Beranda blog Halaman 29

Lulusan Hebat Bukan Dilahirkan, Tapi Dibentuk

0
Ilustrasi foto wisuda STAI Al-Bayan Makassar beberapa hari lalu.
Oleh: Syaifullah Mujahidin, M.Pd.*

Beberapa hari terakhir, kampus-kampus di seluruh Indonesia—baik sekolah tinggi, institut, maupun universitas—serentak menggelar prosesi wisuda. Namun di balik kemeriahan perayaan kelulusan, muncul pertanyaan yang menggelitik: apakah institusi pendidikan tinggi saat ini benar-benar meluluskan lulusan yang berkualitas, atau sekadar menjaga angka dan kuantitas?

Pertanyaan ini tidak lahir begitu saja. Ia muncul di tengah berbagai kasus yang meresahkan, seperti pemalsuan ijazah atau sengketa keabsahan karya ilmiah tokoh publik dari perguruan tinggi ternama. Fenomena semacam ini menggugah kesadaran kita: ada sesuatu yang perlu direnungkan kembali dalam sistem pendidikan kita hari ini. Tulisan ini adalah upaya sederhana untuk memulai perenungan itu.

Menjadi lulusan hebat bukanlah hasil dari anugerah genetik atau bakat bawaan sejak lahir. Ia adalah buah dari proses panjang pembentukan karakter dan kompetensi. Pendidikan tinggi bukanlah jalur cepat menuju kesuksesan. Ia adalah kawah candradimuka tempat mahasiswa ditempa melalui tantangan akademik, interaksi sosial, kegagalan, dan pencarian jati diri. Dalam proses itulah ketangguhan terbentuk dan kehebatan lahir secara perlahan.

Masih banyak yang percaya bahwa kecerdasan akademik semata atau latar belakang keluarga terpelajar menjadi penentu utama keberhasilan seseorang di dunia kampus. Namun sejarah dan kenyataan hari ini membuktikan sebaliknya. Banyak tokoh besar, inovator, dan pemimpin dunia berasal dari keluarga sederhana, bahkan dari latar yang tidak dianggap istimewa. Yang membedakan mereka adalah kemauan untuk belajar tanpa henti, kegigihan dalam menghadapi hambatan, dan semangat untuk terus berkembang.

Setiap mahasiswa, tanpa kecuali, memiliki peluang yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi unggul. Yang menjadi pembeda adalah kesiapan masing-masing dalam mengikuti ritme akademik—ritme yang menuntut kedisiplinan, keuletan, dan keterbukaan terhadap perubahan. Kampus bukan hanya tempat untuk hadir di kelas dan mengerjakan tugas, melainkan ruang pembentukan jati diri yang menyeluruh.

Proses ini mencakup lebih dari sekadar pengetahuan teoretis. Ia mencakup penguatan karakter, pembiasaan berpikir kritis, keterlibatan dalam organisasi, kepekaan sosial, serta internalisasi nilai-nilai kejujuran dan etika. Nilai akademik hanyalah salah satu dimensi. Nilai adab, kepribadian, dan kontribusi sosial juga menjadi bagian penting dari pembentukan lulusan yang paripurna.

Lulusan hebat sadar betul bahwa gelar bukanlah puncak, melainkan bekal untuk langkah selanjutnya. Mereka tidak terpaku pada IPK tinggi saja, tetapi juga mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan integritas. Dunia kerja kini tidak hanya mencari individu yang pintar secara akademik, tetapi juga mereka yang tangguh, solutif, adaptif, dan beretika.

Siapa pun bisa menjadi lulusan hebat, asalkan bersedia menjalani proses pembentukan diri dengan sungguh-sungguh. Gagal bukan akhir dari segalanya, dan keberhasilan bukan alasan untuk berhenti belajar. Kehebatan adalah hasil dari perjalanan panjang yang dijalani dengan niat, usaha, dan ketulusan.

Pada akhirnya, kuliah adalah sarana formal untuk memperoleh kerangka keilmuan. Namun tugas seorang lulusan tidak berhenti di sana. Ijazah hanyalah selembar legitimasi; maknanya baru utuh ketika dibarengi dengan karya nyata. Sejauh mana pengetahuan yang dimiliki mampu berkontribusi bagi kemajuan umat dan peradaban? Itulah pertanyaan yang seharusnya terus membimbing langkah para lulusan.

Maka jangan pernah berhenti berkarya. Jadikan setiap pencapaian sebagai bukti nyata bahwa ijazah kita bukan sekadar simbol akademik, tapi cermin dari pengabdian yang bermakna.

*) Pengajar di Pesantren Hidayatullah Towuti, Luwu Timur

Sarjana Ekonomi

0
Foto bersama dengan Ketua DPW HIdayatullah Sulsel di sela-sela acara wisuda.

Hari ini resmi, dan sah. Aku menyandang gelar sarjana. Sarmadani, Sarjana Ekonomi. SE, katanya.

Di Swiss-Belhotel Makassar, lantai 2, dekat Mall Panakukang, Sabtu kemarin (10/5/2025), prosesi wisuda itu digelar. Ada 95 wisudawan dan wisudawati hadir. Kami adalah angkatan pertama, alumni perdana dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan.

Menjelang masuk ke Grand Ballroom Swiss-Bel, di dalam lift, seorang anak kecil berucap polos, “Eh, kenapa ada bapak-bapak baru wisuda? Sudah tua.”

Tak lama, menjelang sesi foto, seorang Ibu dari Pinrang juga ikut berkomentar, “Engka pale, maputeni janggo’na, nappa wisuda,” katanya sambil tersenyum geli. Artinya, “Sudah putih jenggotnya, baru ikut wisuda.”

Lain lagi komentar Doktor Amaluddin dari Pangkep. Dengan gaya khasnya, ia berbisik sambil tersenyum, “Ini sarjana tempe, bukan sarjana kerupuk.” Kalimat itu hanya dia dan saya yang paham maksud sebenarnya. Katanya, itu rahasia.

Hari ini memang istimewa. Di usia 45 tahun, dengan 9 anak dan sudah tiga kali menikah, baru kali ini aku resmi memakai toga dan ikut diwisuda. Ironisnya, di kampus tempat aku dulu ikut menandatangani borangnya sebagai bagian dari syarat pendirian STAI.

Tatapan mata, senyuman manis, rasa haru yang menyesak, semua seperti menyatu mengarah padaku. Riuh panggung terasa semakin bergemuruh saat namaku dipanggil dan aku berjalan naik, satu per satu menyalami para anggota senat.

Ustaz AQM bahkan berdiri spontan, “Kita foto dulu,” katanya sambil menyodorkan tangan untuk salam komando.

Bagi saya, ini adalah momen sejarah dalam siklus hidup. Dan entah kenapa, rasanya adrenalin saya tak pernah lelah untuk memulai hal-hal baru.

Gelar SE ini, buat saya, hanyalah formalitas. Tak ada kaitannya dengan kualitas.

Saya sebut gelar ini sebagai “tuntutan negara”—mengambil istilah dari Bapak Pemimpin Umum. Karena sejujurnya, pengalaman dan amanah yang saya jalani di Hidayatullah, sudah lebih dari cukup untuk jadi ribuan SKS dalam universitas kehidupan ini.

