Beranda blog Halaman 24

Khutbah Jumat: Hakikat Kemerdekaan dalam Perspektif Islam

0
ist - nashirul haq-khutbah

الحمد لله الذي أعزّنا بالإسلام، وحرّرنا من ظلمات الجهل والضلال، وأكرمنا بنعمة الإيمان والتوحيد، وجعل في طاعته العزّة والكرامة، وفي معصيته الذلّ والهوان
نحمده سبحانه ونشكره، ونتوب إليه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
أما بعد:فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي بتقوى الله عزّ وجل، فهي وصية الله للأولين والآخرين ﴿وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita sekarang berada di bulan Agustus, bulan yang begitu istimewa dan penuh makna bagi bangsa Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ini adalah nikmat besar dari Allah yang patut kita syukuri, karena setelah sekian lama hidup dalam penjajahan, akhirnya negeri ini memperoleh kemerdekaan.

Namun, sebagai seorang muslim, kita perlu merenungkan kembali: apa sebenarnya makna kemerdekaan? Apakah kemerdekaan hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik oleh bangsa lain?

Dalam pandangan Islam, kemerdekaan yang sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, tetapi ketika seseorang benar-benar lepas dari penghambaan kepada sesama makhluk, dan hanya tunduk serta taat kepada Allah SWT semata.

Rasulullah ﷺ diutus ke dunia bukan hanya untuk membebaskan bangsa Arab dari kekuasaan Romawi atau Persia, tetapi yang jauh lebih penting: untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk, menuju penghambaan yang tulus hanya kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia; spiritual, intelektual, moral, dan sosial.

Kemerdekaan spiritual berarti hati yang hanya bergantung kepada Allah, bukan pada materi, jabatan, atau sesama manusia.

Seorang muslim yang merdeka secara spiritual tidak mudah goyah oleh tekanan dunia, karena hatinya kokoh berpegang pada tauhid.

Kemerdekaan intelektual berarti berpikir merdeka, tidak dibelenggu oleh kebodohan atau tunduk buta pada arus pemikiran yang menyesatkan.

Seorang muslim didorong untuk berpikir kritis, mencari ilmu, dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Kemerdekaan moral berarti memiliki integritas, bebas dari dorongan hawa nafsu yang menjerumuskan pada kemaksiatan.

Seorang muslim yang merdeka secara moral tidak hanya tahu mana yang benar, tapi juga berani menjalankannya meski di tengah tantangan.

Kemerdekaan sosial berarti terwujudnya keadilan, saling menghargai, serta terbebas dari penindasan dan kezaliman dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang saling menolong, membangun dengan nilai-nilai kebaikan, dan menjunjung tinggi hak serta martabat sesama.

Inilah kemerdekaan sejati menurut Islam, kemerdekaan yang membebaskan manusia, bukan hanya dari rantai penjajahan, tapi juga dari segala bentuk belenggu yang menghalangi manusia untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika seseorang bebas dari belenggu hawa nafsu, bebas dari perbudakan terhadap materi, serta terbebas dari jeratan kemaksiatan dan dosa.

Sudahkah kita merdeka dari belenggu hawa nafsu?

Di antara bentuk kemerdekaan paling mendasar adalah merdeka dari hawa nafsu.

Sebab, tak sedikit orang yang secara lahiriah tampak merdeka, bebas bergerak, berpendapat, dan hidup tanpa tekanan. Namun, di balik itu semua, mereka masih terjajah oleh nafsu mereka sendiri. Allah SWT berfirman:

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍۢ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Islam memandang bahwa tunduk pada hawa nafsu adalah salah satu bentuk perbudakan paling berbahaya. Ia tidak mengikat tubuh, tapi mengekang jiwa.

Diam-diam, hawa nafsu menggerogoti manusia dari dalam, membutakan nurani, melemahkan akal sehat, dan menjauhkan dari kebenaran.

Maka, merdeka sejati bukan sekadar soal kebebasan fisik. Ia adalah kebebasan batin, ketika hati mampu berkata “tidak” pada godaan, dan jiwa kuat untuk memilih jalan yang diridhai Allah.

Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa terhadap kesenangan duniawi yang sering kali bertentangan dengan akal sehat, tuntunan wahyu, dan bisikan hati nurani.

Jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai bentuk penyimpangan.

Nafsu bisa mendorong pada syahwat, kesenangan jasmani yang berlebihan, menumbuhkan ketamakan terhadap harta dan jabatan, menumbulkan rasa malas dalam beribadah, hingga menumbuhkan kecintaan pada dunia yang melalaikan akhirat.

Sedikit demi sedikit, hawa nafsu yang dibiarkan liar akan mengikis ketajaman iman dan menjauhkan seseorang dari jalan yang diridhai Allah.

Karena itulah, Islam menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai bagian dari perjuangan menuju kemerdekaan sejati.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Sudahkah kita merdeka dari kecintaan berlebihan terhadap dunia?

Merdeka dari kecintaan berlebihan terhadap dunia, maksudnya mampu melepaskan diri dari keterikatan yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi seperti harta, jabatan, popularitas, atau kesenangan sesaat, yang sering kali membuat kita lupa pada tujuan hidup yang sejati: mendekat kepada Allah dan meraih kebahagiaan abadi di akhirat.

