Beranda blog Halaman 15

Musda Gabungan Zona Makassar Sekitar Resmi Dibuka di Gowa, Bahas Militansi Kader Menuju Indonesia Emas 2045

0

GOWA (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah zona Makassar sekitar yang melibatkan DPD Hidayatullah Makassar, Gowa, Maros, dan Pangkep resmi dibuka pada Sabtu pagi (20/12/2025). Kegiatan ini dipusatkan di Gedung Aula Serbaguna Kampus Tahfizh Auladi Bollangi, Kabupaten Gowa, dan diikuti sekitar 50-an peserta dari berbagai unsur kepengurusan.

Musda Gabungan ini mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”, yang merupakan tema turunan dari hasil Musyawarah Nasional (Munas) dan Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah. Tema tersebut menegaskan komitmen organisasi dalam menyiapkan kader dan struktur dakwah yang berkontribusi nyata bagi masa depan bangsa.

Musda Gabungan secara resmi dibuka oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muh. Saleh Usman, yang dalam arahannya mengangkat tema Militansi Kader Menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Islam tidak boleh dikelola secara biasa-biasa saja, melainkan dengan kesungguhan, visi besar, dan kerja nyata yang terukur.

“Indonesia Emas 2045 tidak hadir secara instan. Ia membutuhkan tahapan, proses panjang, dan kerja nyata yang dimulai dari hari ini,” tegasnya.

Ia juga menekankan urgensi soliditas tim di tingkat DPW yang harus bersenyawa dan menular hingga ke DPD-DPD se-Sulawesi Selatan. Menurutnya, spirit keislaman dan nilai tauhid, sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al-‘Alaq, semestinya melahirkan karya besar yang berdampak luas bagi umat dan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Muh. Saleh Usman juga mengingatkan bahaya kesombongan sebagai pangkal berbagai kerusakan, sekaligus menyebutkan indikator kader militan, yakni memiliki spirit yang kuat, wawasan yang luas, serta kualitas ibadah yang kokoh.

Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan peserta adalah ketika ia menyampaikan:

“Kalau ada kader yang gampang sekali mencari kekurangan orang lain dan susah melihat kebaikan orang lain, maka bisa dipastikan besar kemungkinan dia berteman dengan syaithon.”

Sebelumnya, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, KH. Abdul Majid, MA, dalam sambutannya menekankan pentingnya soliditas tim dalam mengemban amanah organisasi. Ia menilai dinamika kepemimpinan di wilayah Sulawesi Selatan telah melalui proses panjang dan penuh ujian.

Ia juga memberikan penekanan moral kepada jajaran pengurus wilayah agar meningkatkan kesungguhan dalam bekerja.

“DPW periode baru ini harus (lebih) mengurangi tidur dan makan, serta tidak terlalu santai. Amanah ini menuntut keseriusan dan pengorbanan,” ujarnya.

Setelah pembukaan, Musda Gabungan dilanjutkan dengan rangkaian agenda persidangan yang diawali musyawarah pendahuluan untuk menetapkan tata tertib, jadwal kegiatan, serta penunjukan pimpinan sidang. Agenda kemudian berlanjut ke Musyawarah Paripurna I yang memuat penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus dari empat DPD sekaligus penetapan status demisioner kepengurusan periode sebelumnya.

Selanjutnya, Musyawarah Paripurna II digelar dengan agenda pembacaan maklumat Ketua DPW serta penetapan Ketua DPD Makassar, Gowa, Maros, dan Pangkep. Rangkaian sidang ditutup melalui Musyawarah Paripurna III yang menetapkan anggota kelengkapan struktural DPD di empat kota dan kabupaten tersebut, sebelum akhirnya Musda Gabungan secara resmi ditutup.

Panitia menyampaikan bahwa agenda yang paling ditunggu, yakni penetapan Ketua DPD dan kelengkapan struktur masing-masing daerah, dijadwalkan berlangsung sebelum atau setelah salat Ashar pada hari yang sama, menyesuaikan dinamika sidang.

Musda Gabungan zona Makassar sekitar ini diharapkan dapat melahirkan kepemimpinan daerah yang solid, militan, dan siap berkontribusi aktif dalam agenda besar pembangunan umat menuju Indonesia Emas 2045.a siap menggerakkan dakwah dan pendidikan umat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Menatap Dakwah Hidayatullah di Toraja: Asesmen Medan, Kader, dan Keberlanjutan Dakwah 2025–2030

0
Oleh: Abdul Aziz Dara*

Musyawarah Daerah (Musda) Hidayatullah untuk 24 kota/kabupaten se-Sulawesi Selatan yang akan digelar mulai besok, Sabtu, (20/12/2025) hingga Jumat (26/12/2025) semestinya tidak dibaca semata sebagai agenda rutin pergantian kepengurusan. 

Dalam perspektif sosiologi organisasi, Musda adalah momentum reflektif untuk menilai kapasitas adaptif organisasi terhadap medan dakwah yang dihadapi, sekaligus menata ulang orientasi kebijakan agar lebih selaras dengan realitas sosial di tingkat lokal. 

Musda, dengan demikian, menjadi ruang jeda strategis untuk membaca ulang capaian masa lalu dan merumuskan kebutuhan dakwah dan tarbiyah periode 2025–2030 secara lebih jernih dan kontekstual.

Dalam kerangka tersebut, posisi Tana Toraja (yang akan mengikuti Musda Gabungan Zona Ajatappareng pada Jumat (26/12/202) di Parepare) memiliki signifikansi tersendiri. Bagi Toraja, Musda bukan sekadar soal siapa yang ditugaskan, melainkan bagaimana wajah, arah, dan kualitas kehadiran Hidayatullah lima tahun ke depan. 

Musda merupakan sebuah critical juncture, titik persimpangan krusial yang akan menentukan apakah dakwah (dan tarbiyah) Hidayatullah di Bumi Lakipadada ini bergerak maju secara bermakna atau tetap terjebak pada stagnasi menggunakan pola lama, atau bahkan ditinggal tanpa nama.

Toraja Raya tidak dapat diperlakukan sebagai wilayah dakwah yang netral dan homogen. Ia adalah ruang budaya yang hidup, berlapis, dan telah terbentuk melalui proses sejarah yang panjang berusia ratusan tahun. Struktur sosial, sistem nilai, serta simbol-simbol adat membangun mekanisme seleksi sosial yang ketat terhadap kehadiran pihak luar, termasuk lembaga dakwah. 

Dalam konteks ini, kehadiran organisasi tidak cukup diukur dari aspek administratif semata. Bahwa yang penting petugas sudah ada. Tetapi ukurannya adalah sejauh mana Hidayatullah diterima sebagai bagian dari lanskap sosial masyarakat.

Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa tanpa kesadaran sosiokultural yang memadai, dakwah berisiko berhenti pada level simbolik. Pendekatan dakwah yang lazim diterapkan di wilayah mayoritas Muslim tidak dapat ditransplantasikan secara linear ke Toraja. Tempo dakwah, cara membangun relasi, dan indikator keberhasilan harus dibaca dengan parameter yang berbeda. 