Saya teringat saat hendak ujian meja, ketika mengantar undangan ke Ibu Imaniar, Kaprodi Ekonomi Syariah. Sambil senyum saya bilang, “Bu, jangan berat ya ujiannya, karena ujian di universitas kehidupan ini sudah cukup berat.”

Perjalanan saya di Hidayatullah Makassar dimulai dari titik nol. Tahun 1999, sebagai office boy saat perintisan SMP Al Bayan. Kerjaan saya waktu itu hanya buat teh dan antar ke meja para guru.

Tahun 2000, saya naik jadi petugas lapangan: menarik donatur dan jualan majalah. Sebelumnya sempat juga jadi pengasuh anak-anak SMA Al Bayan angkatan pertama di Tanralili, Maros.

Tahun 2001, sambil kuliah di LP3I, saya tetap jalan dengan majalah dan donatur. Di saat yang sama, mulai menekuni dunia jurnalistik. Waktu itu saya sudah punya kamera Yashica FX100—bekal sederhana tapi bermakna untuk jadi jurnalis lapangan.

Tahun 2004, BMH lahir dari metamorfosis lembaga donatur Al Bayan. Saya ditunjuk jadi ketuanya, sampai 2009. Waktu itu, masih belum ketuaan. Hehe.

Juli 2009, saya ikut merintis BMH di Luwu Timur, Wawondula. Ustaz Rusdin Muis (alm.) yang mengajak saya pindah ke sana. Hingga 2011 saya bertugas di sana.

Awal 2011, lewat rapat Dewan Pembina Al Bayan, saya mulai terlibat di Pucak, merintis Tahridz Ummul Quro. Ustaz Muhsin jadi ketua, Pak Doktor Irfan sekretaris, saya bendaharanya.

Tahun 2014, Ustaz AQM menunjuk saya sebagai Ketua Yayasan Al Bayan, hingga 2019. Di masa inilah, STAI Al Bayan mulai dirintis. Setelah itu, saya jadi staf BPU hingga 2021. Kemudian dapat amanah sebagai staf ekonomi DPP, sempat menjajaki pengembangan sawah di Lutim, bagian dari agenda ketahanan pangan nasional.

Pertengahan 2021, SK baru turun: saya ditugaskan di Sidrap, sebagai Ketua DPD Hidayatullah hingga kini. Di Sidrap pula, saya mulai usaha ekonomi baru: telur asin Pak Dani.

Dari perjalanan panjang itulah, baru hari ini saya resmi mendapatkan gelar SE. Sebuah formalitas, untuk menunjukkan bahwa saya pernah sekolah. Bukan ijazah palsu.

Lebih dari itu, ini jadi motivasi buat anak-anak saya nanti. Buat generasi muda selanjutnya. Bahwa Pak Dani yang sudah tua, jenggot putih, tetap serius sekolah. Lalu kenapa yang muda, apalagi masih bujang, malah malas belajar?

Saya ingin menyampaikan pesan—tanpa harus mendoktrin—bahwa belajar itu bukan soal usia. Belajar itu dari lahir, hingga liang lahat.

Sarmadani, SE
Makassar, 10 Mei 2025

Ulul Albab: Menyatukan Gelar Akademik, Iman, dan Amal

0
Ilustrasi foto wisuda STAI Al-Bayan Makassar beberapa hari lalu.

Makassar – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Bayan Makassar menggelar Sidang Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka wisuda perdana pada Sabtu siang tadi, 10/5/2025. Acara yang digelar di Ballroom Swiss-Bellinn Panakkukang Makassar tersebut diikuti 95 wisudawan/ti dari berbagai jurusan yang ada.

Salah satu agenda dalam sidang senat tersebut adalah penyamapain orasi ilmiah dari Ketua Dewan Senat STAI Al-Bayan Makassar, Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. Berikut ini resume dari orasi berjudul “Gelar Akademik, Ulil Albab dan Aplikasi Ilmu” tersebut:

Sejak abad ke-9, di kota Fez—jantung intelektual Maroko—terbentang Universitas Al-Qarawiyyin, lembaga pendidikan tertua di dunia yang didirikan pada tahun 859 M. Keistimewaan kampus ini tidak hanya pada usianya yang venerabel, tetapi juga karena ia adalah yang pertama memberikan gelar akademik secara resmi kepada para alumninya. Sosok di balik cikal bakal perguruan tinggi ini patut dikenang: Fatimah Al-Fihri, perempuan visioner yang menanam benih pengetahuan bagi generasi-generasi mendatang.

Gelar akademik, dalam konteks modern, adalah bentuk pengakuan formal atas perjalanan intelektual seseorang. Mulai dari sarjana, magister, hingga doktor, bahkan gelar profesional, semuanya mencerminkan evolusi sistem pendidikan tinggi yang berkembang di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, jejak gelar akademik pertama kali muncul pada masa Hindia Belanda, ketika STOVIA dibuka pada 1898—lembaga yang kelak menjadi cikal bakal Universitas Indonesia—diikuti Institut Teknologi Bandung pada 1920.

Pada awalnya, gelar akademik hanya berfungsi sebagai cap legitimasi: bukti bahwa pemegangnya telah menuntaskan serangkaian kajian ilmiah. Namun seiring waktu, gelar itu menjelma menjadi standar resmi dalam perekrutan, terutama di instansi pemerintah serta institusi pendidikan. Gelar pun menjadi gerbang masuk; tanpa dokumen tersebut, seseorang dengan kemampuan dan keterampilan mumpuni seringkali terpinggirkan oleh sistem.

Menariknya, konsep “predikat” keilmuan juga dijumpai dalam Al-Qur’an. Istilah-istilah seperti Ulul Albab, Ulul Abshar, Ulun Nuha, dan Ulul ‘Ilm merupakan sinonim bagi ulama—mereka yang menguasai ilmu dan memancarkan hikmah. Selain predikat intelektual, Al-Qur’an juga mengangkat gelar kemuliaan lain: Muttaqin, Shalihin, Muhsinin, dan seterusnya. Semua gelar ini menandai derajat spiritual dan intelektual yang ditinggikan oleh Sang Pencipta:

“…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS 58:11)

Di antara sekian istilah, ‘Ulul Albab’ muncul paling sering—enam belas kali—menunjukkan urgensinya untuk direnungkan. Kata ‘ulul’ berarti “mereka yang memiliki”, sedangkan ‘albab’ (jamak dari ‘lubb’) sering diterjemahkan sebagai “akal” atau “inti pemikiran”. Dengan demikian, Ulul Albab dapat dipahami sebagai “mereka yang berakal”. Menurut Ibnu Katsir, gelar ini merujuk pada orang dengan akal sempurna; Sayyid Qutub menegaskan, mereka yang memiliki pemahaman dan pemikiran yang benar.

Apa ciri khas seorang Ulul Albab? Pertama, mereka gemar berdzikir dan tafakkur: mengingat Tuhan dalam segala keadaan dan merenungkan ciptaan-Nya (QS 3:190–191). Kedua, kehausan mereka akan ilmu memotivasi pencarian pengetahuan tanpa kenal lelah (QS 3:7). Ketiga, kemampuan membedakan yang hak dan batil (QS 5:100). Keempat, sikap kritis dalam menyimak tutur kata orang lain (QS 39:18). Kelima, kesediaan berbagi ilmu kepada sesama (QS 13:19–22). Dan keenam, ketakwaan yang melekat: hanya kepada Allah mereka menundukkan hati (QS 65:10).

