Beranda blog Halaman 92

Mushida Sulsel Gelar Daurah Bahasa Arab Santri Putri Hidayatullah

0

PAREPARE, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Daurah Bahasa Arab Santri Putri Hidayatullah Se-Sulsel di Kampus Madya Hidayatullah Kota Parepare, Jum’at-Ahad (11-13/11/2022).

Kegiatan yang dilaksanakan Departemen Pengaderan PW Mushida Sulsel itu diikuti 52 peserta utusan pondok pesantren Hidayatullah se-Sulsel.

Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Parepare Ustadz Abdul Jabbar sebagai tuan rumah mengapresiasi dan mendukung program Daurah Bahasa Arab ini. “Santri putri yang hadir sudah semestinya bersyukur ada wadah untuk belajar bahasa Arab, bahasa al-Qur’an, jadi orientasi mempelajarinya yaitu untuk memahami isi, kandungan, nilai, hikmah dari ayat-ayatNya, bukan berasas karena untuk kepentingan duniawi,” urainya.

Hal yang sama disampaikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Sulsel diwakili Kadep Dakwah Ustadz Reskyaman SPd M M. “Para peserta Daurah Bahasa Arab ini bukan untuk sekadar mau pintar, sebab Abu Jahal saja tidak diragukan kemampuan bahasa Arabnya, dikenal cerdas di kalangan kaum Quraisy, tetapi kecerdasannya itu tidaklah mengantarkannya untuk beriman dan memeluk Islam,” tuturnya.

Jadi tambahnya, mempelajari bahasa Arab ini untuk dijadikan alat untuk lebih memahami al-Qur’an, menambah keimanan dan mengamalkan nilai-nilai al-Qur’an. “Sebab suatu hal yang lucu apabila tahu bahasa Arab, tetapi terhadap al-Qur’an tidak peduli, bahkan bisa saja tidak dibaca,” ucapnya.

Ketua Panitia Sahlah al-Ghumaishaa’ mengakui bangga dengan antusiasnya pengurus Pesantren Hidayatullah di seluruh daerah menugaskan para santri putri. “Target awal estimasi peserta hanya 30-an orang, namun ternyata hadir 52 orang yang registrasi. Rata-rata ponpes mengutus 5 peserta,” rincinya.

“Melalui kegiatan ini tidak hanya datang sekadar untuk belajar, tetapi banyak hal kebaikan yang menyertainya salah satunya adalah menjalin silaturrahim antar santri, dan berbagi spirit satu sama lain,” terangnya.

Daurah yang berlangsung selama tiga hari tersebut diisi oleh pemateri alumnus LIPIA, ustadzah Waode Aisyah Lc.

“Ada 4 hal alumni peserta daurah bahasa Arab yang harus dilakukan yaitu banyak menghafal kosakata terutama yang ada di sekitar. Kedua, tulis apa yang dihafalkan. Kemudian, praktikkan dan banyak mendengar percakapan dan lainnya yang berbahasa Arab,” sarannya.

Ustadzah Fatinah Fathihah Fath Lc menambahkan untuk membangun bi’ah lughowiyah di lingkungan asrama maka perlu banyak belajar dan aplikasikan ilmu.

“Belajar itu memang susah, kalau mudah ngapain belajar. Belajar itu susah maka dipelajari. Mau jadi orang yang keren maka pelajarilah bahasa Arab dan praktikkan,” tutur alumnus Universitas al-Azhar, Kairo Mesir tersebut.(thesahl)

Hidup Sementara maka Berbuatlah Terbaik

0

Oleh : Ust Drs Nashri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com – Allah ta’alla berfirman dan surah Al Kahfi ayat 45 :
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ فَاَصْبَحَ هَشِيْمًا تَذْرُوْهُ الرِّيٰحُ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

“Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Jika kita ingin memahami hakikat kehidupan kita sebagai manusia dan khususnya sebagai orang beriman, sesungguhnya semuanya untuk dapatkan ridho Allah ta’alla. Jika Allah telah berkehendak maka tidak ada yang bisa menghalangi.

