Beranda blog Halaman 11

DPD Hidayatullah Makassar Konsolidasikan Liaision Officer Kecamatan, Perkuat Infrastruktur Gerakan Dakwah

0

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar menggelar konsolidasi perdana Liaision Officer (LO) tingkat kecamatan se-Kota Makassar sebagai bagian dari penguatan infrastruktur gerakan organisasi.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu malam, 17 Januari 2026, di Aula Kantor DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Konsolidasi tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Departemen Organisasi DPD Hidayatullah Makassar, Muh. Robyanto, S.Pd., dan diikuti oleh 15 Liaision Officer berbasis kecamatan yang menyatakan komitmen untuk berkontribusi aktif dalam penguatan dakwah manhaji Hidayatullah di Makassar.

Ketua DPD Hidayatullah Makassar, Dr. Irfan Yahya, M.Si., dalam arahannya menegaskan bahwa konsolidasi LO merupakan langkah strategis untuk menentukan peran kader dalam perjalanan dakwah ke depan. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif kader dalam menyongsong agenda besar keumatan dan kebangsaan.

“Kehadiran kita malam ini bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi merupakan panggilan sejarah. Kita sedang menentukan posisi, apakah hanya menjadi penonton atau pelaku sejarah menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muh. Sholeh Usman, M.I.Kom., yang turut hadir memberikan apresiasi atas inisiatif dan kesiapan kader di Makassar. Ia menilai konsolidasi ini sebagai momentum awal yang penting untuk memperkuat kerja dakwah secara terstruktur.

“Sebagian wajah terasa lama, sebagian lainnya baru. Ini pertanda baik. Semoga menjadi titik awal penguatan langkah dakwah Hidayatullah di Makassar,” katanya.

Muh. Robyanto menjelaskan bahwa konsolidasi LO merupakan hasil kerja intensif Departemen Organisasi selama kurang lebih dua pekan dengan membangun komunikasi dan pemetaan kader tingkat Ula dan Wustha. Mayoritas LO yang terlibat merupakan alumni Al Bayan Makassar dan alumni Tahfidz Ummul Quro lintas generasi dan profesi.

“Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari guru, dosen, pengusaha, dai, imam masjid, hingga ketua RW,” jelasnya.

Kegiatan konsolidasi ini merupakan tindak lanjut dari Mabit Mainstreaming Jatidiri dan Konsolidasi Organisasi Internal yang sebelumnya digelar di kawasan wisata halal Wadi Barakah Dsn. Arra, Tompobulu Maros pada pergantian tahun 2025–2026 yang lalu.

Dalam agenda besar tersebut, DPD Hidayatullah Makassar menetapkan tiga fokus utama gerakan, yakni pembangunan infrastruktur organisasi, rekrutmen kader, dan penguatan fundraising.

Melalui konsolidasi Liaision Officer tingkat kecamatan, DPD Hidayatullah Makassar berharap struktur gerakan dakwah dapat berjalan lebih terorganisir, solid, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi penggerak utama konsolidasi organisasi di tingkat akar rumput.

Reporter: Sabil
Editor : Admin

Menimbang Ucapan dan Tindakan dalam Perspektif Iman

0
Oleh : Ahmad Sabil, S.H.I.*

MENGUKUR apakah sebuah perbuatan tergolong dosa atau bukan sejatinya tidak serumit yang kerap dibayangkan. Allah Ta’ala telah membekali setiap manusia dengan fitrah, sebuah nurani bawaan yang mampu membedakan antara kebenaran dan keburukan.

Fitrah ini bekerja lebih cepat daripada lisan yang berucap dan anggota tubuh yang bertindak. Ia hadir sebagai getaran halus di dalam dada. Sebagai peringatan sunyi yang menegur, mengingatkan, bahkan menahan sebelum kesalahan benar-benar terjadi.

Rasulullah ﷺ menjelaskan mekanisme batin ini dengan sangat jernih. Beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu serta engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa hati seorang mukmin bukanlah ruang kosong yang pasif. Ia hidup, peka, dan mampu memberi sinyal. Rasa gelisah, tidak tenang, atau keengganan ketika sebuah perbuatan diketahui orang lain sering kali menjadi penanda awal adanya penyimpangan. Sebaliknya, kebaikan hampir selalu menghadirkan ketenteraman dan kelapangan dada.

Setiap ucapan dan tindakan manusia pada hakikatnya didahului oleh bisikan dalam hati. Bisikan itu bisa berupa ilham kebaikan, bisa pula berupa dorongan keburukan.

Al-Qur’an menegaskan kenyataan ini melalui firman-Nya, “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya” (QS. Asy-Syams: 7–8).

Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk mengenali baik dan buruk. Namun potensi tersebut tidak serta-merta berfungsi dengan baik tanpa iman, ilmu, dan adab. Hati perlu diasah, dibimbing, dan dijaga agar tidak tumpul oleh hawa nafsu dan kebiasaan lalai.

