Beranda blog Halaman 21

Warga Binaan Antusias Belajar Al-Qur’an, BMH Sulsel Perkuat Sentuhan Rohani Mustahik

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) – Usia senja tak menjadi penghalang bagi warga binaan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulawesi Selatan untuk terus menimba ilmu agama. Puluhan warga binaan terlihat penuh semangat mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan metode Terampil Membaca Al-Qur’an 8 Jam Grand MBA, Selasa (9/9/2025), di Aula BMH Sulsel.

Kegiatan yang rutin digelar setiap pekan ini diikuti 10-an peserta dari berbagai latar belakang. Mereka dibimbing langsung oleh Ustadzah Sumarni untuk mengeja huruf demi huruf Al-Qur’an hingga mampu merangkai bacaan dengan lebih baik.

Susi Erawati (59), seorang pemulung asal Sipala, Makassar, mengaku sangat bersyukur bisa ikut dalam program ini.

“Alhamdulillah, BMH memfasilitasi kami untuk belajar Al-Qur’an. Selama ini kami sudah menerima bantuan sembako, kini ditambah dengan ilmu yang sangat berharga,” tuturnya dengan penuh haru.

Kisah menginspirasi juga datang dari Daeng Bulan (60), warga Bontoramba, Makassar. Meski penglihatannya mulai terbatas dan bacaannya masih terbata-bata, ia tak gentar menyelesaikan seluruh sesi pembelajaran hari itu.

“Belajar Al-Qur’an tidak mengenal batas usia,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan.

Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir, menegaskan bahwa program pembinaan baca Al-Qur’an ini merupakan bagian integral dari misi maqasid syariah yang dijalankan lembaganya.

“Kami berkomitmen tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar mustahik berupa makanan (hifz an-nafs), tetapi juga kebutuhan rohani mereka melalui ilmu agama (hifz ad-din). Dengan memperbaiki bacaan Al-Qur’an, shalat, dan hafalan surah pendek, kami berharap kualitas hidup para mustahik semakin baik lahir dan batin,” jelasnya.

Program ini menjadi bukti bahwa pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) oleh BMH Sulsel tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga rohani.

Ke depan, BMH Sulsel bertekad memperluas jangkauan program serupa agar semakin banyak masyarakat kurang mampu bisa merasakan manfaat ganda: terpenuhi kebutuhan dasar sekaligus terangkat kualitas spiritualnya.

Hidayatullah Sulsel Jadi Objek Penelitian Pemanfaatan Media Digital untuk Dakwah

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menerima kunjungan akademisi dari Universitas Islam Negeri Sultan Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Mahmuddin, M.Ag., Senin (22/9/2025) di kantor DPW Hidayatullah Sulsel, Makassar.

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka wawancara dan penelitian terkait pemanfaatan media digital untuk dakwah.

Kehadiran Guru Besar bidang Manejemen Dakwah tersebut disambut hangat Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd., didampingi Sekretaris DPW Ustadz Sumariadi, M.Pd., serta Kepala Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hidayatullah Sulsel, Ustadz H. Dwi Subagyo.

Penelitian yang berjudul “Pemanfaatan Media Digital dalam Meningkatkan Efektivitas Dakwah: Studi Kasus Lembaga Dakwah di Sulawesi Selatan” ini dilakukan oleh tim peneliti yang terdiri dari Prof. Mahmuddin bersama Drs. Alamsyah, M.Hum.

“Pilihan kami menjadikan Hidayatullah sebagai salah satu objek penelitian, di samping Muhammadiyah dan Wahdah Islamiyah, didasarkan pada fakta bahwa ketiga ormas Islam ini paling aktif mengisi ruang dakwah di berbagai platform media sosial,” ujar Prof. Mahmuddin dalam pertemuan tersebut.

Ia menambahkan, penelitian ini diharapkan tidak sekadar memotret realitas, tetapi juga menjadi bahan refleksi dan motivasi. “Masing-masing lembaga tentu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam mengoptimalkan media dakwah. Namun, penelitian ini bukan untuk menonjolkan sisi kurang, melainkan agar kita bisa semakin mengisi ruang-ruang dakwah yang masih belum tergarap,” jelasnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri, menyampaikan apresiasi atas perhatian dunia akademik terhadap kiprah Hidayatullah. “Kami berterima kasih telah menjadikan Hidayatullah sebagai bagian dari penelitian ini. Semoga hasilnya tidak hanya menjadi tolak ukur bagi kami, tetapi juga rujukan untuk membuat perencanaan dakwah yang lebih baik ke depan,” katanya.

Hidayatullah Sulsel sendiri dalam beberapa tahun terakhir dikenal aktif memanfaatkan kanal digital seperti podcast, kanal YouTube, hingga kelas daring untuk menguatkan peran dakwah. Upaya ini menjadi salah satu wujud keseriusan ormas Islam tersebut dalam merespons tantangan zaman.

Hasil penelitian yang sedang berlangsung ini direncanakan akan diluncurkan akhir tahun 2025. Diharapkan, temuan dan rekomendasinya bisa menjadi referensi strategis bagi lembaga dakwah Islam di Sulsel maupun di tingkat nasional untuk semakin mengoptimalkan media digital dalam syiar Islam.

