Kamis, Juni 11, 2026
BerandaKolom KhususSpirit Wahyu: Menyiapkan Kader, Menjaga Estafet Perjuangan

Spirit Wahyu: Menyiapkan Kader, Menjaga Estafet Perjuangan

SPIRIT WAHYU | EDISI 22

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Ada pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Selesai satu urusan, hadir urusan berikutnya. Selesai satu perjalanan, sudah menunggu perjalanan lain. Bukan karena buruk dikelola, melainkan memang begitu watak amanah: ia tidak mengenal kata tuntas. Ia hanya mengenal kata lanjut.

Barangkali inilah yang membedakan mereka yang benar-benar berjuang dengan mereka yang sekadar bekerja. Yang berjuang tidak menghitung kapan istirahat. Yang berjuang tahu bahwa setiap lelah adalah bagian dari jalan, bukan alasan untuk berhenti.

Dua hari belakangan (7-8 Mei 2026), saya berkesempatan membersamai rombongan dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan dalam kunjungan mereka ke Sulawesi Tengah. Rombongan ini terdiri dari Ustaz Masykur Suyuti, Lc., M.A. selaku Sekretaris Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Balikpapan; M. Rizky Kurnia Sah, S.H.I., M.E. selaku Ketua STIS; Nasikin, S.H., M.E. sebagai Ketua Bidang Alumni dan Kerja Sama; serta Syarifuddin sebagai Wakil Ketua II.

Kunjungan ini bukan sekadar lawatan formal. Ada maksud yang lebih dalam dan lebih besar di baliknya. Yaitu, diantaranya mempererat silaturahmi dengan keluarga besar Hidayatullah di Sulawesi Tengah, sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama pengiriman mahasiswa ke STIS Hidayatullah Pusat di Balikpapan. Sebuah niat yang sederhana dalam ungkapan, namun berat dalam bobot misinya.

Perjalanan dimulai pada 5 Mei, ketika rombongan tiba di Donggala pada siang hari, lalu bergerak ke Palu untuk beristirahat sambil bersilaturahmi dengan pengurus Hidayatullah setempat. Keesokan harinya, 6 Mei, perjalanan dilanjutkan menuju Toli-Toli. Dalam perjalanan panjang itu, rombongan menyempatkan singgah di Hidayatullah Soni, Kecamatan Dampal Selatan. Malam harinya, tibalah di Hidayatullah Toli-Toli, disambut hangat, lalu bersilaturahmi dengan pengurus daerah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Hidayatullah Singga.

Hari ketiga tak kalah padat. Selepas zuhur, rombongan bergerak menuju Tinombala Jaya di Kabupaten Parigi Moutong. Menjelang sore, tibalah di Parigi. Kelelahan sejenak terlupakan saat tuan rumah menyambut dengan durian Moutong yang harum dan legit. Setelah Magrib, perjalanan berlanjut ke Hidayatullah Parigi untuk menemui Ustaz Bahari. Tengah malam baru tiba. Lelah itu nyata, tapi kebersamaan membuat segalanya terasa lebih ringan dari yang seharusnya.

Pagi tanggal 8 Mei, perjalanan kembali dimulai menuju Palu. Di tengah perjalanan pulang itu, rombongan masih sempat bersilaturahmi dengan Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah, Bapak Firmansyah. Perbincangan yang terjalin terasa menggairahkan, terutama ketika menyentuh Program Berani Cerdas yang tengah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Ada peluang di sana. Ada pintu yang terbuka, dan kami tidak ingin membiarkannya tertutup begitu saja.

Perjalanan ini padat. Tidak bisa disangkal. Namun di balik padatnya jadwal dan jauhnya jarak yang ditempuh, ada cita-cita besar yang sedang diperjuangkan bersama, agar semakin banyak kader Hidayatullah dari Sulawesi Tengah yang dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi Hidayatullah, khususnya STIS Balikpapan. Bukan sekadar soal angka mahasiswa atau data statistik kelulusan. Ini soal kesinambungan. Ini soal siapa yang akan melanjutkan langkah setelah kita berhenti melangkah.

Dakwah, dalam pengertian yang paling jujur, bukan hanya soal membangun program. Program bisa selesai. Proyek bisa rampung. Gedung bisa berdiri dan diresmikan. Namun yang paling sulit, sekaligus paling penting, adalah membangun manusia. Kader yang tidak hanya mengerti apa yang harus dikerjakan, tetapi juga mengapa ia harus mengerjakannya. Kader yang memahami bahwa perjuangan ini lebih besar dari dirinya sendiri, dan justru karena itulah ia layak diperjuangkan.

Ayat yang menjadi pembuka tulisan ini bukan sekadar kutipan pemberi semangat. Ia adalah perintah. “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang…” Kata “hendaklah” dalam bahasa Al-Qur’an bukan sekadar anjuran. Ia bermakna kemestian. Ada tanggung jawab kolektif yang dibebankan kepada umat, bahwa kebaikan harus terus ada yang menyerukan, dan kemungkaran harus terus ada yang mencegah. Tugas ini tidak boleh terputus. Dan agar tidak terputus, harus ada generasi yang dipersiapkan untuk menerimanya.

Inilah yang membuat perjalanan seperti ini terasa bermakna melebihi sekadar kelelahan fisik yang ditanggungnya. Setiap silaturahmi yang dijalin, setiap pertemuan dengan pengurus daerah, setiap obrolan tentang kerja sama pengiriman mahasiswa, semua itu adalah bagian dari ikhtiar besar yang mungkin tidak akan tampak hasilnya hari ini. Tapi benih yang ditanam dengan kesungguhan tidak akan sia-sia. Ia hanya butuh waktu, tanah yang tepat, dan tangan-tangan yang sabar merawatnya.

Perjuangan Islam di negeri ini, bahkan di dunia, tidak kekurangan orang yang bersemangat memulai. Yang lebih langka adalah mereka yang bersedia menyiapkan orang lain untuk melanjutkan. Yang rela tidak menjadi pusat, asalkan misi tetap berjalan. Yang bersedia menjadi jembatan, meski jembatan tidak pernah ikut menikmati perjalanan yang dileawatinya.

Menyiapkan kader adalah pekerjaan yang sunyi. Ia tidak selalu mendapat tepuk tangan. Ia tidak selalu terlihat dalam foto-foto kegiatan besar. Namun tanpanya, tidak ada perjuangan yang bertahan melampaui satu generasi.

Semoga setiap langkah dalam perjalanan ini menjadi bagian dari ikhtiar yang diberkahi Allah. Dan dari benih-benih kecil yang hari ini ditanam dengan sabar, semoga kelak lahir kader-kader tangguh yang akan meneruskan estafet perjuangan Islam. Bukan hanya untuk Indonesia, tapi untuk peradaban yang lebih luas dan lebih mulia dari yang bisa kita bayangkan hari ini.

Perjalanan ini terus berlanjut. Dan itu kabar baik.

*Penulis, Sarmadani, S.E., adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, yang juga Ketua DPW Hidayatullah Sulteng

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments