HidayatullahSulsel.com — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) melepas armada ekspedisi “Bukti Nyata Kebaikan.”
Pelepasan armada tersebut turut dihadiri Rijal Djamal, Konten Kreator Sulsel, membawa berbagai bahan makanan pokok berupa beras, sayur cool, sawi putih, wortel dan lainnya, sebagai donasi kepada santri tahfizh, Rabu (21/3/2023).
Program ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan dasar berupa sahur dan buka puasa santri dapat terpenuhi selama bulan Ramadhan. Program ini terlaksana di delapan titik yakni, Makassar, Maros, Bone, Parepare, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur.
Rijal Djamal menyampaikan program kebaikan yang dilaksanakan oleh Laznas BMH menjadi penting bagi masyarakat yang membutuhkan, dan kebaikan kebaikan tersebut dapat menginspirasi orang lain untuk hal yang sama.
“Bismillah. Program ekspedisi bukti nyata kebaikan dari Laznas BMH ini harapannya terus di siarkan oleh berbagai media, dan menginspirasi. Kita juga perlu memastikan jangan sampai kita menikmati sahur tapi ada tetangga kita yang setengah mati untuk menikmati sahurnya,” ujar Rijal.
Sementara itu, Mudir Ponpes Tahfizh Ummul Qura Tompobuku Ustadz Ahmad Harun menyampaikan apresiasi kepada Laznas BMH. “Program bukti nyata kebaikan ini, telah kami rasakan kebermanfaatannya, seperti penyediaan asrama santri, sumur dan instalasi air bersih serta pemenuhan kebutuhan pokok berupa beras untuk santri tahfidz Al Quran,” ujarnya.(basori/*)
Parepare, HidayatullahSulsel.com — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare mengadakan kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) di Aula Lowita Beach Black Orange, Pinrang pada Ahad (19/3/2023).
Mabit diikuti seluruh kader Kampus Madya Hidayatullah Parepare. Hadir Ustadz Drs Ismail Mukhtar, Anggota Dewan Murobbiyah Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan memberikan spirit dalam menyambut tamu Istimewa Ramadhan.
“Apabila dalam setiap kebiasaan yang ada di sekitar kita, sangat antusis dalam menyambut hari jadi kesekian kalinya, bahkan dengan anggaran yang tidak sedikit, seperti yang selalu disebut ulang tahun, baik pribadi, komunitas, tingkat kota, provinsi maupun lingkup negara. Maka sudah sepantasnya bagi orang beriman agar antusias dalam menyambut bulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam dan sahabatnya menyongsong dengan penuh kegembiraan,” ujarnya.
Ia pun mengajak kepada setiap kader untuk mempersiapkan target-target hatam bacaan al Qur’an yang akan dituntaskan selama satu bulan penuh.
Sebagaimana para shahabat Rasulullah dahulu, urainya, yang akan melaporkan kepada Rasulullah bahwa akan menghatamkan bacaannya berkali-kali, jangan sampai seorang kader tidak menuntaskan satu juz dalam satu bulan.
“Sebab dengan desakan iman maka akan ada ketidakpuasan jika menjalankan ibadah biasa-biasa saja. Berupaya menghindarkan diri untuk menghabiskan waktu di pasar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, agar tidak terganggu dalam konsentrasi ibadah. Sehingga sangat perlu menyibukkan diri untuk kebutuhan konsumsi ruhiyah. Berupaya disibukkan bersama Qur’an termasuk pengamalannya.” lanjutnya.
Selain memberikan tausiyah, Pembina Kampus Madya Bone ini pun membuka kegiatan Family Gathering Yayasan Pesantren Hidayatullah Parepare secara resmi.
Acara pembukaan yang juga dihadiri oleh mahasiswa KKN dari Institut Andi Sapada Parepare juga bapak Ruslan Sekeluarga, Owner Pantai Black Orange Lowita. (Sahlah al-Ghumaishaa’)
HidayatullahSulsel.com — Sebanyak lima pedagang mitra Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) meramaikan pagelaran Tarhib Ramadhan yang diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan santri dan para dai yang hadir dari berbagai wilayah pedalaman Sulsel. (18/3/2023).
Pelaksanaan kegiatan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar menyediakan berbagai menu makanan ringan seperti pentol bakso, rujak, tokayaki, dan kopi. Makanan pengisi waktu santai itu dibagikan secara cuma-cuma kepada peserta.