Berdzikir dan berpikir bukan sekadar ritual ibadah, melainkan metodologi ilmiah. Ayat QS Ali ‘Imran 3:190 menegaskan bahwa alam semesta—langit, bumi, malam, dan siang—adalah ayat-ayat untuk mereka yang berpikir. Lalu QS 3:191 menjelaskan metode memperoleh ilmu: berdzikir sambil merenungkan ciptaan-Nya secara aktif. Di sinilah perbedaan mendasar dengan epistimologi Barat, yang hanya mengandalkan rasionalisme dan empirisme; dalam kerangka ini, entitas non-empiris—malaikat, jin—terkucilkan dari ruang kajian. Bagi Ulul Albab, seluruh ciptaan Allah—materi maupun metafisik—adalah lahan ilmu.

Hasil penelitian dan renungan itu selanjutnya menumbuhkan iman yang semakin kokoh. Sang ilmuan, setelah menelisik ayat-ayat Ilahi, akan menyadari betapa tiada satupun ciptaan yang sia-sia, hingga lantang ia memanjatkan doa:

“Rabbanaa mā khalaqta hādhā bāṭilā, subḥānaka faqinā ‘adhāba-n-nār.”
(“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”)

Inilah aksiologi ilmu dalam tradisi Islam: iman bertambah, di samping manfaat empiris bagi sesama.

Akhirnya, Al-Qur’an meneguhkan kesatuan iman, ilmu, dan amal. Ketiganya ibarat tiga pilar yang saling memperkuat; apabila satu terpisah, keseimbangan hancur. Perintah pertama—“Iqra’” (bacalah)—menandai bahwa membaca dan menuntut ilmu adalah pintu gerbang iman (QS Al-‘Alaq:1–5). QS Muhammad:19 mengiringi keyakinan pada Tauhid dengan tuntutan memahami hakikat-Nya. Hampir seluruh ayat yang menyanjung orang beriman selalu diiringi penegasan beramal saleh: iman tanpa perbuatan adalah kerancuan. Bahkan, ilmu yang tak diamalkan disebut tercela (QS 61:3).

Dari kacamata kontemporer, gelar akademik tidak ubahnya pengakuan lembaga pendidikan atas prestasi intelektual seseorang. Meski tak selalu menjamin kompetensi riil, gelar itu menjadi persyaratan birokratis di dunia kerja. Namun banyak pula ladang pengabdian di mana keterampilan dan keahlian praktis jauh lebih bernilai ketimbang cap resmi di ijazah.

Akhirnya, predikat Ilahi—Ulul Albab, Ulun Nuha, Ulul ‘Ilm, serta gelar mulia seperti Muttaqin, Shalihin, Muhsinin—seharusnya menjadi target tertinggi bagi setiap muslim penuntut ilmu. Dengan menyelaraskan iman, ilmu, dan amal, kita mengukir keberkahan dan meraih ridha-Nya.

Lailatul Ijtima’ Zona Selatan: Menguatkan Spirit Kejuangan dan Rejuvinasi Kader

0

Bollangi, Sabtu–Ahad, 10–11 Mei 2025 — Halaqah kader Wustho Sulawesi Selatan zona selatan kembali menggelar agenda rutinnya, Lailatul Ijtima’, yang kali ini diselenggarakan di Kampus Pratama Hidayatullah Bollangi, Timbuseng, Kecamatan Patalassang, Gowa. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 37 peserta dari berbagai daerah zona selatan Sulawesi Selatan.

Sebagai agenda rutin yang digelar setiap tiga bulan sekali, Lailatul Ijtima’ menjadi momen yang dinanti oleh para mutarabbi halaqah. Selain sebagai sarana konsolidasi dan penyegaran ruhiyah, kegiatan ini juga menghadirkan para pembina dan tokoh sentral untuk memberikan arahan strategis.

Acara dimulai pada Sabtu malam (ba’da Isya) dan direncanakan berlangsung hingga Ahad siang. Tiga sesi utama disiapkan untuk membahas isu-isu penting dan mendesak terkait kaderisasi dan penguatan arah gerakan.

Pada sesi pertama, hadir Murabbi Nasional, Ustadz Drs. Ahkam Sumadiana, MA, yang memberikan motivasi serta pencerahan seputar halaqah dan pentingnya gerakan rejuvinasi dalam tubuh kader.

Sesi kedua yang digelar Ahad pagi mengangkat tema “Dialektika Pemikiran Kader Pelanjut”, dan dipandu oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah Sulawesi Selatan, Ustadz Ir. Abdul Majid, MA.

Sesi ketiga menghadirkan dialog terbuka bertajuk “Mewujudkan Pendidikan dan Perkaderan Berbasis Pondok Pesantren (Kampus) dalam Menyongsong Era Rejuvinasi”. Dalam sesi ini, kembali hadir Ustadz Drs. Ahkam Sumadiana, MA sebagai pemateri pertama, didampingi oleh Ustadz Drs. Nasri Bukhari, M.Pd sebagai pemateri kedua.

Lailatul Ijtima’ menjadi ruang berharga yang tidak hanya mempertemukan para kader, tetapi juga menguatkan kembali spirit kejuangan dan visi perjuangan lembaga. Kegiatan ini diharapkan terus memberikan kontribusi nyata dalam melahirkan kader-kader pelanjut yang tangguh dan visioner.

Formalitas adalah Kesaksian Sebuah Kualitas

0
Foto bersama dengan Ketua DPW HIdayatullah Sulsel di sela-sela acara wisuda.

“Formalitas menunjukkan kualitas.”

Kalimat ini disampaikan Ustaz Dr. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, M.Si. dalam orasi ilmiahnya pada Wisuda STAI Al-Bayan, pagi tadi, Sabtu (10/5/2025. Beliau, selaku Ketua Dewan Senat, menyampaikan pesan tegas tentang pentingnya legalitas dan keabsahan akademik dalam membentuk kredibilitas seorang sarjana.

Dengan lantang beliau menegaskan, “Saya adalah sarjana sejati. Secara formalitas, saya memang sarjana. Saya menempuh pendidikan resmi mulai dari S-1, S-2, hingga S-3. Semua proses perkuliahan saya jalani dengan baik dan bisa saya pertanggungjawabkan.”

“Jadi, “sambung Doktor alumnus UIKA tersebut, “jika ada yang ingin mempertanyakan legalitas kesarjanaan saya, silakan. Perguruan tinggi tempat saya belajar siap memberikan bukti. Saya tidak perlu membela diri dengan emosi.”

Pernyataan tersebut bukan sekadar pembelaan diri pribadi. Ia mencerminkan prinsip penting yang semakin krusial di tengah arus zaman yang cepat, instan, dan kadang mengabaikan proses.

Di era ini, kita dihadapkan pada godaan untuk menempuh jalan pintas—mendapatkan gelar tanpa belajar, memperoleh pengakuan tanpa upaya. Maka, formalitas hadir sebagai penyeimbang moral dan etika dalam dunia pendidikan.

