Beranda blog Halaman 14

Musda Gabungan Zona Bosowa Resmi Dibuka di Bone, DPW Tekankan Kader Militan Menuju Indonesia Emas 2045

0

BONE (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Zona Bosowa yang diikuti Dewan Pengurus Daerah (DPD) Bone, Soppeng, dan Wajo resmi dibuka pada Senin (22/12/2025).

Kegiatan yang dipusatkan di Aula Kampus Pesantren Al-Hikmah Panyula, Kabupaten Bone, ini dijadwalkan berlangsung selama satu hari penuh dengan agenda konsolidasi kepemimpinan dan penguatan arah gerak organisasi di tingkat daerah.

Pembukaan Musda diawali dengan sambutan panitia dan tuan rumah oleh H. Burhanuddin Jabbar, yang mengajak peserta untuk melihat perjalanan kader dan pengurus secara lebih adil dan objektif. Ia mengingatkan agar dinamika organisasi tidak semata-mata diwarnai oleh ingatan terhadap kekurangan personal, tetapi juga oleh apresiasi terhadap karya dan pengabdian yang telah dilakukan.

“Jangan hanya kesalahan orang yang kita ingat hingga memengaruhi keputusan dan kebijakan. Lihatlah karya-karya yang telah mereka lakukan. Sering kali, ketika sudah berpisah, barulah kita merasakan kerinduan kepada orang-orang yang selama ini kita nilai negatif,” ungkapnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, KH. Ismail Mukhtar. Dalam arahannya, ia menekankan dimensi spiritual sebagai fondasi utama perjalanan kader dan kepengurusan di Hidayatullah. Menurutnya, banyak keputusan penting dalam organisasi lahir dari “surat dari langit” berupa lintasan ilhami yang Allah hadirkan kepada hamba-Nya yang menjaga keikhlasan dan kedekatan dengan-Nya.

Ia mengingatkan bahwa amanah perjuangan di lembaga dakwah merupakan pekerjaan yang berat, sehingga menuntut kondisi spiritual yang senantiasa terjaga dengan baik. Ketika kedekatan hati dengan Allah melemah, persoalan kecil pun akan terasa sangat berat dijalankan.

Karena itu, ia mengajak para kader untuk segera melakukan muhasabah ketika menghadapi kesulitan yang terasa berlebihan. Menurutnya, bisa jadi ada jarak yang mulai terbentuk antara hati seorang pejuang dengan Rabb-nya, entah karena kelalaian dalam menjaga shalat wajib, kurangnya shalat sunnah, atau berkurangnya interaksi dengan Al-Qur’an.

“Jika hal-hal sepele terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan, tapi cek kembali kualitas ibadah kita,” pesannya.

Musda Gabungan Zona Bosowa kemudian secara resmi dibuka oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muh. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom. Dalam sambutan pembukaannya, Ketua DPW menegaskan kembali mainstream perjuangan Hidayatullah yang bertumpu pada pendidikan, dan dakwah.

Ia menekankan bahwa dakwah tidak boleh berhenti hanya karena Rasulullah SAW telah wafat. Justru, menurutnya, dakwah harus terus berlanjut melalui program-program yang mengajak manusia mengenal Islam secara utuh. Oleh karena itu, tahapan utama gerakan Hidayatullah adalah merekrut, membina, dan melahirkan kader yang loyal serta militan dalam perjuangan.

Dalam konteks menyongsong Indonesia Emas 2045, Ketua DPW menilai kebangkitan bangsa tidak mungkin terwujud tanpa etos kerja yang kuat, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam beramal. Ia mengingatkan bahwa budaya malas, kurang disiplin, dan terlalu banyak berleha-leha justru akan menjauhkan cita-cita besar tersebut.

“Hidayatullah harus hadir melahirkan kader-kader militan untuk menjawab tantangan kebangkitan menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kader militan tidak mungkin lahir tanpa mengikuti pola sistematika wahyu, yang dimulai dari Iqra’ bismi rabbik, kemudian Nun wal qalami, Ya ayyuhal muzzammil, Ya ayyuhal muddatsir, hingga Al-Fatihah.

Menurutnya, Surat Al-‘Alaq menjadi fondasi aqidah yang benar, sementara Surat Al-Qalam meneguhkan visi hidup yang berlandaskan Al-Qur’an.

Ketua DPW menambahkan bahwa indikator keimanan seseorang dapat dilihat dari kedekatannya dengan Al-Qur’an, mulai dari mengimaninya, membacanya, mentadabburinya, hingga memperjuangkannya dalam kehidupan nyata. Kader militan, lanjutnya, adalah mereka yang teruji loyalitas dan integritasnya dalam kondisi apa pun.

Pada bagian akhir sambutan, ia mengingatkan bahwa dakwah Al-Qur’an merupakan amanah besar yang jika salah urus justru dapat mendatangkan murka Allah SWT. Karena itu, Musda menjadi momentum penting untuk meluruskan niat, menguatkan komitmen, dan menata kepemimpinan daerah agar sejalan dengan nilai-nilai wahyu.

Musda Gabungan Zona Bosowa ini merupakan rangkaian lanjutan konsolidasi Musda DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, setelah sebelumnya digelar di zona Makassar Sekitar dan Zona Selatan. Selama Musda berlangsung, peserta akan membahas agenda penetapan kepemimpinan DPD, penyusunan struktur pengurus, serta arah kebijakan organisasi untuk periode mendatang.

Musda Zona Selatan Ditutup, Ketua DPW Sulsel Kembali Pesankan Keikhlasan dan Kewaspadaan dari Kebangkrutan Akhirat

0

BULUKUMBA — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Zona Selatan resmi ditutup oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Saleh Usman, Ahad (21/12/2025) sore menjelang waktu Maghrib.

Penutupan berlangsung khidmat di Gedung Phinisi BKPSDM Bulukumba, sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian Musda enam DPD: Bulukumba, Jeneponto, Takalar, Bantaeng, Sinjai, dan Kepulauan Selayar.

Dalam sambutan penutupnya, Ketua DPW mengapresiasi seluruh peserta yang telah menunjukkan dedikasi tinggi sejak awal hingga akhir forum.

Beliau menekankan bahwa transisi kepemimpinan dan pembacaan SK merupakan bagian dari ketaatan organisasi yang harus disambut dengan kesiapan mental.

“Yang telah melewati penugasan (periode sebelumnya), semua telah melakukan yang terbaik. Dan tentu yang (baru saja) mendapatkan amanah serta SK baru juga akan melakukan yang terbaik. Alhamdulillah, tidak ada yang menyertai forum ini kecuali hal-hal yang baik saja,” ujar beliau mengawali arahannya.

Suasana penutupan Musda berlangsung cair namun sarat makna. Ketua DPW menyelingi arahannya dengan pantun-pantun reflektif yang disambut antusias peserta, menegaskan bahwa amanah organisasi bukan untuk dihindari, melainkan dijalankan dengan penuh keteguhan.

“Bersama sahabat melambaikan tangan, di atas kuda yang berwarna merah. Jika SK sudah dibacakan, tiada kata untuk menyerah,” demikian salah satu petikan pantun yang beliau sampaikan sebagai pelecut semangat bagi para pengurus baru di enam kabupaten.

Ia mengingatkan bahwa setelah Surat Keputusan (SK) dibacakan, tidak ada ruang untuk menyerah. Amanah kepemimpinan, menurutnya, harus diterjemahkan dalam kerja nyata dan konsistensi perjuangan di lapangan.

Ketua DPW juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader, baik yang melepas amanah maupun yang menerima tanggung jawab baru. Menurutnya, tidak ada perbedaan antara kader muda dan senior, karena semuanya telah menunjukkan ketangguhan dan semangat juang yang sama dalam menggerakkan dakwah di daerah masing-masing.

Pada bagian inti tausiyah, Ketua DPW kembali menekankan pesan fundamental yang menjadi benang merah Musda Zona Selatan, yakni pentingnya keikhlasan dan menjauhi kezaliman dalam beramal.

Ia mengingatkan bahwa banyaknya amal tidak selalu berbanding lurus dengan keselamatan di akhirat jika tidak disertai niat yang lurus dan sikap adil terhadap sesama.

Mengutip pesan sahabat Ali bin Abi Thalib, ia menjelaskan bahwa dunia adalah tempat beramal tanpa hisab, sedangkan akhirat adalah tempat hisab tanpa amal. Karena itu, kesempatan beramal yang terbuka melalui amanah organisasi harus dijaga dari penyakit hati.

Ia juga menyinggung hadis Nabi Muhammad SAW tentang al-muflis, yakni orang yang bangkrut di akhirat karena pahala amalnya habis untuk menebus kezaliman yang pernah ia lakukan kepada orang lain.

“Ada orang yang datang di akhirat dengan salatnya, puasanya, zakatnya, hajinya, jihadnya. Tapi ternyata amalannya habis karena harus menebus kezaliman kepada sesama. Ini peringatan serius bagi kita semua,” tegasnya.

Menurut Ketua DPW, takdir Allah yang mempertemukan kader dalam ruang-ruang amal di organisasi adalah peluang besar untuk melanjutkan kebaikan yang telah dirintis para pendahulu, sekaligus amanah untuk menjaga kemurnian niat dalam setiap program dan kebijakan.

Menutup arahannya, Ketua DPW mengajak seluruh peserta Musda untuk memohon perlindungan Allah agar terhindar dari hati yang tidak ikhlas dan dari segala bentuk kezaliman, sehingga tumbuh menjadi pribadi mukmin dan mujahid yang baik hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

“Semoga kita terhindar dari hati yang tidak ikhlas dan dari berbagai bentuk kezaliman, sehingga kita tumbuh menjadi orang-orang beriman yang berjuang dengan hubungan yang baik kepada Allah dan kepada sesama,” ujarnya sebelum menutup Musda dengan pembacaan hamdalah bersama.

Musda Gabungan Zona Selatan ini merupakan bagian dari rangkaian Musda DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan. Agenda Musda selanjutnya akan berlanjut ke Zona Bosowa, yang akan diikuti oleh DPD Bone, Soppeng, dan Wajo, sebagai tahapan konsolidasi organisasi menuju penguatan struktur dan program daerah secara menyeluruh.

Musda Zona Selatan Tetapkan Kelengkapan Pengurus Enam DPD, Langsung Dilantik dengan Pengambilan Ikrar

0

BULUKUMBA — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Zona Selatan resmi menetapkan sekaligus melantik kelengkapan struktural enam Dewan Pengurus Daerah (DPD) dalam Musyawarah Paripurna ke-III yang digelar di Gedung Phinisi BKPSDM lantai 4, Kabupaten Bulukumba, Ahad (21/12/2025).

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dan ditandai dengan pembacaan ikrar pengurus secara bergantian oleh masing-masing DPD di hadapan seluruh peserta Musda. Momentum ini menegaskan kesiapan struktur kepemimpinan daerah untuk menggerakkan agenda dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat secara lebih sistematis dan terukur pada periode 2026–2030.

Di DPD Hidayatullah Sinjai, Musda menetapkan Suparman sebagai ketua, yang sebelumnya menjabat Ketua DPD Bulukumba. Posisi sekretaris diamanahkan kepada Ahmad Tanwir, yang pada periode lalu merupakan Ketua DPD Sinjai, sementara jabatan bendahara dipercayakan kepada Hasbullah, S.Pd.I. Struktur Sinjai mencerminkan kesinambungan kaderisasi, dengan pertukaran peran strategis antarfigur senior daerah.