Kemerdekaan sejati bukan ketika seseorang punya segalanya, tetapi saat ia tidak diperbudak oleh apa pun. Bukan terpesona oleh gemerlap dunia, melainkan tetap sadar bahwa semuanya hanyalah titipan sementara.

Harta, jabatan, dan kemewahan bukanlah musuh, namun jika hati terlalu terpaut padanya, maka manusia mulai kehilangan arah. Hidup jadi sekadar perlombaan mengejar kepuasan lahiriah, bahkan sampai rela mengorbankan nilai, integritas, dan akhirat hanya demi dunia yang fana.

Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya:

ٱعْلَمُوٓا أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ

“Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan” (QS. Al-Hadid: 20)

Inilah bentuk perbudakan yang paling halus namun berbahaya: ketika manusia mengabdi pada dunia, bukan pada Tuhannya.

Namun, bebas dari perbudakan dunia bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam tidak mengajarkan untuk lari dari kehidupan, tetapi mengatur bagaimana menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Harta bisa jadi sumber kemaslahatan jika digunakan dengan bijak. Jabatan adalah amanah, bukan alat untuk menyombongkan diri.

Kesenangan dunia boleh dinikmati, selama tidak melalaikan kita dari akhirat. Inilah hakikat kemerdekaan batin: saat seseorang bisa menjalani kehidupan dunia dengan tenang.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Sudahkah kita merdeka dari kemaksiatan dan dosa?

Merdeka sejati adalah terbebas dari belenggu maksiat dan dosa. Karena sebenarnya, dosa adalah bentuk perbudakan spiritual, hati jadi gelap, jiwa sempit, dan hidup terasa jauh dari keberkahan.

Orang yang terus-menerus terjebak dalam dosa akan kehilangan rasa peka terhadap kebenaran. Bahkan, hal yang salah bisa terasa biasa saja.

Padahal, setiap dosa adalah tembok penghalang antara kita dan Allah. Maka, saat kita berusaha menjauhi kemaksiatan, itu artinya kita sedang mengembalikan jiwa kita kepada fitrahnya, jiwa yang bersih, suci, dan rindu akan ketaatan.

Bebas dari dosa itu awal dari hidup yang tenang dan hati yang lapang. Ketika kita mampu menahan diri – menjaga pandangan, lisan, dan perbuatan – saat itulah kita sedang memerdekakan diri dari jeratan syahwat yang menipu.

Tentu, bukan berarti kita tak pernah salah, tapi kita terus berusaha kembali kepada Allah dengan taubat, dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Allah berfirman:

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍۢ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا . وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابًۭا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan-kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan barang siapa bertaubat dan mengerjakan kebaikan, maka sungguh ia kembali kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 70–71)

Inilah kemerdekaan ruhani yang paling mulia: saat hati bersih, amal diterima, dan hidup hanya ditujukan untuk mencari ridha-Nya. Karena, pada akhirnya, manusia yang paling merdeka adalah mereka yang paling taat kepada Allah.

Kalau kita masih terjebak dalam maksiat dan jauh dari kebaikan, berarti kita sebenarnya masih “terjajah”, hanya saja bentuknya berbeda.

Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum kemerdekaan ini bukan sekadar seremonial, tapi sebagai titik balik untuk membangun diri dan bangsa yang bertakwa, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Ketua Umum Hidayatullah Serukan Tiga Panggilan Moral untuk Palestina: Iman, Kemanusiaan, dan Kebangsaan

0

JAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ustadz Dr. H. Nashirul Haq, M.A., menyerukan pentingnya menjadikan perjuangan Palestina sebagai panggilan keimanan, kemanusiaan, dan kebangsaan. Hal itu disampaikannya saat menghadiri aksi damai bela Palestina yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) di kawasan Monas, Jakarta, Ahad (3/8/2025) bertepatan 9 Shafar 1447 H.

Aksi solidaritas yang dihadiri puluhan ribu masyarakat dari berbagai latar ini menjadi penegasan sikap bangsa Indonesia terhadap penderitaan rakyat Palestina, khususnya di Gaza.

“Kita hadir dalam aksi akbar ini untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia selalu berkomitmen mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina, dan mengecam segala bentuk kejahatan kemanusiaan. Apalagi, yang saat ini terjadi di Gaza adalah pelaparan massal dan sistematis yang mengancam nyawa sekitar dua juta jiwa,” tegas Dr. Nashirul dari atas panggung aksi, sebagaimana dikutip dari hidayatullah.or.id.

Ia menjelaskan, kehadiran umat Islam Indonesia bukan sekadar simbolik, melainkan wujud nyata dari panggilan iman.

“Orang-orang beriman itu selalu peduli. Saat ada satu yang menderita, maka semua orang beriman ikut merasakan derita itu. Pelaparan massal di Gaza adalah penderitaan kita bersama,” ujarnya.

Tak hanya aspek keimanan, lanjut Nashirul, aksi ini juga merupakan bentuk panggilan kemanusiaan yang menggerakkan siapa pun yang memiliki hati nurani.

“Orang yang memiliki hati nurani pasti tidak akan tinggal diam melihat ada yang kelaparan, tak tahu kapan bisa mendapatkan bantuan untuk sekadar melanjutkan hidup,” katanya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa solidaritas terhadap Palestina juga sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan dan amanat konstitusi.

“Konstitusi kita jelas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan penjajahan bertentangan dengan kemanusiaan dan keadilan,” imbuhnya.