Dalam praktik keseharian, tidak sedikit kebenaran justru berubah menjadi sumber masalah karena disampaikan tanpa pertimbangan hikmah. Sebuah perkataan yang secara substansi benar dapat menjadi keliru karena salah waktu, salah tempat, atau salah cara.

Niat baik yang tidak disertai adab sering kali melukai, sementara kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan justru menimbulkan kerusakan sosial.

Karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125). Perintah ini menegaskan bahwa kebenaran dalam Islam tidak pernah dilepaskan dari cara penyampaiannya.

Para nabi dan orang-orang shalih dikenal sangat berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. Mereka tidak reaktif, tidak tergesa-gesa, dan selalu menimbang dengan iman. Mereka memahami bahwa lisan adalah pintu besar: darinya dapat lahir keselamatan, dan dengannya pula seseorang bisa terjerumus dalam kebinasaan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip ini bukan sekadar etika personal, melainkan fondasi peradaban.

Ketika niat dan cara berbicara sejak awal sudah keliru, dampaknya sering kali berlipat. Perkataan semacam ini dapat menyeret seseorang pada ghibah, fitnah, bahkan kezaliman terhadap sesama.

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain” (QS. Al-Hujurat: 12). Larangan ini bukan hanya soal dosa individual, tetapi juga tentang rusaknya kepercayaan, retaknya persaudaraan, dan hancurnya tatanan sosial.

Islam, pada hakikatnya, adalah agama adab. Ia tidak hanya mengatur apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan, tetapi juga bagaimana, kapan, dan kepada siapa sesuatu disampaikan.

Rasulullah ﷺ mengajarkan agar berbicara sesuai dengan kadar akal manusia, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka” (HR. Muslim).

Al-Qur’an pun menegaskan pentingnya menjaga suara dan sikap, “Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai” (QS. Luqman: 19). Semua ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu berjalan beriringan dengan akhlak.

Pada akhirnya, sebelum berucap dan bertindak, seorang mukmin perlu kembali bertanya pada dirinya sendiri, pada getaran hatinya: apakah ini baik atau buruk, apakah ini akan menyakiti saudara seiman, apakah membawa maslahat atau justru menimbulkan mudarat.

Setiap kata dan perbuatan perlu disaring dan dianalisis dengan jernih sebelum dilepaskan ke ruang publik. Dengan sikap kehati-hatian inilah iman terjaga, ukhuwah terpelihara, dan persatuan tidak rusak oleh lisan yang lalai.

Semoga Allah menjadikan kita mukmin yang beradab, yang mampu menjaga hati, lisan, dan perbuatan. Semoga waktu yang kita miliki lebih banyak diisi dengan amal yang baik, kerja yang produktif, serta langkah-langkah yang mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin.

*Ahmad Sabil, S.H.I, Muballigh "Dai "Pengajian Lorong" Pemkot Makassar

DPW Hidayatullah Sulsel Hadiri Rapat Tindak Lanjut Dialog Pencinta Masjid

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) — DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan menghadiri Rapat Tindak Lanjut Dialog Pencinta Masjid yang digelar di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, Sabtu (11/1/2026).

Rapat ini merupakan kelanjutan dari Dialog Pencinta Masjid yang sebelumnya diselenggarakan pada 4 Januari lalu di Wong Solo Alauddin, Makassar.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulsel dan melibatkan sembilan organisasi kemasyarakatan Islam di Sulawesi Selatan. Rapat tindak lanjut ini bertujuan memperkuat sinergi antarormas dalam mengoptimalkan peran masjid sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pembinaan akhlak umat.

DPW Hidayatullah Sulsel diwakili oleh Ustadz Jumaruddin, M.Pd.I., dari Departemen Pendidikan dan Kepesantrenan. Dalam forum tersebut, para peserta membahas berbagai agenda strategis terkait penguatan fungsi masjid di tingkat komunitas.

Beberapa topik utama yang dibahas meliputi peningkatan kualitas kegiatan keagamaan di masjid, penguatan program pesantren dan pendidikan anak, penyusunan kalender kegiatan kolaboratif antar lembaga, serta upaya mendorong partisipasi jamaah, khususnya dalam menjaga konsistensi shalat berjamaah.

Dalam penyampaiannya, Ustadz Jumaruddin menekankan pentingnya kerja sama lintas lembaga untuk menjadikan masjid sebagai ruang pembinaan iman, pendidikan karakter, dan penguatan ketaatan sosial masyarakat.

Rapat ditutup dengan kesepakatan untuk menindaklanjuti hasil dialog melalui pertemuan teknis dan penyusunan langkah-langkah program bersama. Para peserta juga sepakat melanjutkan komunikasi guna merancang kegiatan konkret yang dapat diterapkan di tingkat kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan awal penguatan kolaborasi antarormas Islam dalam membangun masjid yang aktif sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial bagi masyarakat.