Keberhasilan dakwah di Toraja tidak harus tampil dalam bentuk pertumbuhan kuantitatif yang cepat, melainkan hadir melalui kualitas hubungan, tingkat penerimaan kultural, dan keberlanjutan kehadiran dai dalam jangka panjang.

Karena itu, dakwah di Toraja sejatinya adalah kerja peradaban yang menuntut kesabaran terukur, konsistensi kebijakan, dan kesinambungan kaderisasi.

Sebagai salah satu pelaksana amanah pada periode 2020–2025 (sebagai PAW pada 2023), catatan reflektif ini disusun bukan untuk mengevaluasi personal. Atau untuk menghakimi kerja-kerja sebelumnya. Melainkan untuk membedah realitas lapangan secara objektif. 

Jika ditarik ke belakang, dakwah Hidayatullah di Toraja telah dimulai lebih dari dua dekade lalu, di bawah kepemimpinan Ustadz Abdul Majid, M.A sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sulsel ketika itu. Dengan Ustadz Burhanuddin sebagai petugas Hidayatullah pertama yang dikirim, yang masih bolak-balik Palopo – Toraja karena alasan rumah tinggal.

Namun hingga akhir periode 2020–2025 ini, capaian paling nyata yang dapat dicatat adalah keberadaan petugas dakwah yang definitif serta diperolehnya rumah pinjaman sebagai basis aktivitas.

Dalam konteks Toraja, capaian ini tidak bisa dipandang remeh. Ia menandakan adanya penerimaan awal masyarakat dan terbukanya ruang interaksi berkelanjutan. Akan tetapi, dalam kacamata organisasi, capaian tersebut juga menyimpan kerentanan struktural. 

Rumah pinjaman, dalam budaya Toraja yang sangat simbolik, merepresentasikan keberadaan yang belum sepenuhnya mapan. Ketiadaan aset permanen, baik tanah atau bangunan milik sendiri, bukan sekadar persoalan teknis. Tetapi ia juga akan berimplikasi pada legitimasi sosial, posisi tawar organisasi, dan persepsi keberlanjutan dakwah di mata masyarakat.

Bahkan hingga periode 2020–2025, gagasan untuk memiliki aset sendiri masih terasa tabu untuk diperbincangkan. Kita hanya berani berharap, semoga ada orang baik yang memberikan wakaf dan hibah aset, yang tentu saja harapan ini sudah ada sejak Hidayatullah pertama kali mengirim petugas ke Bumi Lakipadada ini.

Hal ini menunjukkan adanya hambatan psikologis dan strategis yang belum terpecahkan. Jika Hidayatullah ingin melangkah lebih mantap pada periode 2025–2030, maka pola bertahan di zona aman tidak lagi memadai. Toraja membutuhkan keberanian organisasi untuk keluar dari logika minimalis dan mulai membangun fondasi jangka panjang secara lebih visioner.

Realitas lain yang tak kalah penting adalah posisi dai dalam struktur sosial Toraja. Sebagaimana kita ketahui, masyarakat Toraja memiliki penghormatan tinggi terhadap strata sosial dan kemandirian ekonomi. Dalam budaya yang sangat memperhatikan status seperti itu, seorang dai tidak hanya dinilai dari kedalaman ilmunya, tetapi juga dari kemandirian dan martabat hidupnya.

Di sinilah kita perlu melakukan otokritik terhadap model penugasan kita selama ini. Pola yang diterapkan oleh lembaga seperti Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) patut menjadi bahan komparasi. 

Mereka tidak sekadar mengirim orang, tetapi memastikan bahwa dai tersebut “selesai” dengan urusan dasarnya. Dengan dukungan finansial yang terukur dan jaminan hidup yang layak, seorang dai dapat berdiri tegak sebagai pembawa risalah, bukan sebagai peminta-minta yang menggantungkan hidupnya kepada amplop yang juga tidak seberapa.

Ketika seorang dai memiliki kemandirian ekonomi, ia memiliki modal sosial yang lebih besar untuk melakukan penetrasi ke lapisan masyarakat yang lebih luas. Ia akan dipandang sebagai sosok yang berdaya, bukan beban sosial.

Menjamin kesejahteraan petugas dakwah di daerah minoritas bukan bentuk pemanjaan, melainkan strategi untuk menjaga marwah dakwah itu sendiri.

Jika Tana Toraja masih ditempatkan sebagai wilayah garapan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah pada periode 2025–2030, maka keseriusan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan tidak dapat lagi bersifat simbolik. Keseriusan itu harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang konkret, terukur, dan berpihak pada realitas lapangan. Setidaknya, terdapat tiga prasyarat strategis yang tidak bisa ditawar.

Pertama, ketepatan kader. Kader yang ditugaskan ke Toraja harus dipilih bukan semata karena ketersediaan personel, tetapi karena kesesuaian kompetensi. Ia harus memiliki kapasitas sebagai dai dan imam yang mumpuni, sekaligus kemampuan sosial untuk membaur secara alami di tengah masyarakat Toraja, sebagaimana praktik baik yang selama ini telah berjalan.

Kecerdasan budaya, kelenturan komunikasi, serta ketahanan mental menjadi prasyarat mutlak. Tanpa itu, petugas dakwah berisiko terasing secara sosial, meskipun secara struktural ia “hadir”.

Kedua, jaminan kebutuhan dasar sebagai bentuk tanggung jawab organisasi.

Realitas Toraja menunjukkan bahwa hingga kini tidak terdapat amal usaha yang mampu menopang pembiayaan dakwah secara mandiri. Bahkan, untuk membiayai kebutuhan dasar rumah tangga kader seperti pangan, pendidikan anak, dan/atau kebutuhan operasional minimal, sering kali masih tertatih-tatih.

Dalam kondisi seperti ini, menuntut kader untuk membiayai program dakwah secara swadaya bukan hanya tidak realistis, tetapi juga berpotensi melemahkan marwah dakwah itu sendiri.

Karena itu, DPW perlu menegaskan komitmen untuk menjamin kebutuhan dasar kader secara layak dan berkelanjutan. Jaminan ini bukan bentuk ketergantungan, melainkan prasyarat agar kader dapat fokus menjalankan fungsi dakwah dan tarbiyah tanpa dibebani kecemasan ekonomi yang berkepanjangan.

Ketiga, visi aset sebagai indikator keseriusan jangka panjang. Rumah pinjaman yang selama ini digunakan, dan masih dipinjamkan untuk waktu yang tidak ditentukan, perlu tetap dipertahankan sebagai basis aktivitas dakwah yang bermuatan historis. 

Namun, untuk periode 2025–2030, keberadaan rumah pinjaman saja tidak lagi cukup. Harus ada ikhtiar serius dan terencana untuk menghadirkan aset milik organisasi, baik berupa tanah maupun bangunan.

Disadari bahwa memperoleh aset di Toraja bukan perkara ringan. Hambatan kultural, psikologis, dan finansial membuatnya membutuhkan strategi ekstra dan pendekatan yang tidak biasa. Oleh karena itu, upaya pengadaan aset perlu ditempatkan sebagai proyek kolektif organisasi, bukan beban personal kader di lapangan.