Menutup pernyataannya, Nashirul Haq mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat posisi Indonesia dalam membela Palestina secara konsisten dan tegas.

“Semoga ini menjadi kesadaran kolektif agar Indonesia terus berada di garis terdepan membela kemerdekaan Palestina dan menolak seluruh bentuk kejahatan kemanusiaan,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Zuhri Fadhlullah

Pesantren Hidayatullah Sudu Jadi Tuan Rumah Halaqah Gabungan Mushida Rayon Sipakamase

0

ENREKANG (HidayatullahSulsel.or.id) – Kampus Pesantren Hidayatullah Sudu, Enrekang, mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pelaksanaan Halaqah Gabungan Rayon Sipakamase yang digelar Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulawesi Selatan, Sabtu–Ahad, 2–3 Agustus 2025.

Kegiatan rutin dwi-bulanan ini diikuti lebih dari 50-an peserta dari berbagai daerah yang termasuk dalam rayon Sipakamase, yakni Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Enrekang, Pinrang, Parepare, Barru, hingga Pangkep. Selain itu, turut hadir pula sejumlah peserta dari internal pesantren, mulai dari warga hingga wali santri.

Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Sudu, Ustadz Ilham Syawal, S.H.I., M.M., dalam sambutannya pada Sabtu pagi, (2 Agutstus 2025) menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas terpilihnya Sudu sebagai lokasi halaqah gabungan. Ia mengapresiasi semangat para peserta yang rela menempuh perjalanan jauh dengan jalur berkelok dan menantang demi hadir dalam kegiatan ini.

“Kami merasa terhormat. Terima kasih atas kesediaan ibu-ibu Muslimat datang jauh-jauh, melewati jalan berkelok yang kadang membuat mabuk, tapi tetap bersemangat demi hadir di Sudu,” ungkapnya.

Halaqah gabungan kali ini menghadirkan dua pemateri utama, yakni Ustazah Miftahussa’adah dari unsur Majelis Murabbiyah Wilayah (MMW) Muslimat Hidayatullah Sulsel dan Ustazah Sila Susilawati dari unsur PW Mushida Sulsel.

Agenda halaqah meliputi ramah tamah, shalat lail berjamaah, penguatan tahsin Al-Qur’an, tadabbur alam, jalan sehat, hingga tebar hadiah sebagai sarana mempererat ukhuwah. Selain itu, peserta juga bersilaturahmi dengan masyarakat sekitar pesantren.

Acara yang berlangsung sejak Sabtu pagi hingga Ahad siang ini menjadi bagian dari sinergi antara Departemen Perkaderan PW Mushida Sulsel, Departemen Dakwah PW Mushida Sulsel, serta MMW Mushida Sulsel.

Sebagai tindak lanjut, kegiatan serupa dijadwalkan akan digelar di Kampus Hidayatullah Wajo dengan fokus pembahasan fase kenabian Rasulullah SAW.

Reporter : Nirwana

Mushida Gelar Daurah Sirah Nabawiyah, Tekankan Peran Ibu dalam Menyiapkan Generasi Peradaban

0

ENREKANG (HidayatullahSulsel.or.id) – Daurah Sirah Nabawiyah menjadi salah satu rangkaian penting dalam Halaqah Gabungan Rayon Sipakamase yang digelar PW Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulsel di Kampus Pesantren Hidayatullah Sudu, Enrekang, Sabtu–Ahad, 2–3 Agustus 2025.

Mengangkat tema “Membaca Sirah, Menata Ulang Peran Ibu: Menyiapkan Rumah bagi Generasi Peradaban”, daurah ini menghadirkan pemateri tunggal Ustazah Santi Chaniago, M.Pd., yang memaparkan sirah Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam periode pra-kenabian, mulai dari kelahiran hingga peristiwa ber-Gua Hira.

Menurut Ustazah Santi, teladan Rasulullah shallallahu alayhi wasallam dalam membina keluarga memberikan penekanan besar pada peran ibu. “Keluarga adalah madrasah pertama, dan ibu memegang peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai iman, akhlak, serta keteguhan spiritual sejak dini,” tegasnya di hadapan para peserta.

Daurah ini dikemas dalam tiga sesi yang menekankan pemahaman sirah secara kontekstual, agar para ibu Muslimah mampu menata ulang peran mereka dalam rumah tangga sesuai tuntunan Nabi.

Selain daurah, rangkaian halaqah gabungan ini diisi dengan shalat lail berjamaah, pembelajaran tahsin Al-Qur’an, tadabbur alam, jalan sehat, serta evaluasi halaqah kader Mushida di masing-masing daerah yang dipandu oleh Ustazah Sila Susilawati dari PW Mushida Sulsel.

Dalam sesinya itu, Ketua Departemen Perkaderan PW Mushida Sulsel tersebut melakukan evaluasi terhadap kegiatan halaqah pekanan kader Mushida di daerah-daerah yang termasuk dalam rayon Sipakamase.

Kegiatan yang diikuti sekitar 50-an peserta perwakilan daerah serta warga kampus Hidayatullah Sudu ini berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Acara ditutup pada Ahad siang, dengan rencana keberlanjutan berupa daurah berikutnya di Kampus Hidayatullah Wajo yang akan mengulas fase kenabian Rasulullah shallallahu alayhi wasallam.

