Beranda blog Halaman 82

Mendengar Nasehat Mengasah Akhlaq (2)

0

Oleh: Ust Drs H Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel


HidayatullahSulsel.com — Kebeningan hati seorang muslim dapat dilihat dari ketulusannya memberi nasihat dan juga menerima nasihat. Sebab nasihat menasehati adalah cermin kemuliaan akhlaq muslim.

Bila ditinjau dari pengertian, kata “nasihat” berasal dari bahasa Arab, dari kata kerja “nashaha” yang berarti “khalasha”, yaitu murni serta bersih dari segala kotoran, juga bisa berarti “khaatha”, yaitu menjahit.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menukil ucapan Imam Khaththabi rahimahullah, bahwa “Nasehat itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian, yaitu keinginan kebaikan bagi yang dinasehati.”

Begitu pentingnya eksistensi dalam kehidupan bermasyarakat, memunculkan banyak motivator, pendakwah, guru, orang tua, serta pemimpin yang senantiasa memberi nasihat.

Bahkan ada profesi keseharian dan aktivitasnya adalah sebagai “penasehat”. Tapi apakah hal tersebut mampu ia menjadi pendengar yang baik atau senang dinasehati.

Pemimpin Abadi Pendengar yang Baik

Pada saat seseorang memiliki posisi ataupun status yang tinggi dari yang lainnya, cenderung karena kedudukannya beralasan lebih gampang dan sering memberi perintah ataupun nasihat.

Padahal sikap terbaik adalah siapapun dia mau menerima saran nasehat. Dan itu merupakan cerminan kesadaran akan kekurangan diri bahwa dia manusia yang tidak sempurna.

Pada hakekatnya menerima nasehat itu baik bagi orang biasa, orang ‘alim ataupun pemimpin besar dipastikan membutuhkan nasehat. Sebab seluruh anak keturunan Adam takkan luput dari kesalahan.

Nasihat itu mudah apalagi menasehati, yang sukar adalah menerimanya. Bagi mereka yang mengikuti hawa nafsunya, maka nasihat akan terasa pahit.” (Imam Ghazali)

Pemimpin muslim abadi adalah pemimpin yang tidak sewenang-wenang, tidak berhak baginya untuk hanya menerima nasehat yang menyenangkan dan sesuai selera dirinya. Tetapi dia akan menempatkan penasehat yang membantunya menunjukkan yang baik itu baik dan yang buruk itu adalah buruk.

Sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, khususnya dalam menghadapi masalah besar dan peperangan besar selalu mengutamakan diri untuk bertawakal kepada Allah, meminta saran kepada para sahabat.

Sebagaimana dalam buku Yang Tersembunyi dari Sirah Nabi karya Musthafa As-Siba’I dijelaskan, Nabi mendahulukan musyawarah dan menerima saran dari para sahabat dalam berapa peristiwa-peristiwa peperangan besar.

Islam mengajarkan musyawarah, ajaran Islam pun memberikan ruang terbuka bagi pemimpin untuk meminta pendapat atau nasehat kepada kaumnya.

Musyawarah adalah petunjuk dari Allah yang dituntunkan dalam Alquran surah As-Syura ayat 38, Allah SWT berfirman: “Wa amruhum suraa bainahum,”. Yang artinya: “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka,”.

Lebih dari itu keterbatasan pengetahuan dari seseorang, termasuk para pemimpin muslim, membutuhkan bimbingan dari ulama atau para ahli di bidangnya. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Anbiya ayat 7:


 فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui,”

Mengapa Seseorang Susah Dinasehati

Penyebab seseorang susah dinasehati karena bersemayang kesombongan dalam dirinya. Merasa lebih dan tidak menyadari kekurangannya membuat dia tidak merasa butuh dengan mendengar nasehat.

Alqur’an menggambarkan timbulnya kesombongan karena merasa lebih dari berapa hal dari orang lain , Sebagaimana firman-Nya si QS. Al-Alaq; 6-8
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ (6) اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ (7) اِنَّ اِلٰى رَبِّكَ الرُّجْعٰىۗ (8)

“(6) Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, (7) Ketika melihat dirinya serba berkecukupan. (8) Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu).”

