Oleh: Ust Ir H Abdul Majid MA,Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Ustadz Abdul Majid MA memberikan penguatan kepemimpinan di depan peserta Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulsel, Sabtu (7/1/2023).
Tausiyah yang dibawakan selepas wirid subuh di masjid Umar bin Abdul Aziz Pesantren Hidayatullah Towuti itu, tentang korelasi antara kepemimpinan dan sikap untuk selalu bersabar. Berikut kutipannya :
Allah ta’alla berfirman dan Quran surah Ali Imran ayat 159,
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.
Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
Ayat ini menekankan pentingnya berlaku lemah lembut dalam menjalankan kepemimpinan.
Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.
Bahwa berlaku sabar bukanlah suatu yang mudah dijaga. Dan hal tersebut akan semakin susah ketika seseorang berasa pada posisi sebagai pemimpin.
Dalam kehidupan rumah tangga saja, kita yang merupakan pemimpin di rumah, kesabarannya harus dua. Sabar terhadap istri serta sabar terhadap anak.
Itu baru di rumah tangga. Bayangkan kita pemimpin rumah tangga, kita juga pemimpin di sebuah lembaga. Maka otomatis kesabarannya harus di atas rata-rata.
Selain dibutuhkan berlipat kesabaran dalam Lembaga perjuangan ini, juga tak kalah pentingnya kita untuk terus saling mengingatkan untuk memahami mahalnya arti ketaatan.
Kita harus senantiasa menyerap spirit ketaatan para sahabat Rasulullah.
Ali bin Abi Thalib ketika ditanya mengapa dirinya begitu taat kepada Rasulullah, Ali menjawab bahwa karena Rasulullah memimpin orang seperti dirinya.
Memang level keimanan kita tidak seperti Ali dan sahabat nabi yang lain. Akan tetapi, karena nilai ketaatan itu sangat mahal, maka patut kiranya kita menyerap spirit ketaatan para sahabat.(Ian Kassa/*)
PAREPARE, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Keputrian Hidayatullah Parepare bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) Parepare menyelenggarakan Dauroh Tahsin al-Qur’an, Rabu-Jumat (4-6/1/2023).
Daurah yang diikuti santriwati SMP-SMA dan Muslimat Hidayatullah Parepare itu dibuka oleh Ketua LPIH Parepare, ustadz Muhammad Erwin.
Koord Panitia Daurah Ustadzah Musyarrafah, menyampaikan, daurah tersebut dimaksudkan untuk memahamkan ilmu tahsin dan tajwid, meningkatkan kualitas bacaan al-Qur’an serta agar menambah kecintaan dan semangat dalam berQur’an.
Dauroh ini juga merupakan upaya pengamalan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari ‘Utsman bin ‘Affan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
خيركم من تعلّم القرآن و علّمه
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)
Dauroh dilaksanakan secara intensif selama 3 hari dengan menghadirkan ustadz Ahmad Syahril, S.Pd sebagai instruktur utama dan 4 ustadzah lainnya sebagai mentor.
Setiap mentor membimbing satu halaqoh yang terdiri dari 9 -16 peserta, mulai dari kelas 8 SMP hingga kelas 12 SMA dan juga ibu-ibu Muslimat Hidayatullah, yang seluruhnya berjumlah sekitar 50 orang. Para peserta dikategorikan dalam beberapa kelompok sesuai dengan kemampuan bacaan al-Qur’an.
Dalam sehari diadakan 3 kali pertemuan untuk tahsin al-Qur’an. Diantara kegiatan yang dilakukan yaitu berupa materi tajwid yang memakai modul matan Al-Jazariyah, talaqqi bacaan, dan motivasi. Para peserta diberikan materi makharijul huruf, sifaatul huruf juga itmaamul harakaat.
Pada Jumat sore 6 Januari 2023 dilaksanakan evaluasi untuk melihat bagaimana pemahaman materi dan perkembangan bacaan al-Qur’an peserta.
Gaitsa Aqilah dan Gita Purnama Sari merupakan dua peserta yang tuntas menyetorkan hafalan 3 bab dari matan Al-Jazariyah. Setelah evaluasi, dilaksanakan acara penutupan dan dauroh ditutup secara resmi.(Musyarrafah)
HidayatullahSulsel.com — Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq Lc menyampaikan pesan yang dibacakan Ketua Bidang Perekonomian Drs Wahyu Rahman MM pada arena Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulsel di Ponpes Hidayatullah Towuti, Luwu Timur, Jumat (6/1/2023). Berikut kutipan lengkapnya :
Alhamdulillah, segala bentuk pujian kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas restu dan ridha-Nya, sehingga pada hari ini dapat diselenggarakan acara Pembukaan Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulsel tahun 2023 di tempat yang berbahagia ini.
Semoga selama penyelenggaraan Rakerwil ini dapat berjalan sukses. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Nabiyullah Muhammad Saw, seorang teladan ummat manusia yang berhasil membangun Peradaban Islam di persada bumi ini.
Ketua Bidang Perekonomian Drs Wahyu Rahman MM
Semoga spirit perjuangan beliau dapat kita warisi sebagai modal untuk melanjutkan risalah perjuangan beliau di abad ini.
