Beranda blog Halaman 103

Doa Bersama Kelancaran Pembangunan Masjid Santri Penghafal Quran Hidayatullah Takalar

0

TAKALAR, HidayatullahSulsel.com — Proses pembangunan masjid oleh DPD Hidayatullah Takalar untuk penghafal Qur’an di pondok Tahfidz Ahlul Jannah diiringi oleh doa para pengurus di Hidayatullah se-Sulsel seusai menghadiri prosesi acara pernikahan di aula serbaguna Pondok Tahfidz Ahlul Jannah, Sabtu (06/08/2022).

Ketua DPD Hidayatullah Takalar menyampaikan bahwa dengan do’a dan dukungam para pengurus dan orang-orang sholeh insyaallah pembangunan masjid ini akan berjalan lancar sampai selesai.

Hadir dalam doa bersama di lokasi pembangunan masjid tersebut Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Anggota DMW Sulsel dan para pengurus DPD Hidayatullah Sulsel, juga hadir kepala KUA Takalar dan stafnya yang ikut mendo’akan.

“Dukungan do’a juga dukungan moril tentu kami sangat butuhkan, juga peluang bagi yang mau mengambil bagian untuk beramal jariyyah melalui pembangunan masjid ini,” tambahnya. Untuk donasi pembangunan masjid dapat menghubungi kontak 081343785554 Ust Arham. Atau bisa langsung dk transfer ke nomor rekening BRI 025001024729536 DPD Hidayatullah Takalar. Mansyur

DPD Hidayatullah Takalar Bangun Masjid untuk Santri Penghafal

0

TAKALAR, HidayatullahSulsel.com — Masjid merupakan tempat yang sangat vital dan menjadi salah satu simbol akan eksitensi keberadaan Islam. Selain sebagai pusat peribadahan, Masjid di masa-masa gemilangnya peradaban Islam dahulu menjadi pusat pendidikan.

Hal itu yang menginspirasi Pengurus DPD hidayatullah Takalar untuk mewujudkan harapan Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Takalar untuk bisa memiliki masjid yang proses pengerjaannya akan di mulai besok, Sabtu (06/08/2022)

Ketua DPD Hidatullah Takalar Ustadz Baharuddin Jabbar menyampaikan bahwa betapa urgennya masjid bagi sebuah pendidikan tahfidz

“Tentu sangat penting untuk sebuah pondok tahfidz memiliki masjid, selain karena banyaknya keutamaan dan pahala yang dapat diperoleh dari membaca dan menghafal qur’an, akan sangat terasa keberkahan dan kelipatan kelipatan kebaikan jika itu di lakukan di masjid,” pungkasnya

Sosok yang akrab dengan panggilan Ustadz Arham ini juga menyampaikan bahwa, proyek pembangunan masjid ini, merupakan proyek ummat, Oleh sebab itu ini menjadi peluang yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk bisa mengambil bagian beramal jariyyah sebagai bekal kelak di kehidupan akhirat

“Masjid itukan rumah Allah, tempat beribadah apalagi nanti ini akan dijadikan tempat menghafal bagi santri penghafal al-qur’an, ini merupakan peluang yang sangat berharga bagi seorang muslim untuk bisa beramal jariyyah sebagia bekal kelak di kehidupan akhirat”

Bagi yang ingin berpartisipasi bisa menghubungi nomor kontak: 081343785554 An, ust. Bharuddin Jabbar (Arham) atau bisa juga langsung di tranfer ke rekening BRI 025001024729536 An, DPD Hidayatullah Takalar. Mansyur

Menutup Pekan Ta’aruf Ponpes Hidayatullah Belopa, Ustadz Anwar Baits Ajak Santri Pahami Makna Muharram

0

LUWU, HidayatullahSulsel.com — Selama tiga hari berlangsung, Masa Ta’aruf (Masta) Santri Baru Pondok Putri Pesantren Hidayatullah Belopa. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Kepengasuhan tersebut menghadirkan Kepala Departemen Organisasi dan SDI Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel, Ustadz Anwar Baits, memberikan tausiyah sekaligus motivasi untuk santri baru. Rabu (3/8/2022).

