Beranda blog Halaman 110

Di Hadapan Pemuda PesmaDai Makassar, Babeh Dzikrullah Ingatkan Ini

0

PEMHID, HidayatullahSulsel.com — Pemuda Hidayatullah dan Mahasiswa Pesmadai Makassar bersuka cita mendapat kunjungan dari Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa DPP Hidayatullah, Ustad Dzikrullah W Pramudya di Asrama Pesmadai Makassar, Rappocini, Makassar, Ahad (22/5/2022).

Turut membersamai sosok yang akrab disapa Babeh Dzikrul tersebut, Ketua Yayasan Al-Bayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatah MM dan Komandan SAR Hidayatullah yang juga Pengurus Hidayatullah Sukoharjo Ust Hamim serta CEO relawan Sahabat Al Aqsa dr Aldi.

Di hadapan pemuda dan mahasiswa, mantan Pemimpin Redaksi majalah Suara Hidayatullah itu menyampaikan persoalan-persoalan yang seharusnya menjadi kesadaran ummat Islam, khususnya Pemuda.

“Pemuda jangan tenggelam dengan zona nyamannya dan terlalu asyik hanya berada di dalam mihrab. Pemuda harus berkontribusi dan menjadi solusi terhadap persoalan bangsa dan dunia hari ini,” harapnya.

Ia juga mengutip perkataan pendiri Hidayatullah alahuyarham KH. Abdullah Said bahwa bersyahadat Jundullah, jangan bersyahadat egois, artinya jangan egois (tidak mau tahu) dengan persoalan bangsa dan ummat Islam.

“Tapi jadilah mujahid yang terlibat dalam perjuangan umat ini,” tagasnya. Ia juga mengingatkan pemuda untuk meningkatkan literasi dan keilmuaan.

Pada kesempatan yang sama peserta forum diskusi akhir pekan Pemuda Hidayatullah Sulsel turut mendengarkan pemaparan dan pengalaman sebagai relawan di daerah bencana dan konflik dari dr Aldi dan Ustadz Hamim.

Diskusi selama dua jam tersebut dipandu Ketua PW Pemuda Hidayatullah Suls Abdurrahman Sibghatullah. Hadir pula Ketua PD Pemuda Hidayatullah Makassar Rachmat Ghafur Hamran serta mahasiswa dari Banglades, Syahid.■ rls/abid

Pelita Syawal

0

■ Oleh : Fatahullah, Bendahara DPD Hidayatullah Maros

HidayatullahSulsel.com — Alhamdulillah permata kebaikan yang telah ditenun di bulan Ramadhan sejatinya merupakan kemenangan yang gemilang. Optimalisasi menjaga dan merawat permata kebaikan harus ditingkatkan lagi melalui semangat mujahada, munajat dan musyawarah

Ketahuilah tidak pernah Allah memuji orang banyak hartanya dan banyak jabatannya, tapi Allah mengapresiasi dengan menjanjikan surga bagi mereka yang senantiasa gemar dan istiqamah dalam menjalankan GNHalaqoh Mabit.

Alhamdulillah di bulan Syawal ada amalan yang luar biasa manfaatnya, sebagaimana Rasullullah bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh.” (HR Muslim).

Bulan syawal dengan keutamaan berpuasa di dalamnya menjadi penambah cahaya pelita yang semakin menerangi langkah perjalanan perjuang yang penuh dengan onak dan cabaran, kehidupan yang fana ini harus selalu dijaga agar tidak terjadi hal-hal yang membuat stamina iman dan taqwa kendor

Tidak ada pilihan lain selain menerkam perintah puasa Syawal, tentu diikuti dengan pemahaman penghayatan dan tindakan yang penuh semangat akan harapan meraih segala keutamaan di bulan Syawal

Puasa adalah jembatan meraih taqwa ,kita niatkan untuk bisa puasa Senin Kamis, puasa ayyamul Bidh, sehingga benar-benar ada “furqon” dari sebelumnya.

Jalan juang ini sangatlah berat godaan, tantangan dan rintangan terus menghantam roda pergerakan. Bila stamina iman tidak kuat maka akan mudah goyah dan akhirnya keluar dari rel perjuangan.