Rapat kerja wilayah merupakan agenda tahunan Dewan Pengurus Wilayah yang dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Murabbi Wilayah, unsur Dewan Pengurus Daerah, unsur Organisasi Pendukung tingkat wilayah (Pemuda dan Mushida) serta unsur amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah seperti Kampus Madya, BMH Perwakilan, serta unsur Dewan Pengurus Pusat.
Keberadaan unsur DPD, Organisasi Pendukung, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah dalam rapat kerja wilayah adalah mutlak diperlukan dalam rangka terbangunnya kerjasama secara kolektif, sinkronisasi dan koordinasi serta dukungan berupa kontribusi dari DPD, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah untuk terlaksananya program kerja DPW yang disepakati.
Sedangkan keberadaan unsur Dewan Pengurus Pusat adalah untuk memastikan bahwa seluruh keputusan dan kebijakan yang diambil dalam rapat kerja wilayah ini berada dalam rangkaian keputusan dan kebijakan yang sama dan semakin menguatkan dan membumikan kebijakan dan keputusan yang telah diambil dalam Sidang Pleno, Musyawarah Majelis Syura serta kesepakatan-kesepakatan Rapat Kerja Nasional yang telah dilaksanakan akhir tahun 2022.
Setelah pelaksanaan Rapat kerja Wilayah ini juga diharapkan agar DPD, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah dapat menuangkannya lebih lanjut dalam program kerja yang lebih terperinci lagi, terukur dan dapat dilihat dan dinilai secara lebih kuantitatif lagi di lembaganya masing-masing.
Program kerja 2023 ini merupakan turunan dari program umum lima tahunan 2020-2025 yang mengacu kepada arah kebijakan strategis yang telah ditetapkan dalam Munas V pada akhir bulan Oktober 2020 yang lalu.
Kita juga harus meyakini bahwa segala bentuk karya yang dihasilkan pada periode sebelumnya, kinerja yang dicapai, prestasi yang diraih semuanya akan dinilai dan diberi ganjaran oleh Allah SWT, bahkan disaksikan oleh Rasulullah SAW dan orang-orang beriman kelak di Akhirat.
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah : 105)
Rapat kerja wilayah tahun ini cukup istimewa karena pemetaan DPW Hidayatullah seluruh Indonesia melalui kegiatan asesmen (penilaian) secara offline telah selesai dilakukan dan didapatkan gambaran keberadaan 34 DPW Hidayatullah serta telah diklasifikasikan ke dalam DPW maju, berkembang dan perintisan.
Kegiatan Asesmen ini sangat penting sebagai bahan evaluasi dan muhasabah kita bersama sekaligus acuan untuk perencanaan organisasi ke depan termasuk perencanaan DPW tahun 2023 yang diwujudkan dalam pembuatan program kerja dan APBO DPW yang reasonable (wajar) dan rasional.
DPW dapat menyusun program kerja sesuai dengan skala prioritas, mulai dari program kerja yang memang wajib dilakukan hingga program yang menantang bagi DPW yang bersangkutan sebagai wujud mujahadah dan spirit untuk tidak berhenti berfastabiqul khairat.
Di tahun 2022 juga telah dimulai pelaksanaan asesmen Kampus Madya sebagai amal usaha milik DPW dan diharapkan dapat diselesaikan dalam tahun 2023 ini. Kegiatan asesmen Kampus Madya selain merupakan bagian dari upaya kita untuk terus melakukan standardisasi, sentralisasi dan integrasi juga merupakan upaya merajut keutuhan, kesatuan dan konsolidasi antara Organisasi dengan amal usahanya sehingga terbangun kesepahaman dan terbangun sistem yang membuktikan bahwa Hidayatullah adalah sebuah Al Harakah Al Islamiyah.
Sebagai sebuah Harakah, bagi Hidayatullah, kegiatan-kegiatan kultural yang menguatkan spirit perjuangan, menggerakkan tarbiyah dan menyemarkkan dakwah adalah hal yang tidak kalah penting dari merumuskan program-program kerja setiap tahun.
Oleh karena itu, anggota dan kader Hidayatullah menanti dengan penuh harap agar bisa hadir dalam Silaturahim Nasional (Silatnas) di Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan pada bulan November 2023.
Untuk suksesnya acara tersebut maka diharapkan dalam Rakerwil ini dilakukan penguatan untuk semua kader dan anggota agar bisa mengambil peran dengan mempersiapkan bekal untuk bisa datang ke Balikpapan, menyemarakan dengan acara-acara pra Silatnas di wilayahnya masing-masing, memberikan kontribusi dana untuk persiapan Silatnas.
Silatnas adalah hajatan lima tahunan untuk bisa menjalin silaturahim seluruh dai Hidayatullah secara nasional, menguatkan jatidiri Hidayatullah dan mainstream tarbiyah dan dakwah Hidayatullah.
Rapat Kerja Nasional III di Jakarta awal Desember 2022 lalu kembali menegaskan bahwa fokus kebijakan organisasi saat ini adalah Konsolidasi Jati diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik.
Karena ini sangat penting untuk diwujudkan dari tingkat pusat hingga daerah.
Oleh karena itu dalam rapat kerja wilayah kali ini, Tri Konsolidasi dan Kebijakan Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik, Arah Kebijakan Strategis, Program Umum dan Kesepakatan Rakernas harus dipahami dengan baik oleh peserta rakerwil khususnya oleh pengurus DPW yang bertanggungjawab terhadap terlaksananya program tersebut.
