Beranda blog Halaman 28

Do It Now!

0

Refleksi Hijrah untuk Tidak Lagi Menunda Kebaikan

Momentum Muharram adalah waktu yang tepat untuk menyalakan kembali semangat hijrah. Hijrah dalam arti yang luas, dengan segala maknanya. Berpindah dari kelalaian menuju kesadaran, dari kemalasan menuju kesungguhan, dari menunda-nunda menuju tindakan nyata.

Hijrah adalah gerak. Ia bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah sikap dan niat. Ia lahir dari introspeksi diri yang jujur, dan tumbuh dari semangat untuk terus memperbaiki hidup, seiring dengan bertambahnya waktu dan usia.

Setiap waktu yang kita miliki adalah ladang amal, kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan menebar kebaikan. Dan peluang seperti itu tidak selalu terulang. Maka bertindak sekarang jauh lebih baik daripada hanya merencanakan besok.

Seringkali, kita terlalu sibuk menunggu momen paling sempurna untuk mulai melangkah. Padahal, kemajuan tidak datang dari kesempurnaan, tapi dari keberanian untuk memulai, sekecil apa pun langkah itu. Kuncinya adalah komitmen terhadap pertumbuhan, baik secara moral, spiritual, maupun intelektual.

Tentu, sebagai muslim, kita tetap harus mempertimbangkan segala sesuatu dengan akal dan hati yang jernih. Namun setelah yakin dengan langkah yang akan diambil, jangan ragu untuk segera bertindak.

“Jika engkau punya niat baik, maka segeralah wujudkan.”

Begitulah semangat para pembaharu sepanjang sejarah Islam. Mereka tidak menunda. Karena menunda bisa berarti lalai, dan kelalaian bisa menuntun pada penyesalan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ambillah manfaat dari lima perkara sebelum lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.”
(HR. Al-Hakim)

Hadis ini adalah peringatan sekaligus motivasi. Jangan sia-siakan waktu dan nikmat Allah, apalagi dengan alasan malas, lalai, atau menunggu yang tidak pasti. Bisa jadi, menunda adalah bentuk tidak mensyukuri nikmat-Nya.

Di awal tahun 1447 H ini, Muharram menjadi saat yang tepat untuk muhasabah diri, memperbaharui niat, dan melangkah lebih jauh dengan semangat perubahan. Al-Qur’an menyeru:

“Bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seperti langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali Imran: 133)

Taqwa adalah modal utama, dan pembersihan jiwa (tazkiyyah) adalah jalannya. Jiwa yang bersih, pikiran yang jernih, dan hati yang tunduk kepada Allah, itulah yang mendorong semangat hijrah menjadi nyata.

Iman yang tumbuh dalam dada akan menumbuhkan spirit untuk bertindak, mencipta, berprestasi, dan memberi manfaat bagi sesama. Maka jangan katakan “besok”, jika hari ini Allah masih memberi kita waktu.

PD Mushida Lutim Gelar Training Parenting 2 di Towuti, Bekali Orang Tua Hadapi Tantangan Zaman

0

Towuti, 29 Juni 2025 — Pengurus Daerah (PD) Mushida Luwu Timur sukses menyelenggarakan Training Parenting 2 pada Sabtu–Ahad, 28–29 Juni 2025. Kegiatan bertema penguatan peran keluarga ini digelar di Gedung MIS Darul Ilmi Hidayatullah, Towuti, dan diikuti oleh para anggota Mushida dari berbagai kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan.

Acara yang terselenggara dengan dukungan penuh Pengurus Wilayah (PW) Mushida Sulsel tersebut, merupakan rangkaian kegiatan serupa yang digelar beberapa waktu lalu di Kampus Hidayatullah Panyula, Bone.

Training Parenting Mushida Sulsel. Perkuat Wawasan Berumah Tangga Kader

Acara dibuka secara resmi pada Sabtu pagi oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Luwu Timur, Nursih Hariani, yang menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya pelatihan tersebut.

“Pelatihan seperti ini sangat penting dalam membentuk pola asuh berbasis nilai Islam, dan sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan keluarga,” ungkapnya dalam sambutan.

Turut hadir dalam acara pembukaan para tokoh masyarakat, perwakilan organisasi Islam, petugas lapangan KB (PLKB), jajaran pemerintah kecamatan, serta anggota majelis taklim setempat. Kehadiran mereka menjadi bentuk nyata dukungan terhadap upaya peningkatan kapasitas orang tua dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk pengaruh budaya digital terhadap generasi muda.

Selama dua hari pelatihan, peserta mendapatkan materi tematik seputar: visi misi pernikahan dalam Islam, mengaqilbalighkan anak, menjaga keharmonisan rumah tangga, meneladani pola hidup Rasulullah ﷺ, menjaga fitrah wanita, serta pentingnya birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Seluruh materi disampaikan secara interaktif dan aplikatif agar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

PW Mushida Sulsel dalam pernyataan penutupnya menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh pihak yang terlibat, sekaligus berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara berkala di berbagai wilayah lainnya.

“Kami berharap pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam membentuk keluarga muslim yang kokoh, visioner, dan mampu mendidik generasi masa depan dengan nilai-nilai keimanan dan keteladanan Rasulullah,” ujar salah satu pengurus wilayah.

(Opikwana/Mushida Lutim/hidayatullahsulsel.or.id)

Tidur yang Menginspirasi

0

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah tonggak perubahan menuju kemuliaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah. Beliau bukan hanya meninggalkan Makkah, tetapi memulai peradaban baru yang penuh perjuangan, pengorbanan, dan pada akhirnya kemenangan.

Demikian pula kisah Ashhabul Kahfi, sekelompok pemuda beriman yang memilih bersembunyi di dalam gua. Sekilas, hijrah mereka tampak pasif. Tidak ada deklarasi, tidak membentuk gerakan, tidak membangun kekuatan. Yang mereka lakukan hanyalah tidur. Benar-benar tidur. Dan bukan sehari dua hari, tapi selama lebih dari tiga abad, tepatnya 350 tahun.

Namun, yang menjadikan hijrah mereka mulia bukan karena tidurnya, melainkan alasan di balik hijrah itu: mereka meninggalkan lingkungan penuh kemusyrikan dan kezaliman, demi menjaga keimanan mereka tetap utuh. Itu adalah bentuk tertinggi dari hijrah spiritual.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Kahfi: 16:

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung di dalam gua itu. Niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.”

Dalam Tafsir Al-Wajiz, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan:

“Apabila kamu meninggalkan kaum dan sesembahan mereka selain Allah, maka carilah perlindungan di gua. Niscaya Allah akan melindungimu dari gangguan mereka dan memberikan manfaat dalam urusan hidup yang mendesak.”

Hijrah mereka adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap penguasa lalim. Bukan dengan kekuatan fisik, tapi dengan keberanian menyelamatkan iman, yakni dengan berpindah, menjauh dari keramaian, dan memilih kesendirian yang sarat dengan makna. Maka tidurnya Ashhabul Kahfi bukanlah kelemahan, tapi simbol keteguhan iman.

Hijrah adalah perpindahan dari gelap menuju cahaya. Dari batil menuju haq. Dari zona nyaman menuju medan perjuangan yang menyelamatkan iman. Itulah esensi hijrah dalam Islam: penyelamatan keyakinan dan prinsip hidup, bahkan jika harus berkorban kenyamanan.

Hari ini, semangat hijrah tetap relevan. Dalam konteks masyarakat modern, hijrah adalah pergerakan menuju keadaan yang lebih baik: dari malas menjadi produktif, dari lalai menjadi sadar, dari lingkungan rusak menuju pergaulan yang membangun.

Semangat ini menggerakkan kita untuk terus berinovasi, bekerja keras, dan membangun peradaban. Tidak selalu dengan revolusi besar, kadang cukup dengan langkah sederhana. Asal dilakukan dengan niat yang lurus dan istiqamah.

Hijrah Ashhabul Kahfi adalah bentuk jihad dalam kapasitas yang mereka mampu. Totalitas keimanan mereka telah membulatkan tekad untuk memilih tempat dan cara terbaik menyelamatkan keyakinan: sebuah gua sunyi, dengan ketenangan dan pengharapan hanya kepada Allah.

Bukan tidur mereka yang patut dikenang, tapi niat hijrah dan perjuangan mereka menjaga iman di tengah badai kemusyrikan. Itulah kemuliaan sejati dan pelajaran besar bagi kita hari ini.

DPW Hidayatullah Sulsel Akan Gelar Semarak Muharram 1447 H di Kampus Madinatul Izzah Pinrang

0

Makassar, 24 Juni 2025 — Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan akan menggelar kegiatan akbar bertajuk “Semarak Muharram 1447 H” pada Sabtu–Ahad, 12–13 Juli 2025, yang akan dipusatkan di Kampus Pesantren Madinatul Izzah Mubarak, Lamatanre, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang.

