Beranda blog Halaman 25

Hidayatullah Sulsel Dorong Ekonomi Hijau Pesantren Jelang Munas VI

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Menyambut gelaran Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan digelar Oktober 2025 di Jakarta, Hidayatullah Sulawesi Selatan menampilkan aksi nyata dalam mendorong agenda ekonomi hijau berbasis pesantren. Dua pondok pesantren di wilayah ini, yaitu Pesantren Daarul Hijrah Tanralili (Maros) dan Pesantren Tahfizh Cilik Auladi (Jeneponto), berhasil menunjukkan perpaduan antara kemandirian ekonomi dan kepedulian lingkungan dalam skala riil.

Pondok Pesantren Daarul Hijrah Tanralili sukses melaksanakan panen perdana kebun singkong seluas 0,5 hektare pada Sabtu kemarin, 26 Juli 2025. Hasil panen diperkirakan mencapai lima ton, yang sebagian akan disalurkan ke pasar lokal.

Panen tersebut dirangkaikan dengan lomba memasak berbahan dasar singkong oleh santri Tahfidz Putri, sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan hidup dan edukasi ketahanan pangan.

“Kami belajar bekerja sama dalam tim sekaligus memasak dari bahan yang kami tanam sendiri,” ungkap Aisya, salah satu santri peserta lomba.

Sementara itu, di Jeneponto, Pesantren Tahfizh Cilik Auladi juga melangsungkan panen padi dari sawah seluas 0,6 hektare. Berkat dukungan sumur bor bantuan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), sawah tersebut mampu menghasilkan 2,5 ton gabah, memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan pangan santri.

“Kami bersyukur atas keberhasilan ini. Program ini membuktikan bahwa pengelolaan zakat secara produktif mampu membangun kemandirian pesantren secara berkelanjutan,” ujar Ustadz Kadir, Ketua BMH Sulawesi Selatan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari, menyebut bahwa inisiatif ini merupakan bentuk kontribusi pesantren terhadap pembangunan nasional. “Gerakan ini mencerminkan dua arah strategis Munas VI: penguatan ekonomi umat dan pelestarian lingkungan. Dakwah tidak hanya berhenti di masjid, tapi juga tumbuh di ladang dan kebun,” ujarnya saat meninjau lokasi panen di Maros.

Kampanye Pesan Kebaikan untuk Lingkungan

Sebagaimana diinformasikan oleh DPP Hidayatullah, Munas VI Hidayatullah tahun ini mengangkat sejumlah tema strategis, di antaranya adalah isu ekonomi keumatan dan konservasi lingkungan. Dalam rangka menyemarakkan agenda tersebut, berbagai wilayah digalakkan untuk meluncurkan program tematik bertajuk “Pesan Kebaikan untuk Lingkungan”.

Upaya Hidayatullah Sulsel dalam memadukan program ketahanan pangan dengan edukasi lingkungan dinilai relevan dengan semangat tersebut. Program seperti Pesantren Berdaya, yang dijalankan melalui sinergi antara pesantren dan Laznas BMH, telah menjadi model pengelolaan zakat yang tidak hanya karitatif tetapi juga transformatif.

“Inilah di antara bentuk eco-dakwah: membina iman, menjaga bumi, dan menggerakkan ekonomi umat dari akar rumput,” terang Robianto, penanggung jawab program pertanian di Tanralili.

Dengan gerakan ini, Hidayatullah ingin menegaskan kembali bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari dakwah yang integral. Sebab, sebagaimana dalam Al-Qur’an, manusia diciptakan bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga sebagai khalifah yang menjaga dan memakmurkan bumi.

Panen Perdana Singkong Ponpes Daarul Hijrah Tanralili: Wujud Nyata Kemandirian Ekonomi dari Dana Zakat

0

MAROS (HidayatullahSulsel.or.id) — Setelah delapan bulan menanti, Pondok Pesantren Daarul Hijrah Tanralili, Kabupaten Maros, akhirnya memetik hasil panen perdana dari kebun singkong seluas 0,5 hektare yang dikelola bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Sabtu 26 Juli 2025.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Pesantren Berdaya, sebagai upaya mendorong ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi berbasis zakat.

Panen ini menjadi momentum kebahagiaan yang dirayakan dengan semarak oleh para santri, khususnya dari unit Tahfidz Putri, melalui aneka lomba masakan berbahan dasar singkong. Mereka menyajikan berbagai menu kreatif, mulai dari sop singkong, bubur cenil, pergedel singkong, hingga racikan menu makan siang sehat dan bergizi.

