Home Berita Berita Wilayah 200 Kader Hidayatullah Mamminasa Ikuti Silaturahmi, Dr. Abdul Aziz Qahhar Tekankan Fondasi...

200 Kader Hidayatullah Mamminasa Ikuti Silaturahmi, Dr. Abdul Aziz Qahhar Tekankan Fondasi Ruhiyah Perjuangan

0
5
Ust Abdul Aziz Qahhar menyampaikan tausiyah kelembagaan dalam silaturahmi kader Hidayatullah Sulsel.

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Sekitar 200 kader dan santri Hidayatullah zona Mamminasa mengikuti silaturahmi kader yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan di Masjid Umar Al-Faruq, Kompleks Pesantren Hidayatullah Makassar, Sabtu (7/11/2026) selepas Subuh hingga pukul 06.30 WITA.

Kegiatan yang mempertemukan kader ula dan wustha, baik muda maupun senior tersebut menjadi bagian dari program konsolidasi dan pembinaan kader DPW Hidayatullah Sulsel. Agenda ini diarahkan untuk memperkuat ruhiyah, ukhuwah, soliditas organisasi, serta menyamakan visi perjuangan dan kesadaran berjamaah.

Hadir sebagai pemateri utama, Wakil Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ust. KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. Dalam tausiyah kelembagaannya, ia mengingatkan bahwa Islam merupakan agama perjuangan. Karena itu, menerima Islam sebagai sebuah kebenaran harus diikuti kesiapan menjalankan konsekuensi perjuangan yang menyertainya.

Menurutnya, perjuangan dakwah tidak cukup hanya mengandalkan semangat dan kemampuan intelektual. Seorang kader harus memiliki fondasi spiritual yang kuat agar mampu menjaga konsistensi dalam menjalankan amanah perjuangan.

Lima Surah Awal sebagai Fondasi Perjuangan

Dalam tausiyahnya, Dr. Abdul Aziz Qahhar menguraikan keterkaitan lima surah awal dalam Al-Qur’an yang menjadi landasan Sistematika Wahyu (SW), yakni Al-Alaq, Al-Qalam, Al-Muzzammil, Al-Muddatsir, dan Al-Fatihah.

Ia menjelaskan bahwa Surah Al-Alaq berbicara tentang pembentukan kesadaran tauhid dan lahirnya syahadat yang memiliki basis intelektual serta argumentasi rasional.

“Al-Alaq itu intinya bagaimana melahirkan syahadat, syahadat yang basisnya aqliyah, yang hujjahnya menggunakan akal,” jelasnya.

Selanjutnya, Surah Al-Qalam menjadi landasan gerakan Quranisasi. Menurutnya, gerakan dakwah harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi, sumber nilai, sekaligus pedoman dalam membangun kehidupan.

Namun, kesadaran keislaman dan gerakan Quranisasi membutuhkan kekuatan spiritual yang terus dipelihara. Di sinilah pentingnya pesan Surah Al-Muzzammil, terutama ayat 1-10.

Dr. Abdul Aziz Qahhar menekankan sejumlah amalan yang menjadi fondasi ketahanan ruhiyah kader, mulai dari membaca Al-Qur’an, mendirikan qiyamullail, melakukan tabattul atau penghambaan diri secara sungguh-sungguh kepada Allah, hingga menjalankan hijrah.

Menurutnya, kualitas ibadah menjadi penentu penting bagi keberhasilan seseorang dalam menjalankan tugas perjuangan. Kesiapan menghadapi tantangan dakwah harus dibangun melalui kedekatan yang kuat kepada Allah SWT.

Setelah fondasi spiritual tersebut terbentuk, Surah Al-Muddatsir menghadirkan perintah untuk bangkit memberikan peringatan dan menjalankan tugas dakwah sebagaimana pesan qum fa-andzir.

Dengan demikian, perintah untuk bergerak dan berdakwah harus ditopang oleh kualitas ibadah sebagaimana dibangun melalui pesan Surah Al-Muzzammil.

Manhaj Wahyu Membutuhkan Kepemimpinan dan Jamaah

Dalam penjelasan berikutnya, Dr. Abdul Aziz Qahhar menegaskan bahwa Manhaj Sistematika Wahyu (SW) tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan dan kehidupan berjamaah.

Ia mengingatkan bahwa manhaj sw sebagai manhaj dakwah dan tarbiyah tidak cukup dipahami sebagai susunan materi atau tahapan pembinaan. Manhaj tersebut membutuhkan kepemimpinan yang menggerakkan seluruh potensi kader dalam satu arah perjuangan.

“(Manhaj) SW itu harus didrive dengan kepemimpinan, dengan imamah jamaah. Tidak ada manhaj SW kalau tidak ada jamaah,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa manhaj tersebut tidak dapat berjalan tanpa perjuangan. Karena itu, Hidayatullah menetapkan jati dirinya sebagai al-harakah al-jihadiyah al-islamiyah, yakni gerakan perjuangan Islam yang menjalankan misi dakwah dan pembinaan umat.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa kesadaran berorganisasi, kepemimpinan, dan komitmen berjamaah merupakan bagian penting dari keberlangsungan perjuangan dakwah.

Pada bagian awal tausiyah, Ustadz Dr. Abdul Aziz Qahhar turut menyinggung dinamika tantangan global yang ia gambarkan sebagai perang asimetris. Menurutnya, tantangan zaman tidak selalu hadir dalam bentuk konfrontasi fisik. Karena itu, kader harus memiliki kesiapan intelektual, spiritual, dan mental dalam menghadapi berbagai perubahan serta tantangan dakwah.

Konsolidasi Kader Lintas Daerah

Silaturahmi tersebut diikuti berbagai unsur keluarga besar Hidayatullah dari zona Mamminasa, yang terdiri dari Makassar, Gowa, dan Maros. Peserta terdiri atas jajaran pengurus DPW, DPD Hidayatullah Makassar, Gowa, dan Maros, pengelola pesantren, para guru, pegawai, kader, serta santri Pesantren Hidayatullah Makassar.

Sejumlah pimpinan yang hadir di antaranya Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust. Dr. Muhammad Saleh, beserta jajaran pengurus; Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, Ust. Ir. H. Abdul Majid, M.A., beserta jajaran; Ketua Yayasan Al-Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar, Ust. Moh. Arfa, M.M.; serta Ketua DPD Hidayatullah Makassar, Ust. Dr. Irfan Yahya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust. Dr. Muhammad Saleh, dalam sambutannya menempatkan silaturahmi sebagai momentum penguatan ukhuwah, soliditas organisasi, kesamaan visi perjuangan, dan kesadaran berjamaah di kalangan kader.

Kegiatan yang berlangsung selepas Subuh tersebut dipusatkan di Masjid Umar Al-Faruq, Kompleks Pesantren Hidayatullah Makassar. Pemilihan lokasi ini memiliki keterkaitan dengan peran Pesantren Hidayatullah Makassar sebagai salah satu pusat gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah di Sulawesi Selatan.

Pertemuan ini juga menjadi bagian dari tradisi silaturahmi kader ketika tokoh, ulama, kader senior, atau pengurus tingkat pusat berkunjung ke daerah.

Kehadiran Ustadz Dr. Abdul Aziz Qahhar di Makassar merupakan bagian dari perjalanan transit setelah menghadiri Halaqah Kubro Hidayatullah Sulawesi Barat pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 dan memberikan kuliah umum di Universitas Sulawesi Barat, Majene, pada 2 November 2026.

Usai tausiyah, suasana kebersamaan berlanjut dalam ramah tamah sederhana. Para peserta duduk lesehan di beranda masjid, menikmati kopi, sarabba, dan makanan ringan sambil berbincang dalam suasana kekeluargaan.

Kebersamaan tersebut melengkapi pesan utama kegiatan tentang menjaga ukhuwah, memperkuat kesadaran berjamaah, dan menyatukan visi perjuangan sebagai bagian dari ikhtiar merawat keberlanjutan dakwah Hidayatullah di Sulawesi Selatan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here