PD Pemuda Hidayatullah Palopo Apresiasi Sukses Munas IX dan Kepemimpinan Baru PP Pemuda Hidayatullah

0

Palopo (HidayatullahSulsel.or.id) – PENGURUS Daerah (PD) Pemuda Hidayatullah Palopo menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) IX Pemuda Hidayatullah yang digelar di Jakarta pada 8–10 Januari 2026.

Munas tersebut dinilai berlangsung khidmat, demokratis, dan mencerminkan semangat kebersamaan kader pemuda Hidayatullah dari seluruh Indonesia.

Munas IX secara resmi menetapkan Hanifuddin Chaniago, S.E., sebagai Ketua Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah masa khidmat 2026–2029. Penetapan kepemimpinan baru ini disambut positif oleh seluruh peserta munas, termasuk delegasi dari Sulawesi Selatan.

Ketua PD Pemuda Hidayatullah Palopo, Ahyar, S.Pd., yang turut hadir sebagai delegasi Munas IX, menyampaikan ucapan selamat serta apresiasi atas jalannya proses musyawarah yang dinilainya berlangsung terbuka dan penuh semangat ukhuwah. Menurutnya, Munas IX menjadi momentum strategis dalam menentukan arah gerakan kepemudaan Islam ke depan.

“Kami keluarga besar PD Pemuda Hidayatullah Palopo mengucapkan selamat dan barakallah atas terpilihnya Ketua Umum Pemuda Hidayatullah yang baru. Kami berharap kepemimpinan ini menjadi angin segar bagi gerakan pemuda Islam di Indonesia, sekaligus mampu membawa organisasi semakin dinamis dan relevan dalam menjawab tantangan zaman,” ujar Ahyar, Sabtu (10/1/2026).

Munas IX Pemuda Hidayatullah mengusung tema “Pemuda Berdaya, Indonesia Emas 2045”. Tema tersebut, kata Ahyar, sejalan dengan tiga pilar utama gerakan Pemuda Hidayatullah, yakni progresif, beradab, dan berdaya saing.

Ia menjelaskan, nilai progresif menuntut pemuda untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial tanpa kehilangan jati diri keislaman. Sementara itu, sikap beradab harus menjadi karakter dasar gerakan pemuda Islam, dan berdaya saing dimaknai sebagai kesiapan untuk berkompetisi dalam kebaikan demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Munas IX Pemuda Hidayatullah di Jakarta dihadiri oleh perwakilan dari seluruh wilayah Indonesia dan menjadi tonggak penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi secara nasional. Dengan kepemimpinan baru di tingkat pusat, PD Pemuda Hidayatullah Palopo menyatakan kesiapan untuk bersinergi serta menjalankan arahan organisasi dalam rangka penguatan dakwah dan pembinaan kepemudaan di Kota Palopo, Bumi Sawerigading.

Ian Kassa

Spirit Wahyu: Amanah yang Tidak Pernah Libur

0

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَـٰنُ

(QS. Al-Ahzāb: 72)

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia.”

Amanah tidak mengenal kalender.
Ia tidak tahu kapan tahun berganti.
Ia juga tidak bertanya apakah kita sedang lelah atau siap.

Bagi sebagian orang, pergantian tahun adalah jeda. Ada yang menutup buku lama, ada yang menata rencana baru, ada pula yang sengaja memperlambat langkah. Namun bagi para pengemban amanah, waktu sering kali berjalan tanpa tombol pause. Yang ada hanyalah kesinambungan tanggung jawab, bergerak dari satu titik ke titik lain, dari satu tugas ke tugas berikutnya.

Pasca tahun baru, kami berangkat dari Makassar, setelah sejenak mengisi liburan bersama anak-anak. Perjalanan kemudian berlanjut menyusuri wilayah tugas di Sulawesi Tengah.

Di Kabupaten Poso, sebuah armada dakwah, Mobil D-Max Double Cabin yang selama ini menjadi kendaraan operasional Pos Dai Sulteng, diserahkan kepada kami.

Dari Poso, perjalanan diteruskan menuju Ampana (Tojo Una-Una), lalu Banggai, hingga akhirnya tiba di Banggai Kepulauan. Perjalanan panjang itu ditutup sederhana: durian dan ikan bakar, di sebuah sudut pulau, sebagai penanda lelah yang manusiawi.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak ikut beristirahat: amanah.

Kita boleh berpindah tempat.
Kita bisa berganti peran.
Tetapi amanah tetap mengikuti dalam diam. Senyap, namun berat.

Ia hadir saat kita sendiri.
Ia menguji justru ketika tubuh letih dan pikiran penat.
Dan sering kali ia menuntut pembuktian pada saat hati sedang rapuh.

Amanah bukan sekadar jabatan struktural, bukan pula tumpukan tugas administratif. Amanah adalah kesiapan batin untuk tetap lurus ketika tidak ada yang mengawasi, tetap setia ketika tidak selalu dipahami, dan tetap melangkah ketika jalannya sunyi. Ia adalah komitmen yang hidup di ruang terdalam hati, jauh dari sorot kamera dan tepuk tangan.

Di titik inilah banyak orang gugur. Bukan karena tidak mampu secara teknis, tetapi karena lelah menjaga niat. Sebab yang paling berat dari amanah bukanlah pekerjaannya, melainkan konsistensi hati untuk tetap ikhlas dan jujur dari hari ke hari.

Allah mengingatkan kita melalui ayat ini bahwa amanah adalah beban yang bahkan ditolak oleh langit, bumi, dan gunung-gunung. Mereka khawatir tidak sanggup menunaikannya. Maka jika hari ini kita merasa berat, itu bukan serta-merta tanda lemahnya iman. Justru itu tanda bahwa kita sedang memikul sesuatu yang memang besar, sesuatu yang tidak ringan sejak awal penciptaan.

Masih banyak pekerjaan di DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah yang belum tertuntaskan. Tidak semuanya dapat diurai di ruang tulisan ini. Tetapi cita-cita besar itu nyata: menghadirkan Sulawesi Tengah yang lebih maju, lebih tertata, dan lebih berperadaban melalui kerja dakwah yang sabar dan berkelanjutan. Cita-cita itu tidak selalu berjalan lurus, dan sering kali menuntut pengorbanan yang tidak kecil.

Karena itu, refleksi di awal tahun seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa target saya?”
Lebih dari itu, ia perlu bergeser menjadi pertanyaan yang lebih jujur dan mendasar:
“Apakah saya masih setia pada amanah ini?”

Kadang kita memang perlu menepi.
Bukan untuk berhenti, tetapi untuk meluruskan kembali arah.
Bukan untuk mengeluh, tetapi untuk memastikan bahwa langkah yang kita tempuh masih bernilai ibadah.

Amanah memang tidak pernah libur. Namun Allah Maha Adil. Setiap letih dicatat, setiap niat dijaga, dan setiap kesungguhan, meski tidak sempurna, tidak pernah sia-sia. Selama amanah itu dipikul dengan kejujuran dan kesetiaan, selalu ada makna yang tumbuh, meski perlahan dan dalam diam.

Wattunnami: Ketika Waktu, Takdir, dan Iman Bertemu

0
Oleh : Ahmad Sabil*

Ada kalimat yang tidak sekadar diucapkan, tetapi dipendam maknanya oleh sejarah, budaya, dan iman. Salah satu kalimat itu adalah wattunnami. Ia terdengar sederhana, bahkan sering diucapkan tanpa penekanan. Namun di balik kesahajaannya, wattunnami menyimpan pandangan hidup yang dalam tentang waktu, takdir, dan ketundukan manusia kepada kehendak Allah.

Secara kebahasaan, wattunnami berasal dari kata wattu yang berarti waktu, dan nami yang bermakna sudah sampai atau telah tiba. Namun maknanya tidak berhenti pada penunjuk waktu kronologis sebagaimana jam dan kalender. Wattunnami menunjuk pada waktu yang telah ditetapkan, yang datang bersama kesiapan, rahasia, hikmah, dan izin Allah. Ia adalah pengakuan halus bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia.

Karena itu, tidak mengherankan jika ungkapan ini kerap muncul dari lisan pejabat terpilih, pemimpin adat, atau tokoh masyarakat. Dalam konteks tersebut, wattunnami menjadi pernyataan kerendahan hati. Bukan ambisi yang berbicara, melainkan kesadaran bahwa amanah hadir karena waktu telah mengantarkannya. Seolah pesan yang hendak disampaikan adalah, “Bukan saya yang memilih, tetapi waktu, dan tentu saja di balik waktu ada takdir Allah.”

Dalam kebudayaan Makassar, waktu tidak dipandang sebagai sesuatu yang netral. Ia dihormati, bahkan disakralkan, karena diyakini berjalan seiring dengan ketetapan Ilahi. Waktu bukan hanya latar peristiwa, melainkan aktor sunyi yang menentukan kapan sesuatu layak terjadi dan kapan ia harus ditunda.

Namun, makna wattunnami sangat bergantung pada siapa yang menuturkannya. Dari seorang pemimpin, ia dapat bermakna kesiapan memikul tanggung jawab. Dari seorang ulama, ia menjadi ekspresi kebijaksanaan dan kepasrahan pada takdir. Dari orang biasa, ia mencerminkan penerimaan dan keikhlasan. Tetapi dari hati yang sombong, kalimat yang sama bisa berubah menjadi pembenaran hawa nafsu. Di titik inilah wattunnami bukan lagi sekadar kata, melainkan cermin kondisi batin orang yang mengucapkannya.

