Beranda blog Halaman 13

Musda Gabungan Zona Luwu Raya Resmi Ditutup, Ketua DPW Tekankan Etika Perjuangan dan Amanah Kepemimpinan

0

PALOPO — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Zona Luwu Raya yang diikuti lima Dewan Pengurus Daerah (DPD), yakni Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Kota Palopo, dan Toraja Utara, resmi ditutup oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Saleh, Selasa sore (24/12/2025).

Dalam sambutan penutupnya, Ketua DPW menegaskan bahwa amanah kepengurusan yang baru dilantik bukanlah ruang untuk menilai, apalagi mengkritik kerja para pengurus sebelumnya, melainkan tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan dengan etika, kesadaran sejarah, dan kedewasaan sikap.

“Pengurus hari ini mendapat tugas, bukan untuk mengevaluasi atau mengomentari masa lalu. Sesungguhnya fase perjuangan sebelumnya jauh lebih berat dibandingkan apa yang kita hadapi hari ini dan ke depan,” tegasnya di hadapan peserta Musda.

Ia mengingatkan bahwa kenyamanan yang dirasakan kader hari ini, baik dari sisi fasilitas, jaringan, maupun kelembagaan, adalah hasil dari pengorbanan para pendahulu yang berjuang di masa serba terbatas. Karena itu, sikap meremehkan atau kehilangan adab terhadap senior dinilai sebagai kemunduran etika perjuangan.

Ia mengingatkan agar para pengurus baru menjaga adab dan etika kepada senior serta para perintis perjuangan. Mengutip pelajaran dari kisah sese, ia menekankan pentingnya menahan diri dari sikap meremehkan atau mengomentari kualitas perjuangan generasi terdahulu.

“Hari ini kita datang dalam kondisi yang serba tersedia. Sementara generasi awal hadir di tempat-tempat ini saat belum ada apa-apa. Maka tidak patut jika kita yang datang belakangan kehilangan etika, apalagi merasa lebih berjasa,” tegasnya di hadapan peserta Musda.

Ia mencontohkan secara reflektif bagaimana kenyamanan yang kini dirasakan kader dan pengurus sering kali melahirkan sikap tergesa dalam menuntut pelayanan, tanpa kesadaran sejarah perjuangan yang telah dilalui para senior. Menurutnya, sikap seperti itu merupakan indikator lunturnya adab dalam berorganisasi.

Ketua DPW juga mengaitkan pesan tersebut dengan pelajaran penting dalam sejarah Islam, khususnya kisah perang Shiffin, seraya mengingatkan agar kader Hidayatullah tidak terjebak pada kebiasaan menilai kualitas perjuangan generasi sebelumnya. Ia menegaskan bahwa menjaga etika kepada para pendahulu merupakan bagian dari integritas perjuangan itu sendiri.

Lebih jauh, Ketua DPW menegaskan bahwa jabatan struktural dalam organisasi bukanlah tujuan akhir, melainkan wasilah untuk mengekspresikan nilai-nilai iman secara nyata. Di hadapan para pengurus DPD yang baru dilantik, ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sejati bukanlah posisi dalam struktur organisasi, melainkan kualitas iman dan kejujuran dalam berjihad di jalan Allah.

“Di akhirat tidak ada pertanyaan: apakah engkau DPP, DPW, atau DPD. Pertanyaannya adalah: apakah engkau beriman dengan benar dan berjihad dengan benar,” katanya.

Dalam kerangka itu, ia menjelaskan keterkaitan mendasar antara Islam, iman, dan takwa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Menurutnya, konsep Islam kaffah, mukminuna haqqan, dan haqqa tuqatihi bukanlah istilah yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan nilai yang harus terimplementasi dalam seluruh aspek kehidupan.

Ia menegaskan bahwa kelahiran dan perjalanan Hidayatullah sejak awal diarahkan untuk mengejawantahkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk gerakan peradaban Islam. Karena itu, visi membangun peradaban Islam dipahami sebagai upaya menghadirkan nilai iman dalam seluruh sendi kehidupan, yang pada hakikatnya adalah wujud Islam kaffah, takwa sejati, sekaligus jihad yang benar.

Menutup sambutannya, Ketua DPW juga menekankan pentingnya kedewasaan dalam berinteraksi dengan berbagai elemen umat dan harakah Islam lainnya. Ia menegaskan bahwa sikap tampil berbeda tidak boleh bermuara pada klaim kebenaran sepihak atau sikap merendahkan pihak lain.

“Hidayatullah menegaskan jati dirinya sebagai jamaatun minal muslimin. Karena itu, kader-kadernya tidak tumbuh dengan sikap ekstrem merasa paling benar dan menafikan yang lain,” pungkasnya.

Dengan penutupan ini, rangkaian Musda Gabungan Zona Luwu Raya yang diikuti lima DPD resmi berakhir. Selanjutnya, agenda Musda Gabungan Hidayatullah Sulawesi Selatan akan berlanjut ke Zona Ajatappareng pada 26 Desember mendatang, yang merupakan rangkaian terakhir Musda Sulsel, dan akan diikuti enam DPD, yakni Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, Enrekang, dan Tana Toraja.

Musda Zona Luwu Raya Tetapkan Kelengkapan Pengurus Lima DPD, Perkuat Konsolidasi Kader dan Struktur Dakwah

0

PALOPO (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah zona Luwu Raya secara resmi menetapkan dan melantik kelengkapan anggota Dewan Pengurus Daerah (DPD) periode 2025–2030 melalui Musyawarah Paripurna III yang digelar di Aula Serbaguna Pesantren Al-Mubarak Batu, Palopo, Rabu (24/12/2025).

Pelantikan pengurus ditandai dengan pembacaan ikrar secara bergantian di hadapan seluruh peserta Musda, yang terdiri dari unsur Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Murobbi Wilayah (DMW), pengurus DPD, unsur Muslimat dan Pemuda Hidayatullah, serta perwakilan amal usaha dari lima daerah se-Luwu Raya.