Sementara itu, DPD Hidayatullah Jeneponto memilih mempertahankan kepemimpinan periode sebelumnya dengan menetapkan kembali M. Basri sebagai ketua dan Irmansah sebagai sekretaris. Untuk posisi bendahara, Musda memberikan amanah kepada Agustasn, yang sebelumnya dikenal aktif sebagai Kepala Departemen Sosial DPD Hidayatullah Pangkep, menandai penguatan lintas pengalaman antardaerah.

DPD Hidayatullah Bulukumba dipimpin oleh M. Syahrir sebagai ketua, figur santri senior Hidayatullah. Jabatan sekretaris diamanahkan kepada Zainuddin Jumarong, mantan Ketua DPD Hidayatullah Barru, sedangkan bendahara dijabat Khairullah Misdar, yang sebelumnya merupakan Ketua DPC Kajang. Struktur Bulukumba menjadi salah satu yang paling lengkap, dengan penataan departemen yang relatif komprehensif sebagai respons atas posisi Bulukumba dengan sebaran jumlah DPC yang banyak.

Di Kabupaten Bantaeng, Musda kembali mempercayakan kepemimpinan kepada Yunus Haning sebagai ketua. Posisi sekretaris diemban Erwin, S.Ag, yang sebelumnya menjabat Sekretaris DPD Bulukumba, sementara jabatan bendahara dipercayakan kepada Arjen. Struktur Bantaeng menonjolkan penguatan sektor pendidikan dan ekonomi sebagai fokus kerja daerah.

Untuk DPD Hidayatullah Kepulauan Selayar, Imam Hanif kembali ditetapkan sebagai ketua. Sekretaris diamanahkan kepada Ariful Aziz, yang sebelumnya menjabat Sekretaris DPD Sidrap, sedangkan bendahara dipercayakan kepada Firdaus, S.Pd. Komposisi ini mencerminkan kesinambungan kepemimpinan dengan sentuhan kader berpengalaman lintas wilayah.

Adapun DPD Hidayatullah Takalar kembali dipimpin oleh Baharuddin Jabbar sebagai ketua. Posisi sekretaris dijabat Bahtiar Aras, S.Sos.I, sementara jabatan bendahara diamanahkan kepada Irwan Ibrahim. Struktur Takalar tergolong lengkap dengan pembagian tugas departemental yang relatif detail, mencerminkan kesiapan organisasi menghadapi tantangan programatik ke depan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan dalam arahannya menegaskan bahwa kelengkapan struktural merupakan tulang punggung gerak organisasi di daerah. Dengan ditetapkannya seluruh pengurus DPD Zona Selatan, ia berharap roda organisasi dapat berjalan lebih solid, terkoordinasi, dan fokus pada penguatan dakwah, pendidikan, serta pelayanan umat di masing-masing wilayah.

Pelantikan kelengkapan pengurus ini menjadi penutup rangkaian utama Musda Gabungan Zona Selatan sebelum agenda dilanjutkan dengan penutupan resmi Musda.

Adapun susunan lengkap ketetapan Musda Gabungan tentang pengurus enam DPD tersebut adalah sebagai berikut:

  • DPD Hidayatullah Takalar:
    1. Ketua Baharuddin Jabbar;
    2. Sekretaris Bahtiar Aras, S.Sos.I;
    3. Bendahara Irwan Ibrahim;
    4. Ketua Departemen Pendidikan Ikhwanul Muslimin;
    5. Ketua Departemen Perkaderan Muh. Yusuf;
    6. Ketua Departemen Organisasi Mansur, S.H;
    7. Ketua Departemen Dakwah Bahtiar Aras, S.Sos.I;
    8. Ketua Departemen Sosial Muhammad Syarif;
    9. Ketua Departemen Ekonomi dan Aset Zulfahmi Alif Syahbana; dan
    10. Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga Muh. Tasyrik.
  • DPD Hidayatullah Sinjai:
    1. Ketua Suparman;
    2. Sekretaris Ahmad Tanwir;
    3. Bendahara Hasbullah, S.Pd.I;
    4. Ketua Departemen Perkaderan Jamaluddin Enre;
    5. Ketua Departemen Pendidikan Khairil Mukhtar; dan
    6. Ketua Departemen Dakwah Baharuddin.
  • DPD Hidayatullah Jeneponto:
    1. Ketua M. Basri;
    2. Sekretaris Irmansah;
    3. Bendahara Agustan.
  • DPD Hidayatullah Bulukumba:
    1. Ketua M. Syahrir;
    2. Sekretaris Zainuddin Jumarong;
    3. Bendahara Khairullah Misdar;
    4. Ketua Departemen Pendidikan Anshar, S.Pd.I;
    5. Ketua Departemen Dakwah Amiruddin, S.Pd.I;
    6. Ketua Departemen Organisasi Irham;
    7. Ketua Departemen Perkaderan H. Ambo Muis;
    8. Ketua Departemen Ekonomi Muh. Andi;
    9. Ketua Deartemen Pembinaan Anggota Firman Hayyung; dan
    10. Ketua Deparemen Hubungan Antar Lembaga Ahmad Firdaus.
  • DPD Hidayatullah Bantaeng:
    1. Ketua Yunus Haning;
    2. Sekretaris Erwin, S.Ag;
    3. Bendahara Arjen;
    4. Ketua Departemen Pendidikan Erwin, S.Ag;
    5. Ketua Departemen Ekonomi Haris Mahmudin.
  • DPD Hidayatullah Kepulauan Selayar:
    1. Ketua Imam Hanif;
    2. Sekretaris Ariful Aziz;
    3. Bendahara Firdaus, S.Pd.