Beberapa skema realistis dapat dipertimbangkan. Di antaranya adalah pola patungan strategis antara DPW dengan DPD-DPD lain yang sudah relatif berdaya, sehingga Toraja tidak dibiarkan berjuang sendiri. 

Selain itu, menggandeng lembaga filantropi seperti Baitul Maal Hidayatullah (BMH) untuk menjadikan pengadaan aset Toraja sebagai program khusus dan berkelanjutan juga layak dipertimbangkan. 

Bahkan, membuka peluang kerja sama dengan platform penggalangan dana publik seperti Kitabisa dapat menjadi opsi alternatif, selama dikemas dengan narasi dakwah yang kuat dan akuntabel.

Memiliki aset bukan semata soal kepemilikan fisik, tetapi tentang pesan simbolik kepada masyarakat Toraja bahwa Hidayatullah hadir dengan niat jangka panjang, serius, dan bertanggung jawab. Aset adalah penanda keberlanjutan, sekaligus fondasi psikologis bagi kader untuk bekerja dengan lebih mantap.

Menatap dakwah Hidayatullah di Toraja periode 2025–2030 berarti menyadari bahwa wilayah ini bukan medan kerja singkat, melainkan proyek peradaban jangka panjang. Kesalahan dalam menempatkan personel dan kebijakan akan berdampak panjang, sementara ketepatan asesmen dan keberanian mengambil keputusan strategis akan melahirkan fondasi dakwah yang kokoh. 

Sudah saatnya kehadiran Hidayatullah di Toraja tidak sekadar tercatat secara administratif, tetapi benar-benar hadir sebagai kekuatan moral dan sosial yang memberi warna bagi peradaban lokal.

*Abdul Aziz Dara, S.H.I. Ketua PAW DPD Hidayatullah Tana Toraja periode 2023-2025.

Spirit Wahyu: Ukhuwah Islamiyah sebagai Fondasi Gerakan

0
Oleh: Sarmadani Karani*

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

QS. Al-Hujurat : 10

Dalam bentang sejarah peradaban manusia, tidak ada imperium atau gerakan yang runtuh murni karena serangan eksternal sebelum ia mengalami pembusukan dari dalam.

Bagi kita sebagai penggerak dakwah, kenyataan ini adalah sebuah peringatan keras. Tatkala kita sibuk memukul genderang kemajuan dan merancang strategi besar untuk menembus cakrawala masa depan, sering kali kita melupakan satu elemen mikroskopis namun menentukan, yaitu kualitas hubungan antar-manusia di dalamnya.

Ayat yang mengawali tulisan ini telah memberikan garis batas yang tegas. Bukan sekadar jargon teologis, melainkan sebuah SOP Ilahiyah dalam membangun kohesi sosial. Namun, dalam realitas organisasi, ukhuwah sering kali hanya diletakkan sebagai aksesori, bukan sebagai inti energi.

Secara teknis, banyak organisasi Islam saat ini telah mencapai level kematangan yang luar biasa. Agenda-agenda strategis disusun dengan metodologi modern, program kerja dirancang dengan ambisius, dan struktur kepengurusan diisi oleh individu-individu dengan kompetensi mumpuni.

Namun, di balik kemegahan struktur tersebut, terdapat sebuah paradoks. Bahwa semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula ruang bagi ego untuk bisa menyusup.

Dalam tinjauan sosiologis, sebuah gerakan dakwah rentan mengalami “infiltrasi halus” berupa penyakit hati. Iri dengki, hubbud-dunya (cinta dunia), hingga egoisme sektoral sering kali bersembunyi di balik argumentasi-argumentasi organisasi yang tampak logis.

Ketika seorang pengurus merasa opininya paling benar, atau ketika terjadi persaingan terselubung demi eksistensi diri, pada titik itulah ukhuwah mulai retak.

Inilah yang sering kita sebut sebagai fenomena “sikut dan sikat”. Padahal, kita selalu bilng bahwa ridha Ilahi adalah tujuan kolektif.

Tetapi ironisnya, kita sering kali fasih meneriakkan kebesaran Allah di podium, namun gagap dalam memaafkan kesalahan kecil saudara se-perjuangan di ruang rapat.

Kita perlu menyadari bahwa ukhuwah adalah “mata uang” termahal dalam perjuangan. Peradaban tidak akan pernah tegak di atas hati yang saling menjauh.

Apa artinya sistem yang canggih jika di dalamnya dipenuhi oleh kecurigaan? Apa gunanya gedung dakwah yang megah jika di dalamnya berdiri individu-individu yang saling mengisolasi diri secara emosional?

Perjuangan tanpa ukhuwah hanyalah sebuah fatamorgana. Ia tampak seperti gerakan dari jauh, namun tidak memiliki cahaya (nur) di dalamnya.

Tanpa persaudaraan yang tulus, sebuah organisasi hanyalah sekumpulan orang yang berkumpul, bukan sebuah jamaah yang bersatu. Persatuan (jamaah) membutuhkan ketundukan ego, sementara perkumpulan (perhimpunan) hanya membutuhkan kehadiran fisik.

Inilah yang patut menjadi renungan kita. Jika hari ini perjuangan kita terasa berat dan jalan di depan tampak buntu, mungkinkah itu karena Allah sedang menahan rahmat-Nya akibat hati kita yang tak lagi bertaut?

Menata masa depan perjuangan harus dimulai dari titik nol, yaitu Purifikasi Nia. Mengikhlaskan dan meluruskan nawaitu. Kita perlu kembali ke meja muhasabah, bukan untuk mengevaluasi laporan keuangan atau capaian program, melainkan untuk mengevaluasi “kesehatan” hati kita satu sama lain.

Sudahkah kita mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri sendiri? Ataukah kita menganggap saudara kita sebagai kompetitor dalam memperebutkan panggung?

Masa depan Hidayatullah ini bukan ditentukan oleh seberapa banyak aset yang kita miliki, melainkan oleh seberapa kuat tali persaudaraan yang kita jalin. Setiap napas perjuangan harus menjadi zikir kebersamaan, di mana perbedaan pendapat menjadi rahmat, dan persamaan tujuan menjadi pengikat kuat.

Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali kompas abadi yang diletakkan Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”

Perintah untuk “berpegang pada tali Allah” disandingkan langsung dengan larangan untuk “bercerai-berai”. Ini menunjukkan bahwa integritas spiritual seseorang tidak bisa dipisahkan dari integritas sosialnya. Seorang pengurus ormas yang hebat bukanlah dia yang paling vokal, melainkan dia yang paling mampu merangkul dan menjahit kembali ukhuwah yang sempat terkoyak.

Mari kita bangun peradaban ini dengan batu bata ukhuwah yang kokoh. Sebab, di atas fondasi kasih sayang itulah, rahmat Allah akan turun secara sempurna.

KM. Lambelu, 17 Desember 2025

*Sarmadani Karani, S.E., adalah ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah 2025-2030.

