Beranda blog Halaman 23

In Memoriam Aswar Hasan, Ustadz AQM: Selamat Jalan Sahabat

0

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Telah wafat guru/kolega kita Aswar Hasan pada pukul 20.21 di RS Primaya Makassar”.

Info ini muncul hampir bersamaan di beberapa grup WA di HP saya beberapa saat setelah Aswar meninggal.

Sebelumnya pada siang hari beredar berita beliau masuk RS karena pendarahan otak, sudah dioperasi tapi belum sadar. Saya ikut menyebarkan info tersebut dengan niat supaya lebih banyak yang mendoakan. Saya juga hanya bisa mendoakan dari jauh, tidak bisa membesuk karena tidak sedang di Makassar.

Kepergian, atau kembalinya Aswar kepada Sang Khaliq, sungguh merupakan kehilangan besar bagi saya. Kehilangan sahabat seperjuangan.

Ketika masih sama-sama berstatus mahasiswa, kami hanya kenalan biasa saja. Tidak ada interaksi yang menyebabkan kedekatan. Walaupun sama-sama kuliah di Unhas, kami berbeda fakultas, bahkan berbeda kampus. Aswar di Fakultas Sospol, sedangkan saya di Fakultas Peternakan.

Rumpun fakultas ilmu-ilmu sosial ketika itu semuanya sudah pindah di kampus baru Tamalanrea. Sementara rumpun ilmu eksakta masih di kampus lama Baraya. Aswar senior satu tahun dari saya.

Demikian pula, untuk organisasi eksternal Aswar aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia), sedangkan saya di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Tapi disini kami agak sering bertemu, terutama karena kesamaan perjuangan politik ketika rezim Orde Baru mengeluarkan kebijakan politik Asas Tunggal Pancasila, mengharuskan semua partai politik dan organisasi kemasyarakatan berasas Pancasila dan menghapus asas lain.

HMI dan PII bereaksi keras menolak Asas Tunggal, dan tetap mempertahankan asas Islam. Seluruh kader dan jajaran pengurus PII kompak bersatu menolak Asas Tunggal Pancasila. Kosekwensinya PII dibubarkan, dicabut legalitasnya. Walaupun demikian aktifitas organisasi tetap berjalan “di bawah tanah”.

Sementara itu di HMI walaupun pada Kongres XV di Medan pada 1983 seluruh peserta dengan tegas dan gagah berani menolak Asas Tunggal Pancasila, tapi pasca kongres secara perlahan dan sistemik mulai tumbuh faksi yang ingin menerima Asas Tunggal.

Menjelang Kongres berikutnya terjadi gejolak internal yang sangat besar, dan puncaknya pada Kongres HMI XVI di Padang 1986, HMI menerima Asas Tunggal Pancasila. Akibatnya faksi yang menolak Asas Tunggal mengkonsolidasikan kekuatan dan melakukan ‘kongres tandingan” untuk mendirikan HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi).

Saya menjadi lebih dekat dengan Aswar pada pertengahan dekade 1990-an ketika berdiri FUI (Forum Ukhuwah Ismiyah) di Sulsel. Forum ini dipimpin oleh Prof. Abdurrahman Basalamah. Selain Prof Basalamah tokoh penting lainnya di FUI adalah KH Sanusi Baco (Ketua NU Sulsel) dan KH Jamaluddin Amin (Ketua Muhammadiyah Sulsel).

Hal ini karena memang semangat utama dari kehadiran forum ini adalah memperkuat ukhuwah dan persatuan untuk membangun kekuatan politik ummat. Selain menghimpun ulama dan cendikiawan muslim dari tokoh senior ormas Islam maupun independen, setiap pertemuan forum ini juga dihadiri kalangan aktivis muda. Aswar, Agus Dwikarna, saya dan beberapa yang lain selalu hadir. Tamsil Linrung jika sedang berkunjung ke Makassar juga biasa hadir.

Menjelang dan memasuki era Reformasi, FUI semakin aktif melakukan pertemuan untuk mengkaji dan merespon berbagai dinamika politik yang berkembang. Salah satu keputusan politik Pemerintah Pusat akibat gejolak reformasi adalah pemberian Otonomi Khusus untuk Provinsi Aceh dan Papua pada 1999. Untuk Aceh salah satu substansinya adalah hak Istimewa untuk penegakan syariat Islam.

Mengambil pelajaran hal ini, FUI membahas khusus tema ini. Terus terang, ide awal soal ini datang dari kami yang muda. Rapat FUI menyepakati untuk melaksanakan seminar demi membahas gagasan tersebut secara ilmiyah.

Seminar kemudian dilakukan dengan pembicara beberapa pakar dalam berbagai tema. Kami mengundang Hadi Awang, Presiden Partai PAS dan Menteri Besar negeri Terengganu Malaysia, sebagai pembicara utama yang membahas pelaksanaan syariat Islam di Malaysia, khususnya di dua negara bagian yang dimenangkan partai PAS, yaitu Klantan dan Terengganu.

Untuk pembicara lokal masing-masing adalah Prof Mattulada, membahas tentang Sejarah dan pelaksanaan syariat Islam pada Kerajaan-kerajaan di Sulsel pada masa lalu, Prof Ahmad Ali membahas peluang pelaksanaan syariat Islam di Indonesia dari perpektif ilmu hukum, dan Prof Basalamah membahas tentang ekonomi Islam.