Musda Zona Selatan Tetapkan dan Lantik Enam Ketua DPD Hidayatullah, Ikrar Kepemimpinan Dibacakan Satu per Satu

0

BULUKUMBA — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah zona Selatan secara resmi menetapkan sekaligus melantik enam Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) melalui sidang Musyawarah ke-II yang digelar pada Ahad (21/12/2025) di Gedung Phinisi BKPSDM lantai 4, Kabupaten Bulukumba.

Prosesi pelantikan ditandai dengan pembacaan ikrar kepemimpinan secara bergiliran oleh masing-masing ketua terpilih di hadapan peserta Musda.

Enam DPD yang tergabung dalam Musda zona Selatan tersebut meliputi DPD Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Sinjai, Kepulauan Selayar, dan Bantaeng. Penetapan dan pelantikan ini menjadi tonggak penting konsolidasi kepemimpinan Hidayatullah di kawasan selatan Sulawesi Selatan untuk periode 2026–2030.

Hasil Musda menetapkan empat ketua DPD untuk melanjutkan kepemimpinan periode sebelumnya. Di DPD Takalar, Musda kembali mempercayakan amanah kepada Ustadz Baharuddin Jabbar. DPD Jeneponto tetap dipimpin Ustadz Muhammad Basri, sementara Ustadz Imam Hanif kembali ditetapkan sebagai Ketua DPD Kepulauan Selayar. Adapun DPD Bantaeng kembali dipimpin Ustadz Yunus Haning.

Keputusan mempertahankan kepemimpinan di empat daerah tersebut mencerminkan kepercayaan Musda terhadap kesinambungan program, stabilitas organisasi, serta capaian kerja dakwah yang telah berjalan.

Sementara itu, Musda juga melahirkan dua kepemimpinan baru. Untuk DPD Bulukumba, Musda menetapkan Ustadz M. Syahrir sebagai Ketua. Ia dikenal sebagai santri senior Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, angkatan tahun 1990-an.

Adapun DPD Sinjai dipimpin oleh Ustadz Suparman, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPD Hidayatullah Bulukumba, menandai adanya rotasi dan penguatan kepemimpinan lintas daerah.

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dengan pembacaan ikrar kepemimpinan oleh masing-masing ketua DPD secara satu per satu. Ikrar tersebut menegaskan komitmen para ketua untuk menjalankan amanah organisasi secara kolektif, menjaga nilai-nilai perjuangan Hidayatullah, serta menguatkan dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat di wilayah masing-masing.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan daerah merupakan ujung tombak perjuangan organisasi. Oleh karena itu, para ketua yang telah ditetapkan diharapkan mampu menjaga soliditas, militansi, dan integritas dalam mengemban amanah.

Penetapan enam ketua DPD ini menjadi bagian penting dari rangkaian Musda Gabungan zona Selatan, setelah sebelumnya digelar kajian subuh, pembukaan Musda, serta pembahasan agenda-agenda strategis organisasi. Selanjutnya, Musda akan dilanjutkan dengan penetapan kelengkapan struktur pengurus DPD dan penutupan resmi Musda.

Musda zona Selatan merupakan rangkaian lanjutan Musda Hidayatullah di Sulawesi Selatan setelah zona Makassar sekitar, sebelum berlanjut ke zona-zona berikutnya sesuai agenda wilayah.

Musda Gabungan Hidayatullah Zona Selatan Resmi Dibuka di Bulukumba, Ketua DPW Tekankan Ujian Perjuangan dan Militansi Kader

0

BULUKUMBA — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah zona Selatan resmi dibuka pada Ahad (21/12/2025) di Gedung Phinisi BKPSDM lantai 4, Kabupaten Bulukumba. Kegiatan yang digelar selama satu hari penuh ini diikuti oleh unsur Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, serta peserta dari DPD Jeneponto, Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, dan Kepulauan Selayar.

Selain unsur pengurus daerah, Musda Gabungan zona Selatan juga diikuti oleh PD Mushida dari enam kabupaten tersebut serta perwakilan amal usaha Hidayatullah di tingkat daerah. Kehadiran lintas unsur ini menegaskan Musda sebagai forum strategis konsolidasi organisasi dan penentuan arah kepemimpinan daerah ke depan.

Musda Gabungan secara resmi dibuka oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Saleh Usman,yang dalam sambutannya memberikan penguatan yang lebih tajam dibandingkan zona sebelumnya. Beliau menekankan bahwa dinamika organisasi dan tantangan dakwah di lapangan adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan mental baja.

“Jangan pernah mengaku sebagai pejuang kalau belum diuji,” tegas beliau di hadapan ratusan peserta.

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Beliau kemudian menyitir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 214 untuk mengingatkan para kader tentang sunnatullah dalam sebuah perjuangan:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu…

Beliau menjelaskan bahwa ujian,baik dalam bentuk kesempitan, penderitaan, maupun guncangan jiwa, adalah cara Allah menyaring siapa yang benar-benar layak disebut pejuang sejati. Arahan ini menjadi pelecut semangat bagi para pengurus di Zona Selatan untuk tetap solid dan tegar dalam menjalankan amanah organisasi dan mengelola amal usaha di daerah masing-masing.

Selain itu, menguatkan pesan yang telah disampaikan pada Musda zona Makassar sekitar, Ketua DPW kembali menekankan pentingnya soliditas tim dan keseriusan dalam mengelola amanah organisasi. Ia mengingatkan bahwa Islam tidak boleh diurus secara biasa-biasa saja, melainkan membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan kerja kolektif yang terarah.

“Militansi kader itu lahir dari iman yang kuat, wawasan yang luas, serta kesungguhan dalam beramal dan beribadah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan daerah yang akan ditetapkan melalui Musda harus mampu menjadi motor penggerak dakwah, pendidikan, serta pelayanan umat di wilayah masing-masing, sejalan dengan visi besar menuju Indonesia Emas 2045.