Songsong Indonesia Emas 2045, Hidayatullah Sulsel Gelar Musda Serentak di Lima Zona

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan resmi menetapkan jadwal dan teknis pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) serentak tingkat Dewan Pengurus Daerah (DPD) kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan, Ahad (14/12/2025). Agenda strategis ini dijadwalkan berlangsung pada 20 hingga 26 Desember 2025.

Musda kali ini mengusung format gabungan berbasis zonasi guna meningkatkan efisiensi dan koordinasi antardaerah. Sebanyak lima zona telah ditetapkan sebagai pusat pelaksanaan kegiatan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel periode 2025-2030, Dr. Muh. Saleh Usman, menjelaskan bahwa sistem zonasi ini diambil sebagai langkah strategis organisasi.

“Sistem zonasi ini diterapkan demi efisiensi dan efektivitas koordinasi. Namun, kami memastikan bahwa hasil-hasil Musda nantinya akan tetap dimaksimalkan dan diimplementasikan secara spesifik di daerah masing-masing, bukan lagi kolektif berdasarkan zona,” ujar Dr. Saleh Usman dalam keterangannya kepada redaksi.

Adapun pembagian dan jadwal Musda gabungan zonasi tersebut adalah sebagai berikut. Zona Makassar dan sekitarnya akan diikuti oleh DPD Makassar, Gowa, Pangkep, dan Maros. Musda zona ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 20 Desember 2026 dengan Kampus Hidayatullah Bollangi, Gowa, sebagai tuan rumah.

Zona Selatan akan diikuti oleh enam DPD, yakni Bulukumba, Jeneponto, Takalar, Sinjai, Kepulauan Selayar, dan Bantaeng. Musda gabungan zona ini akan dilaksanakan di Kabupaten Bulukumba pada Ahad, 21 Desember 2026.

Zona Bosowa melibatkan tiga DPD, yaitu Bone, Soppeng, dan Wajo. Musda gabungan zona Bosowa dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Bone pada Senin, 22 Desember 2026.

Sementara itu, Zona Luwu Raya akan menggelar Musda gabungan pada Rabu, 24 Desember 2026 dengan Kota Palopo sebagai tuan rumah. Zona ini diikuti oleh lima DPD, yakni Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Toraja Utara, dan Kota Palopo.

Adapun Zona Ajatappareng akan melaksanakan Musda gabungan pada Jum’at, 26 Desember 2026 di Kota Parepare. Musda zona ini diikuti oleh enam DPD, yaitu Parepare, Enrekang, Sidrap, Pinrang, Barru, dan Tana Toraja.

Pelaksanaan Musda ini merupakan bagian dari rangkaian suksesi kepemimpinan Hidayatullah pasca-Musyawarah Nasional (Munas) yang digelar pada Oktober 2025. Munas tersebut menetapkan KH. Naspi Arsyad, Lc., sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah periode 2025–2030.

Di tingkat wilayah, Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sulsel yang berlangsung di Asrama Haji Makassar pada 5–7 Desember 2025 telah mengamanahkan kepemimpinan DPW kepada Dr. Muh. Saleh Usman, menggantikan Drs. Nasri Bohari.

Mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”, Musda Hidayatullah se-Sulsel 2025 diarahkan untuk memperkuat struktur kepemimpinan di tingkat akar rumput serta merumuskan program kerja strategis sesuai karakter dan kebutuhan daerah.

Dr. Saleh Usman juga menekankan pentingnya menjaga semangat kolaborasi dalam kepengurusan periode 2025–2030 di seluruh kabupaten dan kota. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci dalam mengelola dan memaksimalkan potensi kader di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

“Kolaborasi adalah kunci untuk menyatukan seluruh potensi kader. Dengan sinergi yang kuat, pengurus daerah dapat mengoptimalkan peran Hidayatullah bagi kemajuan umat dan bangsa,” tegasnya.

Untuk memastikan kualitas dan keseragaman hasil Musda, DPW Hidayatullah Sulsel akan menurunkan jajaran pengurus secara penuh guna mendampingi dan mengawal pelaksanaan Musda gabungan di seluruh zona. Musda ini bertujuan menetapkan struktur kepengurusan DPD Hidayatullah periode 2025–2030 sekaligus merumuskan program kerja strategis di tingkat kabupaten dan kota.

Spirit Wahyu : Terasa Berat Penderitaan Itu

0
Oleh: Sarmadani Karani*

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

QS. At-Taubah : 128

Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu. Ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Hidup selalu bergerak. Ia tidak memberi jeda panjang kepada siapa pun. Dari satu amanah ke amanah lain, dari satu ujian ke ujian berikutnya, manusia terus dituntun untuk berjalan. Langkah itu baru benar-benar berhenti ketika kematian akhirnya datang menutup perjalanan.

Saya merasakan hal itu dengan sangat kuat setelah bermalam di Pulau Kabetan, Toli-Toli. Di pulau kecil yang dikelilingi angin asin dan debur ombak itu, saya bertemu seorang dai muda bernama Agus. Ia tinggal bersama istri dan dua anak balitanya di sebuah rumah sederhana berukuran hanya 3 × 3 meter. Tidak ada fasilitas berarti. Tidak ada sandaran duniawi yang bisa menjanjikan kenyamanan. Yang tersisa hanyalah ketabahan, keyakinan, dan hati yang kuat memegang amanah dakwah.

Melihat kehidupannya, saya sempat terdiam. Bagaimana mungkin ia mampu bertahan berbulan-bulan di tempat seperti itu? Tanpa sokongan dana yang jelas, tanpa gelar mentereng, tanpa keramaian manusia yang sering menjadi sumber motivasi banyak orang. Yang menopangnya hanyalah cahaya iman, panggilan akhirat, dan cinta kepada risalah yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.

Pertemuan itu mengajarkan saya sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang tampak. Sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah, wilayah pengabdian yang terbentang seluas 61.841 km² sering kali tampak seperti kumpulan angka dan peta.

Namun perjalanan ke pulau terpencil itu mengubah sudut pandang saya. Di balik angka luas wilayah, ada wajah-wajah para dai yang hidup dalam sunyi. Mereka bukan sekadar pelaksana program. Mereka adalah amanah ruhani yang mesti dihayati, bukan hanya dicatat.

Pada saat itulah ayat di atas terasa begitu hidup. Allah menggambarkan karakter Rasulullah ﷺ dengan bahasa yang menyentuh hati.

“Berat terasa penderitaanmu.” Beliau tidak hanya menyimak keluhan umatnya. Beliau merasakan sakit mereka di dadanya sendiri.

“Ia sangat menginginkan keselamatan bagimu.” Setiap langkah dakwah Rasulullah lahir dari kerinduan agar umat ini selamat, di dunia maupun akhirat.

“Penyantun dan penyayang.” Kasih sayang beliau bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan nyata yang terus berlangsung sepanjang hidupnya.

