Beranda blog Halaman 12

Menemukan Kekuatan Sejati dalam Kalimat Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah

0

KALIMAT laa hawla wa laa quwwata illa billah bukan sekadar wirid lisan, melainkan pengakuan eksistensial seorang hamba atas keterbatasannya di hadapan Allah.

Pesan inilah yang menjadi benang merah tausiyah Ustaz Dr. Muhammd Saleh Usman, S.S., M.I.Kom., Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, dalam kegiatan Mabit dan Mainstreaming Jati Diri serta Konsolidasi Organisasi DPD Hidayatullah Makassar, Kamis (1/1/2026).

Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta merenungi perjalanan hidup manusia yang kerap merasa kuat dan mampu. Manusia menyusun rencana, mengandalkan akal dan tenaga, lalu berjalan dengan keyakinan seolah kendali sepenuhnya berada di tangannya. Namun pada titik tertentu, manusia akan berhadapan dengan realitas yang tak mampu ia ubah.

Di situlah makna laa hawla wa laa quwwata illa billah menemukan relevansinya. Bahwa tidak ada daya untuk menolak keburukan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan, kecuali dengan pertolongan Allah.

Ustaz Sholeh menegaskan bahwa manusia hidup di tengah dua medan ujian. Dari luar, syaitan terus berupaya menyesatkan, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh” (QS. Fathir: 6).

Namun, menurutnya, musuh yang paling berbahaya justru berasal dari dalam diri manusia sendiri, yaitu kesombongan. Penyakit hati yang halus ini membuat seseorang merasa lebih baik, lebih benar, dan lebih tinggi dari orang lain. Kesombongan pula yang pertama kali menjatuhkan Iblis.

Karena itu, orang beriman menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya sekaligus benteng hidupnya. Ia tidak hanya dibaca, tetapi direnungi dan dijadikan cermin diri.

Surat Al-‘Alaq, khususnya ayat “Dia menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. Al-‘Alaq: 2), menurutnya, bukan sekadar informasi penciptaan, melainkan teguran agar manusia tidak meninggi dan lupa asal-usul. Kesadaran akan asal kejadian manusia menjadi perisai dari kesombongan dan pintu menuju kerendahan hati.

Ia menekankan bahwa iman tidak pernah berdamai dengan kesombongan. Keduanya tidak akan bersatu dalam satu hati. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji zarrah” (HR. Muslim). Maka, semakin tinggi iman seseorang, seharusnya semakin tunduk dan lembut pula hatinya.

Lebih jauh, Ustaz Sholeh menjelaskan bahwa ketika Al-Qur’an dijadikan pedoman hidup, langkah manusia menjadi terarah dan visinya jelas. Ia mengutip kesaksian Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak Nabi ﷺ, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an” (HR. Muslim). Artinya, cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi Nabi sepenuhnya dibimbing oleh wahyu.

Pada puncak kesadaran spiritual, manusia sampai pada pengakuan terdalam bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa. Allah menegaskan, “Dan kalian tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah” (QS. At-Takwir: 29). Daya dan kekuatan, jelasnya, bukan semata kemampuan materi atau logika, melainkan pertolongan Allah yang menghidupkan hati dan meluruskan langkah.

Kesadaran ini menempatkan manusia pada posisinya yang hakiki, yaitu sebagai hamba dan sekaligus khalifah yang senantiasa membutuhkan bimbingan.

Karena itu, setiap hari dalam setiap shalat, manusia memohon, “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah: 6). Doa ini, menurutnya, adalah permohonan akan kejernihan berpikir, kelurusan analisa, dan keteguhan sikap mental dalam menjalani amanah kehidupan.

Dari kesadaran inilah lahir daya seorang pejuang. Daya yang bersumber dari hidayah dan ruh yang hidup, yang mendorong manusia untuk melanjutkan risalah para nabi.

Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan kalian umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas manusia” (QS. Al-Baqarah: 143). Al-Qur’an menjadi mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ karena risalahnya tidak berhenti pada beliau, tetapi diteruskan oleh umat akhir zaman, manusia-manusia biasa pewaris risalah.

Ustaz Sholeh menutup tausiyahnya dengan menegaskan bahwa perjuangan Nabi ﷺ ditampilkan dalam wajah kemanusiaan: beliau terluka di Uhud, merasakan sedih, berkeluarga, beribadah di malam hari, dan tetap tegak sebagai hamba Allah.

Sebagaimana firman Allah, “Katakanlah: sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku” (QS. Al-Kahfi: 110).

Pesan intinya jelas. Bahwa manusia dapat berdaya dan berdampak bukan dengan menjadi sempurna, melainkan dengan meluruskan hati, menundukkan ego, serta meneladani cara berpikir dan mental para nabi, syuhada, dan orang-orang shalih. Dan pada akhirnya, seluruh perjalanan itu bermuara pada satu pengakuan yang membebaskan, laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Rep: Ahmad Sabil

DPW Hidayatullah Sulsel Tekankan Peran Masjid sebagai Pemersatu Umat dalam Forum Lintas Ormas

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menegaskan pentingnya menjadikan masjid sebagai ruang pemersatu umat Islam di tengah perbedaan yang ada.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Usatdz Dr. Muhammad Saleh Usman, M.I.Kom, saat menjadi pembicara dalam Dialog Silaturahmi Pencinta Masjid bertema “Menjadikan Masjid sebagai Wadah Pemersatu Umat” yang digelar di Resto Wong Solo Alauddin, Makassar, Sabtu pagi (4/1/2026).

Forum Dialog Silaturahmi Pencinta Masjid tersebut menjadi ruang temu lintas ormas dan institusi strategis Islam di Sulawesi Selatan. Sejumlah tokoh nasional dan daerah hadir sebagai pembicara, merepresentasikan spektrum keumatan yang luas, mulai dari unsur pemerintah, majelis ulama, hingga organisasi-organisasi Islam arus utama.

Di antaranya adalah Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulsel Dr. H. Ali Yafid, Sekretaris Umum MUI Sulsel Prof. Dr. H. Mummar Bakri, Ketua PWNU Sulsel Prof. Dr. KH. Hamzah, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sulsel Dr. Dahlan Lamawaba, serta Ketua DPW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulsel Mayjen TNI (Purn) Andi Mappanyukki.

Selain itu, forum ini juga menghadirkan Ketua ICMI Orwil Sulsel Prof. Dr. H. Arismunandar, Ketua DPP IMMIM Dr. KH. Ishaq Shamad, Ketua Umum PW DDI Sulsel Prof. Dr. H. Andi Aderus, perwakilan DPW Wahdah Islamiyah Muhammad Imran Yunus, serta pemerhati masjid A.M. Iqbal Parewangi.

Diskusi lintas elemen umat tersebut dipandu oleh Prof. Dr. Arifuddin Ahmad sebagai moderator, dengan suasana dialogis yang menegaskan semangat silaturahmi dan kolaborasi dalam memperkuat peran masjid sebagai simpul pemersatu umat.