Musda Gabungan zona Selatan dijadwalkan berlangsung selama satu hari penuh dengan agenda utama meliputi pembahasan tata tertib dan jadwal sidang, penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus DPD, penetapan status demisioner, penetapan ketua DPD, serta penetapan kelengkapan struktur kepengurusan.

Melalui Musda ini, diharapkan terbangun kepemimpinan daerah yang solid, amanah, dan siap menghadapi tantangan dakwah serta pembangunan umat di kawasan selatan Sulawesi Selatan.

Musda zona Selatan merupakan rangkaian lanjutan Musda Hidayatullah di Sulawesi Selatan, setelah sebelumnya digelar di zona Makassar sekitar, dan akan dilanjutkan ke zona-zona berikutnya sesuai agenda wilayah.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Isi Kajian Spesial Bersama Komunitas Pejuang Subuh Bulukumba

0

BULUKUMBA — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Saleh Usman, mengisi Kajian Spesial Subuh bersama Komunitas Pejuang Subuh Bulukumba di Masjid Pejuang Subuh, Kabupaten Bulukumba, Ahad (21/12/2025). Kegiatan yang berlangsung selepas salat Subuh tersebut diikuti oleh jamaah masjid, kader Hidayatullah, serta anggota komunitas Pejuang Subuh dari berbagai kalangan.

Kajian ini menjadi bagian dari rangkaian agenda Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah zona Selatan, yang mempertemukan enam DPD, yakni Bulukumba, Takalar, Jeneponto, Kepulauan Selayar, Sinjai, dan Bantaeng.

Dalam penyampaiannya, Dr. Saleh Usman menegaskan bahwa ucapan Alhamdulillah tidak cukup dimaknai sebagai ungkapan lisan semata, melainkan harus tercermin dalam sikap dan perilaku seorang hamba yang benar-benar bersyukur. Menurutnya, terdapat tiga syarat utama agar ucapan Alhamdulillah diterima oleh Allah SWT.

Pertama, keyakinan penuh bahwa seluruh nikmat yang melekat dalam diri manusia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Kesadaran ini, kata dia, menjadi fondasi utama lahirnya rasa syukur yang tulus.

Kedua, sikap ridha terhadap ketentuan Allah, baik ketika nikmat diberikan dalam jumlah yang sedikit maupun banyak. Ia menekankan bahwa setiap pemberian Allah mengandung hikmah dan merupakan bentuk terbaik sesuai kebutuhan hamba-Nya.

Ketiga, implementasi nyata dari nikmat yang diberikan. Dr. Saleh Usman menekankan bahwa harta, kesehatan, waktu, dan seluruh karunia Allah sejatinya harus dioptimalkan sebagai sarana beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sekadar untuk kepentingan duniawi.

“Syukur yang sejati itu bukan hanya di lisan, tetapi bagaimana nikmat yang Allah titipkan kepada kita digunakan untuk ketaatan,” ujarnya.

Menutup kajian, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel mengingatkan jamaah pada keteladanan Rasulullah SAW dalam bersyukur. Ia mengutip hadits tentang Rasulullah yang melaksanakan salat malam dalam waktu yang lama hingga kedua kakinya bengkak.

Ketika Aisyah ra menegur beliau agar tidak memberatkan diri, Rasulullah SAW menjawab dengan ungkapan yang sarat makna, “Afalā akūnu ‘abdan syakūran?” (Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?).

Menurut Dr. Saleh Usman, hadits tersebut menegaskan bahwa rasa syukur sejati mendorong seorang hamba untuk semakin dekat kepada Allah melalui ibadah dan pengorbanan.

Kajian Subuh ini mendapat sambutan positif dari jamaah dan Komunitas Pejuang Subuh Bulukumba. Selain memperkuat spiritualitas, kegiatan tersebut juga menjadi sarana penguatan sinergi dakwah di tingkat akar rumput, sejalan dengan semangat Musda Gabungan Hidayatullah zona Selatan.

Kegiatan kajian Subuh ini menjadi pembuka rangkaian agenda Musda zona Selatan sebelum dilanjutkan dengan pembukaan resmi Musda, penetapan ketua dan struktur kepengurusan DPD, hingga penutupan agenda Musda.

Tutup Musda Gabungan, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ingatkan Pemimpin Baru Soal Bahaya Kezaliman dan Pentingnya Ikhlas

0

GOWA (HidayatullahSulsel.or.id) – Rangkaian acara Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah zona Makassar sekitar yang melibatkan DPD Makassar, Gowa, Maros, dan Pangkep resmi ditutup pada Sabtu sore (20/12/2025).

Acara yang berlangsung di Kampus Pesantren Ashhabul Jannah Bollangi, Gowa ini ditutup dengan tausiyah singkat dari Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Saleh Usman.

Dalam sambutan penutupnya, Dr. Saleh Usman menegaskan bahwa perjuangan dakwah dan organisasi tidak semata diukur dari capaian struktural atau program kerja, melainkan dari keteguhan iman, militansi perjuangan, serta keikhlasan niat dalam mengemban amanah.

Ia menyampaikan bahwa terdapat dua syarat mutlak bagi seseorang untuk meraih keselamatan di akhirat, yakni iman dan jihad, yang dimaknai sebagai kesungguhan total dalam menegakkan nilai-nilai Islam di setiap medan kehidupan.

“Iman tanpa jihad akan rapuh, dan jihad tanpa iman akan kehilangan arah,” ujarnya di hadapan peserta Musda.

Lebih lanjut, Ketua DPW menekankan pentingnya menjaga niat dalam setiap bentuk perjuangan. Ia mengingatkan bahwa keikhlasan merupakan fondasi utama diterimanya amal, sekaligus pembeda antara perjuangan yang bernilai ibadah dan yang sekadar aktivitas lahiriah.

Dalam konteks tersebut, Dr. Saleh Usman mengutip peringatan Rasulullah shallallahu alayhi wasallam tentang tiga golongan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat, yakni mereka yang berjihad, orang alim, dan golongan aghniya (orang kaya).