Reporter : Adi Basayev
Redaksi : Admin

Menjaga Marwah Dakwah: Antara Keikhlasan Kader dan Kepekaan Pemimpin

0

Oleh: Ahmad Firdaus

PADA awal dakwah, banyak kader yang berjuang tanpa mengenal lelah. Mereka bergerak tanpa batas ruang dan waktu, tanpa menimbang sulitnya medan, dan tanpa mengharap imbalan materi.

Segala keterbatasan finansial, bahkan keluhan pasangan karena minimnya perhatian untuk keluarga, mereka hadapi dengan keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah adalah modal terbesar dalam perjuangan.

Hingga hari ini, masih ada kader yang bertahan dalam kondisi serupa. Meski sebagian saudara mereka sudah mapan, bahkan hidup berlebihan, para pejuang sejati tetap menahan diri. Mereka juga enggan bergantung pada dana politik, apalagi meminta-minta kepada pejabat atau tokoh yang memiliki kekuasaan. Prinsip menjaga marwah diri, hanya berharap kepada Sang Khaliq, menjadi pegangan mereka.

Namun, menjaga keikhlasan para pejuang ini bukan hanya urusan pribadi. Ia juga (seharusnya) menjadi tanggung jawab kolektif, terutama bagi pemegang amanah qiyadah, para pemimpin, atau pelopor dakwah, yang sudah mapan dan menempati jabatan.

Teladan Kepekaan Rasulullah

Diriwayatkan Imam Muslim, ada sebuah kisah yang memberi kita cermin berharga. Suatu ketika, Abu Hurairah radhiyallahu anhu merasakan lapar yang amat sangat. Biasanya, ia menahan lapar dengan menghimpit perutnya atau melilitkan batu di sana. Tapi hari itu, ia tak lagi sanggup.

Dengan harapan ada yang mengajaknya makan, Abu Hurairah duduk di jalan yang dilalui para sahabat. Ia mencoba memberi isyarat kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma dengan bertanya tentang persoalan agama. Namun, keduanya tak menangkap maksud dari kode halus itu.

Hingga akhirnya Rasulullah shallallahu alayhi wasallam yang lewat, langsung menyapanya dengan penuh perhatian, “Abu Hurairah!”

“Labbaik ya Rasulullah!” jawab Abu Hurairah senang.

Tanpa banyak basa-basi, Rasulullah langsung berseru kepada sahabatnya itu, “Ikutlah denganku!”

Setiba di rumah, tampaklah ada wadah berisi susu hadiah dari seseorang. Rasulullah meminta Abu Hurairah memanggil Ahlus Shuffah untuk bersama-sama menikmatinya. Abu Hurairah sempat ragu karena jumlah susu hanya cukup untuk berdua, sementara jumlah tamu cukup banyak. Tetapi ia tetap patuh.

Ajaibnya, wadah susu itu tak pernah habis sampai semua sahabat Ahlus Shuffah minum. Bahkan, Rasulullah memintanya minum berkali-kali hingga puas.

Dari kisah ini kita melihat kepekaan Rasulullah. Beliau segera memahami kondisi sahabatnya hanya dengan sekali tatap. Bukan sekadar memahami, tapi juga bertindak untuk menguatkan, bahkan dengan cara yang penuh kasih.

Kader, Pemimpin, dan Gerakan Peduli

Hikmah ini relevan untuk kondisi kita hari ini. Ada jarak yang kian terasa antara kader yang bertahan dengan serba kekurangan dan mereka yang sudah mapan karena hasil kerja jamaah. Jika kepekaan dan kepedulian tidak hadir, kesenjangan ini bisa melahirkan kekecewaan. Pelan tapi pasti, ada kader yang mundur dari barisan.

Di sinilah pentingnya gerakan peduli kader. Sebuah kesadaran kolektif untuk saling menjaga, khususnya bagi mereka yang sudah diberi kelebihan rezeki maupun jabatan. Keikhlasan para kader adalah ruh dakwah. Menjaganya berarti menjaga marwah perjuangan.

Rasulullah saw bersabda, “Amalan yang paling Allah cintai adalah membuat seorang muslim lain bahagia, membantu kesulitannya, melunasi utangnya, atau membebaskannya dari kelaparan.” (HR. Thabrani)

Maka, setiap pelopor dakwah semestinya terus “meneropong” keadaan kader-kadernya. Jangan sampai ada yang melemah karena merasa berjalan sendiri. Seperti Rasulullah yang peka dan peduli, kita pun dituntut menghadirkan kasih sayang nyata dalam barisan dakwah ini.

*Ahmad Firdaus, pemerhati dakwah, tinggal di Bulukumba.

Sambut Munas VI, Bikers Hidayatullah Gelar Touring Peradaban

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Menyambut Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan berlangsung di Jakarta pada 20–23 Oktober 2025 mendatang, Bikers Hidayatullah Indonesia (BHI) menggelar Touring Peradaban. Kegiatan ini digelar selama tiga hari, 19–21 September 2025, dengan rute Makassar (Sulawesi Selatan) menuju Mamuju (Sulawesi Barat).

Rombongan BHI bertolak dari Makassar pada Jumat siang (19/9) dan tiba di Mamuju pada Sabtu subuh (20/9). Kehadiran mereka disambut hangat oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Ustadz Mardhatillah.

“Kami sangat bersyukur mendapat kunjungan dari BHI Sulsel, ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ungkap Ustadz Mardhatillah.

