Beranda blog Halaman 19

Spirit Wahyu: Nilai yang Tak Terukur

0

“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”

(Surat Al-A’raf : 96)

Ini tulisan lanjutan. Edisi ketiga. Ada satu kata yang sering kita dengar, namun tak selalu kita pahami sepenuhnya: barakah.

Sebuah kata yang singkat diucap, namun luas maknanya. Dalam bahasa manusia, barakah sulit dijelaskan; tapi dalam bahasa hati, ia mudah sekali dirasakan.

Sering kali manusia sibuk mengejar banyak, padahal yang kita butuh adalah berkah.

Harta bisa menumpuk, tapi tanpa barakah, ia cepat habis. Habisnya bukan karena dibelanjakan, melainkan karena hilangnya rasa cukup. Sebaliknya, rezeki yang sedikit tapi penuh barakah terasa lapang dan menenangkan.

Bagi para pejuang di Hidayatullah, kita tidak dibekali harta yang banyak. Bahkan semakin tinggi posisi jabatannya, bisa jadi, gajinya semakin sedikit.

Natura yang tidak cukup 2 juta, tidak sesuai UMR, kadang tidak rasional dengan apa yang mau dibiayai.

Seorang guru honorer, gajinya tidak sampai 1 juta. Tapi kemudian hidupnya terasa sejahtera.

Istilah dari Pak Aji Firman, seorang kawan, pakar media, yang gabung berHidayatullah menilai, guru-guru di Hidayatullah sedikit gajinya, tapi asetnya bertambah. Mungkin karena ada nilai berkah disitu.

Saya teringat satu masa di pesantren Hidayatullah dulu. Ketika masih bersstatus santri. Kami hidup sederhana, makan sepotong ikan asin, satu ekor dibagi empat, sayur kangkung dengan selembar daun. Tapi entah mengapa, terasa begitu nikmat.

Bahkan, ada senyum, ada tawa, ada doa yang hangat di setiap suapan. Menruut saya, itulah barakah. Ketika rasa cukup tumbuh dari hati yang ridha.

Dalam perspektif ekonomi syariah, barakah bukan tambahan kuantitas, melainkan keberlanjutan manfaat. Ia hadir ketika harta halal diperoleh dengan cara yang halal, lalu digunakan untuk hal yang baik.

Seorang pedagang yang jujur, meski labanya kecil, sedang menanam nilai langit dalam setiap transaksi. Sebab dalam ekonomi wahyu, angka bukan satu-satunya ukuran; yang lebih penting adalah keberkahan dalam perputaran rezeki.

Barakah juga lahir dari niat yang lurus. Jika bekerja semata untuk dunia, kita hanya akan mendapat dunia. Tapi bila bekerja karena Allah, dunia pun datang bersama ketenangan.

Inilah mengapa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bekerja dengan baik (ihsan).” (HR. Thabrani)

Bekerja dengan ihsan berarti menghadirkan Allah dalam setiap langkah. Mulai dari menakar harga, melayani pelanggan, hingga menutup pembukuan. Karena di balik setiap angka, ada nilai yang ditulis oleh malaikat, bukan hanya yang tercatat di pembukuan keuangan kita.

Maka, bila suatu hari hasil usahamu terasa kecil, jangan dulu gelisah. Mungkin bukan laba yang berkurang, tapi barakah yang sedang Allah didik untuk tumbuh lewat sabar dan syukur.

Barakah itu seperti udara. Tak tampak, tapi menghidupi. Ia ada di doa seorang ibu, di suapan makanan yang halal, di tangan yang jujur, dan di hati yang selalu bersyukur.

Makassar, 16 November 2025

*Sarmadani Karani, Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Spirit Wahyu: Ketika Syukur Menjadi Modal

0

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

QS. Ibrahim : 7

Dari sekian banyak kunci sukses, syukur adalah kunci utama. Ukuran besar kecilnya dunia seseorang, sering kali ditentukan oleh seberapa besar rasa syukurnya.

Materi berupa harta, kekayaan, uang, sejatinya bersifat relatif. Dalam perjuangan, kadang gaji terasa pas-pasan. Dua juta rupiah untuk sembilan anak dan seorang istri, secara hitungan matematis tentu tidak cukup.

Coba kita hitung: biaya konsumsi, listrik, pendidikan, kebutuhan harian yang tak terduga. Secara rasional, semua itu melampaui angka dua juta. Namun dengan modal syukur, semua menjadi cukup.

Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja, kita sering sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, dan lupa menghargai apa yang telah Allah beri. Kita menilai kesuksesan dari angka-angka: penghasilan, aset, atau jabatan. Padahal, dalam pandangan wahyu, syukur adalah modal utama. Bukan hanya dalam ibadah, tapi juga dalam ekonomi.

Dalam ekonomi syariah, modal tidak selalu berbentuk uang, tapi juga nilai spiritual yang menggerakkan hati untuk berbuat baik. Syukur adalah salah satunya. Ia menenangkan pikiran, menumbuhkan semangat, dan memperluas keberkahan.

Seorang pekerja yang bersyukur akan lebih produktif; seorang pedagang yang bersyukur akan lebih jujur; dan seorang pemimpin yang bersyukur akan lebih adil.

Syukur bukanlah keadaan setelah sukses, tapi kunci untuk sampai pada kesuksesan itu sendiri.

Kadang Allah menunda nikmat bukan untuk menyiksa, tapi untuk melatih kita menghargai yang sudah ada. Ia ingin kita sadar bahwa nikmat terbesar bukan tambahan harta, tapi ketenangan jiwa yang membuat kita tetap tegar meski sedikit.

Saya teringat masa awal menikah, tahun 2003, ketika rezeki terasa sempit. Kala itu hidup pas-pasan. Gaji tidak menentu. Saya bekerja freelance di Sahid, dengan penghasilan tergantung tulisan. Rumah masih kontrakan, tempat tidur belum ada, kulkas dan mesin cuci apalagi.

Rumus hidup saat itu sederhana: yang penting bisa bertahan.

Rasanya saya sering gelisah, merasa kurang, merasa tertinggal. Tapi setiap kali menengok ke bawah, melihat mereka yang masih tersenyum meski hidupnya jauh lebih sulit, hati saya menjadi tenang. Rupanya, kekayaan sejati tidak diukur dari kepemilikan, melainkan dari rasa cukup yang tumbuh dari syukur.

Dalam logika ekonomi ilahi, syukur adalah investasi yang selalu untung.

Allah menjanjikan, siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Sebaliknya, siapa yang mengingkari, akan kehilangan keberkahan, meski hartanya berlimpah. Tak heran, barakah lebih sering turun kepada hati yang lapang daripada dompet yang penuh.

Bersyukur bukan sekadar mengucap “Alhamdulillah”, tapi juga berbuat kebaikan sebagai wujud terima kasih kepada Pemberi Nikmat.
Orang yang bersyukur akan menebar manfaat, karena ia tahu: setiap pemberian Allah adalah titipan untuk dibagikan.

*Sarmadani Karani, S.E. adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

Hidayatullah Toraja Utara Aktif Bangun Kerukunan dan Soliditas Umat Lewat Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama

0

Toraja Utara (HidayatullahSulsel.or.id) — Hidayatullah kembali menunjukkan komitmennya dalam pembangunan keummatan dan penguatan ukhuwah di daerah minoritas Muslim Toraja Utara.

