – Masjid Darussalam Desa Maramba Kec. Wotu, Kab. Luwu Timur
  3. Muhtadin – Dusun Langgiri Desa Lampenai Kec. Wotu, Kab. Luwu Timur
  4. Salman Amrullah – Bunga Pantai Kec. Wotu, Kab. Luwu Timur
  5. Abu Hurairah – Masjid Al Khaeirat Desa Manurung Kec. Malili, Kab. Luwu Timur
  • LUWU
  1. Hamzah Sulthan – Masjid Babul Jannah Kamanre, Kab. Luwu
  2. Muhammad Arifuddin – Masjid Nurul Huda Belopa 2, Kab. Luwu
  3. ILHAM SIJAYA – Masjid Al-amin Torede Desa Pongko, Kab. Luwu
  4. Suharjo, S.Ag – Masjid Al Amin Desa Buntu Sa’rek, Kab. Luwu
  5. Abdullah Belu, S.Pd – Masjid Al Khaerat Sumabu Kec. Bajo, Kab. Luwu
  • TORAJA
  1. Cakdul – Lapangan SDN 5 Mengkendek, Ge’tengan, Kab. Tana Toraja
  2. Ahmad Shodiq – Masjid Ashabul Kahfi Tonga, Kab. Tana Toraja
  • TAKALAR
  1. Muhammad Yusuf, S.Pd.I – Mesjid Nurul Ilmi Pattallassang, Kab. Takalar
  2. Muhammad Syarif, SH – Mesjid Ar Rayyan Lengkese, Kab. Takalar

PROVINSI LUAR SULSEL:

  1. Sumariadi, M.Pd.I – Masjid Darun-Ni’mah Kec. Sangkulirang Kutai Timur, Kaltim (Kemungkinan batal, kondisi kesehatan dalam pemulihan)
  2. Habibi Nursalam B, S.Pd.I – Masjid Babul Falah PT.Unggul Widya Tehnologi Lestari, Baras Pasangkayu-Sulbar
  3. Abd Rahman Caco, SH – Masjid Nurul Iman, Kab. Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah
  4. Muhammad Firdaus Umar,S.Pd.I.,S.H – Kampus Putra Hidayatullah Gunung Lingkas, Kota Tarakan, Kalimantan Utara

Safari Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel di Takalar, Kuatkan Silaturahmi dan Eksistensi

0

Takalar, HidayatullahSulsel.or.id – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Takalar menyambut antusias kedatangan tim Safari Dakwah dari Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Rabu (12/3/2025).

Kedatangan tim ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat dakwah Islam di wilayah Takalar.

Dalam rangkaian kegiatan Safari Dakwah ini, tim akan melakukan kunjungan ke tiga masjid yang ada di sekitar Pondok Hidayatullah Takalar.

Ustadz Khairun akan mengisi dakwah di Masjid Desa Paddinging, Ustadz Nasrullah Alwi di Masjid Nurul Amin Alluka, dan Ustadz Armen Karim di Masjid Nur Islam Poang.

Ketua DPD Hidayatullah Takalar, Ustadz Arham, menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahim dengan masyarakat sekitar Pondok Hidayatullah sekaligus memperkuat dakwah Islam di Takalar.

Ia juga menambahkan bahwa Safari Dakwah ini merupakan langkah positif untuk perkembangan dakwah Hidayatullah di tengah masyarakat.

“Semoga dengan hadirnya tim Safari Dakwah ini, dakwah di Takalar semakin berkembang, dan akidah umat Islam semakin kokoh,” ujar Ustadz Arham dengan penuh harapan.

Kegiatan Safari Dakwah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Takalar serta memperkuat eksistensi Hidayatullah di wilayah tersebut.(rls)

Tangisan di Akhir Ramadhan

0

Oleh : Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.id — Ramadhan pun akhirnya tiba di penghujung waktu. Telah tertunaikan dan terwujudkan segala kewajiban serta berbagai amalan sunnah lainnya. 