Selama di Mamuju, para biker mengikuti sejumlah agenda, mulai dari ngopi bareng bersama pengurus DPW Hidayatullah Sulbar, city touring mengelilingi kota, hingga nge-camp malam di Pantai Tapandullu. Di lokasi pantai tersebut, selain berhalaqah ilmiah, para peserta juga menggelar kegiatan Tudang Sipulung, untuk membicarakan langkah-langkah pengembangan BHI ke depan.

Ketua panitia Touring Peradaban, Om Dani, menyebut kegiatan ini tidak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga bagian dari konsolidasi organisasi menjelang Munas VI.

“Touring ini menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan semangat kebersamaan, sekaligus menyusun strategi pengembangan organisasi di masa depan,” ujarnya.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, BHI berharap semangat soliditas dan jaringan antarwilayah semakin kuat. Adapun Munas VI Hidayatullah sendiri diharapkan menjadi forum strategis yang menghasilkan keputusan penting bagi arah kebijakan dan kiprah organisasi di masa mendatang.

Reproter : Sarmadani
Editor : redaksi

Ngopi Manhaji: Membaca Ulang Gerakan Hidayatullah

0

Oleh: Irfan Yahya*

Alhamdulillah, pasca catatan pinggir acara sosialisasi BP Munas VI saya dipublikasikan menyapa semesta digital di laman Hidayatullah Sulsel, berbagai tanggapan pun berdatangan. Ada yang lewat japri WA, ada apresiasi langsung selepas shalat berjamaah, bahkan ada juga yang khusus menelpon.  

Namun yang paling berkesan tentu saja ajakan Pak Yai, Sekwil DPW Sulsel, untuk nimbrung ngopi bersama beberapa tamu penting dari DPP maupun Kampus Ummul Quro Gutem.  

Dari serangkaian momen itu—yang kemudian saya labeli dengan istilah Ngopi Manhaji—saya menangkap fragmen-fragmen pikiran yang jika dirangkai bisa memberi gambaran lebih utuh tentang wajah gerakan Hidayatullah hari ini.  

Saya sebut Ngopi Manhaji karena obrolannya tetap berputar seputar manhaj, meski diselingi canda tawa, dan kadang muncul “gerakan” tambahan saat salaman, jari telunjuk kobbi-kobbi  telapak tangan orang yang disalami. 

Dari memori obrolan itu, semakin jelas peta jalan yang sesungguhnya sudah kita miliki. Apalagi setelah guru besar kehidupan kita, Ustaz Dr. Abd. Aziz Qahhar, telah memberi tauji manhaji  perihal tsawabit dan mutagayyirat.  

Bagi saya pesan itu sederhana, tetapi fundamental: bahwa setiap kader harus mampu membedakan mana yang substansial dan mana sekadar “casing,” mana das Sollen (idealitas) dan mana das Sein (realitas). Hanya dengan cara itu setiap celah GAP bisa dipersempit, sehingga energi perjuangan lebih efektif mengarah pada tujuan besar lembaga perjuangan ini. 

Saat pagi menjelang siang, sebelum berangkat mengajar menikmati racikan barista dengan teknik V-60 di sebuah kedai di pinggir Jalan Perintis, saya sempat nimbrung kongkow diskusi. Di situ muncul ide menarik dari sang arsitek kawakan, Kak Muaz Yahya, yang memantik kesadaran kita tentang pentingnya konstruksi teritorial dakwah berbasis “kawasan satelit.”  

Baginya, akselerasi gerakan dakwah tidak bisa lagi berjalan parsial, melainkan harus dibangun melalui sinergi kawasan. Beliau mencontohkan bagaimana kawasan Tamalanrea bisa disinergikan dengan Tanralili dan Arra, Tompobulu, membentuk semacam “segitiga emas” gerakan.  

Dalam skala lebih luas, Sulawesi Selatan sendiri sebenarnya telah memiliki pola zonasi yang cukup mapan, apalagi ditopang pengalaman tiga kali Ustaz AQM bertandang ke gelanggang politik praktis. Semua ini tentu menuntut basis data yang rapi, pemetaan potensi SDI dan potensi kawasan yang akurat, serta kajian dan riset standar sebagai landasan strategis. 

Pun beberapa momen lainnya, saya kembali diajak nimbrung di sebuah kedai kopi dalam kawasan BTP. Kali ini bukan V-60, melainkan kopi racikan tradisional yang disajikan bersama telur setengah matang dan aneka kue khas Makassar—pawa, doko-doko unti, barongko, hingga sokko lotong.  

Di sana, saya merekam fragmen-fragmen pikiran anak-anak muda yang bergairah membicarakan isu pengkaderan: mulai dari pola rekrutmen dan regenerasi, personifikasi tokoh, kanalisasi potensi, distribusi kader, sistem bonding, hingga keterbatasan SDI dan daya adaptif di era digital. 

Dari percikan percakapan itu, muncul satu pertanyaan kritis yang sederhana dalam hati saya : kira-kira, apa sebenarnya yang masih kurang dari lembaga ini? Dalam perspektif teori perubahan sosial, saya melihat semua prasyarat perubahan sosial sudah tersedia. Basis nilai sudah sangat jelas, basis komando terjaga, basis teritorial dan demarkasi kokoh, basis jamaah terbangun, investasi pendidikan berkesinambungan, bahkan basis politik (bukan politik praktis) juga telah terbentuk.  