Konsolidasi Jatidiri yaitu internalisasi jatidiri Hidayatullah secara fikriyah dan amaliyah, secara konsep maupun kultur kepada seluruh kader Hidayatullah.
Enam jatidiri harus menjadi doktrin, paradigma berfikir dan spirit gerakan yang menjiwai seluruh kebijakan dan program organisasi. Setiap momen baik formal maupun informal hendaknya dijadikan sebagai sarana transformasi jatidiri secara massif.
Konsolidasi Organisasi adalah upaya membangun soliditas pengurus, kader dan anggota, serta menyatukan kekuatan dan potensi yang dimiliki dalam rangka mewujudkan visi organisasi.
Kebijakan standardisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik terus disosialisasikan dan diimplementasikan dalam berbagai bidang.
Konsolidasi Wawasan dilakukan sebagai upaya peningkatan wawasan keilmuan setiap kader yang meliputi wawasan keislaman, wawasan kelembagaan, wawasan global, wawasan regional dan lokal.
Tujuannya agar pengurus dan memiliki pemahaman yang cukup dan komprehensif sebagai pijakan dalam mengambil kebijakan dan menentukan sikap dalam menghadapi berbagai persoalan dan permasalahan keummatan dan kebangsaan.
Alhamdulillah, kita semua juga sudah semakin mempunyai pemahaman yang sama tentang pentingnya menata organisasi ini lebih terstandar, tersentralisasi dan terintegrasi.
Sentralisasi kebijakan secara nasional dilakukan melalui Peraturan-Peraturan Organisasi, sentralisasi program yang merujuk kepada kebijakan strategis yang diturunkan menjadi program tahunan dalam Musyawarah Majelis Syura dan disosialisasikan melalui Rakernas.
Kebijakan standardisasi di berbagai bidang terus dilakukan, antara lain standardisasi institusi pendidikan sebagai upaya peningkatan kualitas Pendidikan Integral Hidayatullah.
Demikian pula standardisasi halaqah terus ditingkatkan agar kualitas para kader terus meningkat dari waktu ke waktu, baik kualitas intelektual maupun kualitas spritualnya.
Standardisasi ini dilakukan dengan tujuan menjaga kualitas pribadi kader dan institusi melalui sistem yang komprehensif.
Selanjutnya seluruh program-program yang telah dicanangkan akan berjalan dengan baik dengan hasil yang maksimal jika terjadi integrasi, sinergi, dan sinkronisasi serta kerja sama yang baik di antara semua departemen dan institusi yang terkait.
Selain materi penting di atas, ada beberapa agenda penting dalam Rapat Kerja Wilayah kali ini antara lain sebagai berikut: 1. Penyusunan Program kerja dan APBO Tahun 2023 yang mengacu kepada hasil Musyawarah Majelis Syura Nomor 05 tahun 2022 tentang Pengesahan Program Kerja Organisasi tahun 2023 serta rekomendasi Rapat kerja Nasional tahun 2022. Ada panduan Rakerwil dan program skala prioritas untuk memudahkan dalam penyusunan program kerja DPW.
2. Kesepakatan-kesepakatan dalam Rakernas 2023 yang menjadi komitmen setiap DPW diantaranya adalah:
a. Menyukseskan Silatnas 2023 dengan senantiasa mencantumkan logo silatnas di setiap event dan kontribusi anggota/kader setiap bulan 10.000
b. Salah satu syarat utama untuk terselenggaranya Silatnas adalah selesainya pembangunan Masjid Agung Ar Riyadh, ini juga mengajak seluruh anggota dan kader Hidayatullah untuk jihad harta dengan infak.
c. Komitmen menambah anggota melalui berbagai model kegiatan tarbiyah dan dakwah, terutama wali santri yang jumlahnya puluhan ribu orang untuk bisa menjadi anggota Hidayatullah dan terbina dengan baik
d. Komitmen untuk menambah kader melalui kegiatan training Daurah Marhalah Ula dan Daurah Marhalah Wustha baik untuk para santri tingkat SMA maupun melalui rekruitmen anggota-anggota dari masyarakat umum.
e. Komitmen menyukseskan Sinergi Program Mainstream yang dijalankan di kampus-kampus pesantren.
f. Memastikan terselenggaranya Halaqah Ta’lim (Pembinaan anggota), Halaqah Ula santri SMA/MA/SMK, Mhs/wi PTH dan Umum dengan manajemen yang baik dan standar.
g. Memastikan amal usaha dan badan usaha di tingkat wilayah/daerah memenuhi kewajiban kontribusi kepada Organisasi sesuai dengan PO Keuangan yang telah disahkan Menjadi bagian dari upaya membangun close loop economic dengan memastikan Kampus madya/Pratama membeli kebutuhan buku, seragam dan kebutuhan sekolah lainnya dari badan usaha yang telah ditetapkan organisasi untuk menyediakannya termasuk memastikan Majalah Suara Hidayatullah dimiliki oleh setiap kader dan wali santri/wali murid sekolah-sekolah Hidayatullah.
