Beranda blog Halaman 17

Pemuda Hidayatullah Sulsel Gelar SAPA, Mantapkan Peran Strategis Kader Muda

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) — Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan bersama Ikatan Alumni Al-Bayan (IKA Al-Bayan) Hidayatullah Makassar menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Perintis dan Pelanjut (SAPA) di Aula STAI Al-Bayan Makassar, Sabtu (22/11/2025).

Kegiatan yang bertema “Mewaris Nilai, Melanjutkan Misi” ini menegaskan pentingnya peran pemuda dalam menjaga kesinambungan dakwah Hidayatullah lintas generasi.

SAPA menghadirkan narasumber utama Ustadz Dr. Abdul Aziz Qahar Muzakkar, salah seorang perintis Hidayatullah Makassar. Dalam pemaparannya, ia membuka kembali perjalanan dakwah masa awal yang penuh tantangan, sekaligus meneguhkan nilai-nilai dasar yang menjadi ruh perjuangan hingga kini.

“Hidayatullah bukan lembaga eksklusif,” tegas Ustadz Aziz. “Siapa pun orangnya, apa pun profesinya, selama ia taat mengikuti tarbiyah Hidayatullah, maka ia adalah kader.”

Ketua Pemuda Hidayatullah Sulsel, Abdurrahman Sibghatullah, menyampaikan bahwa SAPA diselenggarakan untuk memperkuat hubungan emosional antara kader muda dan para perintis. “Melalui SAPA, kami ingin memastikan bahwa nilai perjuangan tidak hanya dihafal, tetapi diwarisi. Ke depan, SAPA akan terus menghadirkan lebih banyak perintis sebagai sumber motivasi dan penguatan ruh dakwah,” ujarnya.

Kehadiran sejumlah alumni Pesantren Hidayatullah turut memperkaya forum melalui masukan dan harapan mereka bagi penguatan gerakan pemuda di masa mendatang.

Dalam forum tersebut, Ustadz Abdul Aziz kembali menegaskan empat peran strategis yang harus dipikul Pemuda Hidayatullah. Ia menyebut peran tersebut sebagai fondasi penting bagi keberlanjutan kaderisasi:

“Pertama, pemuda harus menjadi inkubator kader, tempat pembentukan karakter dan kapasitas,” jelasnya. “Kedua, pemuda harus memiliki akses pada pendidikan politik yang aplikatif, agar peka terhadap dinamika sosial dan mampu berkiprah dalam pergerakan politik.”

Ia melanjutkan, “Ketiga, pemuda wajib hadir dalam advokasi sosial, membela masyarakat dan memberi solusi atas problem umat. Dan keempat, pemuda harus disiapkan menjadi kader profesional yang berdaya saing dan mampu mengisi berbagai lini kehidupan.”

Melalui SAPA, Pemuda Hidayatullah Sulsel berharap hubungan antar-generasi semakin kuat dan nilai-nilai dakwah dapat diwariskan secara utuh. Kegiatan ini dipandang sebagai jembatan penting antara jejak perintis dan langkah para pelanjut yang akan meneruskan misi besar Hidayatullah di masa depan./*

Reporter: Humas Pemuda

Dakwah Manhaji di Lingkar Tambang Luwu Timur

0
Oleh: Irfan Yahya*

Ada wilayah yang tidak cukup dibaca melalui angka-angka statistik atau peta administrasi. Ia harus didekati sebagai ruang hidup yang terus berubah, dipengaruhi oleh arus manusia, modal, dan nilai yang saling berkelindan dalam denyut nadi kehidupan.

Luwu Timur adalah salah satu wilayah itu. Di sini, agama, industri, migrasi, dan local wisdom hidup dalam satu tarikan napas yang panjang, kadang harmonis, kadang timbul kontraksi dan polarisasi.

Kabupaten ini membentang luas, hampir tujuh ribu kilometer persegi, dengan bentang alam yang kaya. Danau, sungai, pegunungan, serta sumber daya mineral yang menjadikannya salah satu simpul penting industri nikel nasional bahkan internasional. Lebih dari tiga ratus ribu jiwa mendiami wilayah ini, dengan struktur penduduk yang didominasi usia produktif.

Angka-angka resmi daerah memperlihatkan mobilitas penduduk yang tinggi, terutama di kecamatan-kecamatan yang berada di sekitar kawasan tambang. Pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan perubahan sosial yang cepat, meninggalkan jejak-jejak kerentanan yang tidak selalu kasatmata.

Di kawasan industri, manusia tidak hanya datang untuk bekerja, tetapi juga membawa nilai, kebiasaan, dan orientasi hidup masing-masing. Interaksi yang intens ini melahirkan masyarakat yang heterogen, dinamis, tetapi sekaligus rentan mengalami dislokasi sosial. Ikatan kekerabatan melemah, kontrol sosial longgar, dan agama sering kali terdorong ke ruang privat yang sakral untuk diusik .

Dalam situasi seperti ini, problem sosial tidak tumbuh karena ketiadaan agama, melainkan karena agama kehilangan ruang artikulasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi obyektif itulah efektifitas dakwah diuji. Bukan pada seberapa sering ia disuarakan, tetapi pada sejauh mana ia mampu hadir secara relevan dalam denyut nadi keseharian warga.

Kampus Madya Hidayatullah di Wawondula berdiri tepat di kawasan yang bisa disebut sebagai lingkar dalam tambang. Ia berada dekat dengan pusat industri, kawasan pemukiman pekerja, dan denyut ekonomi yang nyaris tidak pernah berhenti.

Posisi ini menuntut satu pilihan mendasar: dakwah tidak boleh berjarak dari realitas, namun juga tidak boleh larut di dalamnya. Dakwah manhaji harus tampil memberi warna dengan penuh hikmah.

Pola pendekatan yang digunakan tidak selalu harus bersifat seremonial. Dakwah di kawasan ini bekerja melalui hubungan personal, keteladanan hidup, dan kesabaran membangun kepercayaan.

Dakwah fardiyah menjadi pintu masuk yang paling mungkin. Interaksi personal, kebersamaan dalam rutinitas, selalu hadir dalam alam sadar dan bawah sadar masyarakat, semua itu menjadi medium penyemaian nilai-nilai manhaji. Iman dihadirkan dan dirawat agar tumbuh perlahan dan mengakar.

Walaupun dakwah manhaji tidak mentok pada relasi personal saja. Justru kekuatan utamanya terletak pada integrasi antara pendekatan fardiyah dan tata kelola organisasi. Kampus madya berfungsi sebagai etalase peradaban, ruang pembinaan ruhiyah, dan sekaligus laboratorium sosial untuk membaca perubahan masyaraka, khususnya di kawasan lingkar tambang.