Islam sendiri menempatkan waktu pada posisi yang sangat agung. Ia adalah salah satu makhluk Allah yang paling misterius: tidak bisa diulang, tidak bisa ditawar, dan tidak menunggu kesiapan manusia.

Allah bahkan bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Waktu adalah saksi hidup manusia. Dia bisa menjadi penolong, tetapi juga bisa menjadi penuntut di hadapan Allah.

Kesadaran ini ditegaskan para ulama sepanjang sejarah. Hasan Al-Bashri mengingatkan bahwa manusia sejatinya hanyalah kumpulan hari; setiap hari yang berlalu berarti sebagian dirinya telah pergi.

Ibnul Qayyim menggambarkan waktu seperti pedang. Jika tidak digunakan, ia akan menebas pemiliknya. Ali bin Abi Thalib mengibaratkan kesempatan seperti awan yang melintas cepat. Jika tidak ditangkap, ia akan lenyap tanpa kembali. Semua peringatan itu bermuara pada satu kesimpulan, yaitu waktu adalah modal iman dan amal.

Dalam fiqih Islam, waktu bahkan memiliki konsekuensi hukum. Setiap ibadah memiliki waktunya, dan nilai amal sangat ditentukan oleh ketepatan waktu. Amal yang benar tetapi dilakukan di luar waktunya bisa tertolak, sementara amal yang sederhana namun dilakukan pada saat yang tepat dapat bernilai luar biasa. Di sini, wattunnami menemukan relevansi teologisnya, bahwa tidak semua kebaikan harus dipaksakan sebelum waktunya tiba.

Keajaiban waktu tampak pada momen-momen kecil yang menentukan. Satu menit di saat sakaratul maut bisa lebih bernilai daripada ribuan tahun kelalaian. Satu doa di sepertiga malam memiliki kekuatan yang tidak dimiliki doa di waktu lain. Dan satu hidayah yang datang tepat pada saatnya mampu mengubah seluruh arah hidup seseorang.

Kisah Nabi Muhammad ﷺ dengan seorang Yahudi buta memberi gambaran yang sangat kuat tentang misteri ini. Setiap hari Nabi menyuapinya dengan penuh kasih, meski orang itu selalu mencaci beliau tanpa mengetahui siapa yang memberinya makan. Nabi tidak pernah memperkenalkan diri. Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar melanjutkan kebiasaan tersebut. Ketika sang Yahudi menyadari perbedaan dan mengetahui bahwa orang yang dahulu melayaninya adalah Muhammad ﷺ, pada saat itulah hatinya terbuka dan ia masuk Islam.

Hidayah itu tidak datang karena Abu Bakar lebih utama dari Nabi. Hidayah datang karena waktunya telah tiba. Nabi menanam dengan kasih sayang, Abu Bakar menyampaikan dengan kejujuran, dan Allah menentukan saat terbukanya hati. Inilah wattunnami dalam makna yang paling hakiki.

Pada akhirnya, wattunnami mengajarkan satu kebijaksanaan penting: tidak semua yang belum terjadi hari ini adalah kegagalan. Bisa jadi ia hanya belum sampai pada waktunya. Dan ketika waktu itu benar-benar tiba, tidak ada satu pun kekuatan di bumi yang mampu menghalanginya.

Wattunnami.
Sudah waktunya Allah berkehendak.
Manusia hanya diminta untuk bersabar, beriman, dan terus berjalan.

Wallāhu a‘lam.

*Ahmad Sabil, S.H.I. adalah Sekertaris DPD Hidayatullah Makassar

DPD Hidayatullah Makassar Gelar Sertijab Kepengurusan 2026–2030

0

Makassar (HidayatullahSulsel.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar resmi melaksanakan serah terima jabatan (sertijab) dari kepengurusan periode 2020–2025 kepada pengurus baru periode 2025–2030, dalam sebuah acara yang berlangsung khidmat dan penuh nuansa kekeluargaan, Rabu (7/1/2026), di Makassar.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum konsolidasi organisasi menyongsong agenda dakwah dan pembinaan lima tahun ke depan.

Acara tersebut dihadiri Ketua DPD Hidayatullah Makassar periode 2020–2025, Dr. Nasrullah Sapa, Lc., M.M., serta Ketua DPD terpilih periode 2026–2030, Dr. Irfan Yahya, M.Si. Seluruh jajaran pengurus lama dari berbagai departemen hadir lengkap, demikian pula pengurus baru yang akan mengemban amanah organisasi ke depan.