“Kami belajar bekerja sama dalam tim sekaligus memasak dengan bahan baku yang mudah ditemukan di sekitar,” ujar Aisya, salah satu santri peserta lomba, sebagaimana dikutip dari laporan tim humas ponpes.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah unsur internal Hidayatullah Sulsel, antara lain Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd., dan Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ustadz Ir. H. Abdul Majid, M.A. Turut hadir juga Ketua DPD Hidayatullah Maros Ustadz Muhammad Kaisar, yang juga merupakan Ketua Badan Pembina Yayasan Daarul Hijrah Maros.

Ketua Laznas BMH Sulsel, Ustadz Abdul Kadir, M.M., menegaskan bahwa program pertanian ini adalah bagian dari gerakan strategis dalam membangun kemandirian pesantren. “Program ini tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tapi juga menjadi sarana edukasi ekonomi dan karakter bagi para santri,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ustadz Robianto, M.M., penanggung jawab program pertanian pesantren. Ia menjelaskan bahwa lahan yang dimanfaatkan secara produktif ini diperkirakan menghasilkan sekitar 5 ton singkong. “Insya Allah, beberapa pedagang sudah menyatakan minat membeli hasil panen ini,” ujarnya optimis.

Panen singkong di Tanralili ini menambah deretan kisah sukses eco-dakwah dan ketahanan pangan pesantren yang diinisiasi Laznas BMH. Sebelumnya, Pesantren Auladi Hidayatullah Jeneponto juga berhasil memanen 2,5 ton padi dari sawah yang digarap para santri dengan dukungan sumur bor bantuan BMH.

Kedua capaian ini juga menandai dimulainya program Gerakan Ekonomi Hijau yang diinisiasi dalam rangka Semarak Munas VI Hidayatullah, yang tahun ini mengangkat beberapa tema besar, diantaranya Ekonomi dan Lingkungan.

Melalui sinergi zakat dan kerja keras pesantren, BMH bersama Hidayatullah membuktikan bahwa ekonomi berbasis nilai bisa tumbuh dari akar rumput, dengan menggerakkan pangan lokal, menghidupkan tanah, dan membina santri menjadi pribadi tangguh yang tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menanam dan memanen harapan untuk umat.*/

(Redaksi HidayatullahSulsel.or.id | Reporter: Robi)

Materi Surah Al-Qalam Tekankan Totalitas Berislam di Daurah Marhalah Ula

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Pelaksanaan Daurah Marhalah Ula di Gedung Dakwah Hidayatullah Parepare pada Jumat (25/7) semakin menguatkan wawasan keislaman para peserta melalui materi bertajuk Membangun Kesadaran Berquran yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Misjaya Muh Khairun.

Anggota Dewan Murobbi Wilayah Sulawesi Selatan ini membedah kandungan Surah Al-Qalam sebagai wahyu kedua yang memiliki pesan mendalam tentang identitas dan keagungan akhlak kaum Muslimin.

Dalam pemaparannya, Ustadz Misjaya menegaskan bahwa Surah Al-Qalam merupakan penegasan awal dari Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam dan para pengikutnya, bahwa jalan Islam adalah jalan kemuliaan dan keberkahan.

Alumnus STAIL Lukman al-Hakim Surabaya tersebut juga menyampaikan bahwa surah ini memberikan jaminan ilahiyah bagi siapa saja yang konsisten berpegang pada Al-Qur’an.

“Orang yang berpegang teguh pada Al-Qur’an tidak akan gila, pahala mereka tidak akan terputus, mereka akan memiliki akhlak yang agung, dan senantiasa mendapatkan hidayah,” jelasnya di hadapan peserta.

Menurutnya, inilah bentuk penghormatan dan penguatan dari Allah kepada umat Islam di tengah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang kafir kala itu.

Ia menambahkan bahwa wahyu ini tidak hanya bersifat menenangkan hati Rasulullah shallallahu alayhi wasallam, tetapi juga menjadi fondasi pengokohan identitas Muslim dalam menghadapi tekanan sosial dan ideologis.

Sebaliknya, Ustadz alumnus Doktoral UIKA Bogor tersebut juga memperingatkan bahwa siapa pun yang enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dalam membaca, memahami, maupun mengamalkannya, akan merasakan akibat sebaliknya, yakni kehilangan arah hidup, lemahnya integritas, dan rapuhnya nilai-nilai akhlak.