Di luar kawasan inti tambang, terbentang wilayah-wilayah penyangga: Malili sebagai pusat pemerintahan dan simpul administratif, dan wilayah sekitarnya yang masih kuat dengan pola hidup agraris. Kampus-kampus penyangga Hidayatullah di wilayah lingkar luar ini membentuk jejaring yang saling menguatkan. Karakter masyarakatnya berbeda, ikatan sosial lebih terasa, namun tekanan perubahan tetap hadir melalui relasi ekonomi dan arus informasi dari kawasan industri.

Di wilayah lingkar luar tambang, dakwah memiliki ruang yang lebih luas untuk bekerja pada level komunitas. Pendidikan, pembinaan keluarga, dan penguatan nilai manhaji menjadi jembatan antara local wisdom dan tuntutan zaman. Lingkar luar berfungsi sebagai penyangga sosial, sementara lingkar dalam menjadi ruang uji ketahanan nilai. Keduanya tidak berdiri sendiri, melainkan saling menopang dalam satu desain gerakan yang sadar peta dan sadar tujuan.

Dokumen perencanaan pembangunan daerah menunjukkan kegelisahan yang sama: kualitas sumber daya manusia, ketahanan keluarga, dan degradasi moral generasi muda menjadi isu strategis. Narkoba, judi online, dan disorientasi nilai muncul sebagai gejala dari perubahan struktural yang tidak selalu diiringi kesiapan sosial. Kehadiran dakwah manhaji disajikan sebagai kerja nyata berbasis kebutuhan.

Di sinilah branding gerakan dakwah manhaji bekerja secara alamiah. Dibangun melalui kesadaran institusional yang konsisten. Pendidikan menjadi pintu masuk yang diterima oleh semua pihak. Pembinaan aqidah menjadi fondasi yang menguatkan karakter. Jejaring sosial yang dirawat kader menjadi modal kepercayaan publik. Negara membaca dakwah sebagai mitra, masyarakat merasakannya sebagai penyangga, dan individu menemukan rujukan moral yang tidak menghakimi.

Dakwah manhaji di kawasan lingkar tambang memperlihatkan bahwa institusi bukan lawan dari ketulusan. Justru institusi menjaga agar ketulusan tidak habis oleh kelelahan personal. Di tengah ritme industri yang keras dan logika ekonomi yang pragmatis, manhaj menjadi kompas. Ia memastikan bahwa setiap langkah dakwah tidak reaktif terhadap persoalan sesaat, tetapi bergerak dalam kerangka visi jangka panjang.

Luwu Timur akan terus berubah. Proses hilirisasi, ekspansi industri, dan integrasi ekonomi regional akan membuka peluang sekaligus tantangan baru. Dakwah tidak mungkin menahan laju perubahan tersebut, tetapi dapat mengarahkan cara manusia menyikapinya. Di wilayah seperti ini, dakwah bukan tentang membangun menara gading moral, melainkan tentang menyemai nilai manhji di tanah yang terus di eskploitasi dan dikonstruksui ulang atas nama industrialisasi.

Dakwah manhaji di lingkar tambang mengajarkan bahwa iman dapat bertumbuh bahkan di tengah deru gemuruh mesin industri, selama ia dirawat dengan kesabaran, dikelola secara sadar, serta dijaga dengan niat yang lurus. Membaca realitas hari ini dengan kejernihan wahyu, lalu menyiapkan masa depan umat dengan kerja-kerja profesional dan profetif serta berkelanjutan.Wallahualam.

*Dr. Irfan Yahya, Sosliolog Hidayatullah dan Peneliti di LPPOM UNHAS.

Kelurahan Cappa Galung Serahkan Bantuan Mushaf dan Meja Belajar untuk MQH Al Utrujah

0

Parepare (Hidayatullah Sulsel.or.id) — Majelis Qur’an Hidayatullah (MQH) Al Utrujah Cappa Galung kembali menerima dukungan penting dari Pemerintah Kelurahan Cappa Galung, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare.

Pada Sabtu (29/11/2025), pihak kelurahan menyerahkan bantuan mushaf Al-Qur’an dan meja belajar sebagai bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap penguatan budaya belajar Al-Qur’an di masyarakat.

Kepala Kelurahan Cappa Galung, Anshar Thalib, S.Sos, menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan komitmen kelurahan dalam mendorong terciptanya lingkungan yang ramah Al-Qur’an.

“Kami berharap mushaf dan fasilitas ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai sarana memperluas keberkahan ilmu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pihak kelurahan siap terus bersinergi dengan lembaga masyarakat dalam program-program keagamaan yang memberi dampak langsung bagi warga.

Dukungan ini disambut haru oleh jamaah MQH Al Utrujah yang setiap pekan istiqamah mengikuti halaqah pembelajaran Al-Qur’an. Bantuan meja belajar menjadi kebutuhan penting terutama bagi jamaah lanjut usia yang sedang meniti perbaikan bacaan secara bertahap, dari huruf ke huruf dan dari ayat ke ayat.

Pengajar MQH Al Utrujah, Ustadzah Sahlah, menyampaikan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah kelurahan. “Sinergi antara masyarakat dan pemerintah sangat berarti bagi keberlanjutan gerakan mencintai Al-Qur’an di Parepare,” ujarnya.

Melalui bantuan ini, Pemerintah Kelurahan Cappa Galung diharapkan dapat terus menjadi pelopor dukungan terhadap kegiatan keagamaan di wilayahnya, sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam memakmurkan Al-Qur’an.

Jazakumullahu khairan kepada Pemerintah Kelurahan Cappa Galung, Kecamatan Bacukiki Barat, atas kontribusi dan perhatiannya. Semoga setiap huruf yang dipelajari dan setiap halaman yang dibaca menjadi amal jariyah bagi seluruh pihak yang terlibat.

Dakwah Fardiyah di Tengah Detak Sosial Luwu Raya

0
Oleh: Irfan Yahya* 

Palopo adalah kota yang tumbuh dengan irama khas wilayah antara. Ia tidak sehingar-bingar seperti kota metropolitan, tetapi cukup dinamis untuk menghadirkan kompleksitas sosial yang nyata.

Secara demografis, Palopo menunjukkan karakter kota menengah dengan struktur penduduk yang didominasi usia produktif, tingkat mobilitas yang meningkat, serta ketergantungan ekonomi pada sektor jasa, perdagangan, pendidikan, dan aktivitas kepelabuhanan.

Data statistik daerah memperlihatkan bagaimana konsentrasi penduduk berada pada kawasan perkotaan inti, dengan arus sirkulasi harian yang menandai pergeseran gaya hidup, pola kerja, dan relasi sosial warganya.

Dalam konfigurasi semacam ini, Palopo tidak hanya memerlukan kebijakan pembangunan fisik yang memadai, tetapi juga sistem nilai yang mampu menahan laju disorientasi sosial.

Statistik kesejahteraan sosial menunjukkan tantangan yang tidak kecil: kerentanan ekonomi kelompok menengah bawah, meningkatnya paparan generasi muda terhadap risiko sosial, serta tekanan budaya digital yang bergerak lebih cepat daripada kesiapan mental masyarakat.