Reporter : Nirwana

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Tekankan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Karakter Santri

0

JENEPONTO (HidayatullahSulsel.or.id) — Pondok Pesantren Tahfidz Cilik Auladi Hidayatullah Jeneponto menggelar pengajian bulanan perdana di semester pertama tahun ajaran baru 2025-2026 pada Ahad (3/8/2025). Gelaran yang bertajuk “Sekolah Orang Tua” ini menghadirkan para orang tua/wali murid sebagai peserta.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan pondok ini menghadirkan Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust. Drs. Nasri Bohari, M.Pd, sebagai pemateri utama. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak, terlebih ketika anak sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren.

Mengangkat tema keteladanan Luqmanul Hakim, Ust. Nasri menguraikan bagaimana nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya dapat dijadikan pedoman bagi orang tua dalam mendidik generasi. Ia mengajak orang tua untuk bersinergi dengan pihak pondok dalam membangun akhlak, kesabaran, dan keteguhan iman anak-anak.

“Pesan Luqman kepada anaknya bukan sekadar petuah, tetapi metode pendidikan karakter yang penuh hikmah. Di era sekarang, sinergi antara orang tua dan pendidik sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keteladanan pengasuh, guru, dan lingkungan sekitar berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Menurutnya, sikap sehari-hari yang dicontohkan orang dewasa akan lebih berpengaruh dibanding sekadar nasihat lisan.

Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Cilik Auladi menyampaikan bahwa program pengajian bulanan ini dirancang sebagai sarana komunikasi dan pembinaan bagi orang tua, agar visi pendidikan pondok dapat berjalan seiring dengan peran keluarga di rumah.

Acara ditutup dengan doa bersama dan harapan agar para santri dapat tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berkarakter mulia.

Reporter: Bas

Halaqah Gabungan Kader Hidayatullah se-Luwu Raya Tegaskan Peran Halaqah sebagai Medan Pengkaderan

0

LUWU (HidayatullahSulsel.or.id) — Puluhan kader Hidayatullah se-Luwu Raya menghadiri kegiatan Halaqah Gabungan (Lailatul Ijtima’) yang digelar di Pondok Pesantren Subulussalam Yaminas, Ahad (3/8/2025). Mengusung tema “Halaqah Bukan Sekadar Kajian, Tapi Medan Pengkaderan dan Perubahan”, acara ini menghadirkan Ketua Departemen Ekonomi dan Aset DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Imran Djufri, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber utama.

Dalam dialognya dengan para kader, Ustadz Imran menegaskan bahwa halaqah memiliki posisi sentral dalam pembinaan kader Hidayatullah. Ia menekankan peran murobbi dan keaktifan kader dalam halaqah sebagai penentu standar jati diri sekaligus pijakan strategis untuk kepemimpinan di organisasi.

“Standarisasi jati diri kader itu dilihat dari bagaimana ia aktif dalam halaqahnya. Murobbi-murobbi halaqah sangat berperan dalam menentukan seorang kader menduduki posisi strategis di Hidayatullah, bahkan hingga menjadi Ketua Umum. Jangan sampai terdengar hebat, tapi jarang muncul di halaqah,” tegas ustadz kelahiran Toli-Toli itu.

Ia juga menambahkan, halaqah bukan sekadar forum kajian, melainkan wadah untuk mengasah pemahaman diri sekaligus menyalurkan kritik konstruktif.

“Halaqah menjadi sentral aktivitas kita dalam mengasah pemahaman jati diri. Ketika ada problem atau keresahan dalam hidup berlembaga, halaqah adalah tempat untuk meretas semua itu,” ungkapnya penuh semangat.

Di akhir kegiatan, Ketua Yayasan Ponpes Subulussalam, Ustadz Syahril Utsman, S.Pd, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan sebagai tuan rumah.

“Kami sangat bangga dan antusias ketika pondok ini ditunjuk sebagai tuan rumah halaqah gabungan kader Wustha Hidayatullah se-Luwu Raya. Alhamdulillah, terlepas dari kekurangan yang ada, kegiatan ini berjalan lancar. Terima kasih atas silaturahminya, semoga teman-teman semua tidak bosan berkunjung,” ujar alumni Al-Bayan Hidayatullah Makassar itu.

Halaqah gabungan ini merupakan bagian dari program Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel yang bersinergi dengan Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulsel, sebagai upaya memperkuat pengkaderan dan membangun solidaritas dan ukhuwah antar-kader di wilayah Luwu Raya. Hadir pula dalam kegiatan dua bulanan tersebut perwakilan DMW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Dr. Khairun Misjaya, M.Pd.

Reporter: Ian Kassa

Mengapa Kita Harus Mengejar Kesempurnaan Shalat

0
Photo on unsplash

SALAH satu “industri” yang kian berkembang pesat saat ini adalah dunia kuliner. Kreativitas dalam bidang ini begitu luar biasa. Aneka bahan makanan diolah dengan sangat cermat—mulai dari pemilihan dan penyiapan bahan, racikan bumbu, proses memasak, hingga teknik penyajian.

Sesuatu yang semula biasa-biasa saja bisa berubah menjadi begitu istimewa. Variasi olahan dari beras, gandum, kedelai, susu, cokelat, daging, ikan, sayuran, hingga buah-buahan nyaris tak terhitung jumlahnya. Bahkan, kini lahir komunitas-komunitas khusus yang fanatik berburu kuliner baru.

