Beranda blog Halaman 131

Mushida Luwu Utara Eratkan Ukhuwa dengan Tadabbur Alam di Pincara

0

LUWU UTARA, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Daerah Muslimah Hidayatullah (Mushida) Luwu Utara menyelenggarakan kegiatan tadabbur alam di pemandian air panas Desa Pincara, Selasa (1/2/2022).

Lokasi tadabbur alam jaraknya kurang lebih 15 km dari Lonpes Hidayatullah Masamba. Rombongan pengurus Mushida masing-masing ditemani oleh pendamping suami dan anak.

“Refresin ini selain memanfaatkan waktu libur juga dimanfaatkan dengan saling mengguatkan kebersamaan bagi pengurus dalam bentuk rihlah,” jelas Ketua Mushida Lutra.

Kegiatan rihla diisi dengan lomba berenang dan permainan kekompakan lainnya.■ abu mujahid

Raker Yayasan Al A’raaf Pesantren Hidayatullah Bulukumba Gagas Pendidikan Takhossus Muadalah

0

BULUKUMBA, HidayatullahSulsel com — Yayasan Al A’raaf kampus pratama Hidayatullah Bulukumba mengadakan rapat kerja tahun 2022, Senin (31/1/2022).

Kegiatan bertemakan “Standarisasi Sumber daya Insani dan Manajemen Pengelolaan Yayasan” itu dihadiri oleh Badan Pembina, Badan Pengawas dan Badan Pengurus Yayasan.

Ketua Yayasan Al A’raaf Hidayatullah Bulukumba mengatakan rapat kerja yayasan tahun ini sama dengan tahun sebelumnya diadakan secara sederhana akan tetapi program-program yang ditetapkan harus jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selaras dengan itu Ust Dwi Subagyo selaku anggota badan pembina Yayasan Al A’raaf mengatakan Yayasan Al A’raaf akan merintis pendirian SD, PAUD tahfidz dan juga PTM (Pendidikan Takhossus Muadalah) untuk setingkat SMA dan alumni SMA dengan melakukan kerja sama dengan STAI Al Bayan dan sekolah-sekolah SMA Hidayatullah di Sulawesi Selatan.

Dalam rapat kerja ini juga Dr. Misjaya yang merupakan salah satu anggota Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel diangkat menjadi anggota badan pembina Yayasan Al A’raaf.

Dalam arahannya Dr Misjaya mengatakan amanah itu adalah titipan. “Ummat telah menitipkan pondok ini kepada kita, menitipkan anak-anaknya untuk kita didik dan menitipkan harapan-harapan besar kepada kita dan jika titipan ini kita jaga dengan sebaik mungkin maka yayasan ini dapat berlari kencang,” ujarnya.

Lebih lanjut Ia meminta kepada pengurus harian agar membangun budaya berkantor bersama.

“Kita harus sering-sering duduk bersama untuk membicarakan program-program yang telah kita tetapkan dan juga kita harus membangun budaya berkantor bersama” tutur Ketua Prodi PGMI STAI Al Bayan in.

Dengan bertambahnya anggota badan pembina, Ketua Yayasan Al A’raaf Ust. Suparman berharap kedepannya ada salah seorang dari anggota badan pembina yang berdomisili di Bulukumba yang bisa setiap saat memberikan arahan dan penguatan kepada pengurus Yayasan.■ Rifaldi Al Asyraf

Dua Kekuatan Menghadapi Ujian Kehidupan

0

■ Oleh : Fatahillah, Kepala Gerai BMH Maros

HidayatullahSulsel.com — Hidup ini kumpulan ujian dan problem, untuk menyeleksi siapa hamba-hamba yang benar-benar mampu melewati setiap ujian dan persoalan dengan baik dan benar.

Ada beberapa hal agar bisa lulus dalam ujian

Pertama, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadist yang diriwayatkan dari Imam Malik bahwa

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيّ “

“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua hal yang jika kalian berpegang teguh kepadanya tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunah nabi-Nya.” (HR. Malik dalam al-Muwatha )

Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa kewajiban, untuk kembali ke Al Qur’an, dan sunnah tidak bisa ditawar-tawar. Quran merupakan pedoman dan petunjuk dalam meniti kehidupan. Nilai-nilai utama Qur’an harus mengalir di kehidupan setiap insan yang beriman.

Al Qur’an merupakan energi dan cahaya warisan Nabi yang harus dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan dengan mujahada yang maksimal. Karena ayat pertama turun adalah perintah membaca maka sejatinya ummat Islam harus memiliki gelora semangat membaca dan menulis

Sebab membaca merupakan modal utama mengarungi kehidupan, sebagai sumber kekuatan untuk lebih dekat kepada sang Kholik. Membaca dengan melibatkan Allah akan melahirkan kesadaran total penuh keikhlasan mengabdi kepada Allah, pembacaan yang intens menjadi pintu terbukanya kebaikan-kebaikan

Ada tiga poin penting untuk membaca, mempelajari dan menelaah. Pertama membaca semua ciptaan Allah dengan merasakan keberadaan Allah. Kedua membaca keadaan diri sejak dilahirkan hingga saat ini. Ketiga membaca bahwa “Rabbmulah Yang Paling Pemurah,” yakni yang banyak dan luas sifatNya, sangat pemurah dan baik, luas dermaNya yang di antaranya adalah mengajarkan berbagai macam ilmu.

Maka perlu menargetkan bacaan di setiap harinya sebagai wujud manifestasi spirit Al Alaq, dalam sehari mesti ada target terutama target membaca Al Qur’an, minimal sehari satu juz, kalau tidak bisa setengah juz. Insya Allah bila rutin maka akan ada cahaya bimbingan Allah sangat terasa.

Sumber kedua yang menjadi energi kekuatan dalam menghadapi ujian adalah memahmi dan mengamalkan sunnah Nabi.

Banyak hadist yang memotivasi untuk menambah semangat membaca, terutama membaca buku panduan Al Qur’an. Diantaranya, Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Qur’an. Sebab, ia akan datang memberikan syafaat pada hari kiamat kepada pembacanya.”■

*) Disarikan dari khutbah Jum’at di Masjid Al Hidayah , perumahan Bukit Hijau Moncongloe, Jumat (28/1/2022)

Majelis Murabbiyah Wilayah Sulsel Selenggarakan Daurah Murabbiyah Uula Hidayatullah Sulselbar

0


GOWA, HidayatullahSulsel.com — Majelis Murabbiyah Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulsel menyelenggarakan Daurah Murabbiyah Uula se-Sulselbar.

Daurah tersebut dilaksanakan di Pesantren Hidayatullah Bollangi, Gowa selama 3 hari, Jumat-Ahad (28-30/1/2022).

Daurah yang mengemukakan tema “Mencetak Murabbiyah yang Visioner dan Berintegrasi Tinggi” itu diikuti oleh sebanyak 60 orang peserta, para daiyah dari seluruh Murobbiyah Halaqoh Mushida se-Sulsel dan Sulbar.

“Daurah ini merupakan kegiatan pelatihan pertama yang diselenggarakan oleh Majelis Murobbiyah Wilayah (MMW) Sulsel. untuk semakin meningkatkan kompetensi para murabbiyah. Termasuk menyeragamkan pemahaman serta program pembinaan yang akan dilakukan para murabbiyah di daerahnya,” jelas Ketua Majelis Murobbiyah Wilayah , Ustadzah Dra Siti Syamsiah Abdullah.

Panitia pelaksana menghadirkan sejumlah narasumber dan instruktur di antaranya Ketua Majelis Murobbiyah Pusat Ustadzah Ir Emi Pitoyanti dan Kepala Bidang Pembinaan Umat Muslimat Hidayatallah Pusat Ustadzah Neni Setiawati.

Dalam acara Pembukaan Daurah Murobbiyah Uula se-Sulselbar tersebut, turut hadir Kadis Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak Pemkab Gowa memberi arahan dan membuka Daurah Murobbiyah Uula secara resmi.

