Beranda blog Halaman 122

Hidayatullah Luwu Utara Buka 5 Rumah Quran dan Majelis Qur’an di Seko

0

SEKO, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Luwu Utara membuka 5 Rumah Quran (RQ) dan 1 Majelis Quran (MQ) di Kecamatan Seko pada kegiatan Safari Dakwah, 4-9 Maret lalu, di kecamatan terpencil Luwu Utara itu.

Pembukaan RQ dan MQ di secara resmi oleh Ketua Departemen Dakwah DPD Hidayatullah Luwu Utara Ust Abdullah. Juga turut dihadiri Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Reskiaman.

Waktu tempuh perjalanan ke Seko memakan waktu lebih kurang 8 jam. Pembinaan yang dilakukan selama Safari Dakwah di Seko, di antaranya adalah pembelajaran Al-Qur’an, praktek shalat dan layanan kesehatan berupa terapi dan ruqyah.

Ada 3 wilayah di seko, yakni Seko Padang, Seko Tengah dan Seko Lemo. Di antara ketiga wilayah tersebut, hanya Seko Lemo yang tidak dikunjungi karena semua warganya non muslim. Dari 2 wilayah Seko, terbentuklah RQ dan MQ tersebut.

Di seko Ladang terbentuk 3 RQ, 1 RQ diantaranya berada di komunitas non muslim, yang muslimnya hanya berjumlah 7 KK. Sedangkan di Seko Tengah terbentuk 2 RQ dan 1 MQ.

Ramadhan nanti, masyarakat di Seko Padang dan Seko Tengah sangat mengharapkan kehadiran dai Hidayatullah untuk melakukan pembinaan sekaligus ceramah Ramadhan di masjid-masjid yang ada di Seko. “Semoga para ustad bisa kembali dan rutin mendatangi kami di Seko,” harap seorang bapak warga Seko Padang, Niar.

Ust Abdullah berjanji akan kembali berdakwah bersama dai dan mantan santri Hidayatullah keturunan Seko.

“Hanya saja butuh pendanaan karena biaya transport yang begitu tinggi. Semoga kedepan ada support dari lembaga keuangan internal dan para dermawan untuk pengembangan jaringan dakwah di daerah ini,” tuturnya.■ Abu Dzaky

Ust Ir Abdul Majid MA, Ketua DMW Penjaga Jati Diri Hidayatullah di Sulsel

0

HidayatullahSulsel.com — Saat itu masih pagi-pagi sekali, matahari baru mengintip di ufuk timur, fajar shodiq baru saja berlalu. Jarum jam menunjukkan pukul 5.45 waktu Buluncenrana, Sidrap.

“Saya sudah masuk Bulcen Ustad,” bunyi pesan singkat Ustad Sumariyadi via WA, kepada saya. Artinya, kisaran 10 menit lagi, mereka akan tiba di kampus peradaban Hidayatullah Sidrap.

Sontak pengurus agak panik. Sepuluan orang, santri dan warga Pondok Tahfidz Darul Qur’an Hidayatullah Bulucenrana langsung rapat. Membagi tugas, untuk menjemput tamu yang akan datang.

Bukan sekadar Ustad Sumariyadi yang merupakan Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel, turut bersamanya seorang ustad senior, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, Ustad Ir Abdul Majid MA.

Ya, Ustad Majid sapaan akrabnya. Lahir di Sulsel, Luwu Utara 57 tahun lalu, berdarah Jawa. Ayah beliau, Mahmud, adalah mantri yang terkenal di Luwu Utara.

Ustad Majid, dua periode memimpin DPW Hidayatullah Sulsel. Pendiri Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar. Sejak 2021 lalu, beliau diamanahkan sebagai Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel.

DMW di Hidayatullah berperan kultural, menjaga spirit perjuangan, jati diri Hidayatullah dan asa besar itu. Perannya kultural, tapi struktural dalam organisasi. Inilah peran Ustad Majid, oran tua bagi pengurus dan kader Hidayatullah di Sulsel.

Senin pagi itu (14/03), beliau sengaja berkunjung ke Hidayatullah Sidrap, untuk menguatkan spirit itu, dan menjaga jatidiri itu.

Bersamanya pula, turut hadir, Kepala Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel, Ustad Nasrullah Alwi Lc, juga hadir Direktur Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara, Ustad Habibi Nursalam.

Di Gasebo Peradaban Hidayatullah Sidrap, berlantai papan, berukuran 4×4 meter itu, dengan dihadiri semua pengurus dan dan santri, Ustad Abdul Majid memberikan taujihnya.