Hal ini tampak melalui keikutsertaan DPD Hidayatullah Toraja Utara dalam kegiatan Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama Tingkat Kabupaten Toraja Utara yang digelar oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Toraja Utara, Kamis (13/11/2025), bertempat di Kantor Urusan Agama (KUA) Rantepao.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.30 WITA hingga menjelang waktu Zuhur ini dihadiri sekitar 30 peserta yang terdiri dari perwakilan ormas Islam se-Toraja Utara, para kepala KUA, penghulu agama Islam, para kasi di lingkungan Kemenag, perwakilan masjid se-Toraja Utara, serta sejumlah tokoh agama Islam setempat.

Hidayatullah Toraja Utara diwakili oleh Ustadz Iksan Saleh, S.Pd.I, yang turut aktif dalam diskusi dan sesi penyampaian gagasan. Keterlibatan ini menjadi bukti nyata kontribusi Hidayatullah dalam memperkuat jejaring keummatan, terutama di wilayah dengan populasi Muslim minoritas.

Acara dibuka oleh Kasi Bimas Islam Kemenag Toraja Utara, Ustadz Musyawwir, Lc., dan menghadirkan Kepala Kantor Kemenag Toraja Utara, Pretty Lamban Gasong, M.Th., M.Adm., SDA sebagai pembicara utama.

Dalam arahannya, Pretty menekankan pentingnya membangun komunikasi dan sinergi di antara sesama umat Islam untuk memperkuat persaudaraan internal.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap lahir pemahaman agama yang lebih luas dan utuh, khususnya di kalangan umat Islam sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perlunya membangun jejaring antarmasjid sebagai bentuk penguatan ukhuwah dan kerja sama sosial-keagamaan.

“Torut memiliki 28 masjid dan mushalla. Coba kita lihat, apakah Masjid To’ Karau mengenal jamaah Masjid Rantepao? Pernahkah kita mengadakan silaturahmi antar masjid? Kalau sudah saling mengenal, apapun bisa dikerjakan bersama. Kalau solid, tidak ada yang sulit,” tegasnya.

Prety juga mendorong agar ormas dan takmir masjid menginisiasi kegiatan sosial bersama seperti kerja bakti antar masjid, sunatan massal, hingga lomba antar masjid sebagai bentuk penguatan ukhuwah dan dakwah sosial.

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi ormas dan tokoh Islam di Toraja Utara untuk mempererat hubungan internal umat, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dan toleran yang selama ini telah terjalin baik.

Kehadiran Hidayatullah dalam forum tersebut menegaskan peran aktifnya dalam membangun komunikasi lintas kelembagaan Islam dan mendukung upaya Kemenag dalam menjaga kerukunan serta memperkuat posisi umat Islam di daerah minoritas.

“Kami di Hidayatullah memandang dialog seperti ini sangat strategis untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah, sekaligus membangun sinergi dakwah dan sosial antar elemen umat,” ujar Ustadz Iksan usai kegiatan.

Dengan partisipasi aktif dalam forum lintas ormas seperti ini, Hidayatullah Toraja Utara terus berkontribusi dalam menghadirkan wajah Islam yang sejuk, konstruktif, dan solutif di tengah masyarakat plural Toraja Utara.

Reporter: Saad
Editor: Cakdul

Spirit Wahyu: Rezeki Tak Pernah Salah Alamat

0

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”

(QS. Hud: 6)

Persoalan terbesar yang sering dihadapi para pejuang agama bukanlah kurangnya semangat, melainkan persoalan ekonomi, atau lebih tepatnya, soal rezeki.

Saya sendiri telah merasakan getir-manisnya hal itu. Dalam perjalanan hidup di Hidayatullah, saya pernah menjadi guru ngaji, penjual gorengan dan es teh di pondok, wartawan, hingga kini menekuni usaha telur asin. Semua itu bagian dari ikhtiar mencari rezeki, sambil menjaga niat agar tetap lurus di jalan dakwah.

Banyak di antara kita yang mungkin merasa tak sanggup melanjutkan perjuangan, karena rezekinya terasa sedikit. Ada masa ketika proposal tak kunjung diterima, usaha tersendat, atau gaji terasa tak cukup. Kita mulai bertanya dalam hati, “Mengapa rezeki seolah menjauh?” Kadang bahkan terlintas prasangka, “Apakah Allah tidak menyukai kita?”

Namun, wahyu menenangkan dengan lembut: rezeki tak pernah tersesat. Ia tahu ke mana harus datang, kapan harus tiba, dan dalam bentuk apa ia diberikan. Sebab rezeki bukan sekadar angka dalam rekening, melainkan juga ketenangan di dada, keberkahan di rumah, dan kesehatan yang menjaga langkah.

Dalam pandangan ekonomi syariah, rezeki adalah harmoni antara ikhtiar manusia dan ketetapan Ilahi. Kita diperintahkan bekerja keras dan menegakkan keadilan, namun hasil akhirnya tetap hak Allah. Ia tidak menilai dari besar kecilnya laba, tapi dari sucinya jalan dan niat.

Karena itu, orang yang bekerja dengan kejujuran sedang bertransaksi dengan barakah. Keuntungannya tak selalu terlihat, tapi selalu terasa.

Kadang rezeki datang lewat jalan yang tak kita sangka. Bukan dari bisnis besar, tapi dari sedekah kecil yang membuka pintu-pintu langit. Bukan dari proyek megah, tapi dari doa tulus seorang ibu.

Maka jangan menakar rezeki dengan logika dunia semata, karena ada logika langit yang bekerja di balik setiap angka.

Bagi seorang mukmin, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan menjalankan amanah. Setiap rupiah yang halal adalah bagian dari ibadah, dan setiap usaha yang jujur adalah bentuk sujud di dunia kerja.

Bulcen, 13 November 2025

Warisan Ustadz Abdullah Said dan Tantangan Rejuvinasi Hidayatullah

0
Oleh: Abdul Aziz Qahhar M.*

Pada Grand Design Hidayatullah yang dibuat pada 2023, dinyatakan bahwa dalam rentang waktu sepuluh tahun kedepan merupakan masa transisi yang sangat penting dan starategis, bahkan “kritis” bagi Hidayatulllah. Pandangan ini dibangun dengan asumsi para kader yang dididik langsung oleh pendiri Hidayatullah, Ust. Abdullah Said (UAS) akan berakhir perannya dalam durasi waktu ini: karena wafat, udzur syar’i, atau karena kurang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Dalam kaitan ini, sebagai seorang kader yang masih dididik lanngsung oleh UAS, melalui tuliisan ini penulis ingin menyampaikan kesaksian dan pandangan tentang Hiidayatullah, terutama terkait warisan (legacy) UAS dan dinamika pemikiran dan kelembagaan sepeninggal beliau.

Alkisah, UAS meninggalkan Sulawesi menuju Balikpapan setelah memimpin penggajangan judi Lotto di Makassar pada 1969. Menetap dan mulai berdakwah di Baliikpapan, UAS merasa perlu menambah ilmu untuk bekal dakwah yang lebih baik. Ketika itu pengajian dan kajian-kajian Islam sudah mulai rutin di lakukan UAS di Balikpapan. Dengan berat hati UAS pamit meninggalkan Balikpapan menuju Jakarta untuk selanjutnya akan belajar ke Timur Tengah. Melalui DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) UAS dinyatakan diterima untuk belajar di Kuwait. Ia lalu mengurus berbagai kelengkapan surat administrasi untuk keberangkatan.