Ayat di atas bisa kita pahami sebagi siklus kehidupan. Bahwa kehidupan kita di muka bumi ini harus kita manfaatkan. Kehidupan ini ibarat air hujan yang turun dari langit, merupakan keberkahan. Kita menjadi khalifah sekaligus hamba, dua tugas ini merupakan keberkahan.

Allah menurunkan keberkahan air ke bumi lalu menumbuhkan tumbuhan. Tumbuhan memberikan kesejukan dan keteduhan. Lalu “kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin” Allah maha kuasa atas segala sesuatu.

Demikianlah hidup, dari muda diberi pesona, lalu menua dan meninggal. Maka hidup harus dimaknai sebagai proses dari ada menjadi tidak ada, apakah bermanfaat, berprestasi atau sebaliknya.

Karena kehidupan ini semua sifatnya sementara maka bagaimana mengelola hidup ini sebaik-baiknya.

Maka mari memproses diri untuk persiapkan diri bisa sedewasa usia. Kedewasaan berupa karakter, pribadi dan akhlak. Karena ada manusia yang dewasa usia tapi masih kekanak-kanakan kepribadiannya.

Kedewasaan hanya bisa dibentuk dengan tarbiyah dan didikan. Dan tempatnya yang paling tepat untuk didikan karakter, kepribadian dan akhlak itu di pesantren.

Bukti sederhana misalnya dengan kemampuan dan keberanian santri mampu berceramah kepada jamaah yang usianya lebih tua. Karena hal itu sejatinya tak mudah bagi sebagian besar orang.

Maka mari kita gunakan keterbatasan usia dan waktu untuk berbuat maksimal. Amanah sebagai pengurus di Hidayatullah harus dilaksanakan dengan baik. Demikian pula seorang santri agar berbuat dengan amal terbaik, berdisiplin, bersungguh-sungguh dalam belajar dan hal terbaik lainnya.

Ayat dalam surah Al Kahfi di atas menjelaskan kehidupan hingga kelak kita mempertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’alla. Kehidupan itu sementara maka semaksimal mungkin berbuat terbaik.(fir)

*) Disarikan dari ceramah subuh di Masjid Ponpes Hidayatullah Parepare

DPD Hidayatullah Mabit Bersama. Keseriusan Menggerakkan Dakwah di Maros

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — DPD Hidayatullah Maros mengadakan Mabit sekaligus memberikan pencerahan kepada jamaah tetap di masjid Perumahan D Queen Desa Damai Kecamatan Tanralili, Sabtu (12/11/2020).

Masjid tersebut dibangun oleh DPD Hidayatullah Maros bersama pihak developer PT Hajjah Saerah. “Mabit ini juga sebagai upaya memulai kebiasaan agar lebih memaksimalkan fungsi masjid yang telah dibangun, ” jelas Kadep Dakwah DPD Hidayatullah Maros, Ust Robianto.

Mabit disi dengan silaturrahmi dan shalat lail berjamaah dipimpin oleh pengasuh santri Pondok Tahfidz Darul Hijrah Tanralili Muh Aqil alumni dari Pondok Tahfidz Ahlisuffah Balikpapan.

Mabit DPD Hidayatullah Maros akan dilakukan bergilir di setiap DPC di setiap kecamatan yang sudah berjalan program pembinaan Dai Hidayatullah. “Ini juga sebagai bentuk keseriusan DPD Hidayatullah Maros menggerakan dakwah di Maros, ” tambahnya.

Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Al Qur an (MBA) salah satu fokus gerakan dakwah DPD Maris selama 2022. Semua unsur dilibatkan dalam gerakan ini yaitu Muslimat Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah dan unsur pengurus DPD dan DPC di kabupaten Maros.

Departemen Dakwah DPD Maros memaksimalkan pengaturan dakwah Al Qur an di Maros juga menuntut adanya Kantor Dakwah di pondok Tahfidz Tanralili dan bersamaan dengan pembangunan masjid untuk lantai dua, pembangunan Rumah Imam.