Soal kanalisasi potensi dan distribusi peran kader pun relatif tidak sulit, sebab sistem pendidikan kita bersifat boarding. Sejak SMP, SMA, hingga mahasiswa, calon kader hidup bersama dalam sistem pondok, sehingga proses pengkaderan berlangsung alami baik secara indoor maupun outdoor. Kurikulumnya jelas, tersedia, dan berjalan. Sistem bonding pun efektif, sebab setiap kader wajib berhalaqah, dan pola inilah yang menjadi wasilah murabbi untuk benar-benar membangun keterikatan dengan mutarabbinya. 

Dari sini, kesimpulan sementara yang lahir dari Ngopi Manhaji cukup terang: Hidayatullah bukan kekurangan modal dasar, tetapi sering kali lengah dalam menutup “atap bocor” yang muncul di sana-sini. Celah kecil itu kadang berupa lemahnya koordinasi, kurang tajamnya riset, atau kelengahan dalam mengelola regenerasi.  

Padahal, sebagai aktivis kader (bukan sekadar karyawan lembaga), setiap dari kita sepatutnya terpanggil untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Karena sesungguhnya manusia terbaik adalah mukmin yang berilmu: bila diperlukan, ia bermanfaat bagi lingkungannya; dan bila tidak diperlukan, ia tetap mampu mengurus dirinya sendiri dengan baik. 

Wallahu a‘lam. 

*Dr. Irfan Yahya, Sosiolog dan Aktivis Hidayatullah 

Strategi Politik Prabowo dengan Sapu

0

Oleh: Ahkam Sumadiana*

Sebagai pemenang pilpres, Prabowo memahami betul situasi masyarakat dan kondisi bangsa ini. Ia sadar, rumah yang dimasukinya bukanlah rumah baru yang bersih dan rapi layaknya hunian dari pengembang. Yang ia dapati justru sebuah rumah tua, lama tak terurus, penuh noda, sampah, dan kotoran di mana-mana.

Kenyataan ini tentu saja tidak mudah. Namun, sebagai pemimpin, pilihan yang paling masuk akal adalah segera membersihkan rumah itu. Tidak perlu ribut, tidak perlu menyalahkan siapa pun, apalagi berkeluh-kesah. Meminjam istilah Jusuf Kalla: “bersihkan segera, lebih cepat lebih baik.”

Prabowo pun memilih strategi sederhana. Ia cukup memakai sapu. Dari sapu tangan, sapu ijuk, hingga sapu jagat. Setiap sapu memiliki fungsinya masing-masing.

Dari Sapu Tangan hingga Sapu Lidi

Langkah awal dimulai dari sapu tangan. Dengan alat sederhana ini, noda di meja atau jendela bisa dibersihkan tanpa merusak kaca. Namun, strategi ini membuat sebagian masyarakat merasa kecewa. Mereka menilai Prabowo terlalu lembut, bahkan seperti mengelus para pelaku penyalahgunaan wewenang dan koruptor. Tak heran muncul anggapan bahwa ia masih berada di bawah bayang-bayang pendahulunya.

Tahap berikutnya adalah sapu kelut, atau sulak, untuk membersihkan debu. Meski bermanfaat, masyarakat tetap merasa hasilnya kurang signifikan bagi perubahan bangsa.

Baru pada tahap sapu ijuk, kerja pembersihan terlihat lebih serius. Dengan sapu yang lebih kuat, kotoran bisa benar-benar dikeluarkan. Namun, tantangan tak berhenti di situ. Halaman rumah masih penuh sampah, sehingga Prabowo pun harus menggunakan sapu lidi. Alat ini memang keras dan kaku, tapi efektif untuk menyapu sampah menumpuk di halaman.

Meski begitu, masyarakat tetap menilai belum cukup. Mereka ingin lebih dari sekadar membersihkan noda dan sampah. Yang harus diatasi adalah perilaku dan moralitas orang-orang yang gemar mengotori rumah itu—koruptor, penyalahguna wewenang, dan pelaku onar.

Di titik inilah Prabowo diharapkan berani mengambil langkah sapu rata. Artinya, menindak siapa pun tanpa pandang bulu, sekalipun akan menghadapi perlawanan keras. Justru di situ letak dukungan rakyat akan semakin besar, karena keadilan benar-benar ditegakkan.

Menuju Sapu Bersih dan Sapu Jagat

Jika strategi pembersihan ini berhasil, dari sapu tangan hingga sapu rata, maka Prabowo bisa dikatakan mencapai sapu bersih. Artinya, ia mampu menata ekonomi, menjaga stabilitas politik, dan menciptakan keamanan. Pada akhirnya, masyarakat akan tetap setia mendukungnya.

Namun Prabowo tampaknya menyimpan satu langkah terakhir: sapu jagat. Ia pernah tinggal di Yordania, negara muslim yang memberi banyak pelajaran spiritual. Dari sana ia belajar pentingnya doa. Doa yang tidak hanya memohon keselamatan bangsa di dunia, tapi juga di akhirat.

Doa itu adalah sapu jagat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.”

Doa ini menjadi penutup sekaligus pengingat, bahwa sebesar apa pun strategi politik dan kekuasaan, pembersihan sejati hanya akan sempurna bila disertai dengan doa dan niat tulus untuk bangsa.