Dalam paparannya, Ustadz Dr. Muhammad Saleh Usman menyampaikan bahwa diskursus tentang masjid tidak cukup berhenti pada aspek manajemen teknis, melainkan perlu diletakkan pada kerangka nilai-nilai dasar Islam. Ia membedakan antara prinsip-prinsip tsawabit (nilai yang tetap dan tidak berubah) dan mutaghayyirat (hal-hal yang dapat berubah mengikuti kondisi dan zaman).

“Dalam pengelolaan masjid, ada nilai-nilai yang tidak boleh berubah, tetapi ada pula aspek yang harus adaptif terhadap realitas sosial. Ketika keduanya tidak dipahami secara proporsional, masjid berpotensi kehilangan fungsi strategisnya sebagai pemersatu umat,” ujarnya.

Ia kemudian mengingatkan bahwa persatuan umat bukanlah perkara sederhana. Ustadz Muhammad Saleh Usman mengutip sebuah riwayat tentang doa Nabi Muhammad SAW yang memohon tiga hal kepada Allah SWT, di mana dua dikabulkan dan satu tidak, yakni permohonan agar umat Islam dipersatukan.

Menurutnya, hal itu menjadi isyarat bahwa ittihadul ummah merupakan agenda besar yang menuntut kesungguhan dan kesadaran kolektif.

“Sejarah juga mencatat, keberhasilan Rasulullah SAW dalam Fathu Makkah terjadi setelah beliau berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Ruang utama yang mempersatukan mereka adalah masjid,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hidayatullah memandang masjid sebagai basis utama pendidikan dan dakwah. Di Sulawesi Selatan, Hidayatullah hadir dan beraktivitas di 24 kabupaten/kota dengan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat.

Ustaddz Muhammad Saleh Usman juga mengajak seluruh elemen umat Islam untuk melakukan refleksi mendalam terkait akar persoalan sulitnya persatuan. Menurutnya, secara ritual umat Islam telah menunjukkan kesalehan yang kuat, namun dalam praktik sosial masih kerap terjebak dalam sekat-sekat identitas kelompok.

“Kita semua sepakat dengan ayat innamal mu’minuna ikhwah, tetapi mengapa masih mudah merasa lebih baik dari yang lain, baik secara personal, kelompok, bahkan institusi masjid,” ujarnya.

Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya kembali pada fondasi awal wahyu Al-Qur’an, khususnya Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari asal yang sama, dan hanya Allah SWT yang Maha Mulia, sehingga tidak ada ruang bagi sikap merasa superior.

“Ketika kesadaran ini lepas, yang muncul adalah narasi ‘saya lebih baik dari Anda’, ‘kelompok saya lebih unggul dari kelompok Anda’. Padahal kita semua berasal dari ‘alaq’ yang sama,” tegasnya.

Prinsip inilah, menurutnya, yang menjadi basis jati diri Hidayatullah sebagai jama‘atun minal muslimin, yakni bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh elemen umat Islam. Ia menegaskan bahwa Hidayatullah memandang dirinya sebagai bagian dari NU, Muhammadiyah, DDI, Wahdah Islamiyah, dan elemen umat Islam lainnya.

“Islam ini harus dibawa bersama-sama, dengan kolaborasi dan sinergi. Jika itu dilakukan, maka akan tampak tanda-tanda awal kebangkitan Islam, khususnya di Sulawesi Selatan ini,” katanya.

Menurutnya, penguatan fungsi masjid sebagai titik temu lintas ormas dan komunitas merupakan prasyarat penting bagi kebangkitan umat Islam di Sulawesi Selatan. Dialog tersebut diharapkan menjadi langkah konkret mempererat silaturahmi dan kerja bersama antarormas dalam memakmurkan masjid sekaligus memperkuat persatuan umat.

DPD Hidayatullah Makassar Mainstreaming Jati Diri dan Konsolidasi Organisasi melalui Mabit, Ketua DPW beri Taujih Manhaji

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar melaksanakan kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) dengan agenda Mainstreaming Jati Diri dan Konsolidasi Organisasi di kawasan Wadi Barakah, Pucak, Tompobulu, Kabupaten Maros, pada Rabu kemarin (31/12/2025.)

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh jajaran pengurus DPD Hidayatullah Makassar sebagai bagian dari ikhtiar penguatan ruhiyah, pemantapan jati diri, serta konsolidasi organisasi dalam rangka menyiapkan arah gerak dakwah lima tahun kepengurusan ke depan.

Ketua DPD Hidayatullah Makassar, Dr. Irfan Yahya, M.Si., dalam pemaparannya menegaskan pentingnya perumusan grand desain organisasi sejak awal masa kepengurusan. Menurutnya, konsep besar tersebut menjadi pijakan strategis agar pengurus dapat lebih fokus pada implementasi program dakwah dan tarbiyah.

“Grand desain lima tahun harus dituntaskan sejak awal, sehingga energi pengurus tidak habis pada pembahasan teknis, tetapi dapat diarahkan pada aksi dan refleksi,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan mabit diawali dengan sesi materi dan diskusi brainstorming terkait jati diri Hidayatullah serta penguatan konsolidasi organisasi. Pada malam hari, peserta melaksanakan qiyamullail sebagai penguatan ruhiyah, dilanjutkan pada pagi hari dengan Grand MBA, tilawah Al-Qur’an, dan wirid.

Puncak kegiatan diisi dengan taujih manhaji oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom. Dalam taujihnya, ia menekankan urgensi pemahaman jati diri sebagai hamba Allah dan pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap amal dakwah.

Ia menjelaskan bahwa Surah Al-‘Alaq menjadi landasan manhaji bagi para pejuang dakwah karena mengajarkan manusia untuk mengenal hakikat dirinya dan Rabb-nya. Menurutnya, kesombongan merupakan penyakit yang dapat menggugurkan nilai amal, meskipun secara lahiriah tampak besar.

“Seluruh amalan bisa bernilai nol jika tidak dilandasi keikhlasan. Kesombongan inilah yang menghancurkan iblis, yang sebelumnya termasuk hamba yang beriman,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa berpegang teguh pada manhaj Al-Qur’an akan melahirkan pribadi yang teratur dan lurus dalam cara berpikir, berkeyakinan, berakhlak, serta menganalisis persoalan kehidupan. Hal tersebut sebagaimana yang selalu dimohonkan oleh kaum beriman dalam doa ihdinash shirathal mustaqim.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penguatan jati diri, soliditas organisasi, serta peneguhan arah dakwah DPD Hidayatullah Makassar agar senantiasa berada dalam koridor manhaj Al-Qur’an dan Sunnah.