Formalitas bukan sekadar selembar ijazah atau angka-angka pada transkrip nilai. Ia adalah representasi dari sebuah proses intelektual dan integritas akademik yang panjang dan melelahkan.

Ketika seseorang meraih gelar sarjana, ia seharusnya juga menyandang kapasitas intelektual dan keilmuan yang sepadan. Gelar bukan hanya identitas administratif, tetapi juga janji kepada masyarakat bahwa ia layak dipercaya sebagai penyampai pengetahuan.

Dalam perspektif Al-Qur’an, sosok sarjana ideal tergambar dalam istilah Ulil Albab—mereka yang memiliki akal sehat, pemahaman mendalam, dan kemampuan untuk menautkan ilmu dengan hikmah.

Ulil Albab bukan hanya tahu, tetapi juga mampu mengamalkan. Mereka tidak hanya cerdas dalam berpikir, tapi juga bijak dalam bertindak. Ilmu yang dimiliki bukan untuk dipamerkan, melainkan digunakan untuk membawa manfaat bagi sesama.

Oleh karena itu, mengabaikan formalitas dalam pendidikan berarti mengabaikan fondasi kredibilitas. Di tengah zaman yang serba cepat dan penuh manipulasi, formalitas menjadi filter—pembatas antara yang sah dan yang palsu. Ia adalah cara kita menjaga mutu dan mencegah terjadinya pembajakan intelektual.

Dalam konteks ini, formalitas adalah saksi bisu atas kualitas yang melekat pada pemiliknya. Ia menjamin bahwa kualitas itu bukan fiktif, bukan hasil manipulasi, dan bukan produk instan.

Ketika sebuah perguruan tinggi memberikan gelar kepada seseorang, maka di sana ada bukti administratif yang sah, ada proses akademik yang telah dilalui, dan ada tanggung jawab moral yang menyertainya.

Wisuda bukan sekadar seremoni, melainkan pengukuhan bahwa seseorang telah melewati tahapan pembelajaran yang terstruktur, terukur, dan dapat diuji kebenarannya.

Ijazah, nilai formal, dan dokumen akademik lainnya adalah bagian dari kontrak sosial antara seorang sarjana dan masyarakat. Nilai-nilai itu menjadi pengingat bahwa ilmu bukan hanya harus dimiliki, tapi juga harus dibagikan dan dipertanggungjawabkan. Ia menjadi cimeti—cambuk yang senantiasa mengingatkan seorang sarjana untuk menjunjung tinggi integritas dan terus menebar kebermanfaatan di mana pun berada.

Dalam dunia yang makin penuh tipu daya, mari kita tegakkan kembali pentingnya formalitas sebagai penjaga kualitas. Karena hanya dengan menghargai proses, kita bisa menghasilkan lulusan yang bukan hanya bergelar, tapi benar-benar berilmu dan beradab.

“Terlalu Masya Allah untuk Dituliskan”: Catatan Tiga Bulan Pengabdian di Sudu

0

Sebuah catatan reflektif dari Siti Mardia, Mahasiswi Program Praktik Kerja Dakwah (PKD) STIS Hidayatullah Balikpapan, yang bertugas di Kampus Pesantren Hidayatullah Sudu, Enrekang.

Saya tidak pernah benar-benar tertarik ikut Program Kaderisasi Dakwah (PKD). Bahkan kalau boleh jujur, keinginan itu nyaris tidak ada. Tapi ketika sesuatu sudah menjadi kewajiban, pilihan pun tidak lagi relevan.

Maka saya berangkat, dengan hati yang masih menggenggam tanda tanya, menuju tempat yang hanya saya kenal dari cerita orang: Pondok Pesantren Hidayatullah Enrekang, Sudu.

Nama saya Siti Mardia, mahasiswi Hukum Keluarga dari STIS Balikpapan. Bersama seorang sahabat sealmamater, Khairunnisa asal Palu, kami ditugaskan ke Enrekang, Sulawesi Selatan, selama tiga bulan untuk mengabdikan diri melalui PKD. Sebuah pengabdian yang, belakangan saya sadari, bukan hanya menuntut fisik dan waktu, tapi juga hati dan keberanian menghadapi diri sendiri.

Sebelum berangkat, saya sempat mendengar cerita dari peserta PKD tahun lalu tentang kondisi pesantren ini. Gambaran kasar mulai terbentuk di kepala—tentang kehidupan santri, masyarakat sekitar, dan tantangan yang mungkin saya hadapi. Tapi tetap saja, teori tak pernah mampu sepenuhnya mempersiapkan kita untuk kenyataan.

Di pesantren ini, terdapat sekitar 94 santri mukim—68 putri dan 26 putra—dan sekitar 10 kepala keluarga yang tinggal di dalam kampus. Kampus ini dikenal dengan program unggulannya, yaitu tahfidz.

Saya dan Khairunnisa mencoba menyesuaikan diri secepat mungkin. Kami terjun langsung: mengontrol shalat dan kebersihan santri, menerima setoran hafalan, mengajar tahsin, hingga mengisi kelas mufrodat.

Selain itu, saya juga terlibat dalam menyusun dan menjalankan beberapa program utama seperti dauroh matan jazariyyah, tahsin, tahfidz, dan puncaknya adalah wisuda tahfidz.

Wisuda itu menjadi momen paling berkesan sekaligus paling menegangkan. Segala persiapan yang kami lakukan terasa seperti ujian akhir dari seluruh proses. Pada hari-H, saya nyaris menyerah. Bukan karena kurangnya semangat, tapi karena segala sesuatu yang tampak tidak berjalan sesuai rencana.

Namun alhamdulillah, acara tetap berjalan. Tidak sempurna, tapi cukup untuk membuat dada kami mengembang lega. Kami menyaksikan para santri berdiri dengan bangga di atas panggung kecil—hasil dari upaya panjang yang kami mulai dengan niat sederhana: membawa perubahan yang baik.

Salah satu kenangan paling manusiawi justru hadir di luar jam tugas. Saya masih ingat betul saat pengurus mengajak kami jalan-jalan melepas penat. Sebuah gestur kecil yang bermakna besar: pengakuan, penerimaan. Di situlah saya merasa mulai menjadi bagian dari mereka.

Tantangan terbesar selama PKD bukan datang dalam bentuk konflik atau perbedaan budaya—karena Alhamdulillah, saya tidak mengalami hambatan berarti. Justru tantangannya datang dari dalam diri sendiri.

Di tengah aktivitas dakwah dan pendidikan itu, saya tersadar betapa sedikitnya ilmu yang saya miliki, dan betapa besar kebutuhan cabang terhadap orang-orang yang benar-benar berilmu. Saya mulai melihat kekurangan diri sendiri tidak sebagai hambatan, tapi sebagai bahan bakar untuk belajar lebih sungguh-sungguh.

Interaksi dengan para santri, ustadz, hingga wali murid membuka mata saya akan keberagaman karakter manusia. Saya makin yakin bahwa Allah menciptakan manusia dengan sifat dan latar belakang yang beragam agar kita belajar untuk saling memahami.