Bagi yang mempersepsikan Ramadhan adalah bulan ‘sekedar’ menunaikan kewajiban, akhir Ramadhan adalah waktu akan segera berlalu dan terlepasnya kewajiban berat menunaikan kewajiban ibadah Ramadhan.

Tapi, terdapat pula segelintir umat yang menangis saat-saat akhir Ramadhan. Dengan tangisan sesuai persepsi, kondisi dan kebutuhan bersangkutan. 

Tangisan pertama adalah tangisan anak kecil. Seperti tangis anak yatim di zaman Rasulullah. Sebagaimana dikisahkan, yang dikutip dari Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi. 

Dikisahkan, di suatu hari raya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan. 

Tetapi tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka. Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu.

Melihat hal ini Rasulullah segera menghampiri anak tersebut. “Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?” Rasulullah membuka percakapan.

Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rasulullah menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Nabi mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut.

“Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apa pun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. 

Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.”

Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah terenyuh. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.

Rasulullah segera menguasai diri. Rasul yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya. “Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah.

Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. “Kenapa tak sudi, ya Rasulullah?” jawab anak ini dengan senyum terbuka.

Rasulullah kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian terbaik. Ia dipersilakan makan hingga kenyang. Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian.

Setelah beres semuanya, ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum dan wajah bahagia. Melihat perubahan drastis pada anak ini, para sahabatnya bertanya. “Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira?”

“Benar sahabatku. Tadinya aku lapar, tetapi lihatlah, sekarang tidak lagi. Aku sudah kenyang. Dulunya aku memang tidak berpakaian, tetapi kini lihatlah. Sekarang aku mengenakan pakaian bagus. 

Dulu memang aku ini yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian. Rasulullah SAW ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah adalah saudariku. Apakah aku tidak bahagia?”

Mendengar sahabatnya, mereka tampak menginginkan nasib serupa. “Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW.” 

Betapa banyak orang berada di akhir Ramadhan menagis sebagaimana menagisnua anak kecil karena tak bisa ikut bergembira merayakan hari raya idul fitri. Ikut bergembira dengan pakain baru karena telah memenangkan beban dan masa begitu berat berpuasa sebulan penuh (*) 

DPD Hidayatullah Pangkep Silaturahmi dengan Bupati Pangkep, Gagas Sinergi

0

Pangkep, HidayatullahSulsel.or.id –  Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) melaksanakan kunjungan silaturahmi ke kediaman Bupati Pangkep, Dr Muhammad Yusran Lalogau, SPi MSi, Senin (24/3/2025).

“Kunjungan ini untuk memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan organisasi keagamaan serta menyampaikan program dakwah DPD Hidayatullah dalam bulan suci Ramadhan, ” jelas Ketua DPD Hidayatullah Pangkep, Karding SSos.

Silaturahmi penuh keakraban dan kehangatan tersebut juga dihadiri Sekretaris DPD Hidayatullah Pangkep Ustadz Arjun, Bendahara Ustadz Andi Amri SPdI, serta Ustadz Agustan dan Ustadz Abdullah

Dalam pertemuan tersebut, DPD Hidayatullah Pangkep melaporkan bahwa santri telah ditugaskan sebagai imam Ramadhan yang akan melayani umat di berbagai masjid di wilayah Pangkep.

“Program ini menjadi bagian dari kontribusi Hidayatullah dalam membina masyarakat melalui peningkatan kualitas ibadah dan pemahaman keagamaan selama bulan suci, ” jelasnya.

Muhammad Yusran mengapresiasi inisiatif DPD Hidayatullah Pangkep dan menyampaikan dukungannya terhadap program dakwah ini.

Ia menegaskan bahwa kerja sama antara pemerintah daerah dan lembaga keagamaan sangat penting dalam membangun masyarakat yang berakhlak dan religius.

Silaturahmi ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan DPD Hidayatullah Pangkep dalam membangun masyarakat yang lebih religius dan berkeadaban, khususnya dalam momentum bulan suci Ramadhan.(rls)