Beranda blog Halaman 22

Rejuvinasi: Merangkul Keniscayaan, Mengubah Kekhawatiran

1

Rejuvinsi adalah sebuah keniscayaan, baik dalam organisasi maupun dalam perjalanan hidup manusia.

Ini adalah sebuah realitas yang tak terhindarkan, namun seringkali membawa dua kondisi jiwa yang berlawanan: harapan dan kekhawatiran.

Harapan muncul dari mereka yang melihat perubahan sebagai peluang untuk perbaikan dan kemajuan. Ada keinginan untuk ikut serta dalam proses tersebut, yang kemudian menumbuhkan optimisme.

Ini terjadi saat kita memahami bahwa rejuvinsi adalah aksioma kehidupan, sebuah prinsip dasar bahwa setiap individu atau organisasi pasti akan menghadapi titik di mana perubahan menjadi keharusan.

Kita harus sadar bahwa semua ada masanya, baik yang tua maupun yang muda. Setelahnya, akan tumbuh tunas-tunas baru, generasi muda yang siap menjadi pelanjut 

 sangat krusial. Demi kelangsungan hidup dan eksistensinya, organisasi harus senantiasa mampu melakukan pembaharuan diri. Stagnasi adalah musuh utama kemajuan.

Sebaliknya, kekhawatiran sering datang dari mereka yang sulit menerima realitas perubahan. Ada ketakutan akan kehilangan kenyamanan, kesejahteraan, atau posisi yang selama ini dinikmati.

Kekhawatiran juga bisa muncul ketika prestasi yang sudah diraih tidak dihargai, atau ragu apakah pengganti berikutnya mampu meneruskan warisan tersebut. Tak jarang, ini memicu pandangan meremehkan terhadap generasi penerus, terutama yang dianggap masih junior atau pendatang baru.

Harapan dan kekhawatiran seringkali terlihat seperti dua kutub yang berlawanan. Harapan seolah identik dengan generasi muda atau para inovator, sementara kekhawatiran lebih sering dikaitkan dengan para penikmat zona nyaman, biasanya dari kalangan senior.

Namun, pada hakikatnya, kedua perasaan ini bisa muncul bersamaan pada siapa saja. Kita tidak bisa begitu saja memisahkan mereka dalam dua kelompok yang berbeda.

Rejuvinsi seharusnya membawa harapan akan perubahan positif. Ia berfungsi menyegarkan dan mencerahkan kembali individu dan organisasi melalui inovasi dan adaptasi. Harapan ini mampu mengikis kekhawatiran, membuka pikiran menjadi lebih luas, dan menciptakan visi masa depan yang lebih baik.

Rejuvinsi harus dimaknai sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih baik, baik secara pribadi maupun organisasi. Harapan ini akan terwujud jika rejuvinsi dipersiapkan dengan matang. Ingatlah, perubahan dan pergantian adalah bagian dari takdir.

Allah SWT mengingatkan kita dalam QS Ar-Rahman; 26: “Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa.”

Ayat ini adalah pengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini fana, hanya Allah yang kekal.

Kesadaran akan keniscayaan rejuvinsi mestinya memotivasi kita untuk mempersiapkan diri. Ini termasuk menyiapkan masa purnabakti yang layak bagi para senior dan pelaku sejarah, serta merancang pola regenerasi yang baik dari senior ke junior.

Pembekalan mental-spiritual dan skill kepemimpinan menjadi kunci. Kita harus yakin akan hadirnya generasi yang mampu mengemban amanah sesuai zamannya, karena setiap era memiliki orangnya, dan setiap orang memiliki eranya.

Pada akhirnya, rejuvinsi adalah keniscayaan yang akan membawa makna dan kebahagiaan, baik bagi organisasi maupun individu.

Syaratnya, kita harus belajar menerima kekhawatiran, lalu mengubahnya menjadi harapan yang menumbuhkan langkah-langkah baru menuju kesuksesan dan kemajuan.

Sekolah, Bukan Sekadar Gelar

0

Dalam lembaran suci Al-Quran, ada satu pertanyaan fundamental yang mengajak kita berpikir: Apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu? Jawabannya sudah jelas terpampang nyata: Tentu tidak sama.

Untuk memudahkan kita memahami esensi perbedaan ini, mari kita gunakan istilah yang lebih familiar dalam keseharian kita: sekolah.

Apakah sama orang yang pernah mengenyam bangku sekolah dengan yang tidak pernah? Secara umum, kita pasti sepakat bahwa keduanya memiliki perbedaan mendasar.

Mari kita bedah sedikit tentang kata ‘sekolah’. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai ‘school’ dan dalam bahasa Belanda ‘schoul’. Keduanya merujuk pada lembaga tempat para siswa mendapatkan pengajaran di bawah bimbingan guru. Menariknya, akar kata ‘sekolah’ juga berasal dari Bahasa Latin, yaitu ‘skhole’, ‘scola’, atau ‘skhola’, yang artinya ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’.

Ini menunjukkan bahwa pada awalnya, sekolah adalah sebuah kegiatan yang dilakukan anak-anak di waktu luang mereka, di sela-sela aktivitas utama seperti bermain dan menikmati masa kanak-kanak serta remaja. Waktu luang ini dimanfaatkan untuk mempelajari hal-hal penting seperti berhitung, membaca huruf, memahami moral (budi pekerti), dan mengenal estetika (seni).

Kegiatan ‘scola’ ini didampingi oleh orang-orang ahli yang mengerti psikologi anak, sehingga mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menciptakan dunianya sendiri melalui berbagai pelajaran yang menyenangkan. Intinya, sekolah adalah tempat untuk belajar, untuk menuntut ilmu.

Dengan demikian, kembali ke pertanyaan awal: apakah sama orang yang sekolah dengan tidak sekolah? Jawabannya tetap sama: tentu tidak sama.

Sekolah, dalam konteks modern, menjadi sebuah kewajiban, dari Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi, semuanya demi satu tujuan: belajar, agar kita bisa berilmu.

Allah SWT sendiri menegaskan perbedaan ini dalam Surah Az-Zumar ayat 9, yang artinya: “Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?’ Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.”

Ironisnya, kita kadang salah kaprah. Kita menganggap sekolah hanya untuk menjadi pintar, mudah dapat kerja, meraih jabatan, atau mencari uang semata. Padahal, tujuan luhur yang disampaikan dalam ayat di atas adalah agar kita menjadi ‘ulul albab’, orang yang berakal sehat.

Lantas, apa itu ‘ulul albab’? Mereka adalah orang-orang yang memiliki akal murni dan hati yang sadar, sehingga senantiasa berzikir kepada Allah dan berpikir mendalam tentang ciptaan-Nya, baik alam semesta maupun fenomena sosial.

Mereka mampu mengintegrasikan kekuatan akal dan wahyu untuk memahami kehidupan, serta mengamalkan kebaikan dalam bentuk amal saleh, yang disertai rasa takut kepada Allah dan harapan akan rida-Nya.

Jadi, tujuan sejati dari sekolah itu bukan sekadar mendapatkan gelar SE, MM, atau Doktor. Bukan pula sekadar pintar dalam arti sempit, atau agar cara jalannya berbeda antara lulusan S1 dan S3. Bukan itu intinya.

Sesungguhnya, semakin tinggi ilmu dan jenjang sekolah seseorang, seharusnya hatinya semakin taat kepada Allah. Dzikirnya makin kuat, ibadahnya makin kencang, dan etos kerjanya pun makin terarah.

Kalau di Hidayatullah, ya GNH-nya semakin oke lah, semakin solid dengan nilai-nilai luhur dan tujuan mulia yang diajarkan.

DPW Hidayatullah Sulsel Jajaki Kemitraan dengan PLN UID Sulselrabar

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan melakukan audiensi dengan General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar), Ediansyah, di kantornya, Selasa (2/9/2025). Pertemuan ini turut dihadiri Ketua YBM UID Sulselrabar serta Manager Unit Pelaksana Proyek Kelistrikan (UP2K) Sulselrabar.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Usatdz Nasri Bohari menyampaikan maksud audiensi ini adalah untuk menjajaki peluang kemitraan dalam berbagai program keumatan.

