Beranda blog Halaman 27

Ketua Departemen SDI DPP Hidayatullah Kunjungi DPW Sulsel, Bahas Pendataan Kader Potensial Jelang Munas VI

0

Makassar (Hidayatullahsulsel.or.id) — Dalam rangka menyukseskan agenda nasional Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Departemen Sumber Daya Insani (SDI) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah terus melakukan roadshow ke berbagai wilayah.

Salah satu kunjungan terbaru dilakukan oleh Ketua Departemen SDI, Ustadz Dr. Arfan, yang hadir dalam rapat terbatas bersama jajaran Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Selasa, 19 Muharram 1447 H (15/7/2025), di Makassar.

Dalam arahannya, Dr. Arfan menyampaikan bahwa kunjungan ke daerah-daerah dilakukan untuk menyerap langsung aspirasi serta memperkuat penjaringan dan pendataan SDI potensial menjelang periode kepengurusan 2026–2030.

“Kami sengaja hadir untuk beberapa hal. Diantaranya, pertama, menyerap aspirasi langsung dari daerah; dan kedua, menguatkan upaya penjaringan serta pendataan kader potensial yang memiliki integritas dan kompetensi dari sisi profetik dan profesional untuk kepengurusan mendatang,” jelasnya di hadapan jajaran DPW.

Khusus untuk wilayah Sulawesi Selatan, Dr. Arfan juga memantik diskusi strategis yang cukup mendalam. Ia mengangkat isu reflektif terkait perjalanan 50 tahun pertama kiprah Hidayatullah di Sulsel, seraya mengajukan pertanyaan mendasar: “Sebagai wilayah yang selama ini dikenal sebagai lumbung kader, seperti apa relevansi predikat tersebut hari ini?”

Ia juga mengevaluasi penerapan sistem kerja berbasis tugas pokok dan fungsi (tupoksi) baik di tingkat organisasi maupun amal usaha yang dijalankan di lingkungan Hidayatullah Sulsel. Selain itu, turut dibahas rancangan dan kriteria ideal untuk Ketua DPD Hidayatullah se-Sulsel pada periode 2026–2030 mendatang.

Dalam penguatan SDI ke depan, Dr. Arfan mendorong DPW untuk menyelenggarakan program peningkatan kompetensi kader dengan melibatkan para profesional dari berbagai bidang. Ia menyarankan agar hal itu dilakukan melalui forum-forum strategis seperti Focus Group Discussion (FGD), pelatihan teknis, coaching, mentoring, hingga kelas-kelas pengembangan kapasitas berbasis kebutuhan lokal.

“Kami mendorong agar dibuat FGD khusus terkait tata kelola SDI di Sulsel, yang fokus pada realita dan tantangan pengembangan SDI di era mendatang,” tambahnya.

Menanggapi arahan tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd. menyampaikan bahwa struktur wilayah siap menindaklanjuti langkah-langkah strategis yang telah disampaikan oleh Departemen SDI.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini DPW sedang dalam tahap menyusun simulasi kepengurusan tingkat daerah untuk periode 2026–2030, sekaligus melakukan evaluasi awal terhadap kebutuhan SDI, khususnya dalam penempatan kader yang kompeten pada unit-unit amal usaha pendidikan.

“Kami memandang penting adanya panduan teknis dan pendampingan yang jelas dari pusat, terutama dalam hal tata kelola SDI dan penyusunan struktur kepengurusan daerah yang adaptif dan profesional,” ujar Ustadz Nasri.

Kunjungan Ketua Departemen SDI yang berada di bawah koordinasi Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) DPP Hidayatullah ini juga merupakan bagian dari rangkaian Semarak Muharram 1447 H Hidayatullah Sulsel, yang digelar di Pinrang, Sabtu-Ahad lalu, 16-17 Muharram 1447 (12-13/5/2025).

Pada momen tersebut, Dr. Arfan turut memberikan pengarahan kepada kader yang hadir, dengan penekanan khusus pada pentingnya memahami posisi dan kontribusi kader dalam struktur perjuangan dakwah Hidayatullah secara utuh dan terarah.*/

Reporter: Sumar
Editor: Cakdul

Bangun Peradaban Lewat Keikhlasan: Tausiyah BPU di Peresmian Aula Hidayatullah Lamatanre

0

Pinrang – “Perjuangan ini kita mulai bukan dengan kekuatan harta, tapi dengan kekuatan niat dan keikhlasan.” Kalimat itu menjadi penegas dari pesan mendalam yang disampaikan oleh Bapak Pemimpin Umum (BPU) Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, saat memberikan tausiyah dalam acara pemancangan tiang pembangunan Masjid Hidayatullah Lamatanre, Ahad pagi (13 Juli 2025).

Dalam momen penuh haru itu, BPU menceritakan awal mula perintisan pondok pesantren Hidayatullah Lamatanre, yang lahir dari keputusan besar dan musyawarah panjang bersama keluarga besarnya. Beliau mengisahkan, bahwa tanah seluas sembilan hektar tempat pondok ini berdiri merupakan tanah warisan yang telah terbagi secara legal. Namun, atas dasar kesadaran dakwah, tanah tersebut akhirnya diserahkan sepenuhnya untuk perjuangan umat.

