Beranda blog Halaman 18

Geliat Dakwah di Tengah Labirin Urbanisme Makassar

0
Oleh: Irfan  Yahya*

Makassar, sebuah kota pesisir yang terus bergerak, awal bulan lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-418 dengan rangkaian kegiatan rutin yang telah lama menjadi tradisi.

Namun di balik seremonial tersebut, kota ini mengendapkan dinamika urban yang terus berkembang, menantang pembacaan yang lebih mendalam. Makassar bukan lagi sekadar kota yang punya akar sejarah yang kuat saja, tapi telah menjelma menjadi simpul metropolitan di kawasan timur Indonesia, dengan ritme sosial, ekonomi, politik  yang menggeliat cepat dan kompleks.

Data BPS per tanggal 30 Juni 2024, memperlihatkan bahwa Makassar adalah kota berpenduduk 1.477.661 jiwa, dengan kepadatan yang relatif tinggi dan pertumbuhan wilayah yang pesat. Tingkat mobilitas harian meningkat akibat hubungan ekonomi dengan wilayah Mamminasata.

Pertumbuhan ini membawa peluang, tetapi juga menimbulkan tekanan pada ruang hidup warga: kemacetan yang kerap menghantui warga setiap saat, kawasan padat penduduk yang terus meluas, ruang publik yang terbatas, dan fragmentasi sosial yang tetap menjadi pekerjaan rumah.

Di beberapa titik pusat aktivitas, arus kendaraan bertumpuk di pagi dan sore hari, jalan-jalan baru belum sepenuhnya mampu menjawab kepadatan pergerakan laju kendaraan, dan ruang hijau belum tumbuh sepadan dengan geliat pembangunan fisik.

Urbanisme Makassar hari ini menghadirkan apa yang oleh para ahli sebagai urban complexities, kompleksitas yang lahir dari persilangan antara mobilitas, ekonomi, migrasi, dan kultur. Kota tidak lagi dapat dipahami hanya melalui pembangunan fisik; ia adalah ekosistem sosial yang terus bergerak, menata ulang dirinya sendiri melalui interaksi sehari-hari warganya.

Dalam perspektif postmodernisme sebagaimana diulas para ahli, kota kontemporer memerlukan pendekatan perencanaan yang tidak kembali pada pola seragam, tetapi menekankan pluralitas, partisipasi, dan keberagaman. Kota adalah mosaik kehidupan, dan keberhasilan suatu kota bergantung pada kemampuannya membaca wajah warga yang majemuk.

Menghadapi tantangan yang terus berkembang, banyak kota dunia berusaha merumuskan kembali arah pembangunannya. Bahwa kota yang baik bukan hanya kota yang terbangun secara fisik, tetapi kota yang mampu menghadirkan kebahagiaan melalui desain sosial yang kuat: transportasi publik yang terjangkau, ruang publik yang hidup, interaksi sosial yang sehat, serta ruang spiritual dan emosional yang tersedia bagi warganya.

Kondisi objektif Makassar, dengan tantangan masalah sampah, kemacetan, tekanan ruang, dan kesenjangan pelayanan publik, menunjukkan bahwa kota ini masih berada dalam proses tumbuh mencari bentuk terbaiknya. Upaya pemerintah untuk berbenah tentu berjalan, namun tata kota modern membutuhkan dukungan seluruh elemen sosial untuk membangun ruang hidup yang lebih manusiawi. Kota bukan hanya karya pemerintah; ia adalah ekosistem kolaboratif yang menuntut partisipasi semua unsur masyarakat.

Di tengah dinamika besar itulah Hidayatullah Makassar mengambil posisi sebagai aktor dakwah yang hadir di lanskap urban. Ketua DPD Hidayatullah Makassar, Dr. Nasrullah Sapa, Lc, M.M. yang telah tertenpah kultur pengkaderan khas pondok saat masih masa kanak-kanak, melihat kota sebagai ruang ujian nilai dan ruang penguatan moral.

Baginya, kota tidak pernah netral. Mobilitas tinggi, tekanan rutinitas, kompetisi ekonomi, dan ragam budaya membentuk ruang sosial yang mudah memisahkan individu dari komunitas, dan nilai spiritual diyakini mumpuni menjadi fondasi kehidupan warga masyarakat.

“Di kota, orang bisa berlari cepat,” ujarnya, “tetapi belum tentu bertahan lama. Karena itu berjamaah menjadi penting, agar dakwah tetap hidup dan memberi manfaat.”

Pengalamannya berinteraksi dalam berbagai ruang dakwah, dari Rumah Qur’an, organisasi keagamaan, hingga lingkungan perguruan tinggi, membentuk pandangannya bahwa dakwah di kota harus lentur dan adaptif.

Ia tidak lagi cukup digerakkan dari mimbar semata, dakwah harus hadir dalam ritme kehidupan urban: di sela kesibukan profesional, di ruang-ruang kecil komunitas perumahan, di kampus, di pusat aktivitas warga, dan bahkan di dunia kerja yang semakin kompetitif.

Dalam sebuah catatan reportase, ia menyampaikan bahwa kader Hidayatullah harus memiliki kesadaran untuk hadir di semua aspek kehidupan kota: pendidikan, ekonomi, politik, budaya, dan ruang publik.

Peradaban, baginya, dibangun dengan menjadi “yang terbaik” di segala lini. Bukan dalam makna kompetitif secara dangkal, tetapi dalam kapasitas kontribusi. “Pendidikannya harus terbaik. Ekonominya harus terbaik. Semua aspek kehidupan itu harus terbaik,” tegasnya.

Visi ini relevan dengan kebutuhan kota seperti Makassar, di mana tekanan urban melahirkan apa yang disebut Montgomery sebagai kekurangan infrastruktur emosional.

Di ruang inilah Hidayatullah dapat memainkan peran, membangun jejaring sosial bebasis moral yang memperkuat resiliensi sosial warga kota. Kehadiran Rumah Qur’an di kawasan padat penduduk menjadi oase pendidikan nilai; halaqah-halaqah taklim menjadi tempat rehat rohani; pertemuan komunitas membangun jejaring sosial yang melindungi warga dari isolasi urban.