Sifat-sifat ini seharusnya tumbuh dalam diri setiap pemimpin, terutama pemimpin umat. Kepemimpinan tidak cukup berdiri di atas strategi dan angka. Ia membutuhkan hati yang peka terhadap penderitaan orang-orang yang dipimpin. Ia menuntut kesadaran untuk tidak hanya menggerakkan program, tetapi juga menggerakkan jiwa. Tanggung jawab bukan hanya soal target, tetapi juga tentang kelembutan hati dalam memikulnya.

Di Pulau Kabetan, saya merasa Rasulullah ﷺ seperti mengingatkan kita kembali, bahwa kepemimpinan bukan diukur dari luasnya wilayah atau besarnya organisasi, tetapi dari seberapa kuat kita merasakan derita mereka yang berada di bawah tanggung jawab kita.

Palu, 12 Desember 2025

*Sarmadani Karani, ketua DPD Hidayatullah Sidrap 2021-2025, yang kini diberi amanah sebagai ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah 2025-2030.

Spirit Wahyu : Ngopi Pagi di Serambi

0
Oleh: Sarmadani Karani*

Serambi rumah itu menjadi saksi sunyi bagaimana sebuah pagi dapat memanggil kembali kesadaran tentang perjalanan panjang dakwah. Secangkir kopi tubruk yang mengepul setengah gelas menyebarkan aroma hangat ke udara lembap.

Gerimis tipis turun perlahan, memandikan langit Toli-Toli yang masih digelayuti gelap. Pada pukul 06.19, suasana seperti menahan napas, seolah-olah waktu mengajak siapa pun yang terjaga untuk merenungkan langkah berikutnya.

Di tengah kesunyian itu, jari saya menari lincah di layar ponsel, menanggapi pesan dari saudara-saudara seperjuangan yang tak henti mengalir. Rubrik “Spirit Wahyu” menunggu untuk dilanjutkan, sementara notifikasi lain berbunyi pelan, mengingatkan janji temu dengan Ustad Baharuddin Mustafa di Pelabuhan Tanjung Batu.

Aroma kopi pahit berpadu dengan udara basah, menciptakan harmoni khas pagi pesisir yang membangkitkan energi setelah malam panjang.

Dalam diam yang berirama, pikiran saya melayang jauh, menelusuri bentang Sulawesi Tengah yang tak pernah sederhana. Wilayah ini adalah panggung dari rute-rute yang berliku, jalan raya yang menanjak dan meliuk di antara pegunungan, serta hamparan pesisir dengan pasir hitam yang seperti menyimpan kisahnya sendiri.

Agenda Musda yang mendesak, mutasi petugas yang membutuhkan presisi, dan proyeksi program 2026 dan seterusnya melintas satu per satu dalam benak, seperti gugusan tugas yang terus bergerak.

Sulawesi Tengah bukan sekadar titik di peta. Di sini, setiap jembatan yang reyot, setiap sungai dengan arus yang keras kepala, dan setiap desa terpencil menghadirkan pelajaran tentang ketabahan. Akses yang sulit bukan lagi hambatan, tetapi bagian dari ekosistem dakwah yang menuntut kehadiran lahir batin.

Di medan seperti ini, setiap langkah terasa sebagai bagian dari ikhtiar panjang untuk menghadirkan cahaya bagi masyarakat yang tersebar hingga pelosok.

Namun di balik kompleksitas medan, terdapat kekuatan yang sudah mengikat, yaitu ukhuwah. Ia seperti akar kokoh yang memeluk bumi, menjadi fondasi bagi perjalanan tarbiyah dan dakwah yang kolektif dan inklusif.

Jaringan Hidayatullah di Sulawesi Tengah kini tumbuh gagah dengan 11 DPD yang aktif, dua kampus madya yang hidup dengan hiruk pikuk belajar, dan sekitar 3.000 santri yang menjadikan lembaga ini sebagai rumah ilmu. Peta pengabdian hanya menyisakan dua kabupaten yang belum tersentuh kepengurusan, seakan-akan ada bait puisi yang menunggu untuk disempurnakan.

Saat memikirkan capaian ini, saya melihat bagaimana kerja-kerja sunyi para dai, guru, dan pengurus telah membentuk mosaik kekuatan umat. Mereka hadir dalam bentuk sederhana. Pada tawa anak-anak di madrasah, pada dapur umum yang aktif setiap akhir pekan, hingga obrolan hangat selepas subuh yang memupuk harapan.

Semua itu menyuarakan pesan yang sama, bahwa dakwah bukan sebatas program, tetapi ekosistem nilai yang terus dirawat dari generasi ke generasi.

Gerimis pagi ini membawa renungan tambahan tentang masa depan. Program besar ke depan menuntut integrasi yang lebih rapi, mulai dari transformasi pendidikan, penguatan kaderisasi, hinggapengembangan pusat-pusat dakwah baru di daerah-daerah yang masih kosong.

Kita membutuhkan strategi yang bukan hanya teknis, tetapi juga spiritual dan sosial. Tantangan global yang kian cepat memerlukan respons yang tidak hanya reaktif, tetapi visioner.

Di titik inilah optimisme menemukan tempatnya. Sulawesi Tengah menawarkan ruang luas untuk membangun jaringan dakwah dan pendidikan yang lebih kuat. Setiap desa yang terasa jauh, setiap dusun yang tampak senyap, justru menyimpan potensi besar bila disentuh dengan pendekatan yang tepat. Kita memiliki modal sosial yang kuat, SDM yang terlatih, dan semangat kolektif yang terus terjaga.

Maka pagi ini, di bawah langit Toli-Toli yang masih gerimis, saya menyadari bahwa semua ini bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi undangan untuk bergerak lebih jauh. Hidayatullah Sulawesi Tengah sedang berada pada fase penting untuk membangun struktur yang lebih rapi dan memperluas cakupan dakwah.

Dengan kerja sama yang solid, perencanaan matang, dan semangat yang terus dipupuk, masa depan itu bukan lagi mimpi, tetapi destinasi yang perlahan mendekat.

Inilah saatnya memperkuat jaringan, memperluas kolaborasi, dan memperbaharui komitmen. Dari serambi kecil ini, dengan secangkir kopi yang tinggal setengah, optimisme itu tumbuh kembali. Kita bergerak bukan karena wilayah ini mudah, tetapi justru karena tantangannya besar.

Dan di situlah letak kehormatan sebuah perjuangan, yaitu menjadikan Sulawesi Tengah lebih bercahaya melalui dakwah dan pendidikan yang berkelanjutan.

Toli-toli, 9/12/2025

*Sarmadani Karani, S.E., adalah Ketua DPD Hidayatullah Sidrap 2021-2025, yang sekarang diamanahi tugas sebagai Ketua DPW Hidayatulah Sulteng 2025-2030.

Nilai-Nilai Islam Diakui Menjadi Fondasi Konstitusional Negara, Dr. Aziz Qahhar Ajak Santri Ambil Peran Menentukan Masa Depan Bangsa

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Sejarah Indonesia disebut menyimpan jejak kuat peran ulama dalam merumuskan dasar negara, namun warisan itu dinilai belum sepenuhnya terwujud dalam perjalanan bangsa hingga hari ini.