“Beruntunglah kalian, yang bisa terlibat dalam perjuangan ini. Terlibat dalam pengembangan di Hidayatullah Sidrap ini. Akan ada atsar-atsar kalian, bahwa kalian pernah terlibat berjuang di tempat ini, baik santri dan warga,” jelas Ustad Majid.

Dalam perjuangan ini, sambungnya, juga butuh kesabaran, terkhusus ketua yayasan. Sabarnya harus banyak, dan harus berlipat empat kali sabarnya.

“Karena sudah banyak yang dipimpin. Sudah pernah jadi Ketua Yayasan Kampus Utama, pernah ketua BMH. Dan sekarang kembali memulai di Hidayatullah Sidrap, ini tidak mudah,” ungkapnya.

Perlu menjadi catatan, tegasnya, bahwa bukan jabatan yang menjadi penilaian Allah, tapi kemudian, Allah akan menghitung amalan-amalan kita. “Atsar-atsar kita dalam berjuang, bukan soal pangkat dan jabatan” tutupnya.

Alhamdulillah, pagi itu, meskipun tanpa ikan nila bakar dan palekko khas Bulcen, hanya kopi, pisang goreng dan gogos, tapi nasehat pagi itu, untuk pengurus dan warga cukup mencerahkan. Hidangan nasehat itu, kembali menguatkan kawan-kawan untuk tetap semangat berjuang. (Sarmadani Karani)

Sako Pramuka Santri Putri Hidayatullah Belopa Tadabbur Alam di Puncak Gunung Kota Belopa

0

BELOPA, HidayatullahSulsel.com — Puluhan santri putri Pesantren Hidayatullah Belopa yang tergabung dalam Satuan Komando (Sako) Pramuka Hidayatullah mengikuti tadabur alam menaklukkan puncak gunung Kota Belopa, Ahad (13/3/2022).

Kegiatan yang dirangkaikan dengan pelatihan pencarian jejak tersebut, bertujuan agar para santri bisa lebih memahami secara langsung kebesaran Allah ta’ala sang Maha Pencipta, juga dimaksudkan agar para santri bisa belajar survive di alam terbuka.

Kepala Sekolah Pesantren Hidayatullah Belopa, Ustadz Abdullah memberikan penekanan mengenai pentingnya bekerja sama dalam sebuah tim.

Menurutnya, karakter kepedulian para santri terhadap sesama dapat diuji dengan menghadapkan mereka dengan kesulitan.

“Gunungnya memang tidak seberapa tinggi. Tetapi, bagi santri putri kegiatan ini sudah cukup menantang. Kondisi hujan, ditambah dengan jalur yang sangat terjal. Praktis para santri merasakan betapa pentingnya saling bahu-membahu ketika dalam keadaan yang susah. Intinya mereka belajar arti penting dari sebuah tim,” jelas Ust Abdullah.

Senada dengan yang dijelaskan Abdullah, Instruktur Sako Pramuka Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Belopa, Ustadzah Nuzul Amaliyah Miftah, mengharapkan dengan digelar kegiatan Tadabbur Alam tersebut dapat menambah kecerdasan spiritual para santri.

“Kedepannya kami berharap kegiatan seperti ini menjadi bagian dari rutinitas sekolah atau pondok. Sebab, dengan adanya kegiatan tadabbur alam, santri kita harapkan kecerdasannya bisa bertambah dari banyak aspek,” terangnya kepada reporter Hidayatullahsulsel.com.

Kecerdasan yang bisa diperoleh berupa kemampuan taktikal di alam bebas, terlebih lagi kecerdasan spritual.(Ian Kassa)

Ratusan Santri SMA Hidayatullah se-Sulsel Ikuti Orientasi Daurah Perkaderan Nasional

0

HidayatullahSulsel.com — Orieatasi dan Pembukaan Kegiatan Daurah Marhala Ula (DMU) untuk santri kelas XI jenjang SMA dan sederajat digelar secara virtual dan dilangsungkan secara serentak di seluruh kampus Hidayatullah yang mengelola pendidikan menengah setingkat SMA, Selasa (15/3/2022).

Kegiatan pembukaan tersebut disemarakkan dengan tampilan yel yel kreasi santri dari berbagai daerah di Indonesia yang tampil secara bergiliran di awal acara.
Khusus wilayah Sulawesi Selatan DMU Santri dilaksanakan di 12 titik (rombongan belajar) dengan total peserta mencapai 210 orang. Terdiri dari 118 orang peserta putri dan 92 orang peserta putra.
Kegiatan daurah ini dilaksanakan dalam dua tahap/gelombang. Tahap pertama untuk zona Makassar, Parepare, Masamba dan Luwu Timur pada 15-16 Maret 2022.

Tahap kedua untuk zona Enrekang, Belopa dan Bone pada 18-19 Maret 2022. DMU santri jenjang SMA tahun ini melibatkan 25 instruktur laki -Laki dan 16 instruktur dari unsur muslimah

Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq Lc MA mengungkapkan rasa syukur dan bangga menjadi salah satu santri awal Hidayatullah.

Ia berharap para santri penerus yang saat ini menimba ilmu di lembaga pendidikan Hidayatullah bisa mengambil peran menjadi pemimpin-pemimpin bangsa.

“Apa pun profesi yang nanti diemban bisa digunakan sebagai wasilah dakwah dan perjuangan meneruskan risalah Rasullullah,” ujarnya.(Dwi Fii Amanillah)

BMH Support Safari Dakwah Hidayatullah di Seko, Tebar Quran di Masjid dan Buku Panduan Shalat untuk Mualaf

0

SEKO, HidayatullahSulsel.com — BMH mendukung kegiatan Safari Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel bersama DPD Hidayatullah Luwu Utara di Seko dengan mendistribusikan Al-Qur’an di masjid-masjid dan buku Panduan Shalat untuk muallaf, pada 5-9 Maret 2022.

Hidayatullah Sulsel dan BMH pada kegiatan tersebut melakukan pembinaan umat dan mualaf di Seko, Luwu Utara.

BMH membagikan 50 eksamplar mushaf Al-Qur’an di masjid-masjid se Kecamatan Seko, dan 100 eksamplar buku panduan sholat untuk para muallaf.

Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel Ust Reskiaman.

“Ini merupakan mujahadah bagi pergerakan dakwah di Kecamatan Seko dalam menyambut bulan suci Ramadhan,” jelas Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel Ust Reskiaman.

Menurutnya, bulan ramadhan adalah bulan yang dimuliakan Allah ta’ala, karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan tersebut, oleh malaikat yang dimuliakan Jibril as, kepada manusia yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

“Maka jika kita ingin dimuliakan Allah mari jadikan momen di bulan Ramadhan ini sebagai bulan dalam memaksimalkan diri kita untuk lebih mendekatkan diri kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an,” jelas Ust Reskyaman.

Ada 2 hal yang menjadi fokus pembinaan Hidayatullah pada masyarakat Islam di Seko, yakni Al-Qur’an dan shalat.

Dengan terbaginya Al-Qur’an di setiap masjid dan mushollah serta buku panduan sholat bagi para muallaf, diharapkan membantu para kaum muslimin di seko dalam memaksimalkan ibadahnya dalam bulan Ramadhan.(Abdullah)

Dakwah 3T di Seko Luwu Utara, Hidayatullah Adakan Pelatihan Guru Ngaji

0

SEKO, HidayatullahSulsel.com — Ketua Departemen Dakwah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan Ust Reskyaman SW MPd bersama pengurus DPD Hidayatullah Luwu Utara mengadakan safari dakwah di daerah terisolir dan minoritas di Kecamatan Seko, Luwu Utara.

Safari Dakwah itu diisi pelatihan guru ngaji dengan metode Grand MBA paket Qiro’ah 8 jam, belum lama ini. Kegiatan itu merupakan salah satu program dakwah Hidayatullah di Sulsel pada 2022 ini.

Yakni dakwah untuk daerah terpencil, terluar, terisolir (3T) dan minoritas. Untuk wilayah Luwu Utara menyasar perkampungan di Kecamatan Seko.

“Seko merupakan daerah yang cukup krusial untuk dilaksanakannya pembinaan bagi warga beragama Islam, oleh karena mayoritas penduduk di sana beragama non muslim,” jelas Ust Reskyaman.

Dengan keadaan umat Islam sebagai minoritas di sana, jelasnya, mengakibatkan masih banyak anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Terkhusus para mualaf yang kurang sentuhan pembinaan.

Seorang pemateri pada pelatihan itu, Ust Muharram, yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Hidayatullah Parepare, mengatakan, dirinya terpanggil untuk melakukan pembinaan di Seko.

“Terkadang dalam shalat saya menangis memikirkan kampung halaman saya yang masih jauh dari pemahaman tentang ajaran Islam, terlebih tentang Al-Qur’an. Dengan pelatihan metode Grand MBA 8 jam, semoga menjadi penyemangat kita untuk mendekatkan umat Islam dengan Al-Qur’an,” tuturnya.

Pelatihan guru ngaji tersebut juga bekerjasama dengan BKMT Kecamatan Seko, yang diadakan di Eno Desa Padang Balua. Pelatihan dihadiri 28 peserta, 9 diantaranya laki-laki dan selebihnya perempuan.

Padang dan Seko Tengah bukan desa, tetapi pembagian wilayah yang familiar di kalangan orang Seko.

Salah seorang peserta pelatihan mengaku siap membantu jaringan dakwah Hidayatullah dengan membuka Rumah Qur’an di rumahnya, yang merupakan salah satu orang tua santri Hidayatullah di Palopo.

Hadir pula pada Safari Dakwah tersebut Ust Abdullah Kadep Dakwah DPD Hidayatullah Luwu Utara.(Abdullah)

Ketua DPW Beri Pencerahan Jamaah Subuh Masjid Al Mubarok Hidayatullah Parepare

0

PAREPARE, HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel Ustadz Drs Nasri Bukhori MPd, selepas sholat subuh dan ta’lim grand MBA memberikan pencerahan di hadapan ratusan peserta Dauroh Marhala Ula, asatidz, dan warga Hidayatullah Parepare, di Masjid Al Mubarok, Bacukiki Barat, Parepare, Selasa (15/3/2022).

Sosok yang selalu energik dan semangat ini, menyampaikan, Dauroh Marhala Ula adalah proses yang menentukan dalam berjihad, berorganisasi dan berlembaga.

“Kegiatan ini serentak di seluruh Indonesia, untuk menguatkan, menajamkan, dan memastikan yang ditraining memilikinya pemahaman terkait visi, misi dan manhaj perjuangan, hingga visi lembaga dan manhajnya benar-benar dipahami,” urainya.

Mantan Ketua DPW Hidayatullah Sultra dua periode itu mengutip ayat Quran yang artinya “Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.”

Menurutnya, tidak sama santri yang sudah ditraining dan yang belum ditraining, ia pasti memiliki protetipe berbeda dari yang belum ditraining,

Santri yang telah ditraining, jelasnya, sangat berbeda berani tidak sombong. Itulah karakteristik kader Hidayatullah yang bisa meneruskan perjuangan. “Karena kiita perlu keistiqomah dalam berjihad, ada namanya estafet pengurus oleh kader untuk membawa perjuangan agar tetap eksis,” urainya.(fathi)

Konsolidasi Manhaj Hidayatullah

0

Oleh : Ust Ahkam Sumadiana, Instruktur Nasional Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Kegiatan Daurah Murabbi Ulla dan Talaqqi 50 Jadwal Bayani ini dilakukan sebagai bagian dari konsolidasi manhaj Hidayatullah.

Agar gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah di Sulsel tetap terjaga, semakin dinamis, tidak stagnan atau bahkan sampai terdegradasi, na’udzu billah.

Belajar dari gerakan yang diawali sesuai dengan fitrah hasilnya akan luar biasa, mungkin para perintisnya dahulu yang tulus, sehingga berkorban sedemikian banyak misalnya.

Tapi begitu telah berjalan ada regenerasi maka terjadi reduksi semangat dan pengorbanannya, karenanya gerakannya menjadi biasa-biasa saja, kemudian menjadi tidak menarik, pada akhirnya terdegradasi, tidak hidup dan tidak mati.

Maka dari itu tidak sedikit lembaga-lembaga dakwah itu kesulitan menjaga dinamika perjuangannya karena persoalan-persoalan seperti ini.

Misal, ada lembaga yang merepresentasikan cendekiawan, ulama, pemikir. Di mulai dengan ide gagasan yang luar biasa, tapi apa yang dapat diperbuat sekarang untuk umat dan bangsa ini?

Hidayatullah hari ini masih seperti ini oleh karena beberapa faktor, di antaranya karena kebanyakan memulai dari angka nol.

Olehnya didesign sedemikian rupa tidak ada kader di Hidayatullah ini yang terlibat langsung memulai dari angka 10, semuanya dilibatkan dari angka nol; memulai dan merintis. Apakah itu merintis kampus ataukah merintis institusi dan atau yang lainnya.

Nah, agar semua kader itu merasakan perjuangan memulai dari 0 itu maka ada lah yang namanya mutasi sebagai bagian daripada menjaga dinamisasi itu. Baru lah setelah itu ada angka 1 , 2, 3 dan seterusnya.

Deret hitung ini bukan hal yang sederhana, ada pengaruhnya, yaitu agar punya paradigma perjuangan yang sama.

Menyatukan fikrah itu bukan pekerjaan yang sederhana, bahkan tidak mudah. Bagaimana menyatukan fikrah seorang yang sudah alim misalnya dengan seorang yang punya wawasan keilmuan biasa saja?

Di sinilah tingkat kesulitannya, bagaimana mengelola secara intelektual dengan dua model anggota atau kader yang seperti ini. Itu baru dari sisi intelektual belum dari sisi spiritualnya.

Alhamdulillah, Hidayatullah bisa melakukan itu. Mengapa bisa? Oleh karena Hidayatullah telah mendesign lembaga ini sedemikian rupa, diantaranya adalah dengan konsolidasi manhaj, konsolidasi wawasan dan konsolidasi program-program keummatan.(sumariadi)

Santri Pesantren Hidayatullah Pangkep dan Bone Kerja Bakti Sambut Ramadhan

0

HidayatullahSulsel.com — Bagi warga dan santri Hidayatullah, Ahad adalah hari kebersamaan dengan kerja bakti. Apalagi menjelang Ramadhan dengan membersihkan area masjid dan kawasan pondok.

Kerja bakti menjelang Ramadhan itu misalnya dilaksanakan santri dan warga Hidayatullah di pesantren Hidayatullah Pangkep dan Hidayatullah Panyula Bone.

Santri Hidayatullah Pangkep melakukan pengecoran bangunan, mencangkul dan meratakan jalanan umum, hingga membersihkan parit sekeliling kampus dan perumahan warga.

“Proyek yang dikerja baktikan sesuai dengan kebutuhan yang lagi mendesak,” ujar Kepala Departemen Kampus Hidayatullah Hidayatullah Pangkep, Agustan.

Menurut Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah (YPH) Pangkep, Ust Karding, ada nilai dan spirit yang mahal dari kegiatan kerja bakti tersebut. “Di sana ada tautan silaturahim dan ukhuwah di antara warga dan santri. Ada pula pelajaran tentang etos kerja dan semangat berkarya,” jelasnya.

Demikian pula di Pesantren Hidayatullah Panyula Bone dilakukan kerja bakti massal selama dua hari Sabtu-Ahad (12-13/3/2022).

Kerja bakti kali ini untuk pembenahan dan penataan lingkungan kampus terutama di area publik yang difokuskan pada peremajaan tanaman pelindung, pemasangan paving blok di halaman parkir dan sekolah serta pembuatan taman-taman bunga.

Anggota Dewan Pembina Yayasan Al Fath Ust Dwi Subagyo berharap memasuki bulan suci Ramadhan tahun ini Kampus Hidayatulah Putri Panyula Bone tampil dengan wajah baru.(kd/dfa)

47 Santri Hidayatullah Salaonro Soppeng Ikuti Ujian Hafalan Qur’an

0

SOPPENG, HidayatullahSulsel.com — Istimror atau ujian hafalan Qur’an santri Hidayatullah Salaonro diikuti oleh 47 peserta dan dilangsungkan setiap hari secara berturut-turut selama sepekan, pada 12 -19 Maret 2022, di saung serbaguna Kampus Hidayatullah Putri Salaonro.

Ketua Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Sulsel Dwi Subagyo SSi berkesempatan hadir pada kegiatan tersebut. Ia turut mengajukan soal ujian kepada salah seorang santri peserta istrimror.

Ujian hafalan Qur’an dibagi menjadi tiga kategori yakni 3 juz untuk santri jenjang Sekolah Dasar, 5 juz untuk santri jenjang SMP dan 10 juz dan 20 juz untuk santri jenjang SMA.

Santri putra dan putri yang mengikuti ujian terlihat antusias menyambung ayat yang dibacakan oleh tim penguji dengan bacaan yang tartil dan lancar.

Qadri salah seorang santri SD yang telah menuntaskan hafalan Qur’an 3 juz mengungkapkan kegembiraannya setelah dinyatakan lulus ujian oleh tim penguji dan berjanji akan meningkatkan terus hafalannya terutama menjelang dan saat Ramadhan.

Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Salaonro Soppeng Ust H Muhammad Arif yang bertindak selaku Ketua Tim Penguji menuturkan santri-santri yang dibina di pondok psesantren ini ditargetkan bisa menuntaskan hafalan Qur’an 30 Juz dalam waktu 3 tahun dengan hafalan mutqin minimal 20 juz.

“Namun yang lebih penting dari prestasi hafalan tersebut adalah kegiatan mentadaburi dan santri mengamalkan isi kandungan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.(dwi)