*KH. Ahkam Sumadiana, M.A., Murabbi Nasional Hidayatullah

PD Mushida ParepareGelar Konsolidasi, Hadirkan Dr. Sabriati Aziz Sebagai Pemateri

0

Parepare (HidayatullahSulsel.or.id) – Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Parepare menggelar konsolidasi organisasi dan tausiyah kelembagaan bersama Ketua Majelis Penasehat PP Mushida, Ustadzah Dr. Sabriati Aziz, M.Pd.I., di Guest House Putri Kampus Pesantren Hidayatullah Parepare, Ahad (13/9/2025).

Kegiatan yang diikuti pengasuh putri Keputrian Hidayatullah Parepare dan segenap kader Mushida Parepare ini mengangkat tema “Meneguhkan Jati Diri, Menguatkan Peran Kader Muslimah”. Acara bertujuan memperkuat kelembagaan sekaligus memperkokoh peran perempuan Hidayatullah dalam pendidikan dan dakwah.

Dalam tausiyahnya, Ustadzah Dr. Sabriati menegaskan pentingnya memahami jati diri Hidayatullah, khususnya prinsip pertama: menjadikan Sistematika Wahyu sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah.

“Sistematika Wahyu adalah ruh perjuangan Hidayatullah. Dari sinilah lahir nilai-nilai tarbiyah dan strategi dakwah yang relevan sepanjang zaman,” tegasnya.

Selain memberikan penguatan kelembagaan Hidayatullah, Ustadzah Sabriati juga menekankan peran strategis Mushida dalam membina generasi santri, terutama melalui keteladanan para pengasuh putri.

Ketua Mushida Parepare, Dr. Sahlah al-Ghumaisha, menilai forum ini menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman dan memperkuat ukhuwah.

“Kami berharap kegiatan ini menambah wawasan kader serta menguatkan komitmen kelembagaan, khususnya bagi pengasuh putri yang menjadi ujung tombak pendidikan santri,” ujarnya.

Suasana keakraban tampak mewarnai jalannya acara yang berlangsung sejak pagi hingga siang. Selain tausiyah, kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab, diskusi interaktif, serta peneguhan kembali visi dan misi Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah dan berpemahaman Ahlussunnah wal Jamaah.

Sebagai penutup, para peserta menyepakati pentingnya melanjutkan forum serupa secara berkala. Hal ini dipandang sebagai langkah penting memperkuat peran Mushida dalam menjawab tantangan zaman, mulai dari pengasuhan santri, pendidikan keluarga, hingga kiprah sosial masyarakat.*/

Reporter : Zhulfa Ulhusa
Editor : Redaksi

Hidayatullah Sulsel Gelar Daurah Marhalah Wustha Se-Sultanbatara, Hadirkan Tokoh Nasional

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menyelenggarakan Daurah Marhalah Wustha (DMW) Se-Sultanbatara di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, pada 11–14 September 2025.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Sulsel ini diikuti 30 peserta utusan dari tiga provinsi di kawasan Sulawesi bagian selatan-tenggara, yakni Sulawesi Selatan (25 orang), Sulawesi Tenggara (4 orang), dan Sulawesi Barat (1 orang).

Daurah yang mengangkat tema “Transformasi Jati Diri Hidayatullah Menuju Terwujudnya Peradaban Islam” ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional Hidayatullah sebagai pemateri. Mereka adalah Dr. KH. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. (Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah), Dr. KH. Tasyrif Amin, M.Pd. (Ketua Dewan Murobbi Pusat), KH. Nasfi Arsyad, Lc. (Anggota Dewan Murobbi Pusat), serta Dr. Muhammad Shaleh Utsman, S.S., M.Si. (Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah).

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Nasri Bohari, M.Pd., menyampaikan bahwa pelaksanaan daurah ini memiliki arti penting karena digelar menjelang berakhirnya periode kepengurusan 2021-2025. Ia berharap agenda tersebut dapat melahirkan kader-kader unggul yang siap mengemban amanah dakwah di tengah masyarakat.

“Terlaksananya DMW ini merupakan hasil kolaborasi kuat berbagai pihak, termasuk DPP, DPW, DMW, DPD Parepare, Yayasan Al Mubarak Hidayatullah Parepare, BMH, dan Sekolah Dai Hidayatullah (SDH). Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kaderisasi adalah kerja bersama, bukan kerja individual,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Sementara itu, Dr. Muhammad Shaleh Utsman menekankan pentingnya daurah sebagai bagian dari penguatan ruhiyah dan intelektual kader. Meski dilaksanakan di tengah padatnya agenda persiapan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, kegiatan ini, kata dia, menjadi kesempatan emas bagi peserta untuk meneguhkan komitmen dakwah.

“Setelah mengikuti daurah ini, kami berharap para kader wustha semakin mantap dalam mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Tantangan umat semakin kompleks, dan kader Hidayatullah harus hadir sebagai solusi,” tegasnya.

Selama empat hari, peserta mendapatkan materi intensif tentang manhaj tarbiyah Hidayatullah, strategi dakwah komunitas, penguatan fikrah Islamiyah, serta manajemen organisasi. Selain sesi materi, kegiatan juga diisi dengan kegiatan peningkatan ruhani dan akhlak seperti shalat lail, muhasabah, dan tausyiah umum.

Kegiatan DMW Sultanbatara di Parepare ini diharapkan menjadi pijakan baru dalam memperkuat jaringan kaderisasi Hidayatullah di kawasan Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara, serta menjadi sebab lahirnya kader-kader dakwah yang siap mengemban amanah dakwah demi terwujudnya Peradaban Islam.