Angka-angka tentang pendidikan, kesehatan sosial, dan perilaku menyimpang tidak dapat dibaca semata sebagai data teknis, melainkan sebagai cerminan kebutuhan akan aktor moral yang konsisten dan dipercaya.

Di titik inilah dakwah menemukan relevansinya yang paling substantif. Bukan sebagai simbol keagamaan, tetapi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga kohesi, membangun ketahanan, dan mengarahkan perubahan.

Palopo yang selama ini dikenal dengan slogan religiusnya justru memperlihatkan paradoks klasik kota-kota berkembang: semakin terbuka pergaulan sosial, semakin besar pula risiko degradasi nilai. Fenomena narkoba, judi online, dan penyimpangan perilaku seks bukan saja persoalan moral individual, melainkan gejala struktural dari kota yang sedang tumbuh tanpa penyangga nilai moral yang kokoh.

Ketika pemerintah daerah secara terbuka menyampaikan kegelisahan tersebut, sesungguhnya yang tampak adalah pengakuan implisit terhadap keterbatasan instrumen negara dalam menjangkau wilayah paling dalam kehidupan warga.

Aparat dan regulasi bekerja pada level administratif, tetapi medan nilai membutuhkan pendekatan berbeda: kehadiran yang berulang, keteladanan yang konsisten, dan relasi personal yang berkelanjutan. Di ruang inilah Hidayatullah Palopo memperoleh signifikansinya sebagai institusi dakwah.

Kehadiran Hidayatullah di Palopo tidak dibaca sebagai sebuah dakwah eksklusif, melainkan sebagai simpul sosial yang beroperasi melalui pendidikan, pembinaan kader, dan dakwah. Kampus Madya Hidayatullah Palopo berfungsi lebih dari sekadar pusat aktivitas organisasi.

Ia menjadi ruang produksi nilai, tempat reproduksi kader, dan sekaligus jembatan antara kebutuhan masyarakat dan visi peradaban Islam yang aplikatif. Dalam proyeksi utuh kota dengan keterbatasan ruang publik bernuansa moral, kehadiran institusi semacam ini menawarkan stabilitas simbolik dan operasional.

Yang menarik, kekuatan institusi ini tidak bertumpu pada figur personal semata, melainkan pada sistem yang bekerja. Di balik bangunan organisasi, terdapat disiplin spiritual yang menjadi fondasi etos gerakan.

Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) memainkan peran sentral dalam hal ini. Ia merupakan mekanisme internalisasi nilai yang membentuk subjek dakwah yang tahan uji, tidak mudah goyah oleh medan sosial, dan mampu menghadirkan Islam dalam laku sehari-hari.

Dalam perspektif sosiologi agama, GNH dapat dibaca sebagai perangkat pembentuk habitus religius yang memungkinkan nilai-nilai Islam hadir secara stabil di ruang hidup modern saat ini.

Praktik GNH menciptakan korelasi yang menarik antara kesalehan personal dan daya jangkau sosial. Pada level individu, ia melatih disiplin, konsistensi, dan kontrol diri. Pada level institusi, ia melahirkan kader yang siap berinteraksi lintas sektor, dari pendidikan hingga ruang sosial yang paling cair.

Inilah yang menjelaskan mengapa dakwah Hidayatullah relatif diterima di berbagai lapisan masyarakat, termasuk oleh aktor-aktor non-struktural di luar komunitas internalnya. Dakwah tidak tampil sebagai ekspansi organisasi, tetapi sebagai penawaran kebaikan yang hadir melalui perilaku.

Pendekatan dakwah fardiyah yang menguat dalam tubuh Hidayatullah menjadi elemen kunci yang memperhalus kerja institusional tersebut. Pendidikan, pengelolaan aset, dan penguatan jejaring sosial tidak dibangun melalui tekanan structural semata, melainkan melalui akumulasi kepercayaan.

Relasi personal yang intensif membuka ruang dialog, meminimalkan resistensi, dan memungkinkan kolaborasi lintas identitas. Dalam konteks Palopo yang plural secara sosial dan kultural, pendekatan semacam ini terbukti strategis.

Dari sudut pandang pembangunan sosial, model dakwah ini berperan sebagai katalisator. Ia tidak mengambil alih fungsi negara, tetapi melengkapinya. Pendidikan Islam yang dikelola secara profesional membantu mengisi kebutuhan layanan dasar, sekaligus menanamkan nilai karakter.

Rumah Quran yang tumbuh di tengah permukiman berfungsi sebagai ruang aman bagi anak-anak dan remaja, mengurangi potensi keterpaparan terhadap risiko sosial. Aktivitas dakwah yang menyatu dengan kehidupan warga menciptakan jaringan sosial yang memperkuat resiliensi masyarakat.

Data statistik daerah yang memperlihatkan dominasi usia produktif dan tingginya populasi pelajar sesungguhnya menandai peluang sekaligus tantangan. Kota seperti Palopo membutuhkan institusi yang mampu mengelola potensi demografis ini secara berkelanjutan.

Dalam konteks itulah Hidayatullah memposisikan diri bukan sekadar sebagai organisasi dakwah, melainkan sebagai aktor pembangunan manusia berbasis nilai. Kehadiran nyata dalam siklus pendidikan, pembinaan, dan pelayanan sosial.

Sebagai sosiolog Muslim, membaca fenomena ini berarti melihat dakwah bukan sebagai aktivitas normatif semata, tetapi sebagai proses konstruksi peradaban.

Kota, betapapun kecil atau menengah skalanya, adalah arena di mana arah masa depan masyarakat dipertaruhkan. Struktur sosialnya lentur, sehingga mudah dibentuk; tetapi justru karena itu pula rentan terhadap deviasi. Institusi dakwah yang mampu bekerja dengan disiplin nilai, pendekatan personal, dan sistem yang rapi berpotensi menjadi jangkar moral bagi kota semacam ini.

Palopo dengan seluruh kompleksitasnya memperlihatkan bahwa persoalan sosial tidak selalu membutuhkan solusi spektakuler, melainkan konsistensi kehadiran.

Hidayatullah hadir dengan ritme panjang, menanam nilai secara perlahan, dan membiarkan institusi bekerja melampaui figur. Inilah kekuatan branding gerakan: ketika masyarakat mengenali manfaatnya sebelum menyadari siapa aktornya.

Pada akhirnya, transformasi dakwah di Palopo tidak dapat diukur hanya dari pertumbuhan lembaga atau jumlah kegiatan. Ia tercermin pada meningkatnya kepercayaan, terbukanya ruang kolaborasi, dan hadirnya alternatif moral di tengah tekanan sosial kota.

GNH menjadi fondasi yang menautkan spiritualitas dan kerja sosial, sementara institusi memastikan keberlanjutan gerakan.

