Beranda blog Halaman 20

Kuatkan Profesionalisme SDM dan Keuangan, Hidayatullah Palopo Gandeng BSI untuk Penguatan Tata Kelola Yayasan

0

Palopo (HidayatullahSulsel.or.id) — Yayasan Al-Mubarak Pondok Pesantren Hidayatullah Palopo terus berbenah menuju tata kelola lembaga yang profesional dan berdaya saing.

Dalam upaya memperkuat manajemen sumber daya manusia (SDM) serta sistem keuangan yang transparan, lembaga ini menghadirkan Kepala Cabang Bank Syariah Indonesia (BSI) Kota Palopo, Andi Baso Muqsith Tenri Pamory, dalam forum Upgrading Pengurus Yayasan, Senin (7/10/2025).

Acara yang berlangsung di aula utama pesantren itu diikuti jajaran pembina, pengawas, dan pengurus yayasan, dan stakeholder terkait. Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif, mencerminkan semangat perubahan di kalangan pengurus yang tengah bersiap menuntaskan masa kepengurusan periode 2021–2025.

Dalam paparannya, Andi Baso menekankan pentingnya penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan lembaga keagamaan.

“Yayasan keislaman harus menjadi teladan dalam hal tata kelola keuangan dan manajemen SDM. Profesionalisme itu bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari amanah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan lembaga pendidikan Islam di era digital bukan hanya soal pengajaran, tetapi juga bagaimana mengelola aset, dana, dan sumber daya dengan efisien agar dapat berdaya saing.

“BSI siap bersinergi dalam mendukung pengembangan lembaga pendidikan Islam melalui layanan perbankan syariah yang lebih adaptif,” imbuhnya.

Ketua Yayasan Al Mubarak, Ustadz Amrullah, S.Fil.I, menyambut baik kehadiran praktisi eksternal dalam forum internal yayasan. Ia menilai kolaborasi dengan sektor perbankan syariah menjadi langkah strategis dalam memperkuat fondasi organisasi.

“Kami ingin seluruh pengurus memahami bahwa profesionalisme adalah bagian dari ibadah. Keberlanjutan lembaga ini tergantung pada kemampuan kita menjaga integritas dan sistem yang baik,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Pembina Yayasan, Ustadz Imran Djufrie, M.Pd.I, menegaskan pentingnya membangun kemitraan produktif antara lembaga pendidikan Islam dan institusi keuangan syariah.

“Kita berharap kerja sama dengan BSI tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi berkembang menjadi kemitraan strategis dalam program dakwah, tarbiyah, dan penguatan ekonomi umat,” ujarnya.

Diketahui, kegiatan upgrading tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Rapat Gabungan Yayasan Caturwulan III Tahun 2025. Rapat lengkap yang diikuti peserta dari unsur pembina, pengawas, dan pengurus yayasan, hingga kepala-kepala unit, serta staf administrasi itu berlangsung dinamis. Para peserta aktif berdiskusi mengenai strategi peningkatan mutu manajerial, efisiensi anggaran, hingga sistem pelaporan berbasis digital.

Sejumlah peserta mengaku mendapatkan wawasan baru dari kegiatan tersebut. “Kami jadi lebih paham bagaimana menyusun laporan keuangan sesuai standar dan pentingnya transparansi publik,” tutur salah satu peserta, Fijar Ali Fatih, bendahara unit SMP.

Melalui kegiatan ini, Kampus Madya Hidayatullah Palopo menegaskan komitmennya untuk terus menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, amanah, dan profesional, sejalan dengan semangat membangun peradaban Islam yang maju dan mandiri.

Reporter: Abu Faza

Gen Z Muslim dan Tantangan Globalisasi: Saatnya Jadi Aktor Peradaban Islam

0

TAKALAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, generasi muda Islam hari ini dihadapkan pada pertanyaan besar: mampukah mereka merealisasikan visi peradaban Islam di era serba cepat ini?

Pertanyaan itu menggema kuat dalam gelaran Gen Z Talk bertajuk “Dinamika Gen Muda, Globalisasi, dan Peradaban Islam”, yang menjadi bagian dari rangkaian Mabit Explorer yang juga dirancang sebagai kegiatan Semarak Munas VI Hidayatullah. Kegiatan ini digagas oleh DPD Hidayatullah Takalar bersama Pesmadai Makassar, dan berlangsung hangat di halaman masjid Pondok Pesantren Tahfidz Ahlul Jannah, Sabtu malam, 4 Oktober 2025.

Malam itu, halaman masjid pesantren berubah menjadi ruang diskusi terbuka. Ditemani kopi panas, ubi rebus, jagung bakar, dan kacang yang disajikan penuh keakraban oleh Bang Zulfahmi, bendahara DPD Hidayatullah Takalar, obrolan para peserta mengalir hingga lewat tengah malam. Dipandu oleh Ustadz Arham dan Bang Abid, diskusi itu tak hanya membahas teori, tapi juga menyalakan kembali kesadaran tentang siapa sebenarnya “kita” di tengah pusaran global yang serba cepat.

Para peserta yang berasal dari berbagai kampus di Makassar, mulai dari UNHAS, Unismuh, UIN Alauddin, UNM, STAI Yapis hingga UIT tersebut, membahas fenomena generasi muda masa kini: generasi yang cepat, adaptif, dan serba instan. Namun di balik keunggulan itu tersimpan pertanyaan reflektif: bagaimana menyeimbangkan kecepatan digital dan arus globalisasi, baik dalam pola pikir, gaya hidup, maupun orientasi politik, dengan kedalaman spiritual dan intelektual demi membangun peradaban Islam yang berakar pada nilai-nilai Qurani?

“Pemuda adalah simbol tenaga dan semangat,” ujar Ustadz Arham membuka percakapan malam itu.

“Tapi semangat tanpa arah bisa jadi bumerang. Karena itu, iman dan takwa menjadi pembeda utama,” timpal salah seorang peserta.