Ustazah Emi Pitoyanti selaku instruktur nasional menjelaskan dalam materinya bahwa tugas murobbiyah bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga membentuk pribadi, sikap, akhlak dan kebiasaan mutarobbiyah.

Ia juga menjelasakan bahwa seorang murobbiyah itu harus mampu mengembangkan kompetensi dan integritas anggotanya (mutarobbiyah)

Juga hadir Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Drs Nashri Bukhari MPd menutup acara Daurah sekaligus memberi apresiasi dan motivasi kepada para Murobbiyah se-Sulselbar, agar terus semangat dan tak pantang putus asa dalam mengemban amanah sebagai murobbiyah.■ fir

Komunitas Penggiat Sedekah Jariyah Berbagi di Pesantren Hidayatullah Pangkep

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah Pangkep bekerjasama dgn Penggiat Sedekah Jariyah mendatangkan Majelis Taklim Babul Khaer BTP BLOK AE, menggelar pengajian Bulanan Di pondok pesantren Hidayatullah Pangkep. Ahad (30/1/2022)

Pengajian tersebut dihadiri seluruh pengurus pondok, santri, Ibu RT dan warga Mallengnge serta ibu-ibu Majelis Taklim dari Makassar, sekitar 60 orang yang hadir di acara tersebut.

Dalam sambutannya, PD Mushida Hidayatullah Pangkep yang diwakili Ustazah Inayah menyampaikan, acara ini bisa berjalan atas kerja sama berbagai pihak, seperti dengan DPD Hidayatullah Pangkep serta Komunitas Pengiat Sedekah Jariyah.

“Alhamdulillah, acara pengajian PD Mushida Hidayatullah Pangkep ini, bisa berjalan dan bisa dihadiri masyarakat Mallengnge tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak,” terangnya.

Diuraikan pula berbagai program pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep saat ini penyelesaian pembangunan ruang kelas belajar santri, pengadaan mesin air minum santri dan pengecatan masjid Muhammad Al-Fatih.

Ketua Majelis Taklim Blok AE BTP, Ustazah Hj Maswati menyampaikan dalam sambutannya, senang sekali bergabung dengan Komunitas Penggiat Sedekah Jariyah, karena programnya adalah mengunjungi berbagai pondok terpelosok bahkan yang berada di gunung gunung sembari menikmati alam dan memberikan bantuan secara langsung yang dibutuhkan pondok tsb .

” Alhamdulillah,  Akhirnya kami bisa berkunjung di Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep yang kemarin sempat Terunda dikarenakan Mobil kami tidak bisa melewati jalan berbatuan. Pada kesempatan kali ini kami ditakdirkan bisa hadir serta memberikan penyerahan isi kenclengan Ruang Kelas Belajar serta donasi Kartu Donatur Tabungan Akhirat dari majelis kami” tegasnya.

Hadir sebagai pemateri dari pengajian tersebut. Ketua Departemen Pendidikan Daerah (DPD) Hidayatullah Pangkep, Ustadz Amaluddin MA.

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Hidayatullah Makassar tersebut menyampaikan materi “Menumbuhkan Sikap Taat Menutup Aurat”.

Ia menekankan pentingnya berada di wadah atau komunitas yang selalu mengajak dalam ketaatan kepada Allah SWT.

“Ketika kita sudah berhijab atau menutup aurat maka, carilah komunitas yang mampu mendukung kita untuk taat kepada Allah SWT,” jelasnya.■ karding

.

Kenikmatan-kenikamatan Ber-Hidayatullah

0

■ Oleh : Ust. Drs. Muhammad Na’im Thahir, Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat

HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah, yang terasa hebat di Hidayatullah ini adalah kemanapun kita berkunjung, secara kultural amanah atau jabatan kita selalu juga melekat dan berlaku di mana saja.

