Beranda blog Halaman 26

Monev Semester I 2025 DPW Hidayatullah Sulsel: Evaluasi Kritis dan Penajaman Arah Akhir Periode

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menyelenggarakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Semester I Tahun 2025 pada Selasa-Rabu kemarin, 27-28 Muharram 1447 (22–23/07/2025) di Makassar. Kegiatan yang digelar di Kantor DPW Hidayatullah Sulsel ini diikuti oleh seluruh jajaran pengurus wilayah dan turut dihadiri oleh pendamping resmi DPW Sulsel dari DPP Hidayatullah, Ustadz Drs. Wahyu Rahman, S.E., M.M.

Dalam arahannya, Ustadz Wahyu menekankan pentingnya tetap menjaga marwah organisasi di tengah dinamika menjelang Munas. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai jatidiri Hidayatullah harus senantiasa menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah kepengurusan, apa pun kondisinya.

“Nilai-nilai jatidiri hendaknya terus menjadi nafas gerak dan langkah kita, apa pun yang terjadi, bahkan hingga pasca-Munas 2025,” tegasnya di hadapan peserta Monev.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ukhuwah dan soliditas jamaah, dengan menyatakan bahwa organisasi harus tetap steril dari intrik-intrik politik internal. “Kita harus pastikan bahwa kerja-kerja kita bersih dari kepentingan pribadi atau kelompok,” ujarnya.

Terkait menjelang transisi kepengurusan, Ustadz Wahyu menekankan agar amanah yang ada tetap dijalankan dengan penuh tanggung jawab selama 90 hari ke depan. Ia meminta laporan-laporan periodik disusun secara runtut dan berbasis tahunan agar bisa dibandingkan progresnya dari waktu ke waktu. Laporan tersebut, lanjutnya, juga harus dilengkapi grafik, data visual, serta dokumentasi kegiatan sebagai bentuk akuntabilitas publik organisasi.

Menanggapi arahan pembuka tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs, Nasri Bohari, M.Pd. menyampaikan bahwa Monev kali ini memiliki nilai strategis karena menjadi evaluasi terakhir menjelang berakhirnya masa khidmat pengurus saat ini. Ia menyebutkan bahwa Monev Semester II kemungkinan besar tidak akan digelar karena akan beririsan dengan rangkaian agenda nasional organisasi yang dimulai sejak Oktober 2025.

“Monev ini berbeda dari biasanya. Ini adalah momen pamungkas untuk melihat kembali jejak langkah kita. Semester dua tidak memungkinkan karena agenda nasional sudah menunggu,” ujarnya.

Ia meminta seluruh departemen menuntaskan data laporan maksimal September 2025. Menurutnya, laporan yang baik tidak hanya menyajikan angka, tapi juga harus mencerminkan keterpaduan lintas bidang.

“Data tidak boleh hanya berdiri sendiri. Harus ada kesinambungan. Misalnya, jumlah rekrutmen kader harus nyambung dengan data kaderisasi, jumlah halaqah harus sejalan dengan perolehan dana abadi, begitu pula antara jumlah aset dan nilai kekayaan organisasi,” papar Ketua DPW dalam rapat pleno Monev.

Ia berharap hasil Monev kali ini bisa menjadi warisan berharga dan acuan strategis bagi pengurus yang akan datang. “Kita ingin laporan akhir ini menjadi legacy, bukan sekadar dokumentasi,” tambahnya.

Catatan dan Rekomendasi

Sejumlah catatan penting muncul dari Monev kali ini. Dari sisi sekretariat, ditemukan bahwa data Rakerda sebelumnya belum terdokumentasi dengan baik. Fungsi sekretariat sebagai pusat kendali organisasi juga belum berjalan optimal. Selain itu, peran kehumasan belum aktif mendukung citra dan komunikasi eksternal lembaga.

Dalam bidang pendidikan, perlu adanya penataan kembali rencana pendirian sekolah, agar tidak berjalan semaunya tanpa pemetaan wilayah. Standardisasi SDI kependidikan dinilai belum berjalan optimal, dan banyak potensi sumber daya manusia serta lokasi pendidikan yang belum dimanfaatkan. Fokus pengembangan SDI dan manajemen lembaga pendidikan diarahkan ke kampus-kampus madya.

Di bidang dakwah, pendekatan eksklusif dianggap masih dominan. Forum merekomendasikan agar perluasan dakwah dilakukan melalui platform digital. Selain itu, kader bergelar doktor dan alumni Timur Tengah belum tergarap secara strategis. Padahal, perangkat dakwah Hidayatullah sebenarnya sudah tersedia dengan lengkap.

Evaluasi di bidang organisasi dan SDI mengungkap bahwa penempatan kader belum mempertimbangkan kapasitas dan kompetensinya secara memadai. Pemetaan SDI di daerah belum berjalan, dan sejumlah DPD tidak menunjukkan progres yang signifikan. DPW menegaskan bahwa DPD yang stagnan mesti dipimpin oleh kader berpengalaman. Tim SDI Sulsel pun diminta untuk segera diaktifkan kembali.

Di sektor ekonomi, muncul pertanyaan mendasar tentang wujud nyata gerakan ekonomi yang bisa dirasakan oleh warga Hidayatullah Sulsel. Sejumlah pengurus mendorong agar ekonomi pendidikan menjadi penggerak utama. Sayangnya, tim ekonomi DPW yang sebelumnya dibentuk tidak terlihat aktif dalam satu tahun terakhir. Program Sanhid juga tidak menunjukkan progres karena minimnya dukungan dari struktur organisasi.

Dalam bidang sosial dan kesehatan, didorong adanya program parenting, khususnya kelas ayah atau suami, sebagai bagian dari penguatan peran keluarga.

Kegiatan Monev ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi yang menjadi fokus utama dalam tiga bulan sisa masa kepengurusan. Rekomendasi tersebut meliputi penyusunan database online sebagai fondasi manajemen informasi organisasi, peningkatan kapasitas SDI pendidikan melalui upgrading dan workshop, serta ekspansi dakwah digital yang lebih adaptif terhadap era baru.

Optimalisasi koordinasi antar-departemen juga menjadi poin penting, termasuk pemetaan potensi kader menjelang Muswil. Selain itu, perlu dilakukan identifikasi dan inventarisasi aset kelembagaan maupun pribadi kader di seluruh wilayah dan daerah. Rekomendasi terakhir adalah optimalisasi potensi internal organisasi melalui reaktivasi Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) Sulsel.

Kegiatan Monev Semester I 2025 ini diharapkan bukan hanya menjadi forum refleksi, tetapi juga titik tolak konsolidasi akhir masa khidmat pengurus DPW Hidayatullah Sulsel menuju regenerasi kepemimpinan yang lebih matang dan berdaya saing.*/

Reporter: Om Sumar
Editor: Cakdul

Ketahanan Pangan Pesantren Tahfizh Cilik Auladi Jeneponto: Sinergi BMH dan Santri Demi Kemandirian Umat

0

JENEPONTO (HidayatullahSulsel.or.id) — Lahan seluas 0,6 hektar di Pesantren Tahfizh Cilik Auladi Hidayatullah Jeneponto kini menjadi bukti bahwa pengelolaan dana zakat yang tepat sasaran mampu mewujudkan ketahanan pangan pesantren. Program yang digagas oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Selatan ini menjadi bagian dari langkah nyata mendukung kemandirian umat di bidang pangan, sebagaimana dikutip dari bmh.or.id.

Sinergi ini juga menjadi bagian dari spirit Semarak Munas VI Hidayatullah yang mengangkat isu penting seperti penguatan eco-dakwah dan pengembangan kemandirian ekonomi umat berbasis pesantren, dalam bentuk Gerakan Ekonomi Hijau.

Dengan dua kali panen dalam setahun, sawah pesantren tersebut berhasil menghasilkan 2,5 ton gabah. Tak hanya menjadi sumber pangan internal, hasil ini juga mengajarkan kemandirian kepada para santri.

“Sumur bor bantuan BMH menjadi kunci kesuksesan kami,” ungkap Ustadz Basri, salah satu pengurus BMH Sulsel.

Sumur tersebut bukan hanya melayani kebutuhan sanitasi 248 santri, tapi juga menjadi sumber pengairan sawah yang menyumbang sekitar 30% dari total kebutuhan pangan harian pesantren.

Program ini membentuk ekosistem pendidikan pesantren yang lebih utuh. Para santri tidak hanya menghafal Al-Qur’an, namun juga terlibat langsung dalam praktik pertanian, mendekatkan mereka pada alam, serta mengasah kesadaran terhadap pentingnya ketahanan pangan berbasis lokal.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan (Prodaya) BMH Sulawesi Selatan, Ustadz Basori, turut menyampaikan apresiasinya terhadap capaian ini.

“Ini membuktikan bahwa pendekatan holistik dalam pengelolaan zakat sangat efektif. Kami tidak hanya memberi bantuan, tapi membangun kemandirian,” ujarnya pada 23 Juli 2025.

Basori menegaskan, keberhasilan ini menjadi contoh konkret bahwa zakat bisa menjadi solusi jangka panjang bila dikelola secara progresif.

“Inilah ketahanan pangan sesungguhnya, yang lahir dari sinergi kebaikan donatur dan semangat kerja keras santri,” pungkasnya.

Dengan dukungan program seperti ini, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat dan agen perubahan yang strategis dalam pembangunan umat berkelanjutan.*/

Tarbiyah Ruhiyah Hidayatullah: Menyelaraskan Pemahaman dan Pengamalan

0
Photo on unsplash
Oleh: Ustadz H. Sholih Hasyim

DALAM konsep tarbiyah ruhiyah Hidayatullah, terdapat dua fondasi utama yang menopang kekuatan spiritual seorang mukmin: mafahim ruhiyah (pemahaman ruhani) dan a’mal ta’abbudiyah (amalan penghambaan). Keduanya harus berjalan seimbang untuk membentuk karakter ruhani yang kokoh.

Melalui perpaduan keduanya, hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahu Wata’ala akan senantiasa terjaga, dibangun di atas kesadaran akan limpahan karunia-Nya, sekaligus pengakuan atas keterbatasan dan kelemahan diri sendiri.

Pemahaman ruhiyah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, mencakup dua sisi penting: mushahadatul minnah (menyadari karunia Allah) dan i’tiraf bil qushur (mengakui kekurangan amal dan kelalaian diri).