Rekomondasi dari seminar ini adalah perlu segera diselenggarakan Kongres Ummat Islam Sulsel untuk perjuangan mendapatkan otonomi khusus penegakan syariat Islam seperti di Aceh.

Kongres Ummat Islam Sulsel kemudian diselenggarakan di Asrama Haji pada Oktober 2000. Kongres menyepakati mendirikan KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam). KPPSI dideklarasikan oleh tiga tokoh utama FUI: Prof Abdurrahman Basalamah, KH Sanusi Baco dan KH Jamaluddin Amin.

Kongres juga menetapkan bahwa target penjuangan KPPSI adalah mendapatkan otonomi khusus penegakan syariat Islam untuk Sulsel. Saya terpilih secara aklamasi menjadi ketua Tanfidziyah KPPSI. Prof Basalamah sebagai ketua Dewan Pembina.

Dalam penyusunan kepengurusan, Aswar Hasan ditunjuk menjadi Sekjen. Disini saya menjadi semakin dekat dengan Aswar.

Perjuangan KPPSI penuh gejolak, sebagaimana gejolak reformasi. Bahkan pada Kongres kedua 2001 sempat terjadi “ledakan bom” di arena kongres. Rangkaian dinamika perjuangan KPPSI memerlukan kepandaian mengelola dan mengkomunikasikan kepada berbagai pihak. Disinilah saya merasakan kepiawaian Aswar sebagai jubir KPPSI.

Kedekatan saya dengan Aswar berlanjut secara lebih emosional ketika ia menjadikan Abdul Qahhar Mudzakkar sebagai obyek penelitian untuk tesis magisternya. Saya dan keluarga berusaha seoptimal mungkin membantu mengakses data-data yang diperlukan.

Dengan penelitian ini, Aswar kemudian tidak hanya dekat dengan saya, tapi juga dengan hampir semua saudara saya. Sayang saya tidak pernah membaca tesis ini. Saya pernah mengusulkan supaya tesis itu diterbitkan menjadi buku. Tapi ketika itu Aswar menjawab bahwa untuk jadi buku masih perlu diedit. Setelah itu saya tidak pernah lagi menanyakan.

Sebagai teman seperjuangan yang cukup lama tentu sangat banyak kenangan pribadi dengan Aswar. Banyak pelajaran dan inspirasi yang bisa dipetik. Salah satu yang sangat menonjol dari Aswar adalah kesederhanaan.

Melihat kehidupan kesehariannya, seolah tidak ada sama sekali kapling orientasi materi di otak dan jiwanya. Ia mengorientasikan hidupnya sepenuhnya untuk mengabdikan diri kepada perjuangan dan idealisme intelektualitas.

Saya masih ingat ketika sudah beberapa bulan menjadi sekjen KPPSI ia belum memiliki handphone, padahal sangat diperlukan untuk kelancaraan informasi dan komunikasi, Prof Basalamah akhirnya membelikan handphone. Ketika itu HP memang masih agak mewah untuk masyarakat luas. Tapi untuk kelas dosen seperti Aswar sudah lumrah. Menariknya, setahu saya Aswar tidak pernah mengganti nomor HP tersebut sampai akhir hayat.

Setelah tidak aktif di KPPSI kami jarang berinterkasi secara intensif. Kami biasanya hanya bertemu di acara tertentu. Tapi komunikasi kami sangat lancar, terutama via WhatsApp. Sesekali ia mengirim tulisannya atau info tententu yang dianggap perlu saya baca.

Beberapa tahun terakhir ia sebenarnya kurang sehat, terutama sejak strok ringan. Tapi yang luar biasa ia tetap produktif menulis hingga akhir hayatnya. Sejak ia mulai kurang sehat kalau saya bertemu atau telponan ia selalu menasihati “jaga kesehatan ta’, perjuangan masih panjang”.

Selamat berpulang sahabatku. Engkau telah melakukan banyak amal shaleh dan jejak perjuangan sebagai bekal untuk menghadap Sang Khaliq.

Surabaya, 14 Agustus 2025

*) Dr. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, M.Si., Pembina Hidayatullah Sulsel.

Petani yang Selalu Risaukan Generasi itu, Kini Telah Pergi

1

LUWU TIMUR (HidayatullahSulsel.or.id) – Senin pagi (11/08/2025), selepas syuruq, suasana Kampus Pesantren Hidayatullah Lambara terasa berbeda. Di udara yang biasanya diwarnai kicau burung dan dengungan santri menghafal di masjid, kabar duka menyusup pelan namun pasti. Tak lama sebuah pesan di grup Pea Lambara mengabarkan: Papa Ramma telah berpulang.

Bagi sebagian orang di luar Lambara, nama itu mungkin asing. Namun bagi warga kampung Islami Hidayatullah Lambara, sosok yang bernama asli Amrullah itu adalah potret ketulusan yang tenang.

Beliau bukan pemegang jabatan struktural di pesantren, bukan pula tokoh yang sering tampil di mimbar. Namun, kepeduliannya pada masa depan generasi di Lambara, khususnya anak-anak “biologis” lembaga, menjadi cerita yang sering diceritakan ulang oleh mereka yang pernah duduk berbincang dengannya.