Untuk itu mengajak masyarakat terlibat berwakaf dalam pembangun masjid dan berwakaf Mushaf Al Quran. Bisa menghubungi ust Muhammad Kaisar 081342563546 dan Ust Abd Hadi 085255992595 atau bisa mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros.(sar)

Murobbi itu Sang Pahlawan

0

Oleh: Fatahillah, Pengurus DPD Hidayatullah Maros

HidayatullahSulsel.com — Ketika membaca sejarah perjuangan para pahlawan dan orang-orang hebat, selalu saja ada pendidik hebat berada di belakang dan menyertai langkahnya, ditopang dengan kekuatan, doa, ilmu dan keteladanan.

Disebut pahlawan karena memiliki keberanian untuk melawan penjajah kala itu. Pengorbanan harta, fikiran bahkan nyawa menjadi kontribusi utama, begitulah gambaran singkat pahlawan terdahulu.

Di abat modern saat ini, murobbi merupakan pahlawan, sosoknya menjadi sumber inspirasi, perannya berfungsi menjaga jiwa para kader agar tidak terjajah dari sifat kebodohan, kemalasan, dan ketidakdisiplinan, dan kesombongan.

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, menjadi perhatian utama pasca kemerdekaan Republik ini. Jauh hari telah dihimbau kepada kita semua oleh pahlawan terdahulu, bahwa jiwa mesti menjadi catatan penting sejarah untuk dijaga, dirawat dan dibimbing, matinya jiwa pertanda habislah cerita perjuangan.

Alhamdulillah, kehadiran murobbi sebagai penjaga dan pengawal ruhnya pergerakan kader melalui strategi taktik GNH, halaqoh dan mabit, menjadi sinyal bahwa murobbi adalah pahlawan abad modern

Fisik yang tidak mendapatkan asupan sehari tentu maka akan terlihat loyo, begitu juga sesungguhnya jiwa, bila tidak diberikan menu berupa GNH, halaqah, dan mabit maka akan terdeteksi jelas berimplikasi pada nafas gerakan yang dilalui, amanah yang diberikan menjadi beban, pekerjaan tidak tuntas, halaqoh telat, GNH diabaikan,

Murobbi sebagai pahlawan menjadi spirit kemerdekaan jiwa yang tak akan pernah padam dari serangkaian serangan besar dari para penjajah berbentuk ketidaktaatan, kemalasan, hedonis, jorok dan tidak disiplin

Halaqah merupakan sebuah wadah mengatur, mengarahkan dan memperbaiki, dan mencas kembali gerakan perjuangan,
adapun salah satu fungsi halaqah yakni sebagai sarana untuk menjalin pertemuan untuk saling mengenal yang disebut dengan Muakhhoh (mempersaudarakan).


Dalam halaqah ini antara anggota halaqoh yang satu dengan anggota yang lainnya merupakan sebuah keluarga, dimana terjadi hubungan yang intensif untuk saling mengenali (ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling membantu (ta’awun), dan saling menanggung (takaful).

Segala persoalan yang terjadi pada anggota halaqah secara dini dapat diketahui oleh murobbi dan yang lain dalam halaqah, demikian pula penyelesaiannya.

Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurahman Muhammad dalam kuliah subuh di Masjid Ar Riyadh menyampaikan:

“Tertip halaqah itu ada dalam shirah nabawi. Ada banyak jenis halaqah yang dilakukan Rasulullah bersama shahabat. Halaqah Jibril, halaqah Mushab bin Umair, halaqah Ali bin abi Thalib, halaqah Saad bin Abi waqqas dan lainnya. Halaqah maksimal 10 orang

Dakwah Rasulullah di Makkah selama 13 tahun murni dengan materi al-Qur’an. Men-zero-kan diri dari ilmu-ilmu yang lain. Maka proses keislaman Umar bin Khattab adalah karena kegigihan adik perempuannya mempertahan al-Qur’an untuk tidak direbut oleh Umar karena belum suci. Umar setelah masuk Islam, pernah “dimarahi” Rasulullah saat membawa Taurat.

Halaqah Madinah sebelumnya 12 orang. Kemudian, setiap 6 orang harus ditunjuk pemimpinnya. Kepemimpinan murobi yang umat menunggu atau menuntut di akherat.