Kesadaran ini membawa seorang mukmin berada pada posisi al-khauf war-raja’, yaitu perasaan takut akan murka Allah dan harapan atas rahmat-Nya. Inilah yang menjadi pilar kestabilan spiritual, menjadikan hidup dijalani dengan penuh keinsafan dan sikap tunduk terhadap kebesaran Ilahi.

Kesadaran tersebut kemudian memerlukan wadah praktis untuk ditumbuhkan dan diperkuat, yakni melalui amalan-amalan penghambaan (ta’abbudiyah). Dalam kerangka ini, ada tiga bentuk utama yang menjadi fokus pembinaan ruhani: membaca Al-Qur’an, mendirikan shalat, dan memperbanyak dzikir.

Tilawah Al-Qur’an memiliki dua dimensi, yaitu sebagai ibadah ritual (ta’abbudiyah) dan sebagai ruang perenungan makna (ta’ammuliyah). Membaca Al-Qur’an secara mendalam mengajak seorang mukmin untuk menelusuri tema-tema besar dalam ayat-ayat-Nya dan menggali pelajaran berharga, sebagaimana dilakukan oleh para ulama dan orang-orang shalih.

Ayat-ayat Al-Qur’an memberikan petunjuk yang bersifat lintas zaman, mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang kokoh. Tema jihad dalam surat Al-Anfal, misalnya, atau makna makar dalam kaitannya dengan kekuasaan Allah, adalah contoh bagaimana Al-Qur’an memberi kedalaman makna dan keteguhan dalam menghadapi syubhat maupun tekanan zaman.

Sementara itu, shalat merupakan tiang agama yang membentuk ritme spiritual harian. Jumlah rakaat dalam sehari mencapai 42 rakaat: terdiri atas 17 rakaat fardhu, 10 rakaat rawatib, 4 rakaat dhuha, dan 11 rakaat tahajud. Keberhasilan membangun kekuatan dari shalat sangat bergantung pada konsistensi.

Pelaksanaan shalat wajib secara berjamaah tidak hanya menggandakan pahala, tetapi juga menguatkan ikatan ruhiyah dan sosial. Bacaan yang sederhana dalam shalat pun, bila dilakukan secara ajeg, dapat membangun karakter ruhani yang kuat secara bertahap.

Dalam kehidupan harian, dzikir juga memiliki posisi sentral. Bacaan seperti istighfar atau la ilaha illallah yang diulang secara terus-menerus membantu menjaga kesadaran seorang mukmin akan hakikat hidup dan tujuan akhirnya.

Dzikir harian seperti yang terangkum dalam At-Tawajjuhat—panduan dzikir pagi dan petang yang diterbitkan DPP Hidayatullah—menjadi energi ruhiyah yang menghidupkan jiwa di tengah hiruk-pikuk urusan dunia.

Semua praktik ibadah ini kemudian dikemas secara sistematis dalam Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH), yang merupakan metodologi pembiasaan amalan ruhani secara konsisten. Program ini meliputi: mengkhatamkan Al-Qur’an sebulan sekali, menegakkan shalat fardhu berjamaah dan rawatib, membiasakan tahajud, menjaga dzikir pagi dan sore, berinfak harian, serta berdakwah secara personal.

Dalam perkembangannya, GNH telah menyebar hingga ke mancanegara dan menciptakan lingkungan yang mendorong pertumbuhan spiritual yang bersih dari kepentingan duniawi.

Para aktivis GNH menjalani irama hidup yang khas, menjadikan aktivitas ruhani sebagai budaya harian. Mereka menikmati kebiasaan orang-orang shalih (daabus shalihin), dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang nyata dalam setiap langkah keseharian.

Namun demikian, tidak sedikit yang mengkritik GNH karena dianggap menampakkan amal dan berpotensi riya’. Padahal, Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah ayat 274 menegaskan bahwa amal shalih yang dilakukan secara terbuka maupun tersembunyi, keduanya memiliki nilai kebaikan. Pelaporan amal, seperti mencatat bacaan Al-Qur’an dalam GNH, bukan untuk pamer, melainkan sebagai bentuk kontrol diri dan motivasi kolektif.

Rasulullah ﷺ dan para sahabat, termasuk Abu Bakar ash-Shiddiq, pun pernah mengungkapkan amal mereka, bukan untuk sombong, tetapi sebagai teladan. Dalam hadits riwayat Muslim, disebutkan bagaimana Abu Bakar melaporkan puasa, mengantar jenazah, dan memberi makan orang miskin dalam satu hari yang sama.

Mengejek amal orang lain justru menjadi ciri kaum munafik, sebagaimana dijelaskan dalam surah At-Taubah ayat 79. Menuduh niat seseorang tanpa dasar dapat memadamkan semangat beramal. Sebab niat adalah urusan hati, yang hanya bisa dihakimi oleh Allah.

Seorang muslim dituntut untuk bersikap husnuzhan dan membedakan antara kritik terhadap kemaksiatan dengan celaan terhadap pelaku kebaikan.

Fudhail bin ‘Iyadh pernah menasihatkan bahwa keikhlasan adalah ketika Allah menjaga seorang hamba dari riya’ dan syirik. Maka GNH, lebih dari sekadar program rutin, sejatinya adalah kultur ruhiyah yang telah menjadi ciri khas Hidayatullah dalam menggapai keberkahan dakwah dan pendidikan.