“Kalau bukan kita yang pikirkan anak-anak ini, siapa lagi?” begitu kalimat yang kerap meluncur dari bibirnya, diucapkan dengan nada penuh kekhawatiran namun juga harapan.

Hijrah Demi Generasi

Perjalanan hidup Papa Ramma di Lambara dimulai pada 2003. Bersama istri dan anak-anaknya, lelaki kelahiran 30/11/1969 tersebut meninggalkan Angkona, mengikuti jejak sang kakak, Ustadz Yusuf Gatti, yang lebih dulu merintis kampung Islami tersebut.

Langkah itu bukan tanpa dilema. Beliau meninggalkan usaha perkebunan yang menjadi sandaran hidup, demi membesarkan keluarga dalam lingkungan berkonsep imamah-jamaah.

“Saya ingat betul, beliau bilang: lebih baik kita susah bersama di jalan yang benar, daripada nyaman di jalan yang membuat kita jauh dari Allah,” kenang salah satu anaknya.

Sejak awal, Papa Ramma memilih tetap menjadi petani. Bagi dirinya, bertani bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga bagian dari menjaga fitrah, mendidik diri dan keluarga untuk hidup sederhana, bersih, dan dekat dengan alam.

Kegelisahan yang Menjadi Warisan

Meski hidup sederhana, pikirannya selalu tertuju pada keberlangsungan pendidikan dan pembinaan anak-anak di Lambara. Ia sering berbincang panjang dengan siapa pun yang bersedia mendengarkan, menyampaikan kegelisahan akan masa depan generasi.

“Anak-anak kita di sini ini (kalau dikumpulkan semua) jumlahnya (mungkin) lebih banyak daripada santri akademisnya. Jangan sampai mereka kehilangan arah,” katanya sebagaimana diceritakan Abu Ayman.

Kegelisahan itu tak berhenti pada kata-kata. Anak-anaknya sendiri dibesarkan dengan semangat belajar agama yang kuat. Putri sulungnya kini menjadi istri seorang pimpinan pesantren di Wotu, sementara putra sulungnya mengelola Rumah Qur’an yang membuka pintu bagi santri dari anak-anak hingga dewasa.

Anak-anak lainnya beliau kirim untuk belajar di berbagai pesantren. Ada yang di Solo. Ada yang ke Pinrang. Sebelumnya ada juga yang pernah ke Balikpapan dan Bogor. Bahkan, si bungsu baru saja dikirim menimba ilmu di SQUBA Al-Jazi, Lampuawa, Luwu Utara.

Kepergian yang Meninggalkan Teladan

Setelah beberapa bulan diuji sakit, Papa Ramma menghembuskan napas terakhir di rumahnya di Lambara, pada hari Senin, hari yang dianjurkan Nabi ﷺ untuk berpuasa. Rumah itu adalah tempat ia membesarkan 12 anak, melihat tumbuhnya 10 cucu, dan menyaksikan Lambara berkembang dari lahan perintisan menjadi kampung Islami yang ramai.

“Beliau pergi dengan meninggalkan generasi yang siap melanjutkan perjuangan. Itu yang membuat kami tenang meski berat melepasnya,” ujar salah seorang warga Hidayatullah Lambara.

Kini, suara canda dan keluh-kesah pria kelahiran Parombean Enrekang tersebut tak lagi akan terdengar. Namun jejaknya tetap hidup: pada anak-anaknya yang shalih dan shalihah, pada harapan yang selalu ia pupuk, pada semangat yang terus ia jaga, dan pada bangunan-bangunan pesantren yang turut ia bantu pendiriannya, serta pada generasi Lambara yang akan terus menjadi bagian dari amal jariyahnya.

Rahimahullah rahmatan waasi‘atan, wa askanahullaahu fasiihah jannatih.

*) Abdul Aziz, Santri Awal Hidayatullah Lambara.

Berita Foto: Pesantren Hidayatullah Towuti Gelar Pengajian Bulanan Bertema “Menjadi Generasi yang Merdeka”

0

LUTIM (HidayatullahSulsel.or.id) — Pesantren Hidayatullah Towuti kembali menggelar pengajian bulanan di Masjid Putra “Umar bin Abdul Aziz”, Ahad (10/8/2025). Kegiatan yang dihadiri wali santri, jamaah, simpatisan, warga, serta santri Hidayatullah Towuti ini menghadirkan Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz H. Muh. Nashrullah Alwi, Lc., M.M., sebagai pemateri.

Alumnus Universitas Islam Madinah tersebut membawakan materi bertema “Menjadi Generasi yang Merdeka”, mengajak hadirin untuk memahami kemerdekaan sebagai tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial dalam bingkai ajaran Islam.

📸 Dokumentasi Kegiatan

Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel, H. Muh. Nashrullah Alwi, Lc., M.M., menyampaikan materi di hadapan jamaah, wali santri, dan santri Hidayatullah Towuti.
Suasana jamaah dan wali santri yang khusyuk mengikuti pengajian bulanan di Masjid Putra “Umar bin Abdul Aziz” Pesantren Hidayatullah Towuti.
Para santri Hidayatullah Towuti turut hadir dan menyimak materi tentang pentingnya menjadi generasi yang merdeka.