Dengan gaya penyampaian yang tegas dan penuh semangat, Ustadz Misjaya mengajak seluruh peserta daurah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi hidup mereka.

Ia menyerukan pentingnya berislam secara kaffah, yakni dengan totalitas, bukan setengah-setengah. “Berjuanglah dengan total, jangan tanggung-tanggung dalam mengamalkan agama,” serunya.

Materi ini menjadi penegasan bahwa langkah awal dalam membangun umat tidak bisa dilepaskan dari komitmen terhadap nilai-nilai wahyu.

Para peserta tampak menyimak dengan serius, menyadari bahwa perintah untuk berislam secara utuh adalah panggilan untuk membangun peradaban dengan landasan keimanan dan akhlak yang agung.*/

(Redaksi HidayatullahSulsel.or.id | Reporter: Nas)

Syahadat dan Iqra’ Jadi Penekanan Materi Daurah Marhalah Ula di Parepare

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Dalam pelaksanaan Daurah Marhalah Ula (DMU) yang digelar di Gedung Dakwah Hidayatullah Parepare, Jumat (25/7), salah satu materi yang menyita perhatian peserta adalah pembahasan mendalam tentang syahadat.

Materi ini disampaikan oleh Ustaz Ismail Mukhtar, anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, yang memberikan penekanan kuat pada pentingnya memahami dan mengaktualisasikan syahadat dalam kehidupan nyata.

Dalam pemaparannya, Ustaz Ismail menyampaikan bahwa syahadat bukan sekadar ucapan formal yang menandai masuknya seseorang ke dalam Islam, melainkan sebuah konsekuensi iman yang harus dijalani secara utuh dan konsisten.

Ia mengajak para peserta untuk menumbuhkan kesadaran akan proses kelahiran syahadat itu sendiri, dengan merujuk pada ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam.

“Mengamalkan Iqra’ bismirabbik adalah fondasi untuk menguatkan syahadat kita dalam setiap aspek kehidupan,” tegasnya.

Menurut beliau, perintah membaca dengan menyebut nama Tuhan bukan hanya ajakan literasi, tapi merupakan titik awal pembentukan pribadi muslim yang sadar akan tugas kekhalifahan dan tanggung jawab tauhid.

Ustaz Ismail menjelaskan, turunnya wahyu pertama dalam Surat Al-‘Alaq ayat 1–5 membawa pesan fundamental tentang perubahan besar yang akan terjadi dalam sejarah umat manusia.

Beliau menggambarkan latar situasi saat itu, ketika masyarakat Arab berada dalam masa jahiliah, diliputi kegelapan moral dan spiritual, serta mengalami penyimpangan serius dari ajaran tauhid yang dibawa para nabi terdahulu. Dalam kondisi seperti itu, Allah mempersiapkan kehadiran seorang pemimpin umat—yakni Nabi Muhammad SAW—sebagai solusi atas berbagai krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung.

Materi yang disampaikan Ustaz Ismail tidak hanya membangkitkan kesadaran bertauhid para peserta, tetapi juga menggugah komitmen mereka untuk menghadirkan syahadat dalam tindakan nyata, terutama dalam konteks dakwah dan kehidupan berjamaah.

Daurah ini juga sekaligus menjadi pengingat kuat bahwa titik awal kebangkitan peradaban Islam dimulai dari kesadaran spiritual dan intelektual terhadap wahyu pertama yang diturunkan, yang mengandung perintah eksplisit untuk membaca, memahami, dan berbuat atas dasar nama Tuhan.

Para peserta tampak antusias mengikuti pemaparan ini, yang disampaikan secara komunikatif dan bernas. Dengan pendekatan yang menekankan kesadaran ruhiyah dan tanggung jawab dakwah, sesi ini diharapkan menjadi bekal penting bagi kader-kader muda dalam menjalani amanah perjuangan di medan masing-masing.*/

Daurah Marhalah Ula Parepare Awali Sesi dengan Refleksi Kritis atas Realitas Umat

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Kegiatan Daurah Marhalah Ula yang berlangsung di Gedung Dakwah Hidayatullah Parepare pada Jumat (25/7) diawali dengan sesi pembuka bertema “Pengantar Sistematika Wahyu” yang disampaikan oleh Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustaz H. Muh. Nashrullah Alwi, Lc., MM.

Sesi ini menjadi pengantar yang menggugah kesadaran peserta terhadap realitas umat Islam kontemporer sekaligus menjadi landasan berpikir dalam memahami urgensi dakwah dan perubahan.

Dalam pemaparannya, Ustaz Nashrullah secara lugas memotret sejumlah problem krusial yang melilit umat Islam saat ini. Salah satu yang ia soroti secara tajam adalah rendahnya budaya membaca di kalangan kaum Muslimin.

“Sangat sedikit umat Islam yang suka membaca, baik itu Al-Qur’an maupun buku-buku hadits,” ungkapnya di hadapan peserta.

Menurut beliau, kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama keterbelakangan umat dalam bidang ilmu pengetahuan. “Sangat sedikit ilmuwannya, kita tertinggal jauh,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Ustaz Nashrullah juga mengangkat persoalan ketidakadilan yang kian merajalela.

Alumnus Universitas Islam Madinah tersebut juga menyayangkan banyaknya individu yang tidak berlaku adil ketika memegang amanah, mencerminkan krisis integritas yang serius dalam kehidupan sosial maupun kepemimpinan umat.

Dalam nada prihatin, beliau juga menyinggung tentang kemiskinan yang menghimpit mayoritas umat Islam. “Rata-rata umat Islam berada dalam garis kemiskinan, sangat sedikit jumlahnya yang mampu berzakat, perekonomian bahkan tidak dikuasai oleh umat Islam,” paparnya.

Lebih jauh, ia menyebut budaya korupsi dan kecintaan berlebihan terhadap dunia sebagai penyakit sosial yang terus menggerogoti kekuatan umat.

“Kita terjajah secara sosial dan ekonomi,” tegasnya, sembari menunjukkan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi umat saling berkaitan dan membentuk lingkaran setan yang sulit diputus jika tidak dimulai dari kesadaran kolektif.

Sesi pembuka ini diharapkan dapat menjadi momentum refleksi bagi para peserta untuk membenahi diri, membangun kesadaran intelektual dan spiritual, serta menumbuhkan semangat kolektif dalam mencari solusi atas berbagai problematika umat.

Materi yang disampaikan secara komunikatif ini menjadi pembuka jalan bagi peserta daurah untuk memasuki tahapan pembelajaran berikutnya dengan bekal kesadaran atas kondisi umat dan pentingnya peran kader dakwah dalam perubahan.

(Redaksi HidayatullahSulsel.or.id | Reporter: Nas)

Yayasan Al-A’raaf Luncurkan Program Akademi Tahsin dan Tajwid Al-Jazi: Siapkan Guru Qur’an Profesional dan Bersanad

0

BULUKUMBA (HidayatullahSulsel.or.id) — Yayasan Al-A’raaf Hidayatullah Bulukumba secara resmi meluncurkan Program Akademi Tahsin dan Tajwid Al-Jazi, Sabtu, 26 Juli 2025, bertempat di Kampus Putri Pesantren Hidayatullah Bulukumba, Padangmonro, Desa Garanta, Kecamatan Ujungloe, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Program ini merupakan kerja sama strategis antara Yayasan Al-A’raaf dengan Akademi Tahsin dan Tajwid (ATT) Al-Jazi yang berbasis di Sinjai. Tujuannya adalah mencetak Guru Al-Qur’an Profesional, Berlisensi, dan Bersanad melalui proses pendidikan intensif selama satu tahun.

Peluncuran program disaksikan oleh para santri, wali santri, jajaran guru, serta pengurus yayasan. Hadir langsung Ustaz Fathi Ararya, Direktur Utama ATT Al-Jazi, yang mewakili pendiri ATT, Ustaz Ahmad Jaaze.

Dalam sambutannya, Ustaz Fathi memaparkan visi dan kurikulum program serta menekankan pentingnya keberlanjutan sanad dalam pengajaran Al-Qur’an.

“Program ini tidak hanya mengajarkan cara membaca Al-Qur’an yang benar, tapi juga membentuk karakter pendidik yang profesional dan amanah dalam membawa ilmu yang shahih dan teruji,” tegas Ustaz Fathi, yang juga alumni ATT Putra Pesantren Darul Istiqamah Patohoni Sinjai.