Salah satu momen reflektif yang mendalam adalah ketika saya diminta membetulkan bacaan Al-Qur’an wali murid TK. Di situ saya benar-benar merasa: inilah makna dakwah yang sesungguhnya—menjadi manfaat, di mana pun, bagi siapa pun.

Pengalaman ini tidak serta-merta mengubah cita-cita saya, tapi jelas memperluas cara pandang saya terhadap dakwah. Jika dulu saya hanya berpikir jangka pendek, kini saya tahu bahwa dakwah bukan hanya soal berbicara di depan umum atau memimpin majelis ilmu.

Dakwah juga soal mengisi kekosongan, menjahit yang sobek, dan menjadi bagian dari wasilah menuju kebaikan-kebaikan.

Saya tidak merasa telah memberikan kontribusi besar di tempat tugas ini. Tapi setidaknya, saya mencoba menghadirkan niat baik. Para santri dan ustadz di sini, secara lahiriah, menerima kami dengan tangan terbuka. Dan walaupun saya tidak tahu bagaimana penilaian mereka yang terdalam, saya belajar untuk tidak berburuk sangka.

Jika diberi kesempatan mengikuti PKD lagi, saya ingin membawa sesuatu yang belum pernah ada di cabang tersebut. Saya ingin melengkapi apa yang belum kami lengkapi.

Untuk adik tingkat yang akan menyusul kami nanti, pesan saya sederhana: siapkan diri dengan ilmu, datanglah dengan keikhlasan, dan jadilah lebih baik dari kami.

Salah satu prinsip hidup yang semakin kuat dalam diri saya setelah PKD ini berasal dari sabda Rasulullah: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Kutipan ini bukan lagi sekadar kalimat indah di buku catatan, tapi pedoman nyata dalam bertindak.

Pengalaman PKD tiga bulan ini terlalu Masya Allah, sampai saya merasa tak mampu menuliskannya sepenuhnya. Tapi saya tahu, setiap lelah dan peluh yang tertinggal di tanah Enrekang adalah bagian dari jejak yang insya Allah dicatat langit.

(Siti Mardia, Mahasiswi PKD STIS Hidayatullah Balikpapan, periode tugas Februari-April 2025)

Dari Dusun Menro, Saya Belajar Makna Perjuangan

0
Foto kegiatan mahasiswi PKD STIS Hidayatullah Balikpapan di Kampus Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto

Sebuah catatan reflektif dari Atiatul Widad, Mahasiswi Program PKD STIS Hidayatullah Balikpapan, yang bertugas di Kampus Pesantren Hidayatullah Menro, Pinrang.

Saya tidak pernah menduga bahwa salah satu titik balik dalam hidup saya terjadi di tempat yang bahkan sebelumnya belum pernah saya dengar namanya: Dusun Menro, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Di sanalah saya, seorang mahasiswi jurusan Hukum Keluarga dari STIS Hidayatullah Balikpapan, menjalani Praktik Kerja Dakwah (PKD) selama hampir tiga bulan, bersama Fadilah, sahabat seperjuangan sekaligus rekan satu almamater.

Sejak awal, saya tahu bahwa PKD bukan hanya kewajiban akademik semester enam. Ia adalah ruang ujian yang tidak bisa dipelajari hanya di kelas: tentang masyarakat, tentang dakwah, dan lebih-lebih tentang diri sendiri.

Motivasi saya sederhana—ingin belajar dari kehidupan nyata, ingin tahu seberapa siap saya menghadapi masyarakat kelak sebagai seorang dai’yah.

Harapan saya pun tidak muluk-muluk: semoga apa yang kami bawa bisa diterima, membawa dampak baik, dan kami sendiri diberi kesabaran untuk menjalaninya.

Tugas kami di Pondok Tahfidzul Qur’an Hidayatullah Menro cukup beragam. Namun dua program utama yang kami jalankan adalah Daurah Fiqih Shalat dan Daurah Tahsin Al-Qur’an. Kedua program ini kami gagas karena kami melihat langsung urgensinya—shalat yang belum tepat gerakan dan bacaan, serta tajwid yang masih sangat kurang.

Menyampaikan itu kepada santri bukan hanya soal ilmu, tapi juga pendekatan dan kesabaran. Setiap hari kami menerima setoran hafalan dari santriwati, menjadi musyrifah, mengisi kajian ba’da magrib, menjadi pengawas ujian, mengajar anak-anak SMP, dan menjadi penguji ujian tahfidz.

Namun dari semua itu, pengalaman paling menyentuh adalah saat membimbing ibu-ibu majelis ta’lim binaan pondok. Setiap Sabtu, kami mengjarkan al-Qur’an menggunakan metode GranD MBA sistim 8 jam. Ibu-ibu yang hadir rata-rata berusia 50 tahun ke atas, dan banyak dari mereka baru pertama kali belajar membedakan huruf hijaiyah.

Di situlah saya benar-benar belajar arti sabar, arti membimbing dengan hati, dan betapa pentingnya kehadiran dai’yah di tengah-tengah masyarakat yang sangat haus akan bimbingan dasar keislaman.

Saya tidak akan lupa bagaimana antusias mereka mengikuti kelas setiap pekan, datang lebih awal dari jadwal, membawa semangat yang luar biasa. Dari mereka saya belajar bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur’an.

Dan dari situ pula saya mulai merasa bersalah—karena saya merasa belum memberikan cukup. Mereka haus akan bimbingan, dan saya baru menyadari betapa banyak umat ini yang tertinggal dalam hal paling mendasar dari Islam: membaca firman Allah dengan benar.

Tentu ada tantangan, terutama di masa awal adaptasi. Mengenali lingkungan, karakter santri yang beragam, hingga belajar menyesuaikan jadwal dan kebutuhan pondok dalam waktu singkat. Tapi saya percaya bahwa keberhasilan adaptasi selalu dimulai dari kesediaan untuk membaca keadaan dan merendahkan ego. Saya mencoba berbaur, ta’aruf dengan santri, membuka ruang interaksi tanpa sekat, dan perlahan semua menjadi lebih mudah dijalani.

Meskipun tak ada tantangan besar yang membuat saya ingin menyerah, tapi ada satu hal yang saya sadari: proses itu tidak instan. Baik dalam mengubah kebiasaan, menanamkan semangat belajar, atau membentuk hubungan yang bermakna. Semua butuh waktu, dan di situlah pentingnya jiwa yang lapang dan kesabaran yang terus dijaga.

Dari sini, saya belajar tentang diri saya sendiri: bahwa saya bisa lebih sabar dari yang saya kira, bahwa keikhlasan bukan datang tiba-tiba tapi tumbuh seiring proses. Saya belajar bahwa waktu adalah ruang perjuangan, bukan hanya untuk orang lain, tapi juga melawan ego dan kelelahan diri sendiri.

Yang paling berat bukan fisik. Tapi menahan harapan agar segera terlihat hasilnya. Padahal perubahan itu butuh waktu. Butuh proses. Butuh istiqamah. Di sinilah saya belajar menghargai setiap langkah kecil dalam perubahan, entah dari diri saya atau dari orang-orang yang saya dampingi.