Betapa bahayanya kesombongan seperti disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, No.2749 dari ‘Abdullah bin Mas’ûd]

Berdasarkan haadis tersebut, diantara ciri orang sombong di atas juga adalah orang yang tidak mau atau tidak bisa dinasehati.
Allah sangat membenci sikap orang sombong. Kalimat yang paling Allah benci, ketika seseorang menasihati temannya, “Bertakwalah kepada Allah”, tapi ia menjawab: “Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dan Nasai).

Jadilah insan yang terus berupaya mengasah dan membangun akhlaqul karima dengan tidak hanya mampu mendakwakan dan menasehati orang lain. Tapi juga senang mendengar nasehat baik dari orang berilmu ataupun dari mana saja nasehat kebaikan itu berasal. Wallahu A’lam Bishshawaf. (*)

Berkah Cinta dan Ukhuwah di Jalan Dakwah

0

Oleh: Dwi Fii Amanillah, Kadep Tarbiyah dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Cinta dan persaudaraan adalah kebutuhan hakiki bagi semua manusia. Sebagai makhluk sosia, seorang manusia tak akan sanggup hidup sendirian. Ia harus bergabung dan bekerjasama dengan manusia lainnya bahkan harus mampu berkompromi dengan makhluk-makhluk lainnya.

Cinta dan persaudaraan dalam Islam mendapat kedudukan yang tinggi dan mulia, sebagaimana dinukil dari hadits Rasulullah:
“Siapa yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.” (H.R.Al Bazaar)

Cinta dalam pengertian dan makna yang luas, bukan sekedar rasa sayang ala ABG zaman “now”. Bukan pula rasa sayang yang kebablasan kepada lawan jenis tanpa ikatan yang syar,i dengan bumbu-bumbu rayuan palsu bernuansa keindahan fatamorgana. Hal ini yang telah banyak menjerumuskan manusia pada perbudakan dan penghambaan kepada sesama mahluk berlainan jenis, yang lebih dikenal dengan istilah “Bucin” (Budak Cinta).

Semasa kuliah dulu sekitar tahun 1997, sebagai seorang yang aktif di lembaga dakwah Majelis Pencinta Musholla (MPM) Unhas, saya pernah terlibat diskusi yang cukup alot dan panjang dengan salah seorang pengikut Syiah terkait periwayatan hadits.

Teman diskusi saya itu mempersoalkan kenapa Abu Hurairah lebih banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dibandingan kerabat dekat Nabi sepupu beliau Ali Bin Abi Thalib.

Saya pun memberi jawaban singkat, “Saya punya banyak saudara kandung dan punya juga teman dekat. Kedekatan dengan saudara kandung secara biologis dan psikologis tidak otomatis untuk kemudian bisa saling terbuka dan curhat satu dengan lainnya tanpa beban.

Apatah lagi kita ketahui bersama dari shiroh Nabawiyah bagaimana persaudaraan Nabi dan para sahabatnya yang sangat lekat dan sedemikian akrabnya, sehingga sangat wajar jika ada sahabat Nabi yang selalu membersamainya dan banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.”

Hubungan cinta dan persaudaran dalam ikatan iman jauh lebih kuat dari sekadar hubungan karena adanya pertalian darah yang dalam Islam disebut “walijah” yang artinya terpercaya dan sangat dekat atau istilah populernya “bestie”.

Kita masih ingat peristiwa heroik yang terjadi pada saat hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Kisah bagaimana sahabat Ali Bin Abi Thalib karena rasa cintanya kepada Nabi yang dilandasi keimanan yang kuat beliau berani dan rela menggantikakan posisi nabi yang saat itu sudah dikepung dan akan dibunuh olejh gerombolan kafir Qurais.

Juha kisah Abu Bakar As Shiddiq yang rela menahan sakitnya gigitan ular saat memangku Nabi di saat mereka berdua bersembunyii di gua Tsur untuk melepaskan diri dari kejaran musuh-musuh Allah yang akan membunuh Nabi,

Begitu juga dengan kisah Abdurrahman bin Auf yang dengan halus menolak budi baik sahabat dari kaum Anshar yang menawarkan dan menghadiahkan rumah, harta dan istri secara cuma- cuma. Itulah gambaran cinta yang sebenarnya, persaudaraan yang hakiki dan sulit ada bandingannys.

Mencari teman di kala senang semudah membalik telapak tangan tapi mencari teman dan saudara seperjuangan di saat susah sama sulitnya mendulang emas di gurun sahara.

Dalam perjalanan dakwah mencari kawan seiring sejalan melewati suka dan dukanya perjuangan bukanlah perkara yang mudah.

