Beranda blog Halaman 16

Spirit Wahyu: Makna Syukur dalam Amanah

0
Oleh : Sarmadani Karani*

Pada 7 Desember 2025 lalu, sebuah lembaran baru dalam perjalanan hidup mulai terbuka. Amanah yang berat kini tersemat di pundak rapuh ini, Ketua DPW Hidayatullah Sulteng.

Tidak dipilih oleh keinginan, tapi oleh ketetapan Ilahi—sebuah tugas yang memanggil jiwa untuk berbuat lebih dari sekadar biasa. Amanah ini bukan hanya sebuah gelar, tetapi sebuah tanggung jawab suci yang harus dijaga dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur.Syukur bukan sekadar kata. Ia adalah gemuruh lembut dalam relung hati, mengalir dalam setiap helaan nafas.

Syukur mengajarkan bahwa segala nikmat yang tampak dan tersembunyi adalah titipan Allah yang harus dijaga dengan penuh hormat. Memang, manusia mudah terlena oleh kebanggaan dan kekuasaan dunia, tapi syukur mengingatkan: jangan biarkan dirimu terjerumus dalam kesombongan.

Ingatlah, amanah bukanlah panggung untuk menyanjung diri, melainkan ladang pengabdian dan pengorbanan.Ketika hati bergetar dengan keyakinan bahwa setiap nikmat berasal dari Allah, lisan tanpa lelah melantunkan pujian, dan setiap anggota tubuh bergerak untuk mengemban tugas dengan benar, di sanalah syukur menjadi ibadah yang hakiki.

Syukur menuntun langkah untuk tetap taat, tidak mabuk oleh keindahan dunia yang fana.Firman Allah dalam QS. An-Nahl: 114 menjadi pedoman abadi, bahwa menggunakan nikmat untuk ketaatan adalah puncak rasa syukur.

Amanah yang disandang harus dihiasi dengan perbuatan baik, bukan keangkuhan; dengan kesungguhan, bukan kelalaian; dengan cinta kepada Allah, bukan bagi dunia semata.Di balik segala tantangan, ada janji Allah yang menguatkan jiwa. Bagi mereka yang menjaga amanah dengan penuh rasa syukur, Allah menyingkap pintu rahmat-Nya, menghindarkan dari azab, dan menambah limpahan nikmat—sebagaimana Dia firmankan dalam QS. An-Nisa: 147 dan QS. Ibrahim: 7.

Janji itu bukan hanya harapan, melainkan cahaya di ujung jalan bagi mereka yang teguh di jalan-Nya.Syukur dalam amanah adalah napas suci—ia menghidupkan jiwa, menguatkan tekad, dan menyatukan hati pada satu tujuan: ridha Allah.

Dengan syukur, amanah bukan semata beban, tetapi anugerah yang membawa kedamaian batin dan keberkahan dunia hingga akhirat.*/

*Ustadz Sarmadani, S.E., Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah.

Hidayatullah Sulsel Gelar Dialog Nasional di Makassar, Tegaskan Tiga Pilar Peradaban Menuju Indonesia Emas 2045

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) – Cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 menuntut fondasi yang kokoh dan menyeluruh, mulai dari spiritualitas, ekonomi kerakyatan, hingga penguatan kembali warisan konstitusi.

Pesan itu mengemuka dalam dialog nasional bertema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045” yang berlangsung di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sabtu lalu (6/12/2025).

Forum ini menghadirkan para pakar dari lintas bidang, mulai dari birokrat, akademisi, wirausaha, cendekiawan, hingga ulama, yang pada akhirnya sepakat bahwa visi besar bangsa hanya mungkin dicapai melalui karakter kuat, aksi nyata, kolaborasi strategis, dan kesadaran sejarah yang utuh.

Diskusi dibuka dengan refleksi dari Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Dr. Abdul Aziz Qahhar. Mantan Anggota DPD RI tersebut menegaskan pentingnya kembali kepada fondasi historis bangsa.

Ia mengingatkan bahwa Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 merupakan kristalisasi dari maqashid syariah untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

“Nilai-nilai itu lahir dari ijtihad para ulama pendiri bangsa seperti Agus Salim. Namun implementasinya belum sepenuhnya terwujud karena berbagai tantangan, termasuk dominasi oligarki,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kolaborasi seluruh elemen bangsa menjadi syarat mutlak untuk menjaga arah perjalanan Indonesia menuju 2045.

Pandangan tersebut disambut dan diperdalam oleh Prof. Dr. Mustari Mustafa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan. Ia menawarkan konsep trilogi penopang peradaban, yaitu spiritualitas yang artikulatif, kecerdasan sosial, dan intelektualitas yang terliterasi.

“Iman harus menjelma dalam tindakan nyata untuk kemaslahatan bersama. Karakter menjadi modal dasar yang menentukan,” tegasnya.

Dari sisi ekonomi kerakyatan, Guru Besar Ekonomi Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Muhammad Asdar, menyoroti pentingnya pemberdayaan pesantren sebagai pusat produksi ulama sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi.

Ia menilai jaringan pesantren dan organisasi Islam memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekosistem ekonomi syariah dan rantai pasok nasional.