Kepemimpinan itu bertanggungjawab kepada Allah karena dipilih oleh Allah. Meskipun secara dhohir dipilih oleh kita. Demokrasi tidak sama dengan syuro. Meskipun ada yang memaksakan diri dengan menyebut syuro adalah demokrasi Islam. padahal jauh berbeda syuro dengan demokrasi, hanya ada sedikit kemiripan.

Program halaqah di mana dan kapan saja harus dengan al-Qur’an. Membaca basmallah, hamdallah, hadist semuanya adalah berasal dari al-Qur’an. Jangan duduk-duduk berhalaqah tanpa membahas al-Qur’an.
Halaqah adalah proses untuk memiliki rasa saling mencintai dan saling memahami, agar tidak ada rasa saling su’udhon. Ketika pemimpin marah itu adalah karena tuntutan agar kita menjadi lebih baik.

Halaqah adalah berlatih untuk duduk-duduk bersama orang-orang, untuk biasa bergaul dengan semua orang. Baca sejarah, bagaimana dekatnya Jibril duduk memberikan wahyu kepada Muhammad. Sangat dekat dan sangat detail.

Berhalaqah untuk transformasi wahyu tidak akan nuzul ke hati kalau sekedar diucapkan saja tapi harus dipraktekkan. Kata Rasulullah, “Akhir zaman nanti ayat-ayat al-Qur’an hanya sampai di tenggorokan artinya hanya disuarakan atau diucapkan, tidak sampai nuzul ke hati.

Halaqah Saad bin abi Waqqas adalah halaqah pemberani dan yang pertama meneteskan darah orang kafir. Saat itu Saad bin abi Waqqas sedang berhalaqah dan shalat bersama dengan anggotanya di lorong Makkah, lalu datang orang kafir Quraisy yang hendak mengganggunya. Maka terjadilah perlawananan. Ini adalah simbol halaqah pemberani dan yakin. Siapa yang siap berhalaqah seperti Saad bin abi Waqqas?

Kita bisa mengalahkan musuh-musuh Islam akhir zaman dengan mukjizat al-Qur’an, meskipun mereka memiliki senjata nuklir. Kita di sini pertajam doa, ibadah shalat dan harus yakin. Sebagaimana Rasulullah saat menggali parit dalam persiapan perang khandak sudah memotivasi para sahabatnya bahwa Romawi dan Persia akan jatuh tumbang dalam kekuasaan Islam. dan prediksi itu benar terjadi padahal saat itu belum ada kekuatan apa-apa, jumlah muslimin juga terbatas, pungkasnya.”

Alhamdulillah, di halaqoh Ali Bin Abi Thalib, Ustadz Abdul Majid merupakan sosok Murobbi yang senantiasa memberikan keteladanan, inspirasi dan kekuatan iman, kami sangat bahagia memiliki pahalawan yang selalu mendoakan dan menjaga jiwa kami agar terus menyala. Halaqoh Ali juga dirancang untuk memiliki mental pahlawan, GNH Halaqoh Mabit adalah proses untuk mampu melawan penjajah abad modern.(*)

Rawatlah Nikmat Iman dan Islam dengan Bersyukur

0

Oleh: Dr H Abdul Aziz Qahhar Muzakkar MSi, Dewan Pertimbangan Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Nikmat iman dan Islam adalah nikmat tertinggi dalam hidup dan kehidupan manusia.Sebab dengan nikmat inilah manusia dikatakan sebagai makhluk yang sempurna.

Karena semua kualitas kehidupan di luar Iman dan Islam adalah fatamorgana atau hanyalah permainan dan sendagurau semata. Maka kita harus mensyukuri nikmat Iman dan Islam ini.

Berbicara tentang nikmat, tentu tidak bisa kita menafikan bahwa nikmat dari Allah Ta’ala itu tidak mungkin terhitung. Tidak usah kita hitung semua yang Allah Ta’ala berikan, yang ada pada diri kita saja pasti tidak bisa diketahui jumlahnya.

Contoh misalnya jantung, merupakan salah satu organ tubuh yang penting dalam diri kita. Jika jantung ini bermasalah maka tubuh kita pasti akan bermasalah, begitu juga dengan organ tubuh lainnya.