Dari PKD ini saya menemukan makna baru dari kata perjuangan. Ia bukan hanya tentang bergerak dan sibuk, tapi juga tentang melawan keinginan untuk diam, untuk menyerah, dan untuk acuh. Saya belajar bahwa setiap waktu adalah ladang dakwah—kepada masyarakat, kepada santri, bahkan kepada ego saya sendiri.

Saya pun jadi lebih mengerti bahwa kebutuhan umat ini sangat nyata. Ibu-ibu yang masih asing dengan huruf Qur’an, anak-anak yang menghafal tapi belum sempurna tajwidnya, masyarakat yang butuh bimbingan tapi kurang pendamping. Semua ini membuat saya merasa bersalah sekaligus terdorong—karena saya belum memberi sebanyak yang seharusnya, dan karena mereka sangat layak mendapat lebih banyak.

Pengalaman ini juga membuka pandangan baru saya terhadap peran da’i dan da’iyah. Bahwa menjadi paham tidak cukup. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu itu bisa disampaikan, dipahami, dan diterima oleh orang lain. Maka latihan menyampaikan, membimbing, dan mendengar menjadi keterampilan yang tidak bisa ditunda lagi untuk dikuasai. Dakwah bukan sekadar ceramah di mimbar, tapi tentang hadir, membersamai, dan mendidik dengan penuh kesabaran.

Saya bersyukur, lingkungan pondok dan masyarakat di Pinrang sangat menerima kami. Para ustaz dan pengurus, semuanya sangat mendukung dan terbuka. Warga kampus yang terdiri dari 7 kepala keluarga, serta 130 santri mukim (70 putra, 60 putri), menjadi rumah belajar yang hangat bagi kami. Mereka membuat kami merasa dibutuhkan—dan itu adalah salah satu bentuk penghargaan tertinggi yang bisa dirasakan oleh seorang dai.

Jika kelak saya diberi kesempatan PKD kembali, saya ingin lebih memaksimalkan waktu, membawa lebih banyak bekal ilmu, dan memperluas dampak.

Saya juga ingin adik-adik tingkat yang akan berangkat nanti mempersiapkan bukan hanya niat, tapi juga kompetensi—minimal dalam tahsin. Karena berhadapan dengan para penghafal Al-Qur’an, bukan hanya kesiapan mental yang dibutuhkan, tapi juga kelayakan teknis.

Dalam tiga bulan ini, saya benar-benar merasa menjadi bagian dari masyarakat ketika mereka mulai berkata, “Kak, kalau bisa jangan cepat pulang.” Kalimat itu lebih dari cukup untuk menyadarkan saya bahwa kami tidak sekadar hadir, tapi juga telah membekas.

Dan akhirnya saya tahu, bahwa dakwah tidak harus menunggu menjadi sempurna. Dakwah adalah tentang keberanian memulai, kesungguhan untuk belajar, dan ketulusan untuk terus menemani mereka yang belum tahu, agar kelak bisa bersama-sama menuju cahaya.

Seorang guru pernah berkata kepada saya: “Selama masih berpijak di bumi Allah, tugas kita adalah menjadi khalifah, entah terhadap diri sendiri atau sekitar.” Itulah yang menguatkan saya. Dan jika ada satu kata untuk mengenang pengalaman PKD ini, maka kata itu adalah: perjuangan.

Di titik ini, saya tahu bahwa momen paling mengubah bukan hanya saat saya berbicara di depan majelis atau menguji hafalan, tapi saat saya menyadari bahwa saya dibutuhkan. Saat tenaga, waktu, dan ilmu saya diharapkan hadir untuk membentuk masa depan seseorang. Dan mungkin itulah makna dakwah yang sesungguhnya—hadir, memberi, lalu kembali dalam diam, tapi meninggalkan jejak yang terus tumbuh.

(Atiatul Widad, Mahasiswi PKD STIS Hidayatullah Balikpapan, periode tugas Februari-April 2025)

Roadshow Qur’ani Hidayatullah Parepare Sasar Enrekang dan Tana Toraja

0
Tim PPDB Hidayatullah Parepare di depan banner informasi PPDB yang terpasang di Rante Limbong, Enrekang.

Untuk menguatkan sinergi dan menyosialisasikan program pendidikan berbasis Al-Qur’an, Tim PPDB Hidayatullah Parepare menggelar kegiatan bertajuk Roadshow Qur’ani selama dua hari kemarin, pada Ahad-Senin, 4–5 Mei 2025 (6–7 Dzulkaidah 1446 H).

Kegiatan ini berlangsung di dua wilayah, yaitu Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Tana Toraja.

Di hari pertama, tim menyambangi daerah Rante Limbong, Desa Buntu Barana, di Kec. Curio yang berada di kawasan perbatasan Enrekang–Tana Toraja.

Kunjungan diawali dengan silaturahmi dan dialog bersama tokoh masyarakat, termasuk Ibu Dinar, S.Ag, penyuluh agama Kabupaten Tana Toraja. Dalam pertemuan itu, tim menyampaikan maksud untuk membangun sinergi dalam upaya mencetak generasi Qur’ani di wilayah tersebut.

Agenda utama hari itu adalah sosialisasi dan Daurah Qur’an yang digelar selepas sholat subuh di Masjid Al-Hilal Rante Limbong. Kegiatan ini disambut antusias oleh jamaah. Tim PPDB memaparkan visi mencetak generasi Rabbani—yakni keluarga yang hidup bersama Al-Qur’an dan mencerminkan akhlak Qur’ani secara istiqamah. Disampaikan pula pentingnya peran orangtua dalam menghadirkan pendidikan karakter Islami di tengah gempuran pengaruh teknologi.

Merespons kegiatan ini, Ibu Dinar menyampaikan apresiasinya, “Saya kira ini menjadi langkah konkret dan jawaban atas kebutuhan kita akan pencerah di kampung ini. Anak-anak kita bisa kita utus untuk menempuh pendidikan Qur’ani di sana. Kami berharap ada tindak lanjut dalam bentuk pembinaan,” ungkapnya.

Kegiatan berlanjut pada hari kedua di Kabupaten Tana Toraja. Tim PPDB mengisi pengajian gabungan Majelis Ta’lim Shihhatul Iman di Buntu Limbong yang dihadiri oleh lebih dari 70 jamaah.

Dengan tema “Membangun Keluarga Rabbani, Keluarga yang Cinta Qur’an,” tim menyampaikan pesan bahwa ketenangan hidup dapat diperoleh melalui kedekatan dengan Al-Qur’an, mengutip sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam penutup, tim mengajak seluruh jamaah untuk membangun sinergi demi melahirkan keluarga yang senantiasa bersama Al-Qur’an hingga akhir hayat, sembari mengingatkan pentingnya berbuat ihsan dalam kehidupan, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-A’raf: 56, “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Tim PPDB Hidayatullah Parepare yang terlibat dalam roadshow ini terdiri dari Ketua DPD Hidayatullah Kota Parepare Ustadz Ahmad Syahril, S.Pd.I, Ketua Yayasan Ar Risalah Ustadz Abdul Jabbar, S.E. , serta Kepala Sekolah SMA Hidayatullah Parepare Ustadz Kadir, S.E.