Kegiatan pengajian bulanan ini menjadi salah satu agenda rutin pesantren untuk memperkuat pembinaan keislaman, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan peran serta masyarakat khususnya wali santri dalam mendukung pendidikan santri.

Tiga Rahasia Wajah Manusia yang Jarang Terungkap

0

PERNAHKAN Anda merasa seseorang yang tampak ramah di depan umum ternyata memiliki sisi lain yang tak pernah ia tunjukkan? Atau sebaliknya, ada orang yang terkesan kaku, tapi setelah akrab, ternyata berhati hangat?

Manusia memang unik, sebab kita semua memiliki lapisan-lapisan karakter yang tidak selalu mudah dibaca. Filosofi kuno Jepang bahkan menyebut, setiap orang memiliki tiga wajah yang berbeda. Menariknya, jika kita telaah lebih dalam, konsep ini sejalan dengan pandangan Islam tentang kepribadian dan hati manusia.

Setiap orang punya karakter, yang sering diukur secara instan dari tampilan wajahnya. Saat wajahnya suka tersenyum dan tampak santun, orang cenderung menilainya berhati baik. Sebaliknya, jika ekspresi wajah terlihat kaku atau kurang simpatik, sering kali ia dinilai kurang ramah, bahkan berwatak keras.

Padahal, wajah bisa saja menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan situasi, sedangkan karakter asli seseorang belum tentu tercermin dari penampilan luar. Wajah hanyalah “panggung depan” yang bisa diatur, sementara watak sejati tersembunyi jauh di dalam diri.

Karakter asli hanya satu, tetapi wajah bisa “bertopeng” menjadi tiga. Inilah yang dijelaskan dalam filosofi populer Jepang, yang menyebut bahwa setiap manusia memiliki tiga wajah.

Menurut Nishida Kitaro, wajah pertama adalah wajah citra diri. Wajah ini kita tunjukkan kepada dunia nyata dan lingkungan sosial. Inilah citra yang kita tampilkan kepada teman kerja, anggota organisasi, tetangga, bahkan di media sosial. Demi menjaga citra ini, kita berusaha mematuhi tata krama, norma sosial, berperilaku sopan, dan berpenampilan rapi demi harmoni kehidupan bersama.

Wajah kedua lebih dalam, yaitu wajah yang terlihat oleh orang-orang terdekat: keluarga, sahabat, atau pasangan. Wajah ini lebih jujur dan terbuka. Kita bisa marah, tertawa terbahak-bahak, atau menangis tanpa malu. Meski begitu, tetap ada hal-hal yang kita simpan rapat, sehingga keaslian diri baru terkuak sebagian. Tidak sepenuhnya tanpa pura-pura.

Wajah ketiga adalah yang paling rahasia dan misterius. Wajah ini tidak pernah kita tunjukkan pada siapa pun. Di sanalah tersimpan pikiran-pikiran terdalam, kekhawatiran yang tak terucap, hingga keinginan-keinginan yang mungkin tak pantas diketahui orang lain. Bagian diri ini hanya diketahui oleh kita sendiri dan Allah Ta’ala tentunya.

Jika ditarik ke dalam perspektif Islam, wajah menjadi simbol karakter manusia yang jauh lebih luas dan dalam. Kita bisa memahaminya dalam tiga bentuk.

Pertama, wajah nafsu yang menggambarkan wajah duniawi yang terbuka. Karena dikuasai nafsu, wajah ini cenderung mencari pengakuan, pujian, dan kepuasan duniawi. Ia suka tampil, menonjolkan citra diri, dan mengejar popularitas, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Wajah ini memang terbuka untuk publik, tetapi sering terjebak di level nafsu; mempercantik penampilan luar namun melupakan kebersihan hati.

Kedua, wajah rasional. Yaitu wajah yang lebih banyak digerakkan akal sehat. Wajah ini bijak dalam menimbang, seimbang dalam mencari kebenaran, dan memahami bahwa wajah sejati terletak di dalam batin, pada niat dan amal.

Pendekatan rasional menuntun pemiliknya untuk menjaga kebersihan hati, meluruskan niat, dan menghindarkan diri dari penyakit riya’, ujub, dan sum’ah.

Ketiga, wajah ruh yang merupakan wajah paling rahasia, penuh cahaya keikhlasan kepada Allah. Ia tersembunyi dari gemerlap dunia, tetapi bersinar di hadapan-Nya.

Pemilik wajah ini hidup zuhud, meleburkan kehendaknya pada kehendak Allah, dan tidak mengharapkan pujian manusia. Dari hati yang bersih ini lahir amal-amal yang ikhlas, dilakukan diam-diam ataupun terang-terangan, hanya demi keridaan-Nya.

Sifat wajah ruh ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tetapi kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Orang yang memiliki wajah ruh mungkin tidak dikenal manusia, tetapi ia dicintai penduduk langit karena ketulusannya.

*) Ustadz Nasri Bohari, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

Sulsel Terima 19 Alumni Baru dari Wisuda ke-IX STIS Hidayatullah Balikpapan

0

BALIKPAPAN  (HidayatullahSulsel.or.id) — Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali mendapat tambahan tenaga kader muda potensial. Sebanyak 19 alumni baru dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan resmi ditugaskan ke berbagai kampus Hidayatullah di wilayah ini. 