Dibingkai dalam kegiatan yang bersifat silatul-ukhuwah, acara ini akan dihadiri oleh seluruh warga dan kader Hidayatullah Sulsel, kader wustha Hidayatullah Sultrabar, dan murabbi wustha Hidayatullah Sultenggo.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk syiar Islam yang dikemas dalam semangat hijrah dan pembaruan diri, dengan mengusung tema: “Menguatkan Jati Diri Kader Hidayatullah Menuju NKRI Beradab dan Terhormat.”

Selain sebagai pengingat sejarah hijrah Rasulullah shallallahu alayhi wasallam, agenda ini bertujuan untuk memotivasi kader, umat, dan generasi muda agar terus bergerak dari keadaan baik menuju yang lebih baik, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta memperluas pendidikan dan kesadaran keislaman di tengah masyarakat.

Momentum Muharram dipandang istimewa karena membuka lembaran baru dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, ini adalah waktu reflektif yang penuh nilai. Seperti disampaikan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari, M.Pd., “Tahun baru Hijriah bukan hanya tentang pergantian angka, tetapi tentang perubahan sikap dan pembaruan semangat. Inilah yang ingin kita tanamkan melalui Semarak Muharram tahun ini, terutama di kalangan kader dan generasi muda.”

Sejumlah rangkaian kegiatan telah disiapkan selama dua hari penuh. Pada Sabtu, 12 Juli, akan digelar halaqah kubro kader ula dan wustha, taujih Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah, talkshow dan dialog kebangsaan, sosialisasi Munas VI Hidayatullah, serta refleksi Muharram oleh para peserta pilihan.

Tak kalah penting, ada pula berbagai kegiatan sosial dan edukatif terbuka untuk umum seperti pengobatan gratis, donor darah bertarget 1.000 kantong, pentas seni Islami, dan bazar santri dan UMKM yang melibatkan masyarakat sekitar dan komunitas pemuda Islam.

Acara ini sekaligus menjadi bagian dari gelombang Semarak Munas VI Hidayatullah, sebagai lanjutan dari Kick-Off Nasional yang digelar pada 12 Juni 2025 lalu. Semarak ini menjadi panggung konsolidasi kaderisasi nasional sekaligus etalase kesiapan wilayah dalam menyongsong Musyawarah Nasional ke-6 Hidayatullah yang akan berlangsung pada 20–23 Oktober 2025 di Jakarta.

Antusiasme juga datang dari berbagai pihak internal Hidayatullah di luar Sulsel. Bahkan sejumlah pengurus pusat dijadwalkan hadir, termasuk jajaran Majelis Penasehat, Dewan Pertimbangan, Dewan Murabbi Pusat, dan Dewan Pengurus Pusat, serta para sesepuh dari Kampus Induk Ummul Qura Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Kader dan pengurus dari wilayah-wilayah lain seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan berbagai kampus utama luar Sulawesi seperti KU Samarinda dan KM Berau terkonfirmasi juga akan turut memeriahkan acara ini.

Ketua Panitia, Ustadz Sarmadani, S.E., menyatakan bahwa kegiatan ini adalah bentuk konkret syiar Islam yang menyentuh hati dan semangat umat. “Kami tidak hanya ingin mengisi Muharram dengan seremoni, tapi menghadirkannya sebagai ajang pembinaan ruhiyah, intelektual, dan sosial secara menyeluruh, terutama bagi pemuda,” ujarnya.

Didampingi oleh sekretaris panitia, Ustadz Abdul Jabbar, S.E., dan bendahara panitia, Ustadz Ir. Anwar Baits, keduanya juga memastikan bahwa semua persiapan telah dimatangkan demi kesuksesan acara.

Puncak kegiatan akan berlangsung pada Ahad pagi, 13 Juli 2025 / 17 Muharram 1447 H, dalam bentuk Tabligh Akbar dengan tema “Refleksi Hijrah: Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Kebangkitan Menuju Indonesia Emas 2045.” Acara akan diisi langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Nashirul Haq, Lc., M.A., dan diawali dengan pemancangan tiang pembangunan Masjid Pesantren Madinatul Izzah Mubarak oleh Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid.