Palopo masih akan terus bertumbuh, dengan segala risiko dan peluangnya. Dalam perjalanan itu, dakwah yang berangkat dari basis manhaj dan bekerja melalui struktur yang matang berpeluang menjadi penjaga arah. Di sanalah dakwah menemukan maknanya sebagai kerja-kerja peradaban. Wallahualam./*

*Dr. Irfan Yahya, Sosilog Hidayatullah dan Peneliti di LPPM UNHAS.

Ustadz Ilham Syawal: 28 Tahun Menjaga Wasathiyah dan Menguatkan Dakwah Hidayatullah di Enrekang

0

“Dakwah harus seperti air mengalir, masuk ke setiap celah masyarakat tanpa harus mengubah bentuk wadahnya.”

Kalimat sederhana itu menjadi pijakan kuat perjalanan dakwah Ustadz Ilham Syawal, Ketua DPD Hidayatullah Enrekang Periode 2020–2025, merangkum filosofi dakwah yang dipegangnya selama 28 tahun mengabdi.

Prinsip inilah yang kemudian menjadi pembuka jalan penerimaan luas masyarakat terhadap gerakan Hidayatullah di berbagai daerah.Bagi Ilham, prinsip wasathiyah adalah kunci keberhasilan dakwah. Ia meyakini bahwa dakwah yang diterima adalah dakwah yang diteladankan.

“Kami tidak pernah memaksa, tetapi membawa keteladanan. Kolaborasi dengan berbagai ormas dan pembinaan umat dipercayakan kepada kami,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Ulul Albab Hidayatullah Sudu ini.

Perjalanan Ilham dengan Hidayatullah dimulai dari bangku pendidikan, mulai dari SMP hingga SMA di Ponpes Al Bayan Hidayatullah Makassar. Setelah lulus, pada 2008, ia memulai pengabdiannya sebagai guru dan kemudian mendapat amanah untuk memegang berbagai posisi di lembaga tersebut.

“Spirit saya adalah keyakinan bahwa Hidayatullah adalah lembaga perjuangan yang bisa mengantarkan kita kepada keselamatan dunia dan akhirat. Sejak menjadi santri, saya sudah bertekad untuk berjuang di sini hingga akhir,” tegas Ilham.

Hingga saat ini, Ilham tetap konsisten menjalankan dakwahnya. Rutinitasnya diisi dengan mengisi pengajian di beberapa masjid besar, termasuk masjid raya di Enrekang. Program Grand MBA (Gerakan Membaca dan Belajar Al-Quran) yang dijalankan bersama Muslimat Hidayatullah (Mushida) menjadi bukti nyata penerimaan masyarakat.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Dalam sehari, bisa 3-4 kali kami mengisi majelis taklim di berbagai tempat. Jadwalnya bisa subuh, pagi atapun malam, masyarakat begitu antusias,” cerita Ustadz Ilham.

Spirit perjuangan Ilham bukan hanya soal rutinitas, tetapi juga keberanian menyuarakan kebenaran. Saat bertugas sebagai Sekretaris DPD Hidayatullah di Luwu Timur, ia memberikan surat teguran kepada warga yang kerap minum-minuman keras di kos-kosan dekat pondok pesantren.

“Kami jelaskan faktanya di lapangan. Alhamdulillah, akhirnya kami dipertemukan dengan tokoh masyarakat untuk berdiskusi. Kami sampaikan, jika ingin bertoleransi, jangan lakukan hal yang mengganggu di depan pondok kami,” tuturnya.

Ketegasannya juga teruji saat pandemi Covid-19. Saat pemerintah setempat berencana menutup masjid, Ilham menjadi satu-satunya perwakilan ormas yang menolak kebijakan tersebut.

“Saya sampaikan, jika masjid ditutup, orang akan jauh dari Allah. Saya khawatir musibah lebih besar akan datang,” ujarnya. Sepekan setelah pertemuan itu, banjir bandang melanda Masamba. Masjid yang nyaris ditutup justru menjadi tempat pengungsian.

Di bawah kepemimpinan Ilham, Ponpes Hidayatullah Enrekang meluncurkan berbagai program konkret. “Kami sudah melengkapi jenjang pendidikan dari TK sampai SMA. Tidak hanya membangun gedung, tetapi menciptakan generasi yang memahami agama dan modernitas,” paparnya.

Yang membanggakan, kepercayaan masyarakat terus bertambah. “Beberapa masyarakat menyerahkan tanahnya untuk dikelola Hidayatullah. Ini bukti kepercayaan yang tidak ternilai,” ujar Ustadz Ilham dengan mata berbinar.

Setelah bertahun-tahun berjuang, hasilnya mulai terlihat. “Dalam sebulan, ada empat kali jadwal khatib tetap di masjid-masjid besar yang dipercayakan kepada kami. Itu bergantian, dan Hidayatullah selalu masuk dalam daftar,” ungkapnya.

Kini, masyarakat memahami bahwa Hidayatullah adalah ormas dengan berbagai departemen yang berkontribusi aktif dalam pembangunan masyarakat. “Mereka melihat pergerakan kita nyata di lapangan,” tegas Ilham.

Sebagai kader senior, Ilham berharap Hidayatullah dapat dipimpin oleh figur yang mampu mengayomi seluruh elemen yang beragam. “Di Hidayatullah ini lengkap. Ada orang-orang saleh, orang cerdas, orang yang kritisnya membangun. Kita butuh pemimpin yang bisa memahami kondisi setiap daerah,” pungkasnya.

Bagi Ustadz Ilham Syawal, dakwah bukan sekadar aktivitas; ia adalah komitmen seumur hidup. Dari keberanian menyuarakan kebenaran hingga konsistensi membangun penerimaan masyarakat, seluruh langkahnya berangkat dari keyakinan bahwa kebaikan harus disampaikan dengan cara yang benar, moderat, dan berkelanjutan.

Semangat inilah yang sejalan dengan momentum besar Muswil VI Hidayatullah Sulsel yang akan digelar pada awal Desember 2025 mendatang. Sebuah forum strategis untuk memperkuat konsolidasi, memperbarui arah perjuangan, dan memastikan bahwa dakwah tetap mengalir, menembus setiap celah masyarakat, sebagaimana pesan yang diwariskan Ustadz Ilham dalam perjalanan panjangnya.

Reporter: Bashori Shobirin

Dakwah Fardhiah Menembus Batas: Kisah Ustadz Burhan Merangkul Kepala Suku Papua dan Pendeta Toraja dengan Sentuhan Personal

0

Dalam peta dakwah Indonesia, ada dai yang bersinar di mimbar megah, dan ada yang memilih membangun cahaya dari sentuhan personal ke personal. Ustadz Burhan memilih jalan kedua, yaitu dakwah fardhiah.

Dengan pendekatan personal yang intensif, pria yang telah puluhan tahun mengabdi sebagai dai Hidayatullah ini berhasil menjembatani Islam ke semua lapisan, mulai dari kepala suku di pedalaman Papua hingga pendeta terkemuka di pegunungan Toraja. Baginya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dikhotbahkan, tetapi untuk dihadirkan dalam setiap sikap dan percakapan, menjadikan kebaikan sebagai bahasa universal yang merangkul.