Catatan Pinggir dari Arena Sosialisasi BP Munas VI di Makassar: Mewariskan Manhaj, Menyapa Generasi Muda di Era Digital

0

Oleh: Irfan Yahya

Ada momen tertentu ketika refleksi pribadi bertemu dengan kebutuhan institusional untuk menuliskan apa yang dirasa-rasai. Dari arena acara Sosialisasi Badan Pekerja Munas VI Hidayatullah di Makassar (Ahad 7/9/2025), dengan sejumlah rancangan kebijakan strategis dan perubahan PDO yang sedang didiskusikan, saya menulis catatan pinggir ini sebagai bentuk keterpanggilan moral sebagai seorang kader aktivis lembaga perjuangan ini.

Catatan ini bukan untuk membela tanpa syarat, bukan pula untuk menghakimi dari luar, melainkan untuk mengukuhkan satu hal sederhana namun mendasar, bahwa permasalahan yang dihadapi kini pada intinya adalah soal transmisi manhaj, bukan masalah pada hal-hal substansi dan filosofis. Grand design telah menempatkan gerak organisasi pada peta yang panjang, di mana pada titik ini yang diperlukan adalah ketepatan cara mewariskan, bukan pada urusan mengganti peta.

Manhaj yang selama ini membimbing perjalanan kolektif jamaah bukanlah retorika kosong. Dalam kerangka yang secara historis dan teoritik dirumuskan dalam pola dasar yang berangkat dari urutan lima surat pertama, organisasi telah sukses merumuskan peradaban Islam sebagai sesuatu yang konkret, bukan sesuatu yang abstrak. Yaitu manifestasi iman dalam kehidupan sehari-hari.

Pendefenisian ini bukan sekadar slogan. Ia menjadi tolok ukur epistemik untuk menilai apakah pergerakan lembaga benar-benar menginternalisasi nilai-nilai sistematika wahyu menjadi praktik. Atau baru sekadar menempelkan label religius pada praktik yang berorientasi pragmatis semata.

Prinsip Sistematika Wahyu mengajarkan urutan transformasi, mulai dari pembentukan kesadaran tauhid hingga pembinaan ruhiyah, dari perluasan dakwah keluar hingga tujuan Islam kaffah, merupakan sebuah rangka yang menuntut kesabaran lintas generasi, instrumen pendidikan yang terstruktur, serta ukuran keberhasilan yang berbeda dari logika output ekonomi semata.

Di sisi lain, wajar jika kita memandang kondisi organisasi sekarang dengan mata kritis. Sebab memang banyak hal administratif, struktural, dan kapasitas yang memang perlu pembenahan. Namun yang patut disyukuri, dan inilah aset epistemik yang menjadikan perjuangan ini bertahan, adalah keberadaan tsawabit, yakni substansi yang paten, yang secara tegas menempatkan konsep kepemimpinan imamah jamaah dan sistem syuro sebagai fondasi kolektif.

Sementara itu, pada ranah teknis dan taktis, yang sifatnya mutaghayyirat, organisasi terus berbenah dalam menunjukkan kapasitas yang adaptif. Sebut saja misalnya: pola pendidikan, metode pengaderan, struktur kelembagaan, dan pemanfaatan instrumen teknologi yang terus disesuaikan agar relevan dengan konteks zamannya.

Transformasi dan rejuvenasi yang diusulkan dalam rancangan arah kebijakan strategis dan PDO sangat jelas menempatkan keseimbangan antara menjaga substansi dan meremajakan strategi sebagai prioritas.

Memahami proses internalisasi, objektivasi, dan eksternalisasi yang menjadi bagian dari dinamikanya memberi kita kerangka evaluasi yang lebih adil. Internalisasi berarti nilai menjadi disposisi, objektivasi berarti nilai itu terwujud dalam struktur organisasi, dan eksternalisasi berarti nilai itu tampil dalam karya nyata berupa pesantren, institusi pendidikan, amal usaha, dakwah ke masyarakat, yang bersama-sama membentuk miniatur peradaban berbasis kampus/pondok.

Kegagalan yang sering dikritik bukanlah soal ketiadaan konsep. Tapi ia lebih kerap berakar pada kebocoran proses ini, di mana kualitas pendidikan kader, standardisasi murabbi, atau mekanisme monitoring dan evaluasi belum konsisten sehingga hasilnya belum menyebar merata ke generasi pelanjut. Membaca dinamika ini dengan lensa sosiologi pengetahuan (Epistemologi dalam dunia Filsafat) berarti menuntut intervensi pada perangkat tarbiyah, bukan pembongkaran identitas.

Masa kini menuntut perhatian ekstra pada aspek transmisi. Sebab generasi yang hidup di era digital memiliki kebiasaan komunikasi, ritme perhatian spesifik, dan cara belajar yang berbeda. Mereka bukan “generasi digital” sebagai label esensial. Yang lebih tepat dikatakan: mereka adalah generasi yang hidup di era digital, mengalir dalam kultur multi-kanal, dipengaruhi oleh hukum dan logika algoritma, menuntut otentisitas serta fleksibilitas.