Bang Abid menambahkan, globalisasi sejatinya bukan semata ancaman, melainkan peluang besar untuk memperluas kontribusi Islam ke ranah global.

“Kita hanya perlu mengubah cara pandang: dari sekadar bereaksi menjadi berperan aktif,” ujarnya.

Seiring malam kian larut, percakapan semakin dalam. Para peserta sepakat bahwa generasi muda Islam tidak boleh terus berada di posisi pasif, sekadar sebagai konsumen informasi. Tetapi harus naik kelas menjadi produsen gagasan dan penggerak perubahan.

“Kita harus jadi aktor, bukan penonton,” ungkap salah satu peserta dengan lantang.

Kalimat itu seolah menjadi simpul dari seluruh diskusi malam itu, seruan agar generasi Muslim tidak sekadar mengikuti arus, tetapi memimpin perubahan zaman.

Menjadi aktor peradaban Islam berarti berani memimpin perubahan, memanfaatkan teknologi bukan sekadar untuk hiburan, tetapi sebagai sarana dakwah, edukasi, dan pemberdayaan umat. Di sinilah kesadaran keilmuan menjadi kunci. Generasi muda dituntut untuk terus membaca, belajar dari sejarah, dan memperdalam pemahaman terhadap syariat agar mampu menavigasi zaman dengan kebijaksanaan dan keberanian.

Di sisi lain, para pembicara juga mengingatkan pentingnya peran para pemimpin dan lembaga Islam untuk menghadirkan program pembinaan yang adaptif, menyentuh akar persoalan generasi muda, dan tidak terjebak dalam formalitas seremonial semata.

Malam itu, semangat membangun peradaban Islam terasa begitu nyata. Visi besar Hidayatullah untuk menghadirkan peradaban Islam yang visioner seakan menemukan gema baru dalam diri para peserta muda. Mereka sadar bahwa menjadi pelanjut risalah berarti berkomitmen menghindari taqlid buta, memperkuat ilmu, dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kemaslahatan umat.

Dari diskusi yang penuh tawa, kopi, dan renungan itu lahir sejumlah gagasan yang menggugah. Para peserta menyerukan pentingnya membangun kesadaran diri dalam bingkai iman, tarbiyah, dan dakwah; memperkuat kombinasi antara spiritualitas dan intelektualitas; menggunakan teknologi secara produktif untuk karya dan kontribusi nyata; serta belajar dari sejarah Islam sebagai cermin arah masa depan.

Yang paling penting, mereka sepakat bahwa lingkungan sangat menentukan. Karena itu, setiap anak muda perlu mencari—atau bahkan menciptakan—lingkungan yang bisa merekayasa lahirnya aktor-aktor peradaban Islam.

“Insya Allah, kegiatan seperti ini akan terus kita hidupkan di Takalar,” ungkap Ustadz Arham menutup malam itu dengan senyum.
“Apalagi, Takalar punya banyak spot wisata dan pesantren yang cocok menjadi tempat membangun semangat dan gagasan peradaban.”

Dan malam itu, di bawah langit Takalar yang temaram, secangkir kopi terakhir terasa seperti penanda: generasi muda Islam sedang bersiap, yang bukan lagi sebagai penonton sejarah, tapi sebagai pelaku utamanya.

Reporter: Abdurrahman

Pemuda Hidayatullah Sulsel Gelar “Mabit Explorer” di Takalar: Perpaduan Spiritualitas, Petualangan, dan Aksi Sosial

0

Takalar (HidayatullahSulsel.or.id) — Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan menggagas program pembinaan kreatif bertajuk “Mabit Explorer”, sebuah kegiatan bermalam dan berpetualang yang menggabungkan nilai spiritual, edukatif, dan sosial.

Acara yang berlangsung pada Sabtu-Ahad (4-5/10/2025) di beberapa titik di Kabupaten Takalar itu diikuti seluruh mahasiswa Pesmadai (Pesantren Mahasiswa Dai) Makassar, dengan dukungan DPD Hidayatullah Takalar dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulsel.

Berbeda dari kegiatan mabit (malam bina iman dan takwa) pada umumnya, Mabit Explorer dikemas dalam format yang lebih dinamis. Peserta tak hanya bermalam dan mengikuti kajian, tetapi juga berpetualang, berdiskusi, dan beraksi sosial di lingkungan masyarakat.

“Kami ingin memberi warna baru bagi pembinaan generasi muda Islam. Mabit ini kami rangkai dengan touring mini, tadabbur alam, dan kegiatan sosial. Jadi sambil menjelajah dan menikmati alam, peserta juga mendapat pengalaman spiritual dan wawasan kebangsaan yang menyegarkan,” ujar Bang Abid, Ketua Pemuda Hidayatullah Sulsel sekaligus Pembina Pesmadai Makassar, di sela kegiatan.

Kegiatan dibuka dengan tadabbur alam di kawasan wisata Paria Laut, Takalar. Objek wisata yang menawarkan perpaduan hamparan padang rumput hijau, air empang yang tenang, dan pemandangan sunset yang memukau, tersebut menjadi latar bagi refleksi diri dan renungan Qur’ani.

Di spot wisata yang terletak di Kelurahan Takalar Lama, Kec. Mappakusunggu ini, selain melaksanakan shalat maghrib berjamaah di alam terbuka, para peserta juga diajak merenungi ayat-ayat kauniyah sambil menyusuri alam, menanamkan nilai tauhid dan kepedulian lingkungan.

Malam harinya, peserta menuju ke Kampus Pesantren Tahfizh Ahlul Jannah Takalar. Di halaman masjid di kompleks pesantren yang beralamat di Paddinging, Sanrobone, tersebut, peserta mengikuti kegiatan diskusi intelektual bertema “Gen Z Talk: Dinamika Gen-Z, Globalisasi, dan Perdaban Islam”.