Sehingga nikmat tubuh manusia ini sangat mahal dan tidak bisa dihargai dengan apapun. maka jika kita diberikan nikmat sehat, kita harus banyak bersyukur. Karena nikmat pada tubuh kita adalah pemberian yang sangat mahal dari Allah Ta’ala dan tak mampu dihitung dan dinilai.

Itu baru nikmat yang ada dalam diri manusia. Belum lagi nikmat makan dan minum. Orang yang tidak makan selama satu bulan, Insya Allah mereka masih hidup selama masih mau minum. Tapi kalau ada orang satu bulan tidak minum, walaupun makan pasti akan mati.

Tapi ada pemberian Allah yang tidak sampai sepuluh menit saja tidak kita pakai pasti kita akan mati. Nikmat itu adalah oksigen. Alhamdulillah Allah memberikan semuai itu gratis kepada kita.

Nikmat lainnya adalah matahari. Andaikata matahari itu berhenti selama tiga bulan tidak terbit, maka semua pepohonan yang ada dipermukaan bumi ini pun akan mati.

Dari sedikit gambaran tentang nikmat yang diberikan ini. Orang beriman pasti akan merasa bahwa pemberian dari-Nya begitu penting untuk kita syukuri, sebab bersyukur akan merawat iman dan memperkuat keislaman kita.

Di samping itu, dengan bersyukur, Allah Ta’ala juga aka menambah lebih banyak nikmat kepada manusia, sebagaimana dalam Firman-Nya:


وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS: Ibrahim : 7)

Jadi syukur ini adalah bagian yang mutlak daripada keimana, dengan Iman yang baik, kita akan lebih termotivasi untuk mengejar prestasi. Karena orang yang beriman itu sudah pasti bersyukur dan orang bersyukur itu pasti termotivasi untuk berprestasi lebih baik.

Tentu bagi orang beriman kesyukuran terbesar adalah jika diberikan pemahaman ilmu agama. Sebagaimana Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus tentang Al-Qur’an dan hadits, didasari dengan kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al-Qur’an dan hadits dengan benar.

Makanya syukur ini, oleh para motivator merupakan salah satu materi penting dalam memotivasi manusia, sekaligius menghindari rasa kufur sebab orang yang selalu bersyukur itu akan menghadirkan energi positif dalam hidupnya.

Sebenarnya sangat sederhana, cukup kita bersyukur saja, maka Allah Ta’ala akan mendatangkan rezeki, kunci dalam hidup itu ada pada pola pikir saja. Bagaimana kita bersyukur atas semua yang kita dapatkan dalam hidup kita.(Ridwan Gagah)

*) Disarikan dari Kajian Subuh di masjid Ponpes Hidayatullah Towuti, Luwu Timur

BTH Makassar Tawarkan 6 Paket Simpanan dan Pembiayaan Syariah

0

MAKASSAR, HidayatullahSulsel.com — Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH) Makassar menawarkan enam paket program simpanan syariah bagi jamaah Hidayatullah dan ummat Islam umumnya.

Program layanan simpanan atau tabungan yang bisa dimanfaatkan di BTH Makassar saat ini, ungkap Kepala Cabang BTH Makassar, Baso Zulfikar, yakni Simpanan Keanggotaan (Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib), Simpanan Wajib Khusus.

Juga Simpanan Sakinah/Wadiah/Reguler, Simpanan Berencana Maslahah, Simpanan Berjangka Mudharabah (Deposito) dan Simpanan Pintar, Masing-masing dengan keunggulan dan syaratnya.

BTH Cabang Makassar resmi di launcing pada Senin 31 Oktober 2022 lalu. BTH merupakan Lembaga Keuangan khususnya di Hidayatullah dan ummat Islam pada umumnya.

“Hadirnya BTH merupakan jawaban terhadap keresahan ummat terkait praktek ribawi yang sudah hampir tidak bisa lagi dihindari saat ini, ” jelasnya.

Untuk itu, harapnya, BTH mengajak para kader Hidayatullah, pengurus amal usaha Hidayatullah, guru, dosen, karyawan, pengusaha, pelanggan majalah, donatur serta jamaah dan simpatisan Hidayatullah di Sulsel untuk bergabung menjadi anggota BTH.

“Saatnya pula kita alihkan tabungan kita ke BTH, dan ajak saudara kita yang mau beralih ke pembiayaan sesuai akad syariah, yang saat ini sedang terjebak kredit ribawi di berbagai pembiayaan barang elektronik, kendaraan dan rumah,” urainya.

Cara mendaftar menjadi anggota BTH sangat mudah, bisa langsung ke kantor BTH Sulawesi Selatan Cabang Makassar atau menghubungi penanggung jawab BTH.

Kantor pelayanan BTH Sulawesi Selatan Cabang Makassar berada di Jl. Poros BTP Jl. Tamalanrea Raya No.27B, Tamalanrea, Kec. Tamalanrea, Kota Makassar di samping Kantor BMH (Baitul Maal Hidayatullah) atau kantor DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan.(*)

Mediatama Travel Serahkan Bantuan Sarung untuk Tahfidz Putri Darul Hijrah Maros

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — Pemilik agen perjalanan haji umrah PT Mediatama Tour Travel H Makmur Abd Karim menyerahkan bantuan sarung kepada santri Pondok Tahfidz  Putri Darul Hijrah  Hidayatullah Kec Tanralili Kab Maros, Kamis (10/11/2022).

Ketua Pembina Pondok Tahfidz Darul Hijrah Drs Muhammad Kaisar menyerakan langsung bantuan sarung tersebut kepada santri dan pengasuh.

“Terima kasih kepada Mediatama Travel semoga makin mendapatkan kepercayaan untuk melayani jamaah umrah,” ujarnya.

Sebanyak 24 jamaah umrah diberangkatkan pada Sabtu (11/11/2022) hari ini. H Makmur yang juga pemilik warung Coto Makkah pernah bermukim di Makkah selama 5 tahun.

Sebelumnya H Makmur menyempatkan berkunjung di Kampus Putra Darul Hijrah Putra Hidayatullah Tanralili Maros. Ia sempat memberikan tausiyah motivasi kepada santri.

Ia memberikan motivasi kepada santri bagaimana berusaha dengan mencontoh dari sosok Abdurrahman bin Auf. Untuk memotivasi santri yang tuntas menghafal 30 juz, Ia menjanjikan untuk memberikan hadiah umrah.

H Makmur sedang merintis pendirian pesantren keluarga dengan pembinaan dalam satu kawasan villa.(sar)

Bertepatan Hari Pahlawan, Alumni Hidayatullah Belopa Gelar Silaturahmi

0

LUWU, HidayatullahSulsel.com — Sejumlah alumni santri Pesantren Hidayatullah Belopa, tergabung dalam Ikatan Alumni Hidayatullah Belopa (IKABH) menggelar kegiatan silaturahmi di Pondok Pesantren Hidayatullah Belopa, Luwu, Kamis (10/10/2022).

Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Pahlawan tersebut turut serta dirangkaikan dengan acara buka puasa bersama dengan puluhan santri, pengurus dan warga pesantren.

Ketua Yayasan Al-Jihad Ponpes Hidayatullah Belopa, Ustadz Hamzah Sultan, menuturkan di hadapan para santri bahwa para alumni sejatinya merupakan pahlawan.

“Karena kegiatan ini bertepatan dengan Hari Pahlawan, maka alumni-alumni kita ini bisa dikata mereka adalah para pahlawan. Sebab, bisa saja, jika tanpa peran mereka sulit rasanya lembaga ini eksis,” kata Hamzah.

Lebih lanjut dalam sambutannya, ustadz yang juga merupakan Ketua Dewan Pengurus (DPD) Hidayatullah Luwu itu menyampaikan bahwa, salah satu bukti kepahlawanan alumni tersebut yakni, terdapat beberapa alumni yang merupakan perintis berdirinya Pesantren Hidayatullah Belopa.