Seruan agar santri dan tokoh-tokoh Islam mengambil peran strategis demi menjaga warisan tersebut kembali mengemuka. Hal itu sebagaimana disampaikan KH. Dr. Ir. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, M.S.I., Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah pada Sabtu lalu (06/12/2025).

Pemaparan itu disampaikan Dr. Abdul Aziz Qahhar dalam kapasitasnya sebagai Keynote Speaker pada Dialog Kebangsaan dan Keummatan bertema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Dialog ini merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Sulawesi Selatan yang digelar DPW Hidayatullah Sulsel pada 5–7 Desember 2025 di Asrama Haji Sudiang Makassar, menghadirkan pembicara lintas sektor sebagai panel pembanding.

Dalam forum tersebut, Dr. Abdul Aziz Qahhar menyoroti bahwa konsep negara-bangsa yang kita kenal hari ini memang produk Barat. Namun, ia menekankan bahwa akar keislaman telah tertanam kuat di Nusantara jauh sebelum proklamasi, terlihat dari hubungan berbagai kesultanan dengan Khilafah Turki Utsmani.

Menjelang kemerdekaan, ia menjelaskan, di masyarakat Indonesia hidup tiga ideologi yang saling tarik menarik. Yaitu nasionalisme (yang dibawa kalangan terpelajar seperti Soekarno-Hatta), komunisme (yang dibawa tokoh seperti Tan Malaka), dan Islam sebagai ideologi asli yang sudah mengakar (yang digaungkan Kasman Singgodimejo, Hasyim Asyari, Agus Salim, dll).

Soekarno, sebagai pemikir sinkretis, sejak 1927 telah menggagas penyatuan ketiganya, yang kelak dipraktikkan dalam konsep Nasakom.

Menurut Dr. Aziz Qahhar, titik krusial perjuangan nilai-nilai Islam terjadi pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dari sekitar 62 anggotanya, sekitar seperempat merupakan ulama dan representasi ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Uniknya, Jepang tidak memasukkan satu pun tokoh komunis radikal seperti Tan Malaka ke dalam BPUPKI.

“Alhamdulillah, pertarungan ideologinya tinggal dua: nasionalisme sekuler dan Islam,” ujarnya, menggambarkan ketegangan intelektual yang akhirnya melahirkan kompromi besar bernama Pancasila, sebuah formula yang disebutnya selaras dengan maqashid syariah.

Dalam ruang inilah Dr. Aziz Qahhar menyoroti peran vital Agus Salim, seorang ulama-intelektual. Soekarno sebagai Ketua Tim Sembilan menugaskan Agus Salim untuk menyusun naskah konsep Pembukaan UUD 1945.

“Itu sebabnya di Pembukaan UUD 1945 ada kalimat ‘Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa’. Kalau bukan santri, kalau orang sekuler apalagi komunis, tidak mungkin mau bilang begitu,” papar Aziz.

Lebih dari itu, dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, menurutnya, Agus Salim telah memasukkan maqashid syariah secara elegan.

Ia menjelaskan, menurutnya, perlindungan bangsa sepadan dengan hifdzun nafs; kesejahteraan umum mencerminkan hifdzul mal; mencerdaskan kehidupan bangsa sejalan dengan hifdzul ‘aql; sedangkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan manifestasi hifdzud din.

“Inilah jasa yang sangat luar biasa dari ulama kita. Bagaimana mereka memasukkan hakikat beragama, hakikat berislam, di Pembukaan dan dasar 1945,” ungkapnya dengan penuh penghargaan.

Namun, Dr. Aziz Qahhar menyayangkan bahwa warisan luhur tersebut belum sepenuhnya membahagiakan umat Islam. Menurut analisisnya, sepanjang sejarah Indonesia merdeka, negara ini belum pernah benar-benar dikuasai secara memadai oleh tokoh-tokoh Islam yang konsisten pada nilai-nilai tersebut.

Orde Lama dikuasai kelompok sekuler (Nasakom), Orde Baru oleh militeristik, dan Orde Reformasi justru hampir sempurna dikuasai oligarki.

“Ini tantangan kita. Santri harus ada yang jadi politisi, harus berpartai, harus masuk ke segala lini. Karena bangsa ini adalah warisan para ulama,” serunya.

Ia juga menyoroti fenomena politik terkini, khususnya figur Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Prabowo mewarisi ideologi sosialis dari ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo (tokoh Partai Sosialias Indonesia), yang dahulu bersekutu dengan tokoh-tokoh Masyumi.

“Sikap dasarnya bersahabat kepada Islam… dan anti-oligarki,” komentarnya.

Paparannya ditutup dengan refleksi bahwa Pancasila bukanlah antitesis dari Islam, melainkan payung besar yang mengakomodasi nilai-nilai maqashid syariah yang diperjuangkan para ulama sejak awal kemerdekaan.

Tantangan terbesar hari ini, menurut Dr. Aziz, adalah memastikan generasi santri dan anak bangsa lainnya mampu meneruskan warisan tersebut melalui peran nyata dalam politik, kebijakan publik, dan pembangunan nasional. Dengan begitu, cita-cita keadilan, kesejahteraan, dan kemerdekaan yang berdaulat dapat benar-benar diwujudkan.

Reporter: Basori Shobirin

Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana, Prof. Mustari Mustafa Tekankan Rekonstruksi Mindset Menuju Indonesia Emas 2045

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id)— Visi besar Indonesia Emas 2045 dinilai terancam tertunda bahkan “terkubur untuk seratus tahun ke depan” jika bangsa ini gagal berbenah dalam cara berdemokrasi dan membangun peradaban.

Peringatan itu disampaikan Prof. Dr. Mustari Mustafa, Pengurus MUI Sulawesi Selatan, saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan dan Keummatan bertema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045” yang digelar DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, pada Sabtu lalu (06/12/2025).

“Bonus demografi bisa menjadi berkah atau bencana. Tanpa perubahan mindset, ia bisa menjadi generasi frustrasi,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa hambatan terbesar menuju 2045 bukan semata persoalan teknis kebijakan, melainkan soal kedewasaan demokrasi dan kualitas sosial bangsa.

Demokrasi yang berjalan hari ini, menurutnya, terlalu sering berkutat pada “demokrasi jalanan” dan “demokrasi media sosial” yang menguras energi, memicu kelelahan kolektif, dan minim solusi.

“Aspirasi boleh, tetapi kita butuh evaluasi yang matang dan dieksekusi. Bukan sekadar luapan emosi,” ujarnya.

Prof. Mustari menekankan perlunya muhasabah nasional, sebuah introspeksi kolektif yang serius dan berdampak. Hal ini hanya dapat diwujudkan bila bangsa mampu membangun ulang pola pikirnya melalui integrasi tiga kekuatan fundamental, yaitu kekuatan spiritual, kekuatan sosial, dan kekuatan intelektual.

Tiga pilar ini, menurutnya, telah menjadi nilai dasar dalam agama dan falsafah bangsa, sekaligus fondasi bagi kepemimpinan peradaban.