Kegiatan puncak ini akan ditutup secara simbolis dengan penanaman 1.000 pohon, sebagai simbol kesadaran ekologis dalam perjuangan dakwah yang berkelanjutan.

Dengan semangat hijrah, DPW Hidayatullah Sulsel mengajak seluruh kader, warga, dan masyarakat untuk menjadikan momen Muharram ini sebagai titik tolak pembaruan nilai, memperteguh iman, serta mempererat solidaritas dalam membangun Indonesia yang beradab, kuat, dan dirahmati Allah Ta’ala.

Al Hikmah Islamic School Hidayatullah Bulukumba Gelar Haflah Akhirussanah 2025, Siswa Diwisuda Penuh Haru dan Semangat

0

Bulukumba, 21 Mei 2025 — Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti acara Haflah Akhirussanah Al Hikmah Islamic School Hidayatullah Bulukumba yang digelar pada Rabu, 21 Mei 2025 di Kampus Pratama Hidayatullah Bulukumba. Kegiatan ini menjadi puncak tahunan yang ditunggu-tunggu sebagai simbol pelepasan siswa dari jenjang TK, SMP, hingga SMA.

Acara yang dihadiri oleh jajaran guru, orang tua siswa, serta pembina yayasan ini mengusung semangat syukur dan harapan. Momen wisuda tidak hanya menjadi perpisahan, tetapi juga titik awal perjalanan baru bagi para siswa yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Ketua Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH), Muhammad Erwin, S.Ag, dalam sambutannya menegaskan bahwa Haflah Akhirussanah bukanlah akhir dari proses pendidikan, tetapi bagian dari perjalanan panjang dalam menuntut ilmu dan menumbuhkan akhlak.

“Ini bukanlah akhir, tetapi awal dari perjuangan baru bagi siswa kami. Semoga nilai-nilai pesantren terus mereka bawa dalam kehidupan selanjutnya,” ujarnya.

Acara wisuda diwarnai dengan berbagai penampilan siswa dari masing-masing jenjang, mulai dari persembahan Nasyid, hingga Parade Doa Harian oleh siswa TK yang mengundang decak kagum dan rasa haru. Puncak emosional dirasakan ketika prosesi pelepasan dan perpisahan dengan para alumni SMA yang juga telah menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai pengasuh di lingkungan sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Badan Pembina Yayasan Al-A’raaf Bulukumba, Daeng Taba Irfan Yahya, turut memberikan tausiyah motivatif. Ia menekankan pentingnya membekali generasi dengan ilmu dan akhlak mulia di era digital yang penuh tantangan.

“Jadilah orang tua yang cerdas memilih lingkungan pendidikan anak. Pesantren adalah tempat luar biasa untuk menanamkan nilai Al-Qur’an dan adab. Di sana anak-anak bukan hanya belajar membaca, tetapi juga menghafal, yang satu hurufnya saja bernilai sepuluh kebaikan,” pesan beliau.

Sebagai rangkaian acara, dilakukan juga penyerahan rapor akhir tahun kepada seluruh siswa dari tingkat TK hingga SMA. Selain itu, santri berprestasi dari tiap jenjang menerima sertifikat penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas capaian mereka selama satu tahun ajaran.

Dengan terselenggaranya Haflah Akhirussanah ini, Al Hikmah Islamic School menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi Qur’ani yang unggul dalam ilmu, tangguh dalam iman, dan santun dalam akhlak. Wisuda tahun ini menjadi bukti nyata dari sinergi pendidikan yang holistik antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.

(Hijratulmutmainnah/Bulukumba)

Ekstrem dalam Prinsip, Santun dalam Sikap

0

Kata “ekstrem” sering kali membawa konotasi negatif. Ia diidentikkan dengan sikap memaksakan kebenaran, merasa paling benar sendiri, dan mengabaikan adab dalam bertindak. Bahkan tak jarang, sikap ini berujung pada intimidasi terhadap pihak lain, seolah kebenaran hanya milik satu kelompok saja.

Padahal, sikap seperti itu jauh dari kata santun. Ia menyakiti hati, meresahkan banyak pihak, dan justru menjauhkan orang dari pesan kebaikan yang katanya hendak disampaikan. Kalimat “demi agama” kerap dijadikan tameng, tapi bila penyampaiannya kasar dan arogan, maka pesan itu kehilangan ruhnya.