Rep: Ahmad Sabil

Spirit Wahyu : Keteguhan yang Diuji di Medan Nyata

0
Oleh : Sarmadani Karani*

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Al-‘Ankabūt: 69)

Tidak semua ujian dalam perjuangan datang dalam rupa kekurangan harta atau sempitnya rezeki. Sebagian justru hadir dalam bentuk yang lebih sunyi namun mengguncang. Seperti berupa kehilangan, ketakutan, atau bahkan keputusan yang harus diambil dalam hitungan detik.

Pada saat-saat seperti itulah iman tidak lagi diuji lewat kata-kata, melainkan melalui tindakan nyata. Di sanalah keteguhan menemukan maknanya yang paling jujur.

Ayat di awal tulisan ini menjadi pengingat bahwa jalan perjuangan bukan sekadar lintasan ideal yang bersih dari rintangan. Ia adalah jalan yang menuntut kesungguhan jihad (dalam makna yang luas), yakni kesediaan untuk bertahan, melangkah, dan tetap berbuat baik meski dalam keadaan yang paling berat.

Janji Allah dalam ayat ini sederhana namun tegas dan itu pasti. Bahwa, siapa yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya, akan ditunjukkan jalan-jalan pertolongan.

Kisah Ustadz Supri menghadirkan janji itu dalam wujud yang nyata.

Sejak 1993, ia memilih hidup di lintasan pengabdian bersama Hidayatullah. Dari Tomohon, kembali ke Luwuk Banggai, hingga akhirnya menetap dan merintis pesantren di Toili.

Saat itu, Toili bukanlah wilayah yang ramah. Lahan masih berupa semak belukar, pondok baru berdiri seadanya, dan kehidupan berjalan dengan segala keterbatasan. Tidak ada jaminan kenyamanan, apalagi kemudahan.

Namun ia bertahan. Bukan karena hidup terasa ringan, melainkan karena amanah telah berakar dalam jiwanya. Pengabdian, baginya, bukan episode sementara, tetapi pilihan hidup.

Bahkan, yang terbaru, ketika hendak berangkat menghadiri Musyawarah Daerah Gabungan (Musdagab) VI Hidayatullah se-Sulawesi Tengah, ujian kembali datang berlapis. Dompet hilang, istri jatuh sakit, anak-anak harus diantar kembali ke pondok. Secara manusiawi, semua itu cukup menjadi alasan untuk menunda atau bahkan membatalkan kehadiran. Namun ia tetap melangkah.

“Alhamdulillah, saya bisa hadir sebagai bentuk ketaatan kepada (kepemimpinan dan) lembaga,” ucapnya singkat saat menyampaikan tausiyah.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi kesederhanaan itulah yang justru memperlihatkan kedalaman iman yang telah ditempa oleh waktu. Tidak ada dramatisasi, tidak ada keluhan. Hanya ketaatan yang terekam dengan tenang.

Namun ujian terbesar dalam hidupnya datang jauh sebelum itu, tepatnya pada 17 Desember 2007.

Di tepi sungai, ketika istrinya diterkam buaya saat mencuci pakaian, Supri tidak sempat berpikir panjang. Tidak ada ruang untuk menimbang risiko atau keselamatan diri. Satu kesadaran menguasai dirinya hanyalah perasaan bahwa ini adalah tanggung jawab saya sebagai suami.

Dan akhinya Ia melompat ke sungai. Melawan buaya, melawan rasa takut, dan melawan kemungkinan kehilangan yang tak terbayangkan.

Upaya pertama gagal. Tangan kirinya patah dan mengalami cacat permanen. Rasa sakit itu nyata, tetapi tidak menghentikannya. Dengan sisa tenaga dan tekad yang tersisa, tangan kanannya kembali dimasukkan ke tenggorokan buaya hingga hewan itu tercekak dan akhirnya melepaskan gigitannya. Istrinya selamat, meski dengan luka parah. Supri sendiri menanggung luka seumur hidup.

Tiga puluh menit kemudian, pertolongan manusia baru datang. Tetapi sebelum itu, pertolongan Allah telah lebih dahulu bekerja, menguatkan jiwa yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya.

Di titik inilah ayat Al-‘Ankabūt terasa hidup, bukan sebagai teks, melainkan sebagai kenyataan. Bahwa “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Kesungguhan tidak selalu berbuah kenyamanan. Kadang ia berbuah luka. Namun dari luka itulah Allah menumbuhkan keteguhan, meninggikan derajat, dan mengabadikan makna pengabdian. Jalan yang ditunjukkan Allah tidak selalu berarti terhindar dari penderitaan, tetapi selalu berarti ditemani dan dikuatkan.

Hampir tiga puluh tahun Supri bertugas di Toili. Suka dan duka telah dilalui. Luka fisik masih tersisa, menjadi saksi bisu dari satu fase kehidupan. Tetapi langkahnya tidak berhenti. Keteguhan yang lahir dari iman membuatnya terus berjalan, tanpa banyak bicara, tanpa tuntutan balasan.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa perjuangan selalu mengandung ujian. Bahwa iman sejati tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati, tetapi diuji di medan nyata. Bahwa amanah kadang harus dibayar mahal. Dengan rasa takut, dengan air mata, bahkan dengan luka yang menetap seumur hidup.

Dan di atas semua itu, kita diingatkan bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang tetap berbuat baik, meski berada dalam keadaan paling berat. Di sanalah keteguhan menemukan puncaknya, dan janji Allah menemukan pembuktiannya.

Jenderal Langit yang Membumi

0
Oleh : Ahmad Sabil*

Pada titik tertentu dalam hidup, manusia akan menyadari bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu ditandai oleh pangkat, jabatan, atau sorotan publik. Justru, ia sering lahir dari ruang-ruang sunyi yang hanya diketahui oleh hati dan Allah Ta’ala. Di sanalah watak kepemimpinan diuji, dibentuk, dan dimatangkan.

Kata “jenderal” kerap memanggil imaji tentang kekuasaan dan otoritas. Kita kadang menggambarkannya dengan seseorang yang berdiri di puncak struktur, memberi komando, dan menentukan arah.

Namun dalam perspektif yang lebih mendalam, setiap manusia sejatinya telah memikul jabatan yang jauh lebih agung dan fundamental. Tanpa seremoni, tanpa tanda pangkat di pundak, Allah menetapkan manusia sebagai khalifah di bumi. Pemegang amanah peradaban.

Amanah ini bukan sekadar mandat untuk memimpin orang lain, melainkan tanggung jawab untuk memakmurkan bumi, menjaga keseimbangannya, dan menegakkan keadilan dalam seluruh dimensi kehidupan. Ia bersifat sunyi, personal, dan sering kali luput dari penilaian manusia.

Namun justru di situlah bobot beratnya. Karena amanah ini kelak dipertanggungjawabkan langsung kepada Pemilik langit dan bumi.