“Kami berharap dapat bersinergi dengan PLN, khususnya dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan sumber daya manusia,” ujarnya.

GM PLN UID Sulselrabar, Ediansyah, menyambut baik tawaran kerja sama tersebut. Ia mengaku sudah mengenal kiprah Hidayatullah sejak lama. “Saya lahir di Balikpapan dan pernah menjadi pembaca setia majalah Hidayatullah. Saya sangat mengapresiasi kontribusi Hidayatullah, terutama dalam bidang dakwah di wilayah 3T,” ungkapnya.

Sebagai bentuk keseriusan, Ediansyah sengaja menghadirkan Ketua YBM UID Sulselrabar dan Manager UP2K dalam pertemuan tersebut agar sinergi bisa segera ditindaklanjuti.

“Kami ingin langsung membicarakan apa saja yang dapat kita kolaborasikan bersama, terutama untuk mendukung program keumatan,” jelasnya.

Dalam diskusi, salah satu yang mencuat adalah kebutuhan akses listrik di sejumlah cabang Hidayatullah yang belum teraliri listrik. Menanggapi hal itu, Ediansyah menawarkan solusi pemanfaatan energi terbarukan.

“PLN dapat menyediakan opsi solar panel dengan kapasitas minimum 900 KWh untuk menopang kebutuhan listrik di cabang-cabang tersebut,” katanya.

Pertemuan diakhiri dengan kesepahaman awal untuk menindaklanjuti bentuk kemitraan konkret antara PLN UID Sulselrabar dan Hidayatullah, baik dalam mendukung dakwah maupun program pemberdayaan masyarakat.

Rombongan DPW Hidayatullah Sulsel dalam audiensi ini terdiri dari Ketua Ustadz Nasri Bohari, Sekretaris Ustadz Sumariadi, Bendahara Ustadz Kadir, perwakilan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ustadz Khairun, serta Ketua Departemen Perkaderan Ustadz Nashrullah.

Jusuf Kalla Terima Silaturahim DPP Hidayatullah, Siap Hadiri Penutupan Munas VI

0

JAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, H. Muhammad Jusuf Kalla, menerima silaturahim sekaligus audiensi dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bersama Panitia Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah di kediaman pribadinya, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pertemuan ini menjadi ajang dialog membahas isu-isu penting terkait keumatan, kebangsaan, dan keindonesiaan, sebagaimana dikutip dari Hidayatullah.or.id.

Hadir dalam pertemuan tersebut jajaran teras Hidayatullah, antara lain Ketua Dewan Pertimbangan H. Hamim Thohari, M.Si., Anggota Dewan Pertimbangan Dr. Ir. H. Abdul Azis Qahhar, M.Si., serta pengurus DPP seperti Ketua Umum Dr. H. Nashirul Haq, MA., Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Nursyamsa Hadis, Ketua Bidang Perekonomian Wahyu Rahman, dan Ketua Panitia Munas VI Hidayatullah, Marwan Mujahidin.

Ketua Panitia Munas VI, Marwan Mujahidin, menjelaskan bahwa dialog berlangsung hangat dengan sejumlah pesan penting dari Jusuf Kalla bagi Hidayatullah.

“Beliau memberikan apresiasi kepada Hidayatullah sebagai salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia,” ungkap Marwan dalam keterangannya, Selasa, 9 Rabi’ul Awal 1447 H (2/9/2025).

Menurut Marwan, Jusuf Kalla juga memberikan saran penguatan organisasi, khususnya peningkatan kualitas program-program yang sudah dijalankan Hidayatullah.

“Beliau memberikan saran untuk penguatan secara kualitas atas apa yang sudah dilakukan Hidayatullah melalui program-programnya,” tambahnya.

Selain itu, JK menyatakan dukungannya terhadap berbagai program Hidayatullah sekaligus menyampaikan kesediaannya untuk hadir menutup Munas VI.

Pertemuan silaturahim ini dinilai semakin memperkuat ikatan antara Hidayatullah dengan tokoh bangsa. Dialog yang berlangsung menegaskan pentingnya sinergi organisasi Islam dengan kepemimpinan nasional dalam menghadapi tantangan masyarakat Indonesia ke depan.

Munas VI Hidayatullah sendiri dijadwalkan menjadi forum strategis untuk merumuskan arah gerakan dakwah, sosial, dan pendidikan organisasi di masa mendatang. Kehadiran tokoh nasional sekaligus guru bangsa seperti Jusuf Kalla diharapkan dapat memberikan semangat sekaligus arahan strategis bagi penguatan kiprah Hidayatullah dalam membangun umat dan bangsa.

Presiden Prabowo Gelar Silaturahmi Lintas Agama dan Ormas, Hidayatullah Ikut Perkuat Komitmen Kebangsaan

0

JAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh lintas agama, pimpinan partai politik, serikat buruh, serta perwakilan organisasi pemuda lintas iman dalam agenda silaturahmi di Istana Negara, Jakarta, Senin, 8 Rabiul Awal 1447 H (1/9/2025), sebagaimana dikutip dari Hidayatullah.or.id.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan, dengan pembahasan menyangkut berbagai isu nasional yang tengah menjadi sorotan publik.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ustadz Dr. H. Nashirul Haq, didampingi Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto, turut hadir dalam forum tersebut. Kehadiran mereka mempertegas peran ormas keagamaan dalam memberikan kontribusi pemikiran untuk menjaga keutuhan bangsa.

Dalam diskusi yang terbuka, para tokoh menyampaikan aspirasi masyarakat. Beberapa isu strategis yang dibahas antara lain persoalan pajak yang dirasakan memberatkan rakyat, praktik korupsi, perilaku pejabat publik, hingga kenaikan tunjangan DPR. Seluruh isu tersebut dipandang sebagai tantangan serius yang memerlukan tanggapan bersama demi kepentingan bangsa.

Usai pertemuan, para pimpinan ormas keagamaan memberikan keterangan pers bersama terkait hasil pembicaraan dengan Presiden. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, mewakili jajaran tokoh agama, menegaskan bahwa forum tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan nasional.

“Kami semua bersepakat bahwa semua harus bersatu secara utuh untuk berjuang bersama, mengatasi tantangan bersama, dan terus-menerus memohon pertolongan Tuhan semoga segala ikhtiar yang dilakukan bangsa ini mendapatkan perlindungan dan kekuatan,” ujar Gus Yahya.

Ia menambahkan bahwa para tokoh agama memiliki tanggung jawab moral untuk senantiasa mengingatkan Presiden dan seluruh perangkat pemerintahan agar tetap teguh dalam menjalankan cita-cita nasional sebagaimana termaktub dalam konstitusi dan nilai luhur bangsa.

Gus Yahya juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menginginkan pertemuan semacam ini dapat digelar secara rutin.

Hal itu dinilai penting sebagai wadah untuk mempertemukan aspirasi masyarakat sekaligus memperkuat konsolidasi antara pemerintah dan elemen masyarakat sipil.

Pertemuan di Istana Negara ini bukanlah yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, pada Sabtu, 30 Agustus 2025, sejumlah pimpinan organisasi masyarakat Islam telah bertatap muka langsung dengan Kepala Negara di kediaman Presiden di Hambalang, Jawa Barat.

Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang intensif antara pemerintah dengan tokoh-tokoh keagamaan, sekaligus menegaskan pentingnya dialog dalam menjaga stabilitas sosial politik.

Pertemuan nasional tersebut memperlihatkan komitmen bersama antara pemerintah dan elemen masyarakat untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah dinamika sosial dan politik yang berkembang.

DPW Hidayatullah Sulsel Gelar “Lailatul Ijtimak” Serentak di Tiga Zona

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan kembali menggelar kegiatan kultural rutin bertajuk “Lailatul Ijtimak” pada akhir Agustus lalu, Sabtu-Ahad, 30–31 Agustus 2025.

Uniknya, agenda halaqah kubro yang mempertemukan para kader ula dan wustha serta para murabbi itu digelar serentak di tiga zona sekaligus: Zona Jentabusel (Jeneponto, Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Selayar), Zona Gamamapa (Gowa, Makassar, Maros, Pangkep), dan Zona Bosowa Raja Ajatappareng (Bone, Soppeng, Wajo, Barru, Tana Toraja, Enrekang, Parepare, Pinrang, Sidrap).

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari, menyebut gelaran ini sebagai wujud konsolidasi dakwah dan tarbiyah yang telah menjadi tradisi organisasi. “Lailatul Ijtimak bukan sekadar forum silaturahim, tapi momentum memperkuat ukhuwah, menyatukan langkah, dan meneguhkan militansi kader dalam bingkai jamaah,” ujarnya.

Untuk Zona Jentabusel, pelaksanaan dipusatkan di Kampus Pesantren Qaryatan Mubarakah, Bontomanai, Selayar, dengan tuan rumah Ustadz Imam Hanif, M.H.I. Keunikan zona ini, para peserta harus menyeberang dengan kapal ferry menuju Pulau Selayar sehingga kegiatan dikemas dalam nuansa touring ukhuwah.

“Momentum ini kami kemas sebagai touring ukhuwah, agar semangat kebersamaan kader semakin kuat meski harus melintasi laut,” ujar Ustadz Dr. Khairun, M.Pd., salah satu murabbi yang hadir.

Selain Dr. Khairun, tampak pula murabbi lainnya seperti Ustadz Sumariari, M.Pd., Ustadz Irfan Dg. Taba, dan Ustadz Imam Hanif, M.H.I. Para peserta kemudian mengikuti rangkaian kajian kelembagaan, pembekalan tarbiyah, serta musyawarah lintas kader.

Sementara itu, Zona Gamamapa melaksanakan kegiatan di Kampus Pesantren Dinul Kamil, Balocci, Pangkep. Mengusung tema “Rejuvenasi: Antara Menjaga Stabilitas dan Militansi serta Semangat Mengembangkan Organisasi”, acara ini menghadirkan para pembicara lintas generasi.

Mulai dari murabbi nasional Ustadz Ahkam Sumadiana, hingga generasi pertengahan Ustadz Mustaqim, serta generasi milenial seperti Dr. Nasrullah Sapa, Dr. Reskyaman, dan Dr. Karding.

“Estafet perjuangan harus terus terjaga dengan sinergi antar generasi. Di sini kita menyatukan visi, menyegarkan kembali semangat, dan menjaga arah mainstrem gerakan dakwah dan tabiyah kita,” ungkap Ustadz Nasri Bohari, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel.

Gelaran ini dikemas dalam bentuk dialog terbuka, camping kader, hingga halaqah lintas murabbi. Turut hadir pula Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, Ustadz Ir. H. Abdul Majid, M.A., serta murabbi lintas provinsi, Ustadz Drs. H. Mardhatillah dari Hidayatullah Sulbar.

Sementara itu, di Zona Bosowa Raja Ajatappareng, kegiatan dipusatkan di Kampus Pesantren Darul Qur’an, Bulu Cenrana, Pitu Riawa, Sidrap. Zona ini mengangkat tema “Menguatkan Ukhuwah, Mengokohkan Imamah”.

Puluhan kader ula dan wustha hadir bersama murabbi masing-masing halaqah. Kegiatan dikemas dalam bentuk mabit (malam bina iman dan takwa) serta kajian intensif kelembagaan.

Sejumlah pembicara hadir, di antaranya Ustadz H. Nashrullah Alwi, Lc., Ustadz Drs. Ismail Mukhtar, Ustadz H. Burhanuddin, M.Ag., dan Ustadz Drs. Anwar Baits.

“Soliditas jamaah hanya akan kokoh jika ukhuwah dijaga dan imamah ditegakkan. Itulah pesan utama yang kita bawa dalam forum ini,” tegas Ustadz Ismail Mukhtar.

Halaqah Kubro Penutup Periode 2021-2025

Lailatul Ijtimak sendiri merupakan agenda kultural Hidayatullah Sulsel yang digelar secara bergiliran di kampus-kampus pesantren anggota zona setiap dua bulan sekali. Format kegiatan biasanya dimulai Sabtu sore ba’da Ashar dan ditutup Ahad siang ba’da Zhuhur.