Penetapan kelengkapan pengurus ini menegaskan arah konsolidasi organisasi yang tidak hanya bertumpu pada kesinambungan kepemimpinan, tetapi juga pada optimalisasi kader-kader berpengalaman lintas wilayah yang selama ini aktif di tingkat cabang, pesantren, dan amal usaha pendidikn.

Di DPD Hidayatullah Luwu Timur, Muh. Tasrun, S.Pd., kembali dipercaya sebagai ketua. Struktur inti diperkuat oleh Muallip, M.Pd., yang sebelumnya menjabat sekretaris Pesantren Hidayatullah Panyula Bone sebagai sekretaris, serta Abu Hurairah yang tetap mengemban amanah sebagai bendahara.

Komposisi pengurus Luwu Timur menonjol dengan masuknya sejumlah mantan ketua DPC dan pimpinan yayasan pesantren pada posisi strategis departemen, mencerminkan konsolidasi kader lapangan yang matang.

Sementara itu, DPD Hidayatullah Luwu Utara kembali dipimpin oleh M. Abd. Wahab, S.Pd.I. Sekretaris diamanahkan kepada Alauddin Subandi, S.Pd.I., mantan Ketua DPC Tanalili, dan bendahara dipercayakan kepada Nuzul Usman, S.Pd., yang sebelumnya menjabat sekretaris DPD.

Struktur ini diperkuat oleh kombinasi kader senior dan mantan pimpinan daerah, termasuk Ikhsan Saleh, S.Pd.I., mantan Ketua DPD Toraja Utara, yang kini mengemban amanah pada bidang organisasi dan pembinaan anggota.

Di Kota Palopo, kepengurusan baru dipimpin oleh Jumawir, S.Pd.I., yang sebelumnya menjabat Ketua DPC Hidayatullah Walenrang Utara, Kabupaten Luwu. Ia didampingi Fijar Ali Fatih, S.Pd., sebagai sekretaris dan Drs. Amry Amiruddin sebagai bendahara.

Uniknya, struktur DPD Palopo memadukan kepemimpinan baru dengan keberlanjutan peran tokoh lama, di mana Burhan, S.Pd.I., Ketua DPD periode sebelumnya, kini mengemban amanah pada Departemen Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga.

Adapun DPD Hidayatullah Luwu dipimpin oleh Fauzan Ahmad, S.Pd., yang sebelumnya menjabat Ketua DPC Bajo Barat. Ia didampingi Hardiansyah, S.E., sebagai sekretaris dan Asri Baharuddin, S.E., sebagai bendahara.

Tambahan penting dalam Musda Gabungan ini adalah penetapan kepengurusan DPD Hidayatullah Toraja Utara. Ustadz Muchlis, S.Pd.I dipercaya sebagai ketua, melanjutkan estafet perjuangan dakwah di wilayah dengan basis umat dan lembaga yang masih terbatas. Kepercayaan ini sejalan dengan rekam jejak pengabdian beliau sebagai pendidik dan fungsionaris di lingkungan Pesantren Al-Mubarak Palopo.

Penunjukan tersebut juga mencerminkan karakter khas perjuangan Hidayatullah di daerah minoritas Muslim, di mana pengurus dituntut memiliki militansi, kemandirian, dan kesiapan berjuang dalam keterbatasan, sebagaimana pengurus sebelumnya yang menjalankan amanah dengan sumber daya minimal.

Struktur ini menegaskan orientasi penguatan pendidikan dan perkaderan yang berjalan seiring dengan pengelolaan ekonomi organisasi.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan dalam arahannya menekankan bahwa kelengkapan struktur bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan instrumen utama untuk menjaga kesinambungan dakwah dan kaderisasi.

“Struktur yang kuat adalah syarat mutlak agar dakwah berjalan tertib, berkelanjutan, dan berdampak. Pengurus yang ditetapkan hari ini adalah orang-orang yang sudah teruji dalam barisan,” ujarnya.

Adapun susunan lengkap ketetapan Musda Gabungan tentang pengurus lima DPD peserta Musda zona Luwu Raya adalah sebagai berikut:

  1. Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Luwu Timur Periode 2025–2030
    Ketua: Muh. Tasrun, S.Pd
    Sekretaris: Muallip, M.Pd
    Bendahara: Abu Hurairah
    Departemen Pendidikan: Mukhsin, S.Pd.
    Departemen Perkaderan dan Dakwah: Abd. Rahman Caco, S.H.
    Departemen Sosial dan Kesehatan: Abu Bakar Bessah
    Departemen Organisasi: Abu Haidar
    Departemen Ekonomi: Nur Hadi Yusuf Gatti
    Departemen Hubungan Antar Lembaga: Amrullah, S.Fil.I
  2. Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Luwu Utara Periode 2025–2030
    Ketua: M. Abd. Wahab, S.Pd.I
    Sekretaris: Alauddin Subandi, S.Pd.I
    Bendahara: Nuzul Usman, S.Pd
    Departemen Perkaderan dan Rekrutmen Anggota: Amal Sholeh, S.Pd
    Departemen Dakwah dan Kesehatan: Abdullah
    Departemen Pendidikan: Qayyum, S.Pd
    Departemen Hubungan Antar Lembaga: Drs. Muh. Rasyid Akbar, S.H
    Departemen Ekonomi: Sumanto
    Departemen Sosial: Wasdin, S.Pd., M.M
    Departemen Aset: Ririn Putrawan, A.Md
    Departemen Organisasi dan Pembinaan Anggota: Ikhsan Saleh, S.Pd.I
  3. Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kota Palopo Periode 2025–2030
    Ketua: Jumawir, S.Pd.I
    Sekretaris: Fijar Ali Fatih, S.Pd
    Bendahara: Drs. Amry Amiruddin
    Departemen Dakwah dan Pendidikan: Mursalim, S.Pd
    Departemen Sosial dan Kesehatan: Awaluddin, S.Pd.Gr
    Departemen Perkaderan: Juhardin
    Departemen Ekonomi: Muh. Idris
    Departemen Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga: Burhan, S.Pd.I
  4. Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Luwu Periode 2025–2030
    Ketua: Fauzan Ahmad, S.Pd
    Sekretaris: Hardiansyah, S.E
    Bendahara: Asri Baharuddin, S.E
    Departemen Pendidikan: Abdullah, S.Pd
    Departemen Dakwah dan Perkaderan: Arifuddin, S.Pd
    Departemen Ekonomi: Asri Baharuddin, S.E
    Departemen Organisasi: Abdul Hayyul, S.Sos.I
  5. Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Toraja Utara Periode 2025–2030
    Ketua: Muchlis, S.Pd.I