“Saya mengawali langkah besar ini dengan diskusi panjang dan penuh pertimbangan bersama keluarga besar. Tidak mudah melepaskan tanah warisan yang telah terbagi ini, tapi saya sampaikan bahwa yang kita bangun adalah perjuangan dakwah dan pendidikan umat. Singkat cerita, kami sepakat menyerahkan tanah ini untuk perjuangan umat,” tuturnya di hadapan para peserta halaqah.

BPU menegaskan bahwa berdiri dan diresmikannya gedung aula pondok, berkumpulnya para kader dalam halaqah, serta pemancangan tiang masjid pesantren hari itu, merupakan bukti nyata bahwa keikhlasan dan kebersamaan akan selalu menghadirkan keberkahan. Baginya, jika perjuangan dilandasi niat yang benar, maka Allah akan menyempurnakan setiap langkah.

“Semoga dengan hadirnya pondok pesantren di Lamatanre ini, ke depan ia menjadi pusat pembinaan generasi rabbani yang teguh di atas manhaj nubuwwah. Pondok ini harus melahirkan kader-kader pemimpin umat yang berilmu, berakhlak, dan beramal shalih,” harapnya.

Tak hanya berhenti pada kisah pendirian, BPU juga menegaskan pentingnya menjaga etos kerja dalam barisan perjuangan. Ia mengingatkan seluruh kader untuk senantiasa istiqamah dan bersungguh-sungguh dalam tugas keumatan.

“Perjuangan ini harus terus bergerak dengan etos kerja yang baik dan benar. Etos orang Hidayatullah itu adalah semangat ibadah, berpikir, dan kerja keras,” ujarnya tegas, sembari memotivasi para kader agar menjadi pilar utama dalam membangun peradaban Islam yang kokoh.

Tausiyah BPU menjadi bagian penting dari rangkaian Halaqah Kubro Hidayatullah se-Sulawesi yang digelar selama dua hari, Sabtu-Ahad (12–13 Juli 2025), di dua kampus Hidayatullah Pinrang, yaitu Menro dan Lamatanre. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan kader Ula dan Wustho dari seluruh wilayah Sulawesi, Gorontalo, bahkan Kalimantan.

Halaqah ini menjadi forum konsolidasi kader dalam memperkuat ukhuwah, menyegarkan kembali nilai-nilai manhaj perjuangan, serta mengokohkan arah dakwah. Rangkaian acara mencakup tausiyah dari para murobbi, testimoni perjuangan para kader awal, pemantapan nilai-nilai keorganisasian, musyawarah antarwilayah, serta pengarahan strategis dari Pimpinan Umum.

Di sela kegiatan yang dikemas dalam agenda besar Semarak Muharram 1447 H Hidayatullah Sulsel tersebut, juga dilangsungkan peresmian aula baru dan peletakan batu pertama Masjid Hidayatullah Lamatanre, yang disaksikan langsung oleh seluruh peserta halaqah, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Pondok pesantren ini dirancang sebagai sentra ibadah, pusat pembinaan kader, dan titik awal pembangunan peradaban Islam di kawasan Pinrang dan sekitarnya.

Dengan mengusung tema “Menguatkan Jati Diri Kader Hidayatullah Menuju NKRI Beradab dan Terhormat”, halaqah ini diharapkan menjadi titik tolak lahirnya gerakan dakwah yang lebih kuat, solid, dan memberi dampak luas bagi bangsa dan umat.

(Reporter: Ridwan | hidayatullahsulsel.or.id)

Ustadz Husain Kalado: Saya Seperti Bayi yang Lahir Kembali

0

“Saya seperti bayi yang lahir kembali.”

Kalimat itu dilontarkan Ustadz Husain Kalado di hadapan peserta Halaqah Kubro Hidayatullah Sulsel di Kampus Hidayatullah Menro Pinrang pada Sabtu kemarin, 12 Juli 2025. Bukan dalam konteks kelahiran biologis, tapi tentang kebangkitan jiwa yang ia alami saat memutuskan untuk berhijrah penuh ke jalan dakwah Hidayatullah empat dekade silam.

Dalam suasana yang hening dan khusyuk, beliau memulai dengan sebuah pengantar sederhana, “Saya ingin berbagi kisah perjalanan saya dalam barisan perjuangan ini. Sebuah kisah yang saya rasakan sendiri, yang membakar hati dan mengguncang jiwa hingga hari ini.” Dan benar adanya, kisah itu menggugah hati siapa pun yang mendengarnya.

Perkenalan awalnya dengan Hidayatullah terjadi di penghujung tahun 1982. Saat itu, beliau sudah mengajar sebagai guru agama. Namun, titik balik spiritual terjadi setelah diajak oleh mertua Ustadz Ahmad Nurdin untuk menghadiri ceramah Ustadz Abdullah Said selama tiga malam Jumat berturut-turut di Karang Bugis, Balikpapan.

Menurutnya, pengalaman tersebut sangat mengguncang. Ia menggambarkannya seperti seseorang yang kelaparan lalu disuguhkan makanan terlezat, atau seorang yang kehausan kemudian mendapatkan minuman paling menyegarkan. Padahal ia sendiri adalah guru agama, namun apa yang disampaikan Ustadz Abdullah Said terasa memurnikan, membersihkan, dan menyadarkannya. Sejak saat itulah, benih hijrah mulai tumbuh dalam dirinya.