i. Mempersiapkan Kampus Madya yang belum asesmen untuk memenuhi proses standardisasi yang ditetapkan oleh Departemen kepesantrenan
j. Salah satu upaya dukungan DPW/DPD terhadap perkaderan di tingkat perguruan tinggi Hidayatullah adalah dengan cara pengkondisian santri-santri SMA/MA agar tertarik menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Hidayatullah
k. Pendataan secara integrasi untuk database organisasi, kader dan anggota melalui SISTAHID l. Komitmen menjalankan Gerakan Talaqqi Nasional melalui BKPTQ ( Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an) yang dimulai dari pengurus structural, amal usaha dan selanjutnya diikuti oleh seluruh kader.
m. Mengembangkan amal usaha kesehatan dan amal usaha sosial sebagai bentuk pelaksanaan misi Hidayatullah
n. Memastikan setiap kader menjadi penggerak dakwah fardiyah serta memastikan masjid-masjid di Kampus Madya/Pratama aktif melakukan pembinaan jamaah
o. Memastikan administrasi DPW/DPD memenuhi standard yang ditetapkan oleh Organisasi. Kami mengharapkan agar seluruh pengurus struktural terus berkomitmen untuk aktif mengikuti pembinaan melalui halaqah kader, halaqah diniyah dan halaqah taklim.
Dari halaqah kader tersebut setiap kader diberi tugas untuk menjalankan dakwah fardiyah dalam rangka rekruitmen anggota baru. Kita harapkan agar kebijakan ini menjadi kultur (budaya) sehingga setiap kader Hidayatullah aktif berhalaqah untuk meningkatkan kualitas diri secara ruhiyah dan keilmuan serta aktif berdakwah mengajak ummat untuk berislam lebih baik lagi.
Insya Allah seluruh aktifitas yang kita lakukan di lembaga perjuangan ini dengan niat karena Allah dan untuk mencari ridha-Nya akan bernilai ibadah, amal shaleh dan jihad fi sabilillah.
Dalam rangka mencapai tujuan dan target yang diharapkan, kita harus membangun 3 kekuatan, yaitu:
Pertama, quwwah ruhiyah (kekuatan ruhiyah), ini meliputi kekuatan moral dan spiritual. Maka kekuatan ini ditempatkan pada urutan pertama dan utama, sehingga Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) harus menjadi karakter dasar bagi setiap kader, pengurus dan anggota Hidayatullah.
Kemudian menjaga integritas moral dalam menjalankan amanah. Dalam hal ini, semua kader harus dipastikan berhalaqah, ketua halaqah menggerakkannya dan murabbi mengevaluasi mutarabbinya
Kedua, quwwah aqliyah (kekuatan akal). Setelah ruhiyah terus dikuatkan berikutnya adalah akal. Sehingga diharapkan setiap kali kita mengeluarkan gagasan atau ide, itu tidak ada yang keluar dari bimbingan wahyu. Agar pemikiran akal kita terbingkai oleh wahyu.
Penting gerakan membaca dan menulis buku, diskusi untuk memperkaya pengetahuan dan menajamkan pemahaman kader,
Ketiga, quwwah maddiyah (kekuatan material). Kekuatan ini harus dikendalikan oleh jiwa dan pikiran yang suci. Sebagaimana Ibnu Mubarok, yang memilih jalan menjadi pebisnis namun itu dilakukan untuk menjaga izzah ulama bukan sekedar bisnis untuk menumpuk kekayaan.
Keempat, quwwah idariyah (kekuatan manajerial). Setelah kekuatan material diperoleh maka selanjutnya perlu dihadirkan kekuatan manajerial, karena berbagai nikmat harta dan fasilitas akan melenakan jika tidak diatur dengan sebaik-baiknya.(fir)
HidayatullahSulsel.com — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) telah menyelesaikan pembangunan tiga rumah guru di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti, Luwu Timur.
Rumah berukuran 7×8 meter tersebut memiliki 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu dan ruang keluarga.
Peresmian penggunaan rumah guru tersebut menjadi bagian dari kegiatan pembukaan rapat kerja wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulsel, oleh Bupati Luwu Timur Dra H Budiman MPd, Jumat (6/1/2023).
Hadir pula pada persemian itu Kabid Ekonomi DPP Hidayatullah, Wahyu Rahman. Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel, Ust Dra Nasri Bohari MPd serta pengurus daerah Hidayatullah se-Sulsel.
H Budiman sebelumnya membuka kegiatan Rakerwil sekaligus melakukan pemotongan pita sebagai penanda penggunaan rumah guru di lingkungan pondok pesantren Hidayatullah Towuti.
Kegiatan tersebut juga disaksikan anggota DPRD Luwu Timur, Usman Sadik, Abduh, dan Heryanti Harun.
Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir mengatakan pembangunan yang telah dilaksanakan oleh lembaganya merupakan kolaborasi dari berbagai pihak, “Terimakasih kepada para donatur yang telah berkontribusi bagi peningkatan fasilitas di lingkungan pesantren, ” ujarnya.
Lebih lanjut Kadir menyampaikan di tahun ini BMH juga akan melaksanakan beberapa program keumatan, di antaranya pembangunan asrama santri putra.
Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat datang ke kantor Laznas BMH Luwu Timur Jl. Incoiro No.2, Nekkel, Kec. Nuha, Kabupaten Luwu Timur, WA/HP +62 822-9156-7327. (bas/*)
LUTIM, HidayatullahSulsel.com — Bupati Luwu Timur, Drs H Budiman MPd membuka rapat kerja wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Selatan di Ponpes Hidayatullah Towuti, Jum’at, (6/1/2023).
H Budiman mengaku bangga bisa hadir dalam acara Rakerwil Hidayatullah Sulsel, apalagi mendapat kehormatan membuka acara yang dihadiri oleh pengurus DPD dan Kampus Madya se-Sulsel.
“Sebagai pelayan ummat, tentu bertatap muka dengan pengurus Hidayatullah yang datang dari berbagai daerah di Sulsel ini membuat bangga dan terhormat apalagi diberikan kesempatan membuka acara besar ini,” katanya.
Lebih jauh ia menyampaikan bahwa kehadiran Hidayatullah di tengah-tengah masyarakat benar-benar telah memberikan kontribusi yang baik terutama dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusi (SDM)
“Banyak kebaikan yang kita dapat dengan hadirnya Hidayatullah di Luwu Timur ini, kami bersyukur hadirnya Hidayatullah cukup membantu dalam pengembangan SDM,” terang H Budiman.
Ia berjanji akan membantu Hidayatullah untuk kepentingan ummat terutama yang sejalan dengan program pemerintah daerah.
“InsyaAllah Pemerintah Daerah akan senantiasa siap membantu Hidayatullah dan kami senang bisa bekerjasama. yang penting program yang dibutuhkan sejalan dengan pemerintah dan tentu bantuan itu harus mengikuti prosedur yang ada,” terangnya.
Ia berharap semoga dalam Rakerwil yang akan berlangsung selama tiga hari ini, dapat melahirkan langkah-langkah strategis termasuk kolaborasi antara pemerintah dan Hidayatullah dalam meningkatkan nilai-nilai agama di Luwu Timur khususnya dan Sulsel.
“Kita semua berharap, semoga kegiatan Rakerwil ini dapat menjadi sebuah langkah strategis bagi pemerintah dan para tokoh agama untuk merumuskan berbagai hal dan gagasan-gagasan dalam rangka meningkatkan nilai-nilai agama di Luwu Timur yang kita cintai ini,” harapnya.(Ridwan Gagah)
Oleh : Dwi Fii Amanillah, Kadep Tarbiyah dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Awal perintisan pesantren Hidayatullah Bulukumba di dataran penuh bebatuan di lingkungan Batua Padangmonro Desa Garanta Kecamatan Ujungloe merupakan sepenggal kisah kehidupan yang begitu membahagiakan menorehkan makna yang begitu mendalam.
Di masa -masa perintisan yang penuh dengan kekurangan itulah, pertolongan Allah terasa begitu dekat. Di gubuk beratapkan rumbia di tengah perkebunan tebu, berteman bintang-bintang malam dan lampu teplok yang cahaya timbul tenggelam di sinilah dzikir dan doa dimunajatkan dalam sholat dalam lirihnya lantunan doa penuh kekhusyukan.
Di sini pulalah tetesan peluh keringat terasa begitu berarti dan menyegarkan badan. Aura keberkahan di kampus peradaban Padangmonro begitu berkesan bagi siapa pun yang turut ambil bagian membersamai perintisan kampus pesantren Hidayatullah tersebut.
Ada seorang dokter teladan yang selalu menyempatkan hadir di kampus pesantren, sekedar ingin melepas lelah dan bercengkerama dengan para dai perintis sambil menyeruput teh hangat.
Ada juga preman insyaf yang dengan senang hati menghibahkan waktu dan tenaganya untuk membantu pembangunan pondok dan masih banyak para muhsinin lainnya yang dengan suka cita membantu memenuhi kebutuhan kampus.
Penduduk di dusun Padangmondro pun secara rutin setiap kali panen mengirimkan jagung dan sayur mayur untuk kebutuhan warga dan santri mukim yang pada saat perintisan baru berjumlah belasan orang saja.
Terkait perintisan, setidaknya ada 3 wejangan yang menjadi bekal dan inspirasi bagi petugas perintisan, yang pertama adalah pesan dari Allahuyarham Ust. Abdullah Said (pendiri Hidayatullah) untuk mencontoh Nabiyullah Ibrahim ketika beliau menempatkan Istri dan anak keturunnanya di lembah bakkah (Mekkah) yang sangat kering dan tandus tanpa pepohonan, dengan menitip bekal tawakkal kepada Allah dan perintah untuk mendirikan sholat.
Dengan keyakinan yang kuat dan kesabaran yang luar biasa dari keluarga Nabi Ibrahim mengundang rahmat Allah dengan ditemukannya sumber air yang penuh berkah yakni sumur Zam zam.
Keberadaan sumur ini telah mengundang para kafilah dagang yang sering melintas di kawasan tersebut untuk singgah bahkan menetap di lembah Bakkah.
Wejangan kedua adalah pesan kepada para kader yang ditugaskan ke daerah untuk mencari sosok pendukung dakwah yang diinterpretasikan sesuai karakterristik sahabat Nabi Muhammad SAW.