Penetapan kelengkapan pengurus ini menjadi tonggak penting penguatan struktur dakwah Hidayatullah di kawasan Luwu Raya, sebelum rangkaian Musda Gabungan ditutup secara resmi pada agenda penutupan.

Lima Ketua DPD Zona Luwu Raya Ditetapkan, Tegaskan Regenerasi dan Kesinambungan Kepemimpinan

0

PALOPO (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah zona Luwu Raya secara resmi menetapkan dan melantik ketua-ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) periode 2025–2030 dalam Musyawarah Paripurna II yang digelar di Aula Serbaguna Pesantren Al-Mubarak Batu, Palopo, Rabu (24/12/2025).

Sebagaimaa diketahui, penetapan lima ketua DPD tersebut dilakukan melalui mekanisme syura organisasi, bukan pemilihan langsung oleh peserta Musda. Prosesi pelantikan ditandai dengan pembacaan ikrar secara khidmat yang dipandu langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muh. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom., di hadapan seluruh peserta Musda.

Mekanisme ini menegaskan karakter kepemimpinan Hidayatullah yang bertumpu pada musyawarah, amanah, dan pertimbangan objektif atas kapasitas kader, bukan pada kontestasi elektoral.

Untuk DPD Hidayatullah Luwu Timur, Musda kembali menetapkan Muh. Tasrun, S.Pd., melanjutkan amanah kepemimpinan dari periode sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi di DPD Hidayatullah Luwu Utara, di mana M. Abd. Wahab, S.Pd.I., kembali dipercaya menakhodai organisasi daerah tersebut untuk lima tahun ke depan.

Sementara itu, dinamika regenerasi tampak pada sejumlah daerah lain. Di Kota Palopo, Jumawir, S.Pd., ditetapkan sebagai Ketua DPD menggantikan Ustadz Burhan, S.Pd.I.

Jumawir sebelumnya dikenal sebagai Ketua DPC Hidayatullah Walenrang Utara, Kabupaten Luwu. Alumni SMA Al-Bayan Makassar ini dinilai memiliki pengalaman lapangan dan kapasitas kepemimpinan yang memadai untuk mengemban amanah di tingkat kota.

Di Kabupaten Luwu, Musda menetapkan Fauzan Ahmad, S.Pd.I., sebagai Ketua DPD Hidayatullah Luwu. Alumni STIBA Ar-Rayah Sukabumi tersebut sebelumnya menjabat Ketua DPC Hidayatullah Bajo Barat.

Penetapan ini sekaligus menandai estafet kepemimpinan dari Ustadz Hamzah Sulthan, yang pada Musda zona Bosowa sebelumnya mendapat amanah dalam struktur DPD Hidayatullah Bone.

Adapun untuk DPD Hidayatullah Toraja Utara, Musda menetapkan Muchlis, S.Pd.I., sebagai ketua baru. Ia sebelumnya merupakan fungsionaris dan pendidik di lingkungan Pesantren Al-Mubarak Palopo. Amanah ini diberikan sebagai kelanjutan kepemimpinan, menggantikan Ustadz Iksan Saleh.

Dalam arahannya, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel menegaskan bahwa penetapan ketua melalui mekanisme syura merupakan ikhtiar menjaga kemurnian niat dan soliditas barisan dakwah.

“Di Hidayatullah, kepemimpinan bukan ajang perebutan, tetapi amanah perjuangan. Syura adalah cara kita memastikan bahwa yang diamanahi benar-benar siap secara iman, integritas, dan loyalitas,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa posisi ketua bukanlah puncak kehormatan, melainkan titik awal tanggung jawab untuk memperkuat dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat di masing-masing daerah.

Penetapan dan pelantikan ketua-ketua DPD ini menjadi bagian penting dari rangkaian Musda Gabungan zona Luwu Raya sebelum agenda berlanjut pada Musyawarah Paripurna berikutnya, termasuk penetapan kelengkapan struktur kepengurusan daerah.

DPW Hidayatullah Sulsel Buka Musda Gabungan Luwu Raya, Tegaskan Militansi Kader Menuju Indonesia Emas 2045

0

PALOPO (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan zona Luwu Raya yang dipusatkan di Aula Serbaguna Pesantren Al-Mubarak Batu, Palopo, Rabu (24/12/2025).

Musda Gabungan ini diikuti oleh lima Dewan Pengurus Daerah (DPD), yakni Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Palopo, dan Toraja Utara. Kegiatan tersebut dihadiri unsur DPW Hidayatullah Sulsel, Dewan Murobbi Wilayah (DMW), pengurus harian DPD dan DPC se-Luwu Raya, unsur Pemuda dan Muslimat Hidayatullah, serta tamu undangan dari instansi pemerintah setempat.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Dr. Muh. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom., menegaskan bahwa Musda bukan sekadar forum administratif, melainkan momentum strategis untuk meneguhkan arah perjuangan organisasi, khususnya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Ia menyoroti tema besar Musda, “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”, sebagai pijakan kerja nyata yang menuntut kesungguhan, bukan sekadar slogan.

“Tema ini memang berat, tetapi sengaja kita angkat sebagai tema sentral. Indonesia Emas 2045 tidak akan hadir hanya dengan optimisme dan jargon, tetapi membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter, dan berjiwa pejuang,” tegas Ustadz Sholeh.