Tantangan kita bukan merumuskan kembali jati diri. Justru tantangan praktisnya adalah merancang medium dan ritme pembinaan yang resonan tanpa menukar substansi dengan kemasan. Halaqah hybrid, inkubator sosial yang mengaitkan proyek ekonomi kader dengan mengkapitalisasi pontensi jaringan yang ada tetap dalam bingkai manhaji, kurikulum yang menyisipkan literasi digital dan etika siber, serta skema evaluasi yang menilai kualitas internalisasi, semua ini adalah komponen konkret dari strategi transmisi yang efektif.

Pada capaian ini sesuatu yang wajar dan penting menegaskan bahwa profetik dan profesional bukanlah dua ranah yang bisa berdiri sendiri. Keduanya mesti dipandang sebagai rangkaian yang saling melengkapi. Profetik memberi orientasi moral, menjaga integritas visi, dan menyalakan ruh tarbiyah. Sementara profesional memberi metode, tata kelola, dan akuntabilitas yang memungkinkan visi itu terwujud secara efektif.

Profetik tanpa mekanisme yang rapi berisiko menjadi moralitas retoris. Dan profesional tanpa pijakan profetik berbahaya karena bisa mengarahkan organisasi ke pragmatisme yang kehilangan ruh. Oleh karena itu rancangan kebijakan strategis yang mengusung integrasi profetik-profesional adalah langkah konseptual yang logis yang kini mesti diterjemahkan ke dalam pelatihan murabbi berbasis pedagogi digital, tata kelola ekonomi yang transparan, dan sistem monitoring yang partisipatif.

Praktik yang konkret haruslah terukur. Pertama, standardisasi murabbi dan sertifikasi instruktur bukanlah teknokrasi kering, melainkan cara memastikan bahwa proses transmisi nilai memiliki medium pengajar yang benar-benar kompeten, memahami manhaj, sekaligus mampu membaca konteks generasi kini.

Kedua, pengelolaan kampus sebagai etalase peradaban perlu diarahkan menjadi laboratorium praktik sebagai ruang tempat menguji dan melahirkan berbagai karya nyata. Seperti proyek ekonomi sosial, riset dan publikasi akademik, serta ekspresi seni budaya yang bernafaskan nilai profetik.

Ketiga, digitalisasi, baik dalam bentuk pendataan alumni, pembangunan platform ekonomi jamaah, maupun pengembangan kurikulum hybrid, harus dirancang untuk memperkuat objektivasi nilai, bukan sekadar mempermudah distribusi informasi.

Keempat, indikator evaluasi juga mesti diperbarui. Bukan lagi berhenti pada kuantitas kegiatan, tetapi bergerak pada kualitas internalisasi dengan standar ukuran yang adil dan proporsional (efel to efel), yang menilai kedalaman iman sebagaimana termanifestasi dalam tindakan keseharian.

Adalah penting pula menyatukan rasa syukur dan semangat jihad tandang ke gelanggang dakwah. Mengakui kekurangan internal dan eksternal bukan berarti memandang gerakan sebagai sebuah kegagalan. Sebaliknya, mengakui jejak kejayaan yang telah ada yaitu jejak yang lahir dari praksis gerakan nawafil, pembangunan pesantren, pendirian sekolah integral, dan jaringan pengabdian yang tumbuh, adalah landasan untuk bergerak lebih berani.

Warisan (legacy) para pendiri, termasuk otoritas intelektual yang ditinggalkan oleh generasi awal, mestinya memberi inspirasi praktis, di mana Ustad Abdullah Said rahimahullah telah mewariskan kader-kader yang mampu menerjemahkan manhaj ke dalam praktis. Sehingga tugas generasi sekarang adalah memastikan warisan itu benar-benar terangkai ke dalam jaringan generasi Z yang akan mengambil alih kemudi nahkoda di masa kini dan datang, sesuai kadar kemampuan masing-masing (ma-staṭho’tum).

Transformasi, rejuvenasi, dan perjuangan adalah istilah yang hidup dalam dinamika organisasi. Ketiganya bukan sekadar jargon, melainkan refleksi dari proses yang terus berulang dalam perjalanan lembaga perjuangan ini. Kendatipun perlu ditegaskan bahwa yang kita perlukan sekarang adalah transmisi yang utuh, yaitu transmisi yang memastikan bahwa nilai (jati diri) dan kultur (GNH) ikut terwariskan tanpa retak.

Rejuvenasi yang sehat bukanlah sekedar urusan umur semata, melainkan memperbarui cara pewarisan agar relevan. Dengan pendekatan itu, beberapa perubahan dalam PDO dapat dinilai menjadi instrumen untuk menjaga kemurnian manhaj sekaligus memberikan ruang bagi manajemen yang lebih adaptif. Implementasi kebijakan strategis yang sedang disosialisasikan menunjukkan arah itu, dan kini giliran kader muda untuk mengisi ruang-ruang praktik tersebut.

Akhirnya, melalui catatan pinggir ini, saya memberi usulan sederhana namun mendesak. Pertama, jadikan setiap langkah kita, dari halaqah, GNH, pengembangan kampus, hingga pengelolaan ekonomi berbasis jaringan, sebagai upaya kolektif untuk menjadikan manhaj hidup dalam denyut keseharian generasi yang hidup di era digital. Jangan sampai perdebatan soal struktur organisasi menutupi urgensi yang lebih mendasar yaitu murabbi yang berkualitas, rancangan kurikulum yang relevan dengan zaman, dan menyediakan platform yang memungkinkan kader benar-benar mempraktikkan nilai dalam kehidupan nyata.