Dalam aspek spiritualitas, ia menyoroti pesan dalam Surat Al-‘Asr yang dengan tegas menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman. Iman di sini bukan sekadar percaya dalam hati (ikrar) atau lisan, tetapi harus termanifestasi dalam akhlak dan tindakan nyata.

Problem kita adalah, lanjutnya, iman sering berhenti pada level personal dan ritual, belum menjadi pengendali kehidupan publik. 

Tingginya indeks korupsi, polusi, ketidakjujuran, dan ketidaktertiban adalah bukti nyata bahwa kecerdasan spiritual kita belum menyentuh aspek praktis. Seperti dikatakan seorang intelektual, kita mungkin melihat Islam di Eropa dalam bentuk ketertiban dan kejujuran masyarakatnya, tetapi sering tidak menemukannya di negeri-negeri Muslim.

“Iman harus artikulatif. Bukan hanya ikrar hati, tetapi terwujud dalam integritas, disiplin, dan tanggung jawab sosial,” katanya.

Pada pilar sosial, Prof. Mustari menilai masyarakat masih berada dalam jebakan individualisme dan akumulasi kekayaan yang berlebihan tanpa rasa cukup. Bencana dan kesenjangan sosial menjadi cermin lemahnya kecerdasan sosial. Ia menyinggung teladan figur-figur sederhana yang hidup asketis tetapi berdedikasi melalui pesantren dan lembaga sosial.

“Itu contoh kecerdasan sosial. Kepedulian yang membangun ketahanan komunitas,” ungkapnya.

Sementara pada pilar intelektualitas, ia mengingatkan bahwa literasi menjadi pekerjaan rumah paling berat. Kini, kata Mustari, selain tiga lingkungan pendidikan yang perkenalkan Ki Hajar Dewantara, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat, kita menghadapi lingkungan keempat, yaitu dunia digital.

“Anak-anak sejak TK sudah terpapar gawai tanpa kontrol. Negara belum hadir secara optimal,” tegasnya.

Ia mencontohkan kebijakan Thailand yang menyediakan gawai khusus pelajar dengan konten terkontrol negara untuk kepentingan edukasi. Kebijakan demikian, menurutnya, adalah bentuk literasi digital protektif yang dibutuhkan Indonesia agar generasi mudanya tidak hanya menjadi konsumen, melainkan kreator yang kritis dan produktif.

Prof. Mustari menegaskan bahwa ketiga pilar, yaitu spiritual, sosial, dan intelektual, harus dirajut dalam kolaborasi besar lintas sektor, mulainegara, keluarga, lembaga pendidikan, ormas, hingga seluruh elemen civil society.

“Kita perlu bersama-sama mengartikulasikan iman menjadi peradaban, mengubah kepedulian menjadi aksi kolektif, dan mengarahkan literasi untuk kemajuan bangsa,” tuturnya.

Ia menutup paparannya dengan penekanan bahwa dialog-dialog strategis seperti Muswil Hidayatullah harus terus dilanjutkan dan diperdengarkan lebih luas, terutama kepada para pemangku kebijakan.

“Visi Indonesia Emas 2045 bukan utopia. Ia bisa menjadi takdir bangsa ini, asal kita bersungguh-sungguh menyiapkan fondasinya,” pungkasnya.

Reporter: Basori Shobirin
Editor: Tim Sekretariat

Ekonomi Syariah Disebut Baru Menyentuh 16%, Prof. Asdar Dorong Sinergi Besar Menuju Indonesia Emas 2045

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id)— Kontribusi ekonomi syariah Indonesia yang baru berkisar pada angka 16% dinilai belum mencerminkan potensi besar umat Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini.

Kondisi tersebut dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang besar untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Hal itu sebagaimana disampaikan Prof. Muhammad Asdar, Ekonom Universitas Hasanuddin pada Sabtu lalu (06/12/2025).

Prof. Asdar menyampaikan pandangannya tersebut dalam Dialog Kebangsaan dan Keummatan bertema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045” yang digelar DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan,

Dialog tersebut merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Sulsel yang digelar pada 5–7 Desember 2025 di Asrama Haji Sudiang Makassar. Forum tersebut menghadirkan sejumlah pemateri dari lintas sektor, termasuk para akademisi, tokoh ekonomi, dan pakar kebangsaan.

Dalam penjelasannya, Prof. Asdar menekankan pentingnya mengubah cara pandang dalam membangun ekonomi umat. Lebih dari sekadar mengejar angka kontribusi, ia menilai bahwa ekonomi Islam harus membangun ekosistem yang mampu bersinergi dengan ekonomi konvensional.

“Ini bukan hanya tentang persentase, tapi tentang membangun ekosistem yang berkelanjutan. Ekonomi Islam harus bersinergi dengan ekonomi konvensional, bukan bergerak sendiri,” ujarnya.

Gagasan pemberdayaan pesantren sebagai pusat pertumbuhan ekonomi umat kembali ditegaskan dalam forum ini. Pesantren dinilai memiliki posisi strategis sebagai kawah candradimuka yang dapat melahirkan ulama sekaligus wirausaha Muslim.

Prof. Asdar mengaitkan hal ini dengan teladan Rasulullah SAW yang pernah menjadi pebisnis. Menurutnya, integrasi antara spiritualitas dan kewirausahaan bukan hanya mungkin, tetapi justru dahsyat dalam membentuk generasi pelaku ekonomi yang bernilai dan berkarakter.

Ia juga mendorong lahirnya wirausaha Muslim yang bukan hanya berdagang, melainkan menjadi pencipta nilai tambah. Pergeseran dari sekadar pedagang menjadi “creator” dianggap sebagai lompatan penting dalam penguatan ekonomi umat. Ini dapat diwujudkan melalui kurikulum kewirausahaan di pesantren, program inkubasi bisnis, dan pendampingan yang sistematis.

Bonus demografi dan kemajuan digital turut menjadi pembahasan penting. Prof. Asdar menilai bahwa ekonomi syariah harus mampu membaca momentum besar ini, terutama dengan memanfaatkan infrastruktur teknologi.

“Teknologi finansial syariah (fintech syariah) adalah kunci akselerasi yang akan mendekatkan layanan keuangan syariah kepada generasi milenial dan Gen-Z,” tandasnya.

Di tengah besarnya peluang ekonomi, ia mengingatkan tentang tantangan serius pada aspek karakter. Godaan terhadap pemimpin dan pengusaha Muslim kini tidak hanya terkait uang, tetapi melebar pada kekuasaan, wanita, harta, hingga berbagai janji duniawi.

Kondisi ini disebut sebagai “lima tahap godaan” yang dapat menjatuhkan seseorang ketika iman dan karakternya tidak kokoh. Prof. Asdar menegaskan bahwa dakwah ekonomi harus selalu berjalan beriringan dengan dakwah akhlak.

“Ulama atau pengusaha Muslim harus memiliki keteguhan iman yang menjadi benteng dari sogokan,” ujarnya mengingatkan.