Setahun setelahnya, pada 1983, ia mulai mencoba mengikuti suasana shalat berjamaah di Gunung Tembak. Ia masih mengingat dengan jelas momen pertamanya: shalat Zuhur yang rukuk dan sujudnya begitu panjang, penuh kekhusyukan. Seusai shalat, ia duduk bersandar di tembok, sementara anak-anak, remaja, dan para santri langsung melanjutkan dengan shalat sunnah.

Saat itu ia merasa sangat tersentuh. Dalam hatinya ia berkata, “Saya ini lebih rendah dari anak-anak itu.” Ia merasa seolah ditampar oleh kenyataan, bahwa anak-anak itu telah lebih dahulu tunduk dan taat kepada Allah, sementara dirinya masih tertinggal.

Pada tahun berikutnya, meskipun masih mengajar di tiga sekolah negeri di Balikpapan (SMPN 1, SMPN 4, dan SMAN 3), gejolak batinnya terus bergolak. Ia mulai membuka diskusi dengan sang istri mengenai niatnya untuk berhijrah total. Ketika tak kunjung mendapat jawaban, ia pun berkata, “Kalau begitu, mungkin kita tidak bisa lama-lama bersama.”

Kalimat itu bukan sekadar ancaman, tapi ungkapan kejujuran yang mencerminkan keteguhan niat. Pada akhirnya, sang istri menerima. Maka pada 4 Februari 1985, Ustadz Husain resmi berhijrah ke Gunung Tembak. Sebuah keputusan yang mengubah hidupnya untuk selamanya.

Baginya, Gunung Tembak bukan tempat biasa. Ia menyebutnya sebagai tempat yang “ajaib bahkan luar biasa.” Semua orang dari latar belakang apa pun tampak cocok di sana. Sistem yang diterapkan tidak hanya membentuk pikiran, tetapi membentuk jiwa. Ia sendiri mengaku ditempa habis-habisan. Berat, melelahkan, bahkan menyakitkan. Namun di situlah ruh perjuangan mulai benar-benar masuk dan membentuk karakternya.

Dengan rendah hati ia berkata bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Tidak seperti Ustadz Ahmad MS (dan ustadz-ustadz lainnya) yang dikenal mobilitasnya tinggi, beliau lebih banyak menetap di Gunung Tebak. Tetapi semangat perjuangan yang tumbuh di Gunung Tembak menurutnya tidak bisa diukur dengan logika, melainkan hanya bisa dirasakan dengan iman.

Memasuki tahun 2000, beliau berpindah ke Sumatera dan kemudian sempat ke Sulawesi Tenggara. Arus dakwah kembali menariknya masuk, mula-mula perlahan, lalu deras. Beliau menggambarkan Hidayatullah sebagai air yang meresap dalam tanah, yang tak tampak di permukaan, tapi menghidupkan apa pun yang disentuhnya.

Setelah pensiun pada 2017, semangat itu tak juga padam. Ia bahkan meminta izin kepala sekolah untuk kembali berdakwah. Saat dikirim ke Sidrap selama satu semester, baru dua bulan berjalan, datanglah Ustadz Abdul Somad dan beberapa pengurus. Dalam silaturahim yang akrab, beliau ditanya, “Ustadz, kapan balik ke Gunung Tembak?” Dan tanpa ragu ia menjawab, “Saya mau balik. Saya mau mengabdi lagi.”

Tak lama setelah kembali, Pak Ghaffar menemuinya dan langsung menugaskannya kembali mengajar. Soal gaji? Hanya Rp 1 juta, dari dulu hingga kini. Tapi beliau menegaskan, “Keberkahan yang saya rasakan tak terhitung nilainya.”

Menurutnya, perasaan ketika menerima tugas memang sulit diukur. Tapi jika tidak dilawan, bisa menjadi penghalang pengabdian. Maka ia memilih menghadapinya dengan akal dan iman. “Tugas adalah obat. Dan pengabdian adalah jalan penyembuhan terbaik,” ujarnya tegas.

Ia juga menegaskan bahwa yang meninggikan seseorang bukanlah jabatan atau gelar, melainkan niat dan keteguhan dalam perjuangan. Bukan tubuh besar atau prestise, tetapi kesungguhan dan istiqamah.

Empat puluh tahun sejak 4 Februari 1985, ia merenung. “Seperti bayi yang lahir, hari ini dia sudah dewasa. Sudah berdiri. Sudah berlari.”

Dan kini, Hidayatullah telah menjangkau seluruh penjuru negeri. Bahkan, mimpi untuk menyentuh dunia Islam mulai dirintis. Ia mendengar bahwa ada 57 negara Islam yang menjadi target dakwah ke depan. Gunung Tembak dan Balikpapan pun telah menjadi titik penting dalam peta peradaban dakwah.

Bahkan Monas di Jakarta pernah menjadi saksi. Dan meskipun ia tak tahu di mana akan berada lima tahun mendatang, ia yakin satu hal: Hidayatullah akan terus melangkah.

Di akhir tausiyahnya, Ustadz Husain Kalado menyampaikan pesan penting kepada para santri, kader, dan pejuang: “Jadilah orang yang selalu belajar. Jangan pernah berhenti menjadi murid, sekaligus guru.”