Forum diskusi santai namun berbobot tersebut dipandu oleh Ustadz Baharuddin Jabbar, Ketua DPD Hidayatullah Takalar, bersama Bang Abid. Dalam forum tersebut, mahasiswa peserta Mabit membahas isu-isu aktual seperti tantangan digitalisasi dakwah, produktivitas di era AI, hingga pentingnya menjaga jati diri di tengah budaya global.

“Kita harus menghidupkan kembali tradisi berpikir kritis di kalangan pemuda Islam, bukan sekadar ikut arus, tapi hadir memberi solusi,” tutur Ustadz Baharuddin, yang memimpin jalannya forum di bawah temaram lampu tenda.

Menjelang akhir malam, kegiatan dilanjutkan dengan qiyamullail, yang diikuti penuh khidmat oleh seluruh peserta. Udara dingin menjadi saksi semangat muda yang tak padam. Setelah shalat Subuh berjamaah, Ustadz Bachtiar Aras, S.Sos.I, Kepala Departemen Dakwah DPD Hidayatullah Takalar, memberikan tausiah Spirit Subuh.

Sebagai penutup, peserta Mabit Explorer menggelar aksi bersih-bersih masjid dan lingkungan sekitar, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan dengan aksi nyata. “Kepedulian sosial harus jadi bagian dari ibadah,” kata Bang Abid. “Inilah dakwah yang bergerak, bukan hanya dalam ruang kajian, tapi juga dalam tindakan.”

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Sejumlah warga bahkan ikut bergabung dalam aksi kebersihan dan sarapan bersama peserta.

Pemuda Hidayatullah menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Tahfidz Ahlul Jannah yang menjadi tuan rumah dan menyediakan fasilitas bagi peserta. “Sinergi ini menunjukkan bahwa pembinaan pemuda bisa dikemas secara kreatif, menyenangkan, dan tetap sarat nilai dakwah,” ujar Abid.

Melalui Mabit Explorer, Pemuda Hidayatullah Sulsel berupaya menumbuhkan generasi muda Islam yang cinta ilmu, cinta alam, dan cinta aksi. Sebuah upaya menautkan kembali spiritualitas, intelektualitas dan realitas, agar dakwah tak kehilangan sentuhan manusiawi di tengah perubahan zaman.

Reporter : Abdurrahman
Editor : Cakdul

BTH Pusat Gelar Monev Baitut Tamwil se-Sulawesi: Evaluasi Kinerja dan Tetapkan Target 2026

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) – Dalam upaya memperkuat kinerja lembaga keuangan mikro berbasis syariah di lingkungan Hidayatullah, Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) Pusat menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) BTH se-Sulawesi, yang berlangsung pada Kamis-Jum’at (2-3/9/2025) lalu, di Kantor BTH Makassar, Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini diikuti oleh pengurus BTH Makassar, BTH Bone, dan BTH Kendari, serta dihadiri oleh sejumlah unsur Hidayatullah lainnya. Hadir pula Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd., yang membuka kegiatan dengan sambutan dan pengarahan. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya BTH menjadi motor penggerak ekonomi jamaah dengan tetap menjaga nilai-nilai syariah dan amanah dalam pengelolaan dana umat.

“BTH bukan hanya lembaga keuangan, tetapi instrumen dakwah ekonomi. Ia harus tumbuh bersama kader, jamaah, dan masyarakat sekitar,” ujar Ustadz Nasri dalam arahannya.

Kegiatan dua hari ini juga dihadiri langsung oleh Kadiv Bisnin dan Jaringan BTH Pusat, Usatdz Daud, M.Th.I., yang memberikan pengarahan sekaligus memimpin sesi evaluasi. Dalam paparannya, ia menyoroti capaian BTH di wilayah Sulawesi yang dinilai cukup progresif, namun masih perlu peningkatan dari beberapa sisi.

“Kinerja BTH wilayah Sulawesi menunjukkan tren positif, baik dari sisi pertumbuhan aset maupun pembiayaan anggota. Namun, konsistensi dalam menerapkan SOP dan optimalisasi produk syariah masih menjadi PR bersama menjelang akhir tahun 2025,” jelas Ustadz Daud.

Menurut Manajer Cabang BTH Makassar, Baso Zulfikar, S.H., kegiatan Monev kali ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi dan arah kerja BTH di seluruh wilayah Sulawesi. Ia menjelaskan bahwa ada tiga hal besar yang menjadi fokus utama dalam pertemuan tersebut.

“Pertama, kami ingin memastikan seluruh BTH di Sulawesi melakukan evaluasi kinerja secara menyeluruh menjelang akhir tahun 2025, agar target tahunan yang telah ditetapkan secara nasional bisa benar-benar tercapai,” ungkap Baso.

Selain evaluasi, lanjutnya, kegiatan ini juga menjadi ajang penyamaan persepsi terkait SOP operasional dan bisnis BTH. Menurutnya, hal ini penting untuk menjaga kualitas layanan dan memastikan seluruh cabang berjalan dalam satu sistem yang akuntabel dan sesuai prinsip syariah.

“Kedua, kami memperkuat pemahaman bersama tentang SOP, agar tidak ada lagi perbedaan teknis di lapangan. Semua harus satu arah dalam standar kerja, terutama menghadapi tuntutan digitalisasi layanan keuangan syariah,” jelasnya.

Adapun agenda terakhir adalah penetapan target kerja tahun 2026, yang menekankan pada penguatan SDM, perluasan jaringan keanggotaan, serta pengembangan produk keuangan yang relevan dengan kebutuhan jamaah dan pelaku usaha mikro syariah.

“Ketiga, kami sudah menyepakati arah baru untuk tahun depan. Fokusnya adalah penguatan kapasitas SDM dan inovasi produk, agar BTH makin dekat dengan jamaah dan benar-benar menjadi solusi keuangan umat,” tegas Baso Zulfikar menutup keterangannya.