Menurutnya, bonus demografi yang akan dimiliki Indonesia justru bisa menjadi bumerang apabila tidak dibarengi dengan pembangunan mental dan spiritual generasi penerus. Dalam konteks Hidayatullah, pembangunan tersebut bertumpu pada penguatan kualitas kader.

“Bicara Indonesia Emas akan menjadi omong kosong jika tidak disertai pembangunan mental dan spiritual kader. Tanpa itu, semua hanya khayalan,” ujarnya.

Karena itu, DPW Hidayatullah Sulsel menetapkan penguatan militansi kader sebagai fokus utama kerja organisasi pada periode mendatang.

“Sinergi anak bangsa yang kami maksud adalah melahirkan kader-kader yang militan, berintegritas, dan siap berjuang melalui jalur tarbiyah, pendidikan, dan dakwah,” tambah Ketua DPW Sulsel periode 2025–2030 tersebut.

Sebelumnya, sambutan juga disampaikan oleh Ketua DPD Hidayatullah Palopo, Ustadz Burhan, S.Pd., selaku tuan rumah, Anggota Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, Ustadz Imran Djufrie, M.Pd.I., serta Kepala KUA Telluwanua, H. Naswar Rini, S.Ag., yang memberikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah dalam pembinaan umat dan penguatan nilai keislaman di wilayah Luwu Raya.

Musda Gabungan zona Luwu Raya merupakan agenda lima tahunan Hidayatullah yang bertujuan untuk mengevaluasi kepengurusan sebelumnya, menetapkan kepemimpinan daerah, serta merumuskan arah dan program strategis organisasi pada periode mendatang.

Reporter: Ian Kassa

Belajar dari Nabi Zakaria

0
Oleh : Masykur Suyuthi*

Satu jenak, mari berkaca kepada Nabi Zakaria (semoga Allah senantiasa memberinya keselamatan selalu). Kisah tentang kemuliaannya berserak di berbagai surah dalam al-Qur’an. Seorang Nabi sekaligus ayahanda dari Nabiullah Yahya –alaihim as-salam. Zakaria juga menjadi pilihan Imran untuk menjaga putrinya, Maryam hingga kelak melahirkan Isa al-Masih, manusia pilihan Allah pula.

Kisah Nabi Zakaria beragam dalam al-Qur’an. Ada yang bercerita tentang kesabarannya yang bak batu karang dalam menunggu ketetapan Allah. Tentang tegarnya menghadapi gelombang ujian yang bertubi-tubi. Soal keajaiban doanya yang sarat dengan keyakinan akan Kuasa dan Kehendak Sang Pencipta. Dan pastinya tentang kualitas takwanya sebagai Nabi pilihan Allah. Ada ibadah yang tak pernah putus dan munajat tak henti di waktu-waktu sunyi.

Uniknya, keseharian Nabi Zakaria ialah “cuma” seorang tukang kayu. Dia menghidupi keluarganya berbekal perkakas tukang yang sederhana saja. Sebuah profesi dan pekerjaan kasar, bagi sebagian manusia. Orang bilang, derasnya keringat yang mengucur tak sebanding dengan rupiah yang didapatkan. Peluh yang meleleh bukan jaminan berapa yang didapat nanti. Untuk itu ada banyak profesi lain yang dianggap lebih mulia dan lebih hebat dari sekadar pekerjaan tukang kayu.

Namun, inilah keadilan Allah yang menilai manusia bukan dari sekadar tampilan fisik semata. Kemuliaan manusia tak diukur dari pekerjaan yang digeluti. Apalagi dari tebalnya isi kocek dan banyaknya jumlah saldo tabungan yang dipunya. Nabi Zakaria justru diabadikan dalam al-Qur’an, salah satunya, karena kesungguhannya dalam ibadah dan keseriusannya dalam munajat yang nyaris tanpa putus. Dia dipuji tersebab kualitas takwa yang terbukti. Bukan karena yang lain.

Allah berfirman: “(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,” (Maryam [19]: 2)
Bahwa kucuran rahmat Allah niscaya sebanding dan sejalan dengan kualitas penghambaan dirinya. Inilah hakikat kemuliaan manusia.

Soalannya, adakah pekerjaannya setiap waktu mampu mengundang rahmat Allah? Ataukah justru gara-gara kesibukan itulah yang bikin dia kehilangan barakah-Nya.

Faktanya didapati, seringkali yang paling menyibukkan manusia dalam hidupnya adalah memikirkan sebagai apa saat bekerja. Semakin tinggi kedudukan seseorang rasanya makin terpandang. Bahkan sebagian orang rela berkorban apa saja hingga menciderai fitrahnya untuk meraih posisi dan status yang diinginkan itu.

Sebenarnya tak ada yang keliru dengan keadaan di atas. Selama ia memiliki kompetensi dan kapabilitas dengan jabatan atau pekerjaannya, maka tidak masalah atas harapan dan keinginan tersebut. Asal tentu dengan cara-cara yang jujur. Ia tidak boleh menipu atau menzhalimi orang lain hanya gara-gara kepentingan pribadi seseorang.

Berkaca kepada kisah Nabi Zakaria, patut diingat akan tujuan utama dalam hidup manusia. Pekerjaan dan kedudukan manusia hanyalah perantara untuk meraih yang lebih utama. Yakni sebagai amal shaleh dan meraup sebanyak-banyaknya barakah dan Rahmat Allah.
Akhir kata, semoga Allah senantiasa melimpahkan nikmat hidayah dan istiqamah berada di jalan juang tarbiyah dan dakwah hingga akhir hayat nanti.