Karena itu, mari kita terus menghidupkan semangat GNH sebagai sunnah hasanah—sebuah warisan kebaikan yang menyala di tengah meredupnya nilai-nilai agama. Biarlah amal shalih menjadi cahaya yang menuntun dan menginspirasi, selama hati tetap terikat pada Allah semata.*/

*) Ust. H. Sholih Hasyim, adalah pemetik hikmah kehidupan dan anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah

TOT Grand MBA Nasional Digelar, Perkuat Dakwah Al-Qur’an hingga Daerah Terpencil

0

JAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Dalam upaya memperluas jangkauan dakwah Al-Qur’an secara sistematis dan aplikatif, Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bersama Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) berkolaborasi dengan Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) Grand MBA Nasional.

Kegiatan ini resmi dibuka pada hari Senin, 25 Muharram 1447 H / 21 Juli 2025, mengusung tema sentral “Membangun Indonesia dengan Al-Qur’an”. Pelatihan berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh utusan dai dan guru ngaji dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk dari kawasan timur dan pelosok-pelosok nusantara.

Sebagaimana dikutip dari laman hidayatullah.or.id, kegiatan ini bertujuan mencetak trainer Grand MBA yang siap mengabdi di tengah masyarakat, menjawab kebutuhan mendesak akan pendidikan Al-Qur’an yang terstruktur, mudah diakses, dan relevan dengan perkembangan zaman, khususnya di wilayah yang selama ini kurang terjangkau oleh lembaga pendidikan formal.

Ketua Panitia TOT Grand MBA Nasional 2025, Ustaz Muhdi Muhammad, S.Sos.I, menjelaskan bahwa tema kegiatan merupakan refleksi dari semangat membangun bangsa dengan fondasi nilai-nilai Al-Qur’an.

“TOT ini bukan sekadar pelatihan teknis, tapi juga langkah strategis untuk menyiapkan trainer Grand MBA yang dapat menggerakkan dakwah Al-Qur’an secara massif, terorganisir, dan berkelanjutan,” ujar Ustaz Muhdi.

Ia juga menambahkan bahwa tingginya permintaan masyarakat terhadap pengajar Grand MBA menunjukkan antusiasme besar terhadap pembelajaran Al-Qur’an yang lebih sistematis dan mudah dipahami.

Lebih lanjut, Ustaz Muhdi menekankan pentingnya inovasi dalam metode pembelajaran Al-Qur’an di tengah era disrupsi informasi saat ini. Menurutnya, transformasi digital harus dijadikan peluang oleh para pelatih untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Metode Grand MBA dirancang adaptif terhadap zaman, namun tetap menjaga kemurnian nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat,” tandasnya.

Lahir dari Istikharah Bapak Pemimpin Umum

Dalam kesempatan yang sama, Ustaz Muhdi mengungkapkan bahwa Grand MBA merupakan buah gagasan dari Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, yang dirumuskan melalui proses perenungan dan istikharah mendalam saat beliau berada di Tanah Suci Makkah.

“Grand MBA bukan hanya metode mengajar Al-Qur’an, tetapi juga strategi dakwah peradaban. Ini adalah warisan pemikiran yang sangat mendalam dan visioner dari KH Abdurrahman Muhammad,” tutur Muhdi.

TOT Grand MBA Nasional ini meliputi beberapa sesi kunci, seperti pelatihan metodologi pembelajaran, simulasi praktikum, pendalaman kurikulum Grand MBA, serta penguatan ruhiyah dan motivasi dakwah. Peserta dibekali secara teknis dan spiritual agar siap mengimplementasikan program Grand MBA di daerah masing-masing.

Kegiatan ini diharapkan menjadi titik tolak penguatan peran Hidayatullah dalam membumikan dakwah Al-Qur’an, serta menjawab tantangan zaman melalui pendekatan dakwah yang lebih terstruktur, inklusif, dan menyentuh akar kehidupan umat.*/

Bangun Pagi: Nikmat Tak Ternilai yang Sering Terlupakan

0
Photo by Max Kukurudziak on Unsplash

Hidayatullahsulsel.or.id — Setiap pagi yang kita jalani sejatinya adalah anugerah besar dari Allah Subhanahu Wata’ala. Namun, tak sedikit dari kita yang lalai mensyukurinya. Demikian disampaikan Ustaz Dr. Ir. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si dalam halaqah Subuh rutin di Halaqah Umar Bin Khattab, Selasa (22/7/2025) bertepatan 25 Muharram 1447 H.

Mengangkat tema refleksi dari Surah Ibrahim ayat 34, Ustaz Aziz mengajak jamaah untuk menumbuhkan kesadaran syukur sejak membuka mata di pagi hari.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah),” kutipnya dari ayat tersebut.

Menurutnya, ayat ini menjadi teguran lembut sekaligus peringatan bagi manusia yang kerap melupakan limpahan nikmat hanya karena terlalu sibuk meratapi apa yang belum dimiliki.

“Bangun pagi dalam keadaan masih bisa bernapas, jantung berdetak, otak bekerja, mata melihat — itu bukan hal biasa. Itu mukjizat hidup yang tak ternilai,” ujarnya.