Tapi rencana itu tiba-tiba batal karena UAS mengalami pergolakan batin setelah bertemu dengan seorang sepuh di Masjid DDII Jakarta. Sepotong kalimat yang menggoncangkan keluar dari lisan orang tua, yang ternyata tak pernah dia kenal identitasnya hingga akhir hayat. Orang tua itu bertanya, “apakah al-Qur’an yang dipelajari di Kuwait berbeda dengan al-Qur’an yang ada di Indonesia?” UAS sangat tergugah dengan kalimat tersebut. Beberapa hari ia merenungkannya dan kemudian memutuskan batal berangkat ke Kuwait. Ia memilih balik berdakwah ke Kaltim.

Sebelum ke Kaltim, UAS berangkat ke Yogyakarta. Ia ingin menemui sahabatnya dari Makassar, ust. Usman Palese, yang sedang kuliah di Akademi Tarjih Muhammadiyah. Di Yogya ternyata UAS bertemu dengan beberapa orang mahasiswa Tarjih Muhammdiyah. Beliau mengajak, berusaha meyakinkan mereka untuk berdakwah dan berjuang di Kaltim. Ada empat orang mahasiswa Tarjih yang akhirnya siap berangkat ke Kaltim. Mereka adalah ust. Usman Palese, ust Hasyim, Ust. Hasan Ibrahim dan Ust. Nadzir. Bersama UAS, mereka inilah yang kemudian tercatat sebagai pendiri Hidayatullah, yang resmi berdiri pada 1973.

UAS adalah penggagas, pendiri, pemimpin dan tokoh sentral Hidayatullah hingga akhir hayat beliau. Karena itu untuk mengenal Hidayatullah maka mutlak harus memahami pemikiran UAS. Tulisan ini mencoba memahami dan menjelaskan konsep atau “pemikiran Islam” UAS terkait keberadaan Hidayatullah.

Ada tiga “tajdid pemiikiran Islam” UAS dalam mendirikan dan mengembangkan Hidayatullah: Manhaj Sistimatika Wahyu, kemimpinan Imamah-Jama’ah dan Harokah Islamiyah. Selain itu ada pula konsep dan praksis yaitu Kampus Pesantren sebagai miniatur peradaban Islam. Keempat hal inilah yang merupakan warisan (legacy) konsep dan praksis dari UAS.

Sistematika Wahyu

Berdasarkan keterangan dari beberapa orang santri awal Hidayatullah, pada masa awal berdirinya pesantren pada 1973, manhaj Sistemaika Wahyu (SW) belum dikenal. Inspirasi lahirnya SW sebagai manhaj “ditemukan” UAS sekitar dua tahun kemudian, terutama setelah UAS membaca kitab tafsir Sinar karya Buya Abdul Malik Ahmad, mantan ketua PP Muhammadiyah. Kitab tafsir ini diisusun berdasarkan urutan surah turunnya wahyu, dimulai dari Surah al-Alaq ayat 1 sd 5, dst .

Setelah menemukan manhaj SW, UAS semakin yakin dengan jalan perjuangan yang ia tempuh. Begitu yakinnya dengan manhaj SW, UAS bahkan kemudian membuat pernyataan “kalau bukan karena SW, Hidayatullah tidak perlu ada”. Menurut kesaksian para santri awal, sebelum menemukan manhaj SW, UAS sangat terpesona mengkaji QS 62:2. “Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakn kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskiipun sebeluumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

Pada masa awal berdirinya pesantren, UAS sangat sering membahas dan menceramahkan ayat tersebut. Beliau sangat tertarik dengan sistematika istilah pada ayat ini. Bagi UAS ayat ini adalah metode pendidikan, atau cara dan tahapan untuk berislam. Tahapan pada ayat ini adalah tilawah, taazkiyaah, ta’lim, dan hikmah. Yang paling beliau tekankan adalah penyebutan terma tazkiyah yang mendahului terma ta’lim. Beliau kemudian menjadikan itu sebagai konsep atau metode pendidikan dan dibuatkan format praksis untuk “training perkaderan” bagi semua santri dan kader Hidayatullah. Ketika belakangan hari UAS menemukan SW sebagai manhaj, pembahasan tentang ayat ini, terutama terkait tazkiyah masih terus dilakukan, bahkan dianggap sangat relevan dengan manhaj SW, terutama Surah al-Alaq.

Manhaj SW pada intinya menegaskkan bahwa urutan turunnya wahyu al-Qur’an, demikian pula turunnya secara bertahap bukanlah hal yang kebetulan. Tapi hal itu merupakan “metode” dari Allah untuk mengajarkan dan mengamalkan al-Qur’an kepada Rasulullah dan sahabat. Jadi manhaj SW pada dasarnya menyatakan bahwa kebenaran al-Qur’an bukan hanya benar pada substansinya, tapi juga benar pada cara turunnya. Manhaj SW mengandung pelajaran yang menekankan bagaimana cara memahami, mengamalkan dan memperjuangkan Islam.

Kepemimpinan Imamah-Jama’ah

Jatidiri kedua Hidayatullah adalah kepemimpinan yang oleh UAS disebut Imamah-Jama’ah. Maksudnya berjama’ah dan berimamah. Artinya Hidayatullah adalah suatu organisasi yang menganut konsep berjama’ah dan berkepemimpinan sesuai tuntunan al-Qur’an dan Sunnah.

Bagi UAS konsep dan penerapan hidup berjama’ah dan berkepemimpinan sangat erat kaitannya, atau bahkan tidak dapat dipisahkan dengan manhaj SW. Betapa tidak! Manhaj SW adalah manhaj yang pada dasarnya berusaha “menirukan” semua cara melaksanakan ajaran Islam pada masa Rasuulullah. Nah, salah satu konsep dan praktek ajaran Islam pada masa Rasulullah adalah menegakkan sistem kepemimpiinan.

Secara lebih khusus UAS menyebutnya sebagai kepemimpinan dengan sistem komando. Struktur kepemimpinan sangat jelas dan tegas: taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah dan kepada ulil amri atau pemimpin. Dalam pandangan UAS model kepemimpinan ini tidak hanya diterapkan dalam kerangka konstitusional organisatoris, tapi juga dipraktekkan dalam kehidupan keseharian. Konsep sam’an wa tha’atan harus mewujud dalam keseharian kehidupan berjama’ah.

Sebagai seorang pemimpin tunggal, dengan kharisma yang sangat kuat, kepemimpiinan imamah-jama’ah di tangan UAS sungguh merupakan kekuatan atau sumber energi yang sangat besar untuk eksis dan berkembangnya Hidayatullah. Para kader penuh semangat dan militansi, “menjual diri atau lebur total” dalam perjuangan islam di Hidayatullah, selain karena dorongan kuatnya keyakinan pada ajaran Islam, juga karena pengaruh kuatnya kepemmpinan imamah—jama’ah dibawah kepemiimpinan UAS. Para kader sangat mudah diatur, dikomando, atau mutasi penugasan kemanapun dan kapan pun. Inilah yang menjadi kekuatan sehingga jaringan lembaga dan pesantren Hidayatullah bisa eksis di seluruh Nusantara.

Harokah Islamiyah

Hal ketiga yang menjadi prinsip dan jatidiri Hidayatullah adalah sebagai lembaga perjuangan Islam (harokah Islamiyah). Dengan melihat latar belakang pendidikan, orientasi dakwah dan pengalaman organisasi UAS, dapat diduga bahwa motivasi utama pendirian Hidayatullah adalah sebagai lembaga perjuangan Islam. Setidaknya ada dua alasan yang menguatkan hal ini. Pertama, UAS tumbuh sebagai aktifis gerakan Islam di PII (Pelajar Islam Indonesia) dan Pemuda Muhammadiyah yang ketika itu sangat kental perjuangan ideologi di bawah bayang-bayang perjuangan Partai Masyumi. Di usia remaja dan pemuda UAS hidup dalam suasana politik pertarungan ideologis yang sangat keras pada masa Orde Lama dan di awal Orde Baru. Sepak terjang UAS terakhir dengan memimpin pengganyangan judi Lotto di Makassar sebelum hijrah ke Balikpapan menunjukkan betapa besar gejolak perjuangan Islam pada diri beliau.