Ia lalu mengutip kata-kata seorang ulama Salaf: “Kalau orang tua melihat anaknya, ia harus berkata, ‘Anak ini lebih baik dariku.’
Kalau anak melihat orang tuanya, ia harus berkata, ‘Orang tua ini lebih bertakwa dariku.’”

Dan akhirnya, ia menutup dengan ajakan penuh ketulusan: “Teruslah berjuang. Teruslah menanam. Jangan pedulikan besar kecilnya hasil. Yang penting kita ikhlas dalam menunaikan tugas. Insya Allah, tugas-tugas ini akan mengangkat kita, bukan hanya di dunia, tapi di akhirat kelak.”

(Ahmad Ansor, Pengajar di Hidayatullah Pucak maros/hidayatullahsulsel.or.id)

Ketum DPP Hidayatullah Serukan Semangat Hijrah sebagai Pilar Menuju Indonesia Emas 2045

0

PINRANG — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., mengajak seluruh elemen bangsa untuk menumbuhkan semangat hijrah dan memperkuat sinergi kebangsaan dalam rangka menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045. Seruan tersebut disampaikannya saat menyampaikan ceramah Tabligh Akbar dalam acara Halaqah Kubro Hidayatullah Se-Sulawesi dan Gorontalo, yang digelar di Kampus Hidayatullah Lamatanre, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Ahad, 13 Juli 2025.

Tabligh Akbar yang mengusung tema “Refleksi Hijrah: Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Kebangkitan Menuju Indonesia Emas 2045” ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Semarak Muharram 1447 H Hidayatullah Sulsel. Kegiatan ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai wilayah di Sulawesi dan Kalimantan serta sejumlah tokoh dan tamu undangan.

Dalam tausiyahnya, KH. Dr. Nashirul Haq, MA. menegaskan bahwa hijrah merupakan prinsip mendasar dalam Islam yang memiliki dimensi luas, baik secara fisik, spiritual, maupun sosial. Ia menekankan bahwa hijrah tidak semata berpindah tempat, tetapi merupakan proses transformasi diri menuju kondisi yang lebih baik dalam semua aspek kehidupan.

“Hijrah dalam makna spiritual adalah perjalanan abadi seorang mukmin. Ia adalah proses meninggalkan kejahiliyahan menuju cahaya iman dan kebaikan,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam sejarah Islam, hijrah bisa terjadi karena dua dorongan: tekanan dan panggilan dakwah. Sebagai contoh, ia menyinggung nasib umat Islam yang terpaksa hijrah karena tekanan, seperti di Rohingya, Suriah, dan Gaza. Sementara itu, sosok pendiri Hidayatullah, KH. Abdullah Said, menjadi teladan hijrah karena panggilan dakwah, yaitu meninggalkan kampung halaman di Sulawesi Selatan untuk merintis pesantren Hidayatullah di Kalimantan Timur.

Selain mengupas makna hijrah, Ketum DPP Hidayatullah juga menyoroti pentingnya sinergi antara kekuatan umat dan negara, antara ulama dan umara. Ia mengutip pernyataan klasik Imam Al-Ghazali: “Agama adalah fondasi, dan negara adalah penjaganya. Jika salah satunya hancur, maka peradaban akan runtuh.”

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sistem pendidikan integral yang dikembangkan Hidayatullah merupakan wujud nyata hijrah intelektual dan moral. Pendidikan, menurutnya, harus menyentuh seluruh aspek manusia, yaitu akal, ruh, dan perilaku, agar mampu melahirkan generasi yang tangguh dan siap membangun peradaban.

Sebagai penutup, Dr. Nashirul mengajak seluruh kader untuk menghidupkan nilai-nilai Islam yang selaras dengan kearifan lokal, seperti Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi (saling menghormati), dan Sipakainge (saling menasihati). Nilai-nilai ini, menurutnya, telah menjadi bagian dari kultur dakwah Hidayatullah yang harus terus dijaga dan ditumbuhkan.

“Hakikat hijrah adalah peningkatan diri secara berkelanjutan. Dan siapa yang berhijrah karena Allah, maka Allah akan cukupkan kebutuhannya,” pungkasnya penuh semangat.

(Ian Kassa/Hidayatullahsulsel.or.id)

DPW Hidayatullah Sulsel Gelar Halaqah Kubro sebagai Konsolidasi Kader se-Sulawesi

0

PINRANG — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan sukses menggelar Halaqah Kubro Kader Hidayatullah Se-Sulawesi sebagai bagian dari agenda besar Semarak Muharram 1447 H. Acara ini dipusatkan di Kampus Hidayatullah Lamatanre, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, dan dihadiri ratusan kader dari berbagai daerah di Sulawesi, Gorontalo, hingga Kalimantan, Ahad, 13 Juli 2025.

Sebagai tuan rumah, DPW Hidayatullah Sulsel menyiapkan berbagai rangkaian kegiatan dalam upaya mengonsolidasikan barisan kader dan menguatkan nilai-nilai perjuangan dakwah menghadapi dinamika zaman.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustaz Nasri Bohari, M.Pd., dalam sambutan pembukaannya mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta dan menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan dalam pelaksanaan.