Mencari sosok seperti Abu Bakar Asshidiq selaku tokoh masyarakat yang mengayomi dan terpercaya, mencari sosok seperti Bilal bin Rabah yang berasal dari kalangan bawah/ dhuafa tapi sangat kuat aqidah ibadahnya dan fisiknya, mencari sosok seperti Ali Bin Abi Thalib yang cerdas dan pemberani, mencari sosok seperti Umar bin Khattab yang kuat dan ditakuti oleh musuh-musuhnya serta mencari sosok seperti Usman bin Affan yang kaya dan sangat dermawan.
Recruitmen stock holder ala manhaj nubuwah di awal perintisan jaringan dakwah maupun kampus pesantren ini, dimaksudkan untuk memudahkan dan mempercepat landingnya gerakan dakwah untuk terbangunnya peradaban Islam di sebuah daerah atau wilayah.
Wejangan ketiga adalah pesan untuk menyebarkan salam dan memberi makan. Pesan ini diejawantahkan di lapangan oleh para kader dai Hidayatullah untuk selalu menyebarkan rahmat ke seluruh alam dengan rajin bersilaturahmi dengan santun dan menampilkan akhlaqul karimah. Adapun memberi makan diterjemahkan dengan mendirikan Baitul Maal dan mengumpulkan anak anak yatim.
Jika semua kaidah dan tatacara dalam mengawali dakwah dan perintisan kampus-kampus peradaban tersebut diterapkan secara baik maka jalan-jalan hidayah akan terus terbuka lebar menembus ke seluruh penjuru negeri, punya pengaruh dan kekuatan.(bersambung/*)
TAKALAR, HidayatullahSulsel.com — Untaian do’a untuk kebaikan bangsa dan negara bersama santri dan pengurus dilaksanakan Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar, Jumat (30/12/2022)
Santri dan walinya bersama pengurus Ponpes hadir dalam acara ini. Turut hadir Haji Achmad Daeng Se’re tokoh masyarakat setempat bersama keluarga
Menurut Aji De’de panggilan akrab beliau, do’a penghafal Qur’an itu makbul.
“Rangkaian do’a bersama ini, selain untuk bangsa dan negara kita khususkan juga untuk bapak Panglima TNI yang baru-baru dilantik juga Bapak Kepala Staf Angkatan Laut, semoga diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan tugas-tugas mulianya,” ucapnya.
Sementara itu Pimpinan Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar Ust. Arham mengaku senang atas kehadiran Bapak Achmad Daeng Se’re di Pondok terlebih ikut bersama wali santri dan pengurus dalam doa bersama untuk kebaikan bangsa dan negara
“Senang rasanya dengan kehadiran A’jiku yang selama ini telah membersamai kita, beliau selalu memberikan dukungan juga kepercayaan dalam berbagai kegiatan syiar agama di pondok, dari dulu di awal-awal pondok tahfidz ahlul jannah ini baru dirintis dan waktu itu beliau masih menjabat sebagai wakil bupati. Beliau hadir dan menyaksikan secara langsung kegiatan di tempat yang begitu sederhana ini, hingga sekarang masih tetap membersamai kita alhamdulillah,” pungkasnya
Ada harapan dalam doa yang dipimpin langsung Pengasuh Pondok Ust. Mansur kiranya bangsa ini senantiasa dalam lindungan Allah SWT, menjadi bangsa yang “Baldatun Toyyobatun Warobbun Ghafuur”.(mansyur/*)
Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Takalar sedang menggalang dana untuk pemasangan dinding dan jendela Musolah
Bagi Anda yang ingin terlibat menyumbang, dapat menghubungi Admin Nomor 081343785554/ 085316660220, Rekening BRI No.0250-01-025239-53-4 an Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar
Oleh : Dwi Fii Amanillah, Kadep Tarbiyah dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Siang itu di dalam mobil angkot jurusan Bulikumba kota – Kajang yang cukup padat penumpangnya, terdengar obrolan kecil dari penumpang yang duduk di deretan kursi bagian depan membahas tentang jauhnya tempat tugas mereka sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Seorang wanita di antara mereka berujar, “Kita jauh-jauh dari kampung halaman rela ditugaskan di mana saja dan dengan berat hati terpaksa bertahan karena urusan gaji dan mencari uang. Begitu kan Pak ?”
Ia menoleh mengarahkan pandangan kepada ku yang duduk di sampingnya. Rupanya pertanyaan itu ditujukan kepadaku. Dengan sedikit tertegun Aku pun menjawab, “Tidak semua juga begitu Bu ! Manusia itu akan bergerak sesuai orientasi dan tujuan hidupnya. Ada yang semata-mata mengejar dunia ada pula yang menjadikan dunia hanya sekadar wasilah untuk untuk meraih kebaikan akhiratnya.”
Mendengar jawaban yang nuansanya beda dengan keinginanya itu, si Ibu pun terdiam dan tidak melanjutkan obrolannya.
Membahas tentang orientasi hidup akan beririsan dan bersentuhan langsung dalam kehidupan kita. Orientasi hidup seseorang bisa berubah atau mengalami pergeseran sesuai dengan situasi yang mempengaruhi pemikiran, pemahaman dan pemaknaannya tentang kehidupan itu sendiri.
Hal ini telah disampaikan oleh Rasulullah SAW, dari Zaid bin Tsabit RA, ia mendengar, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa tujuan hidupnya adalah dunia maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barang siapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR Ahmad).