Masalahnya, amanah sebesar ini tidak mungkin ditunaikan hanya dengan kekuatan diri. Manusia adalah makhluk rapuh. Hatinya mudah goyah, pikirannya bisa bias, dan langkahnya kerap tergelincir oleh godaan kekuasaan, kepentingan, atau kelelahan batin. Karena itu, seorang khalifah membutuhkan sumber daya yang melampaui dirinya sendiri. Ia perlu terus menyambungkan orientasi hidupnya ke langit, agar tidak kehilangan arah ketika berpijak di bumi.

Di antara jalan yang Allah bukakan untuk menjaga kejernihan jiwa itu adalah qiyamullail, shalat malam. Sebuah ibadah yang tidak riuh, tidak demonstratif, dan tidak menuntut pengakuan.

Ketika dunia terlelap dan aktivitas berhenti, seorang hamba bangkit dari tidurnya, membawa letihnya, kegelisahannya, dan harapannya ke hadapan Allah. Al-Qur’an menggambarkan mereka dengan bahasa yang lembut sekaligus dalam.

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya; mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 16)

Pada saat-saat seperti itulah jiwa ditempa. Ambisi diluruskan, niat diperbarui, dan kesombongan diluruhkan. Qiyamullail bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan ruang pembentukan karakter kepemimpinan. Ia melatih kejujuran batin, keteguhan prinsip, dan kesadaran akan keterbatasan diri.

Tidak mengherankan jika Rasulullah ﷺ menempatkan qiyamullail sebagai amalan strategis dalam pembinaan manusia unggul. Beliau bersabda:

“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamullail, karena ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, penghapus dosa, dan pencegah dari perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi)

Bagi mereka yang telah menjadikannya kebiasaan, qiyamullail bukan lagi sekadar ritual, melainkan kebutuhan ruhani. Ada kegelisahan yang muncul ketika malam berlalu tanpa sujud. Ada kehampaan yang terasa ketika hubungan dengan langit terputus.

Tidak jarang, kerinduan itu mendorong seseorang untuk mencari amalan pengganti, seperti shalat dhuha, sebagai ikhtiar menjaga kesinambungan hubungan spiritual di tengah kesibukan siang hari.

Di sinilah makna “Jenderal Langit” menemukan relevansinya. Ia bukan pemimpin yang angkuh dengan kuasanya, melainkan pribadi yang kuat karena ketundukannya. Ia menata barisan hidupnya dari langit, agar langkahnya di bumi tetap lurus. Ia memimpin bukan dengan suara keras, tetapi dengan keteladanan batin. Ia membumi dalam kerja dan tanggung jawab, namun hatinya senantiasa terikat ke langit.

Pada akhirnya, setiap kita adalah pemimpin, minimal atas diri sendiri dan amanah yang diemban. Pertanyaannya bukan seberapa tinggi posisi kita di mata manusia, melainkan seberapa kuat koneksi kita dengan Allah.

Semoga setiap amanah yang kita jalani sebagai khalifah di bumi senantiasa berada dalam bimbingan-Nya, sehingga lahir pribadi-pribadi yang kuat secara spiritual, jernih secara moral, dan adil dalam menjalankan peran kehidupan.

*Ahmad Sabil, S.H.I., sekertaris DPD Hidayatullah Makassar

Spirit Wahyu: Tegas Tanpa Kehilangan hati

0

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah.”

(QS. An-Nisā’: 135)

Ada satu fase dalam kepemimpinan ketika kelembutan, yang selama ini menjadi kekuatan, terasa tidak lagi memadai. Bukan karena kelembutan itu salah, sebab ia tetap harus menjadi ruh kepemimpinan. Melainkan karena amanah juga menuntut ketegasan.

Di titik inilah banyak pemimpin tergelincir. Ketegasan perlahan berubah menjadi kekerasan, dan prinsip yang seharusnya dijaga justru menjelma menjadi pembenaran ego.

Wahyu datang memberi garis lurus yang jernih, yaitu agar tegak di atas keadilan. Bukan di atas perasaan, bukan pula di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Tegaslah dalam kebenaran, tetapi tetap jujur pada nurani.

Dalam Islam, keadilan bukan sekadar produk keputusan organisatoris; ia adalah ibadah, kesaksian moral dan spiritual yang dipersembahkan kepada Allah. Karena itu, menjadi adil bukan pilihan tambahan bagi seorang pemimpin, melainkan karakter inti yang menentukan nilai amanahnya.

Ayat ini terasa sangat hidup ketika dihadapkan pada realitas. Musyawarah Daerah Gabungan (Musdagab) VI Hidayatullah se-Sulawesi Tengah yang baru saja digelar menjadi salah satu cermin.

Seperti musyawarah manusia pada umumnya, ada yang pulang dengan hati lapang, ada pula yang masih menyimpan ganjalan. Keputusan kolektif tidak selalu mampu memuaskan semua pihak. Bahkan, mungkin tidak pernah ada satu keputusan pun yang bisa menyenangkan setiap hati secara bersamaan.

Namun justru di sanalah makna kepemimpinan diuji.

Musyawarah bukan tentang siapa yang paling diuntungkan, melainkan tentang bagaimana amanah dijaga dengan sejujur-jujurnya. Ia bukan arena menang dan kalah, tetapi ikhtiar menghadirkan kebaikan bersama di tengah keterbatasan manusia. Proses telah ditempuh.

Pikiran dicurahkan, tenaga dikerahkan, argumen dipertukarkan, dan doa dipanjatkan, agar organisasi melangkah dengan pilihan terbaik yang mungkin diambil pada masanya.

Dalam praktik kepemimpinan, ada saat-saat ketika keputusan yang diambil terasa berat bagi sebagian pihak. Ada yang kecewa, ada yang tersinggung, bahkan ada yang memilih menjaga jarak. Pada momen seperti itu, hati seorang pemimpin mudah goyah.

Pertanyaan-pertanyaan batin pun muncul. Apakah keputusan ini terlalu keras, atau justru terlalu lunak? Apakah keadilan benar-benar telah ditegakkan, atau ada nurani yang terabaikan?

Di titik inilah wahyu kembali meneguhkan arah, yaitu “menjadi saksi karena Allah.”

Bukan karena pujian manusia. Bukan karena tekanan mayoritas. Bukan pula demi menjaga citra diri atau posisi. Melainkan karena keyakinan bahwa setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Kepemimpinan, pada akhirnya, adalah keberanian untuk berdiri di hadapan Allah dengan hati yang jujur, meski harus berjalan sendiri di hadapan manusia.

Kami sepenuhnya menyadari bahwa keputusan yang lahir dari musyawarah tidak pernah sempurna. Ada ruang yang terasa lapang bagi sebagian orang, dan terasa sempit bagi yang lain.

Tetapi satu hal patut disyukuri, bahwa ikhtiar telah ditunaikan dengan niat yang lurus. Dalam timbangan wahyu, Allah menilai kesungguhan dan kejujuran, bukan semata-mata hasil yang tampak di mata manusia.