Kedua, Hidayatullah lahir dan eksis bukan karena adanya dorongan ajaran “identitas keagamaan” tertentu. Hal itu berbeda dengan lembaga atau ormas Islam lain yang hadir karena dorongan ajaran atau identiitas yang diajarkan. Muhammadiyah lahir dengan gerakan tajdid dan pemurnian (furifikasi) ajaran agama yaitu anti tahayul, bid’ah dan churafat (TBC). Sebaliknya NU lahir untuk mempertahannkan dan melanggenngkan ajaran Islam Tradisional. Adanya identitas ajaran juga mendasari lahir dan eksisnya berbagai lembaga atau ormas Islam yang lain seperti PERSIS, Al-Irsyad, Al-Wasliah, Al-Khairat, dsb., semua memiliki iidentitas ajaran.

Sejak awal Hidayatullah tidak mengalamatkan atau menegaskan diri dengan identitas ajaran ataupun mazhab tertentu, sebagaimana lazimnya pendirian lembaga atau ormas Islam. Walaupun karena latar belakang UAS dan para pendiri Hidayatullah lainnya dari Muhammadiyah maka fiqih ibadah Hidayatullah sama atau mirip dengan Muhammadiyah. Hal ini menunjukkan bahwa faktor utama yang mendorong lahirnya Hidayatullah sebagai lembaga atau ormas Islam bukanlah karena penegasan identitas ajaran, tapi lebih menekankan kepada kepentingan perjuangan Islam (harokah Islamiyah).

Perjuangan Islam (harokah Islamiyah) dalam hal ini meliputi tarbiyah, dakwah dan jihad. Tarbiyah dan taklim adalah syarat mutlak untuk berkembangnya pengetahuan dan pemahaman ajaran Islam. Pada sisi lain, Islam adalah agama dakwah. Artinya, sebagai agama yang diturunkan untuk semua manusia (kaffatan linnas) dan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), maka mutlak diilakukan gerakan dakwah. Sedangkan jihad atau bersungguh-sungguh dalam perjuangan Islam merupakan keniscayaan untuk eksisnya tarbiyah dan dakwah. Perpaduan ketiga pilar inilah yang menjadi komitmen eksistensi Hidayatullah.

Kehadiran Hidayatullah dengan wujud utama sebagai pesantren menunjukkan betapa besarnya komitmen terhadap pendidikan atau tarbiyah untuk ummat. Namun demikian karena Hidayatullah lahir bukan hanya untuk gerakan tarbiah tapi juga untuk dakwah, maka mendirikan dan mengembangkan pesantren tidak hanya fokus di tempat tertentu, melainkan dikembangkan di seluruh wilayah Nusantara. Pengiriman kader da’i militan untuk mendirikan dan mengasuh pesantren, serta mengembangan dawah di berbagai pelosok negeri merupakan suatu ciri yang sangat menonjol dari Hidayatullah.

Miilitansi ini tumbuh karena sejak awal berdirinya Hidayatullah, UAS mendeklarasikan telah “menjual diri” di jalan Allah. Beliau mengambil spirit dari ayat al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (QS 9:111). Hal itu beliau tunjukkan dengan “lebur total” dalam perjuangan Islam, dimana seluruh waktu, harta dan jiwa telah ia wakafkan di jalan Allah. Sikap demikian kemudian juga diikutii oleh semua kader Hidayatullah didikan UAS.

Kampus Pesantren

Selain ketiga warisan pemkiran diatas, ada juga warisan UAS yang merupakan praksis. Salah satu hal mendasar dalam pemikiran UAS bahwa ajaran Islam yang meliputi iman, ilmu dan amal harus benar-benar terintegrasi. Berislam tidak boleh hanya sibuk dengan ilmu tanpa pengamalan. Jangan sampai Islam hanya menjadi wacana dan kenikmatan intelektual. Atau hanya diceramahkan tanpa peragaan. Karena itu ketiga konsep pemikiran Islam UAS (SW, imamah-jama’ah dan harokah Islamiyah) harus diperagakan dalam kehidupan keseharian. Wadah untuk memperagakan adalah kampus pesantren.

Kampus pesantren merupakan miniatur peradabban Islam. Keberadaan kampus tidak hanya dimaksudkan untuk menyelengggarakan pendidikan Islam. Lebih dari itu, kampus harus memperagakan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan seoptimal mungkin. Oleh karenanya, warga kampus bukan hanya terdiri dari santri dan pengasuh atau guru, tapi juga disertai warga rumah tangga. Untuk dapat terasa sebagai suatu peradaban, kampus harus mewujud sebagai suatu entitas masyarakat.

Itu sebabnya di masa lalu kampus Hidayatullah kadang disebut ”darul hijrah”. Bergabung ke Hidayatullah disebut hijrah. Tapi definisi tentang kampus tidak tunggal. Terkadang juga disebut markaz dakwah. Biasa juga disebut markaz perkaderan.

Warisan Kader

Selain keempat warisan UAS diatas, sebenarnya ada satu “warisan” lagi yang sangat penting: kader. Selain sebagai warisan, kader ini sejatinya adalah pewaris. UAS meninggal tanpa mewariskan suatu konsep pemikiran tertulis secara utuh. Tentang manhaj SW misalnya. Satu—satunya warisan pemikiran tentang manhaj SW yang utuh menjelaskan dari al-alaq sampai al-Fatihah secara tertulis adalah transkrip dari ceramah UAS pada acara Training Muballigh yang diselenggarakan di PT Antam, Pomala, Kolaka. Namun demikian selain tulisan tersebut ada banyak tulisan beliau dalam bentuk “serpihan pemikiran” tentang SW dengan tema tertentu.

Demiikian pula dengan konsep kepemimpinan imamah-jama’ah. Tema ini cukuup sering ditulis oleh UAS di Majalah Suara Hidayatullah. Selama puluhan tahun UAS adalah penulis tetap pada rubrik Kajian Utama, sajian paling favorit majalah Sahid. Tapi nuansa dari tulisan-tulisan itu lebih menekankan kepada pengamalan dan pengalaman dibandingkan dengan pemikiran teoritis dalam kerangka keilmuan. Tidak ada tulisan secara utuh dan sistematis tentang konsep kepemimpinan Imamah-Jama’ah.

Begitu pula tentang harokah Islamiyah. Seperti halnya dengan kedua jatidiri diatas, tidak ada warisan tertulis yang menggambarkan secara memadai bagaimana road map dan blue print perjuangan Hidayatullah sebagai harokah Islamiyah. Bahkan dapat dikatakan, dibandingkan dengan dua jatidiri yang lain, tulisan UAS tentang konsep harokah Islamiiyah jauh lebih minim.

Tetapi suatu hal yang sangat menguntungkan bahwa dalam jangka waktu yang cukup lama, dari masa berdiri Hidayatulllah pada 1973 sampai UAS meninggal pada 1998, UAS sangat banyak berceramah di depan para kadernya. Dan seperti sudah disinggung sebelumnya, penekanan UAS dalam menghadirkan Hidayatullah bukan pada kekayaan liteterasi keilmuwan, tapi pada pemahaman dan pengamalan atau peragaan. Khazanah keilmuan dari ceramah UAS yang demikian banyak terkait jatidiri yang sering diceramahkan secara berulang, pada dasarnya telah menjadi “kekayaan intelektual” bagi kader. Hal ini terutama karena ada hubungan timbal balik yang sangat kuat antara kerangka dann landasan keilmuan yang disampaikan dan pengalaman lapangan. Inilah yang menjadi proses pencerahan bagi kader. Artinya, ketercerahhan kader karena mereka ikut menjadi pelaku dari konsep yang sering disampaikan tersebut. Mereka mengalami dan merasakan kesesuaian atupun integrasi antara ilmu atau teori dan pengamalan lapangan. Walaupun harus diiakui bahwa mayoritas kader lebih fasih memperagakan jatidiri dibandingkan menarasikan secara intelektual.

Dengan modal warisan kader yang tercerahkan, maka ketika UAS meninggal dunia, suksesi kepepimpinan berlangsung dengan baik tanpa gejolak. Kepemimpinan kemudian berjalan dengan baik dan perkembangan Hidayatullah semakin pesat. Sebelumnya ada pihak dengan nada pesimis menyatakan bahwa Hidayatullah akan berakhir seiring meninggalnya UAS. Ini dengan asumsi tidak nampak kader yang memiliki kharisma dan potensi kepemimpinan yang dapat melanjutkan model kepemimpinan tunggal atau “one man show” seperti dilakonkan UAS.

Sebagai seorang kader yang tercerahkan, ketika Ustadz Abdurrahaman Muhmmad (UAM) terpilih sebagai pemimpin Hidayatullah menggantiikan UAS, beliau memperkenalkan dan kemudian “mendeklarasiikan” model Kepemimpinan Syura. UAM berkali-kali menjelaskan bahwa “saya tidak bisa dan juga tidak mau melanjutkan atau menjalankan model kepemimpinan tunggal seperti dijalankan UAS”. Pada masa kepemimpinan UAS sebenarnya sistem syura tetap jalan, hanya saja tidak dilembagakan secara permanen. Tradisi musyawarah dijalankan sesuai konteks masalah yang berkembang. Jadi siapa yang akan ikut sebagai peserta musyawarah, tergantung siapa yang terkait atau berwewenang dengan masalah yang ada.

Sejak awal kepemimpinannya, UAM melembagakan sistem syura dan juga melakukan “pembagian kekuasaan” kepada berbagai lembaga. UAM sebagai Pemimpin Umum, kemudian ada Dewan Syura, Majelis Syariah dan Dewan Eksekutif sebagai pimpinan pelaksana. Dalam realitasnya, Dewan Eksekutif yang berkedudukan di Jakarta juga berfungsi sebagai “think tank” lembaga. Dewan Eksekutif aktif melakukan kajian dan “brainstorming” terhadap semua persoalan kelembagaan. Kajian-kajian yang sudah “setengah matang” disampaikan dan didiskusikan lebih lanjut dengan Pemimpin Umum. Selanjutnya dibawa ke forum Dewan Syura untuk dilakukan pengambilan keputusan.

Berbagai kebijakan perubahan besar dilakukan pada tahun 2000, ketika kepemimpinan UAM baru berjalan dua tahun. Perubahan paling fundamental adalah format kelembagaan dari Orsos ke Ormas. Menyertai perubahan ini adalah perubahan sistem sosial ekonomi dan penegasan defenisi kader. Sebelum menjadi ormas, sistem ma’isya kader adalah dengan natura. Setelah menjadi Ormas sistem ma’isya dilakukan dengan penggajian. Perbedaan dari keduanya adalah pada istilah natura, upah diberikan berdasarkan kebutuhan pokok setiap kader atau warga, tanpa memperhatikan jabatan dan profesi yang diemban. Sementara itu, dengan sistem gaji, seseorang diberikan upah sesuai dengan jabatan dan profesinya, bukan dengan melihat kebutuhan hidupnya.
Pada masa Orsos kader hanya diberikan natura sesuai kebutuhan pokok setiap rumah tangga. Semua kebutuhan lainnya seperti biaya pendidikan, kesehatan dan lainnya, ditanggung oleh lembaga. Dengan sistem penggajian di era Ormas, hal-hal seperti itu menjadi tanggung jawab pribadi, tidak lagi menjadi tanggungan lembaga.

Dalam pada itu juga dilakukan perubahan atau penegasan definisi kader. Pada masa Orsos, yang dimaksud sebagai kader “seolah-olah” hanya mereka yang tinggal di kampus pesantren dan bekerja dalam lingkup tugas kepesantrenan. Mereka yang tinggal diluar kampus dan bekerja di tempat lain dikesani bukan kader. Dikatakan “seolah-olah” disini karena pengertian kader dimasa itu sesungguhnya tidak juga persis seperti itu. Sebagai contoh, di Gn. Tembak ketika itu ada puluhan kader senior yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan bekerja di berbagai istansi pemerintah.

Menyertai deklarasi Ormas, kader didefinisikan dengan tegas, bahwa kader adalah “orang yang tertarbiyah dalam sistem perkaderan dan taat dalam sitem kepemimpinan Hidayatullah”. Dalam perkembangan selanjutnya, yang dimaksud sistem perkaderan adalah ikut training marhalah dan aktif halaqoh kader.
Perkembagan lain sesuai tuntutan dinamika kelembagaan dan kondisi ekternal adalah perumusan konsep Jatidiri Hidayatullah secara tertulis. Hal ini sangat penting dan mendasar untuk memperjelas dan mempertegas identiitas dan “alamat” Hidayatullah. Konsep pemikiran pada Jatidiri ini menjadi bahan utama materi tarbiyah dan perkaderan Hidayatullah. Setelah melalui diskusi dan kajian panjang, dirumuskan enam Jaatidiri Hidayatullah: SW, ahlussunnah wal jama’ah, Imamah-jama’ah, al-Harokah al-Jihadiyah al-Islamiyah, jama’atun minal Muuslimin, dan wasathiyah.

Tiga dari enam jatiiri merupakan “warisan langsung” dari UAS, sebagaimana telah disinggung diatas. Adapun tiga yang lainnya, merupakan “tambahan” di era kepemipimpinan UAM. Dikatakan sebagai “tambahan” karena pada dasarnya UAS tidak pernah menjadikan ketiga tema tersebut sebagai bahan utama kajian dan wacana yang dibahas secara serius. Hal itu berbeda dengan tiga jatidiri lainnya. Kalau demikian, lalu muncul pertanyaan mengapa ketiga hal itu juga dijadikan jatidiri Hidayatullah?

Jawabnya, diyakini bahwa ketiga hal tersebut (Ahlussunnah wal jama’ah, Jama’atun minal Muslimin, dan Wasathiyah) sesungguhnya merupakan pemikiran keislaman yang dianut oleh UAS. Tapi UAS tidak menjadikan hal itu sebagai tema kajian dan pencerahan karena tidak ada konteksnya ketiika itu. Misalnya untuk Ahlussunnah wal Jama’ah. Pada masa itu tidak ada perdebatan dan klaim di tengah ummat Islam Indonesia tentang ahlussunnah wal jaama’ah dan siapa saja penganutnya.

Jamak dipahami bahwa sebelum muncul Syiah dan “kelompok Salafi”, hampir semua ummat Islam di Indonesia adalah penganut Ahlussunnah wal jama’ah. Perdebatan, penegasan dan klaim tentang penganut Ahlussunnah wal jama’ah baru muncul setelah berkembangnya aliran Syiah dan Salafi di Indonesia. Aqidah Syiah jelas berbeda atau bahkan bertentangan dengan aqidah Ahllussunnah. Demikian pula, hadirnya “kelompok Salafi” menyerang langsung aqidah dari kelompok Islam Tradisional yang sejak lama paling mengklaim sebagai penganut Ahlussunnah wa jama’ah. Mereka adalah penganut aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, dimana kedua mazhab aqidah itu dinyatakan sesat oleh kelompok Salafi.

Akibat serangan keras ini, kelompok Islam Tradisional tidak tinggal diam. Mereka menyerang balik dengan menyatakan sebaliknya, aqidah Salafi-Wahabi sesat. Nah, ketika terjadi keributan, saling serang dan saling klaim di tengah ummat tentang penganut Ahlussunah wal Jama’ah, maka Hidayatullah merasa perlu memposisikan diri dalam soal ini. Hidayatullah menegaskan sebagai penganut Ahlussunnah wal Jama’ah disertai narasinya dan penjelasannya.
Demikian pula tentang jatidiri Jama’atun minal Muslimin. Dipahami bahwa UAS secara substantif menganut hal tersebut, walaupun jarang menyinggungnya. Hal yang sama juga untuk prinsip Wasathiyah. Dari berbagai pandangan dan pemikiran UAS jelas dapat dipahami sikap wasathiyah beliau dan Hiidayatullah dalam berbagai persoalan keislaman dan keummatan.

Dari sedikit penjelasan diatas, kiiranya dapat dipahami bagaimana dinamika pemikiran keislaman dan kelembagaan pasca kepemimpinan UAS. Dinamika pemikiran tersebut juga berpengaruh terhadap struktur organisasi. Itu sebabnya dari Munas pertama sampai Munas keenam yang segera berlangsung terus terjadi perubahan yang diperlukan. Perubahan-perubahan itu dlakukan dengan prinsip “memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik” (al-muhafadhatu ‘ala qadimissholih wal akhdzu bil jadidil ashlah). Semangat dari perubahan-perubahan tersebut senantiasa berpegang teguh kepada kaidah mempertahankan hal bersifat prinsipil (tsawabit) dan melakukan perubahan pada hal-hal yang pada dasarnya bersifat fleksibel karena konteks situasi, waktu atau tempat (mutaghayyirat).

Penutup

Itulah lima warisan UAS. Dari lima warisan tersebut dapat disederhanakan menjadi dua hal mendasar: manhaj SW dan kader. Dalam manhaj SW pada dasarnya melekat konsep kepemimpinan imamah jama’ah dan harokah Islamiyah. Dengan perkataan lain, tidak ada manhaj SW tanpa tegaknya kepemimpinan Imamah-Jama’ah dan harokah Islamiyah.

Selain eksis dengan manhaj SW dan kepemimppinannya, keberhasilan lain yang sangat penting dari UAS adalah melahirkan atau mencetak kader pelanjut perjuangan berbasis manhaj . Sepeninggal UAS Hidayatullah semakin berkembang, baik jangkauaan teritorial dan jaringan, maupun kuantitas kader. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah jika kader yang ditinggalkan UAS (yang ketika itu pada umumnya berusia kurang dari 50 tahun) sukses melanjutkan manhaj perjuangan, apakah generasi berikutnya telah siap memikul beban ini? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi kita harus optimis.
Pada dasarnya proses alih generasi dan rejuvinasi telah dan sedang berjalan. Sisa waktu dari peran generasi didikan UAS menjadi tantangan untuk menguatkan transformasi dan transmisi yang lebih kuat untuk rejuvinasi. Wallahul musta’an./*

Sulsel Catat Peserta Terbanyak ke Munas VI Hidayatullah, 46 Orang Bertolak via KM Labobar

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) — Sebanyak 46 peserta Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah asal Sulawesi Selatan resmi diberangkatkan menuju Jakarta melalui jalur laut menggunakan KM Labobar, Jumat (17/10/2025) siang.

Rombongan ini menjadi bagian terbesar dari total lebih dari 80 peserta asal Sulsel yang akan menghadiri Munas yang digelar di Kompleks Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, pada 20–23 Oktober 2025 mendatang.

Menurut data Panitia Wilayah, Sulawesi Selatan tercatat sebagai provinsi dengan jumlah peserta terbanyak dibandingkan daerah lain. Keberangkatan rombongan via kapal laut disertai suasana penuh semangat dan kekeluargaan. “Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ruhani menjemput momentum agenda lima tahunan gerakan dakwah Hidayatullah,” ujar Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd., sesaat sebelum pelepasan di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar.

Rombongan kapal laut tersebut dijadwalkan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Ahad sore (19/10) dan langsung melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi Munas.

Selain rombongan laut, sebanyak 13 peserta lainnya menempuh perjalanan darat dalam misi “Ride to Munas VI”, yakni touring motor dari Makassar menuju Jakarta. Rombongan biker ini memulai perjalanan sejak 14 Oktober 2025 dari ikon Masjid 99 Kubah Makassar, menempuh jalur pantai utara Jawa usai menyeberang melalui Ferry Makassar–Surabaya.

Mereka dijadwalkan tiba di Masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad malam (19/10) sebagai titik finish sekaligus momentum penyambutan simbolik peserta Sulsel.

Sementara itu, rombongan udara menjadi kelompok terakhir yang bertolak, dijadwalkan berangkat secara bertahap pada Sabtu hingga Ahad pagi (18–19 Oktober 2025).

“Kami ingin memastikan semua moda transportasi aman, efisien, dan tetap bernuansa dakwah. Setiap rombongan membawa semangat yang sama, yaitu ukhuwah, disiplin, dan kontribusi untuk jamaah,” jelas Koordinator Keberangkatan Munas VI Hidayatullah Wilayah Sulsel, ustadz Armin Karim.

Keikutsertaan besar dari Sulsel, lanjut Ustadz Armin, mencerminkan soliditas struktur dan semangat kader dakwah di kawasan timur Indonesia. “Ini menunjukkan bahwa kader-kader Hidayatullah di Sulsel sangat siap berkontribusi dalam arah kebijakan nasional Hidayatullah untuk periode ke depan,” ujarnya.

Munas VI Hidayatullah sendiri dijadwalkan akan dibuka secara resmi pada Senin (20/10), dengan mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”. Acara ini akan rencananya akan dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto dan dihadiri oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia, termasuk tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta perwakilan lembaga mitra dakwah.

Bikers Hidayatullah Indonesia Gelar Touring Peradaban Menuju Munas VI Hidayatullah

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) — Menyemarakkan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Bikers Hidayatullah Indonesia (BHI) Regional Sulawesi menggeral touring panjang bertajuk Touring Peradaban: Ride to Munas VI Hidayatullah.

Pelepasan rombongan dilakukan secara khidmat di pelataran Masjid 99 Kubah Makassar, ikon kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, pada Selasa (14/10/2025) siang.

Pelepasan resmi dilakukan oleh Ustaz Drs. Nasri Bukhari, M.Pd, Ketua Pembina BHI sekaligus Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya, Ustaz Nasri menekankan pentingnya menjaga adab dan akhlak selama perjalanan, baik di jalan raya maupun dalam interaksi sosial.

“Touring ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan nilai. Ini adalah touring peradaban, bagian dari jihad peradaban menuju Munas Hidayatullah. Jaga adab, jaga persaudaraan, dan tebarkan dakwah di sepanjang jalan,” pesan Ustaz Nasri dalam amanat pelepasan.

Rombongan yang terdiri atas sembilan motor dan sebelas peserta itu dijadwalkan menempuh rute lintas Jawa sepanjang lebih dari 780-an kilometer. Mereka akan menyeberang dari Pelabuhan Makassar menuju Surabaya, melintasi jalur utara Pulau Jawa hingga finish di Masjid Istiqlal Jakarta sebagai titik akhir pada Ahad malam (19/10/2025).

Setelah finish, rombongan direncanakan akan long-rest di Wisma DPP Hidayatullah, sebelum bergeser ke Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, lokasi pelaksanaan Munas VI Hidayatullah pada 20–23 Oktober 2025 mendatang. Perjalanan pulang direncanakan melewati jalur selatan Jawa sebelum kembali ke Makassar pada akhir bulan.

Ketua BHI Sulsel, Ustaz Dr. Kahirun Misjaya, menjelaskan bahwa Touring Peradaban ini merupakan simbol kontribusi komunitas bikers Muslim terhadap dakwah dan persatuan bangsa.

“Kami ingin menunjukkan bahwa komunitas bikers pun punya cara beradab dalam berdakwah. Kami membawa semangat ukhuwah dan keteladanan santri di jalan raya. Mohon doa dari seluruh jamaah agar perjalanan ini lancar dan penuh keberkahan,” ujarnya.

Selain touring, rombongan BHI juga berencana singgah di sejumlah kota seperti Surabaya, Semarang, Pekalongan, dan Bandung untuk bersilaturahmi dengan jaringan Hidayatullah daerah serta komunitas biker Muslim setempat. Mereka juga membawa misi silatul-ukhuwah, antara lain berkunjung ke masjid-masjid ikonik di sepanjang rute dan kegiatan dakwah jalanan di beberapa titik perhentian.

Acara pelepasan turut dihadiri oleh anggota BHI Sulsel di Makassar yang tidak menjadi peserta Munas VI Hidayatullah. Doa bersama menutup prosesi pelepasan, menandai awal perjalanan panjang penuh semangat dakwah dan persaudaraan di jalan raya. /*

Reporter : Om Dani

Mabit ke-13 Tahfidz Cilik Auladi Jeneponto Tekankan Sinergi Keluarga dan Pesantren dalam Membangun Generasi Qurani

0

Jeneponto (HidayatullahSulsel.or.id) — Pondok Pesantren Tahfidz Cilik Auladi Hidayatullah Jeneponto kembali menggelar kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) dengan penuh semangat dan kebersamaan, Sabtu (11/10/2025). Mabit ke-13 yang berlangsung di kompleks pesantren tersebut dihadiri para santri, orang tua, serta wali murid dari MI Hidayatullah Pallantikang.

Acara turut dihadiri perwakilan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, yakni Kepala Departemen Pendidikan Ustadz H. Dwi Subagyo, yang hadir memberikan dukungan dan motivasi kepada seluruh peserta.

Dalam tausiyah utamanya, Ketua Pembina Yayasan Auladi, Ustadz Irfan Yahya, S.Pd., mengingatkan pentingnya menumbuhkan rasa syukur dan amal jariyah sebagai bekal kehidupan di akhirat.

“Setiap kebaikan yang ditanamkan kepada anak-anak dan lembaga pendidikan akan menjadi ladang pahala yang terus mengalir,” ujarnya di hadapan para peserta.

Sementara itu, Ketua Yayasan sekaligus Pimpinan Pondok, Ustadz Armin, S.H.I., dalam sambutan pembukaannya menekankan pentingnya menjaga silaturahmi antara orang tua, pengurus, dan lembaga pendidikan.

“Kekuatan pendidikan karakter anak akan tumbuh dari sinergi dan dukungan bersama,” kata Ustadz Armin.

Kegiatan Mabit ke-13 juga diisi dengan berbagai penampilan santri, seperti Parade Al-Qur’an, nasyid, puisi islami, hingga atraksi Pandu Hidayatullah, yang menampilkan bakat dan semangat keislaman para santri.

Melalui kegiatan ini, Pesantren Tahfidz Cilik Auladi Hidayatullah ingin meneguhkan komitmennya dalam membina generasi Qurani yang berakhlak mulia serta memperkuat hubungan spiritual antara keluarga dan lembaga pendidikan. /*

Pemuda Hidayatullah Sulsel Bersama Ormas Islam Suarakan Dukungan untuk Palestina di Makassar

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) — Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu kemanusiaan global dengan menggelar aksi damai bertajuk “Makassar Menggugat untuk Palestina”, Ahad (12/10/2025).

Aksi yang berlangsung di bawah Flyover Urip Sumoharjo, Pettarani, Makassar itu diikuti peserta dari berbagai unsur ormas Islam, lembaga dakwah, serta komunitas masyarakat Muslim Kota Makassar.

Sejak pagi, massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan “Free Palestine” dan “Makassar Bebaskan Palestina”. Mereka menyerukan dukungan moral bagi perjuangan rakyat Palestina yang hingga kini masih menghadapi agresi dan penjajahan di tanah air mereka. Seusai orasi dan doa bersama di bawah flyover, peserta aksi melanjutkan kegiatan di area Car Free Day (CFD) Boulevard Makassar, menyeru masyarakat untuk tidak diam terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Komandan lapangan aksi, Ustadz Mukhtar Daeng Lau, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian umat Islam di Makassar terhadap tragedi kemanusiaan di Palestina.

“Aksi ini kita lakukan untuk mendukung gerakan kemerdekaan Palestina dan sebagai pengingat bahwa penjajahan dalam bentuk apa pun harus dihapuskan dari muka bumi,” ujarnya.

Ketua Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan, Bang Abid, menegaskan bahwa aksi solidaritas ini bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan bagian dari kesadaran kolektif umat Islam untuk terus memperjuangkan nilai keadilan dan kemanusiaan.

“Kita berharap setiap upaya perjanjian damai dengan Israel tidak kembali dilanggar. Sejarah telah mencatat, Israel berkali-kali mengingkari kesepakatan yang dibuat,” tegasnya.

Lebih jauh, Abid menyerukan agar umat Islam terus menguatkan dukungan terhadap Palestina melalui langkah-langkah nyata di kehidupan sehari-hari.

“Solidaritas kita tidak boleh berhenti di jalanan. Kita harus terus menyuarakan keadilan bagi Palestina, termasuk dengan konsisten memboikot produk-produk yang mendukung kezaliman terhadap rakyat Palestina,” tambahnya.

Aksi yang berlangsung damai dan tertib ini diwarnai dengan lantunan takbir, serta doa bersama untuk keselamatan rakyat Palestina. Sejumlah peserta dari kalangan anak-anak dan remaja juga tampak hadir, menjadi simbol bahwa semangat perjuangan dan kepedulian terhadap Palestina diwariskan lintas generasi.

Dari Makassar, Pemuda Hidayatullah Sulsel menegaskan komitmennya untuk terus berdiri bersama rakyat Palestina dan menjadi bagian dari perjuangan menegakkan keadilan serta kemanusiaan di bumi Allah.

Menyambung Sanad dan Meneguhkan Manhaj: Refleksi Menjelang Munas Hidayatullah Ke-VI

0
Oleh: Irfan Yahya*

MENJELANG Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah ke-VI, dinamika pemikiran di lingkungan internal jamaah kembali menghangat. Dalam sejumlah grup WhatsApp diskusi kader beragam gagasan dan refleksi bermunculan terkait arah gerakan, posisi kelembagaan, dan penguatan manhaj walaupun terselip juga ragam candaan dan guyonan.

Dua di antara yang menarik perhatian penulis adalah tulisan ustad Fuad  Fahruddin yang berjudul  “Sanad dan Aplikasi Sistematika Wahyu” yang tayang di laman Hidayatullah Sulsel  dan bahan presentasi yang ditulis oleh ustad Alimin Mukhtar yang diberi judul “Melestarikan dan Mengembangkan Manhaj Sistematika Wahyu.”