Dalam sesi penutupan, para peserta menyepakati komitmen untuk meningkatkan kolaborasi antarcabang BTH di seluruh Sulawesi, terutama dalam hal pertukaran data, pelatihan manajemen risiko, dan penerapan sistem laporan keuangan terpadu.

BTH, sebagai unit usaha resmi Hidayatullah, selama ini berperan penting dalam menggerakkan ekonomi jamaah melalui layanan simpan pinjam berbasis syariah. Lembaga ini juga aktif mendampingi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) binaan di berbagai daerah dalam ekosistem ekonomi umat.

Dengan hasil Monev ini, diharapkan BTH wilayah Sulawesi dapat memperkuat peran strategisnya dalam membangun ekonomi kader dan masyarakat berbasis nilai-nilai Islam menuju ekonomi jamaah yang mandiri dan berkeadilan.

Reporter : Baso
Editor : Cakdul

Sanad dan Aplikasi Sistematika Wahyu

0
Oleh: Fu’ad Fahrudin, Santri Hidayatullah di Kebumen

Beberapa tahun lalu, seseorang pernah mengajukan pertanyaan kepada saya:

“Seperti apa sanad keilmuan Hidayatullah? Dari mana Hidayatullah mengambil ilmu dan tsaqafah Islamiyah-nya?”

Saat itu, saya sempat bingung menjawabnya. Namun akhirnya saya sampaikan jawaban sepengetahuan saya, sembari memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi tambahan pemahaman tentang Sistematika Wahyu, manhaj yang menjadi landasan gerakan Hidayatullah.

Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah, gambaran tentang Sistematika Wahyu semakin terbuka.

Pertama, Sistematika Wahyu berakar pada pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma sebagaimana dikutip oleh As-Suyuthi dalam Ad-Dur Al-Mantsur fi at-Tafsir bil Ma’tsur. Beliau menjelaskan bahwa urutan turunnya surat-surat awal (tartībun nuzūl) adalah: Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, dan Al-Fatihah.

Di era kontemporer, terdapat sejumlah kitab tafsir yang mengikuti urutan tartībun nuzūl tersebut, antara lain At-Tafsirul Hadits dan At-Tafsirul Munir (berbahasa Arab), serta Tafsir Sinar (berbahasa Indonesia).

Dengan demikian, secara sanad keilmuan, Sistematika Wahyu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ada rujukan literatur yang kuat mendasarinya. Manhaj ini bukanlah hasil rekayasa akal semata, melainkan berpijak pada tradisi keilmuan yang otentik.

Kedua, Sistematika Wahyu berfungsi sebagai kerangka pikir (framework) bagi pembinaan diri seorang muslim. Ia menuntun agar setiap muslim memiliki lima sisi pembentuk kepribadian Islam yang utuh, yaitu: aqidah, akhlak, ubudiyah, dakwah, dan jamaah.

Seorang muslim tidak dapat terjebak hanya pada salah satu sisi, lalu melupakan yang lainnya. Kelima unsur ini bersifat integral, padu, dan saling melengkapi. Jika dipisahkan, kepribadian seorang muslim akan terpecah, menjadi split personality, dan keindahan Islam pun tak lagi terasa dalam kehidupannya.

Ketiga, Sistematika Wahyu menjadi panduan dasar dalam seluruh jenjang pendidikan di Hidayatullah, baik formal, informal, maupun nonformal. Karena itu, standar output pendidikan Hidayatullah sejatinya sudah jelas dan terarah.

Apabila di lapangan masih ditemukan kekaburan atau ketidakjelasan, maka Sistematika Wahyu sebagai landasan perlu dijelaskan dan ditegaskan kembali. Kejelasan pemahaman ini diharapkan melahirkan kesiapan dalam penerapan nyata di dunia pendidikan.

Keempat, Sistematika Wahyu juga dapat menjadi perspektif filosofis dalam membaca dan membedah berbagai fenomena kehidupan manusia. Dengan pendekatan ini, seorang muslim akan lebih mudah memahami realitas dan menentukan sikap yang tepat.

Masalah yang sering muncul adalah kurangnya latihan dan pembiasaan untuk menelaah fenomena dengan kacamata Sistematika Wahyu. Akibatnya, ia sering hanya berhenti pada tataran jargon, bukan sebagai cara pandang hidup yang fungsional.

Kelima, Sistematika Wahyu, khususnya melalui surat Al-‘Alaq, menyimpan kekayaan epistemologis yang luar biasa. Dari surat inilah dapat dikaji bagaimana ilmu diserap, diolah, dan melahirkan produk peradaban. Seluruh rangkaian proses keilmuan itu sesungguhnya tersirat dalam Al-‘Alaq dan surat-surat awal lainnya.

Namun sayangnya, eksplorasi terhadap dimensi epistemologis Sistematika Wahyu masih dangkal. Kedalaman kajian belum banyak dilakukan, sehingga sebagian orang masih diliputi keraguan.
Semoga di masa mendatang, keyakinan terhadap kekuatan Sistematika Wahyu semakin kokoh seiring lahirnya eksplorasi-eksplorasi ilmiah yang mendalam dan cerdas.

Ustadz Dr. Aziz Qahhar: Kekuatan Jamaah Ada pada Imamah dan Syura

0
Taujih Ustadz Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah) di masjid Ar Riyadh, Ummul Qura, Balikpapan, Sabtu subuh, 4 Oktober 2025/11 Rabiul Akhir 1447 H.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan informasi bahwa kaum kafir Quraisy akan menyerang Madinah, beliau segera mengajak para sahabat untuk bermusyawarah mengenai langkah antisipasi. Dalam forum tersebut, Rasulullah menyampaikan pendapatnya agar kaum Muslimin bertahan di dalam kota Madinah sambil menunggu kedatangan musuh.

