YOGYAKARTA (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad mengajak generasi muda Islam untuk memandang pembangunan peradaban bukan sekadar sebagai gagasan, melainkan sebagai ikhtiar menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan KH Naspi Arsyad saat menjadi pemateri dalam kegiatan Next Gen Leaders (NGL) Regional Jawa-Bali di Yogyakarta, Sabtu (8/8/2026). Dalam forum yang mengangkat tema “Peradaban Islam, Sebuah Ilusi?” itu, ia menekankan pentingnya kemampuan umat Islam membaca perubahan zaman sekaligus meresponsnya dengan nilai-nilai Islam.
Menurut Naspi, tantangan kehidupan modern terus berkembang dan menyentuh berbagai sektor, mulai dari ekonomi, sosial, teknologi hingga perkembangan pemikiran. Kondisi tersebut menuntut umat Islam tidak cukup hanya memahami ajaran secara normatif, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata.
“Islam harus mampu menjawab tantangan riil saat ini. Pertanyaannya, apakah Islam mampu menjadi payung besar bagi seluruh cabang ilmu?” ujar Naspi dalam forum tersebut.
Ia menegaskan, peradaban Islam seharusnya melahirkan kehidupan yang memberikan manfaat, ketenangan, pencerahan, dan kebaikan bagi masyarakat. Karena itu, nilai-nilai Islam perlu hadir dalam perilaku dan karya yang dapat dirasakan secara langsung.
“Islam itu harus membahagiakan, mencerahkan, menerangkan. Berikan senyum dan perkataan yang baik kepada kehidupan,” katanya.
Naspi juga mengingatkan bahwa upaya membangun peradaban Islam menghadapi tantangan dari dua arah. Dari eksternal, umat dihadapkan pada derasnya arus globalisasi, liberalisme dan sekularisme, serta perkembangan teknologi digital yang turut mengubah pola interaksi dan cara manusia mendapatkan informasi.
Sementara dari sisi internal, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi, antara lain pola pikir yang kaku, rendahnya literasi, persoalan ekonomi, hingga konflik di tengah umat.
“Tantangan kita bukan hanya dari luar. Dari dalam juga ada rigiditas berpikir, literasi yang lemah, persoalan ekonomi, dan konflik internal. Semua ini harus kita jawab jika ingin membangun peradaban Islam,” tuturnya.
Dalam konteks kaderisasi, Naspi menilai generasi muda memiliki posisi strategis untuk mengambil bagian dalam menjawab berbagai tantangan tersebut. Karena itu, forum NGL tidak hanya diarahkan untuk memperkuat wawasan keislaman, tetapi juga membangun kapasitas intelektual dan kepemimpinan peserta.
Ia mendorong generasi muda agar memiliki kemampuan membaca dinamika zaman secara kritis, tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai Islam. Kemampuan tersebut, menurutnya, penting agar generasi penerus tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi mampu menawarkan gagasan dan solusi bagi persoalan masyarakat.
Dengan perspektif tersebut, gagasan tentang peradaban Islam tidak ditempatkan sebagai romantisme terhadap kejayaan masa lalu. Peradaban justru harus dibuktikan melalui kemampuan umat menghadirkan kehidupan yang lebih baik serta memberikan jawaban terhadap kebutuhan manusia pada zamannya.
Kegiatan NGL Regional Jawa-Bali menjadi salah satu ruang pembinaan generasi muda untuk mempertemukan wawasan keislaman, intelektualitas, dan kepemimpinan dalam menghadapi tantangan kehidupan yang terus berubah.
Reporter: Achmad Jaelani Abdul Rahim
Editor: Susanto Bachtiar