“Kami menyambut hangat kehadiran para kader dari berbagai wilayah. Mohon maaf atas segala kekurangan yang mungkin ada. Semoga kegiatan ini berjalan sesuai harapan dan menjadi penguat semangat perjuangan kita bersama,” ujarnya.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Daerah Pinrang, yakni Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra), H. Syahruddin, S.T., M.Si., yang memberikan sambutan dan apresiasi. Ia menilai tema acara sangat relevan dalam konteks sosial kekinian, terutama dalam menghadapi tantangan dunia digital.

“Semangat hijrah dan kebangkitan sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat kita hari ini. Di tengah arus informasi yang simpang siur, kegiatan seperti ini sangat penting dalam membentuk generasi yang kritis dan tercerahkan,” kata H. Syahruddin.

Ia juga mengapresiasi kiprah Hidayatullah dalam mencetak kader-kader dakwah yang mampu berkontribusi bagi pembangunan masyarakat melalui pendekatan nilai Islam yang integral.

Sebagai penutup sesi sambutan, Pembina Hidayatullah Sulawesi Selatan, KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., menyampaikan pesan mendalam tentang jati diri organisasi Hidayatullah yang dibangun di atas prinsip kepemimpinan kolektif, bukan personal.

“Hidayatullah bukan milik pribadi. Saat KH. Abdullah Said wafat, kepemimpinan diteruskan oleh orang yang bukan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa Hidayatullah adalah milik umat, bukan milik perorangan,” tegasnya.

Selain sesi formal, acara semakin meriah dengan penampilan santri binaan dalam bentuk senam konsentrasi dan bela diri Tapak Suci. Penampilan tersebut memperkuat nuansa kebersamaan dan semangat kaderisasi.

Melalui kegiatan ini, DPW Hidayatullah Sulsel menegaskan komitmennya sebagai garda depan dalam memperkuat jaringan dakwah dan kaderisasi di wilayah timur Indonesia. Halaqah ini menjadi momentum penting untuk memperkuat soliditas internal serta menyalakan kembali semangat hijrah dalam konteks perjuangan masa kini.

(Ian Kassa/hidayatullahsulsel.or.id)

Pemda Pinrang Apresiasi Peran Hidayatullah dalam Membangun Generasi Tangguh di Era Digital

0

PINRANG — Pemerintah Daerah Kabupaten Pinrang menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah dalam membangun karakter generasi muda di tengah tantangan era digital yang kompleks. Hal ini disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Pinrang, H. Syahruddin, S.T., M.Si., saat menghadiri Halaqah Kubro Kader Hidayatullah Se-Sulawesi yang digelar di Kampus Hidayatullah Lamatanre, Ahad, 13 Juli 2025.

Acara yang merupakan bagian dari rangkaian Semarak Muharram 1447 Hijriah itu dihadiri oleh ratusan kader dari berbagai daerah di Sulawesi, Gorontalo, dan Kalimantan. Kehadiran unsur pemerintah daerah dalam kegiatan ini menegaskan pentingnya sinergi antara ormas Islam dan pemerintah dalam membina generasi penerus bangsa.

Dalam sambutannya, H. Syahruddin menyoroti relevansi tema kegiatan yang mengangkat semangat hijrah dan kebangkitan sebagai jawaban atas fenomena sosial kontemporer.

“Tema hijrah dan semangat kebangkitan sangat tepat dengan kondisi masyarakat kita saat ini, yang rentan terjebak dalam absurditas dunia maya. Di tengah maraknya hoaks dan disinformasi, kegiatan semacam ini menjadi angin segar yang melahirkan generasi pencerdas umat,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan pentingnya peran Hidayatullah sebagai lembaga kaderisasi yang menanamkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh.

“Kami berharap kader Hidayatullah mampu menjadi motor perubahan yang menghidupkan nilai Islam dalam aspek intelektual, emosional, dan spiritual masyarakat,” tambahnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustaz Nasri Bohari, M.Pd., turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pemda Pinrang dan seluruh peserta dari berbagai daerah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi yang membawa semangat baru dalam gerakan dakwah.

“Kami berterima kasih atas dukungan dan kehadiran semua pihak, khususnya pemerintah daerah. Semoga acara ini berjalan lancar dan menjadi energi baru bagi kader di seluruh wilayah,” ujarnya.

Sementara itu, Pembina Hidayatullah Sulsel, KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., memberikan pesan peneguhan tentang prinsip dasar kepemimpinan dalam organisasi. Ia menekankan bahwa Hidayatullah sejak awal berdiri tidak bersifat personal, melainkan kolektif dan milik umat.

“Ketika pendiri Hidayatullah wafat, tongkat estafet kepemimpinan tidak dilanjutkan oleh anaknya, tetapi oleh orang lain yang dianggap amanah. Ini menegaskan bahwa Hidayatullah bukan milik keluarga, tapi milik umat,” tegasnya.

Kegiatan ini ditutup dengan penampilan santri binaan berupa senam konsentrasi dan bela diri Tapak Suci, yang menambah semarak acara dan memperkuat nuansa kebersamaan dalam suasana ukhuwah.

Kehadiran Pemda dalam acara ini menjadi sinyal positif dukungan terhadap peran strategis lembaga Islam dalam menciptakan kader bangsa yang berakhlak, berilmu, dan siap menghadapi tantangan zaman.