Tugas perdananya pasca dinikahkan, para ustadz menugaskan Ustadz Burhan ke Timika, sebuah penugasan yang ia sebut “di luar bayangan” dan menjadi ujian sesungguhnya bagi metode dakwah fardhiahnya.

Di sana, untuk membangun masjid dan perkampungan muslim serta mualaf, ia harus bernegosiasi langsung dengan kepala suku. Dengan bekal keyakinan bahwa seorang muslim pembawa nilai-nilai Al-Qur’an harus punya wibawa, ia memasuki ruang negosiasi.

“Spirit al-Qur’an dan ibadah inilah yang saya bawa dalam menjalankan tugas,” ujarnya, menggambarkan mentalitasnya yang didasari kekuatan spiritual.

Pendekatannya adalah dialog penuh hormat, bukan konfrontasi. Hasilnya di luar dugaan. Sang kepala suku justru mengatakan, “Sa (saya) lama tunggu saudara Muslim, datang ini?”

Kepala suku itu pun dengan mudahnya memberikan sebidang tanah. Keberhasilan ini adalah buah dari pendekatan personal yang melibatkan Allah. Dalam waktu singkat, masjid pun berdiri, diikuti pembangunan dua rumah bagi masyarakat Muslim setempat, menyalakan cahaya dakwah di wilayah timur Indonesia.

Keberhasilan dakwah fardhiah Ustadz Burhan tidak berhenti di Papua. Di Toraja, ia juga dengan lancar bertemu dengan seorang pendeta terkemuka.

Saat mendatangi pendeta untuk urusan sosial, ia disambut hangat. “Alhamdulillah… begitu mudah diterima, tidak dipersulit,” ujarnya usai pertemuan.

Yang menarik, pendeta tersebut justru menyambutnya dengan sikap terbuka, seolah telah lama menunggu kedatangan seorang dai Muslim. Prinsipnya sederhana, yaitu menawarkan kebaikan. “Kita menawarkan kebaikan, tidak mungkin orang menolak kebaikan,” tegasnya.

Filosofi ini ia terapkan dalam menolak ego sektoral. Bagi Ustadz Burhan, dakwah adalah tentang membangun jaringan kebaikan untuk semua, bukan menguasai. Bahkan, kepada seorang profesor yang ia kenal, ia dengan tulus menyarankan untuk mewakafkan tanahnya demi kepentingan yang lebih luas, meski itu tidak berada di wilayah tugasnya.

Pengalamannya di berbagai daerah mengajarkan bahwa pendekatan personal memiliki daya ungkit yang luar biasa dalam pengelolaan aset umat. Di Sidrap, ia berhasil menginisiasi wakaf tanah seluas 2 ha dari seorang warga. Di Makassar, ia berkomunikasi dengan pemilik ruko yang telah lama kosong. Bangunan di jalan poros BTP itu kini difungsikan untuk kantor dakwah dan Taman Kanak-kanak.

Melalui pendekatan persuasif, pemilik ruko tidak hanya merelakan propertinya digunakan sementara, tetapi akhirnya mewakafkannya secara permanen. “Ini bukan tentang saya, ini tentang bagaimana kita membangun kepercayaan melalui ketulusan,” ujarnya, menekankan bahwa di balik setiap donasi besar selalu ada sentuhan hati yang dibangun.

Pengalamannya di berbagai daerah mengajarkan bahwa pendekatan personal memiliki daya ungkit yang luar biasa.

Di Sidrap, ia berhasil menginisiasi wakaf tanah seluas 2 ha dari seorang warga.

Di Makassar, ia berkomukasi dengan pemilih ruko yang telah lama kosong, bangunan yang berada di jalan poros BTP itu kini difungsikan untuk kantor dakwah dan Taman Kanak –kanak.  Melalui pendekatan persuasif yang membuat pemiliknya tidak hanya merelakan propertinya digunakan sementara, tetapi akhirnya mewakafkannya secara permanen.

“Ini bukan tentang saya, ini tentang bagaimana kita membangun kepercayaan melalui ketulusan,” ujarnya.

Setelah puluhan tahun blusukan, Ustadz Burhan kini mengabdi di Palopo. Dari perjalanan panjangnya, ia menyimpulkan satu kunci ketahanan, yaitu konsistensi pada Gerakan Nawafil (GNH). Seperti membaca Al-Quran, mendirikan sholat malam, wirid pagi sore dan malam, dakwah fardiyah, dan berinfaq.

“Itu saja. Ada nilai yang kita bisa amalkan konsisten di dalamnya,” ujarnya. Saat ibadah-ibadah sunnah ini dilakukan secara konsisten, ia merasakan bagaimana segala urusan  dakwah di lapangan menjadi dimudahkan.

Namun, di balik kesuksesan dakwahnya, tersimpan keprihatinan mendalam tentang regenerasi. Dengan suara bergetar penuh haru, ia menyoroti nasib anak-anak kader yang perlu mendapat perhatian khusus. “Kita menaruh harap pada generasi dan  anak-anak biologis sebagai pelanjut dakwah ini,” pesannya. Ia menggambarkan betapa ironisnya ketika para orang tua sibuk membina orang lain, sementara anak-belum maksimal di perhatikan. 

Perjalanan dakwah Ustadz Burhan tidak selalu mulus. Berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya, menjadi cerita biasa dalam perjalanan pengabdiannya. Dari Timika ke Sentani, lalu ke Toraja, Sidrap, dan akhirnya menetap di Palopo. Setiap perpindahan adalah cerita baru tentang memulai dari nol, membangun jaringan dari awal, dan beradaptasi dengan budaya setempat.

Namun, semua tantangan itu tidak pernah menggerus keyakinannya. “Selalu mengoreksi diri, betulkah niat kita ini mau mengangkat agama ini atau ada interest lainnya?” ujarnya mengenai prinsip yang selalu dipegangnya. Evaluasi diri terhadap niat dan komitmen menjadi tameng baginya menghadapi segala rintangan. Baginya, yang membuatnya bertahan adalah keyakinan bahwa inilah jalan yang dapat menyelamatkannya dunia dan akhirat.

Ustadz Burhan adalah bukti hidup bahwa dakwah yang paling efektif seringkali lahir dari sentuhan personal. Dari ruang tamu kepala suku, kantor pendeta, hingga percakapan dengan akademisi, ia menghadirkan Islam yang ramah, penuh wibawa, dan relevan untuk semua. Dalam setiap langkahnya, ia tidak hanya membawa pesan Al-Qur’an, tetapi menjadikannya etika dalam berinteraksi.

Warisan terbesarnya bukan hanya masjid dan lembaga pendidikan yang berhasil dibangun, tetapi metode dakwah infiradi yang terbukti efektif merangkul semua kalangan. Sebuah legacy yang menunjukkan bahwa hati yang tersentuh oleh kebaikan personal, akan lebih mudah terbuka untuk menerima cahaya kebenaran. Di usia yang tak lagi muda, semangatnya untuk terus membangun negeri melalui pendekatan personal yang humanis tetap membara, menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan estafet dakwah yang penuh hikmah ini./*

Reporter: Bashori Shobirin

Tadabbur Daily: Izinkan Kami Berjanji (Lagi)

0

Oleh: Masykur Suyuthi

Ada banyak janji pernah terucap dari lisan manusia. Disadari atau tidak, kadang terasa enteng. Mudah meluncur gampang pula tergelincir. Itulah manusia. Di era media sosial zaman sekarang, apa lagi. Postingan atau konten apa saja begitu ringan terucap dan menyebar. Kalau lidah disebut tak bertulang, sekarang ada jempol yang siap menari di layar-layar gadget.

Mengambil pelajaran dari kisah Nabi Yusuf, semoga Allah memberikan keselamatan padanya, di sana ada lidah manusia yang penuh dengan janji. Bukan sekali. Tidak dua kali. Tapi berulang kali saudara-saudara Nabi Yusuf melempar janji. Demikian diungkap dalam al-Qur”an pada surah Yusuf.

Firman Allah: “Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya,” (Yusuf [12]: 12)

Diceritakan, awalnya saudara-saudara Nabi Yusuf datang menghadap ayahanda, Nabi Ya’qub, putra dari Nabi Ishak bin Ibrahim alaihim as-salam. Mereka berjanji, jika Yusuf diizinkan, alangkah riangnya mereka semua. Ia tentu akan bersenang-senang dan bermain-main. Dan yang pasti, kami siap menjaganya. Itulah janji mereka.

Selanjutnya, apa yang terjadi? Ibarat petir menyambar di siang bolong. Mereka pulang membawa kabar buruk. Yusuf tiba-tiba dimakan serigala! Binatang buas itu menerkamnya saat mereka para saudaranya sedang asyik bermain.

Panjang lebar mereka mengisahkan kronologi kejadian itu kepada ayahnya. Lengkap dengan bukti gamis “berdarah” yang disiapkan. Lalu kemana janji itu? Entahlah. Saudara-saudara Nabi Yusuf sendiri yang membongkar boroknya. Bahwa mereka sudah ingkar janji. Yusuf yang diming-imingi ikut bermain bersama, malah hanya ditinggal. Tugasnya, cukup sebagai penjaga barang saja.

Well, entah sudah berapa ratus atau ribu kali kita semua pernah berjanji. Ada yang terwujud namun tak sedikit yang belum terealisasi. Apakah karena tak mampu atau memang tidak mau? Entahlah. Ataukah ada keangkuhan (thagha) mulai merasuki diri? Jelasnya, begitulah sifat manusia.

Kini, Hidayatullah menggelar agenda Musyawarah Wilayah (Muswil) secara serentak hingga akhir tahun 2025 nanti. Agenda lima tahunan di setiap Provinsi Indonesia tersebut tentu bukan sekadar ajang suksesi kepemimpinan strutural organisasi Hidayatullah di masing-masing wilayah.

Hakikatnya, Muswil Hidayatullah adalah wadah saling memperkokoh kembali komitmen dan janji-janji yang pernah terucap oleh seorang kader dakwah Islam. Entah, ikrar itu terucap secara formal saat dilantik ataukah sebatas komitmen diri untuk selalu turut berbaris rapi dalam shaf perjuangan.

Tetapi, apa kabar janji manusia? Jelasnya, Allah pasti menepati janji-Nya. Siapa yang berjihad dengan penuh kesungguhan, niscaya Allah berikan jalan keluar dari setiap permasalah hidupnya.

Firman Allah: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik, ” (Al-Ankabut [29]: 69).

Sekali lagi, apa kabar janji manusia? Semoga kita semua tidak tergolong orang yang lalai dari ikrar dan komitmennya. Apalagi sengaja tidak mengindahkan nasihat dan janji tersebut. Sebab itulah kesombongan yang nyata. Memandang remeh orang lain dan gemar menolak kebenaran.
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul afwa fa’fuanna.

*Masykur Suyuti (Member Komunitas Sahabat Puang Karua).

Anggota Kehormatan Hidayatullah, H. Tahtit Eko Budi Susilo Wafat di Jakarta

0

JAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Keluarga besar Hidayatullah kembali kehilangan salah satu sosok teladan terbaiknya. H. Tahtit Eko Budi Susilo, Anggota Kehormatan Hidayatullah, wafat di Jakarta pada Rabu (26/11/2025) bertepatan dengan 5 Jumadil Akhir 1447 H, sebagaimana dikutip dari Hidayatullah.or.id.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para sahabat, serta para kader dan pengurus Hidayatullah di berbagai wilayah yang pernah merasakan ketulusan beliau dalam membimbing dan memberi arahan.

Dalam keterangan sumber tersebut, H. Susilo dikenal sebagai sosok yang tenang, santun, dan teguh dalam nilai-nilai dakwah. Kiprahnya sebagai penasihat dan Anggota Kehormatan Hidayatullah dinilai ikut menjaga marwah organisasi melalui keteladanan disiplin, etika, serta komitmen moral yang kuat.

Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH Nashirul Haq, menyampaikan bahwa almarhum adalah pribadi yang dekat dengan ulama dan santri, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap pesantren dan pendidikan Islam, khususnya jaringan pesantren Hidayatullah di kawasan Jakarta, Depok, dan sekitarnya.

“Beliau sejak muda sudah mengenal Hidayatullah dan aktif berkhidmat. Sebagai pengusaha muslim, beliau telah mewakafkan sebagian hartanya untuk dakwah dan pendidikan, terutama bagi anak yatim dan dhuafa,” terang KH Nashirul Haq sebagaimana dikutip dari Hidayatullah.or.id.

Almarhum juga dikenang sebagai sosok yang bekerja dalam diam, hadir tanpa menuntut perhatian, tetapi selalu menjadi tempat bertanya bagi banyak kader. Setiap nasihatnya dikenal berbobot dan mampu menenangkan banyak pihak.

H. Susilo juga tercatat beberapa kali hadir dalam peresmian dan kegiatan penting pesantren, termasuk baru-baru ini saat mendampingi Wakil Menteri Agama RI dan Ketua Umum DPP Hidayatullah dalam peresmian Masjid Ummul Quraa, Depok, pada Mei 2025.

Kepergian beliau pada 26 November 2025 menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar Hidayatullah. Namun jejak pengabdian dan keteladanannya diyakini akan tetap menjadi inspirasi bagi kader dan generasi penerus gerakan dakwah.

Keluarga besar Hidayatullah mendoakan agar Allah menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya, mengampuni segala kekhilafannya, dan melipatgandakan pahala atas amal jariyah yang telah ia tinggalkan.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu anhu.

Spirit Wahyu: Semua Diatur Allah

0

“Allah-lah yang mencukupi segala keperluan hamba-hamba-Nya.”

Surat Qz-Zumar: 36

Dalam perjalanan hidup, kita sering merasa seolah semua beban ada di pundak kita. Tanggungan keluarga, kebutuhan ekonomi, masa depan anak-anak, pekerjaan yang tidak stabil, usaha yang naik turun, dan lainnya. Kadang pikiran terasa penuh, seakan dunia menutup jalan kiri dan kanan.

Namun wahyu datang memberi spirit penguatan. Seakan ingin mengatakan, “Tenanglah, ada Allah yang mengatur.”

Ayat di atas bukan hanya penghibur hati. Ia adalah prinsip manajemen kehidupan seorang mukmin. Kita berusaha, bekerja, merencanakan, mengejar target, bahkan lembur mencari tambahan. Tapi pada akhirnya, yang mencukupi semua kebutuhan kita bukan gaji, bukan bisnis, bukan relasi. Melainkan Allah Ta’ala.

Dalam ekonomi syariah, prinsip ini dikenal sebagai at-tawakkul. Yaitu sikap menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Tawakkal bukan berarti pasif. Justru ia adalah puncak keaktifan hati, sebab kita sadar bahwa kemampuan manusia terbatas, sedangkan kekuasaan Allah tidak.

Ada masa-masa ketika kita merasa usaha sudah maksimal, tapi hasilnya tidak terlihat. Ada hari ketika pengeluaran datang bertubi-tubi padahal pemasukan sangat kecil. Ada saat ketika rencana tidak berjalan, padahal doa sudah dipanjatkan.

Pada keadaan seperti itu, setan membisikkan ketakutan: “Apa kau sanggup? Bagaimana masa depanmu? Bagaimana keluargamu nanti?”

Tetapi pada saat yang sama, wahyu membisikkan ketenangan: “Allah yang mencukupimu.”

Lagi-lagi, hal seperti ini akan sering dialami oleh para pejuang dakwah. Apalagi ketika memikul amanah dakwah sambil menanggung nafkah keluarga. Ada hari ketika semuanya terasa berat, seperti memikul dunia seorang diri. Namun setiap kali hati ingat ayat ini, dada terasa lebih lapang.

Allah tidak pernah lelah mengurus hidup kita. Justru kitalah yang sering lelah karena terlalu ingin mengatur segalanya sendiri. Dalam logika ekonomi dunia, kesejahteraan tergantung pada pendapatan. Dalam logika ekonomi ilahi, kesejahteraan tergantung pada keyakinan bahwa Allah lah Al-Mukaffi — Yang Maha Mencukupi.

Ketika hati yakin bahwa Allah mengatur, maka usaha menjadi ringan, pekerjaan terasa seperti ibadah, dan kekhawatiran perlahan menghilang. Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak panik. Kita tetap berusaha maksimal, tetapi tidak cemas berlebihan. Kita tetap menafkahi keluarga, tetapi tahu bahwa rezeki mereka sudah ditulis oleh Allah jauh sebelum mereka lahir.

Yang membuat hidup berat seringkali bukan kekurangan rezeki, tetapi kelebihan cemas. Dan obatnya adalah keyakinan: Jika Allah yang mengatur hidupmu, maka tidak ada satu pun yang perlu kamu takuti.

GNH dan Transformasi Dakwah di Pare-Pare

0
Oleh: Irfan Yahya*

Pare-Pare selalu memanggil kita dengan cara yang berbeda. Kota pelabuhan yang tak pernah terdera oleh kantuk itu menyimpan denyut yang stabil, namun hentakannya cukup dinamis untuk melahirkan ritme sosial yang khas.

Gelombang kapal yang datang dan pergi di Pelabuhan Nusantara seperti menandai kehidupan warganya, bergerak perlahan dan istiqamah, tumbuh dengan ritme ekonomi yang bertumpu pada perdagangan, jasa, serta relasi-relasi sosial yang terjadi di ruang kota yang relatif kecil ini.

Dengan populasi sekitar seratus lima puluh ribu jiwa, Pare-Pare menunjukkan dinamika khas kota madya yang terus menata diri, menghadapi tuntutan baru dalam pendidikan, ruang sosial, dan bahkan ruang spiritual.

Mobilitas warga Pare-Pare semakin terasa ketika pagi menjelang. Dari Bacukiki, gelombang pelajar dan pekerja bergerak menuju pusat kota. Dari kecamatan Ujung, arus kehidupan mengalir menuju pelabuhan, pusat perbelanjaan, dan kompleks perdagangan yang menjadi pengerat ekonomi kota.

Kota ini tumbuh perlahan namun stabil. Laju pertumbuhan yang tidak meledak-ledak justru menciptakan kebutuhan yang semakin spesifik, model pendidikan yang kuat secara moral, ruang sosial yang mampu meredam tekanan hidup urban, serta kehadiran institusi yang dapat menjaga nilai-nilai komunal di tengah modernisasi yang tidak selalu bertumpu pada solidaritas.

Dalam konteks dinamika seperti itulah Hidayatullah Pare-Pare membangun posisinya sebagai salah satu simpul nilai yang berperan menjaga keseimbangan sosial. Dakwah di kota ini tidak lagi diartikan sekadar aktivitas ibadah seremonial, melainkan proses sosial yang mengikat kembali warga kota pada jaringan nilai, interaksi, dan spiritualitas yang sehat.

Peran dakwah memasuki bentangan alam urban sebagai energi moral, sebagai jembatan sosial, dan sebagai ruang bagi warga untuk menemukan kembali ketenangan batin yang sering tergerus dalam ritme hidup kota.

Salah satu figur yang menandai geliat transformasi dakwah itu adalah Ustadz Abdul Jabbar. Namun kehadirannya tak pernah diposisikan sebagai sosok tunggal yang mendominasi narasi dan aksi.

Ia lebih tepat dibaca sebagai representasi ethos kelembagaan yang membentuknya, sebuah ethos yang menanamkan ketahanan, mobilitas, dan disiplin spiritual yang terus terpatri di setiap fase hidupnya.

Tempaan panjang sejak masa remaja di Gunung Tembak membentuk orientasi dakwahnya bergerak ke mana pun dibutuhkan, membaca geografi sosial kota secara cermat, dan menjaga ritme spiritual sebagai fondasi dalam memahami tantangan sosial kontemporer.

Kini ia menakhodai dakwah di Pare-Pare, ethos itu terjelma dalam penguatan Rumah Quran, pengembangan lembaga pendidikan, dan kemampuan mengelola dukungan sosial dari warga serta pemerintah.

Bantuan pemerintah pusat yang memungkinkan pembangunan fasilitas pendidikan adalah isyarat kepercayaan publik terhadap lembaga dakwah yang dijalankannya. K

elembagaan yang rapi, pengelolaan sumber daya yang bersih, dan jejaring kader yang terus bergerak menjadi modal penting dalam memperluas jangkauan dakwah di kota kecil yang terus berubah ini.

Rumah Quran adalah salah satu inovasi sosial yang paling terasa dampaknya.

Di berbagai sudut Pare-Pare, ruang kecil itu hadir tidak hanya sebagai lokasi pembelajaran Al-Qur’an, tetapi juga sebagai ruang sosial yang memulihkan.

Anak-anak menemukan tempat yang hangat untuk belajar dan berinteraksi.

Para remaja menjadikannya sebagai ruang aman dari tekanan lingkungan digital dan pergaulan yang mudah memecah fokus.

Orang dewasa mendapat ruang untuk kembali menemukan ketenangan, mengisi ulang batin mereka yang sering terkuras oleh paparan medsos dan rutinitas kota.

alam konteks kota madya seperti Pare-Pare yang ruang publiknya cenderung terbatas, Rumah Quran tampil sebagai ruang alternatif yang memperkuat kohesi sosial.

Di kota yang terus mencari identitasnya, lembaga pendidikan juga menjadi salah satu penanda transformasi dakwah. Dengan ratusan santri di jenjang TK, SMP, hingga SMA, lembaga pendidikan Hidayatullah Pare-Pare hadir bukan hanya sebagai ruang transmisi pengetahuan agama, tetapi juga sebagai arena pembentukan karakter sosial.

Lingkungan pendidikan seperti ini memberikan warga kota pilihan baru, model sekolah yang memadukan nilai tauhid, disiplin, dan suasana belajar yang lebih kondusif mengikuti fitrah manusia.

Tidak mengherankan jika masyarakat menunjukkan kepercayaan besar pada lembaga pendidikan ini, termasuk dukungan finansial dan moral dari berbagai pihak.

Pare-Pare sebagai kota menengah menyimpan realitas sosial yang khas, tekanan ekonomi yang tidak selalu stabil, ruang kota yang semakin padat, dan kebutuhan akan jalinan sosial yang kuat agar warga tidak tercerabut dari komunitasnya.

Dalam bingkai analisis sosiolog, kota seperti ini membutuhkan model gerakan nilai yang adaptif, dan kolaboratif, gerakan yang mampu membaca perubahan, merespons kebutuhan warga, dan membangun ruang spiritual yang tidak kaku.

Dakwah Hidayatullah di Pare-Pare menunjukkan adaptasi itu. Di satu sisi ia tetap berpegang pada nilai-nilai manhaji yang menjadi fondasi gerakan. Di sisi lain ia merespons dinamika kota dengan strategi sosial yang lebih cair, langsung menyentuh kehidupan warga di ruang-ruang mikro.

Di sinilah peran Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) menemukan relevansinya. Dalam pandangan sosiologis, GNH adalah bentuk ethical discipline yang menata kelola kehidupan kader dengan ritme spiritual yang konsisten. Salat berjamaah, tilawah, wirid harian, sedekah, dan salat malam bukan hanya ritual pribadi; ia membentuk karakter sosial.

Ia menyiapkan kader untuk menghadapi dinamika masyarakat, memberikan stamina moral yang stabil, dan menciptakan daya tahan spiritual yang diperlukan dalam medan dakwah yang cepat berubah. Spiritualitas tidak berhenti pada pengalaman batin, tetapi menjadi energi sosial yang menggerakkan dakwah secara berkelanjutan.

Dengan ritme kota yang terus berubah, Pare-Pare membutuhkan institusi yang mampu menjadi jangkar moral. Fragmentasi sosial yang muncul dari mobilitas penduduk, kompetisi ekonomi, dan perubahan budaya digital membuat masyarakat mudah tercerabut dari ruang komunal.

Hidayatullah Pare-Pare melalui Rumah Quran, lembaga pendidikan, dan jejaring kadernya mengisi kekosongan ini. Dakwah menjadi alat pemersatu. Menghadirkan nilai-nilai moral manhaji. Menenun kembali kejalinan sosial yang mulai renggang oleh modernisasi.

Pembangunan kota memang memerlukan infrastruktur fisik. Tetapi kota yang sehat adalah kota yang tidak melupakan infrastrukur sosial dan spiritualnya. Pare-Pare membutuhkan ruang nilai yang hidup, yang tidak hanya hadir dalam bentuk bagunan masjid, tetapi juga dalam bentuk komunitas, kader, lembaga pendidikan, dan aktivitas sosial yang menumbuhkan rasa memiliki satu sama lain.

Kesadaran obyektif ini, Hidayatullah tampak menempatkan diri bukan sebagai gerakan eksklusif, melainkan sebagai simpul kolaboratif yang terbuka. Ruang-ruang pertemuan dengan komunitas warga, jejaring profesional, dan bahkan institusi pemerintah menjadi bagian dari strategi dakwah yang lebih luas.

Transformasi dakwah di Pare-Pare memperlihatkan bagaimana sebuah gerakan nilai mampu memproduksi dampak sosial melalui mekanisme penguatan komunitas, pelayanan pendidikan, dan konsolidasi spiritual.

Kota ini berada pada fase pertumbuhan yang menuntut adaptasi sosial yang cepat, dan Hidayatullah menjawabnya dengan dasar spiritual manhaji yang kuat namun fleksibel. Sebuah transformasi dakwah yang tidak bertumpu pada retorika, tetapi pada loyalitas kader, disiplin spiritual, dan konsistensi kerja sosial.

Pare-Pare hari ini adalah kota yang mencari bentuk terbaiknya. Dalam perjalanan itu, Hidayatullah memilih hadir tidak untuk menguasai ruang kota, tetapi untuk merawat ruang nilai. Ia hadir sebagai bagian dari solusi, bukan bagian dari kompetisi sosial.

Dakwah yang dibangun bukan untuk memperluas pengaruh struktural, tetapi untuk memperkuat resiliensi warga kota. Suatu dakwah yang bersandar pada nilai, kehadiran, dan ketelatenan.

Demikianlah, GNH dan transformasi dakwah di Pare-Pare mengajarkan bahwa kota kecil pun membutuhkan energi spiritual untuk tumbuh. Kehadiran Hidayatullah di kota ini membuktikan bahwa dakwah tidak harus berada di panggung besar; ia dapat tumbuh dari ruang-ruang kecil, dari komunitas yang sederhana, dari kerja sosial yang konsisten. Kota cinta ini memiliki denyut yang berbeda, dan dalam denyut itu, dakwah menemukan ritmenya.

Jika kota adalah kumpulan ruang, maka dakwah adalah cahaya yang membuat ruang-ruang itu tetap hidup. Dan Pare-Pare, dengan segala dinamika dan pertumbuhannya, kini sedang menyaksikan bagaimana cahaya itu bekerja pelan namun pasti, membentuk generasi baru, komunitas baru, dan harapan baru bagi masa depannya.Wallahualam.*/

*Dr. Irfan Yahya adalah Sosiolog Hidayatullah dan Peneliti di LPPM Unhas Makassar.