“Perlu para santri ketahui, ada dari alumni ini yang merupakan perintis. Artinya, turut andil besar agar pesantren ini bisa berdiri. Itu bukti kepahlawanan. Kalau sekarang, kalian enak. Dulu, kakak-kakak kalian bahkan ada yang mengumpulkan kayu dulu untuk masak,” Jelas Ustadz Hamzah.

Pada kesempatan yang sama, Inisiator Pembentukan Ikatan Alumni Hidayatullah Belopa, Saifullah Ahmad, menyebutkan tujuan dibentuknya Ikatan Alumni dikarenakan adanya keinginan besar para alumni untuk bisa turut berkontribusi demi kemajuan Pesantren Hidayatullah Belopa.

“Tujuan kami, di samping juga harapan kami dengan dibentuknya Ikatan Alumni ini, yaitu adanya keinginan dari para teman-teman alumni agar bisa memberikan kontribusinya untuk kemajuan pondok kita, Hidayatullah Belopa,” jelas Saiful kepada reporter hidayatullahsulsel.com.(Ian Kassa)

Sang Murobbi, Ustad Ismail Muhtar

0

SOSOK, HidayatullahSulsel.com — Murobbi itu tidak sekadar mengajarkan sesuatu. Tapi lebih dari itu, dalam waktu bersamaan, Murobbi mencoba untuk mendidik rohani, jasmani, fisik, dan mental mutarabbinya (anak didiknya) untuk menghayati dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Seorang Murabbi lebih berkonsentrasi penghayatan sesuatu ilmu, sekaligus membentuk kepribadian, sikap dan kebiasaan anak didiknya.

Jika, tugas “Muallim” banyak melayang di “akal” namun tugas Murabbi melayang di “hati”.

***

Pagi itu, saya dalam perjalan untuk mengikuti halaqah Wustho di Hidayatullah Soppeng, hape ku berdering. Sambil melaju di atas motor, hape saya angkat.
Tertulis nama Ustad Ismail Muhtar, sang Murobbi memanggil via telpon.

“Assalamualaikum…” ucap beliau via telpon
“Waalaikum salam…” Jawabku singkat.
“Sudah dimana posisi?” tanya sang Ustad.
“Dah masuk Wajo Ustad, insyallah 40 menit lagi tiba” jawabku.
“Iye, hati-hati, semoga selamat…” ujat sang Murobbi sambil mendoakan.

Ya, masih jam 6 lebih 30 menit, matahari rendah, dan nampak semakin meninggi, Aku menyusuri jalan poros Sidrap-Wajo. Ku gas motor Vixionku. Tidak bisa juga lari kencang, karena sudah tua, tapi suaranya cukup menggelegar. Membelah jalan, seperti motor anak muda.

Tujuannya, hendak menghadiri halaqah wustho Abdurrahman bin Auf di Hidayatullah Soppeng. Yang akan dilangsungkan pagi ini, Selasa (8/11/2022(, jam 8 pagi.

Peserta halaqahnya dari 3 daerah, Wajo, Sidrap, dan Soppeng. Halaqah digelar secara bergantian, di tiga kabupaten bertetanggaan ini. Halaqah Abdurrahman bin Auf ini digelar setiap dua pekan sekali. Pesertanya 9 orang, bersama murobbinya.

Saat dalam perjalanan itu, dapat telpon dari sang Murobbi, Ustad Ismail, sekedar mengecek keberadaan ku, mutarabbi nya, juga mendoakan. Agar selamat sampai tempat halaqah. Saya tiba telat, jam 8 lebih 15 menit.

Adalah Ustad Ismail Muhtar, yang ditunjuk sebagai Murobbi kami. Selama kegiatan halaqah, beliau tidak pernah telat. Sejak semalam, beliau sudah tiba di lokasi halaqah. Jauh lebih dahulu, tiba dari peserta yang lain.

Tiga kali halaqah berturut-turut, beliau menginap di tempat acara, agar tidak terlambat. Bahkan, saat halaqah di Sidrap, beliau tiba jam 3 subuh. Jam dua malam berangkat dari Lamatanre, agar tidak telat.