Fenomena ini sejatinya menunjukkan tabiat dasar manusia: selalu ingin mencoba hal baru dan terus berupaya menyempurnakan hidupnya. Tak heran bila Al-Qur’an menyebut manusia dengan istilah “an-naas”—sebuah kata yang disebut sedikitnya 240 kali.

Dalam bahasa Arab, kata ini berasal dari “nawasa” yang bermakna bergerak-gerak, tidak menetap pada satu kondisi, dalam keadaan menjuntai ke bawah; seperti kepang rambut atau setandan anggur yang bergoyang tertiup angin (Lisanul ‘Arab, IX/245).

Dengan kata lain, sebutan “naas” mengisyaratkan tabiat manusia yang senantiasa berubah, bergerak, tidak statis, serta berkembang secara dinamis.

Mungkin, inilah pula rahasia mengapa Al-Qur’an memosisikan istilah “naas” berlawanan dengan “jinnah” (bangsa jin). Sebab, kehidupan jin cenderung stagnan dan tidak mengalami perkembangan, sebagaimana ditunjukkan pada ayat terakhir surah an-Naas.

Di era modern, sifat manusia yang dinamis ini terlihat jelas. Hampir setiap bulan kita disuguhi perangkat elektronik terbaru dengan fitur lebih mutakhir, kemampuan lebih baik, dan harga yang kian terjangkau.

Semua produk terbaru—televisi, mobil, motor, tablet, smartphone, komputer, hingga software di dalamnya—selalu hadir sebagai penyempurna dari versi sebelumnya. Memang, manusia adalah makhluk pemburu kesempurnaan paling sejati di alam semesta ini.

Kesempurnaan Shalat

Namun, sayangnya sifat mencari kesempurnaan itu jarang dibawa ke ranah ibadah. Untuk urusan makanan atau kendaraan, kita selalu berusaha meningkatkan kualitas dan kenyamanannya. Tetapi untuk shalat, sering kali cukup asal terlaksana.

Banyak orang menunaikan shalat dengan tergesa-gesa, sekadar menggugurkan kewajiban. Ada yang mengerjakannya di ujung waktu hanya demi terlepas dari rasa bersalah. Bahkan, lebih memilih shalat sendirian tanpa peduli keutamaan berjamaah.

Kalaupun berjamaah, tidak jarang barisan shalat renggang dan bengkok, dengan alasan bahwa kerapian saf bukanlah rukun yang menentukan sahnya shalat. Subhanallah!

Benar, shalat cepat mungkin tetap sah. Dikerjakan di akhir waktu pun dibolehkan. Dikerjakan sendiri pun tidak salah. Barisan yang kurang rapat pun tidak membatalkan shalat. Tetapi, apakah kita tidak ingin mengejar yang lebih sempurna?

Mengapa kita begitu teliti dalam memilih rumah atau gadget, tapi longgar dalam memperhatikan shalat? Mengapa kita rela berburu makanan dengan cita rasa terbaik, padahal bahannya sama, tetapi enggan memperbaiki kualitas shalat kita?

Mari sejenak kita dengarkan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mendorong umatnya agar menunaikan shalat dengan sebaik-baiknya, bukan sekadar sah atau gugur kewajiban.

Semoga hati kita dilunakkan untuk menerima nasihat beliau, dan tidak malah mencari-cari pembenaran bagi kemalasan kita dengan dalil yang sejatinya tidak dimaksudkan untuk itu.

Pertama, tentang barisan shalat berjamaah. Rasulullah bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian, sebab lurusnya shaf termasuk bagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas). Dalam riwayat lain disebut, “…sebagian dari kebaikan shalat.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah).

Kedua, tentang shalat di awal waktu. Abdullah bin Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada awal waktunya.” Lalu ditanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orangtua.” Ditanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, tentang kesempurnaan ruku’ dan sujud. Rasulullah bersabda, “Pencuri yang paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Dan orang yang paling pelit adalah orang yang pelit mengucapkan salam.” (HR. Ath-Thabrani dalam tiga Mu’jam-nya, dari Abdullah bin Mughaffal. Al-Haitsami menegaskan bahwa para perawinya bisa dipercaya).

Keempat, tentang keutamaan shalat berjamaah. Rasulullah bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dibanding shalat sendirian dengan (kelebihan) 27 derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar). Dalam riwayat lain, “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan (kelebihan) 25 derajat.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah). Hadis senada juga diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy dalam Shahih Bukhari.

Dari hadis-hadis ini jelas terlihat bahwa Rasulullah sedang memotivasi umatnya agar menyempurnakan shalat. Beliau tidak sekadar membahas sah atau batal, syarat atau rukun. Semangat inilah yang seharusnya kita tangkap, bukan hanya puas dengan sekadar “asal sah dan gugur kewajiban”.

Kita juga perlu memahami bahwa para ulama fiqh memang berkewajiban menjelaskan batas minimal suatu ibadah agar dinilai sah berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah.

Namun dalam praktik, kita tidak boleh berhenti hanya pada aspek fiqh. Kita harus melengkapinya dengan adab dan mujahadah—kesungguhan dalam beribadah. Tanpa itu, agama hanya akan menjadi permainan dan senda gurau semata.

Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah, Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur.