Namun, seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ini wahyu atau pendapat pribadi?” Rasulullah menjawab, “Ini pendapat pribadi.” Mendengar itu, sahabat tersebut mengusulkan agar kaum Muslimin keluar dari Madinah dan menghadang musuh di Bukit Uhud.

Sejarah kemudian mencatat bahwa kaum Muslimin mengalami kekalahan dalam perang itu. Meski demikian, dalam perspektif Islam tidak dikenal istilah kekalahan mutlak, sebab setiap peristiwa mengandung hikmah dan pelajaran. Dari sini kita belajar tentang betapa pentingnya syura (musyawarah) dalam pengambilan keputusan. Rasulullah, meskipun beliau seorang nabi yang maksum, tetap mengedepankan musyawarah dalam urusan-urusan penting.

Kekalahan di Perang Uhud meninggalkan penyesalan mendalam, khususnya bagi sahabat yang mengajukan usulan berbeda dengan Rasulullah. Mereka merasa usulan tersebut menjadi pemicu kekalahan, sehingga enggan berhadapan dengan Rasulullah. Padahal, beliau rela mengalah dan melepaskan pendapat pribadinya demi mengikuti hasil musyawarah bersama.

Setelah peristiwa itu, Allah menurunkan firman-Nya dalam QS. Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ…

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Ayat ini menjadi pedoman agung, bukan hanya karena Rasulullah adalah nabi, tetapi juga karena beliau berfungsi sebagai pemimpin umat. Allah menunjukkan cara menyikapi sebuah kekalahan, yakni dengan kelembutan hati, bukan dengan kekasaran. Maka dapat disimpulkan, keberadaan seorang pemimpin berhati lembut adalah anugerah besar bagi sebuah jamaah.

Pemimpin yang kasar—baik melalui ucapan maupun tindakannya—akan dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Bukan hanya pemimpin, setiap orang yang berperangai keras cenderung dijauhi. Karena itu, pemimpin harus memiliki kesabaran. Ada sebuah ungkapan, “Seorang pemimpin yang dikritik tidak mudah merah telinga, dan ketika dipuji tidak besar kepala.”

Dalam ayat tersebut, Rasulullah diperintahkan “fa’fu ‘anhum” (maafkanlah mereka). Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menggunakan diksi meminta maaf, melainkan memaafkan, yang menunjukkan ketinggian akhlak. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi)

Dengan demikian, salah satu akhlak mulia adalah memaafkan orang lain bahkan sebelum ia meminta maaf. Jika ada orang yang mencaci, mengkritik dengan kasar, atau menyinggung perasaan kita, maka sikap terbaik adalah memaafkan. Jangan sampai keluar ungkapan, “Saya tidak akan pernah memaafkan,” sebab hal itu justru bertolak belakang dengan ajaran akhlak Nabi.

Selanjutnya Allah memerintahkan “wastaghfir lahum” (mohonkan ampun bagi mereka). Ini menunjukkan pentingnya tradisi saling mendoakan dalam berjamaah. Pemimpin mendoakan jamaahnya, dan jamaah mendoakan pemimpinnya, terutama pada waktu-waktu mustajab seperti setelah shalat malam. Demikian pula antar-sesama saudara seiman, hendaknya saling mendoakan tanpa diketahui oleh yang didoakan.

Kemudian, Allah menegaskan perintah “wa syawirhum fil amr” (dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu). Syariat berorganisasi dan berjamaah, termasuk bermasyarakat, menuntut adanya musyawarah yang melibatkan pihak-pihak berhak. Di sebuah yayasan misalnya, sekalipun ada pengurus yang kritis atau sering menjengkelkan, ia tetap harus diundang dalam musyawarah, karena haknya tidak boleh diabaikan.

Ustadz Dr. AQM menegaskan bahwa di lingkungan Hidayatullah, syariat musyawarah ini menjadi nikmat besar yang tidak semua orang dapat rasakan. Banyak tokoh dan aktivis pergerakan di luar sana yang berjuang tanpa berada dalam sebuah sistem imamah jamaah, sehingga tidak merasakan keindahan syura.

Sejak amanah kepemimpinan di Hidayatullah diemban oleh Ustadz Abdurrahman Muhammad, dibentuklah Majelis Syura. Hal ini menandakan betapa pentingnya musyawarah dalam urusan perjuangan. Karena itu, jangan pernah menyepelekan satu pasal pun dalam PDO/PO organisasi, sebab setiap pasal lahir dari proses musyawarah panjang, dan keberadaannya adalah wujud dari perintah syura.

Insya Allah, pada Munas kali ini akan ada beberapa perubahan struktur organisasi, sebagai bagian dari dinamika menyesuaikan situasi dan kondisi. Sejak Munas pertama, struktur organisasi Hidayatullah memang selalu mengalami perubahan, namun ada dua hal yang tidak pernah hilang: kepemimpinan (imamah) dan sistem syura. Adapun formatnya bersifat mutaghayyir (fleksibel), tetapi kedua prinsip dasar itu bersifat mutlak.

Sebagai kader, penting untuk kita selalu bersikap optimis terhadap perkembangan lembaga. Kekuatan Hidayatullah terletak pada imamah, jamaah, dan sistem syura. Beliau mengutip ceramah Ustadz Sholeh Usman yang disampaikan malam sebelumnya: “Atas nama jamaah saya siap ditempatkan di mana saja. Meski sekarang saya di DPP, jika ada perintah turun ke wilayah, saya siap menunaikannya.”

Spirit pengabdian seperti inilah yang seharusnya dimiliki setiap kader Hidayatullah. Bukan sebaliknya, justru mengeluarkan pernyataan yang kontraproduktif dengan karakter seorang kader jika tidak diberikan amanah di posisi tertentu. Karena sesungguhnya perjuangan kita adalah untuk memenangkan Islam, dan kemenangan itu hanya bisa diraih dengan imamah dan jamaah.

(Jiho)

“Demi Momentum”: Nostalgia Wakil Bupati Selayar tentang Pertemuan dengan Pendiri Hidayatullah

0

SELAYAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Sebuah momen penuh kenangan terungkap ketika rombongan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan bersilaturahim ke rumah jabatan Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Drs. H. Muhtar, M.M., Ahad (28/9/2025) sore.

Di hadapan jajaran pengurus, Wakil Bupati yang akrab disapa Haji Muhtar itu mengisahkan perjumpaannya puluhan tahun silam dengan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said. Saat itu, beliau masih mahasiswa di IKIP (sekarang UNM) Makassar.

“Beliau datang mengisi kuliah (kajian) tentang surah Al-‘Ashr. Saya masih ingat betul bagaimana beliau menjelaskan dengan cara yang begitu berbeda dari kebanyakan tafsir yang pernah saya dengar,” ujarnya sembari tersenyum.

Menurut Muhtar, biasanya wal-‘ashr dimaknai “demi masa.” Namun, Ustadz Abdullah Said menawarkan perspektif baru: wal-‘ashr bermakna “demi momentum.”

“Kalimat itu begitu melekat dalam ingatan saya. Beliau menyampaikan bahwa setiap momentum adalah kesempatan berharga untuk beramal, berkontribusi, dan memperjuangkan kebaikan. Itulah yang terus saya bawa hingga hari ini,” kenangnya.

Silaturahim sore itu juga menjadi momentum tersendiri. Di ruang tamu rumah jabatan yang sederhana namun hangat, dialog antara Pemda Selayar dan Hidayatullah mengalir dan melahirkan berbagai inspirasi.

“Sebagaimana silaturahim kita hari ini, ini adalah momentum yang menghadirkan banyak inspirasi. Alhamdulillah,” ungkap Muhtar.

Wabup bahkan menantang Hidayatullah untuk memperluas kiprah dakwahnya di Kepulauan Selayar. Ia menyebut masih ada lima kecamatan yang belum hadir pesantren, yakni Bontomatene, Bontosikuyu, Pasilambena, Pasimarannu, dan Takabonerate.

“Kalau kita bersatu, maka kita akan bertambah kuat. Dan kalau kita berkolaborasi, pasti akan ada solusi,” ujarnya penuh semangat.

Kenangan lama, dialog hari ini, serta tantangan masa depan seolah bertemu dalam satu benang merah. Sebuah momentum, sebagaimana tafsir Ustadz Abdullah Said dulu, yang mengingatkan semua pihak akan pentingnya menggunakan setiap kesempatan untuk membangun umat.

Hidayatullah Sulsel Audiensi ke Pemda Selayar, Bahas Kontribusi untuk Pembangunan Daerah

0

SELAYAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Rangkaian kegiatan Quran Camp DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan di Kabupaten Kepulauan Selayar ditandai pula dengan audiensi ke Pemerintah Daerah setempat pada Ahad (28/9/2025).

Rombongan dipimpin oleh Ustadz Massiara, Ketua Badan Pembina Pesantren Hidayatullah Benteng Selayar, dan didampingi sejumlah pengurus DPW. Hadir juga Ketua DPD Hidayatullah Selayar Ustadz Imam Hanif, S.H.I membersamai rombongan.

Audiensi pertama berlangsung ba’da Zhuhur, sekitar pukul 13.00 WITA, dengan Bupati Kepulauan Selayar H. Muhammad Natsir Ali di rumah jabatan beliau.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati menyampaikan visi pembangunan daerah dengan tagline “Bersama Membawa Selayar Maju dan Sejahtera.”

“Bersama maknanya harus banyak tangan terlibat, termasuk tentunya Hidayatullah. Terlibat yang tidak sekadar terlihat, tapi benar-benar dapat memberi kontribusi untuk pembangunan umat di Selayar,” ungkapnya.

Selepas itu, rombongan bergerak menuju rumah jabatan Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Drs. H. Muhtar, M.M., pada sore hari ba’da Ashar, sekitar pukul 17.00 WITA.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati mengaku telah mengenal pendiri Hidayatullah, Ustadz AbdullahSaid rahimahullahu.

“Saya kenal Hidayatullah, saya pernah bertemu pendirinya, Ustadz Abdullah Said, saat saya masih mahasiswa di IKIP (UNM, sekarang),” tutur Wabup.

Ia menilai Hidayatullah sebagai Ormas yang suka tantangan, sebagaimana pendirinya.

“Makanya, saya menantang Hidayatullah untuk lebih konkret hadir di Kepulauan Selayar. Ada lima kecamatan yang belum ada pesantren, yaitu Bontomatene, Bontosikuyu, Pasilambena, Pasimarannu, dan Takabonerate. Kalau kita bersatu maka kita akan bertambah kuat, dan kalau kita berkolaborasi pasti akan ada solusi,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati juga memaparkan dua program prioritas pemerintahannya, yakni optimalisasi sektor perikanan serta penanaman lima juta pohon kelapa untuk memberdayakan masyarakat Selayar.

Menurutnya, Selayar memiliki potensi kelautan yang luar biasa karena menyimpan terumbu karang terbesar ketiga di dunia. Sementara itu, kelapa dinilai sebagai tanaman khas Selayar dengan nilai ekonomi yang terus meningkat.

Selain itu, Wabup juga menaruh minat pada program Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sultanbatara yang dikelola Pos Dai Hidayatullah Sulsel bersama Departemen Dakwah DPW. Ia bahkan siap memfasilitasi putra-putra daerah untuk ikut serta dalam program tersebut.

“Saya berharap segera ada tindak lanjut agar pemuda-pemuda Selayar dapat mengambil bagian dalam program ini,” ujarnya.

Rombongan Hidayatullah Sulsel menyambut baik respon positif tersebut dan berkomitmen menindaklanjuti peluang kerjasama, khususnya dalam bidang dakwah dan pemberdayaan umat di Kepulauan Selayar.

