BONE, HIDAYATULLAHSULSEL.OR.ID – Memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca ayat demi ayat. Seorang Muslim juga perlu menyelami pesan tauhid yang menjadi fondasi seluruh ajarannya. Salah satu pintu utama untuk memahami fondasi tersebut adalah Surat Al-Fatihah.
Pesan itu menjadi salah satu pokok pembahasan Ustadz Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, dalam Kajian Tematik di Masjid Al-Faatihah, Jalan Andalas, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Ahad (8/11/2026).
Mengangkat tema “Membumikan Al-Qur’an, Mewujudkan Peradaban Islam”, kajian yang terbuka untuk umum tersebut berlangsung selepas Magrib hingga menjelang Isya. Kegiatan ini diselenggarakan dengan melibatkan unsur Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kabupaten Bone, Lembaga Pendidikan Integral Berbasis Tauhid, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), dan Muslimat Hidayatullah.
Dalam pemaparannya, Ustadz Dr. Abdul Aziz Qahhar menjelaskan bahwa seluruh nabi dan rasul membawa ajaran pokok yang memiliki kesatuan pesan. Ajaran tersebut terangkum dalam Al-Qur’an, yang menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia.
Ia kemudian mengarahkan perhatian peserta pada Surat Al-Fatihah. Surah pembuka Al-Qur’an ini bukan sekadar bacaan wajib dalam setiap rakaat shalat, melainkan mengandung inti pesan ketauhidan yang menjadi landasan penghambaan manusia kepada Allah SWT.
Al-Fatihah dan Inti Ketauhidan
Mengutip pandangan Ibnu Qayyim, Ustadz Abdul Aziz Qahhar menjelaskan bahwa inti Surat Al-Fatihah terdapat pada ayat kelima:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
Menurutnya, kandungan ayat tersebut menghadirkan dua prinsip mendasar dalam kehidupan seorang Muslim. Pertama, hanya Allah yang berhak menjadi tujuan penghambaan. Kedua, hanya kepada Allah seorang hamba menggantungkan permohonan pertolongan.
Frasa iyyaka na’budu menegaskan bahwa penghambaan manusia harus tertuju sepenuhnya kepada Allah. Prinsip ini tidak hanya berbicara tentang pelaksanaan ritual ibadah, tetapi juga menyangkut siapa yang sesungguhnya menjadi pengendali kehidupan seseorang.
Ustadz Abdul Aziz menjelaskan, seorang Muslim tidak boleh menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan yang mengatur keputusan dan arah hidupnya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan peringatan Al-Qur’an tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Jatsiyah ayat 23:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
Ayat ini menunjukkan bahwa penyimpangan penghambaan tidak selalu hadir dalam bentuk penyembahan terhadap berhala. Ketika seseorang menempatkan keinginan dan hawa nafsunya di atas ketentuan Allah, ia telah menghadapi persoalan serius dalam ketauhidan.
Dimensi kedua dari iyyaka na’budu adalah penghambaan melalui pelaksanaan ibadah. Shalat dan berbagai bentuk ketaatan lainnya menjadi wujud nyata pengakuan seorang hamba terhadap keesaan dan kekuasaan Allah.
Dengan demikian, tauhid tidak berhenti sebagai pengakuan lisan. Tauhid harus tercermin dalam orientasi hidup, pilihan sikap, dan konsistensi seseorang dalam menjalankan perintah Allah.
Jangan Terburu-buru Meninggalkan Shalat, Perbanyak Dzikir dan Doa
Selain iyyaka na’budu, Ustadz Abdul Aziz memberikan perhatian khusus pada penggalan berikutnya, yaitu iyyaka nasta’in.
Frasa ini menegaskan bahwa hanya Allah tempat seorang hamba meminta pertolongan. Manusia boleh berikhtiar, bekerja, dan memanfaatkan berbagai sarana yang tersedia, tetapi keyakinan terhadap sumber pertolongan tetap harus tertuju kepada Allah SWT.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kebiasaan sebagian Muslim setelah menyelesaikan shalat.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terburu-buru meninggalkan tempat shalat setelah salam. Sebab, sikap tergesa-gesa untuk segera bubar dapat mencerminkan kurangnya perhatian terhadap kesempatan untuk terus mengingat dan memohon pertolongan Allah.
Padahal, waktu setelah shalat merupakan kesempatan berharga untuk memperbanyak dzikir, beristighfar, dan memanjatkan doa.
Seorang Muslim semestinya tidak merasa cukup hanya dengan menunaikan rangkaian gerakan dan bacaan shalat. Setelah menyelesaikan ibadah tersebut, hubungan penghambaan kepada Allah tetap harus dijaga melalui dzikir dan doa.
Ustadz Abdul Aziz juga mengingatkan bahwa pertolongan Allah tidak pernah datang terlambat menurut ketetapan dan hikmah-Nya. Karena itu, seorang hamba harus terus menjaga harapan, memperkuat keyakinan, serta tidak berhenti memohon kepada-Nya.
Memohon Pertolongan pada Waktu-Waktu Mustajab
Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam memanfaatkan waktu-waktu mustajab untuk memperbanyak doa dan memohon pertolongan Allah.
Permohonan kepada Allah tidak semestinya hanya muncul ketika seseorang menghadapi kesulitan. Doa perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Kesadaran ini sekaligus memperkuat makna iyyaka nasta’in. Seorang Muslim menyadari keterbatasan dirinya dan memahami bahwa segala ikhtiar membutuhkan pertolongan serta kehendak Allah SWT.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kandungan Surat Al-Fatihah memiliki hubungan langsung dengan kehidupan seorang Muslim. Setiap hari surah ini dibaca berulang kali dalam shalat, tetapi maknanya harus terus dihadirkan dalam sikap dan perilaku.
Melalui kajian bertema “Membumikan Al-Qur’an, Mewujudkan Peradaban Islam” tersebut, peserta diajak melihat kembali Al-Fatihah bukan hanya sebagai surah pembuka Al-Qur’an, melainkan sebagai pedoman untuk membangun kehidupan yang berlandaskan tauhid.
Sebab, peradaban Islam yang kokoh harus bertumpu pada penghambaan yang benar kepada Allah. Ketika manusia hanya menjadikan Allah sebagai tujuan ibadah dan tempat bergantung, nilai-nilai Al-Qur’an memiliki landasan kuat untuk diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa.*/