“Kontribusinya masih jauh dari optimal. Padahal inilah peluang besar untuk memperkuat ekonomi keummatan,” jelasnya.

Gagasan ekonomi tersebut bersinggungan dengan pengalaman birokrasi yang disampaikan Sekretaris Daerah Luwu Timur, Dr. Ramadhan Pirade. Ia menekankan pentingnya kesiapan ilmu, karakter, dan keseimbangan lahir–batin dalam membangun daerah.

Ramadhan lalu menunjukkan bagaimana prinsip tersebut telah diwujudkan dalam berbagai program seperti beasiswa pendidikan, layanan kesehatan gratis, dan santunan lansia di daerahnya di Kab. Luwu Timur.

“Ketenangan hidup itu lahir dari kesiapan. Pemerintah daerah wajib menghadirkan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat,” ujarnya.

Pelaku usaha Ir. H. Fadly Ibrahim melengkapi diskursus dengan menyoroti peluang kolaborasi konkret antara pemerintah dan ormas Islam.

Menurut GM PT Agrinas Pagan Nusantara tersebut, sejumlah program nasional seperti Makanan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih dapat diintegrasikan dengan jaringan besar organisasi Islam, termasuk Hidayatullah.

Sinergi tersebut dinilainya strategis untuk memperkuat kedaulatan pangan dan ekonomi kerakyatan berbasis komunitas.

Sebagai penutup sekaligus penegasan arah bersama, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Nasfi Arsyad, Lc., menekankan pentingnya pembangunan tiga pilar peradaban sebagai syarat menuju Indonesia Emas 2045.

Ia menyebut pilar spiritual–adab sebagai fondasi karakter bangsa, pilar ilmu pengetahuan sebagai jalan peningkatan daya saing, serta pilar sosial–kemitraan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pesantren, ormas, dunia usaha, dan akademisi.

Ketiga pilar ini, menurutnya, harus berjalan simultan dan saling menopang.

Dialog yang dimoderatori Dr. Irfan Yahya ini ditutup dengan kesimpulan bahwa Indonesia Emas 2045 bukanlah konsep utopis. Cita-cita besar itu dapat dicapai bila seluruh elemen bangsa bersinergi, memperkuat karakter, mengokohkan kesadaran sejarah, dan menggerakkan aksi nyata dari pusat hingga daerah.

Repoter : Bashori
Editror : Sekretariat

Wali Kota Makassar Apresiasi Hidayatullah, Komitmen Kolaborasi Wujudkan Generasi Emas

0

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara resmi membuka Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi tinggi atas kontribusi Hidayatullah dalam membina umat dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di masyarakat. [06/12/25]

Munafri menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar untuk berkolaborasi dengan Hidayatullah. “Pemerintah Kota Makassar siap berkomitmen bersama Hidayatullah untuk menghadirkan program-program yang membawa manfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Ia menyatakan Pemkot selalu membuka ruang kolaborasi untuk program yang berdampak langsung pada kemajuan kota dan kesejahteraan warga.

Wali Kota juga menekankan peran Hidayatullah sebagai mitra strategis dalam menyiapkan generasi emas yang cerdas, khususnya melalui bidang pendidikan. Ia berharap musyawarah ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Kota Makassar.


Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Nasfi Arsyad, Lc., melantik pengurus baru untuk periode 2025-2030. Dr. Muh. Sholeh Usman, SS., M.Kom dilantik sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel, dan Ustadz Abdul Majid, MA sebagai Dewan Murabbi Wilayah.

KH Nasfi Arsyad mengucapkan terima kasih atas kolaborasi yang telah terjalin dengan pemerintah daerah dan menegaskan bahwa tugas pembinaan keumatan adalah tanggung jawab bersama.

Dalam amanatnya, ia menyampaikan refleksi mendalam tentang tata kelola organisasi dakwah. Nasfi menekankan bahwa kekuatan gerakan dakwah tidak hanya bergantung pada struktur birokrasi yang solid. “Kehebatan gerakan dakwah tidak hanya dibangun di atas piramida birokrasi, tetapi justru dirawat melalui pendekatan personal, kebijaksanaan, dan ‘politik meja makan’, yakni pendekatan kultural,” ujarnya.

Visi yang ditawarkannya adalah ketangguhan struktural harus dihidupi oleh kehangatan kultural, dan kepemimpinan yang efektif adalah yang mampu merawat kedua hal itu melalui kesabaran dan musyawarah.**

Hidayatullah Sulsel Lantik Pimpinan Baru, Tekankan Pendekatan Kultural untuk Perkuat Daerah

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Hidayatullah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memasuki periode kepemimpinan baru. Ustadz Abdul Majid dan Ustadz Muhammad Sholeh Usman resmi dilantik untuk menakhodai organisasi dakwah tersebut, dengan pesan kuat agar memprioritaskan pendekatan kultural dan hubungan personal di samping struktur organisasi.

Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Nasfi Arsyad, Lc., dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Sulsel. Acara berlangsung di Wisma Safa, Asrama Haji Sudiang, Makassar, Jumat (5/12/2025). Muswil yang mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045” ini berlangsung dari tanggal 5 hingga 7 Desember 2025.