Peluncuran program ini juga dirangkaikan dengan pengajian umum yang disampaikan oleh Ustaz Irfan Yahya Daeng Taba’, Ketua Badan Pembina Yayasan Al-A’raaf. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan ritual.

“Islam hari ini seringkali terhijab oleh umatnya sendiri. Sudah saatnya kita kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang nyata dalam keseharian,” tuturnya.

Sebagai langkah awal, sebanyak 14 santri putri dari Pesantren Al-Hikmah Hidayatullah Bulukumba terpilih mengikuti program ini. Mereka merupakan penerima beasiswa penuh, terdiri dari kader dai, anak yatim, dan dhuafa yang memiliki komitmen tinggi terhadap dakwah dan pendidikan Al-Qur’an.

Para peserta akan dibimbing secara intensif oleh dua trainer utama, yakni Ustazah Nurul Azkiah (asal Bulukumba) dan Ustazah Mujahidah (asal Gorontalo), keduanya alumni ATT Darul Istiqamah Patohoni Sinjai.

Ketua Yayasan Al-A’raaf Hidayatullah Bulukumba, Ustaz Suparman, menyampaikan harapan besarnya terhadap program ini.

“Semoga hadirnya Akademi Tahsin dan Tajwid Al-Jazi ini benar-benar mampu mencetak guru Al-Qur’an berkualitas yang memberi dampak besar bagi generasi mendatang. Apalagi saat ini, Hidayatullah Bulukumba sudah memiliki lima cabang pesantren yang membutuhkan SDM pengajar Qur’an profesional,” ujarnya.

Sementara itu, dalam pernyataan terpisah, Founder ATT Al-Jazi Ustaz Ahmad Jaaze mengapresiasi peluncuran program ini sebagai terobosan penting.

“Saya ucapkan selamat atas peluncuran ini. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk mengkader guru-guru Qur’an yang profesional, berlisensi, dan bersanad. Ini investasi jangka panjang,” kata Ustaz Ahmad.

Ia menambahkan bahwa keberadaan program ini akan memperkuat kemandirian pesantren dalam mencetak guru Qur’an dari dalam.

“Setelah setahun, kita berharap 14 santri ini bisa lulus dan menjadi trainer internal. Maka, setiap angkatan baru cukup dididik oleh para senior mereka sendiri. Dampaknya luar biasa: selain efisiensi anggaran, pondok juga akan dikenal sebagai produsen guru Qur’an yang siap pakai,” jelasnya.

Dengan dukungan penuh dari yayasan dan kehadiran dua trainer berpengalaman, program ini diyakini akan menjadi pilar kuat dalam pengembangan pendidikan Qur’ani di Bulukumba dan sekitarnya.

(Redaksi HiayatullahSulsel.or.id | Reporter: Om Supa)

Founder ATT: Ini Terobosan Strategis dan Investasi Jangka Panjang untuk Kaderisasi Guru Qur’an

0

BULUKUMBA (HidayatullahSulsel.or.id) — Peluncuran Akademi Tahsin dan Tajwid (ATT) Al-Jazi di Kampus Putri Hidayatullah Bulukumba, Sabtu (26/07/2025), mendapat apresiasi langsung dari pendirinya, Ustadz Ahmad Jaaze, S.Pd.I., M.Pd. Menurutnya, kehadiran ATT di Hidayatullah Bulukumba bukan sekadar perluasan program, melainkan tonggak penting dalam gerakan kaderisasi guru Al-Qur’an di Indonesia Timur.

“Saya ucapkan selamat atas peluncuran ini. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik untuk mengkader guru-guru Qur’an yang profesional, berlisensi, dan bersanad,” ujar Ustadz Jaaze saat dihubungi secara terpisah oleh redaksi.

Ia menilai, selama ini masih banyak pesantren dan lembaga Islam yang mengalami kesulitan mencari tenaga pengajar Qur’an yang mumpuni dan memiliki legalitas kompetensi yang diakui.

“Kalaupun dapat guru Qur’an yang profesional dan bersanad, biayanya tinggi. Nah, dengan adanya program ATT di Bulukumba ini, menurut saya ini adalah terobosan luar biasa,” tambahnya.

Ia juga menyoroti peran Yayasan Al-A’raaf yang dinilai berani berinvestasi di bidang pendidikan Qur’an yang serius dan jangka panjang.