Pekerjaan para Nabi memang berat, jadi jangan heran jika ujian demi ujian terus menerpa, poinnya bagaimana ujian itu mampu dilalui dengan solusi solutif. Maka munajat, mujahada dan musyawarah menjadi ikhtiar jitu dalam menghadapi setiap persoalan kehidupan.

Momentum puasa Syawal harus memiliki efek manfaat, mampu memberikan kontribusi real dalam nafas perjuangan, memberikan pelita di gelapnya kemalasan, kenakalan remaja, ketidakteraturan

Semoga energi pelita Syawal semakin membakar api semangat untuk terus menebar benih-benih kebaikan di tengah maraknya benih-benih kezoliman. Ingat jangan mencela kegelapan cukup hadirkan pelita insya Allah Sukses berkah berjamaah dapat diraih. Aamiin.■

Gelora Spirit Al Fatihah Pasca Ramadhan

0

■ Oleh : Fatahillah, Bendahara DPD Hidayatullah Maros

HidayatullahSulsel.com –Setiap sesuatu kebaikan yang tidak dilakukan karena Allah (mengucapkan bismillah) Maka kebaikan itu akan terputus lahala akhiratnya, dan keberkahan di dunia jadi pudar.

Bagaimana cara mendapatkan pahala akhirat dan meraih keberkahan dunia ? Ucapkan Bismillah yang diikuti dengan pemahaman yang sempurna. Kemudian menunaikan kebaikan penuh keseriusan dan keseungguhan, serta senantiasa merasa diawasi oleh Allah.

Spitit Al Fatihah merupakan energi persenyawaan antara tetesan Illahiyah yang digabungkan dengan munajat, mujahada dan musyawarah. Sehingga menghantarkan pergerakan baru bernama Al Furqan. Kekuatan Al Furqan ditandai dengan Sa’i dan Tawaf pantang mundur apalagi menyerah.

Semangatnya seperti tancapan kaki kuda-kuda perang, benar-benar memahami dan menjiwai setiap tanggung jawab Islamiyah dan imaniyah sehingga segala sesuatu tersambung ke langit, menghasilkan keindahan, menumbuhkan kasih sayang dan melahirkan kecintaan. Insya Allah menghadirkan kesuksesan keberkahan secara jama’i

Semua keindahan hadir karena adanya iman, dan tak satupun mahluk yang mampu menghalangi energi cinta. Maka apapun akan dilakukan untuk meraih yang dicintai. Bila semua kebaikan itu berdasarkan karena Allah maka tak satu setanpun yang mampu menghalangi apalagi manusia.

Ibnu Munkadir berkata, “Tidak ada yang tersisa dari kelezatan dunia kecuali dari tiga hal: Qiyamul Lail, bertemu dengan saudara seiman dan shalat berjama’ah di masjid.” (Al-Ihyaa; I/423)

Silaturahmi esensinya adalah ketika aksesoris seperti bersalaman, bertatap wajah, senyum sapa dan salam , Itu benar-benar bernilai imaniayah ketika sudah berpisah. Di sanalah apakah benar-benar salamnya berdasarkan imaniyah maka dilihat esensinya masih tersambung bait-bait doa kepada orang yang disilaturahimi ?

Alhamdulillah spirit Alfatihah selalu menguatkan dan menginspirasi untuk terwujudnya kesuksesan jama’i, kekuatan pondasi membangun jiwa raga melalui spirit Al Alaq, Al Qolam dan Al Muzammil menjadi vitamin dalam mengarungi kehidupan, menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi “sabhan toila “

Perjalanan membangun peradaban Islam yang menjadi prioritas utama adalah menumbuhkan jiwa raga kader, maka tugas pemimpin adalah melahirkan kader yang robbaniyah (malamnya seperti Rahib siangnya seperti penunggang kuda perang, generasi Al Adiyat).

“Kita perlu membentuk pemimpin dari bawah, bahkan dari bayi, inilah tugas kepemimpinan yaitu melahirkan pemimpin-pemimpin yang muttaqin,” seru Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad hafidzahullahu ta’ala.