Dalam amanatnya, KH Nasfi Arsyad menekankan bahwa kekuatan gerakan dakwah tidak hanya bergantung pada piramida birokrasi. “Kehebatan gerakan dakwah tidak hanya dibangun di atas piramida birokrasi, tetapi justru dirawat melalui pendekatan personal, kebijaksanaan, dan ‘politik meja makan’, yakni pendekatan kultural,” ujarnya.

Ia mengajak melihat kilas balik sejarah penyebaran Islam. “Islam tegak peradabannya di Madinah secara struktural,” katanya. “Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa… Islam di awal-awal… bergerak dan menyebarnya itu secara kultural.” Menurutnya, struktur organisasi sehebat apa pun harus tetap ditopang oleh DNA hubungan kultural yang hidup dan manusiawi.

Dua pimpinan yang dilantik masing-masing akan memimpin dua sayap organisasi. Ir. Abdul Majid, M.A. ditetapkan sebagai Ketua Dewan Murabbi Hidayatullah Wilayah Sulsel. Sementara Dr. Muhammad Sholeh Usman, S.S., M.I.Kom., ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel untuk periode 2025-2030.

Sambutan Ketua DPW Terpilih: Syukur dan Komitmen Lanjutkan Perjuangan

Dalam sambutannya, Dr. Muhammad Sholeh Usman menyampaikan rasa syukur dan kerendahan hati atas amanah yang diterimanya. Ia menekankan bahwa karunia terbesar yang diterima seluruh kader adalah keyakinan (iman) dan komitmen untuk mengikuti gerbong perjuangan dakwah (jihad).

“Karunia yang Allah berikan berupa keyakinan dan kemudian ada komitmen untuk mengikuti gerbong perjuangan ini adalah merupakan karunia yang sangat besar. Dua hal ini adalah penentu keselamatan,” ujar Sholeh Usman.

Ia juga menyampaikan penghormatan dan terima kasih yang mendalam kepada semua senior, guru, dan perintis Hidayatullah di Sulsel. “Kalau hari ini ada petugas DPW yang mengeluh, bandingkan dengan perintis-perintis yang mengawali semua itu… Mereka merintis dengan kondisi yang jauh dari kata nyaman,” pesannya.

Sholeh Usman secara khusus menyampaikan apresiasi kepada kepemimpinan demisioner, Drs. Nasri Bohari, M.Pd., dan seluruh jajaran pengurus sebelumnya.

Refleksi dan Warisan Kepemimpinan Sebelumnya

Refleksi dari ketua demisioner, Drs. Nasri Bohari, M.Pd., menjadi penanda peralihan kepemimpinan. Dalam pidato pisah sambutnya, ia merumuskan tiga pilar yang dianggapnya vital bagi kemajuan organisasi.

Ketiga pilar itu adalah: pertama, Gerakan/Ideologi sebagai kompas utama penuntun langkah dakwah. Kedua, Sistem yang Solid untuk memastikan percepatan, keberlanjutan, dan mengurangi ketergantungan pada individu tertentu. Ketiga, SDM yang Inisiatif, yaitu kader yang siap berkarya dengan dedikasi tinggi di segala medan.

Kepemimpinan Nasri Bohari disebut meninggalkan warisan berharga: bahwa kepemimpinan efektif tidak melulu soal kontrol ketat, tetapi lebih pada membangun keteladanan, mempercayai sistem, dan memberdayakan SDM unggul. Gaya kepemimpinan yang memadukan ketegasan prinsip, kelembutan komunikasi, kerendahan hati, dan kepercayaan pada tim ini diharapkan menjadi DNA bagi kepemimpinan di Hidayatullah ke depannya.

Dengan kepemimpinan baru yang dilantik diharapkan dapat terus mengoptimalkan perannya dalam gerakan dakwah dan kontribusi bagi masyarakat, sejalan dengan upaya menyongsong Indonesia Emas 2045.**

Rep: Bashori

Tadabbur Daily: Nattakhidzahu Waladan

0
Oleh: Masykur Suyuthi*

Tak semua orang punya visi dan tujuan hidup yang sama. Kadang ia berbeda sesuai dengan kecenderungan yang memang beragam dalam orientasinya. Tak kecuali dengan petinggi Kerajaan Mesir (al-Aziz) yang bersama istrinya baru saja membeli Yusuf (muda) untuk dibawa pulang ke rumah.

Hal itu terungkap dalam dialog di al-Qur’an. Rincinya, Allah berfirman: “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak’.

Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (Yusuf [12]: 21)

Lalu apa kira-kira tujuan pasangan suami istri ini menebus Nabi Yusuf dan menghadirkannya ke kediaman mereka di lingkungan istana? “Asa an yanfa’ana au nattakhidzahu waladan” Demikian keterangan yang diberikan oleh sang suami.

Rupanya ia berharap agar perbuatannya ini bisa mendatangkan manfaat yang luas. Bukan hanya buat mereka yang telah menyelamatkan dan yang merawat Yusuf. Lalu tujuan minimalnya apa? Yup, Yusuf nanti secara kekeluargaan menjadi anak (angkat) buat mereka berdua.

Kira-kira, paling tidak Yusuf akan memanggil “Bapak” atau “Ibu” sebagai sapaan baru buat mereka. Dan keduanya dengan penuh cinta akan merawat Yusuf layaknya hubungan orang tua dengan anaknya.

Terkesan cuma harapan biasa atau cita-cita sederhana saja. Tetapi sesungguhnya ada pelajaran dari tadabbur percakapan tersebut. Bahwa, setiap kebaikan yang dikerjakan harus memiliki visi-misi serta tujuan yang jelas.

Bagi orang beriman, Akhirat adalah orientasi paling utama. Bukan hanya sebagai tujuan yang ideal, tetapi fokus memikirkan Akhirat berarti jaminan keselamatan hidupnya, dunia dan Akhirat.

Rumusnya, jika kegemilangan dan keberuntungan Akhirat dikejar, maka dengan sendirinya keberhasilan hidup di dunia niscaya berada dalam genggaman.

Sebaliknya, kalau hanya sibuk mengejar kepentingan dunia yang nyaris tak ada habisnya, maka sulit membayangkan ia bisa menyempatkan diri memikirkan Akhirat pula.

Untuk itu, hendaknya setiap orang tua dan pendidik agar menyadari peran strategis sekaligus misi besar dalam menyiapkan generasi emas anak bangsa saat ini. Yakinkan diri bahwa ini adalah pekerjaan mulia sekaligus bagian dari risalah dan warisan nubuwah sebagai pendidik.

So, tak mudah menjadi orang tua atau guru di tengah gempuran berbagai macam budaya Barat saat ini. Ia akan berhadapan dengan dua pilihan, memperjuangkan visi yang ideal atau sebaliknya cukup berpikir pragmatis sesaat.

Bahkan tak sedikit yang mengatakan bahwa pendidikan telah berubah menjadi industri atau perusahaan yang hanya memikirkan keuntungan materi saja. Pekerjaan guru menjadi sesuatu yang bersifat transaksional semata.

Dalam satu riwayat, kata Nabi Muhammad, “innama bu’itstu mualliman”. Aku ini diutus semata-mata sebagai seorang muallim (pendidik).

Di tengah berbagai tantangan dalam kehidupan modern sekarang, setidaknya semua pihak harus mengambil peran dan berkotribusi sebaik-baiknya.

Sekali lagi, yakinkan diri bahwa jihad besar akhir zaman sekarang tak lain bagaimana melahirkan “Generasi Qur’ani dan Beradab”. Visi Indonesia Emas tak bisa hadir begitu saja, jika tak disiapkan sejak dini dengan kolaborasi dari semua pihak.

Di akhir ayat, Allah memberi garansi dengan janji-Nya yang pasti lagi menggembirakan. “… Dan Allah berkuasa terhadap setiap urusan-Nya…” Yakni, tak ada yang sia-sia untuk setiap niat baik dan karya yang tulus di jalan tarbiyah dan dakwah ini.

*Masykur Suyuthi, Lc., M.Pd., pengasuh santri Al-Bayan Bawakaraeng 111.

Spirit Wahyu: Kematian Itu Pasti

0
Oleh: Sarmadani Karani*

“Setiap yang bernyawa, pasti akan mengalami kematian.”

(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ada kalimat dalam Al-Qur’an yang begitu singkat, namun mengguncang dasar kesadaran kita. Yaitu, “Setiap yang bernyawa pasti akan mati.”

Ayat itu tidak hanya memberikan informasi teologis, tetapi juga menuntun kita untuk melihat hidup secara lebih utuh. Bahwa seluruh perjalanan, seluruh ambisi, dan seluruh rencana pada akhirnya mengarah pada satu titik kepulangan yang tidak pernah meleset dari waktunya.

Kematian adalah kepastian yang menyimpan misterinya sendiri. Ia tidak memberi isyarat yang gamblang, tidak pula pernah berkompromi. Ia datang ketika saatnya tiba, tanpa bisa dimajukan walau sedetik atau ditangguhkan sekejap pun.

Karena itu, dalam rentang hidup manusia yang panjang sekaligus rapuh, kematian menjadi guru yang paling setia. Dia hadir untuk mengingatkan, bukan untuk menakut-nakuti.

Dalam sepekan terakhir ini, saya kembali ditegur oleh sunyi yang dibawa kabar duka. Dua sosok berkesan berpulang hampir beriringan, meninggalkan jejak kebaikan yang tidak mudah dilupakan.

Pertama, wafatnya H. Susilo, seorang dermawan yang hatinya begitu lapang. Pemilik nama lengkap H. Tahiti Eko Budi Susilo itu adalah tipe manusia yang memberi tanpa bicara panjang, menolong tanpa menunggu diminta, dan bekerja tanpa berharap dikenang.

Banyak amalnya mengalir diam-diam untuk Hidayatullah maupun Yayasan Sulaimaniah, dan di tempat-tempat lainnya. Dalam hidupnya, ia seperti mata air yang memancarkan kebaikan tanpa henti dan tanpa ingin terlihat sebagai sumbernya.

Disusul kemudian oleh kepergian Patta Amang, ayah mertua tercinta, pada Senin, 1 Desember, di RS Toli-Toli. Beliau adalah bagian dari generasi awal santri Hidayatullah Toli-toli, Sulawesi Tengah. Sosok yang dikenal dan dikenang sebagai orang yang menjadikan masjid sebagai poros kehidupan.