Penugasan tersebut diumumkan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-IX yang digelar di Asrama Haji Balikpapan, Sabtu (9/8/2025).

Para alumni tersebut merupakan bagian dari 184 wisudawan angkatan XVIII dan XIX yang diwisuda tahun ini. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Penugasan Alumni, mereka akan mengemban amanah di berbagai kampus pesantren Hidayatullah di Sulsel, di antaranya Kampus Pratama (KP) Sudu Enrekang, KP Lamatanre Pinrang, KP Jeneponto, Kampus Madya (KM) Parepare, Kampus Utama (KU) Makassar, KP Bulukumba, dan KM Towuti Luwu Timur.

Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Ustadz Zaim Azhar Hasyim HS, Lc., M.Pd., mengatakan penugasan alumni adalah wujud nyata dari orientasi kampus dalam mencetak kader ulama dan pemimpin umat yang siap mengabdi di mana pun dibutuhkan.

“Kami tidak hanya fokus pada kelulusan akademik, tetapi memastikan setiap alumni langsung terserap dalam medan pengabdian. Penugasan ke Sulsel ini adalah bagian dari strategi distribusi kader untuk memperkuat dakwah dan pendidikan,” ujarnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari, M.Pd., menyambut gembira kedatangan para alumni ini. Menurutnya, tambahan tenaga muda akan menjadi penguat bagi berbagai program strategis Hidayatullah di daerah.

“Alumni STIS memiliki bekal ilmu, adab, dan semangat pengabdian. Kami berharap mereka segera beradaptasi, bersinergi dengan struktur di daerah, dan ikut menggerakkan program-program keumatan di Sulsel,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Ketua Departemen Organisasi dan SDI DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Anwar Baits. Ia menekankan bahwa setiap alumni yang datang telah memiliki rencana penempatan dan bidang amanah yang jelas.

“Ada yang akan fokus di bidang tarbiyah, pendidikan, organisasi, hingga pengelolaan pesantren. Penugasan ini sudah dirancang agar tepat sasaran dan memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan kampus-kampus Hidayatullah di Sulsel,” jelasnya.

Dengan tambahan 19 alumni ini, Hidayatullah Sulsel diharapkan semakin solid dalam menjalankan visi dakwah dan pendidikan, sekaligus memperkuat jejaring kader di seluruh pelosok provinsi.

Reporter: Cakdul
Editor: Redaksi

Kisah-kisah Qur’ani yang Bongkar Rahasia Merekrut SDM Berkualitas

0

Pernahkah Anda melihat seorang pemimpin memilih orang untuk mengemban amanah besar? Ternyata, proses “rekrutmen” bukan hanya ada di dunia modern. Jauh sebelum konsep HRD dan wawancara kerja dikenal, Al-Qur’an sudah merekam kisah-kisah bagaimana para nabi dan orang terdahulu memilih orang dengan kriteria khusus untuk tugas yang sangat penting.

Yang menarik, kriteria itu bukan sekadar soal keterampilan teknis, tetapi menyangkut integritas, kecerdasan, bahkan ketangguhan mental dan fisik. Dari kisah-kisah berikut ini, kita akan belajar bahwa suksesnya sebuah amanah sering kali ditentukan oleh kualitas manusianya, dan Al-Qur’an sudah membocorkan resepnya sejak ribuan tahun lalu.

Dalam Al-Qur’an, sedikitnya ada dua kisah luar biasa tentang pencarian SDM (sumber daya manusia) dengan karakter tertentu untuk memikul amanah besar. Sebagaimana lazimnya kisah-kisah Qur’ani, selalu ada ibroh (pelajaran) yang bisa kita petik. Mari kita kaji satu per satu.

Pertama, Hafizhun ‘Alim dalam Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam

Setelah melalui perjalanan hidup yang penuh ujian, Nabi Yusuf akhirnya berdiri di hadapan Raja Mesir.

Beliau diminta menafsirkan mimpi sang Raja, lalu diangkat menjadi orang kepercayaan kerajaan.

“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.’… ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.’” (QS. Yusuf: 54).

Yusuf kemudian meminta jabatan sebagai bendaharawan negara:

“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (hafizh), lagi berpengetahuan (‘alim).” (QS. Yusuf: 55).

Imam al-Qurthubi menafsirkan hafizhun ‘alim sebagai sosok yang mampu menjaga amanah dan memahami betul urusan yang diemban. Pendapat lain menyebut, ia pandai menghitung, tertib mencatat, menjaga akurasi timbangan, dan mengelola masa paceklik.

Imam Ibnul Jauzi mencatatnya dalam tiga tafsiran. Pertama, menjaga amanat dan tahu waktu terjadinya masa paceklik (riwayat Ibnu ‘Abbas). Kedua, serupa dengan tafsiran al-Hasan. Ketiga, pandai menghitung dan menguasai berbagai bahasa, mengingat banyaknya tamu asing yang datang ke Mesir (tafsiran as-Suddi).

Kesimpulannya, SDM yang ideal minimal punya dua kualitas: teguh dan dapat diandalkan, serta menguasai bidangnya dengan baik. Penguasaan bahasa asing menjadi nilai plus.