Kehadiran kami di Pesantren Hidayatullah Bollangi Gowa ini, meski hanya mengantar istri mengikuti “Daurah Murabbiyah Ula se-Sulselbar” yang dilaksanakan 3 hari sejak Jum’at kemarin, tapi saya memboyong seluruh orang di rumah untuk datang.

Meskipun sempat bertanya-tanya sebelumnya, kenapa tempatnya jauh sekali dari perbatasan Sulbar, tapi karena yakin bahwa tentu saja keputusan tersebut merupakan hasil musyawarah maka harapan pribadi kita harus takluk oleh rekayasa Allah.

Apalagi kita memahami bahwa menuntut ilmu itu wajib, maka segala sesuatu yang menyertainya juga menjadi wajib, dan semua itu adalah jalan-jalan menuju surga.

Setelah sampai di tempat ini, masya Allah suasana dan pemandangannya sangat luar biasa, kita disambut oleh tuan rumah dengan penyambutan yang sangat luar biasa. Kita bisa menikmati view lampu-lampu kota Makassar dari atas, kalau pengantar saja disajikan konsumsi yang banyak dan enak-enak, bisa dibayangkan bagaimana dengan peserta daurah, Alhamdulillah.

Inilah kultur dan kekayaan kita di lembaga ini, bahwa siapa pun yang datang berkunjung akan dimuliakan, dilayani dengan baik, ke pondok manapun kita singgah atau berkunjung, suasananya insyaaAllah akan sama, dan itu sangat berkesan.

Memang sudah semestinya seperti itu, sebagaimana para sahabat Muhajirin dan Anshar saling memuliakan, kita aplikasikan di Hidayatullah.

Kesan itu juga yang saya rasakan ketika awal bergabung di Hidayatullah, setelah jadi alumni IAIN Jurusan Bahasa dan Sastra Arab.

Saya bertemu dengan da’i-da’i awal Hidayatullah di Ulu Kalo, ada Ust Abdul Madjid, Ust Abu Bakar Muis dan Mardhatillah.

Sebenarnya kalau kita lihat secara fisik bangunan dan tampilan para da’i Hidayatullah sangat tidak parlente (tapi jika dipandang sungguh menarik).

Hanya datang berkebun, asramanya sangat memprihatinkan, tapi kesannya membawa misi perjuangan dengan semangat persaudaraan itulah yang akhirnya mengantar saya menerima hidayah untuk melebur di Hidayatullah.

Saat itu sebenarnya saya sudah bergelut dengan dunia usaha ; mesin-mesin pertanian seperti traktor dan lain-lain itu sudah punya, rumah pribadi juga sudah ada, tapi rasanya tidak memberikan kesejukan.

Dalam beberapa kesempatan saya diantar oleh petugas Hidayatullah berkunjung dan bermalam di Gunung Tembak, ke Hidayatullah Bontang, merasakan suasana kampus yang sangat bersahaja dan penuh persaudaraan.

Hingga akhirnya suatu ketika ada acara di Ulu Kalo yang dihadiri langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah.

Malam harinya beliau yang langsung memimpin shalat lail, meski sudah sering shalat lail bahkan menjadi imam, tapi baru kali itu sepertinya saya merasakan nikmatnya shalat lail.

Jadi sebenarnya sesederhana apapun tampilan kita, yang penting tersibgah dengan kultur di Hidayatullah maka pada akhirnya akan melahirkan pengaruh yang luar biasa.

Dengan adanya kultur yang kuat, sehingga ada perimbangan. Yabg perlu kita waspadai jangan sampai secara struktural Hidayatullah sudah ekspansi ke mana-mana tapi gersang, jati diri Hidayatullah tidak dijaga, amalan “wajibnya” shalat lail, bacaan Qur’an dan semua agenda GNH bermasalah, maka hampir bisa dipastikan kalau Hidayatullah tidak lagi berada pada apa yang dicita-citakan.

Saya menerima amanah sebagai Ketua DMW itu sangat berat karena tugasnya harus mengawal spirit para kader. Hanya saja yang saya syukuri karena berpartner dengan departemen perkaderan di wilayah maupun daerah dalam menjaga ritme perjuangan yang tentu saja tidak sederhana.

Bersyukurlah kita dengan kegiatan “Daurah Murabbiyah Ula” yang dilaksanakan di Hidayatullah Bollangi ini.

Harapannya kalau di setiap daerah, semua Ibu-ibu sudah terlibat ber-halaqah dibimbing murabbiyah yang sudah mengikuti daurah ini, maka ke depan akan sangat membantu pergerakan dalam menjaga ritme perjuangan.

Ada 3 nikmat besar yang harus disyukuri di Hidayatullah ini.

Yang pertama adalah nikmat ber-ukhuwah, karena memelihara hidayah yang selalu kita minta dalam shalat ;
{ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ }
“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

[Surah Al-Fâtihah: 6]

Shalat harus dengan berjamaah, agar orientasi berpikir dan karya kita senantiasa terjaga.

Sejak awal di Hidayatullah saya menikmati kebersamaan, kita bisa meminimalisir gesekan karena orientasinya perjuangan, kalau ada kader yang lose oriented, maka harus segera diperingati, kalau petugas sampai bermasalah maka lembaga juga akan terkena imbas dari masalahnya.

Saya melihat kenapa ada petugas yang tidak betah di tempat tugasnya, bisa jadi karena orientasinya tidak murni lagi perjuangan, sudah lari ke mana-mana.

Padahal yang dihibur oleh Allah itu selalu orientasinya orang beriman, wabassyiril mu’munin.

Meski kita di Hidayatullah tidak bersaudara secara biologis, namun kita bersaudara dalam keimanan dan perjuangan dan itu adalah ikatan yang lebih kuat dari ikatan biologis.

Malah kalau ada di Hidayatullah yang berkelompok-kelompok karena kedekatan biologis itu bisa bahaya apalagi kalau warnanya sudah dominan.

Sekali lagi bahwa ukhuwah di Hidayatullah ini adalah kekayaan luar biasa, sehingga persaudaraan yang kita rasakan sama saja, ke mana saja kita pergi atau bertugas di Hidayatullah, itu yang saya rasakan di Ulu Kalo, Kendari, juga di Mamuju.

Ukhuwah inilah yang mesti kita rawat, kita jaga dan sekali lagi kita syukuri karena telah dipersaudarakan di Hidayatullah.

Terkadang juga lucu, karena ada orang baik yang ditugaskan ke suatu tempat, bertemu dengan orang baik tapi tidak cocok, ini pe-er murabbi yang harus diretas bersama.

Nikmat yang Ke-dua, ada tempat untuk kita berkarya. Bollangi ini luar biasa daya tarik serta perkembangannya, sudah kelihatan seperti apa ini ke depan, keunggulannya karena view dan jaraknya yang sangat dekat dengan Kota Makassar.

Di tempat-tempat seperti inilah kita memiliki kesempatan untuk mengukir sejarah amal jariyah

Apalagi di sini sudah ada praktisi ekonominya dengan Pabrik Teh Kelor-Aja yang khasiatnya sudah saya rasakan, hilang semua sudah pegal-pegal karena perjalanan dari Mamuju sampai di sini setelah menikmati Teh Kelor-Aja

Ada juga ahli bangunan, ada humas, yang kadang potensi-potensi luar biasa seperti ini yang tidak bisa dikembangkan kalau tidak ada kampus-kampus.

Seperti itulah Nabi menyatukan dan menyusun potensi yang dimiliki para sahabat, ada yang ahli strategi, ada yang ahli ekonomi, ada yang ahli negosiasi dipadukan menjadi sebuah kekuatan besar dalam satu komando sami’na wa ata’na.

Dan yang terakhir adalah nikmat ber-Islam dengan pola Sistematika Wahyu, dengan Jati Diri Hidayatullah serta Gerakan Nawafil Hidayatullah yang menjaga spirit kita selama 24 Jam, inilah orientasi hidup kita, inilah yg membuat kita terus bersemangat meski di DMW itu adalah orang-orang tua tapi semangatnya insyaaAllah muda terus, Allahu Akbar.■ dt

*) Dari tausiah bada subuh di Masjid Pesantren Hidayatullah Bollangi Gowa

Dua Kekuatan Gerakan Kebangkitan Islam

0

■ Oleh : Ust Dr Misjaya Muhammad Haerun SPdI MPdI, Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah Sulsel dan Kaprodi PGMI STAI Al Bayan

HidayatullahSulsel.com — Kebangkitan Islam itu bukanlah kebangkitan dari sebuah pergerakan umumnya. Tapi kebangkitan Islam adalah dengan gerakan yang diukur dengan majunya masyarakat karena aksi pengabdian para pengusung peradaban.

Program kerja hakikatnya adalah dasar gerakan. Siapa  yang tidak merencanakan gerakannya, maka gerakannya hanya berujung pada kegagalan.

Perencanaan yang tidak diikuti oleh gerakan, hanyalah mimpi buruk yang tidak perlu diceritakan kepada orang lain.

Ketikan rancangan gerakan telah disusun secara sistematis,  dan menjadi kesepakatan bersama, maka langkah berikutnya adalah memunajatkannya. Usaha mewujudnyatakan rancangan tersebut membutuhkan dua lokomotif sebagai sumber power.

Pertama. Kekuatan aqliyyah dan ruhiyyah, berupa ilmu yang dibangun di atas nilai ketauhidan, sebagai sumber dan pengendali arus utama gerakan.

Arus ini berwujud dalam bentuk ‘azam atau tekat yang kuat. Ilmu adalah cahaya, dia adalah tahqiqul ubudiyyah,  sebagai buah dari kuatnya pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melalui berbagai bentuk ibadah.

Kedua. Kekuatan fisik, sebagai pelaku, alat, dan media gerakan sekaligus. Tekad yang kuat butuh kekuatan fisik, dan skill profesional untuk menghasilkan sesuatu yang nyata, karya yang ideal.

Sebagaimana spirit Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Qur’an surat Al Fatihah ayat 5

إياك نعبد وإياك نستعين

“Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”.

Rahasia kesuksesan perjalanan amanah kepemimpinan Thalut, dalam memenangkan pergerakan melawan Jalut adalah dengan dua lokomotif itu. Allah Ta’ala berfirman,

وزاده بسطة فى العلم والجسم

“… dan Allah memberi (Talut) kelebihan ilmu dan fisik…” Qs. Al Baqarah: 247. Wallahuallam.■ subhan

*) Diolah dan disarikan dari tausiah di sela Rakerda kampus Madya Hidayatullah Bone

Ketua DPW Sulsel, Kuatkan Pergerakan Dakwah Hidayatullah Pangkep

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah, keberadaan Gedung Dakwah di Kota Pangkajene menjadi wadah bagi dai dan pengurus Hidayatullah untuk berkunjung dan beristirahat ketika lewat di Pangkep.

Gedung Dakwah DPD Hidayatullah Pangkep, yang berada tepat di belakang kantor Damkar pemadam Kebakaran di samping Kantor Bupati Pangkep, harus difungsikan dan digunakan untuk berbagai kegiatan. Seperti harus ada Rumah Qur’an, kajian serta pengajian untuk warga sekitar Gedung Dakwah ini.

Hal tersebut menjadi harapan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ustad Drs Nasri Buhari MPd saat kunjungannya ke Gedung Dakwah DPD Hidayatullah Pangkep, Bontokio, Sabtu (29/1/2022).

Dalam kunjungannya turut hadir pula Ustadz Ihsan, anggota pengawasan Yayasan Dinul Kamil Al-Muhajirin Hidayatullah Pangkep.

“DPD Hidayatullah Pangkep akan membuka program Rumah Qur’an dan Rumah Sehat, bekerja sama dengan IMS sehingga jika ada kader sakit bisa diobati serta dirawat di kantor ini,” jelas Ketua DPD Hidayatullah Pangkep, Ust Karding.

Rumah Qur’an yang rencana diselenggarakan yang ditangani Ustadz Andi Amri SPd dengan sasaran lrogram bagi warga yang tidak bisa membaca Al-Quran.

Secara khusus, Ust Nasri menyarankan, agar Kantor Gedung Dakwah bisa melahirkan generasi pejuang dakwah.

“Kantor ini (Gedung Dakwah) sangat luar biasa, semoga cepat menjadi milik kita, kami juga berdoa semoga banyak orang terlibat dalam pelunasan Gedung Dakwah ini, karena sesungguhnya ini adalah tempat yang sangat strategis untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat di bagian kota ini,” ujar mantan Ketua DPW Hidayatullah Sultra ini.

Ust Karding menambahkan, pihaknya sangat senang jika para ustadz sering datang berkunjung di Gedung Dakwah. “Terutama para orang tua kita seperti Ustadz Majid kami sangat merindukan wejangan dari beliau,” ujarnya.■ Abu Wildan

Hidayatullah Masago Rehap Kembali Bangunan Ponpes Tidak Terurus

0

BONE, HidayatullahSulsel.com — Sejak penugasan pertama ke Ponpes Hidayatullah Masago, Kabupaten Bone pada Januari 2021 lalu, Pimpinan Pondok Pesantren, Ustadz Tawakkal terus membenahi sarana dan prasarana ponpes.

Beberapa bangunan yang sebelumnya tidak terurus secara fisik satu persatu direhap kembali. Diantaranya adalah kantor yayasan, batas tanah dan fasilitas umum lainnya.

“Banyak hal yang sudah dikerja terkait dengan tugas pokok. Antara lain pembenahan kampus yang tidak terurus secara fisik, misalnya lokasi yang tidak berpagar, antara batas tetangga kemudian kita pagar, kebersihan kampus yang berumput, gedung yang tidak terurus dibersihkan kemudian dicatt, rumah yayasan tidak difungsikan kemudian kita fungsikan kembali,” tuturnya.

Selain pembenahan kampus, Ustadz Tawakkal juga mendaftarkan ulang kembali dokumen legalitas Yayasan Ponpes Hidayatullah Masago yang sudah tidak aktif.

Tahun kedua kepemimpinannya, 2022 ini, rencananya akan mendirikan SMK IT Rojah yang ditargetkan akan menjadi ikon pendidikan unggulan di Bone.

“Dokumen yang kita urus untuk diaktifkan kembali adalah legalitas Yayasan dan Pondok yang sudah lama vakum. Serta pendirian TPQ yang telah keluar ijobnya. Sekarang pendirian SMK IT Hidayatullah Masago,” jelasnya.■ Ridwan Gagah

OPH Pangkep Rutinkan Kegiatan Kepanduan Tiap Sabtu

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com – Seluruh santri Hidayatullah Pangkep dari kelas satu SMP sampai SMA mengikuti kegiatan Kepanduan tiap Sabtu di Kampus Peradaban Hidayatullah Pangkep.

Gerakan Pandu Hidayatullah ini merupakan gerakan rekrutmen kader juga melatih kepemimpinan serta menambah wawasan keilmuan.

Menurut Ketua OPH (Organisasi Pelajar Hidayatullah) Pangkep, Agus Setiawan, tujuan dari kegiatan Gerakan Pandu Hidayatullah memberikan bekal keilmuan (tsagafah islamiyah), mental spiritual (ruhiyah), dan kesamaptaan fisik (jasadiyah), mendidik para santri agar memiliki jiwa kepemimpinan, ksatria, mandiri, rela berkorban dan setia kawan.

“Berbicara tentang regenerasi kepemimpinan pasti akan terpaut kuat dengan kaderisasi. Karena estafet kepemimpinan tidak mungkin bisa berjalan dengan baik tanpa adanya proses kaderisasi. Maka Gerakan Pandu Hidayatullah adalah salah satu wadah untuk merekrut kader yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan,” ujar Agus.■ karding