Ketiganya, menurut hadits, justru tidak mendapatkan keselamatan karena amal yang dilakukan tidak dilandasi niat karena Allah SWT.

“Ini peringatan keras bagi kita semua. Amal besar, posisi penting, bahkan pengorbanan besar sekalipun tidak akan bernilai jika niatnya menyimpang,” tegasnya.

Ia menambahkan, terdapat dua hal yang menyebabkan seseorang tidak menikmati buah amalnya di akhirat, yaitu ketiadaan keikhlasan dan kezaliman terhadap sesama manusia. Oleh karena itu, setiap kader dan pengurus dituntut untuk menjaga kebersihan niat sekaligus sensitivitas sosial dalam menjalankan amanah organisasi.

Dalam konteks tersebut, Dr. Saleh Usman secara khusus mengingatkan para pemimpin yang baru ditetapkan dan dilantik agar mewaspadai potensi kezaliman dalam kepemimpinan. Menurutnya, kekuasaan dan kewenangan struktural sering kali menjadi pintu masuk bagi sikap tidak adil, baik yang disadari maupun tidak.

“Seorang pemimpin sangat rentan terhadap sikap zalim. Hati-hatilah dalam mengambil kebijakan. Jangan sampai ada kader atau anggota yang tersakiti karena keputusan yang tidak berdasar pada keadilan,” pesan Dr. Saleh.

Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan dalam organisasi dakwah harus dipahami sebagai amanah berat yang akan dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah Ta’ala.

Menutup arahannya, Ketua DPW mengajak seluruh peserta Musda untuk memandang keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam Musda sebagai bagian dari rangkaian takdir Allah Ta’ala. Ia merujuk pada hadits sahih riwayat Bukhari yang menyebutkan bahwa seluruh ketetapan telah dicatat 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.

Menurutnya, kesadaran akan takdir tersebut tidak boleh melahirkan sikap pasif, tetapi justru menumbuhkan tanggung jawab dan kesungguhan dalam menjalankan peran sejarah.

“Keputusan-keputusan yang kita tetapkan hari ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari rangkaian panjang catatan Allah sebelum bumi ini diciptakan,” ujarnya.

Dengan penutupan Musda Gabungan zona Makassar sekitar ini, seluruh rangkaian Musda di empat DPD dinyatakan selesai, mulai dari pembukaan, pembahasan agenda strategis, penetapan ketua dan struktur kepengurusan, hingga pengukuhan arah perjuangan organisasi ke depan.

Musda zona Makassar sekitar juga menjadi pembuka rangkaian Musda Hidayatullah se-Sulawesi Selatan, yang selanjutnya akan berlanjut ke zona selatan, zona Bosowa, zona Luwu Raya, dan ditutup dengan Musda zona Ajatappareng pada 26 Desember 2025.

Ujian Paling Sunyi dalam Barisan Dakwah: Ketika Prasangka Menggerogoti Ukhuwah

0
Oleh: Ahmad Sabil*

TIDAK semua ujian dakwah datang dalam bentuk tekanan dari luar. Tidak semuanya berupa keterbatasan dana, penolakan masyarakat, atau tantangan struktural organisasi. Sebagian ujian justru hadir paling sunyi dan bersemayam di dalam hati para pejuangnya sendiri. Dan da bernama prasangka.

Dalam perjalanan dakwah, kita tidak berjalan sendiri. Kita berjalan dalam barisan, dalam jamaah. Dan justru di sanalah ujian itu menjadi lebih halus sekaligus lebih berbahaya. Sebab yang diuji bukan hanya ketahanan fisik atau kecerdasan strategi, melainkan cara kita memandang saudara seperjuangan.

Hidayatullah adalah lembaga dakwah. Dakwah bukan sekadar aktivitas, apalagi rutinitas. Ia adalah jalan hidup. Dakwah berarti mengajak manusia menuju kebaikan. Dan itu dilakukan dengan kesabaran, keteladanan, dan kelapangan hati. Karena itu, sebelum lisan sibuk mengajak orang lain, hati pendakwah harus terlebih dahulu dijaga.

Prasangka, Retakan Kecil yang Menghancurkan Bangunan Jamaah

Prasangka sering kali tidak terasa sebagai dosa besar. Ia datang dalam bentuk dugaan, asumsi, atau “kewaspadaan berlebih” yang tampak masuk akal. Namun di situlah letak bahayanya. Prasangka bekerja perlahan, merayap tanpa suara, tetapi ketika dibiarkan, ia menggerogoti fondasi jamaah.

Dari prasangka lahir jarak. Dari jarak tumbuh kecurigaan. Dari kecurigaan muncul pembicaraan. Dan dari pembicaraan yang tak terjaga, perpecahan menemukan jalannya.

Karena itulah Al-Qur’an memberi peringatan yang sangat tegas kepada orang-orang beriman, yang tentu saja berlaku bagi kita yang berada dalam barisan dakwah. Allah Ta’ala berfiman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini turun bukan untuk mereka yang duduk di luar perjuangan, tetapi untuk mereka yang sedang berada di tengah medan dakwah. Karena di sanalah prasangka paling mudah tumbuh. Terutama ketika kelelahan, perbedaan pandangan, atau keputusan organisasi tidak sejalan dengan harapan pribadi.

Rasulullah ﷺ bahkan memperingatkan dengan ungkapan yang sangat keras:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cara Pandang Dakwah

Dalam perjalanan dakwah, melihat kekurangan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Kita menyaksikan sikap yang kurang tepat, keputusan yang terasa keliru, atau langkah yang tidak sesuai harapan. Namun persoalannya bukan pada apa yang kita lihat, melainkan dengan kacamata apa kita melihatnya.