Hingga akhir hayatnya, ia mengabdi sebagai muadzdzin di Masjid Rahmatullah, di kompleks Pesantren Hidayatullah Toli-Toli. Dua bulan terakhir, sakit membuat suaranya tak lagi menghiasi subuh-subuh jamaah. Masjid Rahmatullah kehilangan gema yang selama bertahun-tahun membangunkan malam yang hening.

Keduanya pergi dengan cara yang berbeda, namun meninggalkan pelajaran yang sama. Bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang panjang, melainkan hidup yang bermakna.

Kematian selalu menggugah kesadaran kita tentang keterbatasan diri. Ketika ruh dipanggil pulang, tertutuplah pintu-pintu amalan. Langkah tak dapat dilanjutkan. Rencana tak bisa diteruskan. Dan ikhtiar duniawi berhenti pada titik terakhir.

Yang tersisa hanyalah jejak-jejak. Kebaikan yang pernah ditebar, doa anak-anak saleh yang ditinggalkan, dan ilmu yang dahulu dibagi lalu terus diamalkan.

Dalam perspektif wahyu, momen wafat bukan sekadar peristiwa biologis, tetapi juga momentum spiritual. Ia mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan singkat, sementara akhirat adalah negeri pulang yang sebenarnya.

Kesadaran inilah yang seharusnya menuntun kita untuk tidak menunda niat-niat berbuat kebaikan. Karena sesungguhnya waktu tidak pernah menunggu.

Allah Ta’ala menegaskan, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat ini seolah menegaskan bahwa kerinduan kepada Tuhan membutuhkan pembuktian. Harapan bertemu dengan-Nya harus diterjemahkan melalui amal. Dengan memperbaiki diri, menguatkan ibadah, memperbanyak kebaikan, dan mengurangi cela dan meninggalkan dosa.

Sebab kita tidak pernah tahu berapa helai sisa usia yang masih diberikan, namun kita selalu diberi kesempatan untuk mengisinya dengan cahaya.

Terakhir, saya ingin mengajak pembaca sejenak mendoakan. Ya Allah, ampunilah kedua hamba-Mu, H. Susilo dan Patta Amang. Luaskan dan terangkan tempat peristirahatan mereka. Tempatkan mereka di kalangan hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai dan ridai. Kuatkan keluarga yang ditinggalkan, mantapkan hati mereka dengan kesabaran dan keteguhan. Jadikan wafatnya kedua saudara kami ini sebagai cermin bagi kami: untuk lebih ikhlas dalam beramal, lebih sadar akan kefanaan, dan lebih siap menyambut perjumpaan dengan-Mu. Aamiin.

*Sarmadani Karani, S.E. adalah ketua DPD Hidayatullah Sidrap, dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

Panitia Muswil VI Hidayatullah Sulsel Audiensi dengan Wali Kota Makassar, Undang Pembukaan Acara

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Panitia penyelenggara Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-VI Hidayatullah Sulawesi Selatan melakukan audiensi dengan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, S.H., Senin (01/12/25). Pertemuan ini bertujuan untuk menyampaikan rencana penyelenggaraan Muswil sekaligus mengundang dan memohon kesediaan Wali Kota untuk hadir serta membuka acara secara resmi.

Muswil VI Hidayatullah Sulsel yang mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045” ini rencananya akan digelar pada 5-7 Desember 2025. Acara ini merupakan agenda lima tahunan untuk menetapkan kepengurusan baru periode 2025-2030 dan menyusun peta kerja strategis organisasi.

Dalam audiensi tersebut, Ketua Panitia Muswil VI, Kadir, memaparkan perkembangan dan peran Hidayatullah sebagai lembaga yang berfokus pada pendidikan dan dakwah. Ia menegaskan bahwa musyawarah ini dirancang untuk berkontribusi nyata dalam menjawab tantangan bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045.

“Kami sangat mengharapkan kehadiran dan dukungan Bapak Wali Kota. Pembukaan oleh pimpinan daerah akan memberikan motivasi besar bagi seluruh peserta dan menjadi bentuk sinergi yang konkret antara pemerintah dan elemen masyarakat dalam membangun umat dan bangsa,” ujar Kadir.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyambut baik rencana kegiatan ini dan memberikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah selama ini dalam bidang keumatan dan pendidikan di Makassar maupun Sulawesi Selatan.

“Saya mengapresiasi inisiatif dan kerja nyata Hidayatullah. Insya Allah, saya berkomitmen untuk hadir dan membuka acara Muswil ini. Ini adalah forum yang strategis, dan kolaborasi seperti ini penting untuk kita kuatkan,” kata Munafri.

Sebagai puncak dari rangkaian Muswil, akan digelar Dialog Kebangsaan yang menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, di antaranya:

  • Prof. Dr. H. Muhammad Asdar, SE., M.Si. (Guru Besar Ekonomi Universitas Hasanuddin)
  • Ir. H. Irwan Bachr Syam, S.T., IPM (Bupati Luwu Timur)
  • Ir. H. Fadly Ibrahim, ST., MT. (Entrepreneur)
  • Prof. Dr. KH. Najmuddin H. Abd. Safa, LC., MA. (Ketua MUI Sulsel)

Dialog tersebut akan dimoderatori oleh Dr. Irfan Yahya, ST., M.Si. dan menampilkan Ketua Umum DPP Hidayatullah H. Naspi Arsyad, Lc. sebagai salah satu pembicara. Sementara itu, Pimpinan Majelis Syuro Hidayatullah, Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. akan bertindak sebagai Keynote Speaker.