Di sinilah perbedaan mendasar antara tegas karena iman dan keras karena emosi. Tegas yang lahir dari iman selalu disertai niat menjaga, bukan melukai; membina, bukan menyingkirkan. Ia mungkin terasa berat hari ini, bahkan menyisakan rasa yang belum selesai, tetapi insya Allah menenangkan kelak, ketika amanah dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dalam perjalanan dakwah dan organisasi, saya belajar satu pelajaran penting. Bahwa tidak semua persoalan selesai dengan suara tinggi, dan tidak semua masalah tuntas dengan diam yang terlalu lama.

Ada waktu untuk menenangkan, ada waktu untuk memutuskan. Dan keduanya hanya akan bernilai jika lahir dari hati yang bersih dan komitmen pada keadilan.

Jika hari ini masih ada rasa yang tertinggal, semoga Allah menyempurnakannya dengan waktu. Jika ada kekecewaan yang belum reda, semoga dilembutkan dengan kelapangan dada. Dan jika amanah terasa semakin berat, semoga Allah menambahkan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan.

Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling disukai, melainkan tentang siapa yang paling adil dan paling siap bertanggung jawab di hadapan manusia, dan terlebih lagi di hadapan Allah.

Spirit Wahyu edisi ini memberi pelajaran beharga. Tegaslah dalam kebenaran tanpa kehilangan kelembutan hati. Tidak semua hasil musyawarah memuaskan semua orang, tetapi setiap ikhtiar yang adil dan jujur selalu bernilai di sisi Allah.

Rampung Musda Gabungan 2025, Hidayatullah Sulsel Tetapkan Kepengurusan Lengkap 24 DPD

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Sulawesi Selatan tahun 2025 resmi menuntaskan agenda konsolidasi kepemimpinan di tingkat daerah.

Melalui mekanisme syura yang dilaksanakan secara berjenjang dalam lima zona Musda, yaitu Makassar Sekitar, Sulsel Selatan, Bosowa, Luwu Raya, dan Ajatappareng, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menetapkan dan melantik kelengkapan struktural Dewan Pengurus Daerah (DPD) di 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan untuk masa bakti 2025–2030.

Proses Musda Gabungan ini tidak hanya menjadi forum pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya, tetapi juga ruang peneguhan arah gerak organisasi dalam menyongsong tantangan dakwah dan pembangunan peradaban Islam di tingkat lokal. Penetapan ketua dan kelengkapan pengurus dilakukan melalui mekanisme syura, setelah penyerapan aspirasi dan musyawarah internal, sebagaimana menjadi tradisi organisasi Hidayatullah.

Komposisi kepengurusan yang ditetapkan menunjukkan pola kesinambungan dan regenerasi yang berjalan beriringan. Sejumlah daerah mempertahankan ketua dan struktur inti sebagai bentuk keberlanjutan program, sementara daerah lain menghadirkan figur-figur baru dengan latar pengalaman lintas wilayah—baik sebagai pimpinan DPD, pengelola pesantren, maupun fungsionaris amal usaha—sebagai penguatan jaringan dan militansi kader.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel dalam berbagai kesempatan Musda menegaskan bahwa amanah kepengurusan bukan ruang evaluasi masa lalu, melainkan medan aktualisasi nilai iman, jihad, dan etika berjamaah. Kepengurusan daerah diharapkan menjadi simpul strategis dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat yang mampu menjawab tantangan lokal tanpa kehilangan arah gerak nasional organisasi.

Dengan rampungnya Musda Gabungan Zona Ajatappareng sebagai zona terakhir, Hidayatullah Sulsel secara resmi memasuki fase kerja kepengurusan baru yang terintegrasi, solid, dan berorientasi pada penguatan kader serta kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Adapun susunan kelengkapan Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah se-Sulawesi Selatan periode 2026-2030 hasil Musda Gabungan 2025 adalah sebagai berikut:

  1. DPD Hidayatullah Kota Makassar
    • Ketua: Dr. Irfan Yahya, S.T., M.Si.
    • Sekretaris: Ahmad Sabil, S.H.I., S.Pd.
    • Bendahara: Aditya, S.E.
    • Departemen Pendidikan dan Pelayanan Umat: Samsul, S.Pd.
    • Departemen Ekonomi: Ari Rahmat Hidayat, S.E., M.M.
    • Departemen Organisasi: Muh. Robianto, S.Pd.
  2. DPD Hidayatullah Kabupaten Gowa
    • Ketua: Mustaqim, S.Sos.I.
    • Sekretaris: Mardi, S.Pd.
    • Bendahara: Ismail Anwar
    • Departemen Organisasi dan SDI: Syahrul
    • Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat: Ahmad Syauqi Fuadi, Lc.
    • Departemen Perkaderan dan Pembinaan Anggota: Rasman, S.Sos.
    • Departemen Ekonomi dan Aset: Ridwan
  3. DPD Hidayatullah Kabupaten Maros
    • Ketua: Abdul Hadi, S.Pd.I.
    • Sekretaris: Arjun, S.E.
    • Bendahara: Firdaus
    • Departemen Perkaderan dan Pembinaan Anggota: Abdul Karim, S.H.I.
    • Departemen Pendidikan: Iin Swarman
    • Departemen Pelayanan Umat: Hamzah
    • Departemen Ekonomi: Muh. Jamil, M.E.
    • Departemen Organisasi: Aqil
  4. DPD Hidayatullah Kabupaten Takalar
    • Ketua: Baharuddin Jabbar
    • Sekretaris: Bahtiar Aras, S.Sos.I.
    • Bendahara: Irwan Ibrahim
    • Departemen Pendidikan: Ikhwanul Muslimin
    • Departemen Perkaderan: Muh. Yusuf
    • Departemen Organisasi: Mansur, S.H.
    • Departemen Dakwah: Bahtiar Aras, S.Sos.I.
    • Departemen Sosial: Muhammad Syarif
    • Departemen Ekonomi dan Aset: Zulfahmi Alif Syahbana
    • Departemen Hubungan Antar Lembaga: Muh. Tasyrik
  5. DPD Hidayatullah Kabupaten Jeneponto
    • Ketua: M. Basri
    • Sekretaris: Irmansah
    • Bendahara: Agustan
  6. DPD Hidayatullah Kabupaten Bantaeng
    • Ketua: Yunus Haning
    • Sekretaris: Erwin, S.Ag.
    • Bendahara: Arjen
    • Departemen Pendidikan: Erwin, S.Ag.
    • Departemen Ekonomi: Haris Mahmudin
  7. DPD Hidayatullah Kabupaten Bulukumba
    • Ketua: M. Syahrir
    • Sekretaris: Zainuddin Jumarong
    • Bendahara: Khairullah Misdar
    • Departemen Pendidikan: Anshar, S.Pd.I.
    • Departemen Dakwah: Amiruddin, S.Pd.I.
    • Departemen Organisasi: Irham
    • Departemen Perkaderan: H. Ambo Muis
    • Departemen Ekonomi: Muh. Andi
    • Departemen Pembinaan Anggota: Firman Hayyung
    • Departemen Hubungan Antar Lembaga: Ahmad Firdaus
  8. DPD Hidayatullah Kabupaten SinjaI
    • Ketua: Suparman
    • Sekretaris: Ahmad Tanwir
    • Bendahara: Hasbullah, S.Pd.I.
    • Departemen Perkaderan: Jamaluddin Enre
    • Departemen Pendidikan: Khairil Mukhtar
    • Departemen Dakwah: Baharuddin
  9. DPD Hidayatullah Kabupaten Bone
    • Ketua: H. Burhanuddin Jabbar, S.Ag.
    • Sekretaris: Amiruddin Ibrahim
    • Bendahara: Muh. Fadli
    • Departemen Dakwah dan Pendidikan: Hamzah Sulthon
    • Departemen Sosial dan Kesehatan: Amirullah Ilham
    • Departemen Perkaderan: A. Azwar
    • Departemen Ekonomi dan Aset: Muh. Jamil, M.Pd.
    • Departemen Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga: Alimuddin
  10. DPD Hidayatullah Kabupaten Soppeng
    • Ketua: Ir. H. Muh. Arif, S.Sos., M.I.Kom.
    • Sekretaris: Hanif Abdullah Arif, S.Pd., M.Pd.I.
    • Bendahara: Afdhol Farid
    • Departemen Perkaderan: Zainal Al Hidayah
    • Departemen Dakwah dan Pendidikan: Fadhil Fadlullah Arif, Lc.
    • Departemen Organisasi: Zulkifli Al Hidayah
    • Departemen Sosial dan Kesehatan: Mahir Ibrahim
    • Departemen Ekonomi dan Aset: Khaerul Akhir
    • Departemen Hubungan Antar Lembaga: Andi Ranreng, S.Ag.
  11. DPD Hidayatullah Kabupaten Wajo
    • Ketua: Ustadz Muhammad Idris, Lc., al-Hafizh
    • Sekretaris: Muh. Yani, S.Ag.
    • Bendahara: Asraf Andika, S.H.
    • Departemen Pendidikan dan Perkaderan: Asraf Andika, S.H.
    • Departemen Ekonomi dan Pelayanan Umat: Muh. Yani, S.Ag.
    • Departemen Hubungan Antar Lembaga: H. Abdul Salam
  12. DPD Hidayatullah Kabupaten Luwu Timur
    • Ketua: Muh. Tasrun, S.Pd.
    • Sekretaris: Muallip, M.Pd.
    • Bendahara: Abu Hurairah
    • Departemen Pendidikan: Mukhsin, S.Pd.
    • Departemen Perkaderan dan Dakwah: Abd. Rahman Caco, S.H.
    • Departemen Sosial dan Kesehatan: Abu Bakar Bessah
    • Departemen Organisasi: Abu Haidar
    • Departemen Ekonomi: Nur Hadi Yusuf Gatti
    • Departemen Hubungan Antar Lembaga: Amrullah, S.Fil.I.
  13. DPD Hidayatullah Kabupaten Luwu Utara
    • Ketua: M. Abd. Wahab, S.Pd.I.
    • Sekretaris: Alauddin Subandi, S.Pd.I.
    • Bendahara: Nuzul Usman, S.Pd.
    • Departemen Perkaderan dan Rekrutmen Anggota: Amal Sholeh, S.Pd.
    • Departemen Dakwah dan Kesehatan: Abdullah
    • Departemen Pendidikan: Qayyum, S.Pd.
    • Departemen Hubungan Antar Lembaga: Drs. Muh. Rasyid Akbar, S.H.
    • Departemen Ekonomi: Sumanto
    • Departemen Sosial: Wasdin, S.Pd., M.M.
    • Departemen Aset: Ririn Putrawan, A.Md.
    • Departemen Organisasi dan Pembinaan Anggota: Ikhsan Saleh, S.Pd.I.
  14. DPD Hidayatullah Kabupaten Luwu
    • Ketua: Fauzan Ahmad, S.Pd.
    • Sekretaris: Hardiansyah, S.E.
    • Bendahara: Asri Baharuddin, S.E.
    • Departemen Pendidikan: Abdullah, S.Pd.
    • Departemen Dakwah dan Perkaderan: Arifuddin, S.Pd.
    • Departemen Ekonomi: Asri Baharuddin, S.E.
    • Departemen Organisasi: Abdul Hayyul, S.Sos.I.
  15. DPD Hidayatullah Kota Palopo
    • Ketua: Jumawir, S.Pd.I.
    • Sekretaris: Fijar Ali Fatih, S.Pd.
    • Bendahara: Drs. Amry Amiruddin
    • Departemen Dakwah dan Pendidikan: Mursalim, S.Pd.
    • Departemen Sosial dan Kesehatan: Awaluddin, S.Pd.Gr.
    • Departemen Perkaderan: Juhardin
    • Departemen Ekonomi: Muh. Idris
    • Departemen Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga: Burhan, S.Pd.I.
  16. DPD Hidayatullah Kabupaten Toraja Utara
    • Ketua: Muchlis, S.Pd.I.
  17. DPD Hidayatullah Kabupaten Enrekang
    • Ketua: Irwan Mujahid, M.Pd.
    • Sekretaris: Muh. Karim, S.Pd., M.M.
    • Bendahara: Alimuddin, A.Md.
    • Departemen Pendidikan: Muhammad, S.Ag., M.M.
    • Departemen Organisasi: Alimuddin, A.Md.
    • Departemen Perkaderan: Muh. Karim, S.Pd., M.M.
    • Departemen Dakwah: Ahmad Sholeh
    • Departemen Ekonomi: Seli, S.Ag.
    • Departemen Hubungan Antar Lembaga: Abdul Latif, S.Pd.I.
  18. DPD Hidayatullah Kota Parepare
    • Ketua: Ilham Syawal, S.H.I., M.M.
    • Sekretaris: Thoriq Musaddiq
    • Bendahara: Rahmat Hidayat
    • Departemen Pendidikan: Firman, S.Sos.
    • Departemen Dakwah: Habibi Nursalam B., S.Pd.I.
    • Departemen Perkaderan: Ruslan Hanif, S.Pd.
    • Departemen Organisasi dan Ekonomi: Kadir, S.E.
    • Departemen Sosial dan Kesehatan: Lukman Ibrahim
    • Departemen Hubungan Antar Lembaga: Usman Sidda
  19. DPD Hidayatullah Kabupaten Pinrang
    • Ketua: Hamka Saefullah
    • Sekretaris: Muh. Fatahuddin Al Ansyari, M.Pd.
    • Bendahara: Minhajuddin
    • Departemen Pendidikan dan Organisasi: Abdul Somad, S.Pd.
    • Departemen Perkaderan dan Dakwah: Muhsin Kahar, Lc.
    • Departemen Ekonomi: Arjun
  20. DPD Hidayatullah Kabupaten Sidrap
    • Ketua: Abdul Majid, S.S.
    • Sekretaris: Muh. Subuhana
    • Bendahara: Owan Karama
    • Departemen Dakwah: Muh. Ridwan
    • Departemen Ekonomi: Ahmad Rizki, S.H.
  21. DPD Hidayatullah Kabupaten Barru
    • Ketua: Lukman Al Fath, S.Pd., M.M.
    • Sekretaris: Ridwan Bule
    • Bendahara: Syafrin
  22. DPD Hidayatullah Kabupaten Tana Toraja
    • Ketua: Abdullah Wahid
    • Sekretaris: Syamsuddin
  23. DPD Hidayatullah Kabupaten Selayar
    • Ketua: Imam Hanif
    • Sekretaris: Ariful Aziz
    • Bendahara: Firdaus, S.Pd.
  24. DPD Hidayatullah Kabupaten Pangkep
    • Ketua: Karding, S.Sos.I., M.M.
    • Sekretaris: Andi Amri, S.Pd.
    • Bendahara: Syamsuddin, S.Pd.I.
    • Departemen Pendidikan, Perkaderan, dan Organisasi: Dr. Amaluddin
    • Departemen Ekonomi dan Pelayanan Umat: Ihsan Wahyudin, S.Pd.