(Ian Kassa)

Spirit Perjuangan Ustaz Senior Warnai Hari Kedua Halaqah Kubro Hidayatullah Se-Sulawesi di Pinrang

0

PINRANG — Hari kedua pelaksanaan Halaqah Kubro Hidayatullah se-Sulawesi dan Gorontalo diwarnai oleh sesi istimewa bertajuk “Refleksi Perjuangan”, yang menghadirkan tiga ustaz senior dengan pengalaman panjang dalam dunia dakwah bersama Hidayatullah. Kegiatan ini digelar selepas shalat Subuh di Masjid Kampus Pratama Hidayatullah Menro, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Ahad, 13 Juli 2025.

Ratusan peserta halaqah, termasuk warga kampus, santri, serta utusan dari berbagai daerah di Sulawesi dan Gorontalo, tampak antusias menyimak kisah-kisah perjuangan yang membuka kembali lembaran awal perjalanan para pembicara bersama Hidayatullah.

Sesi dipandu oleh Ketua Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Sulawesi Tenggara, Ustaz Ahmad MS. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya menggali keteladanan dari generasi perintis.

“Dalam perjalanan berlembaga, ada banyak hal yang telah mereka jalani. Kita dengarkan untuk dijadikan contoh, motivasi, dan bekal sebagai generasi penerus di bawah atap perjuangan yang sama,” ujarnya.

Pembicara pertama, Ustaz Bahar Ismail, mengenang masa awal keterlibatannya dalam dakwah Hidayatullah sejak 1980.

“Setelah menyelesaikan sekolah, saya terdorong ikut berjuang bersama Hidayatullah karena tergugah melihat kondisi umat Islam saat itu,” kenangnya.

Pertemuan dengan Ustaz Yusuf Gatti di Balikpapan menguatkan tekadnya. Namun, yang paling membekas baginya adalah sosok almarhum Ustaz Abdullah Said.

“Bisa dikatakan, dalam sehari beliau menyampaikan lima kali ceramah. Itu yang mengubah saya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dirinya digembleng melalui kedisiplinan dalam shalat berjamaah dan kerja keras.

“Perjuangan Islam bagi saya lebih utama daripada jabatan yang tidak berkaitan dengan dakwah,” tegasnya.

Sementara itu, Ustaz Syamsul Rijal Palu, yang kini berusia 72 tahun, menyoroti kekhasan suasana perjuangan di kawasan Gunung Tembak, tempat awal mula Hidayatullah berkiprah.

“Sejak awal, Hidayatullah dikenal sebagai harakah perjuangan. Saya sangat terkesan dengan ketaatan yang ditampilkan di Gunung Tembak,” katanya.

Ia juga mengingat salah satu pesan penting dari Ustaz Abdullah Said yang sering disampaikan melalui tafsir Al-Fatihah: semangat menegakkan daulah Allah di muka bumi.

Pembicara ketiga, Ustaz Husein Kalado, menceritakan perkenalan pertamanya dengan Hidayatullah pada akhir 1982. Saat itu, ia telah menjadi guru agama di Balikpapan, hingga suatu hari diajak menghadiri pengajian malam Jumat.

“Tiga malam Jumat saya ikut ceramah Ustaz Abdullah Said. Saya merasa seperti mendapat makanan yang segar, enak, dan bergizi. Ceramah beliau sangat menggugah,” tuturnya.

Setelah melalui berbagai proses, ia memutuskan untuk masuk ke Gunung Tembak.

“Saya merasa seperti bayi yang lahir kembali. Saya tercerahkan,” ucapnya haru.

Sesi ini ditutup dalam suasana penuh refleksi dan semangat. Para peserta tampak terinspirasi oleh keteguhan, kesederhanaan, dan keikhlasan para narasumber dalam mengabdi kepada Allah melalui jalan dakwah dan tarbiyah bersama Hidayatullah.

(Ian Kassa/hidayatullahsulsel.or.id)

Dialog Refleksi Hijrah Ustaz Senior Hidayatullah Sulawesi Kobarkan Spirit Peserta Halaqah Kubra

0

PINRANG — Dialog Refleksi Hijrah yang menghadirkan sejumlah ustaz senior dari berbagai wilayah Hidayatullah di Sulawesi dan Gorontalo berlangsung penuh semangat dan inspirasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Halaqah Kubra Se-Sulawesi dan Gorontalo yang diselenggarakan di Aula Yayasan Madinatul Izzah Mubarak, Kampus Hidayatullah Lamatanre, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 12 Juli 2025.

Mengusung tema “Menguatkan Jati Diri Kader Hidayatullah Menuju NKRI Beradab dan Terhormat”, acara ini menjadi momentum penyegaran ruhiyah sekaligus pelecut motivasi hijrah dan perjuangan bagi para kader yang hadir dari berbagai penjuru wilayah. Enam narasumber dari Dewan Murobbi Wilayah (DMW) dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) berbagi pengalaman perjuangan serta spirit hijrah mereka selama berkiprah di Hidayatullah.

Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Utara yang telah berhijrah sejak 1991 menjadi pemateri pertama. Ia menyampaikan bahwa hijrah adalah proses membangun langkah-langkah kecil menuju perubahan besar dalam kehidupan.

“Hijrah itu adalah ketika kita menapaki langkah-langkah kecil untuk sebuah langkah yang lebih besar,” ujarnya.