Agama sejatinya adalah sesuatu yang benar dan baik. Namun ironisnya, ketika seseorang menjalankan ajaran agamanya dengan taat dan konsisten, tak jarang ia malah dipersepsikan sebagai keras, kaku, bahkan ekstrem. Fenomena ini kerap terjadi pada Muslim yang berusaha menjalankan syariat secara menyeluruh, terutama ketika tampilannya berbeda dari kebanyakan masyarakat.

Dalam konteks sosial, seseorang yang tampil dengan ciri khas keislaman yang kuat seringkali mendapat label “ekstremis”. Seolah menjadi muslim yang taat berarti otomatis masuk dalam kategori “garis keras”. Sebuah generalisasi yang tak adil.

Contohnya dapat kita lihat pada tokoh internasional seperti Dr. Zakir Naik. Ia dikenal sebagai pendakwah yang total mengabdikan hidupnya untuk menyampaikan ajaran Islam. Namun di mata media Barat, ia dituduh sebagai ekstremis. Ketika ditanya tentang tuduhan itu, Dr. Zakir justru menjawab dengan tenang, “Ya, saya harus ekstrem.”

Apa yang ia maksud? Dalam banyak ceramahnya, Dr. Zakir menjelaskan bahwa ekstrem yang ia pahami bukanlah kekerasan atau fanatisme sempit. Ia berkata:
“If you’re a Muslim, be an extremist… Be an extremist in doing good, in justice, in kindness.”
Atau dalam versi Bahasa Indonesia:
“Kalau kamu seorang Muslim, jadilah ekstrem dalam kebaikan, dalam keadilan, dalam kebenaran.”

Pemahaman “ekstrem” yang seperti inilah yang perlu dijernihkan. Bahwa maksudnya adalah bersikap total dalam menjalankan nilai-nilai mulia—bukan radikal dalam artian merusak. Bukan pula dalam konteks tendensius yang ditujukan pada kelompok tertentu. Dalam pandangan Barat, ketika Islam dijalankan secara utuh, ia sering dipersepsikan sebagai ekstrem. Padahal esensi Islam adalah kedamaian, rahmat, dan kasih sayang.

Dari klarifikasi Dr. Zakir tadi, kita belajar bahwa ekstrem dalam konteks ini adalah kepatuhan total kepada ajaran agama. Menjadi muslim yang taat berarti ekstrem dalam kejujuran, ekstrem dalam menjaga akhlak, ekstrem dalam menjauhi keburukan. Sebuah bentuk kesungguhan yang penuh kebaikan, bukan kekerasan.

Namun memang, tidak bisa dipungkiri bahwa istilah “ekstrem” dalam dunia modern lekat dengan makna negatif: radikalisme, kekerasan, dan terorisme. Media sering mengaburkan batas antara kesungguhan dalam beragama dan fanatisme membabi buta. Konteks ini membuat istilah “ekstrem” rentan disalahpahami dalam diskursus publik.

Oleh karena itu, banyak ulama memilih diksi yang lebih arif. Syekh Ali Jum’ah dari Mesir, dan Prof. Quraish Shihab dari Indonesia, misalnya, lebih memilih istilah seperti “komitmen yang kokoh” dibanding menggunakan kata “ekstrem”. Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, sebagaimana Zakir Naik menggunakan kata “ekstrem” dalam makna totalitas dalam kebaikan, bukan kekerasan.

Kita memang perlu arif dalam memahami istilah ini secara kontekstual. Dalam komunikasi publik, penting untuk mengedepankan klarifikasi istilah, agar makna tidak tergelincir pada tuduhan yang tak berdasar. Termasuk dalam memahami Islam itu sendiri.

Islam, secara etimologis, berasal dari kata “salaam” yang berarti kedamaian. Ia mengandung makna berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah dengan hati yang damai dan ikhlas. Maka, sangat tidak tepat bila Islam disebut sebagai agama ekstrem.

Justru Islam adalah agama keseimbangan. Islam menekankan keadilan, kebaikan, dan moderasi (tawasuth). Tuduhan bahwa Islam adalah agama ekstrem lebih banyak bersumber dari kesalahpahaman, baik karena sebagian kecil umat Islam yang menyimpang dari ajaran, maupun karena pemberitaan yang tidak proporsional.