Musda Gabungan Zona Ajatappareng Tetapkan dan Lantik Pengurus DPD 2025–2030

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Zona Ajatappareng menetapkan sekaligus melantik kelengkapan Dewan Pengurus Daerah (DPD) dari enam kabupaten/kota, yakni Tana Toraja, Enrekang, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Barru untuk masa bakti 2025–2030.

Prosesi pelantikan berlangsung dalam Musyawarah Paripurna lanjutan yang digelar di Gedung Peradaban Hidayatullah Parepare, Jumat (26/12/2025).

Pelantikan pengurus ditandai dengan pembacaan ikrar secara kolektif di hadapan peserta Musda dan dipandu langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan. Momentum ini menegaskan komitmen pengurus baru untuk mengemban amanah organisasi melalui mekanisme syura yang menjadi ciri khas Hidayatullah.

Menariknya, komposisi pengurus yang ditetapkan kali ini memperlihatkan kuatnya pola sirkulasi kader lintas daerah. Sejumlah pengurus tercatat pernah mengemban amanah di wilayah lain, baik sebagai pimpinan DPD, pengelola pesantren, maupun fungsionaris lembaga amal usaha. Pola ini dinilai sebagai bagian dari penguatan jaringan dakwah dan kesinambungan kepemimpinan di tingkat daerah.

Di Tana Toraja, kepengurusan kembali menegaskan kesinambungan organisasi dengan tetap mempercayakan Abdullah Wahid sebagai ketua, didampingi sekretaris yang telah berpengalaman di struktur sebelumnya.

Sementara itu, Enrekang menjadi salah satu daerah yang menonjol dengan kembalinya figur lama yang sarat pengalaman kepemimpinan lintas wilayah, memperlihatkan konsistensi kaderisasi dan regenerasi.

Parepare sebagai tuan rumah Musda Gabungan juga menampilkan komposisi pengurus yang mengombinasikan kader lama dan unsur penguatan amal usaha, termasuk keterlibatan pengelola lembaga filantropi dan pendidikan.

Di Pinrang dan Sidrap, kepengurusan baru menegaskan stabilitas organisasi dengan mempertahankan sebagian besar struktur inti, sembari menambahkan penguatan pada sektor dakwah dan ekonomi umat.

Adapun di Barru, Musda menetapkan figur yang sebelumnya berkiprah di tingkat cabang dan daerah lain, menandai kelanjutan tradisi penugasan kader lintas wilayah sebagai strategi penguatan organisasi.

Musda Gabungan Zona Ajatappareng ini menjadi rangkaian terakhir Musda Hidayatullah Sulawesi Selatan tahun 2025, sekaligus menandai rampungnya proses konsolidasi kepemimpinan daerah untuk periode lima tahun ke depan.

Adapun susunan lengkap ketetapan Musda Gabungan Zona Ajatappareng tentang pengurus enam DPD tersebut adalah sebagai berikut:

  1. DPD Hidayatullah Tana Toraja Periode 2025–2030
    Ketua: Abdullah Wahid
    Sekretaris: Syamsuddin
  2. DPD Hidayatullah Enrekang Periode 2025–2030
    Ketua: Irwan Mujahid, M.Pd
    Sekretaris: Muh. Karim, S.Pd., M.M
    Bendahara: Alimuddin, A.Md
    Departemen Pendidikan: Muhammad, S.Ag., M.M
    Departemen Organisasi: Alimuddin, A.Md
    Departemen Perkaderan: Muh. Karim, S.Pd., M.M
    Departemen Dakwah: Ahmad Sholeh
    Departemen Ekonomi: Seli, S.Ag.
    Departemen Hubungan Antar Lembaga: Abdul Latif, S.Pd.I
  3. DPD Hidayatullah Parepare Periode 2025–2030
    Ketua: Ilham Syawal, S.H.I., M.M
    Sekretaris: Thoriq Musaddiq
    Bendahara: Rahmat Hidayat
    Departemen Pendidikan: Firman, S.Sos
    Departemen Dakwah: Habibi Nursalam B, S.Pd.I
    Departemen Perkaderan: Ruslan Hanif, S.Pd
    Departemen Organisasi dan Ekonomi: Kadir, S.E
    Departemen Sosial dan Kesehatan: Lukman Ibrahim
    Departemen Hubungan Antar Lembaga: Usman Sidda
  4. DPD Hidayatullah Pinrang Periode 2025–2030
    Ketua: Hamka Saefullah
    Sekretaris: Muh. Fatahuddin Al Ansyari, M.Pd
    Bendahara: Minhajuddin
    Departemen Pendidikan dan Organisasi: Abdul Somad, S.Pd
    Departemen Perkaderan dan Dakwah: Muhsin Kahar, Lc
    Departemen Ekonomi: Arjun
  5. DPD Hidayatullah Sidrap Periode 2025–2030
    Ketua: Abdul Majid, S.S
    Sekretaris: Muh. Subuhana
    Bendahara: Owan Karama
    Departemen Dakwah: Muh. Ridwan
    Departemen Ekonomi: Ahmad Rizki, S.H
  6. DPD Hidayatullah Barru Periode 2025–2030
    Ketua: Lukman Al Fath, S.Pd., M.M
    Sekretaris: Ridwan Bule
    Bendahara: Syafrin

Enam Ketua DPD Hidayatullah Zona Ajatappareng Ditetapkan Melalui Syura, Perkuat Regenerasi dan Mobilitas Kader

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.di) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan secara resmi menetapkan dan melantik enam Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Zona Ajatappareng untuk masa bakti 2025–2030.

Penetapan dilakukan melalui mekanisme syura dalam rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan yang digelar di Gedung Peradaban Hidayatullah Parepare, Jumat (26/12/2025).