Dalam konteks urbanisme pascamodern, geliat dakwah bukanlah gerakan eksklusif, melainkan kolaboratif. Ketua DPD Hidayatullah Makassar itu menegaskan pentingnya keterlibatan lintas komunitas: “Kalau ada yang punya program pembelajaran Qur’an terbaik, kita dukung. Kalau ada yang punya gerakan ekonomi terbaik, kita siap kolaborasi. Kita hadir sebagai katalisator, bukan sebagai pesaing.”

Pola pikir ini membuka ruang baru bagi geliat dakwah yang tidak mengurung diri dalam batas-batas struktural, tetapi merangkul segala unsur yang hadir dalam dinamika kehidupan warga kota.

Melihat Makassar melalui kacamata akademik, dakwah urban yang dilakukan Hidayatullah muncul sebagai respons terhadap fragmentasi sosial kota besar. Keterpisahan warga dari komunitas, tekanan ekonomi, kesibukan yang menyita ruang spiritual, dan berkurangnya ruang publik nilai adalah tantangan nyata. Di sinilah geliat dakwah mengambil bentuk baru: menjadi jaring pengikat moral.

Kota tidak bisa dibangun dengan beton saja. Ia membutuhkan nilai, keterikatan, dan ruang spiritual yang hidup. Dakwah Hidayatullah mengisi ruang ini dengan strategi yang bergerak dari bawah: membangun basis komunitas, memperkuat kapasitas kader di berbagai sektor, mendorong kolaborasi antarorganisasi, dan menghadirkan dakwah sebagai energi sosial yang menenangkan sekaligus memotivasi.

Dakwah berubah menjadi kerja kerja sosial berbasis moral, menyapa warga, mendidik anak-anak, memperkuat keluarga, dan memupuk budaya gotong royong yang mulai tergerus oleh modernitas.

Peran dakwah di kota modern bukan lagi sekadar memperbaiki individu, tetapi juga memperbaiki struktur sosialnya. Hidayatullah Makassar, dengan jejaring kadernya, memiliki modal sosial yang memungkinkan hal itu. Keberadaannya di kampus, ruang pendidikan, komunitas profesional, organisasi publik, dan perumahan padat menjadikannya bagian integral dari denyut nadi kota.

Demikianlah di tengah labirin urbanisme Makassar yang terus berubah, geliat dakwah Hidayatullah menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual tidak pernah kehilangan relevansinya. Justru dalam dinamika keghipudan kota yang sedemikian cepat, acak dan rumit, geliat dakwah menjadi kompas yang membimbing arah.

Dakwah yang hidup, adaptif, dan kolaboratif dapat menjadi salah satu pilar penyangga peradaban kota: memperkuat ketahanan sosial, membangun karakter warga, serta memberikan ruang bagi harapan dan kedalaman makna di tengah hiruk pikuk kehidupan urban.

Makassar mungkin sedang mencari bentuk terbaiknya. Pembangunan kota membutuhkan waktu dan kerja kolektif. Dalam perjalanan panjang itu, Hidayatullah memilih berada di dalam setiap denyut kota itu. Hadir sebagai bagian dari solusi. Hadir sebagai penenun nilai. Hadir sebagai pengingat bahwa setiap kota, betapapun modernnya, tetap membutuhkan cahaya spiritual untuk tetap menjadi ruang manusiawi bagi warganya. Wallahualam./*

*Dr. Irfan Yahya, adalah Sosilog Hidayatullah.

Dakwah Bil Hikmah di Tanah Tongkonan: Kisah Ustadz Ikhsan Merangkul Muallaf dan Mematahkan Isu di Toraja Utara

0

Dua puluh tahun mengabdi sebagai dai Hidayatullah telah membawa Ustadz Ikhsan ke seluruh pelosok Sulawesi. Kini, selama empat tahun terakhir, ia menjadi pelayan bagi muslim dan mualaf di Toraja Utara.

Di tanah yang ikonik dengan upacara Rambu Solo’ dan rumah adat Tongkonan ini, ia menemukan makna sesungguhnya dari dakwah bil-hikmah. Bukan tentang mengubah keyakinan secara paksa, tapi tentang memahami hati dan merangkul dengan tulus.

Kisahnya adalah bukti bahwa di tengah minoritas, keteladanan jauh lebih kuat daripada ceramah. Dakwah bil-hal, lebih prioritas dari hanya sekadar mengandalkan dakwah bil-lisan.

Perjalanan dakwah Ikhsan adalah rantai pengabdian yang tak terputus. Kisah kontribusinya dimulai tahun 2002 di Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Setelah menikah tahun 2010, ia dan istri berkelana di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Mulai dari Belopa, Luwu, lalu ke Bulukumba, kemudian kembali ke Luwu merintis kampus baru di Sampeang.

Pada Musyawarah Daerah Hidayatullah Palopo 2020 lalu, mendapat SK sebagai salah satu pengurus DPD Hidayatullah Palopo, sebelum akhirnya mendapatkan SK baru di Toraja Utara, pada 2022. Setiap perpindahan mengasah kesabaran dan menguji keikhlasan, menjadikannya ‘tentara dakwah’ sejati.

Program unggulan Ikhsan di Toraja Utara berpusat pada pembinaan muslim dan mualaf, yang puncaknya adalah pesantren kilat Ramadhan untuk anak-anak Muslim.

“Kegiatan ini unik karena baru pertama kali dilakukan di sini,” ujar Ikhsan.

Ia terharu melihat respons anak-anak. “Mereka sangat bersemangat, walaupun rumah mereka berjauhan. Jarak tidak membuat semangat mereka surut,” ceritanya, menegaskan bahwa kerinduan anak-anak Toraja akan ilmu agama adalah momen berharga yang membuatnya terus bertahan.

Ketika ditanya rahasia ketahanannya di tengah medan dakwah yang penuh tantangan, Ikhsan menegaskan fondasi spiritualnya. “Saya berusaha menjaga niat, bahwa spirit berjuang di jalan dakwah ini karena Allah,” katanya yakin.

Baginya, terjun ke dunia dakwah bukan sekadar aktivitas biasa, tapi jalan hidup yang menjadi tempat ia berlatih ikhlas, kesabaran, dan tetap berkontribusi walaupun dalam segala keterbatasan.

Penopang lainnya adalah keteladanan ukhuwah dari para pendahulu Hidayatullah, serta keyakinan teguh bahwa semua perjuangan pasti bernilai di sisi Allah. Keyakinan inilah yang menjadikannya tegar menghadapi dinamika lapangan dan prasangka.

Saat ini, gerakan dakwah Ikhsan meliputi pembinaan mualaf, majelis taklim dua kali sebulan yang dilakuakn bergantian antara masjid dan rumah warga, mengisi khutbah dan pengajian, serta mengajar TPA di Masjid To Karau dan Masjid Kodim.

Kunci keberhasilannya adalah kolaborasi. Ikhsan aktif berjejaring dengan penyuluh agama dan Babinsa. “Mereka sudah lama di sini, lebih tahu kondisi. Kami bisa belajar sama mereka,” ujarnya. Kolaborasi ini membuka wawasan tentang kebutuhan umat yang tak terjangkau jika bekerja sendiri. “Mereka sangat support, saling menguatkan.”

Ikhsan aktif berjejaring dengan penyuluh agama dan Babinsa. “Mereka sudah lama di sini, lebih tahu kondisi. Kami bisa belajar sama mereka,” ujarnya. Kolaborasi ini membuka wawasan tentang kebutuhan umat yang tak terjangkau jika bekerja sendiri, dan mendapat support yang saling menguatkan.

Di tengah aktivitas dakwahnya, ada sebuah cerita tak terlupakan. Kisah ini datang dari Akbar, yang ketika mendengar namanya semua orang akan mengira sang pemilik nama adalah muslim. Namun nyatanya ia tidak lagi islam. Ia datang dengan sejuta harapan.

“Dia bilang, ‘saya nonis ustadz, tapi bapak saya ini Islam dan mati dalam keadaan Islam, jadi kami dari pihak keluarga berbersepakat mau minta didoakan untuk almarhum kepada Ustadz’,” kenang Ikhsan.

Yang membuatnya terharu, meski Akbar dan sebagian keluarganya non-Muslim, mereka tetap ingin mendoakan orang tua mereka dengan cara Islam. “Mereka cari ustaz, keliling, akhirnya datang ke sini.” Cerita ini menjadi bukti nyata toleransi dan penghormatan yang hidup di masyarakat Toraja.

Namanya dakwah, perjalanannya tentu tidak selalu mulus. Ikhsan juga mengalaminya. Misalnya, saat pesantren kilat Ramadhan digelar, sempat beredar isu negatif.

“Sampai ada isu-isu disampaikan ke Babinsa bahwa di sini tempatnya teroris,” kenang Ikhsan. Namun, Babinsa yang telah memahami gerakan Hidayatullah turun tangan memberikan penjelasan. Dukungan bahkan datang dari Kodim yang meminta Ikhsan mengajar TPA di masjid kompleks Kodim, yang bagi Iksan menjadi sebuah valdiasi dan sertifikasi kepercayaan dari aparat setempat.

Di balik semua aktivitas dakwahnya, Ikhsan berpegang pada prinsip mendasar: “Dimanapun kau tinggal, pasti kau mati. Pasti kau mati.” Pesan ini yang selalu diingatnya dari para pendahulu Hidayatullah. “Jadi, apa yang kita mau bawa? Kecuali bekal untuk berbuat baik kepada sesama, memperjuangkan Islam.”

Senja mulai turun di Toraja Utara. Ikhsan menyelesaikan wawancara dengan senyum dan salam penuh damai. Di tanah dimana Muslim adalah minoritas, ia membuktikan bahwa dakwah yang tulus tak perlu menggurui. Cukup dengan keteladanan, kesabaran, dan kolaborasi, pesan Islam bisa sampai dari hati ke hati. Seperti katanya, “Kita ini mau di tempat dimanapun, pasti akan mati. Yang kita bawa hanyalah bekal.” Dan bekal terbaik adalah perjuangan yang ikhlas karena-Nya.

Kisah Ustadz Ikhsan adalah cerminan dakwah bil-hikmah yang sukses menembus batas-batas sosial di tengah minoritas. Harapannya untuk Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sulawesi Selatan yang akan datang adalah agar forum tersebut dapat menjadi ajang untuk memperkuat solidaritas, memperbarui niat, dan meneguhkan arah perjuangan dakwah yang berbasis pada keteladanan dan kolaborasi, seperti yang telah terbukti berhasil di Toraja Utara.

Reporter: Basori Shobirin

Dari Turun Kelas Menjadi Ketua Yayasan: Kekuatan Gerakan Nawafil Hidayatullah Mengubah Nasib Ustadz Abdul Jabbar

0

TAHUN 1996 menjadi titik balik pahit dalam hidup Ustadz Abdul Jabbar. Remaja kelas 2 SMA asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, itu harus menerima kenyataan yang terasa seperti tamparan keras. Oleh seorang Ustadz, Ia diminta turun ke bangku SMP setelah beberapa bulan mengikuti pembelajaran di Pondok Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. 

“Postur tubuh saya masih kecil waktu itu. Di pesantren, santri SMA sudah harus bisa berceramah di podium besar dan menghafal Juz 30. Saya? Mengaji Alquran saja belum fasih, bahasa Indonesia pun masih terbata-bata,” kenang Ustadz Abdul Jabbar (45), suara bergetar mengingat momen 28 tahun silam.

Namun, justru di balik label “turun kelas” ini tersimpan hikmah terbesar yang mengubah jalan hidupnya, mengantarnya menjadi Ketua Yayasan Hidayatullah Parepare seperti sekarang.

Keputusan seorang Ustadz yang memintanya kembali ke bangku SMP bagai pukulan telak, tetapi menjadi pelecut dirinya untuk berkembang. Walau terasa berat dan terpaksa, ia mencoba menjalani hari-harinya dengan tabah. 

“Dengan berat hati saya terima. Sudah terlanjur merantau dan jauh dari kampung, apa boleh buat,” ujarnya, senyum getir mengingat sulitnya beradaptasi. Aksen Bantaengnya yang kental harus berhadapan dengan bahasa Indonesia formal, sementara standar bacaan Alquran di pesantren jauh dari kemampuannya.

Namun, semangatnya tak lantas pupus. Setelah berhasil menuntaskan MTs-nya di pesantren tersebut, ia dengan sabar kembali melanjutkan ke tingkat Aliyah. Saat ada momen pengiriman santri untuk ditempatkan ke cabang pesantren lain, ia justru yang proaktif mendatangi kepala pendidikan, meminta agar dirinya juga dikirim.

“Saya minta dikirim juga. Saya haus ilmu yang lebih luas,” ujarnya, menandakan tekadnya yang tak pernah padam.

Keinginannya dikabulkan, dan ia dikirim ke Makassar. Meskipun secara resmi terdaftar sebagai siswa kelas 1 SMA, setahun mengikuti pendidikan, ia nekat meminta ikut ujian kelulusan SMA. “Ustaz dan guru-guru terkejut, begitu juga teman-teman. Tapi alhamdulillah, saya lulus. Ironisnya, senior-senior saya justru menjadi junior saya saat itu,” kenang Jabbar disertai tawa, mengingat plot twist kehidupan yang ia jalani berkat ambisi belajarnya.

Tahun 2000 menjadi babak baru perjuangan. Sambil kuliah di Fakultas Ekonomi UMI dengan beasiswa, ia memulai kontribusinya di Hidayatullah dari posisi paling bawah sebagai petugas donatur. 

“Kami jalan kaki keliling kota, menggalang dana sambil membawa kotak amal. Saat itu, struktur seperti BMH belum ada,” ujarnya, mengenang perjuangan fisik di masa awal.

Dari langkah kaki sebagai petugas donatur di Makassar itu, ia terus melangkah menerima amanah. Kariernya meroket dari mengelola SMP di Belopa (2011), memimpin yayasan di Palopo (2014), Sorowako (2018), hingga merambah Gorontalo (2020). “Bagai tentara dakwah yang siap ditempatkan di mana pun,” ujarnya, menyiratkan dedikasi tanpa batas.

Rahasia ketahanannya di tengah mobilitas tinggi ini terletak pada Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH).  “Ini bukan sekadar program, tapi kerangka hidup yang membentuk disiplin spiritual melalui amalan sunah: salat berjamaah, infak, salat lail, tilawah Alquran, hingga puasa sunah.”

GNH, katanya, menjadi sistem pengendali kehidupan yang menjaga konsistensi ibadah. Pengalaman hidup mandiri di luar pun tak mampu memutuskan ikatannya dengan kebersamaan pesantren. “Di sini, setiap aktivitas dalam bingkai GNH berpotensi menjadi amal saleh.”

Kini, di bawah kepemimpinannya, Ponpes Hidayatullah Parepare memiliki 200 santri dari tingkat TK hingga SMA, unit usaha akikah berkembang, dan menghadirkan 11 Rumah Quran bersama pengurus dan aktivis dakwah DPD Hidayatullah Parepare. Pencapaian terbarunya adalah mengamankan bantuan pemerintah pusat senilai Rp1,6 miliar untuk pembangunan gedung sekolah.

“GNH mengajarkan bahwa amalan sunah bukan sekadar ritual, tapi modal spiritual untuk pergerakan dakwah,” tuturnya. Dari santri yang dipaksa “turun kelas” menjadi Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Parepare, perjalanan 28 tahun Ustadz Abdul Jabbar membuktikan: terkadang, kita harus berani turun sejenak sebelum mampu melompat lebih tinggi—sebuah filosofi yang mengubah jalan hidupnya.

Kisah Ustadz Abdul Jabbar menjadi refleksi penting menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sulawesi Selatan yang akan datang. Perjalanannya menegaskan bahwa kepemimpinan lahir dari tempaan spiritual dan kesediaan untuk berkorban serta beradaptasi demi kebutuhan dakwah. Semangat GNH dan militansi yang ia tunjukkan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kader lain untuk memperkuat fondasi spiritual dan komitmen pelayanan umat di seluruh wilayah.

Reporter : Bashori Shobirin

Jurus Kolaborasi Ustadz Syahril: Mengubah Rumah Warga Jadi 12 Rumah Qur’an di Parepare

0

Di Kota Parepare, mendirikan lembaga dakwah tak lagi hanya berarti membangun gedung megah. Justru, gerakan dakwah paling masif lahir dari kolaborasi organik di tingkat akar rumput. Buktinya, keberhasilan pendirian 12 Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) di bawah koordinasi DPD Hidayatullah Parepare bukan semata hasil kerja pengurus, melainkan buah sambutan hangat dan inisiatif aktif dari masyarakat.

“Yang luar biasa, masyarakat tidak hanya menerima, tapi aktif berinisiatif menyediakan berbagai fasilitas pendukung,” ungkap Ustadz Ahmad Syahril, S.Pd. Ketua DPD Hidayatullah Kota Parepare, menggarisbawahi kunci sukses gerakan ini.

Cahaya senja yang memudar di Cappa Galung, Parepare, menjadi saksi bisu geliat ini. Di sebuah rumah sederhana, suara lantunan Al-Quran terdengar berirama. Di sana, Hj. Sudarti (62), duduk bersila membetulkan bacaan dan makhraj hurufnya di hadapan Ustadz Syahril.

Di usianya yang tak lagi muda, Hj. Sudarti justru menemukan semangat baru. “Rumah kami dijadikan Rumah Quran Ar-Razzaq, anugerah terindah. Saya, suami, dan anak-anak semua antusias belajar. Alhamdulillah,” ujarnya.

Pemandangan inilah yang kian marak di Parepare. Keunikan program RQ Hidayatullah ini terletak pada pesertanya yang didominasi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak lanjut usia yang tak kenal lelah membenahi bacaan Kitab Suci mereka.

Lalu, apa yang membuat gerakan yang menyasar generasi tua ini begitu diterima dan menular? Ustadz Syahril, yang memulai perjalanannya berkontribusi di Hidayatullah di Sekolah Dai Ciomas pada 2016, menjawabnya dengan lugas, “Prinsip kepemimpinan di Hidayatullah.”

Fondasi kepemimpinan yang kuat dan visioner inilah yang membuatnya bertahan, berkomitmen, dan kini menjalankan amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah Parepare.

Di bawah kepemimpinannya (2023-2025), program utama yang digulirkan adalah pengembangan Rumah Qur’an. Gerakan ini fokus pada dakwah dan pelayanan umat, khususnya membumikan pembelajaran Al-Quran secara sistematis dan menyenangkan menggunakan Metode Grand MBA (Gerakan Belajar dan Mengajarkan Al-Quran).

“Masyarakat butuh pembelajaran Quran yang sistematis. Kami hadir menjawab kebutuhan itu,” jelasnya.

Hasilnya nyata. Dari satu titik, kini telah bermekaran 12 Rumah Qur’an yang tersebar di berbagai sudut kota. Yang membanggakan, lahirnya RQ ke-3 dan seterusnya justru datang dari inisiatif dan antusiasme masyarakat sendiri.

“Mereka saling mengajak, menyediakan fasilitas secara sukarela, bahkan mengatur jadwal pengajar. Itu bentuk antusiasme nyata,” cerita Ustadz Syahril.

Antusiasme itu bukan tanpa alasan. Testimoni Hj. Halimah, salah satu peserta, menggambarkan transformasi spiritual yang ia rasakan, “Yang paling terasa, shalat jadi lebih khusyuk, kita lebih fokus pada bacaan.”

Efek domino pun terlihat. Ustadz Syahril menuturkan, setelah mengikuti pembelajaran, banyak perubahan signifikan dalam keluarga. “Bapak-bapaknya makin rajin ke masjid, ibu-ibunya lebih banyak waktu dengan Quran, dan anak-anaknya dikirim ke pondok atau TPA. Mereka merasakan langsung manfaatnya, lalu mengajak orang lain. Dari situlah Rumah Quran berikutnya lahir.”

Perjalanan tentu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar justru datang di awal, meyakinkan masyarakat bahwa program ini tulus, tanpa tendensi materi atau kepentingan pribadi. “Sebelum kami, banyak lembaga lain datang. Ujung-ujungnya, urusan finansial. Butuh waktu 2-3 bulan untuk membuktikan bahwa program kami sistematis dan tulus,” kenang Syahril.

Di tengah kesibukan dakwah tatap muka, Syahril juga tak menghindar dari medan dakwah baru di era digital. Aktif di media sosial dengan konten-konten keislaman, ia kerap dihadapkan pada persepsi tentang “personal branding”. Dengan bijak, ia menepisnya. 

“Ini bukan untuk diri saya sendiri. Ini cara kami ‘membawa’ lembaga, memperkenalkan bahwa Hidayatullah punya dai yang bisa tampil di publik. Efeknya, kerja sama dengan masjid-masjid dan lembaga lain pun terbuka,” paparnya. Baginya, dakwah digital adalah keniscayaan yang potensinya jauh lebih besar, meski pada awalnya belum familiar di kalangan internal.

Di tangan Ustadz Ahmad Syahril, Parepare menyaksikan sebuah transformasi lembut. Bukan hanya lewat gemuruh orasi, tetapi dengan deru napas panjang para orang tua yang dengan tekun menyuarakan huruf-huruf Ilahi. Semangat para lansia ini adalah pelajaran hidup bahwa memeluk Al-Qur’an tidak pernah ada kata terlambat, dan semangat mereka adalah cahaya yang terus menular, menerangi kota dari rumah ke rumah.

Menyambut Musyawarah Wilayah (Muswil) 2025 ke-VI Hidayatullah Sulawesi Selatan yang akan datang, kisah Parepare ini menjadi contoh nyata model dakwah pelayanan umat berbasis masyarakat. Harapannya, semangat kolaborasi organik ini dapat menjadi inspirasi bagi DPD lain untuk memperkuat fondasi dakwah dan pendidikan Al-Qur’an di seluruh Sulawesi Selatan./*

Reporter: Basori Shobirin

DPD Hidayatullah Parepare Resmikan RQH ke-12, Terbanyak di Sulawesi Selatan

0

Parepare (HidayatullahSulsel.or.id) — Program pembinaan Al-Qur’an di Kota Parepare kembali mencatat capaian signifikan. Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Nur Yasin kini resmi menjadi RQH ke-12 yang dikelola DPD Hidayatullah Parepare. Peresmian RQH yang berlokaasi di Jl. M. Yusuf Kullange, Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat digelar kemarin, Kamis (20/11/2025).

Peresmian ini menegaskan tren positif pertumbuhan pusat belajar Qur’an yang dikelola oleh DPD Hidayatullah Kota Parepare. Tren peningkatan tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di wilayah kerja DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Ketua DPD Hidayatullah Parepare, Ahmad Syahril, dalam sambutannya mengatakan bahwa kehadiran RQH Nur Yasin merupakan bukti semakin kuatnya kesadaran masyarakat dalam belajar Al-Qur’an secara sistematis.

“Ini kabar gembira untuk kita semua, khususnya masyarakat setempat. Rumah Qur’an ini hadir sebagai ruang terbaik untuk belajar Qur’an dengan metode yang mudah dan menyenangkan. Kami bersyukur masyarakat begitu antusias menyambutnya. Semoga RQH ini menjadi jalan menuju terbentuknya pribadi-pribadi terbaik, sesuai sabda Nabi: ‘Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya’,” ujar Syahril.

Tuan rumah sekaligus pemilik lokasi RQH, Nuryasi Rasip, S.P, tak kuasa menahan haru saat peresmian berlangsung.

“Alhamdulillah, ini seperti jawaban dari doa-doa kami. Sejak lama kami ingin punya waktu dan ruang yang efektif untuk belajar Qur’an. Harapannya kami istiqamah dan semakin banyak warga yang datang mengaji di sini,” ungkapnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Usatdz Drs. Nasri Bohari, M.Pd.I, hadir langsung meresmikan RQH tersebut. Dalam tausiyahnya sebelum launching, ia menegaskan bahwa program Qur’an merupakan sumber kebahagiaan dan ketenteraman jiwa, sebagaimana pesan dalam QS. Yunus 57–58.

“Qur’an itu membahagiakan. Ketika seseorang duduk dalam majelis pembelajaran Al-Qur’an, ketenteraman akan hadir. Inilah janji Allah bagi siapa pun yang memberikan waktu terbaiknya untuk belajar Kitabullah,” tegas Ustadz Nasri.

Acara peresmian turut dihadiri Kadept Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel, jajaran pengurus Gerai BMH Parepare, Mushida Parepare, serta tokoh RT/RW setempat. Dengan bertambahnya RQH Nur Yasin, Parepare kini menjadi salah satu kota dengan jaringan RQH terbanyak di kawasan pesisir utara Sulawesi Selatan, sekaligus menegaskan keberhasilan DPD Parepare dalam mendorong penguatan literasi Qur’ani masyarakat.

Jalan Pulang Zainudin: Menemukan Makna di Hidayatullah Setelah Lika-Liku Perantauan

0

BAGI sebagian orang, hijrah adalah perpindahan sekali jalan menuju ketenangan. Namun, bagi Zainudin, Ketua DPD Hidayatullah Barru, perjalanan spiritualnya adalah kisah bolak-balik antara kegalauan remaja dan panggilan hati.

Setelah perkenalan pertamanya dengan pesantren pada tahun 2010, ia sempat terjerumus dalam fase kegamangan, merantau mencari peruntungan di luar.

Akan tetapi, saat segala arah terasa buntu, justru di tengah kekosongan itulah Zainudin menemukan jalan kembali, sebuah ketenangan hakiki yang bersembunyi di balik kesederhanaan para ustadz di Hidayatullah.

Perkenalannya dengan pesantren Hidayatulllah berawal pada 2010 di Bulukumba, melalui guru TPA-nya yang merupakan seorang kader Hidayatullah.

“Beberapa kali diajak ikut pengajian, mendengarkan kajian dari ustadz-ustadz Hidayatullah. Hati ini pun merasa tenang,” kenangnya. Namun, ketenangan itu tidak lantas mengunci tekadnya.

Antara 2012 hingga 2015, Zainudin memilih jalur berbeda. “Saya merantau. Mencoba peruntungan dan kehidupan lain di luar,” aku pria yang kini memimpin Hidayatullah Barru ini. Ironisnya, titik balik itu terjadi tujuh bulan setelah ia tamat SMA, saat ia menganggur dan tanpa arah tujuan.

Dalam kondisi paling tidak menentu, ia kembali diajak mengunjungi pesantren Hidayatullah. “Di situlah saya menemukan ketenangan,” katanya dengan nada mengharukan.

Yang paling berkesan baginya adalah kesederhanaan hidup dan ketertiban ibadah yang dipraktekkan dan diperagakan para ustadz.

“Diajarkan sholat berjamaah dengan tertib, kaki harus rapat, berbaju putih. Rasanya, inilah tempat yang tepat untuk belajar dan mempraktikkan Islam secara kaffah,” ujar Zainudin.

Ajakan teman dan motivasi para ustadz pembina pada akhirnya membulatkan tekadnya. Pada 2015, ia memutuskan kembali dan mengabdi sepenuhnya.

Pengabdian Zainudin ditandai dengan mobilitas tinggi. Dari Bulukumba, ia berpindah sebagai sekretaris yayasan dan kepala sekolah di Bone, bertugas di Wajo, hingga akhirnya dipercaya memimpin DPD Hidayatullah Barru. Setiap perpindahan tugas adalah ujian kesabaran dan keteguhan iman.

“Kuncinya adalah menjaga konsistensi spiritual,” tegasnya. Ia mengaku selalu mengandalkan kekuatan ibadah nawafil seperti shalat berjamaah, shalat lail, serta zikir pagi dan petang, yang jika ditinggalkan akan terasa ada yang mengganjal. Bagi Zainudin, menjaga hubungan dengan Allah (hablum minallah) adalah pondasi utama dalam menghadapi segala persoalan.

Lantas, apa yang membuatnya bertahan hingga kini di tengah segala dinamika? Menurut Zainudin, jawabannya terletak pada visi dan misi Hidayatullah yang jelas.

“Mau kemana lagi? Di sini ada visi, misi, dan tujuan yang jelas, khususnya dalam mencari ridha Allah,” tegasnya dengan mata berbinar.

Visi inilah yang menjadi perekat bagi seluruh kader dan menjadi sumber support dari senior dan orang tua. Dinamika yang dihadapinya, suka dan duka, suka cita dan pengorbanan, justru dipandangnya sebagai keindahan berjuang. Bahwa setiap langkah adalah ibadah, setiap pengorbanan adalah jalan mendekat kepada-Nya.

Perjalanan Zainudin membuktikan bahwa kadang, justru di saat-saat paling tidak menentu, seseorang bisa menemukan jalan terangnya. Dan baginya, jalan terang itu ditemukan dalam pengabdian melalui Hidayatullah, sebuah perjalanan panjang mencari makna yang mengantar pada jalan istiqamah.

Menyambut Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sulawesi Selatan ke-VI yang akan digelar pada 5-7 Desember 2025 mendatang, Zainudin menyampaikan harapan besarnya. “Saya berharap lahir pemimpin baru yang punya motivasi dan semangat tinggi, yang bisa menjadikan Hidayatullah Sulsel sebagai gerakan unggul, khususnya di tarbiyah dan dakwah.”

Ia juga berharap Muswil kali ini bisa menghasilkan terobosan baru yang membuat kegiatan amal usaha dapat mendukung dakwah secara lebih masif dan melibatkan lebih banyak kader./*

Reporter : Bashori Shobirin
Editor : Cakdul

Tiga Pilar Penjaga Istiqamah: Rahasia Ustadz Muhammad Kaisar Bertahan 30 Tahun di Samudra Dakwah Hidayatullah

0

Maros (HidayatullahSulsel.or.id) – Samudra dakwah tak selamanya tenang. Itu adalah adagium yang dipegang teguh oleh Ustadz Drs. Muhammad Kaisar.

Setelah tiga dekade mengarungi gelombang tantangan silih berganti, mulai dari Parepare hingga Makassar, Ketua DPD Hidayatullah Maros ini menegaskan bahwa keteguhan (istiqamah) bukanlah anugerah, melainkan pilihan mati-matian yang harus dipertahankan.

Konsistensi inilah yang ia sebut sebagai jantung perjuangan, yang ternyata berdiri di atas tiga pilar kokoh yang tak pernah goyah.

Pria yang telah mengabdikan diri di Hidayatullah sejak tahun 1990 ini berbagi resep rahasia di balik dedikasi panjangnya. “Istiqamah bukan sekadar hiasa di bibir, melainkan pilihan yang harus diperjuangkan setiap saat,” ujarnya. Dalam perbincangan hangat di pondoknya, Ustadz Kaisar membeberkan kerangka fundamental yang menjadi benteng pertahanannya.

“Keteguhan kami di lembaga dakwah ini berdiri di atas tiga pilar yang tak bisa ditawar,” tuturnya dengan suara tenang penuh keyakinan.

Pilar-pilar tersebut telah menjadi kompas penunjuk bagi perjalanannya dari Parepare, Palopo, Masamba, hingga kembali memimpin di Makassar.

Ia kemudian merincikan tiga pondasi tersebut. Pilar pertama adalah Sistematika Wahyu sebagai kompas petunjuk mutlak yang tak pernah usang oleh zaman.

Pilar kedua adalah Kepemimpinan yang berfungsi sebagai penjaga barisan, perekat, dan pengarah dalam setiap langkah perjuangan organisasi.

Terakhir, Pilar ketiga adalah Jati Diri Hidayatullah yang ia sebut sebagai benteng kokoh menghadapi berbagai godaan, tantangan internal, dan ujian di lapangan.

Namun, di balik keteguhan pada sistem internal tersebut, pria yang karib disapa Ustadz Kaisar ini justru menyoroti tantangan terbesar yang kini dihadapi lembaga dakwah dan pendidikan Islam secara luas. Tantangan itu ternyata tidak hanya datang dari luar, melainkan dari kedalaman penerimaan publik.

“Yang paling perlu penanganan khusus adalah bagaimana agar ilmu dan dakwah kita ini betul-betul dikuasai dan diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujarnya dengan nada serius. Menurutnya, setelah semua teori dan konsolidasi internal selesai, ujian sejati justru terletak di lapangan, yaiyu di hati masyarakat yang kita layani.

Untuk menjawab tantangan penerimaan publik dan akselerasi dakwah tersebut, Ustadz Kaisar menekankan pentingnya pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM). “Kita membutuhkan pengelola pondok yang tidak hanya ahli manajemen, tetapi juga memiliki penguasaan ulumuddin (ilmu agama) yang mendalam,” tegasnya.

Baginya, seorang pengelola pesantren bukanlah administrator semata. Ia adalah guru kehidupan, penjaga ruh ilmu, dan teladan bagi santri-santrinya. Inilah faktor penentu keberlangsungan perjuangan dakwah di masa depan.

Dalam visinya untuk memperkuat barisan Hidayatullah, ia menyambut baik setiap kaderisasi baru. “Kita perlu memperbanyak anggota, bukan untuk sekadar jumlah, tetapi untuk akselerasi dakwah.” Setiap kader baru, baginya, adalah energi segar untuk menjangkau lebih banyak hati di tengah masyarakat.

Perjalanan 30 tahun Ustadz Kaisar adalah bukti nyata bahwa dakwah adalah marathon, bukan sprint. “Konsistensi dalam menjaga tiga pilar inilah yang akan menentukan sejauh apa kita bisa berlari mengabdi untuk umat,” tutupnya dengan penuh ketulusan, sembari terus menyiapkan pelari-pelari estafet terbaik, generasi yang kokoh dalam Jati Diri untuk melayani masyarakat luas. (Basori Shobirin)

Spirit Wahyu: Ikhtiar yang Bertawakal

0

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS. Ali Imran: 159)

Hidup adalah dua tarikan napas. Satu bernama ikhtiar, satu lagi bernama tawakal. Seperti dua sayap burung, keduanya tidak pernah berdiri sendiri. Tanpa ikhtiar, tawakal kehilangan makna. Tanpa tawakal, ikhtiar kehilangan arah.

Dalam pandangan wahyu, usaha bukan sekadar gerakan fisik, tapi ibadah. Dan tawakal bukan sekadar menyerah, tapi penyerahan diri yang lahir dari keyakinan bahwa Allah lebih tahu jalan terbaik bagi hamba-Nya. Ikhtiar tanpa tawakal mudah berubah menjadi kesombongan. Sebagaiana tawakal tanpa ikhtiar mudah berubah menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

Kadang kita terlalu terpaku pada hasil, seolah-olah nasib berada dalam genggaman kita. Padahal, tugas manusia hanya satu. Yaitu, melakukan yang terbaik dengan cara yang halal dan terhormat. Selebihnya, biarkan Allah bekerja melalui jalannya yang misterius.

Seperti layaknya seorang petani. Ia menanam, menyiram, menjaga dari hama. Tapi ia sadar, hujan dan tumbuhnya bibit bukan kekuasaannya. Ia bergerak, tapi hatinya berserah pada Sang Pemberi Hidup.

Begitu pula rezeki. Ia datang bukan karena kita paling pandai mengelola, tetapi karena Allah mengizinkannya hadir dalam hidup kita.

Dalam dunia tarbiyah pun demikian. Kita mendidik santri, menanamkan nilai, mengalirkan ilmu, menggunakan semua metode, pendekatan, dan perangkat pembinaan. Tetapi tetap saja, ada santri yang hasilnya tak seperti yang kita harapkan. Pada titik itu, kita kembali diingatkan. Bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah.

Prinsip ini juga menjadi fondasi ekonomi syariah. Islam mengajarkan bahwa bekerja itu ibadah, dan berserah itu iman. Dua hal yang melahirkan keberkahan ketika keduanya bertemu dalam dada seorang mukmin.

Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik. Beliau berdagang, menyusun strategi perang, memimpin umat. Semuanya dilakukan dengan kesungguhan, namun hatinya senantiasa terpaut penuh kepada Allah.

Sering kita merasakan pahitnya usaha. Ketika proposal tak berbalas. Ketika rencana gagal. Ketika janji manusia menguap. Lalu kita bertanya-tanya, “Mengapa tidak sesuai harapan?”

Namun pada akhirnya, pengalaman selalu berbisik bahwa Allah tak pernah mengecewakan hamba yang sungguh-sungguh. Kadang Dia tidak memberi yang kita minta, karena sedang menyiapkan sesuatu yang tak kita duga.

Pada titik-titik lemah, kita kadang tergoda untuk berprasangka buruk. Tapi justru di sana tawakal menunjukkan maknanya. Bukan untuk berhenti berusaha, tetapi tetap berjalan, meski kita tidak tahu apa yang menunggu di ujung jalan. Tawakal membuat langkah menjadi ringan, karena hati tidak lagi terikat pada hasil, tetapi pada ridha Allah.

Seorang mukmin menanam pohon amal dengan sungguh-sungguh, tetapi ia tahu bahwa buahnya tumbuh pada musim yang Allah tentukan. Ia bergerak, namun batinnya tenang. Ia bekerja, namun hatinya pasrah.

Maka jangan berhenti ketika hasil belum terlihat. Bisa jadi, Allah sedang menumbuhkan akar-akar keberkahan jauh di bawah tanah. Kita belum melihat batang dan daun, karena di sana sedang tumbuh kekuatan yang kelak membuat pohon itu kokoh.*/

Bulcen, 18 November 2025


Sarmadani Karani, S.E., meruapakan seorang mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

Siswa TK Yaa Bunayya Raih Juara II Lomba Mewarnai IAIN Parepare, Sekolah Catat Prestasi Membanggakan

0

Parepare (HidayatullahSulsel.or.id) — TK Yaa Bunayya kembali mencatat prestasi membanggakan setelah salah satu siswanya, Nuril Insan Kamiilah, meraih Juara II pada Lomba Mewarnai Tingkat TK/PAUD Se-Kota Parepare yang digelar oleh IAIN Parepare dalam rangka kegiatan “Children Go To Campus”, Selasa (18/11/2025).

Prestasi tersebut juga menempatkan TK Yaa Bunayya sebagai salah satu sekolah di bawah naungan Yayasan Pesantren Hidayatullah Parepare dengan sederet prestasi membanggakan. Pada ajang ini, sekolah tersebut mengirimkan beberapa perwakilan siswa dengan persiapan yang diklaim lebih matang dibanding tahun sebelumnya.

Kepala TK Yaa Bunayya, Faridha, S.Pd.AUD, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. “Alhamdulillah, prestasi ini menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga besar TK Yaa Bunayya. Kami berharap keberhasilan Nuril menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus mengasah bakat dan minat mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa prestasi tersebut tidak hanya menjadi pemantik semangat bagi siswa, tetapi juga untuk para guru. “Ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan. Semoga ke depan lahir lebih banyak anak didik berprestasi, tidak hanya di bidang seni, tetapi juga di bidang-bidang lainnya,” kata Faridha.

Dukungan orang tua juga menjadi salah satu faktor keberhasilan siswa. Devi Mawarni, ibu dari Nuril, menyatakan bahwa kegiatan lomba memberi pengalaman penting bagi anak. “Mengikuti lomba membuat anak lebih aktif dan kreatif. Alhamdulillah, kali ini Nuril bisa meraih Juara II,” ungkapnya.

Kegiatan “Children Go To Campus” merupakan program pengenalan kampus bagi anak usia dini yang rutin diadakan oleh IAIN Parepare sebagai bagian dari literasi pendidikan sejak dini.

Prestasi siswa TK Yaa Bunayya diharapkan memperkuat posisi sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan anak usia dini yang konsisten mencetak generasi berkarakter qurani di Kota Parepare./*

Tadabbur Daily: Akrimi Matswahu

0
Oleh: Masykur Suyuthi*

“Akrimi matswahu!”

Sepotong kalimat beraroma antusiasme mengawali percakapan sepasang suami istri tersebut. Meski belum tahu pasti secara detail tentang sosok remaja yang baru saja dibelinya. Tapi setidaknya harapan dan optimisme tentang kebaikan itu selalu menyala.

Hal itu terungkap dalam tadabbur dialog petinggi Kerajaan Mesir (al-Aziz) bersama istrinya. Lebih rincinya Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: ‘Akarimi matswahu (Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik), boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.’ Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya,” (Yusuf [12]: 21).

Muliakan dengan pemberian serta pelayanan terbaik. Inilah pesan pertama orang yang membeli Yusuf muda tersebut. Bahwa untuk setiap tawaran dan peluang kebaikan, maka sikap yang paling utama adalah bersemangat menyambut seruan kebaikan tersebut.

Istimewanya, tak ada nama secara tersurat dalam al-Qur’an tentang siapa yang memberi pesan tersebut. Ini menunjukkan, tak sedikit kebaikan yang memang “tidak butuh” nama. Terkadang, ketulusan dan perbuatan baik yang berulang itulah justru yang melekat sebagai identitas dan alamat serta “mengalahkan” nama asli seseorang.

Pun tak perlu menunggu punya nama, menanti dapat jabatan elit, atau berharap jadi orang terkenal lebih dahulu untuk melakukan satu investasi kebaikan. Al-Qur’an sendiri sudah memberi garansi, apapun kebaikannya hingga secuil biji dzarrah sekalipun, Allah pasti menghitung dan menimbang seluruh niat baik dan proses perjuangannya.

Senada Nabi Muhammad juga memberi motivasi yang luar biasa. Yakni, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Bahwa amanah kepemimpinan adalah satu keniscayaan yang dipergilirkan oleh Allah.

Ada saatnya, ia dilimpahkan tanggung jawab sebagai pemimpin dalam lingkup manajemen dan struktural. Namun jika tiba masanya, maka kepemimpinan hingga kekuasaan manusia sekalipun dengan mudah Allah cabut dan berikan kepada yang lain. Semuanya berjalan sesuai dengan periode dan ketetapan Allah semata.

Demikian dalam urusan pendidikan dan dakwah. Amanah secara struktural organisasi atau lembaga formal selalu dibatasi masa dan periode. Namun tidak sebagai perannya. Setiap orang hendaknya terus berpikir maksimal dan berkontribusi optimal dalam proses giat tarbiyah dan dakwah demi lahirnya generasi emas yang dinanti.

Akrimi matswahu. Jangan takut berjuang dan berkorban untuk melahirkan generasi yang lebih baik di masa mendatang. Ambillah peran sebanyak-banyaknya. Teruslah berkontribusi seluas-luasnya. Berikan dedikasi yang terbaik untuk “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Senada, Ustadz Abdul Aziz Kahar Muzakkar (Tokoh dakwah nasional di Sulawesi Selatan) pernah mengatakan dalam satu obrolan di whatsapp, bahwa pekerjaan besar di Hidayatullah adalah menjadi murabbi (mencetak kader) dan itu tidak mengenal istilah pensiun.

Terakhir, terucap selamat dan sukses atas Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Sulawesi Selatan 2025 yang diselenggarakan di kota Makassar, awal Desember 2025 mendatang. Selamat atas lahirnya pemimpin-pemimpin baru Hidayatullah Sulawesi Selatan. Semoga senantiasa amanah dan istiqamah di jalan hidayah Allah.

*Dr. (C) Masykur Suyuti, Lc, M.Pd., Anggota Komunitas “Sahabat Puang Karua”.