*Masykur Suyuti (Anggota Komunitas Sahabat Puang Karua)

Spirit Wahyu: Lembut yang Menguatkan

0

Oleh : Sarmadani Karani*

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِك فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

(QS. Ali ‘Imran: 159)

Tulisan ini bukan curahan perasaan, apalagi pembenaran diri. Ia sekadar ikhtiar berbagi satu ayat yang terus mengetuk kesadaran. Ayat yang mengajarkan adab memimpin, cara memikul amanah, dan bagaimana seorang pemimpin menjaga hatinya ketika tanggung jawab kian membesar.

Setidaknya, ayat ini saya tujukan pertama-tama untuk diri sendiri. Terlebih ketika amanah kepemimpinan diletakkan di pundak sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah. Wilayah yang luas, medan dakwah yang beragam, serta dinamika jamaah yang tidak sederhana membuat beban itu terasa nyata dan kian hari semakin berat.

Namun justru pada titik inilah wahyu hadir sebagai penuntun, agar satu hal mendasar tidak terabaikan, yaitu lembut dalam memimpin, tanpa kehilangan keteguhan dalam prinsip.

Dalam realitas organisasi, perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Musyawarah tidak selalu berjalan mulus. Ada silang pendapat, ada emosi yang sesekali meninggi, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan. Tetapi justru di ruang-ruang itulah kepemimpinan diuji. Apakah musyawarah menjadi sarana meredakan dan menyatukan, atau justru berubah menjadi arena saling menegaskan ego?

Sering kali, tanpa disadari, kita mengidentikkan ketegasan dengan suara keras, raut wajah tegang, dan sikap yang kaku. Kita mengira wibawa harus dibangun dengan jarak dan tekanan. Padahal, wahyu justru mengajarkan arah yang berbeda. Allah membuka ayat ini dengan pernyataan yang sangat mendasar:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.”

Lembut, dalam perspektif Al-Qur’an, bukanlah tanda kelemahan. Ia adalah manifestasi rahmat Allah yang dititipkan kepada seorang pemimpin. Rasulullah ﷺ tidak memimpin dengan rasa takut yang mencekam, tetapi dengan kasih sayang yang menumbuhkan kepercayaan. Hati beliau hidup, dan dari kehidupan hati itulah umat bertahan, bahkan dalam situasi paling genting.

Ayat ini terasa semakin dekat ketika amanah kepemimpinan harus dijalani di tengah kompleksitas wilayah dan beragam karakter manusia. Di Sulawesi Tengah, dengan tantangan dakwah yang tidak ringan, wahyu ini hadir bukan sekadar sebagai penghibur, tetapi juga sebagai teguran yang jujur. Bahwa yang paling dibutuhkan dalam memimpin bukanlah kerasnya tangan, melainkan lembutnya hati.

Allah lalu mengingatkan dengan pernyataan yang sangat tegas sekaligus realistis:

“Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu.”

Banyak barisan perjuangan tidak runtuh karena kekurangan program, melainkan karena hilangnya rasa aman di sekitar pemimpinnya. Amanah tidak hancur karena miskin gagasan, tetapi karena hati tidak lagi dirawat dengan empati. Ketika seorang pemimpin menjadi sumber ketegangan, bukan ketenangan, maka jamaah perlahan menjauh. Mereka menjauh bukan secara fisik semata, tetapi secara batin.

Menariknya, Al-Qur’an tidak berhenti pada peringatan. Ia menawarkan jalan praktis melalui tiga laku kepemimpinan yang menjadi penyangga amanah.

Pertama, memaafkan (fa‘fu ‘anhum). Dalam gerak dakwah dan organisasi, kekeliruan adalah keniscayaan. Yang dibutuhkan bukan ketajaman menghukum setiap salah, melainkan kelapangan hati untuk menjaga agar semangat tetap hidup dan kepercayaan tidak runtuh.

Kedua, mendoakan (wastaghfir lahum). Di sini kepemimpinan naik kelas dari sekadar manajerial menjadi spiritual. Pemimpin bukan hanya pengarah langkah, tetapi penjaga hati. Ia membawa nama orang-orang yang dipimpinnya ke hadapan Allah, bukan sekadar ke meja rapat dan forum evaluasi.

Ketiga, bermusyawarah (washāwirhum fil amr). Musyawarah bukan hanya prosedur organisasi, melainkan adab kekuasaan. Ia mengajarkan bahwa amanah ini bukan milik pribadi, tetapi titipan yang harus dijaga bersama, dengan rasa saling percaya.

Namun setelah semua proses itu dijalani, Allah menutup ayat ini dengan ketegasan yang menenangkan:

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

Di sinilah seorang pemimpin belajar berdiri sendiri di hadapan Rabb-nya. Keputusan boleh diambil dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian, tetapi hasilnya harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Tawakal bukan pengunduran diri dari tanggung jawab, melainkan penyerahan total setelah ikhtiar terbaik ditunaikan.

Dan Allah menutupnya dengan janji yang agung:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Dicintai Allah adalah bekal terkuat dalam mengemban amanah kepemimpinan. Bukan pujian manusia, bukan tepuk tangan forum, tetapi keyakinan bahwa setiap langkah yang ditempuh dengan kelembutan, musyawarah, dan tawakal berada dalam penjagaan dan cinta-Nya.

Maka ayat ini menjadi suntikan ruhani yang terus diulang dalam batin. Agar hati tetap lembut ketika memimpin, ucapan tetap terjaga ketika berbeda, dan keputusan tetap bersandar kepada Allah, meski beban amanah terasa semakin berat.

*Sarmadani Karani, S.E., Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah

Kepemimpinan sebagai Amanah Peradaban

0
Oleh: Ahmad Sabil*

Kepemimpinan selalu tampak indah ketika dibicarakan, tetapi terasa berat ketika dipanggul. Banyak orang menginginkannya, tidak sedikit yang mengejarnya, namun hanya sedikit yang benar-benar siap menanggung konsekuensinya.

Dalam pandangan Islam, kepemimpinan bukan sekadar posisi struktural atau jabatan administratif, melainkan amanah peradaban yang sebuah tanggung jawab spiritual dan sosial yang berakar pada tauhid.