(Abu Haniyyah/Parepare)

Setipis Tisu, Setegar Batu: Catatan Dari Dua Bulan Sepuluh Hari di PTC Auladi

0

Sebuah catatan reflektif dari Miftakhul Jannah, Mahasiswi Program Praktik Kerja Dakwah (PKD) STIS Hidayatullah Balikpapan, yang bertugas di Kampus Pesantren Tahfizh Cilik Auladi, Jeneponto.

Bayangkan kesabaranmu hanya setipis tisu. Lalu, hari-harimu diisi oleh tawa, tangis, rengekan, dan pertanyaan dari anak-anak usia 6–12 tahun, selama 24 jam tanpa jeda. Itulah realitas saya selama dua bulan sepuluh hari menjadi pengasuh di Pondok Tahfidz Cilik (PTC) Yayasan Auladi Jeneponto.

Ini bukan sekadar tugas PKD. Ini adalah ujian kesabaran dan pelajaran tentang keteladanan serta cinta yang tak bisa diajarkan lewat teori.

Saya dan Fatma Fatimah, rekan satu almamater di STIS Hidayatullah Balikpapan, awalnya tak pernah menyangka PKD akan menjadi perjalanan paling sunyi namun begitu dalam.

Berbekal SK yang dibacakan pada Februari 2025 lalu, kami berangkat ke Dusun Bulu-Bulu, Desa Pallantikang, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto—tempat yang sebelumnya hanya kami tahu lewat briefing.

Saya berharap kami bisa memberi manfaat, diterima hangat, dan meninggalkan kesan baik bagi para santri. Namun ternyata, saya justru lebih banyak belajar: tentang menerima, memahami, dan berserah—bukan pada keadaan, tapi kepada Allah yang Maha Mengatur segalanya, termasuk jatuh-bangun emosi seorang pengasuh.

Di Auladi, kami bertugas di dua unit utama: PTC dan PTM (Pendidikan Takhassus Murobbiyah). Setiap hari dimulai sejak ba’da subuh: mengajar bahasa Arab, mendampingi tasmi’ dan tadarrus one day one juz.

Saya juga menjadi pengasuh asrama Al-Fatih, musyrifah level 3, bahkan menyampaikan ceramah selama Ramadhan serta mengikuti halaqah Sabtu bersama para ummahat.

Tapi amanah paling menantang adalah menjadi pengasuh. Tidak ada istilah “libur emosi” di asrama. Bangunkan anak-anak untuk sholat tahajjud adalah ujian pertama dari banyaknya perjuangan batin.

Bayangkan anak enam tahun terbangun dini hari, menangis, sembunyi di balik lemari, atau pindah-pindah kasur demi kembali tidur. Di situ saya paham: dakwah bukan soal ceramah, tapi tentang hadir dan sabar—setiap hari, tanpa jeda. Saya tak boleh menyerah, meski tubuh sudah kelelahan.

Menjadi pengasuh anak laki-laki usia 6–12 tahun selama hampir tiga bulan bukan tugas biasa; ini perjalanan ruhani. Mulai dari membangunkan mereka, mengusap air mata karena rindu rumah, menyisir rambut agar rapi, hingga menguatkan mereka menghafal Al-Qur’an—semua itu berat tapi bermakna.

Saya pun jatuh sakit—cacar air menjelang wisuda Daurah. Saat itu, beberapa santri juga sakit, dan saya tetap merawat mereka. Hingga akhirnya saya sendiri tumbang. Tapi saya percaya, itu cara Allah memberi jeda. Saya diam, merenung, lalu bangkit.

Yang paling membekas dari pengalaman ini adalah pentingnya keteladanan. Di hadapan anak-anak, kita tak bisa hanya memerintah; kita harus menjadi contoh. Ketika kita menyeru mereka ke masjid, kita harus sudah ada di sana. Mereka akan jujur berkata, “Suruh kita jamaah, pengasuhnya sendiri tidak.” Itu kritik paling tajam—dan paling jujur.

Dari PTC, saya belajar bahwa menjadi pengasuh bukan soal kesempurnaan, tapi soal tumbuh bersama. Menahan ego, mendengar, memberi ruang untuk mereka bicara, lalu perlahan membimbing.

Setiap hari menguji emosi dan mental. Saya belajar mengambil jeda, berdiskusi dengan ustadzah, dan selalu kembali kepada Allah. Saya menyadari, dakwah bukan soal bicara di mimbar, tapi tentang hadir dalam lelah, menundukkan ego, dan bersabar dalam interaksi sehari-hari.

Budaya yang berbeda, bahasa yang asing, dan gaya hidup yang baru—semua itu menjadi tantangan sekaligus cermin diri. Saya belajar menyesuaikan, mengamati, dan beradaptasi. Hingga akhirnya, saya merasa menjadi bagian dari keluarga Auladi.

Kami disambut hangat oleh para ustadz dan ustadzah, warga yang ramah, dan santri yang mulai terbuka. Ketika seorang anak memeluk dan berkata, “Kak, jangan cepat pulang,” saya tahu, saya sedang berada di jalan yang benar.

Pesan seorang guru yang selalu saya ingat: “Kita yang berjalan di jalan dakwah ini sedang menuju hidayah Allah. Sejauh mana kita terpanggil, sebesar itu pula kemuliaan yang akan kita dapat.”

Dari situ saya sadar, ini bukan tentang rutinitas atau hafalan. Ini tentang masa depan umat.

Saya mungkin tak mengingat tanggal-tanggal atau jumlah kegiatan. Tapi saya akan selalu ingat rasa: menahan emosi, menenangkan anak sakit, dan bersyukur ketika sabar yang setipis tisu berubah jadi sekuat batu—karena Allah.

Dua bulan sepuluh hari terasa singkat, tapi cukup untuk menanam tekad bahwa suatu hari saya ingin kembali—bukan sebagai mahasiswi PKD, tapi sebagai dai’yah yang lebih matang.

Untuk adik-adik yang akan menjalani PKD: siapkan diri, bukan hanya dengan hafalan dan teori, tapi dengan hati yang lapang dan jiwa yang siap diuji. Karena ketika lelah sudah tak tertahankan, hanya Allah yang akan menjadi alasanmu bertahan. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Jeneponto menyambut kami hangat. Para ustadzah memberi arahan lembut, warga terbuka, dan kami merasa menjadi bagian dari impian besar Auladi: mencetak penghafal Qur’an dan calon murobbiyah masa depan.

Meski begitu, saya melihat perlunya penguatan kurikulum dan SDM kepengasuhan. Harapannya, yayasan ini terus berkembang sebagai pusat kaderisasi dakwah yang unggul.

Untuk kampus saya, semoga STIS Hidayatullah terus melahirkan dai dan dai’yah tangguh, dengan kurikulum yang tidak hanya ilmiah tapi relevan dengan realitas lapangan.

Jika diberi kesempatan lagi, saya ingin lebih banyak memberi. Bukan hanya secara fisik, tapi juga ruhani dan intelektual.

(Miftahul Jannah, Mahasiswi PKD STIS Hidayatullah Balikpapan, periode tugas Februari-April 2025)

Rindu yang Lupa Dijemput

0
Potret salah satu kegiatan mahasiswi PKD STIS Hidayatullah Balikpapan d Sulsel.

Sebuah catatan reflektif dari Najmatun Jihadiyah, Mahasiswi Program PKD STIS Hidayatullah Balikpapan, yang bertugas di Kampus Pesantren Hidayatullah Bungadidi, Luwu Utara.