“Saya berangkat malam ini” infonya via wa group halaqah Abdurrahman bin Auf.

Ustad Ismail Muhtar, sudah cukup lama ber-Hidayatullah, beliau bergabung di Hidayatullah sejak Februari 1991. Beliau lama bertugas di Hidayatullah Pusat Balikpapan, Gunung Tembak (Gutem), hingga 1998.

Dulu, saat saya santri di Gutem, beliau adalah seorang guru, juga pernah menjabat kepsek di MTs Radhiyatan Mardiyah. Pernah tugas di pemasaran Majalah Hidayatullah Karang Bugis, juga pernah menggawangi unit koperasi di Gutem.

Tahun 1998, beliau tugas untuk perintisan Hidayatullah di Mamuju. Sekitar tahun 2000an, saya pernah jumpa beliau saat merintis Hidayatullah Mamuju. Saat itu Hidayatullah Mamuju masih gubuk-gubuk bambu.

Mamuju waktu itu masih Sulsel. Salah satu kabupaten terjauh di ujung utara Sulsel. Mamuju kini sudah menjadi ibukota Sulbar.

Tugas beliau berpindah-pindah, dari Mamuju, ke Bungadidi. Satu tahun di Bungadidi, beliau diamanahkan ke Bulukumba. Setelah itu berpindah tugas lagi di Hidayatullah Bone.

Tahun 2021, di usia yang sudah 60 tahun, dengan jenggot sudah putih, beliau kembali ditugaskan, untuk merintis Hidayatullah di Lamatanre, Suppa, Pinrang. Juga menjadi staff Pemimpin Umum Hidayatullah.

Sosok Murobbi ini tidak kenal lelah, konsistensinya untuk menghidupkan roh mutarabbinya tidak pernah surut. Dalam halaqah, beliau selalu bersemangat, dan tidak pernah tertinggal dalam mengamalkan amalan gerakan nawafil Hidayatullah.

Mulai dari sholat lail, ngaji satu juz setiap hari, wirid pagi sore dan malam, semua tidak pernah ketinggalan. Beliau patut ditauladani.

Ia tidak banyak berkata. Ia hanya banyak berbuat. Apa yang beliau lakukan, lebih bermuatan tauladan, senantiasa mengandalkan qaulan tsakila, dan uswatun hasanah.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau senantiasa menjaga murua’ah ideologis Hidayatullah. Beliau menjaga diri untuk tidak berperilaku hedonis.

Belum ada di benaknya untuk mengkapling sawit, tidak ada juga pikirannya untuk “menguasai” yayasan. Juga apalagi kaplingan perumahan.

Baginya, semua berjalan saja, ditugaskan dimana saja, dalam rangka ketaatan kepada pemimpin. Hal ini untuk menjaga nilai-nilai idealisme kemurabbiannya.(*)

*) Oleh : Sarmadani Karani, Ketua DPD Hidayatullah Sidrap

Dinas Kesehatan Pangkep Berkunjung dan Berbagi Qur’an di Hidayatullah Pangkep

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin kedatangan tamu dari Dinas Kesehatan Pangkep di Pesantren Hidayatullah Pangkep, Selasa (08/11/2022).

Kunjungan tersebut sebagai program Tebar Wakaf Al-Qur’an, satu Rumah Satu Al-Qur’an, dengan tema “Jangan Jadikan Rumah Kalian Seperti Kuburan”.

Rombongan diterima langsung Ketua Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin, Ustadz Karding beserta stafnya Andi Amri di Masjid Muhammad Al-Fatih.

Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep, Syahrir, menjelaskan program tebar Al-Qur’an ini sudah disalurkan kepada dua pondok pesantren

“Alhamdulillah, sudah dua pondok kami berikan bantuan Al-Qur’an yakni pondok di Tompobulu dan Pondok Hidayatullah ini. Semoga bermanfaat untuk adik-adik santri penghafal Al-Qur’an” jelasnya.

Ustadz Karding menyampaikan terima kasih atas kunjungan. “Semoga silaturahmi ini bukan yang pertama dan terakhir tapi bisa berkelanjutan di lain waktu,” harapnya ■ Abu Wildan