Hidayatullah sebagai wadah perjuangan yang komitmen mencetak dai dan ulama yang mujahid secara konsisten terus menyebarkan dakwah hingga ke pelosok desa yang terpencil, menembus medan yang sulit berdakwah tanpa kenal lelah tak terlalu peduli memikirkan upah.

Merekrut orang yang mau hidup prihatin sebagai mujahid dakwah pengawal tegaknya peradaban tidaklah sama dengan merekrut pegawai di unit usaha sekolah maupun perusahaan yang menjanjikan gaji dan bonus yang cukup besar maka menjadi hal yang wajar jiga jika hanya sedikit orang saja siap bergabumg dalam barisan perjuangan menegakkan Agana Allah di atas permukaan bumi ini.

Jalan dakwah yang berliku,mendaki serta terjal, kalau bukan karena adaya cinta yang dalam dan persaudaraan yang erat antar sesama pejuang dakwah maka akan banyak yang gugur di tengah jalan, menjadi “futur” alias mundur teratur meninggalkan barisan perjuangan.

Di sinilah pentingnya saling memberi nasehat, saling memotivasi, saling berlomba untuk membantu dan memberi sebagai manifestasi dari kecintaan dan ukhuwah sesama muslim.

Ibaratnya seperti satu tubuh, tak terpisah satu dengan lainnya

Di Kampus pesantren Hidayatullah Kendari Sulawesi Tenggara pernah terjadi kasus pencurian kendaraan roda dua pada saat warga dan para santri menunaikan sholat subuh hingga yang diamanahi kendaraan tersebut pucat dan panik ditambah lagi ada di antara warga ada yang menimpakan kesalahan penuh kepadanya.

Hingga datanglah pembina pesantren menenangkan situasi , beliau berujar “Motor yang hilang inshaa Allah bisa diganti, tapi kalau kader yang hilang sangat sulit mencarikan penggantinya,” akhirnya suasana kembali tenang dan tidak saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.

Nasihat adalah simbol cinta maka sudah selayaknya orang yang mencintai memberi nasehat yang menyejukan dan penuh hikmah dan orang yang dinasihati selayaknya menerima dengan cinta.

“Dien (Agama) adalah nasehat sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: “Dari Tamim ad-Dari, Rasulullah SAW bersabda, “Agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya “Untuk siapa wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan kalangan umum.” (H.R Muslim).

Menasehati karena dorongan cinta kepada saudara seiman, memberi kelapangan hati ketika ada saudara yang khilaf atau sementara dirundung masalah serta bersabar ketika ada perbedaan pendapat dan pandangan sesama saudara seiman adalah akhlak mulia sekaligus ujian seberapa besar kadar kecintaan kita pada saudara-saudara kita.

Bukti cinta dan ukhuwah juga diwujudkan dengan sikap “itsar ” mendahulukan kepentingan saudara kita daripada kepentingan pribadi. Salah satu ciri khas pondok pesantren Hidayatullah adalah memuliakan (ikram) kepada para tamu baik yang sekedar singgah maupun yang menginap.

Di beberapa pondok pesantren Hidayatullah bahkan menyiapkan hidangan makanan khusus, kopi, snack serta buah yang sudah tertata rapi di kamar atau ruang tamu, bahkan perlengkapan mandi pun sudah tersedia lengkap.

Hingga suatu ketika berkunjung ke pesantren Hidayatulllah di Kolaka Sulawesi Tenggara saya berseloroh “Kayaknya sisa celana dalam saja yang belum dibelikan oleh tuan rumah”.

Dalam safar itsar pun diwujudkan dengan cara berlomba-lomba membayar harga hidangan yang telah disantap bersama ketika singgah di warung atau rumah makan tidak sebagaimana umum terjadi, masing-masing memegang dompetnya menunggu siapa yang duluan beranjak dari tempat duduknya untuk membayar.

Ustadz Hasyim H.S salah satu pendiri Hidayatullah mengungkapkan “Kesederhanaan dan keterbatasan ilmu para kader-kader Hidayatullah membuat mereka rendah hati, santun dan tidak arogan atau merasa paling hebat sehingga dakwahnya bisa diterima di semua lapisan masyarakat. ”

Cinta yang benar dan ukhuwah yang senantiasa dijaga dan dipupuk selalu membawa keberkahan.