Seorang pemimpin tidak berdiri di atas manusia, apalagi di atas nilai. Ia justru berdiri bersama nilai, mengarahkan manusia menuju kebaikan yang diridhai Allah. Di titik inilah kepemimpinan kehilangan makna jika dipisahkan dari kesadaran pengabdian.

Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa kepemimpinan adalah bagian dari misi penciptaan manusia:

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Ayat ini menempatkan kepemimpinan bukan sebagai hak istimewa, melainkan mandat ilahiah. Manusia diberi amanah untuk mengelola bumi, menjaga keteraturan, dan menegakkan nilai-nilai kebenaran. Maka, setiap bentuk kepemimpinan, sekecil apa pun ruangnya, pada hakikatnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kesadaran inilah yang membedakan kepemimpinan dalam Islam dengan kepemimpinan yang semata-mata berorientasi kekuasaan. Ia tidak dimulai dari ambisi, tetapi dari tanggung jawab.

Pemimpin sejati bukanlah sosok yang meniadakan perbedaan, melainkan mereka yang mampu mengorkestrasi kehidupan. Mengorkestrasi berarti menyatukan potensi yang beragam, mengelola perbedaan dengan bijaksana, dan mengarahkan seluruh gerak menuju tujuan bersama.

Teladan paling nyata dalam hal ini adalah Rasulullah ﷺ ketika memimpin Madinah. Masyarakat Madinah adalah masyarakat plural—berbeda suku, latar sosial, dan keyakinan. Namun melalui Piagam Madinah, Rasulullah ﷺ menunjukkan kepemimpinan yang adil dan beradab. Persatuan dibangun bukan di atas pemaksaan, tetapi di atas kesepakatan nilai, keadilan, dan tanggung jawab bersama.

Inilah wajah kepemimpinan peradaban: kepemimpinan yang tidak memadamkan keragaman, tetapi menjadikannya kekuatan kolektif.

Selain mengorkestrasi, pemimpin juga dituntut mampu mengaransemen amanah. Artinya, menempatkan setiap orang sesuai dengan kapasitas, kompetensi, dan perannya dalam perjuangan. Kepemimpinan bukan sekadar membagi tugas, tetapi memastikan amanah jatuh pada yang layak.

Al-Qur’an mengingatkan secara tegas:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)

Rasulullah ﷺ mencontohkan prinsip ini secara konsisten. Amanah tidak diberikan karena kedekatan emosional atau popularitas, melainkan karena kelayakan. Khalid bin Walid diberi tanggung jawab militer karena kecakapannya di medan perang, sementara Mu’adz bin Jabal diutus sebagai pendidik karena kedalaman ilmunya.

Di sinilah kepemimpinan Islam menunjukkan wajah profesionalitasnya, yaitu profesionalitas yang tidak terlepas dari ketakwaan.

Kepemimpinan Rasulullah ﷺ bukan hanya soal sistem dan struktur, tetapi juga seni ruhani. Seni memimpin bukan sekadar kecakapan teknis, melainkan buah dari kebeningan hati dan keikhlasan niat. Pemimpin yang lahir dari proses tarbiyah akan memimpin dengan keteladanan, kesederhanaan, dan kesediaan berkorban.

Ia tidak membangun kultus pribadi, tetapi menumbuhkan kesadaran kolektif. Ia tidak mengumpulkan loyalitas, tetapi menguatkan nilai. Kepemimpinan seperti ini tidak memusat pada figur, melainkan pada misi dakwah.

Rasulullah ﷺ memimpin dengan akhlak sebelum aturan, dengan kasih sayang sebelum ketegasan. Al-Qur’an menggambarkan hal ini dengan indah:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka…” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukan diukur dari seberapa besar kekuasaan yang diraih, tetapi ke mana umat diarahkan. Kepemimpinan dalam Islam tidak berhenti pada keberhasilan duniawi, tetapi mengantarkan manusia menuju keselamatan akhirat.

Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan penuh tanggung jawab:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, kepemimpinan dalam Islam adalah jalan dakwah, sarana ibadah, dan instrumen pembangunan peradaban. Ia menuntut keikhlasan, kesabaran, dan komitmen nilai. Kepemimpinan seperti inilah yang tidak hanya menggerakkan manusia, tetapi juga membangunkan jiwa, mengantar umat dari kegelapan menuju cahaya, dari kekacauan menuju keteraturan, dan dari dunia menuju ridha Allah.

*Ahmad Sabil, Sekertaris DPD Hidayatullah Makassar

Musda Gabungan Zona Bosowa Resmi Ditutup, Ketua DPW Tegaskan Pentingnya Menjaga Barisan Dakwah

0

BONE — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Zona Bosowa yang diikuti DPD Bone, Soppeng, dan Wajo resmi ditutup oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muh. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom, pada Senin sore (22/12/2025).

Penutupan berlangsung di Aula Kampus Pesantren Al-Hikmah Panyula, Bone, setelah seluruh agenda musyawarah tuntas dilaksanakan dalam satu hari penuh.

Dalam sambutan penutupnya di hadapan peserta Musda yang terdiri atas unsur DPW, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), pengurus DPD, Mushida, dan amal usaha dari tiga kabupaten zona Bosowa, Ustadz Sholeh menekankan pentingnya kader Hidayatullah menapaki jalan dakwah secara terstruktur, berjamaah, dan berada dalam barisan yang rapi.

Ustadz Dr. Sholeh mengawali sambutannya dengan sebuah kisah pengalaman ketika ia mendampingi proses lamaran seorang santrinya. Seusai prosesi lamaran, calon mertua santri tersebut menanyakan satu hal mendasar, “Apakah sudah mengikuti marhalah wustha?”

Pertanyaan itu dijawab jujur bahwa yang bersangkutan belum menuntaskan tahapan tersebut. Menyikapi hal itu, Ustadz Sholeh segera mengarahkan santrinya untuk berangkat mengikuti daurah marhalah wustha di salah satu daerah.