Masih banyak di dunia ini manusia-manusia yang tetap komitmen menjaga orientasi hidupnya sesuai fitrah penciptaannya yakni menjadikan dunia ini sebagai tempat dan wasilah ubudiyah (peribadatan) kepada Allah SWT sebagai wujud kecintaan hamba kepada penciptanya.
Mereka adalah orang orang yang rela meninggalkan kampung halaman, meninggalkan iming-iming jabatan dan kedudukan serta profesi yang menjanjikan kemapanan finansial. Mereka ditugaskan jauh dari kampung halaman bukan karena urusan ngejar pangkat dan gaji tapi kerena panggilah hati untuk berkhidmat kepada ummat menjadi Dai yang menggajak manusia kembali kepada Allah SWT.
Dai adalah profesi utamanya, profesi lainnya tetap mereka jalani namun semua terbingkai dengan orientasi dan tujuan untuk Li i’laai Kalimatillaahi (meninggikan kalimat Allah) dan menggapai mardhatillah (keridhaan Allah). Semangat pengabdiannya tidak pernah padam walaupun gaji mereka kecil dan hidup dalam kondisi serba terbatas.
Merintis pesantren menjadi misi para kader yang dididik dan bergabung di lembaga perjuangan Hidayatullah. Tidak sah rasanya jika seorang kader pejuang Islam tidak merasakan indahnya romantika perintisan, berjibaku di medan dakwah berusaha mandiri dengan tantangan hidup yang serba kekurangan dari sisi materi bahkan tak jarang harus tinggal di daerah terpencil dan terisolasi tanpa listrik maupun air yang memadai.
Berat, susah tapi semua bisa dijalani dengan hati yang merdeka. Hati yang senantiasa dekat dengan Tuhannya, hati yang bersih tidak kerasukan atau dirusakkan oleh nafsu duniawi, hati yang betul-betul murni memancarkan berkah Ilahi. Inilah nikmat yang selalu bertambah ketika terus dibagi.(*/bersambung)
LUWU, HidayatullahSulsel.com — Proses belajar mengajar untuk semester ganjil telah usai. Bertepatan dengan hari pertama di tahun yang baru (2023), Pondok Putri Pesantren Hidayatullah Belopa menggelar kegiatan “Pembagian Rapor Semester Ganjil dan Penutupan Pekan Olahraga & Seni (Porseni) Santri Putri Hidayatullah Belopa”, Ahad (1/1/2023).
Kegiatan rutin diselenggarakan setiap tahun tersebut, turut dihadiri oleh sejumlah orangtua/wali santri. Di depan para pengurus yayasan, puluhan santri dan para guru, Ketua Yayasan Al-Jihad Islamic Boarding School Ponpes Putri Hidayatullah Belopa, Ustadz Hamzah Sultan, memberikan sambutan sekaligus menutup Porseni santri Hidayatullah Belopa.
Dalam sambutannya, Hamzah menekankan kepada para santri untuk selalu dekat dengan Al-Qur’an sekalipun berada pada masa-masa libur sekolah.
“Meski sudah libur, anak-anakku sekalian jangan menjauh dari Qur’an. Jika di rumah tidak ada Al-Qur’an, maka silahkan bawa pulang Qur’annya yang di pondok. Bawa saja ke rumah,” tegas Hamzah.
Di samping itu, Ustadz yang merupakan putra asli kabupaten Bone tersebut menitipkan pesan bahwa, libur bagi seorang santri bukanlah kebebasan tanpa kontrol. Terlebih lagi dalam hal penggunaan smartphone yang acapkali tidak mengenal waktu.
“Libur seharusnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Tunjukkan adab seorang santri di lingkungan rumah, dan sesering mungkin bantu orangtua di rumah. Jangan sibuk dengan hp-nya terus. Kepada orangtua santri yang hadir, kami mohon bantu kami dalam mengontrol anak-anak kita ini. Jangan dibiarkan terlalu larut dengan hp-nya,” pesan Hamzah kepada para santri dengan penuh penekanan.
Acara yang berlangsung meriah tersebut turut dirangkaikan dengan pembagian sertifikat untuk sejumlah santri yang mencapai target hafalan Qur’an, santri terbaik dan santri tauladan.
Menurut Kepala Sekolah SMP-SMA Ponpes Putri Hidayatullah Belopa, pemberian sertifikat tersebut merupakan wujud apresiasi sekolah agar para santri bisa lebih termotivasi untuk terus belajar.(Ian Kassa)
Oleh : Fatahillah al Ayubi,Bendahara DPD Hidayatullah Maros
HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah, nyawa perjuangan adalah GNH (Gerakan Nawafil Hidayatullah), Halaqoh dan mabit (Malam Bina Iman Taqwa), aktifasi kuota dan pulsa GNH merupakan keharusan sebagai wujud dari anti bodi pergerakan, sehingga mampu menghalau segala bentuk rayuan, godaan setan dan kawannya.
GNH adalah hasil kontemplasi bertujuan menjaga kesehatan jiwa kader, di tengah maju dan berkembangnya kehidupan modern manusia. Setelah perjalanan panjang yang telah dimuswarahkan, dimujahadakan, dan dimunajatkan, maka setiap kader wajib memberikan informasi ke Mmurobbi terkait GNH setiap harinya, tujuannya untuk meningkatkan kualitas jiwa kader.
“Bangunlah jiwanya bangunlah badannya,” merupakan amanat para pendiri bangsa Indonesia yang mereka mayoritas ulama, sehingga prioritas utama para pemangku kebijakan menunaikan amanat itu dengan kesungguhan, ditandai menjalankan setiap hasil musyawarah penuh dedikasi.
Artinya menjadi kewajiban yang wajib dilaksanakan dengan penuh gelora keihklasan, keseriusan dan penuh penghayatan. Sehingga generasi ini tidak hanya cerdas intelektual, juga spiritual dan emosionalnya juga oke. Kita tidak ingin ia jujur tapi malas, pintar tapi suka bohong, rajin sholat tapi rajin berbohong. Kita tidak ingin itu, kita ingin ia rajin sholat juga jujur, cerdas dan bertaqwa.
Bagaimana mewujudkan dan cita-cita para pejuang kemerdekaan itu. Caranya dengan melatih jiwa melalui GNHalaqohMabit. Sesuatu yang tak terlatih maka cenderung tak mampu mengatasi setiap keadaan, dirinya rapuh, alasan demi alasan akan hadir untuk tidak ikut serta dalam meraih kesuksesan keberkahan secara jama’i
Sifat manusia lalai dan lupa, terlebih dizaman modern, salah adalah kepastian, sedangkan melatih ber GNHalaqohmabit adalah keniscayaan. Hidup bukan soal siapa salah?, siapa benar?, bukan itu poinnya gaisss!, tapi bagaimana bersama memperbaiki yang belum baik, dan membesarkan yang kecil, bukan mengecilakan yang besar, karena kita ingin sukses berkah berjamaah bukan sekedar tagline, tapi lebih dari itu memiliki spirit yang hidup dan menghidupkan
Maraknya kezaliman, ketidakadilan, tidak menjalankan hasil musyawarah, dan tidak berupaya menjalankan hasil musyawarah merupakan hambatan besar mendapatkan Ridho ilahiah, sehingga peran GNHalaqohMabit menjadi solusi solutif untuk mencegah terjadinya banyak penyimpangan,
Bagaimana menghadapi kehidupan yang demikian hari semakin meruntuhkan iman, degradasi moral terjadi di mana mana, ketidakpedulian terhadap generasi begitu tajam, perlombaan materi begitu terang, percantikan fisik ditotalkan sedangkan non fisik diabaikan, kita lebih takut kehabisan saldo dollar ketimbang kehabisan saldo iman?
Yang paling berharga dalam perjuangan adalah generasi, maka energi tenaga, dana, dan waktu harus total merawat, dan membina generasi melalui program pendidikan, dakwah dan sosial, dengan sinergi dan kolaborasi full power, tanpa itu nihil !
Berjamaah membangun jiwa raga generasi harus mampu diimplementasikan dalam bentuk program-program yang bernafaskan Al Alaq, Al Ma’un, Al Qolam, Al Muzammil, Al Mudatsir, dan Al Fatihah.
Meracik dan meramu menjadi sebuah nafas program jangka pendek dan panjang, sehingga nyawa generasi benar-benar tercas full dan siap berjihad dengan total, tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa letih
Ujian fitnah, tuduhan dan rongrongan kaum munafik pasti akan selalu mengalir deras pagi pecinta kebaikan, itu sunnatullah karena itu perwujudan dari aksioma apakah benar ” nyawa GNH ” hidup, atau hanya sekedar tagline tanpa evaluasi!
Pemahaman yang baik akan dahsyatnya “Ruh GNH” ia akan terus maksimal menjalankannya, karena dia paham dengan GNH hidup dapat meraih ridho ilahiah dengan GNH sukses berkah berjamaah dapat diraih
Sama halnya kalau kita dengar akan ada pembagian mobil esok di masjid Hidayatullah Batangase Maros, dan kepala ikan, bagi yang paham dan mengetahui maka ia akan datang dengan segala ikhtiarnya, nah ini GNH sesungguhnya lebih dari isi dan dunia, lalu apa yg membuat kita tidak terpesona ?
Pertama ketidaktahuan, dan kedua karena dunia lebih mendominasi kehidupan, karena sekali lagi ini panggilan iman harus dijawab dengan iman.
Pemahaman Al Alaq yang tuntas berperan penting agar gelora GNHalaqohMabit terus diperjuangkan mengalir di darah generasi dengan berbagai bentuk program, kontroling, evaluasi, karena apalag arti sebuah fisik tanpa nyawa GNH.
Mari berlomba di arena kebaikan, bila tidak mampu, mari berlomba di arena istighfar, karena hidup adalah kematian sedangkan kematian adalah kehidupan.
Terkamlah sesuatu yang dibawa mati. Jangan justru menerkam sesuatu dengan mati-matian sesuatu yang tidak dibawa mati.
Wahai insan yang memiliki iman, ingatlah siapkanlah bekal untuk menyongsong kehidupan abadi dengan terus memperhatikan dan bermuhasabah penuh kesungguhan sudah benarkah cara kita berjuang dan berGNHalaqohMabit ? (*)