Dalam prosesi tersebut, sejumlah pengurus lama yang hadir antara lain Edi Qays, S.E., M.M., Baso Zulfikar, S.H.I., M.M., Firdaus Umar, S.H., S.Pd., Gr., Abdul Haris Mahmudin, S.Pd., dan Munir Salahuddin, S.Pd.I. Sementara jajaran pengurus baru yang diperkenalkan di antaranya Ahmad Sabil, S.Pd.I., S.H.I., Aditya, S.E., Syamsul, S.Pd.Gr., Ari Rahmat, S.E., serta Robianto, S.Pd.I.

Dalam sambutannya, Dr. Nasrullah Sapa yang juga merupakan anggota Dewan Murobbi Hidayatullah Sulawesi Selatan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya sertijab tersebut. Ia menilai forum ini penting sebagai ruang transisi yang sehat sekaligus sarana menyambung kesinambungan program dan visi organisasi.

“Kami siap berkolaborasi. Harapannya ini bukan yang pertama, tetapi akan ada pertemuan-pertemuan lanjutan untuk memperkuat sinergi,” ujarnya. Ia juga mendoakan agar kepengurusan baru mampu mengembangkan sektor-sektor strategis yang dinilai masih memiliki ruang optimalisasi, khususnya pada penguatan kaderisasi dan tata kelola organisasi.

Pada kesempatan yang sama, pengurus lama memaparkan sejumlah program utama yang telah dijalankan selama periode 2020–2025, disertai catatan evaluatif sebagai bahan rujukan bagi kepengurusan selanjutnya. Pemaparan ini mencakup capaian program dakwah, pendidikan, serta penguatan kelembagaan di tingkat kota.

Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Makassar terpilih, Dr. Irfan Yahya, M.Si., yang juga dosen Universitas Hasanuddin (Unhas), menyebut sertijab tersebut sebagai bentuk “mappatabe” atau permohonan izin secara struktural kepada para senior, meskipun secara kultural interaksi antarkader telah terjalin erat.

“Kita adalah kader yang diberi mandat untuk mengelola sumber daya yang ada dengan profesional, amanah, dan terukur,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kepengurusan baru akan berfokus pada penguatan manajemen organisasi, kolaborasi lintas departemen, serta peningkatan kualitas layanan dakwah di tengah masyarakat.

Acara ditutup dengan taujih dan penguatan spirit dari Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom. Ia mengapresiasi pelaksanaan sertijab yang dinilainya berjalan tertib dan penuh makna, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam memikul amanah.

“Tutup rapat-rapat perasaan hebat, bisa, dan mampu. Hadirkan dalam hati, ‘hanya Engkau yang hebat ya Allah’,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa doa dan kerendahan hati merupakan benteng utama agar amanah organisasi tetap berada dalam koridor perjuangan yang lurus dan bernilai ibadah.

Reporter: Ahmad Sabil

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Hadiri Wisuda Tahfizh Malea, Tegaskan Al-Qur’an sebagai Fondasi Keimanan

0

Tana Toraja (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muh. Shaleh Utsman, S.S., M.I.Kom., menghadiri dan memberikan sambutan pada kegiatan Wisuda Tahfizh Malea ke-III yang digelar di Ma’had Tahfizh PLTA Malea, Tana Toraja, Selasa (6/1/2026).

Kegiatan yang diiukuti 38 wisudawan ini menjadi penanda penguatan kolaborasi dakwah dan pendidikan Al-Qur’an antara Hidayatullah dan PLTA Malea.

Selain dihadiri langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, wisuda tersebut juga dihadiri unsur pimpinan PLTA Malea Muhammad Syakur, jajaran pengelola Rumah Qur’an, serta Yayasan Jabal Nur Pondok Pesantren Hidayatullah Bone yang dipimpin H. Burhanuddin Jabbar, S.Ag., M.Pd. Hadir pula perwakilan mitra kelembagaan dan tokoh masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Dr. Muh. Shaleh Utsman menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan fondasi utama pembentukan keimanan dan peradaban umat Islam.

Ia menyebut Al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT yang diturunkan melalui perantaraan Malaikat Jibril AS kepada Rasulullah SAW, sekaligus mukjizat yang tetap hidup hingga akhir zaman.

“Untuk mengukur bukti keimanan seseorang di akhir zaman, patokannya adalah Al-Qur’an. Di antara enam rukun iman, satu-satunya yang tidak ghaib dan dapat disaksikan langsung hari ini adalah Al-Qur’an,” tegas Ketua DPW Hidayatullah Sulsel tersebut.

Program Rumah Qur’an Tahfizh Malea sendiri telah berjalan sejak Oktober 2023, melalui kerja sama PLTA Malea dengan Hidayatullah, di mana pada awalnya Hidayatullah Toraja berperan sebagai fasilitator dan Hidayatullah Bone sebagai mitra penyuplai santri.

Seiring perkembangannya, santri tidak lagi berasal dari satu daerah, melainkan dari berbagai wilayah, seperti Jakarta, Sulawesi Tenggara, serta sejumlah kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Manajer PLTA Malea, Muhammad Syakur, sebagai perwakilan PLTA Malea menjelaskan bahwa kebijakan penerimaan santri dibuka secara luas sejak tahun ketiga pelaksanaan program.

“Mulai tahun ketiga, santri boleh berasal dari daerah mana saja, asalkan memiliki kesungguhan, kedisiplinan, dan fokus dalam menghafal Al-Qur’an,” ujar Manager PLTA Malea, Muhammad Syakur, yang hadir dan mendampingi jalannya kegiatan wisuda.

Apresiasi untuk Kalla Group

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Dr. Muh. Shaleh Utsman juga menyampaikan apresiasi kepada Dr. H. M. Jusuf Kalla, selaku pimpinan Kalla Group dan pembina Hidayatullah Pusat, atas dukungan berkelanjutan terhadap program-program dakwah dan pendidikan Al-Qur’an.

Ia turut menyebut peran Suhaili Kalla, pimpinan PLTA Malea, sebagai penggagas hadirnya program Al-Qur’an di kawasan Malea.

“Sinergi ini menunjukkan bahwa pembangunan energi terbarukan dapat berjalan seiring dengan pembangunan spiritual umat,” ujarnya.

Sebagai informasi, PLTA Malea merupakan pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas daya terpasang 315 megawatt, di mana sekitar 90 megawatt disalurkan ke PLN, sementara 225 megawatt lainnya memasok kebutuhan listrik Smelter Bua, Kabupaten Luwu.

PLTA Malea merupakan bagian dari unit usaha Kalla Group yang bergerak di sektor energi terbarukan.

Menutup sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel berharap sinergi antara Hidayatullah dan Kalla Group, khususnya PLTA Malea, dapat terus diperkuat dan diperluas.

“Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dan melahirkan lebih banyak penghafal Al-Qur’an yang berakhlak, berilmu, dan siap mengabdi untuk umat,” pungkasnya.

Reporter: Reskyaman
Editor: Redaksi

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Antar Petugas Baru DPD Toraja Utara, Tekankan Stabilitas Dakwah

0

Toraja Utara (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustaz Dr. Muh. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom., bersama jajaran pengurus wilayah mengantar dan mendampingi petugas baru Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Toraja Utara periode 2026–2030, Selasa (6/1/2026).

Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah konsolidasi pasca-Musyarawah Daerah (Musda) Hidayatullah Sulawesi Selatan yang digelar akhir bulan lalu.

Pendampingan tersebut merupakan bagian dari strategi DPW Hidayatullah Sulsel untuk menjaga kesinambungan dan stabilitas jaringan dakwah di wilayah Toraja Utara.

Dalam agenda tersebut, Ketua DPW secara langsung menginstruksikan agar proses transisi kepemimpinan dan penugasan dai dilakukan secara terencana, tertib, dan tetap menjaga hubungan harmonis dengan seluruh elemen masyarakat setempat.

“Sebelum petugas lama bergeser ke tempat tugas yang baru, mereka wajib mendampingi petugas baru untuk bersilaturahmi kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah daerah. Ini penting untuk menjaga stabilitas dakwah dan keberlanjutan program,” ujar Ustaz Sholeh Utsman di sela-sela kegiatan.

Sebagai bentuk penguatan pendampingan lapangan, DPW Hidayatullah Sulsel juga melibatkan perintis awal Hidayatullah Toraja Raya, Ustaz Burhan, untuk membersamai petugas baru dalam melakukan silaturahmi ke berbagai elemen strategis.

Langkah ini dimaksudkan agar program-program mainstream gerakan Hidayatullah dapat terus berjalan selaras dengan karakter sosial dan kultural masyarakat Toraja Utara.

Menurut Ustaz Sholeh, pendekatan personal dan kelembagaan menjadi kunci utama keberhasilan dakwah di daerah-daerah dengan keragaman sosial dan budaya yang kuat.

Ia menegaskan bahwa kehadiran dai Hidayatullah harus membawa pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin serta mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Dakwah tidak boleh terputus hanya karena pergantian personel. Yang harus dijaga adalah kesinambungan gerakan, kepercayaan masyarakat, dan sinergi dengan pemerintah setempat,” tegasnya.

Kegiatan pendampingan ini menjadi bagian dari agenda awal DPW Hidayatullah Sulsel dalam periode kepengurusan hasil Musda, sekaligus menegaskan komitmen organisasi untuk menjaga soliditas struktur, efektivitas dakwah, dan keberlanjutan peran Hidayatullah di tengah masyarakat Sulawesi Selatan.

Motor Dai sebagai Penguat Mobilitas Dakwah Pedalaman

Rangkaian pengantaran petugas baru Hidayatullah Toraja Utara tersebut juga ditandai dengan prosesi serah terima motor dai, sebagai sarana penunjang aktivitas dakwah di lapangan.

