Saya menangkap pesan yang jelas untuk tidak menjadi generasi yang lemah dari pemaparan Ustaz Ahkam kemarin sore (Selasa, 28/4/2026) di pengajian rutin pegawai YAB-HM. Untuk menguatkan pesan itu, beliau menukil firman Allah dalam Surah An-Nisa:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir atas kesejahteraan mereka. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
Dalam kapasitas sebagai orang tua dan generasi senior, beliau memang layak bertanya: jika para pendiri sudah tiada, apakah generasi pelanjut ini benar-benar siap menanggung beban visi yang belum selesai?
Pertanyaan itu tentu bukan pesimisme. Ini justru cermin kejujuran yang mestinya selalu digenggam oleh siapa saja yang terlibat dalam perjuangan panjang membangun peradaban Islam, sebagaimana visi yang diusung Hidayatullah. Dan Al-Qur’an, dengan segala kedalaman dan keluasan maknanya, ternyata telah lebih dahulu menyentuh pertanyaan itu dengan sebuah ayat yang amat tajam sebagaimana di atas.
Konteks dan Keumuman Makna
Para ulama tafsir mencatat bahwa ayat ini turun dalam konteks yang sangat manusiawi. Seorang sahabat Nabi ﷺ yang sedang terbaring sakit keras berniat menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah, tanpa menyisakan apa pun bagi keluarga dan anak-anaknya yang akan ia tinggalkan.
Nabi ﷺ pun mengingatkan beliau dengan penuh kasih bahwa semangat berkorban yang mulia itu tetap harus berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap mereka yang akan datang setelah kita.
Namun, para ulama ushul fikih telah lama menggariskan sebuah kaidah yang sangat penting dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an: al-‘ibratu bi ‘umum al-lafzh la bi khushush as-sabab. Bahwa pelajaran itu diambil dari keumuman lafaz, bukan dari kekhususan sebab turunnya.
Maka ayat ini jauh melampaui urusan harta warisan. Ia berbicara tentang tanggung jawab setiap generasi terhadap generasi yang mengikutinya dalam dimensi yang paling luas. Kata dzurriyyatan dhi’afan atau “keturunan yang lemah” itu bisa bermakna lemah dalam iman, lemah dalam visi, lemah dalam semangat, dan lemah dalam memahami untuk apa sesungguhnya mereka dilahirkan ke dalam barisan perjuangan ini.
Ketika Visi Lebih Panjang dari Satu Generasi
Salah satu kenyataan yang paling menuntut kedewasaan dalam sebuah gerakan Islam adalah kesadaran bahwa visi besar tidak akan selesai dalam satu masa. Para founding father ketika meletakkan cita-cita membangun peradaban Islam ini, mereka tentu betul-betul memahami ini. Mereka tidak membangun untuk diri mereka sendiri. Mereka menanam pohon yang buahnya mungkin baru akan dipetik oleh tangan-tangan yang belum mereka kenal.
Di sini letak keagungan sekaligus beratnya amanah itu. Ketika para pendiri sadar bahwa mereka tidak akan sempat menyaksikan visi itu terwujud sepenuhnya, maka pertanyaan paling jujur yang harus mereka jawab bukan tentang program apa yang perlu dijalankan, melainkan tentang manusia seperti apa yang sedang mereka persiapkan untuk meneruskan semuanya.
Kekhawatiran yang dimaksud bukan sekadar kekhawatiran material. Ia adalah kekhawatiran seorang pemimpin gerakan yang bertanggung jawab terhadap mereka yang akan ia tinggalkan di tengah jalan perjuangan yang belum usai. Karena generasi yang lahir dalam keadaan lemah bukan hanya merugi untuk dirinya sendiri, ia juga menanggung risiko memadamkan api yang sudah susah payah dinyalakan oleh orang-orang sebelumnya.
Kelemahan yang Paling Berbahaya adalah Kelemahan Spiritual
Jika ada satu hal yang paling membedakan generasi perintis dari generasi pelanjut, itu bukan kecerdasan intelektual atau kemampuan manajerial. Yang paling membedakan adalah kualitas hubungan mereka dengan Allah ‘ Azza wa Jalla. Para pendiri umumnya memiliki satu kesamaan yang tidak bisa dipalsukan. Yaitu bahwa hubungan mereka dengan Allah adalah akar yang menghujam jauh ke dalam. Dari akar itulah seluruh energi perjuangan terus mengalir tanpa kering meski cobaan datang bertubi-tubi.
Inilah yang harus diwarisi sebelum apa pun yang lain. Bukan jabatan, bukan nama besar organisasi, melainkan cara merasakan bahwa perjuangan ini adalah kehidupan itu sendiri. Kelemahan ruh atau jiwa adalah kelemahan yang paling senyap namun berbahaya. Kader yang ruhnya kosong akan memilih dirinya sendiri, meskipun mulutnya masih fasih berbicara tentang peradaban.
Itulah mengapa proses kaderisasi yang hanya mengisi kepala tanpa menghidupkan hati sesungguhnya sedang mencetak generasi yang dhi’af (lemah). Lemah dalam hal yang paling menentukan arah perjalanan panjang sebuah gerakan.
Generasi Estafeta yang Dituntut Lebih dari Sekadar Melanjutkan
Ada ungkapan bahwa tugas generasi berikutnya adalah “melanjutkan perjuangan.” Kalimat itu indah, tetapi belum cukup. Sebab logika perjuangan peradaban tidak hanya menuntut kesinambungan, tapi juga menuntut percepatan.
Di sinilah Ustaz Ahkam memberikan pesan yang sangat kuat, “Sebagai generasi pelanjut, jangan sampai kita kalah dari generasi senior.”
Bayangkan, para pendahulu kita mampu meletakkan fondasi yang kokoh sering kali hanya dengan bermodalkan kekuatan spiritual di tengah segala keterbatasan. Sementara itu, kita hari ini memiliki modal yang jauh lebih banyak. Infrastruktur yang lebih baik, jaringan yang lebih luas, hingga dukungan finansial yang lebih stabil.
Maka secara logika perjuangan, spirit kita seharusnya lebih besar, dedikasi kita harus lebih kuat, dan kontribusi kita harus jauh lebih melampaui mereka. Adalah suatu pengkhianatan diam-diam jika semua kelimpahan modal hari ini hanya menghasilkan generasi yang berjalan di tempat atau bahkan lebih loyo dari para perintisnya.
Jangan puas menjadi generasi yang “tidak lebih buruk.” Jadilah generasi yang lebih dalam imannya, lebih luas ilmunya, dan lebih jernih visinya. Sebab pada akhirnya, peradaban dibangun bukan oleh dokumen program kerja, melainkan oleh manusia yang hidupnya adalah perwujudan dari visi itu.
Falyattaqullah. “Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah.”
Kalimat penutup ayat ini adalah pengingat keras bahwa mewariskan generasi yang lemah adalah sebuah kelalaian yang akan dipertanggungjawabkan. Bertakwa dalam konteks ini adalah kesungguhan total dalam mempersiapkan generasi yang akan menanggung beban peradaban yang belum selesai, dengan segala daya dan modal yang kita miliki saat ini.
*Abu Hawariy, staff pengajar di Pesantren Hidayatullah Makassar.