“Selain menjadi ajang silaturahim, acara ini adalah sarana konsolidasi organisasi yang sangat efektif. Para kader bisa saling menguatkan, berbagi pengalaman, sekaligus meneguhkan komitmen perjuangan dakwah (dan tarbiyah),” ungkap Ketua DMW Sulsel, Ustadz Majid, yang turut menghadiri gelaran di Zona Gamampa.

Dengan penyelenggaraan serentak di tiga zona, Lailatul Ijtimak akhir Agustus 2025 ini mencatat sejarah tersendiri. Terlebih gelaran ini diprediksi akan menjadi gelaran Lailatul Ijtimak penutup untuk periode 2021-2025 ini, yang akan berakhir beberapa waktu mendatang.

Melalui gelaran serentak di tiga zona ini, DPW Hidayatullah Sulsel berharap peserta pulang membawa semangat baru untuk memperkokoh tarbiyah dan dakwah di daerah masing-masing.

Hidayatullah Serukan Jaga Keutuhan Bangsa dan Ingatkan Bahaya Kesenjangan Ekonomi

0

JAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ustadz Dr. H. Nashirul Haq, menyerukan pentingnya menjaga persatuan bangsa sekaligus mengingatkan bahaya kesenjangan ekonomi yang semakin melebar. Seruan itu disampaikan dalam pernyataannya di Jakarta, Ahad, 7 Rabi’ul Awal 1447 H (31/8/2025), sebagaimana dikutip dari Hidayatullah.or.id.

Dalam keterangannya, Nashirul Haq mengajak masyarakat, khususnya warga Hidayatullah, untuk tetap menjaga keutuhan bangsa di tengah situasi yang penuh tantangan akibat maraknya aksi unjuk rasa.

“Kami mengajak masyarakat dan warga Hidayatullah secara khusus agar senantiasa menjaga keutuhan bangsa, memelihara ketertiban dan keamanan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konstitusi negara menjamin kebebasan setiap warga dalam menyampaikan pendapat, aspirasi, hingga kritik terhadap pemerintah. Namun kebebasan tersebut harus diwujudkan secara bertanggung jawab.

“Konstitusi menjamin hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, aspirasi hingga kritikan kepada pemerintah. Namun dengan cara yang baik, tidak mengganggu ketertiban, tidak anarkis, dan tidak menggunakan kekerasan,” tegasnya.

Nashirul juga berharap pemerintah lebih terbuka dalam mendengarkan suara rakyat. Menurutnya, langkah pengamanan demonstrasi tidak boleh dilakukan secara berlebihan.

Selain menyoroti soal demonstrasi, ia mengingatkan bahwa kesenjangan ekonomi dapat menjadi sumber ketidakstabilan sosial. Oleh karena itu, ia menyerukan agar pejabat publik dan wakil rakyat tampil dengan gaya hidup sederhana.

“Kesenjangan ekonomi dapat memicu ketidakstabilan. Oleh karena itu para pejabat pemerintah dan wakil rakyat hendaknya menampakkan gaya hidup yang wajar, tidak berlebihan dan bermewah-mewah. Apalagi dalam kondisi masyarakat sedang mengalami kesulitan hidup,” ungkapnya.

Nashirul menambahkan, pentingnya mewujudkan keadilan hukum, sosial, dan ekonomi demi terciptanya ketenteraman serta kesejahteraan rakyat.

Hidayatullah sendiri mendorong penyelesaian masalah bangsa dengan cara damai, adil, dan bermartabat, di tengah situasi sosial yang bergejolak.

Kemerdekaan Sejati: Jalan Menuju Fokus dan Peradaban Islam

0

KEMERDEKAAN sering dipandang sebagai pintu gerbang menuju keberhasilan. Namun, untuk benar-benar mencapai kemajuan yang dicita-citakan, seseorang memerlukan fokus.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Apakah mungkin seseorang bisa fokus tanpa kemerdekaan? Ataukah sebaliknya, setelah merdeka otomatis ia bisa fokus?

Jawabannya bergantung pada bagaimana kita memaknai kemerdekaan. Sebab kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan tanpa aturan dan ikatan.

Dalam pandangan Islam, seseorang baru disebut merdeka ketika ia mampu melepaskan belenggu dalam dirinya, mulai dari belenggu hawa nafsu, syahwat, hingga bisikan setan, sehingga ia bisa berbuat dan bertindak dengan arah yang jelas menuju tujuan hidupnya.

Dalam perspektif Islam, tujuan hidup manusia sudah jelas: menjadi ‘abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (pemakmur bumi). Dengan kata lain, orang yang merdeka sejati adalah mereka yang bisa fokus menjalani fungsi penghambaan sekaligus kekhalifahan.

Allah Swt. menegaskan:

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An‘am [6]: 162)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh dimensi hidup seorang Muslim harus terfokus kepada Allah semata, tanpa terbagi pada tujuan lain. Maka, kemerdekaan yang hakiki adalah saat manusia bisa menghadirkan seluruh potensi dirinya untuk beribadah dan menunaikan amanah kekhalifahan.

Untuk bisa fokus menjalankan fungsi besar itu, umat memerlukan pedoman atau manhaj yang telah terbukti keberhasilannya. Sejarah mencatat, Manhaj Nubuwah adalah manhaj terbaik yang melahirkan generasi terbaik: Rasulullah ﷺ dan para sahabat di Madinah.

Pada masa itu, manusia benar-benar merdeka menjalani kehidupan dalam bingkai syariat Islam secara kaffah, sehingga mereka bisa fokus membangun pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Masyarakat yang hidup dengan manhaj nubuwah adalah masyarakat yang merdeka. Mereka terbebas dari segala belenggu yang menghalangi fungsi penghambaan dan kekhalifahan.

Dengan kemerdekaan itu, mereka dapat fokus membangun peradaban Islam yang maju, berkeadilan, dan berkeberkahan, hingga terwujud cita-cita agung: baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr, negeri yang baik dengan limpahan ampunan Allah.

DPW Hidayatullah Sulsel Jajaki Kolaborasi dengan Pemprov, Temui Wagub Fatmawati Rusdi

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur Sulsel, Hj. Fatmawati Rusdi, SE., MM, di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (19/8/2025). Pertemuan tersebut membahas peluang sinergi antara Hidayatullah dan pemerintah provinsi dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan kesehatan.

Rombongan DPW Hidayatullah Sulsel dipimpin langsung oleh Ketua, Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd., didampingi sejumlah pengurus, di antaranya Usatdz Kadir, S.E., M.M. (Bendahara), Ustadz Imran Djufrie, S.Pd.I., M.Pd. (Kadep Ekonomi, Aset, dan HAL), serta Ustadz Reskyaman S.W., S.Pd., M.M. (Kadep Dakwah). Hadir pula perwakilan pengurus DPD Hidayatullah Makassar, Baso Zulfikar, S.H.I., M.M.

Dalam pertemuan itu, Ustaz Nasri Bohari menyampaikan komitmen Hidayatullah untuk terus berkontribusi bagi masyarakat Sulsel melalui dakwah, pendidikan berbasis nilai Islami, pemberdayaan sosial, hingga layanan kesehatan umat.

“Kami berharap program-program Hidayatullah di Sulawesi Selatan dapat berjalan beriringan dengan visi pembangunan Pemprov. Dengan kolaborasi, insyaAllah manfaatnya bisa lebih luas dirasakan masyarakat,” ujar Ustadz Nasri.

Wakil Gubernur Sulsel, Hj. Fatmawati Rusdi, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menilai kehadiran Hidayatullah sebagai mitra strategis pemerintah, terutama dalam bidang dakwah dan pendidikan masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kiprah Hidayatullah di Sulsel. Pemerintah daerah tentu terbuka untuk bersinergi selama sejalan dengan regulasi dan mendukung peningkatan kualitas SDM masyarakat Sulawesi Selatan,” kata Fatmawati.