Maka, ketika merekrut guru, dosen, pegawai, atau karyawan, pastikan kedua kualitas ini ada. Apalagi untuk jabatan manajerial atau kepemimpinan. Sebaliknya, staf atau pemimpin yang malas, tak bisa diandalkan, dan minim ilmu adalah bencana.

Kedua, Qawiyyun Amin dalam Kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam

Setelah peristiwa terbunuhnya seorang Mesir, Nabi Musa melarikan diri ke padang pasir. Di sana, beliau melihat sekelompok penggembala memberi minum ternaknya, sementara di kejauhan dua gadis menunggu.

Ternyata, ayah mereka sudah tua renta dan tak mampu menggembala. Nabi Musa pun menolong memberi minum ternak mereka. Dua gadis itu pulang lebih cepat dari biasanya, sehingga sang ayah heran.

Salah satu putrinya berkata:

“Wahai ayah, ambillah dia sebagai pekerja. Sesungguhnya orang yang paling baik untuk bekerja pada kita adalah yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26).

Ibnu Katsir meriwayatkan, si gadis menilai Musa kuat karena menggeser batu sumur yang biasanya butuh sepuluh orang — bahkan ada riwayat menyebut tiga puluh orang. Amanahnya terlihat dari adab beliau: menundukkan pandangan, menjaga jarak, dan meminta gadis itu berjalan di belakangnya untuk menghindari fitnah.

Kisah ini menunjukkan dua kualitas pekerja ideal: tangguh secara fisik dan kokoh secara moral.

Tanpa keduanya, pekerjaan takkan maksimal. Fisik kuat tapi akhlak rusak, akan berbahaya. Akhlak baik tapi fisik lemah, tentu akan tidak optimal.

Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, Pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah, Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur.

Siswa TK Yaa Bunayya Raih Juara 2 Lomba Mewarnai Se-Kota Parepare

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Prestasi membanggakan diraih oleh TK Yaa Bunayya, salah satu unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Pesantren Hidayatullah Parepare. Salah satu siswanya, Ananda Askari Nazir, berhasil meraih Juara 2 dalam lomba mewarnai tingkat kota yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Parepare.

Lomba tersebut merupakan bagian dari puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) dan semarak menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-80, yang digelar pada Kamis, 7 Agustus 2025 di Rumah Jabatan Wali Kota Parepare. Kegiatan bertema “Lomba Mewarnai Tas Serut: Kolaborasi Orang Tua dan Anak” ini diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai TK se-Kota Parepare.

Guru pendamping dari TK Yaa Bunayya, Bunda Ida Farida, menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas capaian tersebut.

“Alhamdulillah, ini menjadi pencapaian gemilang dari Ananda Askari. Ia memang sangat suka mewarnai, dan prestasi ini bisa menjadi pemantik semangatnya untuk terus berkembang,” ujarnya.

Kebanggaan yang sama juga dirasakan oleh orang tua Ananda Nazir, Bapak Mansur Askari. Ia menyampaikan apresiasi kepada para guru yang telah membimbing anaknya.

“Alhamdulillah, kami bersyukur dan bangga. Ini bukan hanya prestasi pribadi, tetapi juga prestasi bagi Pondok Pesantren Hidayatullah, khususnya TK Yaa Bunayya. Terima kasih kepada para guru yang telah sabar mendidik dan mendampingi anak kami hingga sejauh ini,” ucapnya.

Penyerahan hadiah kepada para pemenang dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Parepare, Bapak Makmur, S.Pd., M.M. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi semangat dan kreativitas para peserta.

“Semoga keberhasilan yang diraih ini menjadi motivasi bagi siswa-siswi lainnya untuk terus berkarya, serta mendorong para guru untuk semakin semangat dalam mengajar dengan sepenuh hati dan menciptakan terobosan-terobosan positif demi kemajuan pendidikan, khususnya di jenjang taman kanak-kanak,” pesannya.[]

Renungan dari Neraka Saqar: Siapa Sebenarnya Orang Jahat Itu?

0

Oleh: Ustadz M. Alimin Mukhtar*

ADA banyak kriteria kejahatan. Namun, sering kali semua itu hanya merupakan manifestasi luar dari kejahatan sejati, yakni apa yang tersembunyi dalam hati dan pikiran pelakunya.

Ketika membicarakan kejahatan manusia, Allah tidak hanya menunjuk perbuatan fisik, tetapi juga menyingkapkan sebab-sebab internal yang melatarinya.

Lantas, siapakah orang-orang jahat di mata Allah? Apa saja tanda-tandanya? Mari sejenak merenungkan pesan-pesan Allah tentang mereka, agar kita bisa menghindarinya.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Muddatsir ayat 43–47, Allah mengisahkan penyesalan orang-orang jahat saat mereka telah tercebur ke dalam neraka.

Ketika ditanya apa yang menyebabkan mereka masuk neraka, mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan kami biasa membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang melakukannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada kami kematian.”

Ayat-ayat ini merekam akar utama dari seluruh kejahatan yang mereka lakukan di dunia, yang berujung pada siksaan neraka.

Pertama, tidak mengerjakan shalat.

Dalam Islam, shalat adalah pilar utama agama (‘imadu ad-diin), fondasi eksistensi keislaman seseorang. Ia juga merupakan simpul terakhir (‘uro al-Islam); jika terurai, hilanglah identitas Islam dari diri seseorang.