Motor dai diserahkan langsung oleh petugas lama periode 2022–2025, Ustaz Ikhsan Saleh, kepada petugas baru, Ustaz Muchlis, yang akan mengemban amanah dakwah di Toraja Utara hingga 2030.

Dukungan Laznas BMH untuk Dai Pedalaman dan Minoritas

Sarana transportasi tersebut merupakan bantuan strategis dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulsel sebagai bentuk dukungan konkret terhadap program dakwah di wilayah pedalaman dan komunitas muslim minoritas.

Bantuan ini bertujuan memperkuat mobilitas dai dalam menjangkau desa-desa binaan yang memiliki keterbatasan akses transportasi serta medan geografis yang menantang.

Selama ini, Laznas BMH dikenal intens memberikan perhatian terhadap keberlangsungan dakwah para dai pedalaman dan minoritas, tidak hanya melalui penyediaan sarana transportasi, tetapi juga dukungan kebutuhan dasar.

Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah program bantuan beras bulanan bagi dai, yang dirancang untuk menjaga ketahanan ekonomi para dai agar dapat lebih fokus menjalankan tugas pembinaan umat, pendidikan keislaman, serta penguatan nilai-nilai akidah di wilayah tugas masing-masing.

DPW Hidayatullah Sulsel menilai sinergi antara struktur organisasi dan Laznas BMH menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan dakwah.

Dukungan logistik yang berkelanjutan dinilai mampu meningkatkan efektivitas kerja dai sekaligus memperkuat kehadiran Hidayatullah sebagai gerakan dakwah yang responsif terhadap kebutuhan umat, khususnya di daerah-daerah dengan keterbatasan sarana dan infrastruktur.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Tekankan Peran Strategis Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045

0

PALOPO (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Dr. Muhammad Saleh, menegaskan bahwa pemuda memiliki peran strategis sebagai poros sinergi bangsa dalam menyiapkan fondasi Indonesia Emas 2045. Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Dialog dan Silaturahmi Pemuda Hidayatullah Palopo yang digelar di Aula Pesantren Al-Mubarak, Kota Palopo, Senin (5/1/2026).

Kegiatan ini diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas pengurus DPD Hidayatullah Palopo, Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Palopo, serta unsur mahasiswa dan mahasiswi dari sejumlah perguruan tinggi di Palopo. Dalam forum dialog tersebut, Ustadz Dr. Muhammad Saleh tampil sebagai pemateri utama.

Dalam arahannya, Usatdz Dr. Muhammad Saleh menekankan bahwa kualitas pemuda harus dibangun di atas fondasi iman yang kokoh dan filosofi hidup Islami yang bersumber dari Al-Qur’an.

“Syarat utama pemuda adalah beriman kepada Allah SWT. Dari iman itulah Allah akan menambah kualitas seorang pemuda, baik dari sisi ilmu maupun amal,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan gambaran ideal tentang sosok pemuda beriman, salah satunya melalui kisah Nabi Ibrahim AS. Menurutnya, Ibrahim AS digambarkan sebagai pemuda yang teguh dalam keimanan dan berani mengambil sikap, sehingga layak menjadi teladan bagi generasi muda hari ini.

Usatdz Dr. Muhammad Saleh juga menggarisbawahi perbedaan antara ilmu dan teori ilmu. Ia menyebut, ilmu sejati adalah pengetahuan yang telah terwujud dalam amal.

“Jika pengetahuan itu sudah diamalkan, maka itulah ilmu. Sedangkan yang masih berada pada tataran konsep, itu baru sebatas teori,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa salah satu ciri utama pemuda adalah sikap proaktif dalam belajar dan berbuat. Ia mengingatkan bahwa perintah pertama yang diturunkan Allah SWT adalah iqra’ (bacalah), sementara perintah salat datang setelahnya. “Ini menunjukkan bahwa pemuda harus rajin belajar dan membaca agar menjadi pribadi yang berkualitas,” tegasnya.

Menurutnya, wacana kejayaan Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah terwujud jika pemudanya tidak berkualitas. “Tidak mungkin ada kejayaan di tahun 2045 jika pemuda (hari ini) tidak berkualitas. Itu hanyalah ilusi,” ujar Usatdz Dr. Muhammad Saleh dengan nada tegas.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan agar pemuda tidak terjebak pada kecintaan berlebihan terhadap bacaan umum hingga melupakan Al-Qur’an. “Jangan sampai pemuda lebih gemar membaca buku daripada Al-Qur’an. Itu pemuda palsu namanya,” katanya.

Menutup arahannya, Dr. M. Saleh menyampaikan bahwa dalam Islam hanya ada dua golongan yang dibenarkan untuk begadang, yakni mereka yang melakukan ribath atau piket penjagaan, serta para penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh dalam belajar. Ia berharap pemuda Hidayatullah mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan nyata sebagai bekal membangun masa depan bangsa.