Pertemuan yang berlangsung hangat itu juga dihadiri sejumlah pejabat Pemprov Sulsel, antara lain Kepala Biro Kesra, Kepala Kesbangpol, dan staf terkait, guna menyerap langsung informasi mengenai program dan aktivitas Hidayatullah.

Menjelang akhir audiensi, pengurus DPW Hidayatullah Sulsel menyampaikan bahwa organisasi tersebut akan menggelar Munas ke-6 Hidayatullah di Jakarta pada Oktober 2025 mendatang. Mereka berharap dukungan moril dari Pemprov Sulsel terhadap perhelatan nasional tersebut.

Reporter : Imran Djufrie
Editor : Cakdul

Ketua DPW Sulsel Lepas Kafilah Jamnas Hidayatullah, Sulsel Jadi Kafilah Terbesar Kedua

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Nasri Bukhari, M.Pd., resmi melepas keberangkatan kafilah Sulsel menuju Jambore Nasional (Jamnas) Sako Pramuka Hidayatullah ke-3 yang digelar di Kampus Induk Gunung Tembak Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur, 21–24 Agustus 2025.

Dalam upacara pelepasan yang berlangsung khidmat di halaman Masjid Umar Al-Faruq, Pesantren Al-Bayan Hidayatullah Makassar, Senin (18/8/2025), Ustadz Nasri berpesan agar para peserta tidak hanya hadir sebagai kontingen terbesar kedua setelah Kalimantan Timur, tetapi juga mampu menunjukkan prestasi, disiplin, serta semangat ibadah di setiap aktivitas jambore.

“InsyaAllah kontingen Sulsel bukan saja terbesar tapi juga harus menjadi yang terbaik, baik dari sisi prestasi, kedisiplinan, maupun keteladanan ibadah,” tegasnya di hadapan peserta dan orang tua yang turut hadir memberi dukungan.

Kafilah Sulsel pada gelaran ini tercatat membawa 15 fiah (regu) dengan total sekitar 180-an peserta. Komposisinya terdiri dari 2 fiah tingkat SD, 2 fiah SMP, dan 11 fiah SMA. Jika dirinci berdasarkan jenis kelamin, terdapat 4 fiah putra dan 11 fiah putri. Dari keseluruhan regu, Makassar mengirim 8 fiah, sementara daerah lainnya masing-masing satu fiah, yakni Bone, Pinrang, Parepare, Bungadidi, Masamba, Palopo, dan Enrekang.

Keberangkatan kafilah dilakukan dalam tiga gelombang. Rombongan pertama berlayar melalui Pelabuhan Makassar pada Senin siang dengan menggunakan KM. Bukit Siguntang. Gelombang kedua menyusul dari Pelabuhan Parepare pada Senin malam dengan kapal yang sama. Sementara gelombang terakhir dijadwalkan bertolak dari Pelabuhan Parepare pada Rabu pagi menggunakan KM. Lambelu.

Selain dikawal langsung oleh pengurus Satuan Komunitas Daerah (Pinsakoda) Sulsel, setiap fiah juga didampingi Bindam (pembina pendamping) masing-masing. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan setiap peserta terarah dan terlindungi selama perjalanan maupun kegiatan jambore.

Ketua Yayasan Al Bayan, Suwito Fatah, MM, yang turut hadir dalam upacara pelepasan menegaskan bahwa gerakan Pramuka di lingkungan Hidayatullah merupakan model pendidikan yang penting dalam pembentukan kader dakwah dan kepemimpinan. “Melalui jambore ini, para santri belajar membentuk karakter, kemandirian, dan ukhuwah Islamiyah. Bukan sekadar lomba, tetapi latihan kepemimpinan sejati,” ujarnya.

Sebelumnya, Sako Pramuka Al-Bayan Hidayatullah Makassar pernah meraih juara umum pada Jamnas di Malang dengan medali terbanyak di berbagai mata lomba. Dengan kekuatan 15 fiah tahun ini, kafilah Sulsel optimistis mampu kembali menorehkan prestasi sekaligus memperkuat tali persaudaraan antar-santri Hidayatullah dari seluruh Indonesia.*/