Dalam tausiyah yang disampaikannya, Anwar mengingatkan kembali bahwa saat ini umat Islam tengah berada di fase awal perpindahan tahun baru hijriah. Menurutnya, Muharram sebagai bulan yang menandai masuknya tahun baru Islam selayaknya menjadi bulan untuk mengevaluasi diri.

“Belum lama ini, kita telah berpindah dari tahun 1443 Hijriah, dan memasuki tahun baru Islam yakni 1444 Hijriah. Dengan ini harusnya kita sadar, bahwa Muharram merupakan bulan evaluasi. Bulan monitoring,” kata Ustadz Anwar mengawali tausiyahnya.

Dengan mengutip hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Ustadz Anwar mengajak santri untuk merenungkan kembali keharusan menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya.

“Kan ada hadits Rasulullah yang mengharuskan kita lebih baik dari hari atau tahun sebelumnya. Kalau kita bisa, maka kita orang beruntung. Kalau tahun ini sama saja dengan tahun sebelumnya, maka kita rugi. Dan kalau lebih buruk dari sebelumnya, kita disebut orang celaka. Nah, pesan nabi ini mesti kita renungkan. Sebab, melalui hadits ini ummat Islam dituntut untuk bisa menjadi ummat yang progresif, yang maju,” jelas ustadz mantan pengurus DPW Hidayatullah Sulbar tersebut.

Pada kesempatan yang sama, ustadz yang pernah berkiprah sebagai aktivis HMI pada masa mudanya itu, turut berapi-api dalam memotivasi santri untuk tidak bosan-bosannya menyerap ilmu yang diajarkan. Di depan seluruh santri yang hadir, Ustadz Anwar meminta santri untuk senantiasa fokus dalam belajar.

“Kita punya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan ada hati untuk merasa. Untuk bisa fokus dalam belajar, ketiganya harus kalian optimalkan. Apalagi ketiganya merupakan karunia Allah untuk kita. Dan yang terpenting adalah bagaimana kalian kelak bisa mengamalkan ilmu yang didapatkan.” Terang Ustadz Anwar dengan penuh semangat. Ian Kassa

Hukum Menjenguk dan Melayat Orang kafir

0

KAJIAN, HidayatullahSulsel.com — Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berta’ziyah kepada orang kafir. Imam al-Syafi’i dan Abu Hanifah –dalam satu riwayat darinya- berpendapat, seorang muslim boleh berta’ziyah kepada orang kafir, begitu juga sebaliknya.

Dan kafir di sini adalah bukan kafir harbi. (Lihat: Al-Majmu’: 5/275 dan Hasyiyah Ibnu Abidin: 3/140)

Ibnu Qudamah menukil pendapat imam Ahmad, beliau tawakkuf tentang ta’ziyah kepada kafir zimmi.

Hal ini disimpulkan dari hukum menjenguknya yang di dalamnya terdapat dua riwayat:

✅ Pertama, tidak menjenguk mereka saat sakit, begitu juga tidak boleh berta’ziyah kepada mereka, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Janganlah kalian awali mengucapkan salam kepada mereka.”
Kesimpulan ini termasuk bagian dari maknanya.

✅ Kedua, kita menjenguk mereka berdasarkan hadits yang dikeluarkan al-Bukhari, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

“Ada seorang anak Yahudi yang suka membantu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sakit. Lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjenguknya. beliau duduk di sebelah kepalanya dan berkata kepadanya: “Masuk Islamlah engkau!” kemudian ia melihat ke bapaknya yang ada di sebelahnya, lalu sang bapak berkata kepadanya: “Patuhilah Abu Qasim -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-.” Maka ia masuk Islam.

Lalu Rasulullah keluar dan berdoa, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari neraka.”, atas dasar ini maka kita boleh berta’ziyah kepadanya. (Lihat: al-Mughni: 3/486).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Seorang muslim boleh bertakziyah kepada kafir zimmi karena (kematian) kerabatnya yang zimmi. Lalu ia berkata,

أخلف الله عليك ولا نقص عددك

“Semoga Allah memberi ganti untukmu dan tidak mengurangi jumlahmu (yaitu supaya tetap banyak jizyahnya).” (Lihat: Raudhah Thalibin: 2/145, Al-Majmu’: 5/275, dan Al-Mughni: 2/487).