Tiga hari kemudian, ia kembali menghubungi calon mertua santri itu untuk menyampaikan bahwa marhalah wustha telah ditunaikan dengan baik.

Berangkat dari itu, Ketua DPW menegaskan keyakinannya terhadap masa depan kader Hidayatullah.

Ia menyitir sabda Nabi tentang keselamatan umat, lalu menegaskan, “Kalau Nabi mengatakan kullu ummati yadkhulunal jannah, maka saya juga ingin mengatakan: kullu kader Hidayatullah yadkhulunal jannah.”

Menurutnya, hal itu karena kader Hidayatullah diwajibkan menempuh proses marhalah, berhalaqah, serta menjalani sistematika wahyu mulai dari Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, hingga Al-Fatihah.

“Persyaratan apa lagi yang menghalangi mereka masuk surga, jika jalan ini dijaga dengan istiqamah?” ujarnya, seraya menguatkan dengan dalil-dalil Nabawi yang menyebut surga secara langsung sebagai balasan untuk amalan-amalan tertentu.

Ia juga mengingatkan pentingnya berjihad dalam barisan, bukan berjalan sendiri. Mengutip ayat innallaha yuhibbulladzina yuqatiluna fi sabilihi shaffan, Ustadz Sholeh menegaskan bahwa perjuangan dakwah menuntut keteraturan, kepemimpinan, dan ketaatan dalam jamaah.

“Tidak cukup disebut mujahid jika ia berjalan sendiri. Jihad harus dalam shaf, dalam barisan. Jika tidak, maka itu belum haqqa jihadihi,” tegasnya.

Dalam konteks pengabdian, Ketua DPW menyampaikan bahwa jalan dakwah adalah jalan keselamatan bagi seorang mukmin. Menurutnya, kebahagiaan sejati orang beriman hanya hadir ketika harta, tenaga, dan hidupnya bermuara pada iman dan jihad.

“Harta yang tidak digunakan untuk dakwah, membantu agama, dan perjuangan umat, itu bukan kebahagiaan, tetapi derita,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar seluruh pengurus dan kader senantiasa melibatkan Allah dalam setiap kerja dakwah, khususnya melalui doa-doa yang tulus, agar Allah menjaga amal dari kerusakan, menutup pintu-pintu fitnah, dan menanamkan kesadaran bahwa tidak ada kekuatan dan kehebatan selain milik Allah semata.

Sebelum menutup Musda secara resmi, Ustadz Sholeh menyampaikan pantun penutup sebagaimana pada Musda di zona sebelumnya, lalu menutup rangkaian acara dengan hamdalah.

Dengan penutupan ini, Musda Gabungan Zona Bosowa resmi berakhir dan seluruh keputusan musyawarah dinyatakan berlaku. Selanjutnya, agenda Musda Gabungan Hidayatullah Sulawesi Selatan akan berlanjut ke Zona Luwu Raya pada Rabu (24/12/2025) dan Zona Ajattapareng pada Jumat (26/12/2025).

Musda Zona Bosowa Tetapkan dan Lantik Kelengkapan Pengurus DPD Bone, Soppeng, dan Wajo

0

BONE — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Zona Bosowa Hidayatullah resmi menetapkan dan melantik kelengkapan struktural Dewan Pengurus Daerah (DPD) Bone, Soppeng, dan Wajo periode 2025–2030. Penetapan tersebut diputuskan dalam Musyawarah Paripurna III yang digelar di Aula Kampus Pesantren Al-Hikmah Panyula, Bone, Senin (22/12/2025).

Pelantikan ditandai dengan pembacaan ikrar pengurus di hadapan peserta Musda dan dipandu langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan. Momentum ini menandai tuntasnya proses konsolidasi organisasi pasca-penetapan ketua DPD pada Musyawarah Paripurna sebelumnya.

Struktur kepengurusan yang ditetapkan mencerminkan kesinambungan amanah dan regenerasi kader, dengan tetap mengakomodasi pengalaman pengurus periode sebelumnya serta mendorong optimalisasi fungsi departemen strategis.

Untuk DPD Hidayatullah Bone, Musda kembali mempercayakan amanah ketua kepada H. Burhanuddin Jabbar, S.Ag., yang melanjutkan kepemimpinan dari periode sebelumnya. Posisi sekretaris diamanahkan kepada Amiruddin, sementara Muh. Fadli ditetapkan sebagai bendahara. Keunikan struktur DPD Bone terletak pada penguatan lintas fungsi departemen strategis, khususnya pada sektor dakwah, pendidikan, dan organisasi, yang diisi oleh kader berpengalaman dari internal Bone maupun wilayah lain.

Di DPD Hidayatullah Soppeng, Musda kembali menetapkan Ir. H. Muh. Arif, S.Sos., M.I.Kom sebagai ketua untuk periode kedua. Ia didampingi Hanif Abdullah Arif, S.Pd., M.Pd.I sebagai sekretaris dan Afdhol Farid sebagai bendahara. Struktur DPD Soppeng menonjolkan kesinambungan kader lama dengan reposisi peran, terutama pada bidang sosial, ekonomi, dan hubungan antar lembaga, sebagai upaya penguatan pelayanan umat dan jejaring dakwah daerah.

Sementara itu, DPD Hidayatullah Wajo dipimpin oleh Ustadz Muhammad Idris, Lc., al-Hafizh, kader yang dikenal memiliki pengalaman pengabdian di berbagai pesantren Hidayatullah di sejumlah daerah. Ia didampingi Muh. Yani, S.Ag sebagai sekretaris dan Asraf Andika, S.H sebagai bendahara. Keunikan struktur DPD Wajo terlihat pada penggabungan fungsi pendidikan dan perkaderan, serta penekanan pada pelayanan umat sebagai bagian dari strategi penguatan basis dakwah lokal.