Audiensi yang berlangsung penuh keakraban ini mencerminkan kuatnya silaturahmi antara pemerintah kota dan organisasi kemasyarakatan. Kehadiran Wali Kota diharapkan dapat mengukuhkan Muswil VI Hidayatullah Sulsel sebagai momentum penting untuk regenerasi kepemimpinan dan penyusunan agenda strategis keumatan di wilayah Indonesia Timur. /*

Reporter: Bashori

Spirit Wahyu: Ujian Hidup Adalah Bagian dari Jalan Rezeki

0

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Sering kali kita mengira bahwa ujian adalah pertanda Allah menjauh. Padahal justru sebaliknya: ujian adalah sinyal bahwa Allah sedang mengatur langkah kita menuju rezeki yang lebih baik. Kesulitan bukan penghalang; ia bagian dari proses yang Allah ciptakan untuk membentuk hati yang lebih kuat dan jalan hidup yang lebih lapang.

Setiap orang ingin rezeki yang mudah, pekerjaan yang stabil, usaha yang lancar, dan hidup yang tanpa hambatan. Namun, dalam sunnatullah, kemudahan selalu datang setelah kesulitan, bahkan hadir bersamanya. Bukan setelah setahun atau sebulan, tapi “ma’a” bersamaan, seperti ayat itu menegaskan.

Dalam ekonomi syariah, ujian adalah mekanisme penyaringan: Siapa yang tetap jujur meski tertekan, siapa yang tetap sabar meski terhimpit, siapa yang tetap tawakal meski rezeki datang lambat.

Justru pada titik itulah Allah sedang mengangkat derajat seseorang.

Saya teringat beberapa fase hidup sendiri. Masa ketika usaha mandek, proposal ditolak, pekerjaan tidak jelas, atau amanah dakwah berat sementara kondisi ekonomi keluarga serba pas.

Saat itu saya sering bertanya, “Kenapa harus sekarang? Kenapa harus sulit?”

Namun setelah waktu berjalan, saya baru sadar: Kesulitan itulah yang menyiapkan kapasitas saya untuk memikul rezeki yang lebih besar.
Jika Allah memberi sebelum saya siap, mungkin hati saya tidak kuat, atau amanahnya tidak tertangani dengan baik.

Ujian bukan hanya menguji kekuatan, tetapi juga membersihkan niat.

Ketika semua jalan terasa sempit, kita kembali kepada Allah dengan cara yang lebih jujur, lebih dalam, dan lebih total.
Ketika usaha tidak membuahkan hasil, kita belajar tawakal. Ketika rencana gagal, kita belajar rendah hati. Ketika rezeki seret, kita belajar syukur.

Dan ketika semua itu terlewati, Allah memberi dengan cara yang tidak kita sangka.

Dalam logika ekonomi dunia, kesulitan adalah tanda kegagalan. Dalam logika ekonomi langit, kesulitan adalah pintu yang harus dilewati sebelum datangnya kemudahan.

Ujian hidup tidak pernah datang untuk mematahkan kita, tetapi untuk: menguatkan mental, menghaluskan hati, memperbaiki niat, dan memperluas barakah.

Percayalah, setiap orang yang hari ini kuat dan lapang—suatu saat pernah berdiri di tempat sempit yang penuh air mata.
Yang membuatnya bertahan bukan kekuatannya, tetapi keyakinannya.

Maka, spriti wahyu (edisi ini) adalah bahwa kesulitan adalah tanda bahwa Allah sedang membuka jalan baru dalam hidupmu. Sehingga, tenanglah, kemudahan sudah berjalan bersamamu.

Hasad Setitik Rusak Iman Sebelanga

0
Oleh: Masykur Suyuthi*

“Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) ‎lagi (jika tidak ‎membawa saudara kami).” (Yusuf [12]: 81)

Bukan sekali, saudara-saudara Yusuf memelas di ‎hadapan ayahnya, Nabi Ya’qub Alaihi as-Salam (As). Kali ini mereka melaporkan usahanya untuk memperoleh ‎bantuan gandum yang kedua kalinya dari negeri Mesir.‎

Sebelumnya mereka telah dipesan oleh pembesar negeri Mesir. Jika ingin kembali lagi, ‎hendaknya datang bersama Bunyamin, saudara kalian yang bungsu. Demikian pesan ‎Yusuf, pembesar kerajaan tersebut.

“… Sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat ‎jatah ‎dan kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf [12]: 63).‎

Bagi yang membaca kisah Nabi Yusuf Alaihi as-Salam (As), orang itu tentu tahu seperti apa karakter Yusuf ‎dan juga adik kandungnya, Bunyamin.