Enam daerah yang menetapkan ketua baru tersebut meliputi Kabupaten Barru, Kota Parepare, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Pinrang, dan Kabupaten Tana Toraja. Seluruh ketua ditetapkan oleh DPW Hidayatullah Sulsel berdasarkan hasil musyawarah dan pertimbangan Dewan Murabbi, bukan melalui pemilihan langsung oleh peserta Musda.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Dr. Soleh Usman, menegaskan bahwa mekanisme syura merupakan ciri khas kepemimpinan Hidayatullah yang menekankan amanah, kesiapan kader, dan kesinambungan dakwah.

“Penetapan ketua melalui syura bertujuan memastikan keberlanjutan perjuangan dan kesiapan kader, bukan sekadar popularitas. Kepemimpinan adalah amanah yang harus dipikul bersama jamaah,” ujarnya.

Adapun ketua-ketua DPD Hidayatullah Zona Ajatappareng periode 2025–2030 yang ditetapkan antara lain Abdullah Wahid sebagai Ketua DPD Hidayatullah Tana Toraja. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Pengganti Antar Waktu (PAW) DPD Hidayatullah Toraja pada 2022 dengan menggantikan Syamsuddin Nasir.

Pada 2023, Abdullah Wahid kemudian diamanahi tugas baru di Kabupaten Enrekang sebagai Kepala Kantor Sekretariat DPD Hidayatullah Enrekang. Sementara posisi Ketua DPD Hidayatullah Toraja selanjutnya dijabat Abdul Aziz hingga berakhirnya periode 2025.

Untuk Kabupaten Enrekang, DPW kembali mengamanahkan kepemimpinan kepada Irwan Mujahid, M.Pd. Sosok ini tercatat pernah menjabat Ketua DPD Hidayatullah Enrekang periode 2016–2020, kemudian mengemban tugas sebagai Ketua Pesantren Hidayatullah Towuti, Luwu Timur, pada periode 2021–2025, sebelum kembali dipercaya memimpin DPD Enrekang.

Sementara itu, DPD Hidayatullah Kota Parepare kini dipimpin Ilham Syawal, S.H.I., M.M., yang pada periode sebelumnya mengemban amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah Enrekang. Penugasan ini menandai rotasi kader lintas daerah dalam rangka penguatan struktur dakwah di wilayah strategis.

Di Kabupaten Pinrang, Hamka Saefullah kembali dipercaya melanjutkan kepemimpinannya sebagai Ketua DPD untuk periode kedua. Adapun Kabupaten Sidrap menetapkan Abdul Majid, S.S., yang sebelumnya bertugas di wilayah Sulawesi Barat.

Untuk Kabupaten Barru, DPW Hidayatullah Sulsel menetapkan Lukman Al Fath, S.Pd., M.M. sebagai ketua baru. Kandidat doktor tersebut sebelumnya menjabat Ketua DPC Hidayatullah Masago, Kabupaten Bone, periode 2021–2025.

Penetapan ketua-ketua DPD Zona Ajatappareng ini menegaskan komitmen Hidayatullah dalam membangun kepemimpinan berbasis kaderisasi, mobilitas dakwah antarwilayah, serta penguatan organisasi menuju konsolidasi gerakan dakwah dan pendidikan di Sulawesi Selatan.

Rangkaian Musda Gabungan Zona Ajatappareng selanjutnya dilanjutkan dengan penetapan kepengurusan lengkap DPD serta agenda penutupan yang akan memuat penguatan arah perjuangan Hidayatullah lima tahun ke depan.

Musda Gabungan Hidayatullah Zona Ajatappareng Resmi Dibuka, Wali Kota Parepare Tekankan Peran Literasi Quran dan Dakwah Peradaban

0

PAREPARE (HidayatullahSulsel.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Sulawesi Selatan Zona Ajatappareng resmi dibuka pada Jumat (26/12/2025) di Gedung Peradaban Hidayatullah Parepare. Kegiatan ini diikuti enam Dewan Pengurus Daerah (DPD), yakni Barru, Parepare, Sidrap, Enrekang, Pinrang, dan Tana Toraja.

Pembukaan Musda dilakukan oleh Wali Kota Parepare yang diwakili Kepala Dinas Perpustakaan Kota Parepare, Drs. H. Ahmad Masdar. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Parepare atas kontribusi Hidayatullah dalam bidang dakwah, pendidikan, dan penguatan literasi umat.

“Atas nama Pemerintah Kota Parepare, kami menyambut baik pelaksanaan Musda Gabungan ini. Hidayatullah telah menjadi mitra strategis dalam pembangunan sumber daya manusia, khususnya melalui pendidikan dan gerakan literasi al-Quran,” ujar Ahmad Masdar saat membuka acara secara resmi.

Ia berharap Musda Gabungan ini dapat melahirkan kepengurusan yang solid, visioner, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah serta penguatan karakter masyarakat.

Musda Gabungan Zona Ajatappareng ini menjadi rangkaian terakhir dari pelaksanaan Musda DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan periode 2025, setelah sebelumnya digelar di beberapa zona lainnya. Kegiatan ini dihadiri unsur pengurus DPD dari enam kabupaten/kota peserta, Pengurus Daerah Mushida, Pemuda Hidayatullah, unsur Kampus Madya Hidayatullah Parepare, serta perwakilan amal usaha Hidayatullah di masing-masing daerah.

Ketua Panitia Pelaksana yang juga Ketua DPD Hidayatullah Parepare, Ustadz Syahril, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Parepare sebagai tuan rumah Musda Gabungan zona terakhir.

“Musda ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi momentum konsolidasi perjuangan dan penguatan sinergi antar daerah di kawasan Ajatappareng dan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, Ustadz Anwar Baits, menekankan pentingnya Musda sebagai forum syura untuk memastikan kesinambungan dakwah dan kaderisasi di daerah.

“Syura adalah ruh organisasi. Dari forum inilah lahir amanah, bukan ambisi, serta keputusan yang diharapkan membawa maslahat bagi umat,” katanya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Soelh Usman, dalam arahannya menegaskan bahwa Musda Gabungan Ajatappareng memiliki posisi strategis karena menjadi penutup rangkaian Musda Sulsel sekaligus penentu arah gerak dakwah lima tahun ke depan di kawasan barat Sulawesi Selatan.

“Zona Ajatappareng memiliki potensi besar, baik secara historis, geografis, sosial, maupun kultural. Kepemimpinan yang lahir dari Musda ini harus mampu membaca tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri perjuangan Hidayatullah,” tegasnya.

Setelah pembukaan resmi, Musda Gabungan Zona Ajatappareng dijadwalkan akan dilanjutkan dengan sidang-sidang pleno, pembahasan laporan pertanggungjawaban pengurus, serta penetapan kepengurusan baru DPD Hidayatullah di enam daerah peserta untuk periode 2025–2030.