Reporter : Adi
Editor : Cakdul

DPW Hidayatullah Sulsel Gelar Quran Camp di Selayar

0
Suasana Rapat Pleno di Ruang Meeting Kantor Balai Taman Nasional Takabonerate

SELAYAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan kembali menggelar kegiatan Quran Camp pada Sabtu–Ahad (27–28/9/2025).

Acara yang dipusatkan di Qaryatan Mubarakah Campground, Kompleks Pesantren Hidayatullah Benteng, Selayar, Sulsel ini mengusung tema “Learning the Quran, Living the Quran”. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh jajaran pengurus DPW serta Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel.

Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz H. Muhammad Nashrullah Alwi, Lc., M.M., menjelaskan bahwa agenda utama Quran Camp ini adalah Daurah Tahsin Al-Qur’an. Forum tersebut menjadi sarana evaluasi sekaligus standarisasi bacaan Al-Qur’an bagi pengurus wilayah.

“Kegiatan ini rutin kita lakukan tiga sampai empat kali dalam setahun. Formatnya dipadukan dengan rapat pleno dan ditempatkan di berbagai kampus Hidayatullah. Sebelumnya telah berlangsung di Makassar, Maros, Pangkep, Gowa, Takalar, dan Jeneponto, dan kali ini di Selayar,” jelasnya.

Suasana Halaqah Tahsin Pengurus DPW-DMW Hidayatullah Sulsel

Selain Daurah Tahsin, sejumlah agenda lain turut memeriahkan rangkaian kegiatan yang berlangsung di Puncak Tanadoang tersebut. Di antaranya rapat pleno di Balai Taman Nasional Takabonerate, kunjungan kerja ke Pengurus DPD Hidayatullah Selayar, serta audiensi dengan Bupati dan Wakil Bupati Selayar di rumah jabatan masing-masing.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel menegaskan, pemilihan lokasi di kampus atau pondok Hidayatullah bukan tanpa alasan.

“Kita ingin rangkaian kegiatan ini juga diwarnai dengan kunjungan kerja, silaturahim, dakwah fardiyah, hingga audiensi dengan pemerintah daerah. Dengan berkunjung langsung, kita bisa berbagi spirit dengan pengurus daerah, mendengar aspirasi mereka, sekaligus memberikan arahan teknis terkait tata kelola amal usaha serta optimalisasi dakwah dan tarbiyah di daerah,” paparnya.

Menanggapi hal itu, Ketua DPD Hidayatullah Selayar, Ustadz Imam Hanif, S.H.I., mengaku sangat bahagia daerahnya dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan Quran Camp DPW Hidayatullah Sulsel kali ini.

“Ini sebuah kebahagiaan dan kehormatan besar bagi kami. Kami berusaha memberikan pelayanan terbaik meskipun sederhana. Semoga apa yang kami suguhkan tidak mengurangi nilai dan keberkahan dari kegiatan mulia ini,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar momentum ini dapat menambah semangat dakwah dan tarbiyah pengurus Hidayatullah di Selayar, sekaligus mempererat ikatan ukhuwah dengan pengurus wilayah.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel sendiri menyebut rapat pleno kali ini terasa istimewa karena untuk pertama kalinya dapat memanfaatkan fasilitas Meeting Room Balai Taman Nasional Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Ia juga menyebut rapat pleno kali ini terasa istimewa karena untuk pertama kalinya dapat memanfaatkan fasilitas Meeting Room Balai Taman Nasional Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Sementara itu, anggota DMW, Ustaz Ismail Mukhtar, mengaku sangat terbantu dengan forum perbaikan bacaan Al-Qur’an ini.

“Sangat berharga sekali. Walaupun usia saya sudah tidak muda lagi, saya sama sekali tidak merasa malu mengikuti kegiatan ini. Apalagi perbaikan bacaan Qur’an adalah hal yang senantiasa diingatkan sejak lama oleh BPU,” tuturnya.

Melalui Quran Camp ini, diharapkan kualitas bacaan Al-Qur’an para pengurus semakin baik, sekaligus memperkuat ukhuwah, koordinasi, dan konsolidasi dakwah di wilayah Sulawesi Selatan.

Reporter : Adi Basayev
Editor : Abdul

Menelisik Wajah  Gerakan Dalam Dua Cermin: Statistik Behavioral dan Behavior Sistem

0

Oleh: Irfan Yahya*

SESI ngopi pagi Ahad ini, duduk di tepi kolam rumah sambil menyimak video singkat sang “menteri koboy” Pak Purbaya, menghadirkan momen reflektif. Ketika ditanya wartawan tentang optimisme terhadap sistem perekonomian, ia menjawab dengan gaya khasnya, blak-blakan dan to the point . Ia menyebut bahwa respon, perilaku, dan sikap terhadap sistem perubahan dapat dibaca melalui dua kerangka analisis: statistik behavioral dan behavior sistem. Dari sanalah, ia menjelaskan bagaimana rekayasa sosial dan ekonomi dapat diarahkan untuk mencapai target tertentu. Potongan video itu nampak biasa saja, tetapi bagi penulis justru ini membuka ruang reflektif yang lebih luas: mungkinkah wajah sebuah gerakan sosial—termasuk gerakan dakwah dan tarbiyah—dapat ditelisik melalui dua cermin analitis tersebut?

Mengajukan pertanyaan ini penting karena gerakan sosial keagamaan kerap menghadapi dilema epistemologis. Di satu sisi, ia harus berpijak pada nilai-nilai transendental yang menjadi ruh perjuangan. Di sisi lain, ia dituntut untuk menghadirkan tata kelola yang profesional, terukur, dan adaptif terhadap zaman. Tanpa pijakan nilai, gerakan akan kehilangan identitasnya; tanpa tata kelola, gerakan akan kehilangan efektivitasnya. Di sinilah dua cermin analisis—statistik behavioral dan behavior sistem—menawarkan perspektif yang saling melengkapi.