Bila setiap kader melakukan bagian kecilnya dengan konsistensi dan kesungguhan sesuai kemampuan, maka skala besar perubahan akan mengikuti. Transisi perlu, transformasi diperlukan, namun yang utama adalah transmisi harus berhasil. Pada kondisi kesadarann ini, lima puluh tahun bukanlah penghujung, melainkan landasan untuk menapaki separuh abad berikutnya dengan keyakinan bahwa peradaban Islam bukan sekadar wacana, melainkan denyut yang hidup dalam setiap aspek kehidupan.

Catatan pinggir ini dihadirkan untuk menjadi pengingat bahwa mewariskan manhaj adalah kerja hati, kepala, dan tangan, yatu sesuatu yang mesti dilakukan bersama, dengan kesiapan untuk belajar dan memperbaiki sampai tujuan peradaban itu benar-benar hidup di tangan generasi pelanjut.

Allahu Akbar. Wallahualam.

*Dr. Irfan Yahya, Sosiolog dan Aktivis Hidayatullah.

Pemuda, Orang Tua, dan SIM

0

Acara #NgopiPanas tadi malam (7/9/2025) memberi banyak pandangan baru tentang rejuvinasi bagi saya. Pemantik dari Dr. AQM cukup menggugah diskusi, tetapi menariknya forum justru lebih banyak diwarnai oleh suara para senior.

Persentase tanggapan dari kalangan “orang tua” jauh lebih dominan dibanding anak muda, padahal sebenarnya merekalah yang diharapkan lebih menonjol.

Fenomena ini tidak datang tiba-tiba. Dalam banyak organisasi, terutama ormas keagamaan, generasi tua memang kerap mengambil porsi besar di forum-forum resmi.

Dan fenomena ini, sudah disinggung oleh seorang Sosiloog bernama Karl Mannheim sejak 1923. Dalam jurnalnya The Problems of Generations, dia menjelaskan fenomena munculnya dominasi generasi tua ini biasanya didorong oleh dua hal.

Pertama, pengalaman panjang yang membuat mereka merasa lebih otoritatif. Dan kedua, rasa khawatir terhadap kesiapan generasi muda jika dibiarkan berdiri sendiri.

Dari kacamata para senior, keterlibatan ini bukan sekadar intervensi. Ada semacam naluri untuk mengawasi dan mengarahkan, agar roda organisasi tidak mudah goyah.

Sikap itu bisa dianalogikan dengan seorang ayah yang mengajari anaknya mengendarai motor. Selama si anak masih kaku memegang setir, lupa menyalakan lampu, atau bahkan belum punya SIM, sang ayah tentu akan melarangnya pergi jauh seorang diri.

Di balik dominasi orang tua, tersimpan logika perlindungan. Mereka melihat risiko lebih besar daripada sekadar rasa percaya diri anak muda.

Inilah yang dinotice Mannheim bahwa generasi tua menjaga kesinambungan, sedangkan generasi muda mendorong perubahan. Keduanya memang sering bertubrukan, tetapi justru dari situlah ruang belajar tercipta.

Dalam konteks Hidayatullah, “SIM” bisa dibayangkan sebagai tanda kesiapan yang meliputi tiga hal penting.

Pertama, spiritualitas: kedisiplinan dalam ibadah, dari shalat berjamaah hingga qiyamul lail, menjadi fondasi utama.

Kedua, intelektualitas: kegemaran membaca, aktif berdiskusi, dan kemampuan merangkai gagasan menunjukkan keseriusan. Keaktifan berhalaqah juga tentu akan memiliki benang merah.

Ketiga, mentalitas: daya tahan menghadapi kritik, kematangan dalam menyikapi perbedaan, dan ketangguhan menerima tekanan adalah syarat mutlak.

Ketiganya ibarat surat kendaraan, helm, dan SIM itu sendiri. Tanpa perlengkapan ini, wajar jika orang tua menahan laju anak muda agar tidak “terjun bebas” di jalanan organisasi yang penuh tantangan.

Maka tantangan terbesar bagi pemuda sebenarnya bukan melawan dominasi orang tua, melainkan membuktikan kesiapan diri secara nyata. Pemuda yang matang akan dengan sendirinya mendapat ruang, bahkan sering kali didorong langsung oleh para senior.

Berbagai penelitian tentang organisasi sosial menunjukkan pola serupa: begitu indikator kesiapan tampak jelas, regenerasi berjalan lebih cepat. Artinya, ruang itu tidak sekadar diminta, tetapi perlu dibuktikan.

Akhirnya, hubungan generasi dalam sebuah organisasir sebetulnya bukan soal perebutan panggung, melainkan estafet. Tongkat hanya akan berpindah jika pelari berikutnya benar-benar siap menggenggam.

Orang tua dengan segala pengalaman dan kewaspadaannya akan selalu ada. Namun keputusan kapan tongkat itu berpindah, pada akhirnya ditentukan oleh pemuda. Dan jawabannya sederhana: saat “SIM organisasi” sudah di tangan, perjalanan akan terasa lebih jauh, lebih cepat, dan tentu lebih percaya diri.

*Cakdul, anak muda yang belum siap lepas dari dominasi orang tua.
Masjid Umar Al-Faruq, KU Makassar, 08/09/2025
.