Shalat mencerminkan kualitas hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Ketika para penghuni neraka Saqar mengakui bahwa mereka tidak mengerjakan shalat, itu menandakan buruknya relasi mereka dengan Allah.

Jika tidak termasuk golongan musuh Allah, mereka setidaknya adalah orang-orang yang tidak memperdulikan-Nya. Mereka hidup tanpa nilai-nilai agama. Tanpa relasi spiritual, akar-akar kebaikan pun tercerabut dari jiwa. Maka, merekalah sejahat-jahat makhluk.

Kedua, tidak memberi makan orang-orang miskin.

Pengakuan ini menunjukkan rusaknya hubungan mereka dengan sesama manusia. Mereka hidup egois, individualis, hanya peduli pada dirinya sendiri.

Jika memiliki harta, hanya digunakan untuk memenuhi kesenangan pribadi. Jika memiliki kekuasaan, diarahkan untuk ambisi pribadi. Jika memiliki ilmu, hanya dijadikan kebanggaan individual.

Sebaliknya, Al-Qur’an kerap menegaskan bahwa ciri keimanan adalah kepedulian terhadap kaum lemah dan tertindas, kesediaan berbagi, dan menentang kezaliman sosial.

Islam tidak mencela kepemilikan harta, tetapi mengutuk sikap egois yang tak mau berbagi. Bila keinginan untuk berbuat baik telah mati dalam hati, maka apa lagi yang tersisa selain rayuan setan?

Ketiga, mempermainkan ajaran Islam.

Mereka senang berkumpul membicarakan hal-hal yang sia-sia. Dalam menyikapi Al-Qur’an, mereka cenderung meremehkan dan memperolok. Terhadap Rasulullah, tidak tampak cinta dan penghormatan.

Ketika membahas agama, mereka tak memiliki niat untuk mengamalkan. Bahkan, tak jarang mereka merasa terganggu dengan bacaan Al-Qur’an atau sunnah Nabi.

Jika secara lahiriah mereka membenci ajaran agama, maka tidak mungkin hati mereka bersedia tunduk dan mengamalkannya. Na’udzubillah!

Keempat, mengingkari Hari Pembalasan.

Padahal, inti dari seluruh peringatan para Rasul adalah penegasan tentang keberadaan akhirat dan kewajiban manusia mempersiapkan diri menghadapinya, meskipun tanpa bukti empiris. Sebab urusan akhirat adalah wilayah iman, bukan logika atau pembuktian.

Jika akhirat dianggap tidak ada, maka agama pun tak lagi relevan. Inilah akar dari keyakinan orang-orang jahat: tidak percaya adanya kehidupan setelah mati — bahkan kalau bisa, Tuhan pun dianggap tidak perlu ada. Agar mereka bebas hidup semaunya!

Inilah empat induk kejahatan manusia. Perhatikan karakteristik orang-orang jahat tersebut: mereka buruk dalam hubungan dengan Allah, egois terhadap sesama, meremehkan agama, dan mengingkari Hari Pembalasan. Entah mana dari empat penyakit ini yang muncul lebih dulu. Yang jelas, semuanya membawa kebinasaan.

Menafsirkan ayat ini, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Adakah Anda melihat dalam diri orang-orang ini suatu kebaikan pun? Ingatlah, tidak tersisa kebaikan sedikit pun bagi orang yang di dalam dirinya ada (empat perkara) ini.”

Benar. Jika seseorang tak lagi peduli kepada Tuhannya, maka ia hanya akan menuruti hawa nafsunya. Apa yang bisa diharapkan dari hidup yang dikendalikan nafsu belaka?

Jika ia enggan berbuat baik kepada orang lain, mungkin jiwanya telah kehilangan nurani. Terlebih jika ia tak memiliki penghormatan terhadap Al-Qur’an dan Rasulullah, lalu mengingkari Hari Pembalasan. Hidupnya hanya untuk dunia… dan dunia semata!

Dapat diasumsikan, jika seseorang cacat dalam salah satu dari keempat aspek ini, maka kemungkinan besar aspek lainnya pun tidak sempurna.

Empat aspek itu adalah: ibadah (shalat), kepekaan sosial (kepedulian terhadap orang miskin), penghormatan terhadap agama, dan keyakinan kepada Hari Kebangkitan. Wallahu a’lam.

*) Direksi LPIH Ar-Rohmah Putri Malang

Menjadi Pemimpin Seperti Nabi: Jalan Menuju Kepemimpinan Profetik

0
Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom (Foto: Billy/ Hidayatullah.or.id)

Oleh: Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom.

DI tengah kelesuan integritas dan krisis keteladanan dalam dunia kepemimpinan hari ini, Islam menawarkan model abadi yang tak pernah kehilangan relevansinya, yaitu kepemimpinan profetik. Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan atau kekuasaan struktural, melainkan amanah agung yang sarat dengan tanggung jawab moral dan spiritual. Pendekatan ini dapat dikaji lebih dalam melalui bingkai komunikasi profetik, yaitu cara memimpin yang meneladani gaya komunikasi Rasulullah shallallahu alayhi wasallam.