Sebagaimana ia juga mesti paham bagaimana tabiat ‎saudara-saudara tirinya yang telah memendam dengki yang tak kunjung usai sejak Yusuf masih kecil.‎

Lihatlah, betapa indahnya ucapan di atas yang disampaikan kepada ayahnya. Padahal, dulunya ‎karena iri hati mereka pernah sengaja membuang Yusuf kecil ke sumur tua.

Kepada ‎ayahnya yang seorang utusan Allah, saudara tiri Yusuf itu lalu kompak berdusta jika Yusuf ‎diterkam serigala saat mereka sedang bermain.‎

Uniknya, kini mereka kembali datang menghadap kepada Nabi Ya’qub, mengakui Bunyamin sebagai saudara mereka yang layak dijaga. Asalkan mereka bisa mendapat jatah ‎gandum kembali di Mesir.

“Fa arsil ma’ana akhana” yang artinya ‎‎“Sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami…”‎ Demikian rayuan yang keluar dari lisan-lisan mereka. Kali ini Bunyamin yang disebutnya sebagai (benar-benar) saudara di hadapan ayahnya.

Kata orang bahasa adalah soal rasa. Sedang rasa sekaligus rupa merupakan cermin daripada akhlak. ‎Adapun akhlak, bagi orang beriman, ia bukan cuma kebiasaan apalagi respons sesaat. Tapi sebagai buah dari ‎keyakinan dan ketaqwaan yang menancap di dada.‎

Sayangnya, didapati bahasa indah yang ditutur oleh saudara-saudara Yusuf itu hanya ‎bersifat musiman saja. Buktinya, ketika Bunyamin terkena masalah dalam perjalanan. ‎Mereka justru ramai-ramai “cuci tangan”.

Mereka tak mau direpotkan atau disangkutkan dengan saudaranya. Apalagi sampai diminta menanggung beban dan menolong saudaranya tersebut.

Mari cerna bahasa mereka sekarang. Kepada ayahnya mereka melaporkan kejadian ‎yang menimpa saudaranya itu. “Inna ibnaka saraqa…” Sesungguhnya anakmu telah melakukan tindak pidana ‎pencurian. Itulah yang mereka paparkan kepada Nabi Ya’qub, orang tua yang begitu ‎penyabar.‎

Bisa dikata ucapan itu keluar tanpa beban, tanpa rasa, dan tanpa cela. Boleh jadi ‎mereka merasa tak lagi mendapat keuntungan dan manfaat dari kehadiran saudara-saudaranya.

Akibatnya ucapan itu keluar spontan begitu saja. Seolah Bunyamin ‎dan Yusuf hanya menimbulkan kesialan serta kerugian saja.
Lalu, kemana gerangan sapaan indah itu, “akhun” saudara atau “akhana” saudara kami, ‎sebagaimana saat mereka membutuhkan Bunyamin untuk sekantung gandum.

Mengapa yang tercetus justru ucapan “ibnaka saraqa” anakmu yang mencuri. ‎Bukankah mereka masih saudara bahkan sejak dulu tumbuh berkembang bersama-‎sama di bawah asuhan nabi Ya’qub?‎

Ala kulli hal, disadari, arus materialisme dan individualisme kian menggerus tatanan masyarakat ‎sekarang. Dengannya orang lalu menilai sesuatu hanya karena tolak ukur materi dan ‎kepentingan duniawi. Bahkan tak jarang, orang itu tega menari di atas lara saudaranya ‎yang seiman.‎

Seharusnya umat Islam sadar bahwa kekuataan itu lahir jika dirajut melalui ukhuwah imaniyah. Sedang kehancuran ‎itu timbul jika potensi dan talenta yang dipunyai hanya dibiarkan berserak begitu ‎saja.

Terakhir, iri hati (hasad) dan kesombongan itu adalah virus laten yang merusak. Ia jadi sumber ‎kelemahan bahkan kehancuran. Virus hasad dan angkuh itu akan menggerogoti iman ‎dan ukhuwah. Akibatnya mereka mengaku bersaudara, tapi yang ada justru saling curiga dan ‎saling sikut selalu.

*Masykur Suyuti (Pegiat Komunitas Sahabat Puang Karua)

Transparansi Zakat dan Krisis Kepercayaan Publik

0
Oleh: Muh. Khaeril*

Kita sering mendengar ungkapan bahwa zakat adalah nafas keadilan dalam Islam, terutama pada saat bulan Ramadhan. Dari mimbar masjid sampai diskusi-diskusi kecil di beranda rumah, zakat dipandang bukan hanya sebagai kewajiban personal, tetapi sebagai jalan menghadirkan kesejahteraan bagi mereka yang tertatih dalam hidup.

Indonesia, Negeri yang digelari rumah besar umat Islam dunia, sudah seharusnya menjadi teladan dalam urusan ini. Dengan populasi penduduk yang lebih dari 80 persen beragama Islam, data BAZNAS menyebutkan potensi zakat Indonesa mencapai Rp 327 triliun per tahun. Angka yang nyaris mustahil dicerna oleh nalar sederhana, namun cukup untuk mengguncang peta kemiskinan nasional bila benar-benar dihimpun dan dikelola dengan baik.