Apa hasil dari celupan Ramadhan , Qiyamullail, Baca Qur’an, ittikaf, tarwih dan kebaikan lainnya ? Tentu ada energi Al Furqon, pembeda dari sebelumnya, ada spirit Badar, spirit Lailatul qodar yang hadir di bulan Syawal, kebersihan, kedisiplinan, melayani peduli sesama, kekuatan jamaah semakin kuat.

Kekuatan moral semakin mantap , iman taqwa jujur dan kinerja keras ulet tangguh menjadi nafas gerakan

Memiliki kemampuan, berfikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif punya kemampuan bekerja sama.

Ditopang literasi keterbukaan wawasan
literasi budaya, teknologi dan keuangan.

Alhamdulillah lerjalanan dakwah tentu semakin massif, terstruktur dan terukur, tetesan dakwah terasa manfaat dan dampaknya bagi jiwa raga ummat manusia.

Semoga kita menjadi alumni Ramadhan sekaligus generasi penerus perjuangan yang memiliki ketahanan jiwa raga yang sehat, dan memilki fisik yang bersih. Sehingga kita berharap capain gelar taqwa mampu kita raih dengan benar-benar menjiwai spirit Al Fatihah dan semoga kesuksesan keberkahan secara jama’i dapat terwujud.■

Urgensi Lima Surah Manhaj Sistematika Wahyu

0

■ Oleh : Ust Ahkam Sumadiyana MA, Instruktur Nasional Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Latar belakang KH Abdullah Said Rahimahullahu Ta’alaa menggunakan istilah ‘Manhaj Sistematika Wahyu’ bermula setelah beliau secara intensif merintis Ponpes Hidayatullah di kampus peradaban Gunung Tembak Balikpapan.

Di atas tanah yang diwakafkan oleh almarhum pak Darman, tepatnya pada 1976 menanamkan prinsip pentingnya belajar keras, ibadah keras dan kerja keras.

Sebenarnya bagi orang lain melihat Abdullah Said Rahimahullahu Ta’alaa biasa-biasa saja, yaitu menunaikan kewajiban sholat berjama’ah lima waktu bersama perintis awal ponpes Hidayatullah, kemudian dilanjutkan dengan wirit, tadarus al-qur’an adalah aktifitas yang lumrah untuk ukuran pondok pesantren di Indonesia.

Namun yang agak berbeda dan luar biasa karena beliau begitu konsisten menegakkan sholat lail bahkan sering memulainya dari jam 12.00 hingga jam 04.00 menjelang subuh, sedangkan di siang harinya dijalani dengan belajar dan bekerja keras tanpa mengenal ngantuk dan lelah.

Apa dan mengapa sehingga beliau melakukan aktivitas tersebut di atas sampai menjadi kultur di Hidayatullah ? Penulis mendapatkan informasi bahwa beliau mengambil inpirasi dari perjalanan spiritual Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam baik sebelum menerima Wahyu al-qur’an maupun sesudah menerima wahyu al-qur’an.

Puncaknya beliau ingin mewujudkan kampus miniatur peradan Islam yang ilmiyah, islamiyah dan alamiyah. Dari sinilah kemudian beliau mengambil kesimpulan tentang pentingnya sebuah methodologi yang baik dan benar. Yang diistilahkan dengan Manhaj Sistematika Wahyu, dengan pertimbangan sebagai berikut;

Pertama, Beliau ingin memastikan agar seluruh aktivitas perjuangannya menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’alaa sekaligus mendapatkan keberuntungan di sisi-Nya. Hal itu dilakukan sebagai respon terhadapat firman Allah Ta’alaa sebagai berikut;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣٥﴾

Artinya; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”.[al-Maidaa:35].

Ibnu Katsir menukil dari Qatadah, ‘Carilah Al-Wasilah kepada-Nya’, tafsirnya: ‘mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan ketaatan dan amal yang Dia ridhai’.

Ibnu Katsir juga menukil tafsir dari Ibnu Abbas, Mujahid, Atha’, Abu Wail, Al Hasan Al Bashri, dan As-Sudi, bahwa yang dimaksud “Carilah Al-Wasilah…” adalah mendekatkan diri. [Tafsir Ibn Katsir surat Al Maidah ayat 35].