Dari sini pendapat yang lebih benar adalah bolehnya berta’ziyah kepada orang kafir Dzimmi saat mendapatkan kematian, menjenguk mereka saat sakit, dan membantu mereka saat musibah.

Dalilnya, hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu di atas.

Namun perlu diperhatikan beberapa hal:

▶️ 1. Niatkan berda’wah. Apabila melakukan hal itu hendaknya Anda meniatkannya untuk mendakwahi mereka, melunakkan hati mereka kepada Islam, dan mendakwahi mereka dengan cara yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi.

▶️ 2. Tidak boleh mendoakan si mayit dengan ampunan, rahmat, atau surga.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al-Taubah: 113).

▶️ 3. Ucapan yang dibolehkan. Ia boleh mendoakan mereka sesuai tuntutan kondisi seperti tabah, menyuruh sabar, membantu mereka, dan mengingatkan mereka bahwa semua ini adalahsunnatullah pada makhluk-Nya.

▶️ 4. Tidak boleh ikut dalam acara ceremonial (upacara) keagamaan mereka atau duduk menyaksikannya. Karena di dalamnya didengungkan kalimat-kalimat kufur. Haram bagi muslim menyaksikan ritual-ritual semacam itu.

Allahu a’lam. Semoga bermanfaat. Barakallah fiikum.(*)

*) Oleh : Dept Dakwah dan Tarbiyyah DPD Hidayatullah Barru

Hidayatullah Maros Rapat Konsolidasi Menuju 1.000 Rumah Qur’an

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Maros menggelar rapat konsolidasi bertempat di Kampus Pratama Hidayatullah Tanralili Dusun Baku Desa Lekopancing Maros, Ahad 2 Muharram (31 /7/2022).

“Rapat konsolidasi untuk terus memaksimalkan kepak sayap dakwah dan pendidikan di Maros sebagai langkah konkrit mencerdaskan anak bangsa,” jelas Sekretaris DPD Hidayatullah Maros, Ust Abd Hadi.

Pada kegiatan tersebut disampaikan secara gamblang terkait standarisasi Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an sehingga gerakan lebih masif dan terstruktur.

Hadir dalam rapat jajaran pengurus DPD Hidayatullah Maros, ketua dewan pengurus cabang (DPC) Moncongloe, Tanralili, Mandai, Marusu dan Simbang, juga jajaran pengurus Muslimat Hidayatullah (Mushida) Maros.

Unsur yang hadir siap bersinergi merealisasikan target pendirian dan pengelolaan rumah Qur’an.

Kepala Departemen Dakwah DPR Maros Ust Rubianto mengaku akan terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan mengajak semua komponen untuk terlibat dalam mensukseskan hadirnya rumah-rumah Qur’an di Maros.

Pada kesempatan yang sama, Ust Abdul Hadi yang juga Ketua Yayasan Darul Hijrah Hidayatullah Maros, mengatakan, siap mensupport penuh program tersebut dengan menerjunkan pengasuh dan santrinya bahkan termasuk fasilitas kendaraan pondok yang ada.

Dalam rapat tersebut, Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Muhammad Kaisar menyampaikan bahwa target kedepan akan menghadirkan 1000 Rumah Qur’an sebagi bentuk perhatian kepada ummat.(Fatahillah)

Perayaan Tahun Baru Islam, Santri Hidayatullah Pangkep Ramaikan Pawai Obor

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Perayaan Tahun Baru Islam, santri Hidayatullah Pangkep hadir dan meramaikan Pawai Obor yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Pangkep. Pawai dimulai di Rumah Jabatan Bupati dan dilepas oleh Bupati Muhammad Yusran Lalogau (MYL) bersama ribuan masyarakat dan ASN, Selasa malam(2/8/2022).

Ketua Yayasan Dinul Kamil Al-Mujahirin Hidayatullah Pangkep Ust Karding menyampaikan kepada santri pawai Muharram ini diadakan antara lain memperkenalkan santri tentang tahun baru Islam.

“Terdapat pembelajaran karakter yang bisa didapatkan terkait rasa empati dan momen yang penting setiap tahunannya yang bisa kita tanamkan di sanubari santri bahwa penanggalan yang harus kita ketahui bersama penanggalan Islam sangat berkaitan syariat syariat lain seperti misalnya syariat puasa berdasarkan hijriah,” tutupnya.

Bupati MYL didampingi istri Nurlita Wulan Purnama, Forkopimda berjalan bersama ribuan warga berkeliling Kota Pangkajene membawa obor.

Dikatakan MYL, pawai obor ini merupakan bentuk syiar peringatan tahun baru Islam 1444 hijriah. Selain pawai obor, sejumlah kegiatan lainnya juga dilaksanakan untuk menyemarakkan tahun baru Islam tahun ini.

Bekerjasama dengan panitia hari besar Islam (PHBI), badan kontak majlis taklim (BKMT) dilaksanakan lomba salawat Badar dan qasidah. Juga akan dilaksanakan zikir dan doa bersama.

“Saya berharap, peringatan 1 Muharram 1444 hijriah dapat kita jadikan sebagai momentum lebih memacu diri dalam beraktifitas, belajar lebih giat, berusaha lebih bersungguh-sungguh. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya,” katanya.

Pawai obor semarak tahun baru Islam mengusung tema, “Dengan semarak Muharram tahun 1444 H kita kobarkan semangat hijrah menuju masyarakat Pangkep yang hebat dan religius.”

“Semoga dengan dengan kesungguhan dan kebersamaan kita semua, maka hal tersebut insyaallah akan kita capai,” tambahnya.

Usai berjalan, bupati dan rombongan pawai obor kembali ke halaman rujab bupati Pangkep menyaksikan penampilan qosidah dari majelis taklim.(Karding)

Spirit Muharram di Kampus Hidayatullah Bulcen, Ketua DMW Sulsel Ajak Maksimalkan Potensi

0

SIDRAP, HidayatullahSulsel.com — Momentum Muharram ini, kita jadikan momentum perubahan, momentum lompatan. Mari kita mengambil spirit hijrah ini, untuk memaksimalkan potensi kerja kita. Untuk eksisnya tempat perjuangan ini.

Hal itu merupakan ajakan Ustad Ir. Abdul Majid, MA, Ketua Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Sulsel, saat memberikan tausiyah di depan puluhan warga Hidayatullah Bulcen, Sidrap.

Sore itu, Selasa, (2/8/2022) selepas shalat Ashar, DPD Hidayatullah Sidrap menggelar pengajian rutin bulanan di Kampus Pesantren Hidayatullah Bottolita, Bulucenrana, Sidrap.

Pengajian tersebut dihadiri oleh seluruh santri dan warga. Hadir pula jajaran pengurus Mushida PD Sidrap. Juga hadir salah seorang jama’ah, yang menjadi perintis Hidayatullah Makassar, Drs Hasan.

Lebih lanjut Ustad Majid memberikan pencerahannya, “Jangan biarkan Muharram ini lewat tanpa bekas, tanpa pengaruh, tanpa motivasi untuk menjadi pelecut perubahan dalam setiap gerakan kita,” ungkapnya.

Acara yang dimulai usai shalat ashar tersebut, berakhir menjelang magrib. Dalam tausiyahnya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel pada masanya itu juga memberikan pesan, agar senantiasa sabar dan istiqomah dalam tugas-tugas di Hidayatullah.(Sarmadani Karani)

Ketua DPD Hidayatullah Luwu Sampaikan Spirit Perjuangan KH Abdullah Said pada Santri Baru

0

LUWU, HidayatullahSulsel.com — Tampil sebagai narasumber dalam kegiatan Masa Ta’aruf (Masta) Santri Baru di Yayasan Al-Jihad Pondok Putri Pesantren Hidayatullah Belopa, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Luwu, Ustadz Hamzah Sultan menyampaikan materi sejarah terbentuknya Hidayatullah. Selasa (2/08/2022).

Di depan puluhan santri baru tersebut, dengan lugas Hamzah bercerita proses terbentuknya Hidayatullah yang didirikan oleh KH Abdullah Said di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Sebagai sebuah ormas, Hidayatullah ini sebagaimana Muhammadiyah atau NU. Tetapi, perlu diingat bahwa proses berdirinya Hidayatullah ini tidaklah mudah,” kata Ust Hamzah.