Walikota Parepare Sambut Audiensi Hidayatullah, Siap Sinergi Program Keummatan

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, S.E., M.HI, menerima audiensi jajaran pengurus Pesantren Hidayatullah Parepare di ruang kerjanya, Kamis (31/7/2025). Pertemuan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus pembahasan sinergi program keummatan dan koordinasi kegiatan keagamaan di Kota Parepare.

Dalam audiensi tersebut, hadir Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Parepare Usatdz Abdul Jabbar, S.E., Ketua DPD Hidayatullah Parepare Ustadz Ahmad Syahril, S.Pd., serta konsultan pendidikan Hidayatullah Parepare Ustadzah Juhriah, M.Pd.I.

Ketua Yayasan Hidayatullah Parepare, Ustadz Abdul Jabbar, menyampaikan kesiapan lembaga yang dipimpinnya untuk bekerja sama dengan Pemerintah Kota Parepare, khususnya melalui program belajar ngaji untuk semua kalangan usia. Program ini juga menjadi bagian dari rangkaian Semarak Pra-Munas VI Hidayatullah untuk menyambut gelaran lima tahunan tersebut yang akan digelar Oktober mendatang di Jakarta.

“Insya Allah Parepare akan menjadi salah satu pusat kegiatan, di antaranya pelatihan guru ngaji Muslimah se-Sulsel. Selain itu, beberapa santri kami juga akan berpartisipasi dalam Jambore Nasional Pramuka Hidayatullah di Balikpapan pada akhir Agustus nanti,” ungkap Ustadz Jabbar sembari menyampaikan harapan agar Pemkot Parepare dapat mendukung agenda tersebut.

Senada dengan itu, Ketua DPD Hidayatullah Parepare, Usatdz Ahmad Syahril, melaporkan perkembangan positif di lapangan. Ia menyebut, hingga saat ini 11 Rumah Qur’an Hidayatullah telah aktif membina masyarakat di Parepare dengan metode pembelajaran GranD MBA yang konsisten.

“Alhamdulillah, antusiasme warga sangat tinggi. Semua kalangan umur terlayani, dan program ini bisa berjalan istiqamah,” jelasnya.

Sementara itu, Ustadzah Juhriah menambahkan pentingnya pembinaan Muslimah melalui perbaikan kualitas tilawah melalui majelis taklim. Menurutnya, dari majelis tersebut akan lahir pembinaan berkelanjutan yang memberi dampak signifikan bagi keluarga dan masyarakat.

Mendengar paparan tersebut, Walikota Parepare menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap program-program Hidayatullah. Ia berharap kegiatan yang dijalankan tidak hanya memberi manfaat di masyarakat umum, tetapi juga bisa dirasakan oleh berbagai instansi.

“Kami mendukung penuh. Semoga program ini terkonsep baik dan manfaatnya semakin terasa secara luas di Parepare,” ujarnya.

Audiensi ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara Pemerintah Kota Parepare dan Hidayatullah dalam memajukan pendidikan Qur’ani dan dakwah keummatan di daerah.

Khutbah Jum’at: Aplikasi Nilai-nilai Shalat dalam Kehidupan Sehari-hari

0
ist - Muhammad Shaleh Utsman

Oleh: Dr. Muhammad Shaleh, M.I.Kom.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Mengatur kehidupan, yang dengan kasih sayang-Nya kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udaranya, berdiri tegak di rumah-Nya, dan merasakan nikmat iman serta Islam.

Betapa agung karunia-Nya, betapa sempurna hikmah-Nya, hingga setiap detik kehidupan ini pun menjadi bukti bahwa kita tidak pernah luput dari pengawasan dan rahmat-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, manusia pilihan, cahaya petunjuk bagi umat manusia yang terbenam dalam kegelapan.

Beliaulah yang mengajarkan kita arti ketundukan yang tulus, kekuatan dalam shalat, serta keteguhan dalam amal. Di tengah kesibukan dunia yang melelahkan dan arus kehidupan yang kian deras, keteladanan beliau adalah kompas penunjuk arah menuju ridha Ilahi.

Jamaah Jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Shalat, sebagai rukun Islam kedua, bukan sekadar ritual penggugur kewajiban. Lebih dari itu, ia adalah fondasi utama bagi pembentukan karakter Muslim yang komprehensif.

Dalam bingkai Ahlussunah Wal Jama’ah, implementasi nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari menjadi sebuah keniscayaan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Koneksi antara shalat dan etos kerja seorang mukmin dapat dilihat dari nilai muraqabah yang ditanamkan.

Shalat yang dikerjakan dengan penuh kesadaran menumbuhkan perasaan senantiasa diawasi oleh Allah SWT, Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Perasaan inilah yang menjadi kontrol konstruktif dalam setiap langkah kehidupan seorang mukmin, termasuk dalam etos kerjanya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Dengan mental muraqabah yang terinternalisasi dari shalat, seorang mukmin sejati akan termotivasi untuk selalu memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya.

Ia bertindak dengan disiplin tinggi layaknya shalat yang terikat waktu, menghargai waktu karena setiap detik adalah amanah, serta senantiasa memperhitungkan efektivitas dan efisiensi dalam setiap tindakan.

Segala bentuk kemubaziran dihindari karena dianggap sebagai bagian dari langkah syaitan yang merugikan, sebagaimana shalat mengajarkan kesederhanaan dan keberkahan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Yang Pertama, shalat adalah pondasi utama amalan dan basis nilai kehidupan. Perintah shalat ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Dalam ayat ini, Allah SWT tidak hanya memerintahkan untuk menegakkan shalat, melainkan juga menjelaskan dampak transformatifnya.

