TOWUTI (HidayatullahSulsel.or.id) — Menjaga fitrah dan membentuk karakter anak di tengah derasnya pengaruh gadget membutuhkan keterlibatan bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan. Orang tua tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, sebagaimana pesantren juga membutuhkan dukungan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang santri.
Pesan tersebut menjadi perhatian utama dalam kegiatan Madrasah Wali Siswa Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti edisi November 2026 yang berlangsung di Masjid Umar bin Abdul Aziz, Kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti, Ahad (1/11/2026).
Mengangkat tema “Menjaga Fitrah di Era Gadget: Kolaborasi Orang Tua, Ustadz/Ustadzah, dan Sekolah”, kegiatan ini menghadirkan Ketua Pembina Yayasan, KH. Ahkam Sumadiyana, MA, sebagai pemateri utama. Kegiatan tersebut diikuti wali siswa jenjang TK hingga SMA, dewan ustadz dan ustadzah, pengurus Muslimat Hidayatullah (Mushida) Luwu Timur, serta ratusan santri.
Dalam tausiyahnya, KH. Ahkam menekankan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi pendidikan anak. Gadget tidak lagi sekadar perangkat komunikasi dan hiburan. Tanpa pengawasan serta pendampingan yang memadai, penggunaannya dapat memengaruhi perkembangan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual anak.
Karena itu, menurutnya, orang tua perlu mengambil peran aktif dalam mengarahkan penggunaan teknologi, bukan sekadar membatasi atau melarang anak menggunakan perangkat digital.
“Gadget bukan sekadar alat. Jika tidak didampingi dengan baik, penggunaannya dapat mengambil alih sebagian peran pengasuhan orang tua,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi kajian tersebut.
Ia mengingatkan bahwa anak membutuhkan interaksi langsung, komunikasi yang hangat, keteladanan, dan pendampingan dalam proses pertumbuhannya. Hubungan antara orang tua dan anak tidak boleh tergantikan oleh kesibukan masing-masing dengan perangkat digital.
Tiga Pilar Tarbiyah untuk Menjaga Fitrah Anak
KH. Ahkam menjelaskan bahwa menjaga fitrah anak tidak cukup dilakukan dengan membatasi penggunaan telepon genggam. Pendidikan harus menghadirkan proses pembinaan yang menyentuh seluruh dimensi perkembangan manusia.
Ia menekankan tiga aspek tarbiyah yang perlu berjalan secara beriringan, yakni tarbiyah ruhiyah, aqliyah, dan jasadiyah.
Pertama, tarbiyah ruhiyah, yaitu pembinaan keimanan dan spiritualitas anak. Menurutnya, pendidikan agama harus menjadi fondasi dalam membentuk kepribadian. Anak perlu dibiasakan mengenal Allah, menjaga ibadah, memahami nilai halal dan haram, serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Allah SWT.
Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Kedua, tarbiyah aqliyah, yaitu mengembangkan kemampuan berpikir, kecintaan terhadap ilmu, daya nalar, dan rasa ingin tahu anak. Penggunaan teknologi seharusnya diarahkan untuk mendukung proses belajar, bukan membuat anak bergantung pada hiburan instan dan konten yang tidak memberikan manfaat.
Semangat pendidikan tersebut selaras dengan wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yakni perintah membaca dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1.
Ketiga, tarbiyah jasadiyah, yakni pembinaan kesehatan dan kekuatan fisik. Anak perlu memperoleh kesempatan untuk bergerak, berolahraga, bermain, dan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sosialnya.
KH. Ahkam menegaskan bahwa ketiga dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan. Kecerdasan intelektual perlu ditopang kekuatan spiritual dan kesehatan fisik agar pendidikan mampu melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan memiliki kepribadian yang kuat.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan ibadah, termasuk shalat malam berjamaah, sebagai bagian dari pembinaan spiritual santri di lingkungan pesantren.
Apresiasi Prestasi Santri MI di Ajang OMI
Selain kajian parenting, Madrasah Wali Siswa kali ini juga menjadi momentum apresiasi terhadap capaian akademik santri Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hidayatullah Towuti.
Tiga santri berhasil meraih prestasi dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Kabupaten Luwu Timur dan berhak melanjutkan kompetisi ke tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Ketiganya adalah Sufi Al Faraz yang meraih Juara I bidang Matematika, Fajra Naila Rahma sebagai Juara III bidang Matematika, serta Sumayya yang meraih Juara III bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Pemberian penghargaan tersebut disambut antusias oleh para wali siswa dan peserta kegiatan. Apresiasi ini tidak hanya menjadi bentuk penghargaan atas kerja keras para santri, tetapi juga diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar bagi siswa lainnya.
Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan pendidikan di pesantren perlu memberikan ruang yang seimbang bagi pengembangan kemampuan akademik dan pembentukan karakter Islami.
Market Day dan Bazar Mushida Perkuat Pendidikan Kemandirian
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan Market Day yang melibatkan karya dan kreativitas santri serta Bazar Muslimat Hidayatullah (Mushida) Luwu Timur.
Kehadiran kedua kegiatan tersebut memberikan warna tersendiri dalam pelaksanaan Madrasah Wali Siswa. Para santri memperoleh kesempatan untuk mengenal aktivitas kewirausahaan, belajar berinteraksi, serta membangun keberanian dan kemandirian.
Sementara itu, bazar Mushida menjadi ruang pemberdayaan ekonomi melalui pemasaran berbagai produk dan kuliner halal hasil kreativitas para anggota.
Integrasi kegiatan pendidikan, apresiasi prestasi, dan pemberdayaan ekonomi ini menunjukkan bahwa proses pembinaan santri tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pesantren juga berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Madrasah Wali Siswa Menjadi Ruang Silaturahmi Keluarga
Bagi wali siswa jenjang SMP dan SMA, kegiatan ini juga memiliki makna emosional tersendiri. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi orang tua untuk kembali bertatap muka dengan anak-anak mereka setelah menjalani aktivitas pendidikan di lingkungan pesantren selama kurang lebih satu bulan.
Salah seorang wali siswa mengungkapkan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, Madrasah Wali Siswa memberikan manfaat bagi orang tua maupun santri.
“Ini kegiatan luar biasa. Bisa menjadi penyemangat bagi anak dan orang tua. Anak-anak semakin termotivasi belajar ketika melihat teman-temannya berhasil meraih juara Matematika dan IPA tingkat kabupaten. Orang tua juga mendapatkan ilmu tentang bagaimana mendidik anak melalui kajian seperti ini,” ungkapnya.
Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana melepas kerinduan, tetapi juga kesempatan bagi orang tua untuk memperkuat pemahaman tentang tanggung jawab pendidikan anak.
Pelaksanaan Madrasah Wali Siswa menjadi bagian dari upaya Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti membangun komunikasi yang berkesinambungan antara keluarga dan lembaga pendidikan.
Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari itu ditutup dengan doa bersama dan kunjungan wali siswa ke sejumlah stan Market Day serta Bazar Mushida Luwu Timur.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti menegaskan bahwa menjaga fitrah anak merupakan tanggung jawab bersama. Pesantren membina dan mendidik santri selama berada di lingkungan pendidikan, sementara orang tua melanjutkan pembinaan tersebut melalui keteladanan dan pendampingan di rumah.
Sinergi keduanya menjadi salah satu fondasi penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap menghadapi perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kekuatan iman, keluasan ilmu, dan akhlak yang baik.