Selanjutnya, Ustaz Fakhruddin Rifai dari DMW Hidayatullah Gorontalo menekankan pentingnya totalitas dalam perjuangan. Mengutip pendiri Hidayatullah, almarhum KH. Abdullah Said, ia menegaskan bahwa seorang santri tidak boleh memilih-milih tempat tugas.

“Ketaatan adalah modal utama. Kita harus terjun bebas dan total dalam perjuangan. Tidak boleh setengah-setengah,” tegasnya.

Ketua DMW Sulawesi Tengah, Ustaz Ali Murtadho, menceritakan pengalaman hijrahnya ke Balikpapan pada 1989 yang sempat ditentang keluarga. Ia mengenang pengalamannya saat pertama kali melaksanakan shalat berjamaah di Hidayatullah yang berlangsung cukup lama.

“Shalat Zuhur bisa satu jam. Saya kaget, tapi akhirnya sadar, inilah kedekatan kepada Allah yang sebenarnya,” katanya.

Sementara itu, Ketua DMW Sulawesi Barat, Ustaz Naim Thahir, mengaku sempat ragu menghadiri acara ini. Namun, nama Lamatanre yang berarti ‘tempat tinggi’ menjadi pemantik semangatnya.

“Bisa jadi Allah ingin meninggikan derajat kita dengan kehadiran di tempat ini,” ujarnya.

Ustaz Ahmad MS, Ketua DMW Sulawesi Tenggara, yang sebelumnya banyak berkiprah di wilayah Sumatra, turut memberi motivasi kepada para peserta.

“Meski saya orang Sulawesi, baru kali ini saya bertugas di Sulawesi Tenggara. Semoga keberadaan kita di sini menyerap spirit hijrah untuk dibawa kembali ke tempat tugas masing-masing,” ungkapnya.

Sesi ditutup oleh Ketua DMW Sulawesi Selatan, Ustaz Abdul Majid, M.A., yang menceritakan perjalanan hijrahnya bersama dua rekannya—sesama alumni dan aktivis HMI. Ia memaknai setiap peristiwa perjuangan sebagai proses menuju kualitas hidup yang lebih baik.

“Hijrah itu adalah bagaimana menjadi manusia berkualitas. Berkualitas ibadahnya, ilmunya, dan silaturahminya. Semangat itu harus dijaga, sekalipun besok kita akan mati,” tegasnya.

Acara ini turut dihadiri Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad. Kehadirannya memberikan semangat tersendiri bagi ratusan kader yang hadir serta menjadi simbol kuatnya solidaritas dan komitmen perjuangan dakwah Hidayatullah di seluruh wilayah Sulawesi dan Gorontalo.

(Ian Kassa/hidayatullahsulsel.or.id)

Empat Santri Awal Hidayatullah Berbagi Kisah di Halaqah Kubra Sulawesi di Menro

0

Empat tokoh senior yang merupakan santri awal Pesantren Hidayatullah tampil berbagi kisah dalam acara bertajuk Halaqah Qubra Hidayatullah se-Sulawesi dan Gorontalo, yang digelar di Masjid Kampus Pratama Pesantren Hidayatullah Menro, Pinrang. Acara yang dihadiri ratusan kader dari berbagai daerah di Sulawesi dan Gorontalo ini menghadirkan suasana hangat penuh nostalgia. Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Nasri Bohari, M.Pd., memandu jalannya sesi sebagai moderator (Sabtu, 12 Juli 2025)

Pembicara pertama, Ustadz H. Yusuf Suraji, anggota Pembina Kampus Induk, mengenang awal kehadirannya di Gunung Tembak pada 13 Maret 1976. Dalam usia 15 tahun, ia mengaku masih asing dengan dunia pesantren. “Saya datang karena panggilan iman, meski tak paham kenapa harus sholat malam. Sholatnya panjang, saya terseok-seok mengikutinya,” tuturnya. Ia juga mengenang pengalaman pertamanya berkhotbah Jumat meskipun belum merasa layak dipanggil ustadz.

Selanjutnya, Ustadz H. Manandring Abdul Gani, juga anggota Pembina Kampus Induk, mengisahkan semangat dakwah Ustadz Abdullah Said yang menjadi magnet bagi para pemuda kala itu. Ia menyampaikan bagaimana sosok pendiri Hidayatullah itu rajin mencari anak muda di masjid-masjid, hingga akhirnya ia hijrah ke Karang Bugis lalu ke Gunung Tembak untuk mengikuti jejak perjuangan beliau.

Ustadz H. Sarbini Natsir, Ketua Pengawas Kampus Induk, menceritakan kondisi Balikpapan di tahun 1960-an yang kala itu dikenal sebagai wilayah keras, penuh konflik antar suku. Namun kehadiran Ustadz Abdullah Said membawa perubahan besar. “Sebelumnya, ceramah hanya dari orang tua yang membuat mengantuk. Tapi ketika beliau tampil, saya terpukau. Masih muda, tapi penuh semangat. Ceramahnya seperti orator ulung,” kenangnya.