Pendekatan statistik behavioral berangkat dari asumsi bahwa perilaku manusia dapat dipetakan secara kuantitatif. Pendekatakan ini menyoroti sejauh mana kader disiplin menjalankan GNH, sejauh mana keseriusan terlibat dalam kegiatan halaqah, seberapa sering jamaah berpartisipasi dalam program sosial, atau sejauh mana efektivitas pendidikan berbasis pondok terlihat dalam capaian nyata. Data ini tentu akan tersuguh apa adanya, tetapi justru itulah yang menjadikannya penting: ia menghadirkan cermin obyektif yang tidak bisa ditutupi oleh retorika. Misalnya, jika partisipasi kader menurun, maka realitas itu harus diakui, bukan disembunyikan di balik klaim keberhasilan.

Namun, statistik hanya memberi tahu apa yang terjadi, bukan mengapa hal itu terjadi, dan apalagi bagaimana memperbaikinya. Di sinilah behavior sistem mengambil peran. Pendekatan ini melihat perilaku manusia tidak sebagai fakta terpisah, melainkan sebagai hasil interaksi dalam suatu sistem. Struktur organisasi, kultur kelembagaan, pola kepemimpinan, dan tata kelola sumber daya insani semuanya berkontribusi dalam membentuk perilaku kader. Dengan kata lain, rendahnya partisipasi kader bukan semata kesalahan individu, melainkan juga cerminan dari desain sistem yang mungkin tidak memberi ruang partisipasi yang relevan atau bermakna.

Perpaduan kedua cermin ini membuka ruang analisis yang lebih utuh. Statistik behavioral menyediakan peta lapangan yang faktual, sementara behavior sistem menawarkan kerangka desain untuk merumuskan solusi. Tanpa statistik, sistem hanya bergerak dalam ruang ide tanpa pijakan realitas. Tanpa sistem, statistik hanya menjadi tumpukan angka tanpa arah. Dengan memadukan keduanya, sebuah gerakan dapat membaca dirinya secara jernih sekaligus merancang langkah-langkah perbaikan yang berkelanjutan.

Relevansi pendekatan ini semakin tampak ketika gerakan memasuki era transisi generasi. Generasi Z, yang kini mulai mengisi gelanggang dakwah, tumbuh dalam ekosistem digital dengan logika interaksi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Statistik dapat merekam pola partisipasi mereka—berapa banyak yang hadir di kegiatan offline, berapa banyak yang aktif di kanal dakwah digital, atau seberapa besar keterlibatan mereka dalam program sosial. Namun sistemlah yang dapat menjawab pertanyaan kritis: apakah pola kaderisasi sudah kompatibel dengan karakter mereka? Apakah tata kelola organisasi menyediakan ruang bagi ekspresi digital dan kreativitas mereka? Apakah manhaj mampu diterjemahkan dalam bahasa yang sesuai dengan habitus generasi ini tanpa kehilangan substansi?

Clue tsawabit dan mutagayyirat yang mengemuka saat sosialisasi Badan Pekrja Munas bulan di Makassar menjadi relevan. Statistik membantu mendeteksi celah partisipasi atau kelemahan dalam internalisasi nilai, sementara sistem membantu membedakan mana aspek yang bersifat prinsipil (tsawabit) dan mana yang bisa diubah (mutagayyirat). Misalnya, sistem halaqah adalah tsawabit karena ia berfungsi sebagai instrumen tarbiyah ruhiyah. Tetapi metode penyampaiannya—apakah dengan tatap muka, daring, atau hybrid—adalah mutagayyirat yang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi zaman. Statistik memberi tahu apakah halaqah berjalan efektif, sistem membantu merancang ulang formatnya agar relevan. Dengan begitu, kritik tidak berhenti pada gejala, melainkan diarahkan pada solusi yang konstruktif.

Lebih jauh, integrasi dua cermin ini menjaga keseimbangan antara orientasi profetik dan profesional. Orientasi profetik memastikan bahwa statistik dan sistem tidak kehilangan arah nilai: semua perhitungan dan desain dimaksudkan untuk meneguhkan iman, akhlak, dan misi dakwah. Sementara itu, profesionalisme memastikan bahwa orientasi profetik tidak berhenti sebagai jargon moral, melainkan diwujudkan dalam tata kelola yang terukur, adaptif, dan efektif. Tanpa profesionalisme, orientasi profetik berisiko menjadi retorika yang tidak pernah mengakar. Sebaliknya, tanpa orientasi profetik, profesionalisme dapat tergelincir menjadi teknokratisme pragmatis yang kehilangan ruh perjuangan.

Pendekatan ganda ini juga mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam nostalgia romantis terhadap masa lalu ataupun tergoda pada euforia modernitas yang serba cepat. Gerakan yang sehat adalah gerakan yang mampu membaca realitas dengan jujur, tetapi juga berani mendesain masa depan dengan visi. Ia tidak sekadar menjadi pengikut arus sejarah, melainkan pengendali arus yang menyalurkan energi sosial menuju tujuan peradaban. Dengan kata lain, statistik memberi kesadaran faktual, sistem memberi kesadaran strategis. Keduanya adalah syarat bagi transformasi yang berkelanjutan.

Maka tantangan kita adalah memastikan bahwa para pelaku—kader, aktivis, murabbi, dan jamaah—benar-benar mengalami transformasi, bukan hanya mengulang pola lama. Statistik behavioral memberi kita peta tentang apa yang sudah berjalan, behavior sistem memberi kita desain untuk perubahan. Jika keduanya dijalankan dengan sadar, gerakan ini akan tetap on the track: teguh pada nilai, adaptif pada zaman, dan selalu relevan dalam misi membangun peradaban. Wallahualam.

*Dr. Irfan Yahya, Sosiolog, Aktivis Hidayatullah