“Setahun ini yayasan akan berinvestasi membiayai program dan trainer, tapi insya Allah setahun ke depan akan memetik hasil. Empat belas santri ini akan jadi trainer internal. Ini langkah mandiri, sistemik, dan bisa berjalan dengan biaya minimal karena dilatih oleh lulusan sendiri. Sebuah kaderisasi berkelanjutan,” ungkapnya.

ATT: Merintis Jalan Guru Qur’an Berkualitas

ATT Al-Jazi sendiri merupakan program kaderisasi guru Al-Qur’an yang dirancang oleh Ustadz Ahmad Jaaze, lewat pengalaman dan perenungan panjang. Alumnus STIBA Ar-Raayah Sukabumi tersebut merupkan pemegang sanad Qira’ah Sab’ah dari Syaikh Dr. Shalih Musa Djibo.

Program ini berdurasi satu tahun, terdiri dari enam bulan pendidikan intensif dan enam bulan praktik lapangan, serta melewati lima tahap evaluasi berjenjang dan ketat.

Peserta yang lulus akan mendapatkan ijazah syahadah sesuai capaian mereka. Tiga jenis syahadah yang disediakan antara lain, pertama, Syahadah Ta’allumil Qur’an yang sebagai bukti kelulusan program pendidikan.

Kedua, yaitu Syahadah Ta’limil Qur’an yang didapatkan peserta sebagai lisensi resmi menjadi trainer atau pengajar Al-Qur’an. Dan ketiga, Syahadah Sanad Qira’ah yang merupakan pengakuan resmi atas sanad bacaan Al-Qur’an yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.

Tidak semua peserta otomatis mendapat ketiga syahadah tersebut, karena penilaian dilakukan secara ketat dan independen oleh tim evaluator, serta ujian akhir oleh Founder secara langsung.

“ATT bukan sekadar program pendidikan. Ini adalah sistem kaderisasi yang mengintegrasikan standar keilmuan, keotentikan sanad, dan kemampuan praktik nyata di lapangan,” tegas Ustadz Ahmad.

Dari Patohoni Menyebar ke Nusantara

ATT pertama kali dirintis di Pesantren Darul Istiqamah Patohoni, Sinjai, yang kini dikenal sebagai “Kampung Tahsin”. Dari sanalah, sekitar 500-an trainer Qur’an profesional telah dilahirkan dan tersebar ke berbagai lembaga mitra. Mereka tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembina kaderisasi di daerahnya masing-masing.

Hingga saat ini, ATT telah bermitra dengan lebih dari 30 pesantren dan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia, membangun jaringan kaderisasi yang saling menduplikasi. Dengan masuknya Hidayatullah Bulukumba dalam jaringan ini, Ustadz Ahmad Jaaze berharap akan menjadi salah satu produsen guru Qur’an, khususnya di internal Hidayatullah.

“Pondok ini ke depan bisa menjadi pusat rujukan. Kalau pesantren lain butuh guru Qur’an, mereka akan cari ke Hidayatullah Bulukumba,” ungkapnya.

Kehadiran ATT juga menandai pergeseran penting dalam pendekatan pelatihan Qur’an. Alih-alih bersifat jangka pendek atau instan, ATT menekankan pada manhaj pendidikan yang sistemik, berbasis sanad, dan berorientasi pada regenerasi.

Di Bulukumba, 14 santri putri peserta angkatan pertama saat ini sedang memulai proses pendidikan intensif. Mereka berasal dari kalangan yatim, dhuafa, dan kader da’i yang telah diseleksi secara ketat oleh Yayasan Al-A’raaf. Selama program berjalan, mereka akan dibimbing oleh dua trainer utama: Nurul Azkiah (asal Bulukumba) dan Mujahidah (asal Gorontalo), keduanya alumni Pesantren Patohoni.

Peluncuran ATT di Hidayatullah Bulukumba bisa menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah yang senyap. Dari ruang belajar sederhana, dengan mimpi besar, dan semangat tulus untuk menjaga Al-Qur’an tetap hidup di tengah umat.

(Redaksi HidayatullahSulsel.or.id | Reporter: Cakdul)

Daurah Marhalah Ula Digelar di Parepare, Diikuti Peserta dari Berbagai Daerah

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan bekerja sama dengan DPD Hidayatullah Parepare menyelenggarakan Daurah Marhalah Ula (DMU) selama dua hari, Jumat–Sabtu (25–26 Juli 2025) di Gedung Dakwah Hidayatullah Parepare.