Ustadz yang juga merupakan putra asli Bone tersebut menuturkan betapa pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said mengalami tantangan yang sangat berat jauh sebelum pendirian Hidayatullah.

“Pada mulanya, KH Abdullah Said bernama Muhsin Kahar. Dulu, Muhsin Kahar ini terlibat dalam gerakan pemberantasan judi di Sulawesi Selatan. Akibatnya, beliau dikejar-kejar. Kemudian hijrahlah Muhsin Kahar ini ke tanah Kalimantan Timur. Lalu, mengganti namanya menjadi Abdullah Said sebagai nama hijrah,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ustadz Hamzah turut menyampaikan bahwa perjuan KH Abdullah Said tidak sampai pada persoalan mengganti nama saja. Melainkan KH Abdullah Said membutuhkan sebuah tempat yang layak dan representatif untuk menjalankan ajaran Islam sebebas-bebasnya.

“Apakah dengan berganti nama selesai? Tidak. KH Abdullah Said kemudian mendirikan Pesantren Hidayatullah pada tahun 1973 di Gunung Tembak. Mendirikannya pun tidak mudah. Tanah yang diinginkan tersebut berupa rawa, sarang buaya dan sarang penjahat. Tetapi, dengan spirit dakwah dan spirit itu merupakan hasil dari merenungkan sistematika dakwah Rasulullah maka dengan bismillah, Allah menghendaki Pesantren Hidayatullah berdiri,” jelas Hamzah dengan penuh antusias.

Di akhir materinya, Ustadz yang dikaruniai dua putra itu berpesan kepada seluruh santri baru untuk menyerap spirit perjuangan pendiri Hidayatullah. Menurutnya, para santri seharusnya bersyukur sebab bisa menikmati hasil. Sebagai wujud terima kasih kepada KH. Abdullah Said, maka para santri harus bisa menunjukkan spirit pejuang dalam segala hal.

“Alhamdulillah, para santri bahkan kita semua ini bisa menikmati hasil. Buah karya dari KH. Abdullah Said. Tapi bukan berarti perjuangan dakwah telah usai. Kalian ini adalah generasi pelanjut, maka seraplah spirit perjuangan KH. Abdullah Said tersebut dan kalian wujudkan dengan penuh keikhlasan dalam segala aktivitas positif kalian.” Ujar Hamzah penuh semangat. (Ian Kassa)

Cerita Healing ala Santri Putri Pinrang

0

HidayatullahSulsel.com — Ahad pagi yang cerah. Kondisi cuaca yang biasa dianggap menyenangkan bagi kebanyakan orang. Apalagi di akhir pekan.

Healing atau wisata alam, di antara pilihan menarik untuk mengisi kebahagiaan. Melepas penat dari kesibukan yang mendera setiap hari. Meski ada juga yang memilih bersantai dan istirahat di dalam rumah saja.

Tapi demikian itu sepertinya seperti tak berlaku bagi seratus santri yang mondok di Pondok Pesantren Hidayatullah di Menro’, Pinrang, Sulawesi Selatan.

Definisi healing menurut mereka tak perlu rumit dan mahal. Bahagia mereka sederhana saja. Santri-santri penghafal al-Qur’an itu hanya kepingin asrama tahfizh dan bangunan masjid tempat mereka tinggal dan beribadah bisa segera jadi dan ditempati.

Itulah yang melatarbelakangi kegiatan pengecoran hari tersebut. Ramai-ramai mereka lalu berebut ingin membantu pak tukang dan warga sekitar yang sedang mengerjakan pengecoran bangunan itu. Ada yang mengangkat pasir, menggotong semen, menyekop koral, mengalirkan air, dan sebagainya.

“Anak-anak ini mau sekalimi punya asrama dan masjid yang lebih layak. Makanya semangat sekali kalau dibilang diizinkan bisa bantu warga atau tukang mengecor,” ucap Ustadzah Nenni Handriani, pengasuh sekaligus guru di tempat itu.

Lewat sambungan telepon, Nenni lalu bercerita dengan logat Bugisnya tentang “keunikan” santrinya, beberapa hari yang lalu.