Islam mengajarkan keteguhan (istiqamah) dalam keyakinan. Seorang muslim diajarkan untuk tetap teguh dalam keimanan, meski menghadapi tekanan atau ujian. Namun keteguhan itu tidak berarti kekerasan. Justru keteguhan yang sejati melahirkan akhlak yang mulia, kelembutan dalam sikap, dan kesantunan dalam dakwah—sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala hal.”
(HR. Bukhari)

Dalam Al-Qur’an pun Allah memerintahkan Nabi Musa agar tetap berbicara dengan lembut, bahkan kepada Fir’aun:
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut.”
(QS. Thaha: 44)

Maka, seorang muslim yang baik akan senantiasa mempraktikkan kesantunan dalam hidupnya. Ia akan menjadi representasi dari Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia akan tegas dalam prinsip, namun lembut dalam penyampaian. Ia akan ekstrem dalam kebaikan, tetapi tidak dalam kekerasan.

Dan begitulah seharusnya: ekstrem dalam prinsip, santun dalam sikap.

DPD Hidayatullah Toraja Utara Hadiri Seminar Moderasi Beragama Bersama Pimpinan Ormas Islam

0

Toraja Utara, 18 Juni 2025 — Ketua DPD Hidayatullah Toraja Utara, Ustaz Iksan, turut hadir sebagai peserta dalam kegiatan Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama dan Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Toraja Utara. Acara berlangsung di Hotel Hiltra, Panga’, mulai pukul 09.00 WITA, Rabu (18/6/2025), dan menghadirkan perwakilan dari berbagai ormas Islam se-Toraja Utara.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Seksi Bimas Islam Kemenag Toraja Utara ini menjadi ajang penting untuk mempererat silaturahmi antara pemerintah dan pimpinan ormas Islam, sekaligus memperdalam pemahaman tentang dakwah Islam yang berlandaskan nilai-nilai moderasi dan semangat menjaga kerukunan umat beragama di wilayah Toraja Utara.

Ketua DPD Hidayatullah Toraja Utara, Ustaz Iksan, secara khusus menyambut baik materi tentang wasatiyah (moderasi) yang disampaikan oleh Ketua MUI Kabupaten Tana Toraja, Dr. KH. Ahmad Zainal Muttaqien, M.Pd. Menurutnya, nilai-nilai dakwah wasatiyah merupakan bagian dari karakter dan prinsip kaderisasi Hidayatullah sejak awal.

“Materi dari Kiai Zainal sangat membekas. Sikap wasatiyah itu adalah jati diri kader Hidayatullah. Karena itu, kami merasa senang bisa hadir dan mendapatkan penguatan langsung dari beliau,” ujar Ustaz Iksan.

Selain KH. Ahmad Zainal, dua narasumber lainnya turut mengisi acara, yaitu Kepala Kantor Kemenag Toraja Utara, P.L. Gasong, M.Th., M.Adm.SDA., dan Kasi Bimas Islam, Musahwwir, S.Ag., M.Pd. Dalam sambutan pembukaannya, P.L. Gasong menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama harus senantiasa dijaga, seraya memastikan pelayanan dakwah umat Islam juga terus ditingkatkan.

“Moderasi beragama bukanlah kompromi akidah, tetapi cara bersikap adil dan bijak di tengah perbedaan. Toraja Utara harus menjadi contoh kerukunan dan penghargaan terhadap perbedaan,” ungkapnya.

Acara ini diikuti oleh 15 peserta yang merupakan pimpinan dari berbagai organisasi Islam di Toraja Utara, di antaranya BKPRMI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia, Hidayatullah, ISNU, Wahdah Islamiyah, Aisyiyah, serta perwakilan dari Himpunan Majelis Taklim se-Toraja Utara.

Dengan penuh apresiasi, Ustaz Iksan menilai kegiatan ini tidak hanya memperkuat jaringan komunikasi antarormas, tetapi juga memperkokoh semangat kolaborasi dalam menjaga dakwah Islam yang damai dan mencerahkan.

“Semoga forum-forum seperti ini bisa terus diadakan. Ini sangat bermanfaat untuk sinergi dakwah, terutama di daerah seperti Toraja yang plural dan dinamis,” tutupnya.

(Rilis/SaadBasfar/Torut)

Khidmat dan Haru Warnai Wisuda Santri Ponpes Hidayatullah Al-Fath Panyula

0

Panyula Bone – Suasana khidmat dan haru menyelimuti acara wisuda santri Pondok Pesantren Hidayatullah Panyula Bone yang digelar pada pagi Selasa, (10/6/2025). Sekitar 200 tamu undangan hadir memeriahkan acara yang menjadi penanda selesainya masa pendidikan para santri tersebut.