Ada kalimat yang diam-diam terus tinggal di benakku hingga kini: “Rindu yang lupa dijemput.” Itulah yang kurasakan terhadap tiga bulan masa PKD-ku di Pesantren Hidayatullah Bungadidi. Aneh, bukan? Rindu, tapi tak pernah betul-betul pamit. Seolah sebagian hatiku masih tertinggal di sana, di tengah kesederhanaan yang justru membuatku merasa penuh.

Aku Najmatun Jihadiyyah, dari Sangatta, Kalimantan Timur. Di STIS Balikpapan, aku menempuh pendidikan di Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah. PKD tahun ini membawaku ke Yayasan Al-Azhar Pondok Pesantren Hidayatullah Bungadidi, di Sulawesi Selatan. Amanah ini kujalani bersama rekan satu almamaterku, Nurul Amani—sosok yang menjadi teman seperjuangan dan tempat berbagi di tengah segala keterbatasan.

Keikutsertaanku dalam program ini bukan karena tuntutan akademik semata. Sejak awal, niatku sederhana: ingin berbagi ilmu yang selama ini kuterima di bangku kuliah. Aku hanya ingin mengajar—mengajar, dan terus mengajar. Kupikir, dengan mengajar, aku bisa memberi. Tapi ternyata, aku lebih banyak menerima.

Bayanganku tentang tempat tugas ini begitu idealis: santri dengan hafalan yang luar biasa banyaknya, disiplin tinggi, dan penuh semangat. Kenyataannya? Jauh dari bayangan, tapi justru di situlah pelajarannya.

Hari-hari kami dipenuhi aktivitas padat: mengisi daurah Qur’an, mengajar tahsin, imla’, tajwid, bahkan memperkenalkan mufrodats—kosakata dasar bahasa Arab. Aku terlibat penuh dalam program diniyah dan penguatan bacaan Qur’an. Tapi satu hal yang tak mudah kulalui adalah mengubah pola ucapan keseharian santri. Mereka terbiasa dengan dialek khas daerah yang sangat kuat. Untuk sekadar mengucapkan “alif ba ta” dengan makhraj yang benar, butuh lebih dari sekadar pengulangan. Butuh kesabaran, ketelatenan, dan pendekatan yang lembut.

Aku belajar satu hal yang sangat berharga: bahwa setiap manusia punya sifat, kebiasaan, dan latar belakang yang harus kita pahami sebelum kita menyentuh hati mereka. Bukan sekadar memberi materi, tapi membangun hubungan. Dan kadang, kita harus “ikut saja alurnya,” seperti air yang mencari celah, bukan memaksa arusnya sendiri.

Santri-santri di Bungadidi cepat bosan dengan metode pembelajaran yang monoton. Mereka butuh variasi. Aku pun ditantang untuk kreatif: mengubah metode, menyisipkan cerita, memberi motivasi. Setiap harinya menjadi ruang eksperimen yang melelahkan, tapi sangat bermakna. Terkadang, keberhasilan kecil seperti satu anak yang akhirnya bisa membaca dengan tartil, terasa lebih membanggakan dari nilai A dalam transkrip akademik.

Selama tiga bulan itu, satu-satunya tantangan bukan pada fisik atau spiritual—tapi sifat “tidak enakan” dalam diriku sendiri. Rasanya berat sekali menegur atau menyampaikan ketidaksesuaian. Tapi justru dari situ, aku belajar tentang keberanian dan keikhlasan. Bahwa untuk bisa bermanfaat, kita kadang harus belajar menjadi tegas.

Santri dan warga kampus—jumlahnya tak lebih dari tiga keluarga mukim dan 40-an santri—menyambut kami dengan hangat. Mereka antusias terhadap setiap program yang kami inisiasi. Dan dari ustadz-ustadzah pun kami menerima banyak masukan. Salah satu hal penting yang sering kami dengar adalah perlunya menekankan lagi program tahsin dan bahasa Arab. Sebab pondok ini punya potensi besar, namun masih perlu penguatan program dan promosi yang lebih luas.

Kalau ditanya kontribusi apa yang kuberikan? Mungkin tak besar. Tapi aku mencoba hadir sepenuhnya—dengan ilmu, dengan waktu, dengan tenaga. Karena kurasa, itu yang paling dibutuhkan di tempat ini: keterlibatan yang utuh, bukan sekadar hadir fisik.

Ada satu momen yang mengubah pandanganku tentang dakwah. Saat aku berbincang dengan salah satu tenaga pengajar setempat. Ia bercerita tentang perjuangan mengajar tanpa latar akademik yang mumpuni, namun dengan niat yang lurus. Di sana aku sadar, bahwa dakwah bukan milik mereka yang bergelar tinggi, tapi milik siapa saja yang ingin memberi. Bahkan ketika harus memulai dari nol.

Realitas di lapangan begitu kontras dengan teori di kelas. Ilmu yang kami bawa sangat bermanfaat, tapi tetap saja—ketertinggalan yang ada membuat semuanya harus dimulai dari paling dasar. Dan satu hal yang membuatku miris adalah persoalan kebersihan lingkungan sekitar. Hal kecil, tapi cukup mencerminkan betapa banyak aspek yang masih perlu dibenahi.

Meski begitu, justru setelah Ramadhan, aku merasa benar-benar menjadi bagian dari pesantren ini. Ada rasa kepemilikan, rasa bahwa ini bukan hanya tempat tugas, tapi rumah kedua. Dari sana pula, cita-citaku tentang arah dakwah ke depan mulai terbentuk lebih jelas. Aku ingin terus terlibat di bidang pendidikan. Aku ingin melihat anak-anak daerah seperti mereka bisa belajar lebih baik, lebih layak.

Jika diberi kesempatan untuk PKD lagi, aku akan membawa lebih banyak: lebih banyak ilmu, lebih banyak waktu, lebih banyak cinta. Dan kepada adik-adik tingkatku nanti, pesanku sederhana: hilangkan semua prasangka negatif. Tempat yang akan kau datangi bisa saja menjadi jalanmu menuju surga.

Kepada kampus almamater tecinta, aku hanya ingin berkata: semoga semua ilmu yang ditanamkan kepada kami bisa kami sebarkan kembali. Dan untuk tempat tugas seperti Bungadidi, mungkin perlu pembinaan yang lebih intensif dari sisi manajemen dan jati diri pondok.

Dan akhirnya, ketika pertama kali mataku memandang lokasi tugas, tanpa sadar aku bergumam dalam hati: “Inilah makna dakwah.” Tak mewah, tak nyaman, tapi justru di situlah keberkahan itu tumbuh. Dakwah bukan tentang banyaknya yang kita bawa, tapi tentang keberanian untuk mulai—dan bertahan.

Begitu banyak kenangan yang tersimpan. Tapi kalau harus memilih satu kalimat untuk mengenang masa PKD ini, aku akan katakan: “Ini adalah rindu yang lupa dijemput.”

(Najmatun Jihadiyah, Mahasiswi PKD STIS Hidayatullah Balikpapan, periode tugas Februari-April 2025)