Dakwah tidak dibangun dengan kacamata hakim, tetapi dengan hati seorang murabbi. Kita tidak ditugaskan untuk memvonis, melainkan membina. Tidak untuk mengadili, tetapi mendampingi.

Setiap kader sedang berproses. Setiap saudara sedang bertumbuh di titiknya masing-masing. Ada yang melangkah cepat, ada yang tertatih. Ada yang telah lama belajar, ada yang baru mengenal jalan ini. Bahkan Allah ﷻ sendiri memberikan ruang luas bagi manusia untuk memperbaiki diri:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ

“Seandainya Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak ada satu makhluk pun yang tersisa di muka bumi.” (QS. An-Nahl: 61)

Jika Allah saja menangguhkan hukuman demi memberi kesempatan, lalu dari mana datangnya keberanian kita untuk mengunci saudara kita dalam prasangka?

Meneledani Nabi Menutup Pintu Prasangka

Satu peristiwa kecil dalam kehidupan Rasulullah ﷺ mengajarkan adab besar dalam menjaga hati jamaah. Suatu malam, beliau berjalan bersama istrinya, Shafiyyah binti Huyayy radhiyallahu ‘anha. Dua sahabat Anshar melihat beliau bersama seorang perempuan di malam hari, lalu mempercepat langkah.

Rasulullah ﷺ segera memanggil mereka dan bersabda dengan tenang:

“Tenanglah kalian. Sesungguhnya dia adalah Shafiyyah binti Huyayy.”

Para sahabat menjawab dengan penuh adab, “Subhanallah, wahai Rasulullah. Kami tidak mungkin berprasangka buruk kepadamu.”

Namun Rasulullah ﷺ menutup peristiwa itu dengan pelajaran yang sangat mendalam:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah etika hidup berjamaah. Yaitu menutup pintu prasangka bahkan sebelum ia sempat terbuka. Bukan karena tidak saling percaya, tetapi karena memahami betapa halusnya bisikan yang dapat merusak ukhuwah.

Husnuzan sebagai Fondasi Pembinaan

Para ulama merumuskan prinsip dasar dalam muamalah dan pembinaan:

الأصل في الإنسان السلامة والصلاح

“Asal pada diri manusia adalah kebaikan dan keselamatan.”

Dengan prinsip ini, setiap kekurangan tidak diperlakukan sebagai alasan untuk menjauh, tetapi sebagai panggilan untuk mendekat. Bukan untuk membicarakan, tetapi untuk mendoakan. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membina.

Rasulullah ﷺ pun mengingatkan agar seorang mukmin tidak merasa aman dari ujian:

لَا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

“Janganlah engkau menampakkan rasa senang atas musibah yang menimpa saudaramu, karena bisa jadi Allah merahmatinya dan justru mengujimu.” (HR. Tirmidzi)

Menjaga Dakwah dengan Menjaga Hati

Dalam dakwah, siapa pun bisa diuji. Maka keselamatan kita terletak pada husnuzan. Yaitu prasangka baik kepada Allah dan kepada sesama pejuang dakwah.

Allah ﷻ berfirman dalam hadits qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita berprasangka baik kepada Allah, Dia akan menjaga langkah dakwah kita. Jika kita berprasangka baik kepada saudara kita, Dia akan menjaga ukhuwah kita.

Maka mari kita luruskan niat, bersihkan hati, dan perbaiki adab dalam jamaah. Kita bukan hakim yang sibuk menilai, tetapi pendakwah yang sibuk membina.

Semoga Allah menjadikan kita jamaah yang kokoh, lembut dalam menasihati, kuat dalam ukhuwah, dan istiqamah di jalan dakwah hingga akhir.lainkan jalan hidup. Dakwah berarti mengajak. Dan itu dilakukan dengan kesabaran, dengan keteladanan, dan dengan hati yang bersih. Sebab sebelum lisan mengajak orang lain menuju kebaikan, hati sang pendakwah harus lebih dahulu terjaga dari penyakit yang merusak.

*Penulis bernama lengkap Ahmad Sabil, S.Pd.I., S.H.I. dan merupakan Ketua DPC Hidayatullah Rappocini, Kota Makassar

Musda Zona Makassar Sekitar Tetapkan dan Lantik Kepengurusan Lengkap Empat DPD Periode 2026–2030

0

GOWA (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan zona Makassar sekitar secara resmi menetapkan sekaligus melantik kelengkapan struktur Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar, Gowa, Maros, dan Pangkep untuk periode kepengurusan 2026–2030.

Pelantikan dilakukan melalui pengambilan ikrar pengurus di hadapan peserta Musda Gabungan, Sabtu (20/12/2025), di Gedung Aula Serbaguna Kampus Tahfizh Auladi Bollangi, Kabupaten Gowa.

Penetapan dan pelantikan tersebut berlangsung dalam Musyawarah Paripurna III, yang menjadi agenda akhir rangkaian sidang Musda zona Makassar sekitar. Dengan pengukuhan ini, seluruh DPD peserta Musda dinyatakan telah memiliki struktur kepengurusan lengkap dan sah untuk menjalankan amanah organisasi pada periode mendatang.

Struktur DPD Hidayatullah Makassar

Musda menetapkan Dr. Irfan Yahya, S.T., M.Si. sebagai Ketua DPD Hidayatullah Makassar periode 2025–2030. Ia didampingi Ahmad Sabil, S.H.I., S.Pd. sebagai Sekretaris dan Aditya, S.E. sebagai Bendahara.

Adapun struktur departemen di DPD Hidayatullah Makassar meliputi Departemen Pendidikan dan Pelayanan Umat yang dipimpin oleh Samsul, S.Pd., Departemen Ekonomi yang diamanahkan kepada Ari Rahmat Hidayat, S.E., M.M., serta Departemen Organisasi yang diketuai Muh. Robianto, S.Pd.