Namun realitasnya, dana zakat yang terhimpun dan masuk ke lembaga zakat resmi tidak mencapai sepuluh persennya. Sementara itu, laporan Bank Dunia tahun 2025 menunjukkan bahwa 68,3 persen penduduk di Indonesia masih berada dibawah garis kemiskinan, sehingga masih sangat rapuh, mudah kembali meninggi bila diterpa krisis atau gejolak harga pangan.

Ada jurang menganga antara potensi zakat dan dampak sosial yang kita harapkan. Jurang itu bukan soal syariat, bukan soal kemampuan umat, bukan pula soal niat baik. Jurang itu bernama kepercayaan.

Sebuah penelitian terbaru oleh Mohammad Qutaiba dan timnya (2024) mengungkapkan hal yang seharusnya menjadi renungan kita bersama. Peneliti menelusuri 32 lembaga amil zakat nasional, memeriksa bagaimana lembaga-lembaga ini menyampaikan laporan keuangan dan kegiatan kepada publik.

Hasilnya menyisakan rasa getir.

Sebelas lembaga tercatat tidak menyediakan laporan keuangan sama sekali di website mereka. Tidak ada laporan tahunan, tidak ada ringkasan penyaluran, bahkan tidak ada jejak audit. Sementara itu, hanya satu lembaga yang memenuhi standar keterbukaan dengan baik.

Penelitian tersebut menulis dengan lugas bahwa sebagian masyarakat memilih menyalurkan zakat langsung kepada mustahik karena “persepsi kurangnya transparansi dan akuntabilitas” dari lembaga resmi. Dalam bahasa sederhana: masyarakat tidak tahu uang mereka digunakan untuk apa, dan kepada siapa.

Ini bukan persoalan sepele. Jika zakat adalah amanah, maka amanah menuntut kejelasan. Bila lembaga zakat gagal menunjukkan keterbukaan, bagaimana mungkin muzakki merasa tenteram?

Transparansi bukan soal administrasi; ia adalah jembatan moral antara lembaga dan umat.

Kita tentu tidak boleh menutup mata. Dalam banyak kesempatan, lembaga zakat telah menunaikan tugas mulianya: menyekolahkan anak yatim, membangun sumur di desa terpencil, mengangkat keluarga miskin menjadi pedagang, petani, atau pengusaha kecil. Di balik itu, ratusan bahkan ribuan amil bekerja tanpa gembar-gembor. Mereka layak dihormati.

Namun penghormatan itu tidak menghapus kebutuhan akan transparansi yang kokoh dan dapat diandalkan. Justru dalam lembaga-lembaga yang memegang amanah publik, keterbukaan adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Tanpanya, rasa percaya yang selama ini menjadi fondasi sosial bisa runtuh perlahan.

Ada satu fakta yang sulit dibantah: ketika lembaga zakat transparan, penghimpunan meningkat. Ketika penghimpunan meningkat, dampak sosial meluas. Ketika dampak meluas, kepercayaan publik semakin kuat. Ini lingkaran kebajikan yang harus kita jaga bersama.

Sebaliknya, ketika keterbukaan diabaikan, mulailah muncul lingkaran sebaliknya: keraguan, apatis, dan akhirnya penurunan partisipasi umat.

Di tengah perjuangan mengatasi kemiskinan, kita sesungguhnya memiliki sumber daya spiritual, sosial, dan ekonomi yang sangat kuat. Namun kekuatan itu tersebar, tercerai, dan kehilangan daya dorong karena tidak didukung sistem pelaporan yang baik.

Zakat dalam sejarah Islam adalah instrumen fiskal yang hebat. Ia pernah menghapus kemiskinan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Tetapi keberhasilan itu tidak turun dari langit; ia hadir karena tata kelola yang rapi, jujur, dan transparan.

Indonesia dapat menempuh jalan yang sama. Tidak sulit untuk memulai:

– Laporan keuangan harus dibuka seterang mungkin.

– Audit harus menjadi standar, bukan pilihan.

– Website bukan sekadar etalase program, tetapi pusat informasi publik.

– BAZNAS perlu memimpin standardisasi pelaporan nasional sehingga semua LAZ berjalan dalam ritme yang sama.

Ketika lembaga zakat memulai keterbukaan, umat akan membalas dengan kepercayaan. Dan dari kepercayaan itulah zakat akan menemukan kembali cahayanya.

Zakat, pada akhirnya, bukan hanya angka dalam tabel. Ia adalah harapan bagi keluarga miskin, pintu rezeki bagi yatim dan dhuafa, serta pertolongan bagi mereka yang terlilit utang. Ia adalah jembatan kebaikan antara mereka yang diberi kelapangan dan mereka yang belum beruntung.

Kita tidak kekurangan umat, tidak kekurangan ajaran, dan tidak kekurangan harta. Yang kita butuhkan hanyalah kepercayaan—dan kepercayaan itu tumbuh dari transparansi. Saat zakat kembali dikelola dengan keterbukaan, maka ia akan kembali menjadi pelita bagi jutaan rakyat yang masih hidup dalam kesulitan. Disaat itulah zakat menemukan makna sejatinya: bukan sekadar kewajiban, tetapi keadilan sosial yang hidup.

*Penulis adalah mahasiswa pascasarjana IAI SEBI, konsentrasi Islamic Social Finance.