Para ulama menjelaskan bahwa menegakkan shalat bukan sekadar menjalankan gerakan dan bacaan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Lebih dari itu, menegakkan shalat menuntut kehadiran hati, penghayatan, dan tadabbur (perenungan) terhadap setiap bacaannya. Puncaknya, seluruh nilai-nilai dari bacaan shalat tersebut harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Urgensi shalat diperkuat dengan statusnya sebagai ibadah paling utama bagi setiap mukmin, bukan sekadar rutinitas.

Shalat menuntut fokus dan kesungguhan karena kelak di Hari Kiamat, shalat akan menjadi amalan pertama yang dihisab di hadapan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ”

(Perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya.) (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah r.a.)

Hadits ini menegaskan, jika shalat seorang hamba diterima, seluruh amalannya akan diterima; sebaliknya, jika shalatnya tertolak, maka seluruh amalannya pun akan ditolak.

Dari sini, jelas bahwa seluruh aktivitas dan perbuatan manusia di dunia ini sangat bergantung pada kualitas shalatnya. Ini berarti, nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan shalat harus menjadi basis nilai yang mewarnai setiap aspek kehidupan seorang mukmin.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Yang Kedua, shalat sebagai bingkai produktivitas dalam berbagai bidang kehidupan.

Ketika gambaran aktivitas seorang mukmin terbingkai oleh keimanan dan keyakinan kepada Allah, ia pasti akan menjadi pribadi yang produktif dan senantiasa melakukan kerja-kerja konstruktif di berbagai bidang yang ia geluti.

Mari kita ambil contoh konkret di beberapa ranah kehidupan. Dalam dunia pendidikan, misalnya.

Ketika seorang mukmin yang berprofesi sebagai pendidik menegakkan shalat dan kemudian terjun dalam dunia pendidikan, ia tidak hanya menjalankan kewajiban ritual, melainkan menerjemahkan seluruh nilai shalat ke dalam setiap helaan napas proses pengajarannya.

Ini adalah wujud integrasi iman dalam profesi, sebuah manifestasi nyata dari ketakwaan. Bagi pendidik Muslim, bacaan “Allahu Akbar!” saat takbiratul ihram adalah fondasi yang menancap kuat di hati.

Prinsip ini berarti dalam mengajar, fokus utama adalah membesarkan Allah SWT, bukan diri sendiri atau hal duniawi.

Dengan demikian, pendidik akan membimbing murid-murid untuk meyakini bahwa hanya Allah yang Maha Besar, Maha Kuasa, dan satu-satunya yang patut disembah, bukan sekadar hafalan, melainkan penanaman akidah yang kokoh.

Implikasi dari “mengingat Allah lebih besar” harus termanifestasi dalam setiap aktivitas di kelas. Membesarkan Allah menjadi tujuan utama dari setiap materi, metode, dan interaksi.

Ilmu pengetahuan, seni, dan keterampilan diajarkan sebagai jalan untuk mengenal kebesaran Allah, mensyukuri nikmat-Nya, dan beribadah kepada-Nya.

Hasilnya adalah lahirnya generasi yang tidak hanya ahli dan kompeten, tetapi juga memiliki karakter mulia sebagai pribadi yang takut kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan menyembah-Nya semata. Mereka adalah insan-insan yang ilmu dan akhlaknya selaras, menjadikan setiap pencapaian sebagai pengabdian kepada Sang Pencipta.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Dalam di dunia ekonomi dan bisnis juga begitu. Di dunia ekonomi dan bisnis, seorang mukmin, baik sebagai ahli ekonomi maupun pengusaha, yang mengaplikasikan prinsip shalat akan senantiasa menunjukkan kerendahan hati dan jauh dari kesombongan, bahkan ketika mencapai puncak kesuksesan dan bergelimang harta.

Keyakinan teguh bahwa kebesaran sejati hanya milik Allah mencegahnya dari ujub (kagum pada diri sendiri) atau merasa diri paling hebat.

Sikap sombong ini bertolak belakang dengan esensi shalat, yang mengajarkan kerendahan hati dan kepasrahan total di hadapan Allah.

Setiap gerakan shalat, terutama sujud, menekankan ketidakberdayaan kita di hadapan Sang Pencipta, mengajarkan bahwa semua pencapaian adalah anugerah-Nya. Dengan demikian, kesuksesan justru akan membuatnya semakin bersyukur dan tawadhu’ (rendah hati).

Begitu pula dalam dunia politik dan kepemimpinan. Bagi politisi atau pemimpin, kesadaran sebagai hamba Allah yang menginternalisasi nilai shalat membentuk prinsip hidup yang mengagungkan kebesaran-Nya. Dengan begitu, jabatan setinggi apa pun tidak akan menjadikannya sombong.

Shalat, melalui takbiratul ihram “Allahu Akbar”, meniadakan segala kesombongan. Ini mengingatkan pemimpin bahwa hanya Allah yang patut diagungkan, menumbuhkan tawadhu’ (kerendahan hati) mendalam.

Dengan begitu, kepemimpinan bukan lagi tentang kebanggaan diri dan aksi aksi tak terpuji seperti korupsi, melainkan amanah besar yang diemban penuh tanggung jawab, semata demi mencari rida Allah. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Nilai yang Ketiga, adalah menginternalisasi seluruh nilai shalat. Ini baru satu nilai shalat: takbiratul ihram, sebuah pengagungan yang mengikis kesombongan dan menancapkan kebesaran Allah.