Kegiatan ini diikuti oleh 21 peserta dari berbagai amal dan bada usaha Hidayatullah se-Sulawesi Selatan, dengan jumlah terbanyak berasal dari Sekolah Dai Hidayatullah yang mengirimkan 13 orang perwakilan.

Sebanyak empat instruktur turut hadir memberikan materi pembekalan dalam daurah ini. Dari unsur Dewan Murabbi Wilayah, hadir sebagai pemateri Ustadz Ismail Mukhtar dan Dr. Misjaya Muh. Khairun.

Selain itu, turut hadir sebagai pemateri Ustaz H. Muh. Nashrullah Alwi, Lc., MM. (Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel), dan Ustadz Ahmad Syahril, S.Pd. (Ketua DPD Hidayatullah Parepare).

Dalam sambutan pembuka, Ustadz H. Nashrullah Alwi, Lc., menekankan pentingnya menumbuhkan semangat istiqamah dalam perjuangan bersama Hidayatullah, khususnya melalui komitmen terhadap halaqah, berjamaah, dan kepemimpinan.

Sementara itu, Ustadz Drs. Ismail Mukhtar memberikan peneguhan tentang urgensi penguatan akidah dan tauhid, serta pentingnya memahami konsekuensi syahadat secara utuh.

Pesan serupa disampaikan oleh Ustadz Dr. Misjaya, yang menekankan interaksi harian dengan Al-Qur’an dan pengokohan ibadah sebagai fondasi para dai.

Adapun Ustadz Ahmad Syahril dalam penyampaian materinya memberikan penekanan pada aspek dakwah dan pentingnya berjamaah dalam perjuangan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman keislaman, ukhuwah Islamiyah, serta membangkitkan semangat juang kader dalam mengemban amanah dakwah di wilayah masing-masing.*/

(Redaksi HidayatullahSulsel.or.id | Reporter: Nas)

Instruktur Al Qur’an adalah Pewaris Nabi, Tegas Ketum DPP Hidayatullah dalam ToT Grand MBA

0

JAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Menjadi instruktur atau pengajar Al Qur’an berarti memilih jalan sebagai bagian dari jalan warisan kenabian. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, M.A., saat memberikan materi dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA), yang berlangsung pada 21–25 Juli 2025 di Jakarta.

Dikutip dari laman resmi Hidayatullah.or.id, Nashirul menegaskan bahwa profesi mu’allim dan da’i adalah pekerjaan para nabi dan rasul, khususnya Rasulullah ﷺ. Karena itu, mengemban tugas sebagai pengajar Al Qur’an merupakan amanah yang sangat agung dan mulia. Dalam paparannya, ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 2 sebagai dasar argumentatif dari misi dakwah tersebut.

“ToT Grand MBA ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan proses kaderisasi bagi calon-calon instruktur nasional Al Qur’an. Peran ini sangat strategis untuk menjawab kebutuhan mendesak akan guru-guru Al Qur’an di seluruh wilayah Indonesia,” ungkapnya.

Dalam sesi lain, Nashirul juga mengulas karakter pribadi rabbani sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 79. Ia menekankan bahwa salah satu indikator pribadi rabbani adalah mengajarkan dan mempelajari Al Qur’an secara berkelanjutan.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun membina program Grand MBA, ia menggarisbawahi pentingnya penguasaan metodologi pengajaran Qur’an. “Guru Al Qur’an tidak cukup hanya ikhlas dan berilmu. Ia juga wajib menguasai teknik mengajar yang baik agar penyampaian materi bisa lebih efektif dan menghindari kejenuhan peserta didik,” tegasnya.

Pelatihan ToT yang berlangsung selama lima hari ini diikuti oleh 25 peserta terpilih dari utusan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah se-Indonesia, termasuk dari wilayah Sulawesi Selatan.

Para peserta telah melalui proses seleksi ketat dan dinyatakan memenuhi kualifikasi sebagai calon instruktur wilayah. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas SDM dalam ekosistem dakwah Al Qur’an yang berjenjang, terstandar, dan berorientasi pada kualitas pendidikan berbasis tauhid.

