Home Berita Nasional KH Dr Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar Kupas Keselarasan Islam dan Pancasila di...

KH Dr Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar Kupas Keselarasan Islam dan Pancasila di Hadapan Ratusan Mahasiswa Unsulbar

0
2
KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar menyampaikan kuliah umum Islam dan Pancasila di Unsulbar.
Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah KH Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Sulawesi Barat, Senin (2/11/2026).

MAJENE (HidayatullahSulsel.or.id) — Hubungan Islam dan Pancasila tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang dialog, musyawarah, dan kontribusi para tokoh bangsa dalam merumuskan fondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perspektif tersebut menjadi pokok pembahasan KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Senin (2/11/2026).

Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah tersebut hadir membawakan materi bertajuk Islam dan Pancasila, Selaras dan Integratif untuk NKRI yang Berperadaban. Kegiatan yang berlangsung di Aula Auditorium Unsulbar itu diikuti ratusan mahasiswa serta dihadiri unsur pimpinan universitas, dosen, tokoh masyarakat, dan pengurus Hidayatullah Sulawesi Barat.

Dalam kuliah umum tersebut, Pembina Hidayatullah Sulsel tersebut mengajak mahasiswa melihat hubungan Islam dan Pancasila melalui perspektif sejarah dan substansi nilai. Ia menguraikan proses perumusan dasar negara, mulai dari perdebatan dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), lahirnya Piagam Jakarta, hingga perubahan rumusan sila pertama menjelang pengesahan Undang-Undang Dasar 1945.

Pembahasan itu menempatkan sejarah sebagai pintu masuk untuk memahami kontribusi umat Islam dalam perjalanan pembentukan negara Indonesia. Menurut perspektif yang disampaikan, hubungan Islam dan Pancasila tidak semestinya dipahami hanya melalui dikotomi agama dan negara, tetapi perlu dilihat berdasarkan proses historis, kesepakatan kebangsaan, serta nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupan bersama.

“Islam dan Pancasila perlu dipahami secara proporsional dengan melihat sejarah, substansi, dan tujuan bernegara. Bagi umat Islam, nilai-nilai ketuhanan, keadilan, musyawarah, dan kemanusiaan merupakan prinsip penting yang harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” demikian salah satu pokok pemikiran yang disampaikan dalam materi kuliah umum tersebut.

Dr. Abdul Aziz Qahhar Uraikan Perjalanan Sejarah Perumusan Pancasila

Salah satu bagian penting dalam pemaparan KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar adalah sejarah perumusan Pancasila yang melibatkan berbagai tokoh dengan latar belakang pemikiran dan aspirasi berbeda.

Ia menguraikan dinamika sidang pertama BPUPK pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Dalam forum tersebut, para tokoh bangsa menyampaikan gagasan mengenai dasar filosofis negara Indonesia yang akan merdeka. Perdebatan mengenai kedudukan agama dalam kehidupan bernegara menjadi salah satu isu penting yang mengemuka.

Proses tersebut kemudian berlanjut melalui pembentukan Panitia Sembilan. Tim yang beranggotakan sembilan tokoh bangsa itu berhasil merumuskan naskah yang dikenal sebagai Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.

Piagam Jakarta memuat rumusan sila pertama dengan tujuh kata, yakni dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Rumusan tersebut menjadi salah satu bukti penting keterlibatan tokoh-tokoh Islam dalam proses perumusan dasar negara.

Namun, menjelang pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945, rumusan tersebut mengalami perubahan menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Perubahan itu berlangsung dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai bagian dari proses penetapan konstitusi negara.

KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar juga mengangkat kontribusi sejumlah tokoh Islam dalam perjalanan tersebut, di antaranya Ki Bagoes Hadikoesoemo, KH Abdul Kahar Mudzakkir, Haji Agus Salim, Kasman Singodimedjo, dan Mohammad Natsir.

Pembahasan mengenai tokoh-tokoh tersebut memberikan gambaran bahwa umat Islam memiliki keterlibatan historis dalam membangun fondasi kebangsaan. Mereka tidak hanya menyampaikan aspirasi keagamaan, tetapi juga mengambil bagian dalam dialog dan musyawarah untuk merumuskan kehidupan bernegara.

Melalui penelusuran sejarah itu, mahasiswa diajak memahami bahwa Pancasila lahir melalui proses pemikiran dan kesepakatan para pendiri bangsa. Pemahaman tersebut penting agar generasi muda mampu melihat persoalan agama dan negara secara lebih jernih, kritis, serta bertanggung jawab.

Piagam Jakarta dan Kesatuan dengan UUD 1945

Selain mengulas proses perumusan Pancasila, Dr. Abdul Aziz Qahhar turut membahas kedudukan Piagam Jakarta dalam perjalanan konstitusi Indonesia.

Salah satu rujukan yang disoroti adalah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dalam konsiderannya, dekrit tersebut menyatakan keyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.

Pembahasan ini memperlihatkan pentingnya memahami sejarah Pancasila secara utuh, termasuk perkembangan konstitusi dan dinamika pemikiran para tokoh bangsa.

Bagi mahasiswa, pemahaman terhadap dokumen sejarah tersebut dapat memperkaya wawasan mengenai hubungan aspirasi umat Islam dengan pembentukan negara Indonesia. Kajian sejarah juga memberikan ruang untuk mendiskusikan kontribusi agama dalam kehidupan publik tanpa mengabaikan realitas kemajemukan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial menjadi titik penting untuk membangun kehidupan kebangsaan yang bermartabat.

Dihadiri Pimpinan Unsulbar dan Tokoh Hidayatullah Sulbar

Kuliah umum ini turut dihadiri Wakil Rektor III Universitas Sulawesi Barat, Dr. Nur Fitriaytu Mandasari, S.E., M.M., serta Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulawesi Barat, Dr. Jamil Barangbangi, M.Pd.

Hadir pula sejumlah dosen Unsulbar, ratusan mahasiswa, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Najamuddin, M.Pd., anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Barat Ustadz Kiai Abdurrahman Hasan, S.Pd.I., serta Ketua DPD Hidayatullah Majene Al Imran, S.H.I.

Kehadiran unsur pimpinan perguruan tinggi, akademisi, tokoh masyarakat, dan organisasi keislaman tersebut memperlihatkan keterlibatan berbagai elemen dalam ruang dialog keagamaan dan kebangsaan di lingkungan kampus.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Najamuddin, M.Pd., menyambut baik terselenggaranya kuliah umum tersebut. Menurutnya, forum akademik yang membahas hubungan Islam dan Pancasila penting untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus membangun kesadaran kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

“Kami berharap kuliah umum ini menjadi ruang intelektual bagi mahasiswa untuk memahami hubungan Islam dan Pancasila secara mendalam. Generasi muda perlu memiliki pemahaman keislaman yang kokoh sekaligus wawasan kebangsaan yang matang agar mampu mengambil peran dalam membangun masyarakat dan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Majene, Al Imran, S.H.I., mengapresiasi kehadiran KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar sebagai pemateri. Menurutnya, kesempatan memperoleh penjelasan langsung dari tokoh yang memiliki perhatian terhadap pemikiran Islam dan kebangsaan menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa.

Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus membuka ruang perjumpaan antara akademisi, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan dalam membahas berbagai persoalan umat dan bangsa.

Islam dan Pancasila untuk Indonesia Berperadaban

Kuliah umum di Unsulbar tersebut juga mengangkat tantangan aktual mengenai bagaimana nilai-nilai Islam dan Pancasila dapat diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

Pemahaman terhadap sejarah perumusan dasar negara merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata, terutama melalui pendidikan, penguatan moral, keadilan sosial, persatuan, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Bagi kalangan mahasiswa, pembahasan ini memiliki relevansi tersendiri. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, integritas, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Nilai ketuhanan, misalnya, perlu tercermin dalam kehidupan yang menjunjung tinggi moralitas dan tanggung jawab. Nilai kemanusiaan menuntut penghormatan terhadap martabat setiap orang. Sementara itu, prinsip musyawarah dan keadilan sosial mengajarkan pentingnya membangun kehidupan bersama yang mengedepankan kemaslahatan.

Dalam perspektif Islam, prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan tanggung jawab manusia untuk menghadirkan kemaslahatan di tengah kehidupan bermasyarakat. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga persaudaraan, menegakkan keadilan, menghormati perbedaan, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Kehadiran ratusan mahasiswa dalam kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya memperluas diskursus Islam dan kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi.

Melalui pemaparan sejarah dan pemikiran kebangsaan yang disampaikan KH Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, mahasiswa diharapkan memperoleh perspektif yang lebih komprehensif mengenai kontribusi umat Islam dalam perjalanan Indonesia sekaligus memahami tanggung jawab generasi muda dalam membangun NKRI yang berperadaban.*/

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here