Bayangkan, bagaimana jika seluruh nilai bacaan shalat, dari takbir pembuka hingga salam penutup, khususnya Ummul Kitab (Al-Fatihah), berhasil diinternalisasikan dan diimplementasikan secara menyeluruh dalam hidup kita?

Niscaya, setiap aspek kehidupan Muslim akan sempurna terwarnai nilai-nilai Islam. Cara kita bekerja, berinteraksi, memimpin, dan mengelola keuangan, semuanya akan memancarkan cahaya shalat. Hasilnya, seorang mukmin akan bersinar dengan akhlak Qur’ani yang termanifestasi nyata di setiap ranah kehidupan.

Melalui internalisasi shalat yang utuh ini, kehidupan mulia akan terwujud kembali di masyarakat, persis seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW di Madinah, sebuah komunitas Muslim yang berjamaah dan berkepemimpinan. Inilah visi hidup yang dibangun di atas fondasi ibadah sejati.

Seorang mukmin yang teguh berpegang pada prinsip Ahlussunah Wal Jama’ah akan senantiasa meraih keselarasan dan keseimbangan sempurna antara kehidupan dunia dan akhirat.

Hal ini terwujud karena ia mampu menginternalisasi dan menerapkan seluruh kandungan nilai dalam shalat ke setiap aspek kehidupannya.

Pada akhirnya, dengan konsistensi ini, Islam kaaffah akan terwujud dengan sempurna dalam diri dan lingkungannya. Wallahu A’lam bis shawab.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

SDH Sultanbatara Kembali Cetak 15 Dai Muda, Tegaskan Komitmen Dakwah Berkelanjutan

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sultanbatara kembali menegaskan komitmennya mencetak dai muda dengan mewisuda 15 alumninya pada tahun 2025. Prosesi penamatan angkatan keenam ini berlangsung khidmat di Gedung Dakwah Hidayatullah Parepare, Senin (28/7/2025) atau bertepatan dengan 3 Shafar 1447 H.

Wisuda ditandai dengan ujian terbuka kitab Matan al-Jazariyah, karya monumental abad ke-14 dalam ilmu tajwid dan qira’at. Ujian ini menjadi tonggak akhir pendidikan sekaligus pengukuhan kesiapan para santri untuk terjun dalam dakwah di berbagai pelosok Sulawesi.

Program SDH Sultanbatara berjalan selama satu tahun penuh dengan fokus pada penguasaan ulumuddin, pendalaman bahasa Arab, serta standarisasi bacaan Al-Qur’an. Program ini diselenggarakan melalui sinergi DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, dengan POS Dai Sulsel sebagai pengelola teknis harian.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari, M.Pd., menegaskan keberadaan SDH adalah jawaban atas kebutuhan mendesak dai dan guru Qur’an di daerah.

“Setiap angkatan memang terbatas, tapi dampaknya besar. Para alumni langsung ditunggu di wilayah-wilayah terpencil di Sulsel, Sulbar, hingga Sultra,” ujarnya.

Dari sekitar 20 peserta yang mengikuti program, 15 dinyatakan lulus dan diwisuda. Dalam kesempatan tersebut, mereka langsung menerima surat penugasan dakwah: dua orang ke Sulawesi Tenggara, empat orang ke Sulawesi Barat, dan sisanya ke sejumlah titik dakwah di Sulawesi Selatan.

Kegiatan wisuda turut dihadiri oleh pejabat daerah, ulama, tokoh masyarakat, serta jajaran internal Hidayatullah. Di antaranya Kepala Bappeda Parepare, Ketua DPW Hidayatullah Sulbar Ustadz Drs. Marhatillah beserta jajaran, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ustaz Abdul Majid, M.A. dan jajaran, serta Kepala Laznas BMH Sulsel Ustaz Kadir, M.M. berserta jajaran.

Dalam rangka kesinambungan program, Laznas BMH Sulsel menegaskan dukungannya melalui komitmen beasiswa senilai Rp 48 juta untuk satu tahun mendatang. Penandatanganan dukungan ini disaksikan oleh para tokoh yang hadir.

“Kami percaya, investasi dalam pendidikan dai adalah investasi untuk masa depan umat,” tegas Ustaz Kadir.

Kolaborasi SDH dan BMH menghadirkan model sinergi kelembagaan dalam membangun jaringan dakwah yang sistematis. Ustaz Nasri menambahkan, dukungan finansial dan edukatif ini adalah contoh nyata bagaimana gerakan dakwah dan lembaga zakat dapat berkontribusi pada transformasi sosial-keagamaan di daerah terpencil.

Sementara itu, Ustaz Mardhatillah menekankan bahwa kader yang dilepas bukan hanya dipersiapkan secara akademik, melainkan juga akan terus didampingi dalam aspek spiritual dan logistik.

“Penugasan dakwah adalah bagian dari jihad zaman ini,” tegasnya.

Dengan prosesi wisuda ini, SDH Sultanbatara kembali menorehkan kontribusi penting dalam mencetak dai muda yang siap mengabdi untuk umat, khususnya dalam misi dakwah Qur’ani di pelosok dan pedalaman Sulawesi.

Reporter: Bashori
Editor: Cakdul