Adapun susunan lengkap ketetapan Musda Gabungan tentang pengurus tiga DPD tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Bone Periode 2025–2030
    Ketua: H. Burhanuddin Jabbar, S.Ag.
    Sekretaris: Amiruddin Ibrahim
    Bendahara: Muh. Fadli
    Ketua Departemen Dakwah dan Pendidikan: Hamzah Sulthon
    Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan: Amirullah Ilham
    Ketua Departemen Perkaderan: A. Azwar
    Ketua Departemen Ekonomi dan Aset: Muh. Jamil, M.Pd
    Ketua Departemen Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga: Alimuddin
  2. Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Soppeng Periode 2025–2030
    Ketua: Ir. H. Muh. Arif, S.Sos., M.I.Kom
    Sekretaris: Hanif Abdullah Arif, S.Pd., M.Pd.I
    Bendahara: Afdhol Farid
    Ketua Departemen Perkaderan: Zainal Al Hidayah
    Ketua Departemen Dakwah dan Pendidikan: Fadhil Fadlullah Arif, Lc
    Ketua Departemen Organisasi: Zulkifli Al Hidayah
    Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan: Mahir Ibrahim
    Ketua Departemen Ekonomi dan Aset: Khaerul Akhir
    Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga: Andi Ranreng, S.Ag
  3. Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Wajo Periode 2025–2030
    Ketua: Ustadz Muhammad Idris, Lc., al-Hafizh
    Sekretaris: Muh. Yani, S.Ag
    Bendahara: Asraf Andika, S.H
    Ketua Departemen Pendidikan dan Perkaderan: Asraf Andika, S.H
    Ketua Departemen Ekonomi dan Pelayanan Umat: Muh. Yani, S.Ag
    Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga: H. Abdul Salam

Dengan ditetapkannya kelengkapan struktural ini, diharapkan roda organisasi di masing-masing DPD dapat berjalan lebih solid, terkoordinasi, dan fokus pada penguatan dakwah, pendidikan, serta kaderisasi di wilayah Bosowa.

Pelantikan kelengkapan pengurus ini menjadi fondasi awal pelaksanaan program dan kebijakan DPD masing-masing daerah, sekaligus mempertegas arah penguatan dakwah, pendidikan, dan kaderisasi Hidayatullah di kawasan Bosowa.

Dengan tuntasnya Musyawarah Paripurna III, rangkaian Musda Gabungan Zona Bosowa memasuki fase implementasi keputusan strategis yang diharapkan mampu menjawab tantangan umat dan organisasi pada periode mendatang.

Musda Zona Bosowa Tetapkan Tiga Ketua DPD, Ada Regenerasi Tercipta

0

BONE (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Zona Bosowa secara resmi menetapkan dan melantik tiga Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) dalam Musyawarah Paripurna II yang digelar di Aula Kampus Pesantren Al-Hikmah Panyula, Kabupaten Bone, Senin siang (22/12/2025).

Penetapan dan pelantikan tersebut ditandai dengan pengambilan sumpah atau ikrar kepemimpinan yang dipandu langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan di hadapan seluruh peserta Musda. Prosesi berlangsung khidmat dan menjadi penanda dimulainya amanah kepemimpinan periode 2026–2030 di tiga daerah zona Bosowa.

Tiga ketua DPD yang ditetapkan masing-masing adalah H. Burhanuddin Jabbar, M.Ag sebagai Ketua DPD Hidayatullah Bone, Ir. H. Muhammad Arif, M.Kom sebagai Ketua DPD Hidayatullah Soppeng, serta Ustadz Muhammad Idris, Lc., al-Hafizh sebagai Ketua DPD Hidayatullah Wajo.

Untuk DPD Bone dan DPD Soppeng, Musda kembali mempercayakan amanah kepemimpinan kepada ketua periode sebelumnya. H. Burhanuddin Jabbar dan Ir. H. Arif dinilai memiliki rekam jejak pengabdian yang kuat serta kontinuitas program yang relevan dengan kebutuhan daerah masing-masing.

Sementara itu, DPD Hidayatullah Wajo dipimpin oleh figur baru, Ustadz Muhammad Idris, Lc., al-Hafizh. Ia dikenal sebagai kader yang telah lama bergelut dalam dunia pesantren Hidayatullah di berbagai daerah, mulai dari Kendari, Batam, hingga terakhir bertugas di Pesantren Al-Hikmah Panyula, Bone. Pengalaman lintas wilayah tersebut menjadi modal penting dalam menggerakkan dakwah dan pendidikan di Kabupaten Wajo.

Dalam prosesi ikrar, para ketua terpilih menyatakan komitmen untuk menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab, menjaga nilai-nilai perjuangan Hidayatullah, serta menguatkan dakwah, tarbiyah, dan pendidikan umat di wilayah masing-masing.

Musyawarah Daerah sebagai forum lima tahunan memiliki kewenangan utama untuk mendengarkan laporan pertanggungjawaban DPD kepada DPW, menetapkan ketua dan anggota Dewan Pengurus Daerah, serta mengambil keputusan-keputusan strategis organisasi. Karena itu, penetapan ketua bukanlah agenda pemilihan dalam arti kompetisi, melainkan bagian dari mekanisme musyawarah dan konsolidasi kepemimpinan.

Di Hidayatullah, Ketua DPD ditunjuk oleh Dewan Pengurus Wilayah setelah melalui proses penyerapan aspirasi dan musyawarah internal pengurus. Selanjutnya, kelengkapan struktur kepengurusan DPD disusun oleh tim formatur yang terdiri dari unsur pengurus DPW bersama Ketua DPD yang telah ditetapkan.

Dengan ditetapkannya ketiga Ketua DPD Zona Bosowa ini, Musda Gabungan memasuki tahapan berikutnya, yakni penyusunan dan pelantikan kelengkapan pengurus struktural serta penutupan Musda, sebagai bagian dari konsolidasi organisasi Hidayatullah Sulawesi Selatan menuju penguatan peran dakwah dan pendidikan di daerah.