Ustaz Aziz mengingatkan pentingnya memulai hari dengan doa bangun tidur yang diajarkan Nabi ﷺ:

“Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur” — “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami (sementara), dan hanya kepada-Nya kami akan kembali.”

Kalimat ini, jelasnya, bukan sekadar rutinitas lisan, tetapi merupakan deklarasi syukur atas kesempatan hidup yang Allah berikan kembali setelah tidur, yang hakikatnya adalah kematian sementara.

Ia juga mengajak untuk berhenti membandingkan hidup dengan orang lain, karena kecenderungan itulah yang sering membuat manusia merasa tidak cukup.

“Kalau kita renungi, betapa mahalnya biaya perawatan bagi pasien yang sulit bernapas, terkena serangan jantung, atau stroke. Maka bisa bangun pagi dengan sehat dan langsung bisa bersujud adalah kekayaan luar biasa,” terangnya.

Ustaz Aziz menekankan, kekufuran terhadap nikmat bukan hanya saat menolak karunia secara terang-terangan, tetapi juga ketika manusia gagal menyadari dan mensyukuri hal-hal sederhana yang sebenarnya sangat bernilai.

“Banyak orang yang tidak bisa sujud pagi ini, entah karena sakit, kelalaian, atau telah kembali ke hadirat-Nya. Maka jika hari ini kita masih bisa sujud, itu nikmat yang melebihi seluruh harta dunia,” tegasnya.

Di akhir tausiyahnya, beliau mengajak para jamaah untuk menjadikan pagi sebagai momen kontemplatif. Mulailah hari dengan syukur, bukan keluhan. Dengan begitu, pikiran lebih jernih, langkah lebih ringan, dan hati lebih tenang.

“Mari belajar melihat luar biasanya hal-hal yang biasa. Sebab nikmat Allah sering kali tersembunyi dalam kesederhanaan yang tak kita sadari,” pungkasnya.

Halaqah Subuh merupakan salah satu forum pembinaan ruhiyah yang digelar rutin di lingkup di masjid-masjid Hidayatullah, dan menjadi bagian dari pembiasaan hidup islami berbasis masjid dan quran.*/

(Disalin dengan penyesuaian seperlunya dari hidayatullah.or.d)

Walimah Mubarak Al-Bayan 2025: Sepuluh Pasang Santri Kader Dai Dinikahkan

0

MAKASSAR (Hidayatullahsulsel.or.id) — Yayasan AlBayan Hidayatullah Makassar kembali menyelenggarakan agenda Walimah Mubarak bagi para santri kader dai-daiyah, Sabtu (19/07/2025), di kampus utama Pondok Pesantren Hidayatullah, Tamalanrea, Kota Makassar.

Sebanyak 10 pasang pengantin resmi menikah dalam perhelatan yang dihadiri ratusan undangan tersebut. Agenda Walimah ini merupakan bagian dari upaya kelembagaan dalam memfasilitasi pernikahan para kader sebagai bentuk tanggung jawab pendidikan dan dakwah secara menyeluruh.

Ketua Steering Committee Walimah Mubarak 2025, Ust Jumaruddin, M.Pd., menjelaskan bahwa para peserta merupakan kader alumni pendidikan Hidayatullah yang telah menerima amanah dakwah di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Indonesia Timur. “Sebelum pelaksanaan akad, para peserta mengikuti karantina intensif yang mencakup pembekalan keilmuan seputar keluarga, parenting, adab suami-istri, dan pembinaan ruhiyah,” jelasnya.

Selama masa karantina, peserta mendapatkan bimbingan dari tim pelaksana, Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, Kantor Urusan Agama (KUA) Tamalanrea, serta para pakar dan pembina internal. Pembekalan tersebut menjadi bagian dari tahapan wajib sebelum pernikahan, sebagaimana ditegaskan oleh Ketua DMW Hidayatullah Sulsel yang juga anggota Badan Pembina Yayasan Al Bayan, Ir H Abdul Majid, MA.

“Ilmu adalah keniscayaan sebelum berkata dan berbuat. Pembekalan pra nikah ini adalah bagian dari amanah ajaran Islam,” ujarnya.

Turut hadir memberikan nasihat pernikahan, Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Dr H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. Dalam tausiyahnya, ia menegaskan pentingnya memudahkan pernikahan sebagai bagian dari tanggung jawab syar’i lembaga terhadap keberlanjutan generasi. Ia menyebut Walimah Mubarak sebagai bentuk pernikahan perjuangan yang dilandasi niat dan komitmen dakwah.

“Ini bukan akhir, tetapi awal dari misi besar mereka. Membangun keluarga adalah membangun benteng terakhir peradaban,” ujarnya.

Dalam agenda yang sama, Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Makassar menyerahkan hadiah berupa tabungan haji bagi seluruh pasangan pengantin. Penyerahan dilakukan oleh Branch Manager BSI Makassar 2, Basri. “Ini stimulus agar para pasangan muda memprioritaskan ibadah haji sejak dini,” ucapnya.

Ketua Yayasan Al-Bayan, Ust Suwito Fatah, M.M., menyampaikan apresiasi atas kontribusi BSI yang selama ini bersinergi mendukung pembangunan infrastruktur pendidikan Al Bayan. “Semoga sinergi ini terus berlanjut dan memberi manfaat lebih luas,” ujarnya.