Justu kejadian nyata dialami oleh sepasang suami istri perintis kampus pesantren di Bulukumba menjelang larut malam di kampus terpencil yang jauh dari keramaian dengan akses jalan tanah yang lumayan jauh dari jalan raya, istri salah seorang pembina pesantren yang hamil anak pertamanya tengah ngidam berat ingin makan daging.

Mungkin efek karena selama bertugas merintis sangat jarang menikmati lezatnya daging. Sang suami pun kebingungan dan menanggapi keinginan istrinya yang menurutnya tak masuk akal dengan nada suara agak keras, “Mana ada orang yang menjual daging malam-malam begini ?” Si istri pun bertambah sedih dan mencucurkan air matanya.

Sang suami pun merasa bersalah dan menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Tak berapa lama kemudian datang kawan seperjuanganya mengetuk pintu dan mengajaknya keluar malam karena ada undangan makan di kampung sebelah.

Tiba di tempat undangan Sang suami kaget karena di depannya telah terhidang begitu banyak masakan daging dengan aroma yang begitu lezat. Dalam hati ia berujar” Alhamdulillah terpenuhi hajat istriku” terlihat rona kebahagiaan di wajahnya.

Ia begitu menikmati berkahnya cinta dan ukuwah dari saudara saudara seperjuangannya yang selalu menguatkan hatinya. Saling mencintai karena Allah dan persaudaraan yang begitu mesra yang terperaga di kampus-kampus pesantren.

Ponpes yang didikasikan menjadi miniatur peradaban akan menjadi magnet power yang menarik masyarakat untuk bergabung menikmati indahnya simphonni kehidupan dari sebuah tatanan masyarakat yang terjaga oleh syari’ah dan telah tercerahkan oleh wahyu Allah SWT.

Istilah Allahuyarham ustadz Abdullah Said, ” Kalau ada orang kafir yang masuk ke dalam kawasan pesantren Insha Allah keluar menjadi muslim.

Salah satu do’a yang mustajab adalah doa yang dipanjatkan oleh saudara seiman tanpa diketahui oleh orang yang didoakan. Sudah menjadi tradisi di pesantren Hidayatullah untuk mendoakan para petugas yang dikirimkan ke daerah khususnya ba’da sholat lail sehingga bisa dikatakan bekal para dai Hidayatullah ketika terjun ke medan dakwah adalah tawakal dan doa-doa dari para guru dan saudara -saudara seperjuangan.(*)

Penuhi Semua Syarat, Kemenag Pangkep Serahkan SK Izin Operasional Ponpes Hidayatullah Pangkep

0

PANGKEP, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep menghadiri upacara Hari Kesadaran Nasional (HKN) yang dilaksanakan halaman pelataran parkir Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Selasa, (17/1/2023).

Dalam acara tersebut dirangkaikan penyerahan Surat Keputusan (SK) Statistik Operasional atau izin operasional Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pangkep H. Muhammad Nur Halik.

Ia mengatakan pihak Kemenag tidak begitu mudah mengeluarkan izin operasional sebelum benar-benar valid dan nyata keberadaannya lembaga yang mengajukan rekomendasi ijin operasional tersebut.

“Itulah sebabnya, terlebih dahulu harus dilakukan visitasi dan verifikasi tentang kepemilikan tanah, sertifikat aset gedung, asrama, serta fasilitas ibadah (masjid atau mushalla) telah tersedia, kitab yang diajarkan, serta ustadz sudah memadai apa tidak,” urainya.

Dalam penilaiannya, Nur Halik menyebutkan bahwa setidaknya ada beberapa unsur yang wajib dipenuhi untuk memperoleh Izin Operasional Pondok Pesantren, diantaranya jumlah santri minimal 15 orang, sudah memiliki ruang belajar, memiliki asrama dan kriteria lainnya.

“Alhamdulillah, dari hasil visitasi dan verifikasi tim verikasi kemenag Pangkep, semua unsur telah terpenuhi, maka hari ini, kami serahkan surat izin operasional pondok pesantren Hidayatullah Pangkep ini,” ujarnya.

Kepala Kantor Kementerian agama Kabupaten Pangkep berharap semoga dengan adanya Surat Izin operasional ini, pondok pesantren Hidayatullah Pangkep semakin eksis dan selalu menjadi terdapan menjaga kesatuan NKRI.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkep ustadz Karding SSos, menerima SK tersebit didampingi Bendahara Pondok ustadz Andi Amri dan Ketua DKM Muhammad Al-Fatih Ustadz Agustan.

Karding menyampaikan rasa terima kasih atas undangan upacara sekaligus dirangkaikan Penyerahan Surat Izin Operasional Pondok Pesantren Hidayatullah Balocci.

“Terima kasih atas penyerahan surat izin operasional pondok pesantren kami (pondok pesantren Hidayatullah balocci) ini,” tandas ustadz Karding, sembari tetap mengharapkan petunjuk dan arahan untuk pengembangan Pondok pesantren Hidayatullah Balocci ini.(Abu Wildan)

DPD Hidayatullah Maros Rangkul Terapis Paztoper dan Sinergi MUI

0

MAROS, Hidayatullah Sulsel.com — DPD Hidayatullah Maros terus membuka peluang sinergi dakwah dengan pihak lain.

Akhir pekan lalu, Departemen Sosial dan Layanan Ummat DPD Hidayatullah Maros mengumpulkan para Paztoper untuk silaturrahmi sekaligus terapi gratis bagi masyarakat di Masjid H Jamaluddin Muhammad, Maros, Ahad (15/1/2023).

“Terapi kesehatan bisa pula menjadi media dakwah yang bisa dioptimalkan. Untuk itu bukan saja kemampuan terapi yang terus diasah tapi juga ilmu dan pemahaman Islamnya perlu juga terus dibina,” harap Ketua DPD Hidayatullah Maros, Ust Drs Muhammad Kaisar.

Selain menyiapkan layanan terapi kesehatan, layanan Depsos DPD Hidayatullah Maros juga berupa pelayanan ambulance bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Melalui layanan ini kami semakin dekat dengan ummat dan tidak ekslusif dalam berdakwah,” jelasnya.

Sehari sebelumnya, Sabtu (14/1/2023), Ketua DPD Hidayatullah Maros menghadiri Bedah Buku Khutbah Jum at Dewan Pertimbangan MUI Sulsel. di Masjid Raya Kota Makassar.

Buku ini akan diluncurkan di setiap masjid di Sulsel yang berjumlah 16.000 masjid. Buku cetakan pertama diwakafkan oleh Hj Fatimah Kalla sebanyak 1.200 eks

“Buku ini sangat bagus untuk menjadi referensi bagi khatib utamanya daerah pelosok di SulSel dan keberaan Hidayatullah bisa bermitra dengan MUI untuk menyebarkan buku ini,” ujarnya.

Program DPD Hidayatullah Maros selama ini juga membagi buku dan Al Quran dari wakaf kaum muslimin dan Muslimat.(rls/*l

Program wakaf untuk masjid pondok Tahfidz mulai
1.Rp.50.000
2.Rp.500.000
3.Rp.1.000.000
4.Rp.5.000.000

Bagi yang ingin berwakaf dalam pembangun masjid bisa menghubungi :
ust Muhammad Kaisar
📱081342563546 .

Mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros atau bisa datang langsung ke alamat :
Dusun Baku Desa Lekoancing Kecamatan Tanralili Kab Maros

Ketua DPD Hidayatullah Komitmen Kolaborasi Dakwah Bersama Pemkot Palopo

0

PALOPO, HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Palopo yang baru Ust Burhanuddin bersilaturahmi dengan Walikota Palopo M Judas di rumah jabatan, Rabu (12/1/2023).

Kunjungan juga sebagai dakwah fardiyah kepada jajaran Pemkot Palopo. Ust Burhanuddin merupakan dai yang ditugaskan oleh DPW Hidayatullah Sulsel untuk mengembangkan dakwah Hidayatullah di Kota Palopo.

Dalam kunjungan tersebut, Ust Burhanuddin mengajak kolaborasi dan sinergi program dakwah antara Pemkot Palopo dan Hidayatullah.

Hidayatullah di Palopo sudah hadir sejak tahun 1996 yang di mulai dari rumah pinjaman di sekitar SMA 4 Palopo dan alhamdulillah sudah berdiri amal usaha berupa Pesantren di Kec Tellu Wanua.

“Dakwah dan tarbiyah oleh Hidayatullah di Palopo akan semakin kami tingkatkan tahun ini, dengan berbagai program berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat,” ujar Ust Burhanuddin.(rls/*)

Menyemai Kader Peradaban di Bumi Pandita Lopi, Demi Keselamatan Iman dan Masa Depan Anak (4)

0

Oleh: Dwi Fii Amanillah, Kadep Tarbiyah dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Saat ini santri santri awal sebagai bibit- bibit kader yang sekian lama dibina dan digelantang di medan perintisan Kampus Pesantren Hidayatullah Padangmonro di awal awal tahun 2000 an telah tumbuh menjadi kader-kader utama di berbagai Pondok Pesantren Hidayatulllah yang tersebar di Nusantara.

Ada yang menjadi ketua yayasan, guru, dai maupun pengasuh pesantren. Ada pula yang sukses menjadi pengusaha, bahkan ada yang telah berhasil mendirikan pesantren dan lembaga pendidikan di kampungnya.

Santri-santri pada usia SD yang dulunya kelihatan culun, lusuh dan belum bisa merawat dirinya dengan baik ternyata punya potensi yang luar biasa yang semakin nampak ketika mereka menginjak usia dewasa.

Begitu sederhananya fasilitas hidup di kampus perintisan, bahkan secara finansial hidupnya serba kekurangan namun di tempat itulah tumbuh subur bibit-bibit kader yang sehat wal afiat secara jasmani maupun spiritual.

Mereka dibesarkan dengan kekuatan cinta, doa dan keteladanan. Jiwa mereka begitu kuat menahan kerinduan berpisah jauh dari orangtua, sanak saudara dan kerabat, isak tangis sering membuncah tak terbendung menetes menjadi bulir air mata kerinduan yang hanya bisa terobati dengan kepasrahan dan rangkaian doa-doa yang menembus petala langit.

Mereka dititipkan di pesantren bukan karena orangtua mereka mengabaikan rasa cinta dan kasih sayang kepada buah hatinya. Justru karena cinta berlandaskan keimanan yang begitu kuat dan dalam, mereka lepaskan anak anak mereka pergi jauh menuntut ilmu meninggalkan kampung halaman.

Tentunya hal itu dengan suatu keyakinan “Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia pulang kembali.”(HR. Tirmidzi).

Walapun hati berat menahan rasa rindu, mata pun berkaca-kaca menahan deraian air mata dan kedua bibir yang bergetar melantunka doa-doa penuh pengharapan semoga buah hati mereka hidup, tumbuh dan berkembang dalam penjagaan dan kasih sayang Allah SWT dan semoga keberkahan selalu terlimpah kepada anak-anaknya yang tengah berjuang menuntut ilmu meniti jalan menuju surga.

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, no. 2699).

Pengorbanan itu mesti dijalani demi keselamatan iman dan masa depan anak-anak mereka. Coba difikirkan ! Orangtua mana sih yang tega menitip bayinya pada arus sungai yang mengalir yang ia sendiri pun tidak tahu ke mana dan bagaimana nasib bayinya nantinya?

Tapi itu dilakukan Ibunda Musa yang didorong oleh kecintaan kepada bayi mungilnya agar ia selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh balatentara Fir’aun laknatullah.

Di akhir zaman yang penuh fitnah ini di tengah gempuran gelombang syahwat dan kekufurun yang semakin dahsyat maka jalan penyelamatan aqidah dan akhlak anak-anak kita menjadi hal yang paling utama untuk ditempuh . Hal itu tentu saja membutuhkan perngorbanan yang tidak sedikit.

Karena cinta adalah ujian yang menuntut pengorbanan sebagaimana cintanya Nabi Ibrahim Alaihi sallam kepada anak kesayangannya yakni Nabi Ismail. (habis/*)

Mendengar Nasehat Mengasah Akhlak

0

Oleh: Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Mendengar dan senang menerima nasehat dan masukan dari orang lain dengan sabar dan lapang dada, itu merupakan ciri kebersihan hati serta tanda sifat tawadhu dari orang beriman.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai teladan dari umat Islam, memiliki sifat keterbukaan sebagai satu akhlaqnya mulianya. Batapa Rasulullah sangat terbuka dengan pemikiran dan pendapat orang lain bila memang baik.

Seperti ketika mengatur siasat perang dengan sistem bertahan, beliau menerima pendapat sahabat Salman Al Farisi untuk menggali parit hingga perang itu dinamai Perang Khandak.

Demikian halnya ketika akan berkecamuk perang Badar, Rasulullah sudah kumpulkan pasukannya di lokasi sebelum sumur Badar. Tapi sahabat mulia Hubab bin Mundzir melihat tempat tersebut tidak tepat. Dengan sopan dia mengusulkan kepada Rasulullah SAW agar memajukan pasukan setelah sumur Badar, dan menutup sumber mata air yang lain. Sehingga pasukan Rasul menguasai air, dan pasukan lawan tidak punya sumber air.

Usulan dan saran ini diterima oleh Rasulullah SAW dengan senang hati. Dan pasukan dimajukan ke depan sumur Badar. Kejadian yang sama terulang di saat pengepungan benteng-benteng Khaibar. Perkumpulan pasukan Rasul SAW terlalu dekat ke benteng. Kembali Hubab mengusulkan agar jarak pasukan diperjauh dari benteng Khaibar, agar tidak disasar oleh panah-panah orang Yahudi. Rasulullah pun menerima usulan ini.

Menerima Nasehat

Bagi orang yang berpikir selalu mau maju dan berkembang akan merasakan indahnya hidup dengan banyak menerima nasehat, bahkan menjadi kebutuhannya.

Sebaiknya terdapat seseorang yang terkadang berat mendapat nasehat dari orang lain. Apalagi kalau kita sudah punya keinginan tertentu, atau rencana yang matang yang berbeda dengan nasehat tersebut. Biasanya kadang kita terima, kadang juga kita menolaknya. Demikianlah karakteristik sifat kemanusiaan kita yang penuh keterbatasan dan kelemahan

Manakala kita menyadari bahwa sesungguhnya hidup ini akan bahagia dan dirahmati-Nya dengan nasehat dari orang lain
Umar ra. pernah menyatakan:
رحم الله امرأً أهدى إلينا مساوئنا.

“Semoga Allah merahmati orang yang menunjuki kita kekurangan-kekurangan kita.” (Adabuddin wad Dunya).

Abu Hurairah ra. juga pernah menyatakan:
المؤمن مرآة أخيه إذا رأى فيها عيبا أصلحه.
“Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya. Jika dia lihat ada kekurangan, maka dia memperbaikinya.” (Adabul Mufrad – Bukhari).

Rahmah yang penuh kebahagiaan yang akan diraihnya dengan jalan nasihat. Namun tidak menjadi baik ketika tidak tepat dan benar cara menasehatinya, serta kurang bijak dan tidak sesuai kondisi.

Boleh jadi bahasanya pun yang agak kasar, terlalu menggurui, atau bahkan merendahkan. Jadilah nasehat itu tidak bermanfaat. Sehingga tak dapat diterima oleh yang dinasehati, bahkan akan menimbulkan penolakaan dan apriori

Raih-Nya dengan Dinun Nashiha

Sebagai orang beriman kita harus berkeyakinan bahwa kita memiliki keterbatasan dan kekurangan diri. Untuk itu, siapapun dan apapun posisi kita, harus ditumbuhkan sifat lapang dada dan siap untuk menerima nasehat. Pikiran dan hati senantiasa dikondosikan untuk siap dan mudah menerima nasehat.

Islam adalah agama rahmat yang diraih dengan saling menasehati, Sebagaimana Rasulullah SAW dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari ra, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim).

Dengan Rahmat-Nya keindahan dan kebahagiaan sejati akan diraih, Sebagaimana petunjuk Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
{قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ}

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang berilmu) bergembira (berbangga), kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kesenangan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia)” (QS Yunus:58).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka merasa bangga (gembira dan bahagia) dengan anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka.

Karunia Allah dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama ahli tafsir dengan “keimanan”, sedangkan “Rahmat Allah” ditafsirkan dengan “Al Qur-an”, yang keduanya (keimanan dan Al Qur-an) adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh, sekaligus keduanya merupakan petunjuk dan agama yang benar.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “Kenikmatan (yang berupa) agama (iman) yang bergandengan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat (jelas) tidak bisa dibandingkan dengan semua kenikmatan duniawi yang hanya sementara dan akan hilang”

Mensyukuri karunia iman dalam diri dengan senantiasa mewujudkannya dalam kehidupan keseharian dengan akhlaq mulia. Hal itu semoga menimbulkan semangat untuk selalu nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dengan cara uang benar.
Walla Alam bishshowaf. (*)

Hidayatullah Toraja Utara Ekspansi Dakwah Melalui Majelis Qur’an dan Pembinaan Ummat

0

TORUT, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Toraja Utara (Torut) gencar melakukan ekspansi dakwah melalui program Majelis Quran dan Pembinaan Masyarakat.

Akhir pekan ini, Jumat (13/1/2023), Ketua dan Sekretaris DPD Hidayatullah Toraja Utara, menggelar Majelis Qur’an dan Pembinaan Masyarakat melalui pengajian umum.

Ketua DPD Hidayatullah Toraja Utara, Ust Iksan menyelenggarakan majelis Qur’an, mengajak para sopir sitor. “Walaupun yang datang baru 2 orang, namun semangat mereka untuk belajar ngaji sungguh luar biasa,” ujar Ust Iksan.

Ia berharap, semoga Jumat depan pesertanya bertambah dan terus bertambah. “Rencananya beberapa dari mereka juga akan bergabung pekan depan untuk belajar ngaji,” tambahnya.

Di tempat terpisah, sekretaris DPD Hidayatullah Toraja Utara, Ust Sudirman Rupa’ juga melakukan pembinaan masyarakat melalui pendekatan pengajian umum.

Pengajian yang dilaksanakan di Rante Bua Garoang, dihadiri oleh KUA setempat dan warga masyarakat.

“Walaupun acaranya bukan di tempat mewah, hanya di bawah tenda beralaskan kardus, tidak menghalangi semangat masyarakat untuk hadir di pengajian tersebut,” tutur Sudirman.(Burhan)

Ketua Hidayatullah Maros Apresiasi Sinergi Mushida Akselerasi Dakwah

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Sulsel melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) program kerja semester II/2022 pengurus Mushida Maros

Monev dilaksanakan di Kantor Pondok Tahfidz Darul Hijrah Hidayatullah Tanralili, Maros, Jumat (13/1/2023). Dibuka oleh Ketua Pengurus DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muhammad Kaisar.

Ia menyampaikan program yang dilaksanakan Mushida harus sinergi dan mengacu pada program induk organisasi, Hidayatullah.

“Karena banyak program yang harus dikerjakan oleh Mushida, utamanya pengajaran MQH bagi masyarakat utamanya ibu-ibu. Karena kita tak ingin ibu-ibu diajar atau ustadnya bapak-bapak,” ujarnya.

Ia memastikan PD Mushida Maros sudah berjalan dan sinergi dengan organisasi induk yakni Hidayatullah Maros.

“Alhamdulillah pengurus DPD Hidayatullah Maros dengan kolaborasi PD Muslimat Hidayatullah mengangkat program besar dengan membangun masjid lantai dua Pondok Tahfifz Hidayatullah Tanralili, melalui 4 paket wakaf dan donasi,” urainya.(eks/*)

*) Program wakaf untuk masjid pondok Tahfidz mulai
1.Rp.50.000
2.Rp.500.000
3.Rp.1.000.000
4.Rp.5.000.000

Bagi yang ingin berwakaf dalam pembangun masjid bisa menghubungi : ust Muhammad Kaisar 📱081342563546 .

Mengirim ke Rek Bank BRI Tanralili 497001020065532 an/DPD Hidayatullah Maros atau bisa datang langsung ke alamat :
Dusun Baku Desa Lekoancing Kecamatan Tanralili Kab Maros

Ketua Hidayatullah Toraja Utara Kunjungan Silaturrahmi ke Pengurus NU dan Muhamadiyah

0

TORUT, HidayatullahSulsel.com — Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Toraja Utara (Torut) Ust Ikhsan melakukan kunjungan silaturahmi kepada pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Torut di Rantepao, Kamis (12/1/2023).

“Alhamdulillah terbangun pemahaman untuk saling sinergi dan mendukung dalam dakwah yang dilakukan di Toraja Utara,” jelas Ust Ikhsan.

Dakwah DPD Hidayatullah Torut saat ini dipusatkan di rumah pinjaman dan dari tokoh setempat Husain Murad dari hasil lobi ust Burhanuddin pengurus Hidayatullah Palopo.

“Rumah tersebut kami jadikan pusat pembinaan Muallaf di Kabupaten Toraja Utara,” jelasnya.

Sebelumnya, penguris DPD Hidayatullah Torut pada Rabu (11/1/2023) juga melakukan silaturahmi dengan pengurus Muhamadiyah Torut.

Ust Ikhsan selama ini memang telah bersinergi dengan pengurus Muhammadiyah Toraja. Ia turut mengisi khutbah di masjid Muhammadiyah yang juga membina muallaf di Toraja Utara.(abu fauzan)