Nenni mengaku, selama ini santri khususnya putri, masih tinggal di bawah kolong rumah ustadz di pondok itu. Berdinding kayu dengan beberapa sekat kamar di dalamnya. Belakangan, jumlah santri yang terus bertambah membuat asrama semakin penuh dan butuh bangunan permanen yang lebih luas.

“Saat ini ada 104 orang santri dan separuh jumlah itu adalah santri putri,” ungkap ustadzah lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dari keterangan Nenni, jenjang pendidikan santrinya bermacam-macam, dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Sehari-hari para santri disebutnya belajar mendalami ilmu agama secara informal dan fokus menghafal al-Qur’an.

Masih soal mengecor, menurut Nenni, selain sebagai hiburan “mewah” santri, mereka juga ternyata termotivasi dari nasihat Ustadz Hamka, pimpinan di pondok pesantren tersebu. Ustadz Hamka disebutnya selalu menyemangati para santri dalam belajar dan bekerja sekaligus.

“Selain sibuk belajar, kalian juga harus punya amal shaleh dan amal jariyah di tempat ini. Biar semua santri punya ‘bekas tangan’ dan menjadi hujjah di Akhirat,” ucap Nenni menirukan nasihat ustadznya.

Rupanya inilah kemudian yang menggerakkan para santri penghafal al-Qur’an itu untuk giat membantu pengecoran masjid dan asrama tahfizh. Seperti diketahui, beberapa bulan lalu, sebuah video singkat beredar melalui beberapa grup-grup percakapan.

Dari potongan video itu, sejumlah santri putri dengan jilbab lebarnya tampak berbaris memanjang. Ember yang berisi pasir dan koral itu lalu diangkat secara bergantian dan bersambung. Mereka terlihat bergembira, saling bercanda, dan tertawa menikmati kegiatan itu.

Mereka selalu mengingat pesan sang ustadz, bahwa ini bukan sekadar kerja mengecor dan dapat capek saja. Tapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran santri, melatih mental, serta membentuk etos kerja para santri.

“Iya capek tapi senang dan bahagia saja bisa membantu. Apalagi (bangunan) ini dipakai oleh teman-teman para penghafal al-Qur’an nanti,” ucap St. Az-Zahra Rifai, santri kelas II SMA asal Jeneponto, Sulawesi Selatan.(Maskur)

Pembekalan Santri Baru di Hidayatullah Parepare Selama Sebulan

0

PAREPARE, HidayatullahSulsel.com — Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare menyelenggarakan Masa Pembekalan Santri Baru (MPSB) Tahun Ajaran 2022-2023 yang di mulai Senin lalu (25/07/ 2022)

“MPSB merupakan proses awal pengkaderan santri diselenggarakan satu bulan penuh dengan harapan agar santri bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, khususnya mereka yang pertama kali masuk pesantren,” jelas Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Parepare, Ustadz Jabbar.

Kegiatan MPSB diisi beberapa materi baik indoor maupun outdoor dalam rangka memberikan pembinaan tsaqofiyah dan jasadiyah para santri.

Materi yang disampaikan materi kelembagaan seputar ta’aruf Hidayatullah, adab, bahasa Arab dasar, publik speaking, tahsin, matan Al Jazari dan beberapa teori lapangan seperti kepanduan dan lainnya.

Kegiatan diikuti oleh seluruh santri putra dengan penuh antusias. Saat membuka MPSB, Ustadz Jabbar menitipkan harapan agar para santri setelah mengikuti MPSB mengalami peningkatan baik dari segi akhlak, ibadah, bahasa, menguasai Matan Al Jazari.

Juga diharapkan memiliki wawasan kelembagaan, “Sehingga lahir dari mereka pemimpin masa depan yang membawa Risalah dakwah ini dengan rahmatan lil ‘alamin,” harapnya.

Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan selama satu bulan, dan menurutnya, bisa jadi ini pertama kali di Sulawesi Selatan. “Maka dari itu antum semua harus bangga menjadi peserta MPSB dengan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini, agar setelah kegiatan ini lahir santri yang unggul yang memiliki aqidah yang benar, Akhlak yang mulia, semangat dalam beribadah, mampu berdakwah, dan komitmen dalam berjma’ah” ujarnya.(muh erwin)