Sebagai pembicara terakhir, Ustadz H. Amin Mahmud, Ketua Pembina Kampus Induk sekaligus anggota Majelis Penasihat Hidayatullah, menyampaikan bahwa mereka merupakan generasi kedua yang menjadi santri pertama Hidayatullah. “Kami dulu belajar di bawah kolong rumah. Materi pertama yang ditanamkan adalah Al-Qur’an sebagai konsepsi kebenaran mutlak,” jelasnya. Ia juga menyinggung istilah lama yang digunakan untuk kurikulum awal, yaitu Sistema Nuzulnya Wahyu, yang menitikberatkan pada pentingnya pemahaman makna syahadat, sebagai fondasi keislaman.

Acara Halaqah Qubra ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, namun juga refleksi sejarah dan penyegaran ruh dakwah di kalangan kader Hidayatullah dari berbagai penjuru Sulawesi dan Gorontalo.

(Ian Kassa/hidayatullahsulsel.or.id)

8 Santri Hidayatullah Lambara Diwisuda dalam Gelaran Akbar Akademi Tahsin dan Tajwid 2025

0

Bulukumba, 3 Juli 2025 – Sebanyak delapan santri Yayasan Al-Ikhlas Pondok Pesantren Hidayatullah Lambara resmi mengikuti prosesi Wisuda Akbar Akademi Tahsin dan Tajwid (ATT) yang digelar pada Kamis (3/7) lalu di Gedung Bersama Kabupaten Bulukumba.

Wisuda ini menjadi momen bersejarah bagi Al-Ikhlas Lambara, karena untuk pertama kalinya, alumni program ATT dari Lambara turut ambil bagian dalam perhelatan akbar yang diikuti oleh 187 santri dari delapan pesantren di berbagai daerah.

Kegiatan wisuda yang mengangkat tema “Mahkota Surga untukmu, Abi dan Ummi” tersebut menjadi ajang apresiasi bagi para santri yang telah menuntaskan pendidikan intensif di bawah program ATT, sebuah program kaderisasi guru Al-Qur’an yang mengusung konsep profesional, berlisensi, dan bersanad.

Adapun delapan santri dari Al-Ikhlas Lambara yang mengikuti wisuda ini adalah: Daya, Maharani, Rani, Alfiyah, Zaskia, Afifah, Inna dan Diana. Mereka merupakan hasil didikan para trainer lokal Lambara yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan serupa di Kampung Tahsin, Sinjai.

Ustadz Darmawangsyah, S.Pd., Ketua Yayasan Al-Ikhlas Ponpes Hidayatullah Lambara, mengaku haru dan bangga atas capaian santrinya. Ia mengungkapkan bahwa keikutsertaan lembaga yang dipimpinnya dalam program ATT merupakan hasil dari proses panjang dan penuh komitmen.

“Kami memulai dengan mengirim beberapa santri untuk belajar di Sinjai selama tiga gelombang. Dari situ, Al-Ikhlas kemudian dipercaya menjadi mitra program ATT dan membuka kelas sendiri di Lambara. Alhamdulillah, hari ini kita bisa menyaksikan santri kita ikut diwisuda secara resmi,” ujar Darmawangsyah.

Beliau menambahkan bahwa capaian ini bukan hanya membanggakan bagi lembaga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi santri lain untuk menempuh jalur pendidikan Al-Qur’an yang berstandar tinggi.

“Harapan kami, ke depan lebih banyak santri dari Lambara yang bisa ikut program ini. Bahkan, kami berharap DPW Hidayatullah Sulsel bisa memfasilitasi agar jaringan santri Hidayatullah se-Sulsel bisa belajar Al-Qur’an dan menjadi trainer Al-Qur’an yang profesional, berlisensi, dan bersanad di Lambara,” tambahnya.

ATT: Kaderisasi Guru Al-Qur’an Profesional, Bersanad dan Berlisensi

Akademi Tahsin dan Tajwid (ATT) merupakan program kaderisasi guru Al-Qur’an yang dirintis oleh Ustadz Ahmad Jaaze, S.Pd.I., M.Pd., pemegang sanad Qira’ah Sab’ah dari Syaikh Dr. Shalih Musa Djibo. Program ini dirancang selama satu tahun, terdiri atas enam bulan pendidikan intensif dan enam bulan praktik mengajar, dengan lima tahap evaluasi ketat sebelum santri dinyatakan lulus.

Wisudawan mendapatkan ijazah syahadah sesuai dengan hasil evaluasi yang mereka capai. Terdapat tiga jenis syahadah yang diberikan: syahadah ta’allumil Qur’an (pendidikan), syahadah ta’limil Qur’an (lisensi trainer), dan syahadah sanad qira’ah. Tidak semua wisudawan mendapatkan ketiganya, hal ini bergantung pada hasil tahapan uji yang dijalani masing-masing peserta.

Dalam wisuda tahun ini di Bulukumba, delapan lembaga pendidikan turut berpartisipasi, di antaranya Pesantren Fathun Mubarak, Pesantren Al-Mubarak, Pesantren At-Tibyan, Pesantren Al-Islam Meeto, serta Yayasan Al-Ikhlas Lambara.

Ustadz Ahmad Jazi menegaskan bahwa ATT bukan sekadar program pendidikan, melainkan sistem kaderisasi guru Qur’an yang mengintegrasikan standar keilmuan, keotentikan sanad, dan kemampuan praktik di lapangan.

(Rilis/Hidayatullahsulsel.or.id)