Keduanya merefleksikan kegelisahan intelektual sekaligus optimisme tentang masa depan Paradigma Sistematika Wahyu (SW) sebagai fondasi epistemologis dan ideologis gerakan. Dari dinamika inilah lahir refleksi ini—sebuah upaya membaca kembali Paradigma SW dalam kerangka sosiologi pengetahuan untuk mempertegas posisi Hidayatullah sebagai sistem sosial yang berakar pada wahyu.

Hidayatullah sejak awal berdirinya dengan segenap kesadaran telah mengusung gagasan besar untuk menjadikan wahyu sebagai sumber inspirasi dan metodologi gerakan.

Paradigma Sistematika Wahyu (SW) bukan sekadar cara membaca Al-Qur’an berdasarkan urutan turunnya (tartib nuzuli), tetapi juga merupakan sistem berpikir yang menyatukan aspek spiritual, intelektual, dan sosial. Ia menggambarkan tahapan tarbiyah nubuwwah yang dimulai dari pembentukan basis pundamental kesadaran tauhid (Al-‘Alaq), penguatan akhlak dan rasionalitas (Al-Qalam), peneguhan spiritualitas (Al-Muzzammil), transformasi sosial (Al-Muddatsir), hingga integrasi Islam kaffah (Al-Fatihah). Rentang kendali proses ini mencerminkan bahwa wahyu tidak hanya memberi pedoman moral, tetapi juga membentuk struktur pengetahuan dan sistem sosial.

Dari perspektif sosiologi pengetahuan (Berger & Luckmann, 1966), setiap sistem pengetahuan lahir, tumbuh, dan berfungsi dalam konteks sosial tertentu. Pengetahuan tidak hadir di ruang hampa, melainkan dihasilkan melalui desain dialektika antara manusia dan lingkungannya: eksternalisasi (penciptaan makna), obyektivasi (pembentukan lembaga dan simbol), dan internalisasi (penanaman nilai menjadi kesadaran).

Paradigma SW sejalan dengan proses ini. Ia mentransmisi nilai-nilai wahyu menjadi tindakan sosial melalui tarbiyah dan dakwah, melembagakannya dalam sistem pendidikan dan organisasi, lalu menanamkannya kembali dalam kesadaran spiritual para kader. Dengan cara ini, Paradigma SW bekerja sebagai mekanisme reproduksi pengetahuan ilahiah di tengah sistem sosial jamaah.

Kuntowijoyo (1991) dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi menegaskan perlunya menjadikan Islam bukan sekadar doktrin normatif, melainkan paradigma aksi sosial yang profetik: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Hidayatullah sesungguhnya telah mempraktikkan prinsip-prinsip ini secara sadar dan sistematis dalam rentang sejarah yang panjang berbasis kampus melalui sistem tarbiyah dan dakwah yang menumbuhkan manusia beriman, merdeka, dan beradab.

Paradigma SW menegaskan fondasi epistemologisnya: bahwa setiap tindakan sosial dalam Islam harus berakar pada tauhid dan berujung pada peradaban. Dengan demikian, penguatan manhaj SW tidak semata bersifat ideologis, tetapi juga sosiologis—ia membentuk kesadaran kolektif yang menuntun arah gerakan.

Masri Muadz (2002) menambahkan dimensi sistemik dalam Paradigma Al-Fatihah dengan memperkenalkan konsep berpikir sistem (system thinking). Berpikir sistem berarti melihat keterkaitan antara bagian dan keseluruhan dalam satu kerangka nilai yang koheren. Paradigma SW hadir dengan melihat setiap fase kenabian sebagai subsistem dari keseluruhan rancangan peradaban Islam. Tauhid tanpa akhlak kehilangan pijakan moral; akhlak tanpa spiritualitas menjadi kering; dakwah tanpa sistem sosial yang adil kehilangan arah praksisnya. Inilah mengapa penguatan manhaj tidak dapat dipisahkan dari penguatan kelembagaan, sumber daya manusia, dan arah kebijakan organisasi. Paradigma SW adalah rancangan sistemik yang menghubungkan nilai, ilmu, dan amal dalam satu ekosistem jamaah.

Dinamika pemikiran menjelang Munas juga mengungkap kesadaran baru tentang pentingnya menjaga sanad manhaj. Pelajaran dari sejarah Islam menunjukkan bahwa banyak mazhab besar seperti al-Auza’i, Sufyan ats-Tsauri, dan Ibnu Jarir ath-Thabari tidak bertahan lama bukan karena lemah dalam argumentasi, tetapi karena tidak diwariskan secara sistematis. Hidayatullah belajar dari sejarah itu: keberlanjutan manhaj sangat bergantung pada kekuatan transmisi ilmiah dan dokumentasi pengetahuan. Proyek penguatan Paradigma SW karenanya harus disertai pengembangan literasi, dokumentasi, dan penulisan ilmiah kader. Setiap karya tulis, riset, dan refleksi internal adalah bagian dari upaya menyambung sanad pengetahuan jamaah.

Dalam perspektif sosiologi pengetahuan, keberlangsungan manhaj ditentukan oleh dua hal: legitimasi sosial dan reaktualisasi kontekstual. Legitimasi sosial berarti manhaj diterima dan dihidupi oleh entittasnya; reaktualisasi kontekstual berarti ia terus menyesuaikan diri dengan tantangan zaman tanpa kehilangan esensinya.

Paradigma SW memiliki legitimasi sosial yang kuat karena ia lahir dari kesadaran kolektif jamaah dan menjadi fondasi sistem tarbiyah. Namun, agar tetap relevan, ia harus terus diperbarui melalui dialog ilmiah dan praksis sosial. Tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan kesatuan ideologis, tetapi juga memperluas pengaruh epistemiknya agar mampu bersaing di ruang publik keilmuan.

Momentum Munas Hidayatullah ke-VI adalah kesempatan strategis untuk mempertegas kembali arah pengembangan manhaj dan pengetahuan jamaah. Penguatan Paradigma SW bukan semata tugas para murabbi atau pengurus, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh kader.

Dalam bahasa Berger (1967), setiap sistem pengetahuan harus “diinstitusionalisasi” agar menjadi realitas sosial yang objektif. Artinya, SW harus diwujudkan dalam kebijakan, kurikulum, pola kaderisasi, dan budaya organisasi. Hanya dengan cara itu ia akan menjadi sistem sosial yang hidup, bukan sekadar warisan konseptual.

Demikianlah, dengan segenap kesadaran refleksi ini hadir untuk menegaskan bahwa menyambung sanad dan meneguhkan manhaj adalah dua sisi dari satu kesadaran. Sanad menjaga kesinambungan ilmu; manhaj memastikan arah perjuangan. Paradigma SW memberikan kerangka bagi keduanya—menyatukan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial dalam satu tarikan napas perjuangan.

Menjelang Munas Hidayatullah ke-VI, semoga refleksi dan diskusi ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat fondasi ilmiah gerakan, memperdalam kesadaran dan pemahaman terhadap jati diri lembaga, dan meneguhkan komitmen kita membangun peradaban Islam melalui ilmu, amal, dan sistem sosial yang berkeadaban dan memanifestasikannya dalam kehidupan nyata sehari-hari setiap kader. Wallahualam./*

*Dr. Irfan Yahya adalah Sosiolog, Aktivis Hidayatullah, Akademisi dan Peneliti pada Puslit Opini Publik LPPM Unhas.