Menariknya, para pasangan pengantin juga berpartisipasi dalam program penanaman pohon sebagai bagian dari Semarak Pra Munas VI Hidayatullah. Penyerahan simbolik bibit pohon dilakukan langsung oleh Ketua Yayasan Al Bayan kepada para peserta, sebagai bentuk komitmen kontribusi lingkungan.

“Ini sebagai stimulus untuk menyukseskan gerakan penanaman 1 juta pohon menjelang Munas Hidayatullah,” ujar Ust Suwito.

Walimah Mubarak ini turut dihadiri oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Nasri Buhari, M.Pd., perwakilan Walikota Makassar, Akhmad Namsum, M.M., serta sejumlah tokoh masyarakat, pengurus Hidayatullah dari berbagai daerah dan alumni Hidayatullah Makassar.

Adapun pasangan yang mengikuti Walimah Mubarak 2025 adalah:

  1. Muh Ibrahim Alfath – Annisa H
  2. Muh Zaki Mubarak – Evianingaih
  3. Mulyadi – Nur Aisyah Fitri Ramadhani
  4. Muh Jundullah – Musdalifah R
  5. Muh Habibullah Alhaq – Mutiah
  6. Elriandi Satyaguna – Asmira Farida
  7. Amran Hamka – Muslihatun Hasanah
  8. Mujri – Haniah Ismail
  9. Suharjo – Apriani
  10. Zultan – Rafiqhoh

Agenda Walimah Mubarak merupakan tradisi rutin yang telah dilaksanakan oleh Yayasan Al Bayan dan didukung oleh DPW Hidayatullah Sulsel, dan pengurus Hidayatullah kota/kab, serta orpen, amal dan badan usaha Hidayatullah lainnya.

Tonton rekaman siaran langsung Walimah Mubarak melalui laman: https://www.facebook.com/share/v/15qbcF6tf7
(AMC/HidayatullahMakassar.id)

Khutbah Jum’at: Sholat Tiang Agama yang Tak Boleh Diabaikan

0

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Segala puji hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam, yang telah menciptakan kita dari tiada menjadi ada, memberi nikmat iman dan Islam, serta mengaruniakan kesempatan hidup hingga hari ini.

Tiada satu pun makhluk yang mampu menghitung limpahan kasih sayang dan karunia-Nya. Dialah yang membolak-balikkan hati, membentangkan jalan hidayah bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan memuliakan orang-orang yang tunduk serta taat kepada-Nya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, manusia paling mulia yang telah menyempurnakan akhlak dan menegakkan agama ini dengan penuh perjuangan.

Semoga kita termasuk golongan yang mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, dan mendapatkan syafaat beliau kelak di hari kiamat.

Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah,

Pada khutbah kali ini kita akan merenungi satu pilar utama dalam Islam yang sering dilalaikan yaitu sholat, tiang agama yang tak boleh diabaikan.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ .الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) yang khusyu’ dalam sholatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Sholat adalah ibadah agung yang menjamin keberuntungan bagi pelakunya. Sebagaimana janji Allah dalam ayat tadi, sholat bukan sekadar gerak badan.

Jika dilakukan tanpa kesadaran dan kekhusyukan, sholat menjadi kosong dan melelahkan, bahkan bisa menimbulkan kebosanan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ

“Yang pertama-tama dipertanyakan (dihisab) terhadap seorang hamba pada hari kiamat kelak tentang amalnya adalah sholat. Apabila sholatnya baik maka dia beruntung dan sukses, dan apabila sholatnya buruk maka dia kecewa dan merugi” (HR. An-Nasa’i)

Rasulullah ﷺ juga berkata kepada Bilal:

يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة

“Wahai Bilal, bahagiakan aku dengan sholat” (HR. Abu Dawud)

Sholat adalah sumber ketenangan jiwa dan kegembiraan. Nabi dan para sahabat sering kali berlama-lama dalam sholat malam hingga kaki mereka bengkak. Mereka merasakan kenikmatan yang hanya bisa diraih dengan kekhusyukan.

Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah,

Pembicaraan tentang sholat perlu terus diulang. Tidak boleh ada kebosanan dan kelalaian, karena sholat adalah tiang agama. Meremehkannya berarti meruntuhkan pondasi iman.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Namun, tidak semua sholat dapat mencegah kemungkaran. Banyak orang sholat tapi tetap bermaksiat (STMJ = Sholat Terus Maksiat Jalan). Ini pertanda ada yang keliru dalam sholatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang kalian, dia mandi lima kali sehari, apakah masih ada kotoran tersisa?” Mereka menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Demikianlah permisalan sholat lima waktu, Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan sebab sholat.” (HR. Muslim)

Begitulah agungnya sholat, hingga Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai pembeda antara muslim dan kafir:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Khusyu’ adalah ruh dari sholat. Tanpanya, ibadah ini kehilangan makna. Khusyu’ sulit dicapai dan cepat hilang. Bahkan banyak jamaah, termasuk imam, yang tidak khusyu’ dalam sholatnya.