Komunikasi profetik memosisikan kepemimpinan sebagai sarana mendidik, menginspirasi, dan mengubah secara positif. Tiga pilar utamanya adalah: keteladanan (uswah), penyampaian yang menggugah dan membawa kabar baik (tabsyir), serta kebijaksanaan dalam bertindak (hikmah). Dengan ketiga unsur ini, kepemimpinan tidak hanya menyentuh akal, tapi juga menembus hati dan menggerakkan tindakan.

Melihat dengan Mata Hati, Menemukan Potensi Tersembunyi

Seorang pemimpin visioner dalam Islam digambarkan sebagai ulul albab, yakni pribadi dengan akal yang tajam dan wawasan jauh ke depan. Mereka tidak sekadar menilai dari aspek fisik atau kemampuan teknis, tetapi mampu menangkap potensi spiritual (fitrah) dalam diri setiap individu.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam adalah sosok utama dalam hal ini. Beliau melihat kejujuran dan kesetiaan dalam diri Abu Bakar, ketegasan dan keadilan pada Umar bin Khattab, serta keberanian luar biasa dalam diri Khalid bin Walid. Ketiganya dipercaya dan diberi peran strategis yang sesuai dengan karakternya.

Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu alayhi wasallam tidak pernah memvonis masa lalu seseorang. Bahkan mereka yang dahulu menentang Islam diberi kesempatan berubah karena beliau yakin bahwa setiap hati menyimpan kemungkinan untuk tersentuh oleh cahaya iman.

Pemimpin profetik senantiasa berprasangka baik kepada orang lain (husnuzan), memandang setiap manusia sebagai ladang potensi. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Pandangan positif ini bukan hanya mencegah dosa prasangka, tetapi juga membuka ruang bagi kepercayaan dan kolaborasi. Dengan sikap ini, pemimpin akan melihat setiap tantangan bukan sebagai penghalang, tetapi sebagai peluang untuk bertumbuh dan memperkuat kualitas kepemimpinan.

Memetakan Ujian dan Peluang, Strategi dengan Nurani

Kepemimpinan profetik tidak berjalan di atas naluri semata. Ia berdiri kokoh di atas fondasi ilmu dan kebijaksanaan. Rasulullah shallallahu alayhi wasallam selalu mengedepankan musyawarah (syura) bersama para sahabat dalam menghadapi tantangan, termasuk saat Perang Khandaq. Strategi menggali parit yang diusulkan Salman Al-Farisi adalah hasil dari proses kolektif yang cermat dan penuh pertimbangan.

Seorang pemimpin dituntut untuk merancang strategi yang tangguh dan adaptif, tanpa kehilangan dimensi nurani. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alayhi wasallam:

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim)

Hadits ini mendorong setiap pemimpin untuk tetap proaktif, penuh semangat, dan tidak mudah menyerah. Strategi yang matang dan kemampuan menganalisis realitas adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan dalam Islam sebagai bentuk kesungguhan dalam menunaikan amanah.

Kepemimpinan yang Bertumpu pada Bimbingan Ilahi

Puncak dari kepemimpinan profetik adalah kesadaran mendalam bahwa seluruh kekuatan dan keberhasilan bersumber dari petunjuk serta ridha Allah Ta’ala. Kepemimpinan yang sejati berpijak pada prinsip tauhid; sebuah keyakinan bahwa manusia hanyalah pelaksana kehendak Ilahi.

Tanpa bimbingan dari-Nya, sebaik apa pun strategi dan perencanaan manusia tetap rapuh. Karena itu, pemimpin profetik selalu menjaga spiritualitasnya dengan memperbanyak dzikir, mengokohkan tawakal, dan memperbanyak doa sebagai bentuk pengakuan akan keterbatasan dirinya.

Ia sadar bahwa kekuasaan bukanlah milik pribadi, tetapi titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban—bukan hanya oleh rakyatnya, tetapi oleh Rabb-nya. Hal ini menciptakan kepemimpinan yang bersifat adil, rendah hati, dan dapat dipercaya (amanah).

Allah SWT berfirman:

وَمَآ أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍۢ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍۢ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah akibat dari perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap kegagalan adalah pelajaran dari proses manusiawi, sedangkan keberhasilan adalah bentuk kemurahan Allah. Kesadaran ini membentuk pemimpin yang tidak sombong saat menang dan tidak putus asa saat gagal, karena kompas utamanya adalah spiritualitas, bukan sekadar hasil duniawi.

Menjadi Pemimpin Profetik, Mengharmonikan Akal, Hati, dan Ruh

Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan utuh yang memadukan kecerdasan emosional, ketajaman intelektual, dan kedalaman spiritual dalam satu kesatuan yang harmonis.

Seorang pemimpin yang mengikuti jejak kenabian akan senantiasa memandang potensi dalam diri orang lain dengan prasangka baik, menyusun strategi melalui musyawarah dan analisis, serta mengakar kuat dalam ketauhidan.

Seluruh langkah kepemimpinannya ia jalani sebagai bentuk ibadah, bukan sekadar pengelolaan kekuasaan. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan maslahat bagi umat manusia, dunia, dan kehidupan akhirat.

Kini, saatnya umat Islam kembali menapaki jejak kepemimpinan profetik. Bukan sekadar menjadikannya wacana, tetapi menghidupkannya dalam tindakan nyata sebagai jalan dakwah, sebagai bentuk pengabdian, dan sebagai warisan agung dari Sang Nabi.[]

Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom., penulis adalah Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah