MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) — Suasana khusyuk menyelimuti ruang utama Masjid Umar Al-Faruq Al Bayan seusai pelaksanaan salat Subuh, Senin (22/6/2026). Dalam ta’lim terjemah lafdziyah yang dirangkaikan dengan tausiyah Subuh, Ustadz Dr. Muhammad Shaleh mengajak jamaah memahami hakikat hijrah sebagai perubahan nyata dalam kehidupan, bukan sekadar perpindahan tempat atau momentum yang hanya dikaitkan dengan datangnya bulan Muharram.
Meski baru menyelesaikan rangkaian safari dakwah di wilayah Luwu Raya, Ustadz Muhammad Shaleh tetap tampil penuh semangat menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada jamaah.
Mengawali tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa banyak orang sesungguhnya memiliki kemampuan, tetapi terhalang oleh cara pandang terhadap dirinya sendiri.
“Banyak orang yang sebenarnya mampu, namun merasa dirinya tidak mampu. Padahal, ketika ditelusuri lebih dalam, potensi besar itu sesungguhnya sudah ada di dalam dirinya.”
Menurutnya, hijrah merupakan proses perubahan yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Allah telah menganugerahkan berbagai modal kepada manusia untuk memulai perubahan, mulai dari akal, kemampuan berpikir, kekuatan fisik, hingga berbagai sarana yang dimiliki.
Beliau juga menyoroti fenomena banyaknya penyandang keterbatasan fisik yang justru mampu melahirkan karya-karya besar dan memberi manfaat bagi masyarakat. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang dikaruniai kesehatan dan kelengkapan fisik justru terjebak dalam berbagai alasan untuk tidak bergerak.
“Hijrah adalah soal keberanian memulai dan memanfaatkan potensi yang telah Allah titipkan,” ungkapnya.
Dalam tausiyah tersebut, Ustadz Muhammad Shaleh menekankan bahwa aset terbesar manusia bukan semata-mata kekuatan fisik, melainkan hati yang hidup.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan fisik memiliki batas, sedangkan hati mampu menjangkau hal-hal yang tidak dibatasi ruang dan waktu, seperti kasih sayang, doa, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Beliau mengajak jamaah untuk menghidupkan hati melalui zikir, tadabbur terhadap ayat-ayat qauliyah dalam Al-Qur’an, serta merenungkan ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta. Menurutnya, manusia sering kali merasa sempit menghadapi kehidupan, padahal Allah telah menganugerahkan hati yang memiliki keluasan luar biasa.
Sebagai implementasi makna hijrah, Ustadz Muhammad Shaleh merumuskan tiga langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni berhijrah dari kemalasan menuju kedisiplinan, berhijrah menuju kehidupan yang produktif dan terus berkembang, serta berhijrah bersama Al-Qur’an dengan menjadikannya pedoman dalam setiap aktivitas.
Untuk menegaskan bahwa hijrah harus diwujudkan melalui tindakan, beliau menceritakan pengalamannya pada pagi itu.
“Kami masih berada di Parepare pada pukul 02.30 dini hari. Namun atas izin Allah, kami dapat tiba di Makassar sekitar pukul 04.50 untuk melaksanakan salat Subuh bersama. Hijrah adalah eksekusi, bukan sekadar teori,” tuturnya.
Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Muhammad Shaleh mengajak seluruh jamaah menjadikan semangat hijrah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Mari kita berhijrah setiap saat, tanpa perlu menunggu datangnya bulan Muharram.”
Tausiyah yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut mengajak jamaah untuk tidak lagi meragukan potensi yang telah Allah anugerahkan, melainkan mengoptimalkannya melalui amal saleh, produktivitas, serta kedekatan yang semakin erat dengan Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam.