Rasulullah ﷺ pernah berdoa agar dilindungi dari hati yang tidak khusyu’. Beliau bersabda:

“Yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah khusyu’, hingga hampir tidak didapatkan seorangpun yang khusyu’ dalam sholatnya.” (HR. Thabrani)

Sholat yang penuh khusyu’ membuat pelakunya terhindar dari keji dan mungkar. Jiwanya tenang, imannya menguat, dan cintanya pada kebaikan bertambah.

“Sesungguhnya ada dua orang yang berada dalam satu sholat. Perbedaan keutamaan antara keduanya seperti langit dan bumi.” (HR. Abu Dawud)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Khusyu’ bukan sekadar teori. Untuk mencapainya, perlu upaya yang tekun. Datang ke masjid dengan tenang. Pakaian bersih, badan suci, dan harum. Mengosongkan hati dari dunia. Merapikan shaf. Tidak menoleh ke kanan-kiri atau ke atas.

Jauhkan gangguan seperti nyanyian, suara musik, HP berdering, atau pakaian bergambar mencolok.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Apabila engkau akan melaksanakan sholat maka sempurnakanlah wudhu, menghadaplah ke kiblat, bacalah yang mudah dari Al-Qur’an, ruku’ dengan sempurna, sujud dengan sempurna, duduk dengan sempurna, dan lakukanlah itu di seluruh sholatmu.” (HR. Bukhari)

Juga dalan sabda Nabi yang lain:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُوْدَهَا أَوْ قَالَ: لَا يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوْعِ وَالسُّجُودِ

“Seburuk-buruknya manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Rasulullah saw. menjawab, “Yaitu seseorang yang tidak sempurna rukuk dan sujudnya, atau beliau bersabda, “Yaitu orang yang tidak lurus tulang belakangnya dalam rukuk dan sujud.” (HR. Al-Hakim)

Betapa jeleknya menjadi “pencuri sholat”. Ia bukan hanya mencuri hak manusia, tapi juga mencuri hak Allah. Namun anehnya, banyak orang tetap tenang saat sholatnya dicuri syetan.

Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah,

Semua kerusakan moral dan kejahatan dalam masyarakat berakar pada kelalaian dalam sholat.

Semoga Allah menjaga sholat kita, menjadikannya sumber kebahagiaan dan keberkahan hidup. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Santri RQH al-Musthafa Minanga Lolos OSN Provinsi, Harumkan Nama Tana Toraja

0

TANA TORAJA (Hidayatullahsulsel.or.id) — Prestasi membanggakan ditorehkan oleh santri Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) al-Musthafa Minanga, Tana Toraja. Ananda Ayman Abdurrahman, siswa kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Plus 1 Tana Toraja, resmi dinyatakan lolos ke Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi (OSN-P) Sulawesi Selatan bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Informasi kelulusan Ayman diumumkan secara resmi oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) melalui laman bpti.kemdikbud.go.id pada 12 Juli 2025, setelah melalui seleksi ketat tingkat kabupaten (OSN-K).

Ayman akan mewakili Kabupaten Tana Toraja dalam OSN-P yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang, bersamaan dengan Afika Aulia — rekannya dari MI Muhammadiyah Plus 1 — yang lolos di bidang Matematika. Khusus di bidang IPA, bersama 5 wakil lainnya dari Tana Toraja, Ayman akan bersaing dengan 115 wakil Kota/Kabupaten se-Sulsel lainnya untuk merebut tiket Provinsi.

Dalam keterangannya, Ayman menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan yang ia raih.

“Alhamdulillah saya bersyukur bisa lolos ke tingkat provinsi OSN. Ini kesempatan berharga bagi saya. Terima kasih kepada semua guru yang telah membimbing saya, baik di sekolah maupun di Rumah Qur’an,” ungkap Ayman dengan rendah hati.

Ia juga menyampaikan harapannya agar seluruh keluarga besar Hidayatullah ikut mendoakannya.

“Saya mohon doa dari semua ustaz, ustazah, dan warga Hidayatullah agar saya bisa terus semangat, diberi kemudahan, dan bisa lolos hingga babak terakhir,” tambahnya.

Prestasi ini disambut dengan penuh syukur oleh kedua orang tuanya. Ibunda Ayman, mengungkapkan kebahagiaannya atas capaian sang putra.

“Kami sangat bersyukur. Ini adalah buah dari kebiasaan disiplin, belajar, dan pembinaan ruhiyah di Rumah Qur’an. Semoga menjadi pijakan awal bagi Ayman untuk terus melangkah di jalan ilmu dan dakwah,” ujar beliau.

Guru Qur’an Ayman di RQH al-Musthafa Minanga, Ustazah Sisi, turut memberi apresiasi.

“Ayman itu anak yang tekun dan fokus, baik dalam hafalan maupun pelajaran umum. Ia membawa semangat belajar yang stabil dan akhlak yang santun. Kami semua mendoakan agar ia dimudahkan di babak selanjutnya,” ungkapnya.

Apresiasi juga datang dari Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Plus 1, Hj. Erni. Sebagaimana dikutip dari laman resmi madrasah, ia menyampaikan bahwa keberhasilan Ayman dan rekannya, Afika Aulia (bidang Matematika), adalah buah kerja keras semua pihak.

“Semoga mereka mampu menampilkan yang terbaik di tingkat provinsi dan membawa nama baik madrasah serta daerah,” katanya.

Prestasi Ayman menjadi inspirasi bagi para santri RQH lainnya, bahwa integrasi antara pendidikan Al-Qur’an dan akademik dapat berjalan beriringan dan melahirkan generasi yang cerdas dan beradab.*/

Ustadz Husein Kalado: Nilai-Nilai Islam Harus Dipahami dan Dihidupkan

0

BELOPA (Hidayatullahsulsel.or.id) — Dalam rangkaian kegiatan Masa Ta’aruf Santri Baru, Pesantren Hidayatullah Belopa menghadirkan sosok senior Hidayatullah, Ustadz Husein Kalado, untuk memberikan ceramah motivasi kepada para santri baru. Kegiatan ini digelar di Masjid Luqmanul Hakim, Kampus Putri Pesantren Hidayatullah Belopa pada Rabu pagi, 16 Juli 2025.

Meski dikhususkan sebagai penguatan kepada santri baru, kegiatan ini juga tetap dihadiri oleh santri lama, hingga para guru, dan warga pondok.

Dalam ceramahnya, Ustadz Husain yang ditekahui telah bergabung dengan Hidayatullah sejak tahun 1985 tersebut, menekankan pentingnya memahami dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa ajaran Islam tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus diresapi maknanya dan diamalkan secara nyata.

“Kita bersyukur bisa berada di lembaga ini. Khususnya para santri, kalian sedang diproses menjadi generasi pembawa nilai-nilai Islam ke mana pun kalian pergi. Maka jangan hanya dihafal, tapi pahami dan mulai biasakan untuk mengamalkan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengajak para santri untuk menikmati Islam sebagai kenikmatan batin yang sejati. Menurutnya, nilai-nilai Islam harus dirasakan sebagai sesuatu yang lebih nikmat dari apa pun yang bersifat duniawi.

“Nilai-nilai Islam itu harus dinikmati dengan hati. Kalau dibandingkan dengan makanan terenak, ajaran Islam jauh lebih nikmat. Inilah kenikmatan tertinggi bagi seorang mukmin,” ujarnya dengan semangat.

Sebagai penutup, pria yang juga dikenal sebagai pembina Pesantren Hidayatullah Penajam, Kalimantan Timur ini, mengingatkan kembali karakter utama santri Hidayatullah yang sejak awal dikenal dengan kedisiplinannya dalam tiga aspek utama: ibadah, belajar, dan bekerja.

“Santri Hidayatullah itu dikenal dengan ibadah keras, belajar keras, dan kerja keras. Tiga-tiganya harus dinomorsatukan. Karena Hidayatullah memang memproses dan menyiapkan kader pemimpin untuk masa depan,” tandasnya.

Ceramah yang menggugah ini menjadi penyemangat awal bagi para santri baru yang tengah mengawali perjalanan mereka menuntut ilmu dan membangun karakter sebagai kader umat dan bangsa.*/

Reporter: Ian Kassa
Editor: Cakdul

Hidayatullah Parepare Gelar MPLS, Tekankan Adab dan Semangat Belajar bagi Santri Baru

0

PAREPARE (Hidayatullahsulsel.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare menggelar kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk menyambut santri baru jenjang SMP dan SMA Tahun Ajaran 2025–2026. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai Senin, 16 Juli hingga Jumat, 20 Juli 2025.

Mengusung tema “Generasi Hebat Siap Menggapai Masa Depan”, MPLS tahun ini dirancang sebagai proses awal pembentukan karakter, penanaman nilai adab, dan penguatan semangat belajar bagi para santri baru. Sejumlah kegiatan dilaksanakan secara terstruktur, mulai dari pengenalan lingkungan pesantren, pembiasaan adab, penguatan motivasi belajar, hingga permainan edukatif yang membangun kekompakan.

Kepala SMP Hidayatullah Parepare, Tasrim, S.Pd, menyampaikan bahwa MPLS adalah momen penting untuk membantu santri baru beradaptasi secara mental dan emosional dengan lingkungan pendidikan yang baru.

“Tujuan MPLS adalah menyiapkan santri baru agar siap menempuh proses pendidikan di lingkungan yang bercirikan nilai adab dan keislaman. Kami ingin mereka merasa nyaman sejak hari pertama, karena adaptasi yang baik akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan belajar mereka ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMA Hidayatullah Parepare, Abdul Kadir, S.Pd.I, menegaskan bahwa lingkungan pendidikan Hidayatullah tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga kenyamanan berinteraksi dan penguatan karakter berbasis Qur’an dan bahasa.

“Kami memiliki program unggulan berupa pembinaan bahasa dan Qur’an. Suasana sekolah yang harmonis dan relasi yang positif antarwarga sekolah adalah bagian penting dari proses pembelajaran di sini,” jelasnya.

Antusiasme santri baru pun tampak tinggi. Salah satu peserta MPLS, Azka, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan ini.

“MPLS di sini seru banget. Kakak-kakaknya asyik, guru-gurunya juga ramah. Saya merasa makin yakin memilih sekolah ini,” tuturnya.

Dengan berlangsungnya MPLS yang tertib dan bermakna, pihak pesantren berharap santri baru dapat cepat beradaptasi, mencintai proses pendidikan, dan tumbuh menjadi generasi yang beradab, tangguh, dan berprestasi.*/

(Rilis/Humas Hidayatullah Parepare)