Akbar, salah seorang mitra yang berjualan pentol mengatakan Program BMH sangat membantu dirinya. Bukan saja memberi modal awal, namun juga melibatkan dirinya dan mitra yang lain dalam event yang diselenggarakan oleh Laznas BMH Sulsel.
“Kami berharap modal usaha yang diberikan dapat berkembang dan menghasilkan keuntungan untuk kemandirian mereka,” ujar Kadiv. Prodaya Laznas BMH Sulsel, Basori Shobirin.
Basori menambahkan, perubahan yang ingin dicapai lembaganya pada penerima modal, juga mampu menjaga iman dan hijrah mereka. “Sehingga maqosid zakat, berupa tujuan zakat untuk menjaga agama dan jiwa dapat tercapai,” Pungkas Basori.(rls/*)
Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd,Ketua DPW Hidayatullah Sulsel
HidayatullahSulsel.com — Siapa sih yang tidak senang menjadi anak bos. Anak dari orang tajir, penguasa, pengusaha, pejabat atau tokoh. Orang tuanya berpengaruh, punya banyak harta, banyak pembantu atau pelayan, mendapatkan fasilitas kehidupan serba ada
Dengan berbagai kelebihan orang tuanyalah, dia mudah mendapatkan akses untuk memanfaatkan semua fasilitas yang dimiliki dan diterima orang tuanya. Bisa membeli dan mendapatkan apa saja yang diinginkannya.
Dan atas fasilitas layanan yang dimiliki orangtuanya, diapun bisa menjadi bos kecil yang harus dilayani dan difasilitasi segala keperluan hidup kesehariannya
Bagi anak dari orangtua lebih tajir, kadang dilayani oleh pembantu yang disiapkan mengurus segala keperluan sehari-harinya. Membuat anak tumbuh menjadi individu termanjakan, bisa jadi berakibat tak mampu belajar mandiri, sekalipun pada hal sederhana seperti mengurus kebutuhan dirinya sendiri.
Mental Bos
Sebenarnya mentalitas bos dalam arti pertumbuhan bakat kepemimpinan adalah hal positif ketika dikaitkan dengan pengembangan potensi diri seseorang. Karena salah satu sifat pemimpin adalah mampu mengatur dan memberikan instruksi pada orang lain. Dan itu dapat terlihat sejak kecil
Hanya saja, mentalitas bos jika tidak tumbuh dengan baik dari proses tarbiyah atau pendidikan serta lingkungan keluarga dan masyarakat yang baik, dapat menciptakan mentalitas bos yang karbitan.
Dia pun menjadi bos karena hanya numpang pada kebesaran pengaruh dan kekuasaan orangtuanya. Tidak sebagaimana orangtuanya dulu yang sukses menjadi orang hebat karena dibangun dengan tekun dan ulet dari bawah
Mentalitas bos juga bisa muncul di tengah-tengah keluarga yang memberikan fasilitas dan layanan kasih sayang yang tidak tepat. Dengan alasan kasih sayang semua keinginan anaknya diberikan, seperti kebebasan bergaul dan beraktivitas tanpa batas, membelikan kendaraan mewah, dan memberikan segala kebutuhan keseharian yang di atas kewajaran.
Tumbuhlah dia menjadi bos kecil semu, merasa menjadi bos di tengah kemanjaan dan kebebasan berbuat selayaknya seorang pejabat atau pembesar. Di saat perkembangan pikiran dan kedewaan mentalnya belum matang.
Sementara pencapain prestasi orangtuanya hingga menjadi orang sukses adalah dengan perjuangan dan ujian kehidupan yang panjang dan berliku-liku sampai pada kesuksesan seperti saat ini.
Saat orangtuanya berada pada posisi sukses seperti saat ini, kadang orangtuanya sendiri tidak memperlakukan anaknya sebagaimana dia terproses dengan penuh disiplin dan perjuangan berat dari orang biasa-biasa menjadi orang yang sukses.
Sebenarnya mentalitas bos tidak saja terjadi pada anak kalangan Borjuis, bisa saja juga muncul di kalangan masyarakat menengah ke bawah.
Hal ini disebabkan oleh kurang terperhatikannya pembinaan dan pendampingan pada proses perkembangan kedewasaan anak membuat anak terbentuk menjadi anak susah diatur. Dan cenderung egois dan bertingkah laku menyimpang serta diperturutkan segala keinginannya.
Pelarian Diri
Terjadinya perilaku menyimpang menjadi seorang bermentalitas bos adalah juga disebabkan oleh faktor kedekatan dan keteladanan yang kurang dari orangtua. Dianggapnya sudah tuntas kewajiban orangtua pada anaknya manakala segala fasilitas dan keinginannya materil dan telah terpenuhi.
Sementara ada keperluan mendasar dalam diri anak. Dia membutuhkan sentuhan jiwa, cinta dan kasih sayang. Dia memerlukan sosok figur panutan yang bisa dicontoh. Tempat berlabuh, berbagai dan berkonsultasi terhadap problematika hidup. Sehingga memilik kesiapan mental menghadapi kesuksesan masa depannya.
Kegersangan perhatian dan kasih sayang dari orang tua membuat anak mencari pelarian diri di luar rumahnya. Mencari tempat.dan sosok yang dapat menerima keberadaan diri dengan berbagai keinginan serta mendapatkan pengakuan diri bahwa dia mampu mengatasi permasalahan dirinya .
Diperlukannya sosok figur yang dapat menerima dan memahami problematika dan gejolak perkembangan dirinya, menuju ketercapain idealitas yang dicita-citakannya.
Ketika seorang anak, khususnya yang menginjak usia remaja ataupun pemuda tidak mendapat ruang dan sosok dalam lingkungan keluarga. Maka pelarian diri tersebut bisa menjadi persimpangan jalan yang menggalaukannya.
Kondisi kejiwaan seperti itu menuntut panggilan tanggung jawab dan kasih sayang baik dari pihak orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan anak, maupun peran aktif stakeholder lain.seperti pada pendidik, pemerintah dan masyarakat secara umum.
Meyatimkan Anak Bos
Merujuk kepada kesuksesan pendidikan pada diri Muhammad SAW menjadi manusia termulia tak lepas dari peran pendidikan masa pra kenabian yakni fase keyatiman. Masa dimana mulai ketika Muhammad terlahir hingga tumbuh menjadi dewasa selalu diselimuti oleh kehilangan orang tua dan pengasuh dari kerabat terdekatnya.
Peyatiman anak yang dimaksud disini tidak berarti seorang anak harus selalu beratatus sebagai anak yang tidak memiliki orang tua secara biologis. Tapi yatim berarti sebuah proses pendidikan anak yang tidak menjadikan orangtua sebagai sosok yang terlalu dibanggakan dan menggantungkan segala harapan hidupnya
Peyatiman adalah pembentukan karakter anak yang tumbuh dan mandiri dari penggalian potensi dirinya untuk dia kembangkan sendiri menjadi anak yang tampil beda sesuai bakat dan karakteristik masing-masing.
Meyatimkan adalah upaya orangtua dan pihak terkait untuk mendidik anak dengan benar. Dengan tidak terlalu memanjakannya, tetapi juga tetap senantiasa menjaga kedekatan dalam pola kepengasuhan dengan pendekatan cinta dan kasih sayang dari orang tua tua serta pada pendidik yang terkait
Meyatimkan adalah cara efektif mengantar pembentukan mentalitas bos menjadi calon pemimpin yang tumbuh kembang sesuai contoh yang banyak dituntun dan dikisah dalam Alquran. Namun tentu dengan tetap pada prinsip alami sebagai mana anak dan pemuda layaknya berkembang.
Agar perkembangan mentalitas bos menjadi bermental calon pemimpin yang terproses dengan. Maka calon pemimpin harus diproses dan diprogram pembentukan karakter kepemimpinannya,
Sebagaimana Allah Ta’ala memproses pembentukan kepemimpinan Muhammad sejak bayi hingga dewasa, hingga menjadi sosok pemimpin terhebat di dunia.
Cara terbaik mencetak calon pemimpin adalah menapaktilasi bagaimana Allah memproses Muhammad menjadi pemimpin. Dan selanjutnya menapaktilasi bagaimana Muhammad SAW juga membimbing dan mengkader para sahabatnya.(*)
HidayatullahSulsel.com — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) melaksanakan kegiatan Sehat Sambut Ramadhan. Layanan pemeriksaan kesehatan tersebut ditujukan bagi para dai peserta Tarhib Ramadhan yang dipusatkan di Pondok Pesantren Al Bayan Hidayatullah Makassar, Jumat-Sabtu (18/03/23).
Sebanyak 200 dai dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan mengikuti pencerahan yang dilakukan oleh beberapa pembicara seperti, Ustadz Aziz Qahhar Muzakkar, Ustadz Abdul Majid, MA. Ustadz Nasri Bohari MPd, Ustadz Ahkam Sumadiana, MA. Dr Sahabuddin Laning, Dr Nasrullah Sapa, KH Syahrir Nuhun.
Laznas BMH menenempatkan 4 tenaga kesehatan yang dapat di akses oleh para dai, selain konsultasi ksehatan peserta bisa melakukan pemeriksaan kondisi gula darah, kolestrol, maupun asam urat.
Ustads Edy Almakassari, yang datang dari Pettalasang, Gowa mengungkap selain dapat mengikuti rangkaian Tarhib Ramadhan, yang menguatkan ruhiah juga memeriksakan kondisi fisiknya.
“Alhamdulillah fasilatas layanan pemeriksaann kesehatan ini sangat baik, karena kita bisa memastikan kesehatan sebelum masuk bulan ramadhan. Dengan mengetahui kondisi kita bisa maksimal dalam menjalankan ibadhan Ramadhan,” ujar Edy yang juga pengurus Masjid Al Mujahidin Pettalasang.
Kadiv. Program Laznas BMH, Basori Shobirin mengatakan layanan yang diberikan lembaganya menjadi kesiapan bagi semua pihak untuk memasuki datangnya bulan Ramadhan.
“Di bulan Ramadhan tentu banyak target ibadah dan muamalah yang ingin dicapai, dengan sehat itulah kita berharap bisa maksimal,” ujar Basori.(*)
Maros, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Maros bersama BMH dan Baitul Wakaf terus bersama-sama menggencarkan pelaksanaan program dakwah dan tarbiyah Quran di Maros.
“Membangun gerakan berantas buta huruf Qur’an menjadi program andalan DPD Hidayatullah Maros, terhitung ada 6 titik yang tersebar di beberapa kecamatan di Maros sebagai basis perubahan dan perbaikan membangun jiwa raga masyarakat Maros melalu program -program pendidikan Al Qur’an, sosial, dakwah dan kemanusiaan,” jelas Bendahara DPD Hidayatullah Maros, Ust Fatahillah Al Ayubi, pekan ini.
Menurutnya ada banyak program dan kegiatan dilaksanakan dengan spirit kolaborasi sehingga masyarakat Maros akan lebih merasakan manfaat kehadiran Hidayatullah dan BMH.
“Alhamdulillah, di kampus III Hidayatullah Batangase Maros yang menjadi binaan BMH Gerai Maros dilaksanakan wisuda 25 santri putra dan putri kelulusan penamatan Iqro, Kamis, (16/3/2023),” jelasnya.
Hadir tokoh masyarakat puang Rahman. Dalam sambutannya, ia banyak berterima kasih atas kiprah Hidayatullah. Ia juga mengajak untuk mendukung program Hidayatullah.
Pada kesempatan yang sama Ketua DPD Hidayatullah Maros, Ust Muhammad Kaisar juga mengajak agar masyarakat dapat berzakat, infak dan wakaf melalui lembaga resmi BMH.
Hadir pula dai muda Ustadz Mu’tasim Safri Ja’far Lc MPdi mengisi tarhib Ramadhan. “Menghadapi Ramadhan mari kita menjaga stamina, menjaga pola hidup sehat dan terpenting menyambut Ramadhan dengan ilmu, agar kita bisa shalat dan mengaji dengan optimal,” ujarnya?
Kegiatan yang sama menyambur Ramadhan DPD Hidayatullah Maros di pondok Tahfidz Darul Hijrah, Jumat (17/3/2023). Kadep Dakwah DPD Hidayatullah Maros ust Robianto memandu Pembekalan Ramadhan kepada santri Pondok Tahfidz Putra dan Putri
Ketua Pembina Yayasan Pondok Tahfidz Darul Hijrah Hidayatullah Tanralili Maros Ust Muhammad Kaisar memberi arahan untuk Ramadhan Tri sukses yaitu sukses ibadah, sukses tarbiyah dan sukses layanan ummat.
“Alhamdulillah pada Ramadhan ini DPD Hidayatullah Maros bermitra dengan Baitul Wakaf untuk menggalang dana wakaf berupa wakaf masjid, madrasah dan makam serta program wakaf produktif,” jelasnya.(rls/*)
*) Program wakaf Al Quran Rp 150.000, wakaf masjid mulai Rp.50.000. Bagi yang ingin berwakaf Al Qur an dan Pembangunan Masjid bisa menghubungi : ust Muhammad Kaisar📱081342563546 mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros
HidayatullahSulsel.com — Jelang datangnya Ramadhan 1444 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) mengelar buka puasa sunnah di 6 titik. Dengan total penerima manfaat mencapai 500 santri Tahfidz Al Quran, Kamis (16/3/2023).
Seorang santri tahfidz Ahlul Jannah Gowa, Abu Bakar, menyampaikan rasa terimakasihnya atas buka puasa menu spesial dari Laznas BMH.
“Dengan adanya puasa sunnah yang sudah rutin dilakukan santri maka insyaallah, Ramadhan tidak lagi berat dan bisa lebih meningkatkan target amal ibadah. Seperti khataman al quran, sedekah, maupun shalat tarawih dan shalat malam,” jelas Kadiv Markom Laznas BMH Sulsel, Rizki Dacosta.
Ia menyampaikan bahwa buka puasa untuk santri tersebut merupakan amanah donatur “Semoga Seluruh Donatur yang telah ikut menyiapkan menu buka puasa untuk santri Allah berikan pahala, Allah sehatkan mereka dan semoga yang lagi sakit Allah sembuhkan. Dan pertemukan kita semua dengan Bulan Ramadhan,” ujarnya.
Ia juga menghimbau lembaganya membuka peluang untuk bekerjasama penyaluran buka puasa. Saat ini terdapat 32 implementator program dari pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai 2.285 santri.(rls/*)
Dukungan donasi buka puasa dapat disalurkan melalui kantor layanan Laznas BMH, Jalan Tamalanrea Raya No.27A Makassar. Layanan jemput donasi HP/WA : 0857 1994 2004. Rekening Donasi an. Baitul Maal Hidayatullah. BSI: 1000258225.
Barru, HidayatullahSulsel.com — Departemen Pendidikan dan Pesantren (Depdiktren) DPW Hidayatullah Sulsel menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Pondok Tahfidz Pesantren Hidayatullah, Barru. Kamis (16/3/2023).
Kegiatan yang berlangsung di gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Hidayatullah Sulsel tersebut dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari MPd.
Dalam sambutannya, Ia menyampaikan bahwa boleh-boleh saja kita kagum terhadap sistem pendidikan modern yang dinilai lebih unggul saat ini. Akan tetapi, kekaguman tersebut terkadang membuat kita lupa jika yang dikagumi tersebut bersifat materealis.
“Memang betul kalau negara-negara barat saat ini unggul. Seperti Finlandia atau Amerika. Di Asia ada Jepang. Mereka memang unggul dari segi meningkatkan mutu atau skill. Namun, mereka sebenarnya resah karena orientasi pendidikannya bersifat materealis,” jelas Nasri di depan belasan peserta Rakorwil.
Di samping itu, Ustadz yang menggemari permainan bulu tangkis tersebut turut mempertegas bahwa pondasi pola pendidikan Hidayatullah jauh lebih unggul sebab mengikuti subtansi pola Rasulullah mendidik para shahabat.
“Hidayatullah ini telah membuktikan pola pendidikan yang dahsyat. Sebab jelas, kita ini mengikuti pola pendidikan Rasulullah. Rasulullah dalam mendidik tidak meletakkan persoalan materealisme sebagai pondasi pendidikan. Melainkan mendidik dengan menjadikan tauhid itu sebagai pondasi pendidikan. Sehingga, sudah sepatutnya kita lebih kagum pada pola pendidikan Rasulullah yang diterapkan di Hidayatullah,” jelas Nasri dengan penuh semangat.
Di kesempatan yang sama, Kepala Depdiktren DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz H Dwi Subagyo SSi menuturkan bahwa tujuan dari diselenggarakannya Rakorwil tersebut yakni sebagai tindak lanjut dari kesepakatan untuk memajukan pendidikan Hidayatullah di Sulawesi Selatan.
“Seperti yang sudah kita sepakati, bahwa kita ini sudah komitmen untuk membangkitkan pendidikan Hidayatullah di Sulsel ini,” ucap Ustadz yang bermukim di Pesantren Hidayatullah Bone tersebut. (Ian Kassa)
Oleh: Ust Karding SSos, Ketua DPD Hidayatullah Pangkep
HidayatullahSulsel.com — Ada tiga hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
Yang pertama, pemimpin harus ulil aidi wal abshar memiliki keterampilan atau skill apa saja serta bervisi hidup dan memiliki pandangan jauh kedepan serta memiliki pikiran besar dan tekun beribadah.
Hal ini sebagaimana terkandung dalam Al Quran surah Sad ayat 45.
“Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”
Hal yang ketiga perlu dimiliki seorang pemimpin adalah, hafizhun alim seperti dimiliki Nabi Yusuf, yakni integritas, kepribadian yang kuat, amanah, jujur, dan akhlaknya mulia.
Ia juga patut menjadi teladan bagi orang lain atau rakyat yang dipimpinnya. Spirit ini sebagaimana terkandung dalam Al Quran surah Yusuf ayat 55.
“Dan raja berkata, “Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku.” Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.”
Tiga hal ini penulis berkesempatan mendapatkan langsung penjelasannya dari Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq Lc MA pada pelatihan kepemimpinan yang dilaksanakan di Hidayatullah Institute di Jakarta, baru-baru ini.
Melengkapi uraian tersebut di atas Murabbi Halaqah Sa’ad Bin Abi Waqqas Hidayatullah Sulsel Ust Drs Muhammad Kaisar dalam pembahasan kajian jatidiri Hidayatullah menguraikan bahwa menjadi seorang pemimpin itu harus menjadi contoh atau uswah bagi yang dipimpinnya.
Uswah (keteladanan) merupakan karakter utama baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sehingga menjadi modal utama keberhasilan dakwahnya.
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah (al-Ahzab [33]: 21)
Dalam Islam, pemimpin adalah figur sentral yang perannya meneruskan tugas kerasululaan. Bukan hanya mengurus aspek material duniawi tetapi juga mentranformasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islami kepada yang dipimpinnya.
Karenanya seorang pemimpin harus dapat memberikan contoh karakter yang unggul dan akhlak karimah sehingga yang dipimpinnya dapat memetik keteladan. Sunnah Rasulullah dalam keteladanan ini harus menginspirasi pemimpin dalam menjalankan amanah.(Abu Wildan)
*) Disarikan dari tausiah Halaqah Sa’ad Bin Abi Waqqas Hidayatullah Sulawesi Selatan Rabu (15/03/2023).
Oleh: Dr KH Tasyrif Amin MPdI,Ketua Dewan Murobbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Dewan Pembina Yayasan Pesantren Hisayatullah Parepare
HidayatullahSulsel.com — Bulan suci Ramadhan tinggal beberapa hari lagi, sangat pentingnya bagikita ummat Islam berupaya mempersiapkan diri dan mentekadkan diri agar maksimal dalam satu bulan penuh di bulan Ramadhan nanti untuk meraih predikat taqwa, agar menjadi pemenang.
Dalam rukun Islam semua amalannya dipersaksikan oleh orang lain, kecuali puasa. Puasa menjadi istimewa sebab hanya dipersaksikan langsung oleh Allah Subhana wa Ta’ala.
Orang berpuasa umumnya melakukan amalan ini dengan kejujuran dan akan melatih iman. Sesungguhnya kejujuran akan memberikan petunjuk dan mengarahkan pada kebaikan. Sehingga tidak berguna apabila puasa dilakukan karena ingin diketahui orang lain.
Apabila latihan kejujuran ini bisa dibangun pada seluruh aspek kehidupan, tentu akan menggambarkan hasil utama dari puasa. Serta memaknai Ramadhan dengan target bahwa puasa itu bagaimana mengembalikan fitrah dengan iman dan mengendalikan nafsu.
Sebab nafsu manusia senantiasa timbul dari tiga hal lawan jenis, harta dan kekuasaan. Ketika iman turun dan nafsu akan meningkat, namun saat iman naik maka nafsu akan terkendalikan. Sehingga akan merasakan kenikmatan ibadah.
Karena kerja nafsu sangat halus dari dalam, begitupun godaan syetan dari luar. Maka Allah Subhana wa Ta’ala menurunkan al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) dan furqon yaitu bisa memproteksi dari keburukan-keburukan manusia.
Maka perlu diupayakan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an serta mentadabburinya, mendalami maknanya dengan mengkhatamkan sekali dengan membaca terjemahnya, ditambah membaca tafsirnya.
Selain dari penguatan untuk menjaga puasa dan membaca al-Qur’an juga pada Ramadhan ini kita memaksimalkan Qiyamu Ramadhan, infak dan I’tikaf. Munajat yang semakin menanjak di penghujung Ramadhan.
Apabila berhasil dari lima hal utama itu maka akan menghantarkan pada taqwa. Menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang.(Sahlah al-Ghumaishaa’)
*) Disarikan dari tausiyah Tarhib Ramadhan Yayasan Pesantren Hidayatullah Parepare pun (14/03/2023) di Masjid Al-Mubarak, dengan tema, “Menjadi Pemenang di Bulan Ramadhan.”