Struktur DPD Hidayatullah Gowa

Untuk DPD Hidayatullah Gowa periode 2025–2030, Musda kembali menetapkan Mustaqim, S.Sos.I. sebagai Ketua. Jabatan Sekretaris diemban Mardi, S.Pd., sementara posisi Bendahara dipercayakan kepada Ismail Anwar.

Struktur departemen DPD Hidayatullah Gowa terdiri atas Departemen Organisasi dan SDI yang dipimpin Syahrul, Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat diamanahkan kepada Ahmad Syauqi Fuadi, Lc., Departemen Perkaderan dan Pembinaan Anggota diketuai Rasman, S.Sos., serta Departemen Ekonomi dan Aset yang dipimpin Ridwan.

Struktur DPD Hidayatullah Pangkep

Sementara itu, Musda menetapkan kepengurusan DPD Hidayatullah Pangkep untuk periode 2026–2030 dengan Karding, S.Sos.I., M.M. sebagai Ketua. Ia didampingi Andi Amri, S.Pd. sebagai Sekretaris dan Syamsuddin, S.Pd.I. sebagai Bendahara.

Untuk bidang departemen, Musda menetapkan Dr. Amaluddin sebagai penanggung jawab Pendidikan, Perkaderan, dan Organisasi, serta Ihsan Wahyudin, S.Pd. sebagai Ketua Departemen Ekonomi dan Pelayanan Umat.

Struktur DPD Hidayatullah Maros

Adapun DPD Hidayatullah Maros periode 2026–2030 dipimpin oleh Abdul Hadi, S.Pd.I. sebagai Ketua, dengan Arjun, S.E. sebagai Sekretaris dan Firdaus sebagai Bendahara.

Struktur departemen DPD Hidayatullah Maros meliputi Departemen Perkaderan dan Pembinaan Anggota yang diketuai Abdul Karim, S.H.I., Departemen Pendidikan dipimpin Iin Swarman, Departemen Pelayanan Umat diamanahkan kepada Hamzah, Departemen Ekonomi diketuai Muh. Jamil, M.E., serta Departemen Organisasi yang dipimpin Aqil.

Pelantikan kepengurusan ditandai dengan pengambilan ikrar secara bersama-sama di hadapan peserta Musda Gabungan, sebagai bentuk komitmen moral dan organisatoris untuk menjalankan amanah dakwah, pendidikan, serta pelayanan umat secara kolektif dan bertanggung jawab.

Dengan ditetapkannya kepengurusan lengkap di empat DPD ini, diharapkan roda organisasi Hidayatullah di zona Makassar sekitar dapat berjalan lebih solid, terstruktur, dan terarah, sejalan dengan tema Musda, “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Musda zona Makassar sekitar ini merupakan rangkaian Musda pertama di Sulawesi Selatan. Selanjutnya, agenda Musda akan berlanjut ke zona selatan, zona Bosowa, zona Luwu Raya, dan ditutup dengan Musda zona Ajatappareng yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Desember 2025.

Empat Ketua DPD Hidayatullah Zona Makassar Sekitar Resmi Ditetapkan, Kombinasikan Regenerasi dan Keberlanjutan

0

GOWA (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan zona Makassar sekitar secara resmi menetapkan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar, Gowa, Maros, dan Pangkep untuk periode 2025–2030. Penetapan tersebut berlangsung dalam Musyawarah Paripurna II yang digelar pada Sabtu (20/12/2025) di Gedung Aula Serbaguna Kampus Tahfizh Auladi Bollangi, Kabupaten Gowa.

Dalam forum musyawarah tersebut, Ustadz Mustakim kembali dipercaya memimpin DPD Hidayatullah Gowa, sementara Ustadz Karding ditetapkan melanjutkan amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah Pangkep. Keduanya merupakan ketua periode sebelumnya yang kembali mendapat mandat untuk melanjutkan kepemimpinan di daerah masing-masing.

Sementara itu, Musda juga menghasilkan dua kepemimpinan baru. Di DPD Hidayatullah Maros, Usatdz Abdul Hadi ditetapkan sebagai ketua menggantikan pimpinan sebelumnya yang kini mengemban amanah di jajaran Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan periode 2025–2030. Pada periode lalu, Abdul Hadi tercatat menjabat sebagai Sekretaris DPD Maros.

Adapun di Kota Makassar, Musda menetapkan Dr. Irfan Yahya sebagai Ketua DPD Hidayatullah Makassar periode 2025–2030. Ia dikenal sebagai akademisi dan peneliti di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, serta menjadi figur pendatang baru dalam struktur kepemimpinan DPD.

Penetapan empat ketua DPD ini mencerminkan kombinasi antara keberlanjutan kepemimpinan dan regenerasi organisasi. Dua ketua lama kembali diberi kepercayaan untuk menjaga kesinambungan program, sementara dua figur baru diharapkan membawa perspektif segar dan penguatan kapasitas kelembagaan di tingkat daerah.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muh. Saleh Usman, dalam arahannya sebelumnya menekankan bahwa kepemimpinan daerah harus dibangun di atas spirit militansi kader, soliditas tim, serta kesiapan menghadapi tantangan besar menuju Indonesia Emas 2045.

Musda Gabungan zona Makassar sekitar ini merupakan rangkaian Musda pertama yang digelar di Sulawesi Selatan pada periode ini. Selanjutnya, agenda Musda akan berlanjut ke zona selatan, zona Bosowa, dan zona Luwu Raya, sebelum ditutup dengan Musda zona Ajatappareng yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Desember 2025.

Dengan ditetapkannya kepemimpinan baru di empat DPD ini, diharapkan roda organisasi Hidayatullah di wilayah Makassar sekitar dapat bergerak lebih solid, adaptif, dan kontributif dalam menjawab tantangan dakwah dan pembangunan umat di tingkat akar rumput.