Melalui ToT Grand MBA ini, Hidayatullah berharap akan lahir lebih banyak instruktur Qur’an yang mampu mencetak mu’allim dan mu’allimah di daerah-daerah, khususnya di wilayah-wilayah dakwah dan binaan, sejalan dengan visi gerakan membangun peradaban Islam melalui pendidikan Qur’ani.*/

Reporter: A Ruwais
Editor : Cakdul

Peringati HAN 2025, Hidayatullah Serukan Penguatan Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak

0

JAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) – Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Musliadi Raja, mengungkapkan bahwa momen peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap 23 Juli, merupakan waktu yang sangat strategis untuk mengevaluasi kembali komitmen bersama dalam memenuhi hak-hak anak. Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya membangun keberlanjutan bangsa secara menyeluruh.

Berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan budaya masih menyelimuti kondisi anak-anak di Indonesia. Berbagai persoalan seperti kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi secara ekonomi, hingga keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan masih menjadi persoalan krusial yang belum terselesaikan.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, terdapat lebih dari 2.057 laporan pelanggaran terhadap hak anak. Laporan-laporan tersebut meliputi kekerasan seksual, kekerasan fisik, penelantaran, dan perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan. KPAI juga mencatat kenaikan jumlah anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan, khususnya di kawasan urban dan wilayah penyangga kota besar.

Musliadi menjelaskan bahwa situasi tersebut diperparah oleh masifnya penggunaan teknologi digital di kalangan anak-anak tanpa pengawasan yang memadai dari orang tua. Mengutip laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika, anak-anak berusia 10–17 tahun merupakan kelompok pengguna internet terbesar kedua di Indonesia, dan sangat rentan terhadap paparan konten-konten yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, maupun penipuan daring.

“Karena itulah, Hidayatullah memandang bahwa peringatan HAN tidak sekadar seremonial, tetapi harus menjadi alarm bersama untuk meneguhkan kembali peran semua pihak, terutama umat Islam, dalam mendidik dan menjaga generasi penerus bangsa,” jelas Musliadi dalam keterangannya, Kamis, 28 Muharram 1447 (24 Juli 2025), sebagaimana dikutip dari Hidayatullah.or.id.

Ia menekankan bahwa upaya perlindungan anak tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai agama. Dalam Islam, kata Musliadi, anak bukan hanya objek kasih sayang, melainkan subjek utama dalam pendidikan akhlak dan penjagaan iman.

Musliadi yang juga menjabat sebagai Direktur Sahabat Anak Indonesia (SAI), menegaskan bahwa Hidayatullah melalui lembaga-lembaga pendidikannya seperti Sekolah Integral Hidayatullah dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), telah mengembangkan pendekatan pendidikan berbasis tauhid. Pendekatan ini berupaya menyinergikan peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter anak yang kuat.

“Berbagai problematika anak tidak bisa dilepaskan dari krisis keluarga serta lemahnya kontrol sosial yang berbasis nilai agama. Maka solusi utamanya adalah menghidupkan kembali fungsi keluarga sebagai madrasah utama dalam kehidupan anak,” tambah Musliadi.

Lebih lanjut, Hidayatullah juga mengajak negara agar lebih melibatkan ormas Islam dan institusi keagamaan dalam menyusun kebijakan pendidikan dan pengasuhan anak. Menurutnya, perlindungan anak harus dijalankan dalam kerangka maqashid syariah yang melindungi agama, akal, jiwa, dan keturunan.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Hidayatullah menggagas lahirnya sebuah gerakan nasional perlindungan anak berbasis nilai-nilai Islam. Gerakan ini akan meliputi pembinaan intensif bagi keluarga muda, pelatihan guru dan dai yang ramah anak, serta kampanye literasi digital yang bertujuan menekan dampak negatif digitalisasi terhadap anak-anak.

Program ini, kata Musliadi, juga menjadi kontribusi nyata Hidayatullah dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas dan tujuan keenam belas tentang keadilan dan lembaga yang inklusif.

Di akhir pernyataannya, Musliadi menyampaikan bahwa peringatan Hari Anak Nasional tahun ini harus menjadi panggilan kesadaran moral bagi umat Islam untuk menempatkan anak-anak pada posisi strategis dalam agenda kebangkitan peradaban Islam.

“Anak-anak bukan hanya target kebijakan negara, tetapi calon pemimpin masa depan yang harus disiapkan dengan nilai iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial. Sebagaimana firman Allah dalam QS At-Tahrim ayat 6: ‘Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…’ maka melindungi anak bukan hanya kewajiban negara, tetapi juga ibadah kolektif umat Islam,” pungkasnya.