Dalam konteks peluang, wisata religi disebut sebagai sektor yang dapat menjadi lokomotif ekonomi syariah sebagaimana terbukti di negara-negara seperti Turki. Indonesia memiliki kekayaan budaya dan sejarah Islam yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata religi kelas dunia. Potensi ini dinilai sangat besar apabila dikemas secara profesional.

Prof. Asdar juga menyoroti pentingnya kolaborasi nasional. Organisasi seperti Hidayatullah yang memiliki jaringan dakwah di 38 provinsi, persatuan mantan rektor, berbagai ormas Islam, hingga pemerintah daerah, dinilai memiliki kapasitas besar untuk membangun gerakan ekonomi syariah yang terstruktur.

Ia mengajukan mimpi besar: suatu hari ekonomi syariah dapat menyumbang hingga 50% dari PDB nasional. Menurutnya, target ini hanya bisa dicapai melalui gotong royong dan integrasi kekuatan umat.

Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa internalisasi iman adalah pondasi dari seluruh gerak ekonomi. Spirit keimanan harus terwujud dalam tindakan nyata, termasuk dalam pengembangan kewirausahaan berbasis nilai dan komitmen pemberdayaan umat.

Dengan perpaduan antara kekuatan pesantren, keteguhan karakter, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi seluruh elemen bangsa, harapan menjadikan ekonomi Islam sebagai pilar utama perekonomian nasional bukanlah utopia, melainkan cita-cita yang sangat mungkin diwujudkan.

Reporter: Basori Shobirin

Hidayatullah Sulsel Diminta Ambil Peran Strategis dalam Kedaulatan Pangan Nasional

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Pemerintah menyiapkan skema besar untuk mengalirkan anggaran negara langsung ke lapisan masyarakat terbawah melalui program pangan dan ekonomi kerakyatan.

Namun, keberhasilan agenda besar ini membutuhkan kolaborasi nyata dari organisasi Islam yang memiliki basis komunitas kuat.

Hal itu sebagaimana disampaikan Ir. H. Fadly Ibrahim, GM PT Agrinas Pangan Nusantara, pada Sabtu lalu (06/12/2025) dalam Dialog Kebangsaan dan Keummatan bertema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Dialog yang digelar oleh DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan tersebut merupakan rangkaian agenda Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Sulsel pada 5–7 Desember 2025 di Asrama Haji Sudiang, Makassar.

Dialog ini menghadirkan pembicara lintas sektor, salah satunya Ir. Fadly Ibrahim, yang menyorot pentingnya membangun ekosistem pangan nasional secara berjamaah.

Fadly Ibrahim menjelaskan bahwa pemerintah telah menempuh dua jalur utama untuk mempercepat swasembada pangan, yaitu intensifikasi melalui peningkatan produktivitas dan ekstensifikasi melalui pembukaan lahan baru, termasuk program pembangunan 1 juta hektar sawah.

Kebijakan ini, tegasnya, ditujukan untuk memastikan anggaran negara tidak berhenti pada level korporasi, tetapi benar-benar menggerakkan ekonomi rakyat.

“Ini adalah momentum menata ulang sistem pangan nasional agar benar-benar kembali menjadi kekuatan rakyat,” ujar Fadly.

Salah satu pilar ekosistem itu adalah program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Sebagai contoh, satu titik MBG dapat menyalurkan 200 kg beras per hari.

Dengan target 828 titik di Sulawesi Selatan misalnya, perputaran ekonomi di tingkat masyarakat menjadi sangat signifikan. Program ini merepresentasikan pergeseran dari ekonomi kapitalis menuju ekonomi kerakyatan.

Pada saat yang sama, pemerintah membangun Gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDK-MP). Sebanyak 82.000 unit direncanakan dibangun, sesuai dengan jumlah desa dan kelurahan di Indonesia.

Dengan investasi sekitar Rp 3 miliar per unit, total anggaran yang dialokasikan negara mencapai sekitar Rp 240 triliun. Realisasi pembangunan telah dimulai, dengan progress yang dilaporkan di berbagai daerah seperti Makassar (target 153 titik), Gowa (190 titik), dan Maros (119 titik).

Konsep sinergi dirancang di sini. Titik-titik MBG diwajibkan membeli beras dari Koperasi Merah Putih. Selain beras, kebutuhan telur untuk menu MBG (misalnya 1 butir telur per porsi) juga akan menciptakan pasar yang besar bagi peternak rakyat.

Dengan 828 titik MBG yang masing-masing membutuhkan 3000 butir telur, tercipta permintaan yang stabil.

“Inilah ekonomi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” tegas Fadly.

Dalam forum tersebut, Fadly menekankan bahwa organisasi Islam seperti Hidayatullah memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk masuk dalam ekosistem pangan nasional.

Beberapa peluang konkret yang ia paparkan antara lain terkait pasar kurban dan kuliner. Kebutuhan daging kurban di Sulawesi Selatan saja mencapai sedikitnya 50.000 ekor per tahun, belum termasuk permintaan daging untuk kuliner khas seperti Coto, Pallubasa, hingga Konro.

Kekurangan pasokan yang terjadi selama ini dapat dijawab melalui pemanfaatan lahan dan jaringan pesantren maupun komunitas yang dimiliki organisasi seperti Hidayatullah.

Peluang lainnya adalah keterlibatan langsung sebagai pemasok untuk program MBG dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Melalui jejaring jamaah, komunitas Hidayatullah dapat berkontribusi memasok beras, telur, dan komoditas pokok di wilayah masing-masing.

Skema ini bukan hanya memperkuat ekonomi organisasi, tetapi juga mendukung program nasional secara langsung.

Selain itu, terdapat peluang besar dalam penguatan kemandirian ekonomi organisasi. Dengan mengoptimalkan potensi jamaah dan pasar yang sudah terbentuk, organisasi Islam dapat membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan, tidak bergantung pada donasi, dan mampu menggerakkan unit-unit ekonomi produktif di tingkat akar rumput.

“Sinergi berjamaah memberikan multiplier effect yang besar. Organisasi Islam punya basis, punya komunitas, punya loyalitas. Inilah kekuatan yang harus dioptimalkan,” kata Fadly.

Fadly juga mengingatkan bahwa komitmen kebangsaan Indonesia dibangun oleh para ulama jauh sebelum 1908. Jejak tokoh seperti Al-Bantani, Al-Makassari, dan Al-Palembani menunjukkan bahwa identitas keindonesiaan telah melekat dalam gerakan ulama.

Semangat inilah, tegasnya, yang harus menyatukan anak bangsa dalam membangun kedaulatan pangan dan ekonomi kerakyatan.

Dengan target ambisius pembangunan 82.000 KDK-MP hingga Maret 2026, peluang kolaborasi antara pemerintah dan organisasi Islam terbuka sangat lebar.

Hidayatullah, dengan jaringan pesantren dan komunitasnya, disebut dapat menjadi mitra strategis dalam mewujudkan swasembada pangan, ekonomi kerakyatan, dan kedaulatan ekonomi nasional yang mandiri dan berkelanjutan.

“Forum seperti Muswil Hidayatullah ini adalah ruang strategis merancang langkah konkret kolaborasi menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Fadly.

Reporter: Basori Shobbirin