Puncak acara diisi dengan tausiyah inspiratif dari Ustadz H. Burhanuddin, S.Pd.I., M.Pd.I., yang menekankan pentingnya menjaga hubungan erat dengan Al-Qur’an. Dalam ceramahnya, ia mengajak para wisudawan untuk tidak hanya membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mentadabburi maknanya sebagai pedoman hidup.

“Dengan kedekatan kepada Al-Qur’an, kita dapat memperoleh rahmat dan petunjuk dalam menjalani kehidupan,” ujar Ustadz Burhanuddin di hadapan para hadirin.

Selain tausiyah, acara juga diisi sambutan dari Ketua Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH), Ustadz Ahmad Munship, S.Pd., serta Ketua Yayasan, Ustadz H. Dwi Subagyo. Keduanya menyampaikan rasa syukur dan bangga atas capaian para santri, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.

“Ini adalah sebuah pencapaian yang layak disyukuri. Semoga menjadi langkah awal bagi para santri untuk menjadi insan yang lebih baik,” ujar Ustadz Dwi Subagyo.

Acara wisuda ini bukan hanya sebagai seremoni pelepasan, tetapi juga sebagai momentum bagi para santri untuk terus mengembangkan kualitas diri dan bersiap menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap memimpin di masa depan.

(Rilis/Yusnia/Panyula)

Kesalehan Keluarga Karena Kesalehan Ayah

0

Dalam budaya masyarakat kita, sering terdengar pujian seperti, “Siapa dulu bapaknya,” ketika melihat seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan saleh. Kalimat itu mencerminkan keyakinan bahwa keberhasilan seorang anak adalah cerminan dari kualitas ayahnya.

Namun, menariknya, kita nyaris tak mendengar komentar serupa ketika melihat seorang istri atau ibu yang salehah. Jarang ada yang berkata, “Siapa dulu suaminya,” sebagai bentuk pengakuan terhadap peran suami dalam membentuk karakter istri. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, peran suami sebagai pendidik spiritual dalam rumah tangga tidak kalah pentingnya.

Untuk memahami keterkaitan ini, mari kita renungkan kisah penuh makna antara Nabi Ibrahim dan istrinya, Hajar, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

“Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Ismail yang masih menyusu, ke sebuah tempat di dekat Ka’bah, di bawah pohon besar di atas zamzam – saat itu belum ada manusia yang tinggal di Mekah. Ibrahim meninggalkan mereka dengan bekal sekantong kurma dan air, lalu pergi meninggalkan mereka.

Hajar mengikutinya seraya bertanya, ‘Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni ini?’

Ibrahim tidak menjawab. Hingga akhirnya Hajar bertanya, ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?’

Ibrahim menjawab, ‘Ya.’

Maka Hajar pun berkata, ‘Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.’”

Kisah ini menggambarkan kekuatan iman dari dua insan mulia: Ibrahim, sang suami dan ayah, yang taat total pada perintah Tuhan-nya, Rabb Semesta Alam; dan Hajar, istri sekaligus ibu, yang menerima keputusan sulit dengan keteguhan dan tawakal yang luar biasa.

Secara logika manusia biasa, keputusan Ibrahim sulit dimengerti. Bagaimana mungkin seorang suami dan ayah tega meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi di tengah padang tandus yang tak berpenghuni? Namun, kisah ini bukan tentang logika duniawi, melainkan tentang ketundukan mutlak kepada kehendak Ilahi.

Yang lebih menggetarkan lagi adalah respons Hajar. Ia tak hanya menerima perintah itu, tapi mempercayai penuh janji Allah Ta’ala, meski harus hidup tanpa jaminan keselamatan dan kelangsungan hidup. Di sinilah tampak bahwa kesalehan Hajar bukan tumbuh dari ruang hampa. Ia adalah hasil dari bimbingan spiritual seorang suami yang saleh—Nabi Ibrahim—yang membentuk keluarganya dengan pondasi tauhid dan keyakinan mendalam kepada Allah.

Kesalehan Hajar adalah bukti nyata dari pengaruh kepemimpinan ruhani seorang suami. Keteladanan Ibrahim sebagai ayah dan suami bukan hanya dalam ketaatannya kepada Allah, tapi juga dalam cara ia menanamkan nilai-nilai keimanan kepada keluarganya. Ia tidak hanya membangun rumah, tapi membangun ummat dari dalam rumahnya.

Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, pernah berkata, “Kebaikan istri tergantung pada kebaikan suaminya. Sebaliknya, kerusakan moral istri juga bisa jadi karena kelalaian suaminya.” Ungkapan ini menegaskan urgensi peran ayah dan suami sebagai imam dalam keluarga, bukan hanya dalam aspek ekonomi dan fisik, tetapi terutama dalam aspek spiritual dan pendidikan akhlak.

Meski demikian, kita juga tidak menutup mata bahwa kesalehan tidak selalu bersifat timbal balik. Nabi Luth dan Nabi Nuh, misalnya, adalah nabi-nabi besar yang justru diuji dengan istri yang durhaka, sehingga akhirnya mereka berlepas diri dari pasangan mereka. Ini menjadi pelajaran penting: peran seorang suami amat besar, tapi setiap jiwa tetap bertanggung jawab atas imannya sendiri.

Karena itu, jika kita melihat istri yang salehah, anak-anak yang berakhlak baik, jangan ragu menengok siapa ayah atau suaminya. Bisa jadi, di balik kebaikan mereka, ada seorang lelaki yang diam-diam membangun peradaban lewat keluarga—dengan kesalehan, kesabaran, dan keteladanan.

Pesantren Hidayatullah Parepare Terima Dukungan Revitalisasi Fasilitas Pendidikan

0
Kadisdikbud Parepare ketika memberikan sambutan dalam acara Tasyakuran dan Doa atas Penamatan Siswa PEsantren Hidayatullah Parepare, Senin (2/6/2025)

Parepare, 2 Juni 2025 — Suasana haru dan khidmat menyelimuti acara penamatan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare yang digelar pada Senin pagi (2/6). Namun di tengah momen penuh kehangatan itu, sebuah kabar menggembirakan membuat seisi ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan antusias.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare, H. M. Makmur Husain, S.Pd., M.M., mengumumkan bahwa pesantren tersebut akan mendapatkan bantuan revitalisasi sarana pendidikan berupa pembangunan lima unit fasilitas fisik. Bantuan yang merupakan bagian dari DAK Fisik 2025 dari Kementrian tersebut rencananya akan disalurkan melalui unit SMP Hidayatullah Parepare.

Adapun fasilitas yang akan dibangun meliputi perpustakaan modern sebagai pusat literasi santri, laboratorium lengkap untuk mendukung kegiatan praktik dan eksperimen, kantor administrasi yang representatif, ruang UKS yang layak untuk menunjang kesehatan warga pesantren, serta fasilitas MCK yang bersih dan memadai.

“Insya Allah, bantuan ini akan membawa dampak besar bagi peningkatan kualitas pendidikan di pesantren. Ketika fasilitas belajar makin memadai, anak-anak kita akan lebih nyaman dalam menggali ilmu dan mengembangkan potensinya. Harapan kami, pesantren ini terus melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan siap memimpin di masa depan,” ujar Makmur Husain, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala SMPN 4 Model Parepare.

Pengumuman tersebut sontak mengubah suasana menjadi lebih semarak. Senyum bahagia dan rasa syukur menyelimuti para hadirin — mulai dari orang tua, tamu undangan, hingga para santri sendiri. Momen itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Pesantren Hidayatullah sebagai lembaga pendidikan Islam yang terus bertumbuh.

Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Parepare, Ustaz Abdul Jabbar, S.E., M.M., turut menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan pemerintah. Ia menganggap perhatian ini sebagai bentuk kepercayaan terhadap peran pesantren dalam mencetak generasi penerus bangsa.

“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih atas kepercayaan ini. Insya Allah bantuan ini akan menjadi energi baru bagi pesantren dalam meningkatkan kualitas, baik secara akademik maupun dalam bidang tahfiz. Semoga segala bentuk dukungan ini tercatat sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir,” ungkapnya penuh haru.

Sebagaimana diketahui, Acara penamatan kali ini juga dirangkaikan dengan Tasyakuran dan Doa Bersama sebagai ungkapan syukur atas kelulusan santri dari semua jenjang, mulai dari TK hingga SMA. Ratusan orang hadir, termasuk tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, serta para pengurus dan wali santri.

Sebagai bentuk apresiasi, pesantren juga memberikan penghargaan kepada santri berprestasi. Salah satu momen paling menginspirasi adalah saat seorang santri menerima penghargaan karena telah berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz — sebuah capaian yang mencerminkan dedikasi dan semangat yang terus menyala di lingkungan pesantren.