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu berkata, ”Makna wasilah dalam ayat tersebut adalah al-qurbah (peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah).” Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, Ibnu Wa’il, al-Hasan, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan yang lainnya.

Qatadah berkata tentang makna ayat tersebut, ”Mendekatlah kepada Allah dengan menta’ati-Nya dan mengerjakan amalan yang di ridhai-Nya.” [Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari IV/567 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103].

Kedua, K.H. Abdullah Said rahimahullahu Ta’alaa sering mengkaji berulang-ulang dan merenungkan tentang apa urgensi dan hikmah diturunkan surah al-Alaq 1-5, al-Qalam 1-7, al-Muzzammil 1-10, al-Muddatstsir 1-7 baru ummul kitab surah al-Fathihah 1-7 khususnya berkenaan sebagai sebuah methodologi dakwah, serta dalam konteks perjuangan ummat Islam akhir zaman.

Ketiga, Beliau pernah mendiskusikan secara intensif dengan Buya Malik Ahmad pengarang Tafsir Sinar yang mengacu kepada tertib nuzuuli persis sesuai dengan urutan yang riwayatkan oleh Jabir Bin Zaid perawi yang paling sering di kutip dalam Jamu’ul Sahaih.

Tepatnya pada saat Buya Malik Ahmad berkunjung ke pesantren Hidayatullah Balikpapan pada tahun 1973, waktu itu Hidayatullah baru merintis jalan tarbiyah dan dakwah, sehingga menentukan dan memilih sebuah methodologi gerakan atau manhaj perjuangan adalah persoalan yang sangat fundamental.

Melalui proses dan tahapan yang cukup panjang pada akhirnya istilah Sistematika Wahyu itu muncul dan tersosialisasi secara alamiyah kepada warga, santri dan jama’ah Hidayatullah Balikpapan. Terlebih lagi setelah mendapatkan penguatan dan rujukan terhadap tertiib nuzuuli sebagaimana riwayat Jabir bin Zaid sebagai berikut;

عن جابر بن زيد قال: “أول ما أنزل الله من القرآن بمكة اقرأ باسم ربّك ثم ن والقلم ثم يا أيها المزمّل ثم يا أيها المدثّر ثم الفاتحة”.

Artinya; “Dari Jabir bin Zaid berkata: wahyu pertama yang diturunkan Allah di Mekah Iqra’ bismi rabbika, kemudian Nun, kemudian Ya ayyuhal Muzzammil, kemudian Ya ayyuhal Muddatsir, kemudian al Fatihah”. [Riwayat ini disebutkan oleh as-Suyuthi di dalam kitab al-Itqan. Lihat: Abdurrahman Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, ….. Jilid 1, hal. 77].

Imam As-Suyuthi mengomentari urutan tersebut dengan mengatakan: “Ini adalah bentuk yang aneh (gharib), dan riwayat ini juga perlu dicermati, sedangkan Jabir bin Zaid termasuk ulama tabi’in di bidang al-Qur’an. Al-Burhan al-Ja’bari berpegang pada atsar ini di dalam qashidahnya yang diberi nama Taqribu al-Ma’mul fi Tartib an-Nuzul”. Lihat: Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Jilid 1, hal. 78].

Sesungguhnya menjadikan surah al-Fathihah sebagai manhaj dakwah, sudah cukup dan sangat memadai karena memang al-Fathihah sebagai ummul kitab telah mencakup seluruh isi al-qur’an.

Namun demikian sesuai dengan sirah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, bahwa sebelum diturunkan surah al-Fathihah terlebih dahulu Allah Ta’alaa menurunkan al-Alaq, al-Qalam, al-Muzzamiil dan al-Muddatstsir sebagai pra ummul Qur’an.

Surah al-Fatihah yang menempati urutan kelima berdasarkan beberapa riwayat yang dikenal dengan ummul Qur’an tersebut karena merupakan kesimpulan dan intisari seluruh kandungan kitab suci al-Qur’an.

Jika surah al-Fatihah menggambarkan idealitas keIslaman secara kaffah, maka surah-surah yang turun sebelumnya merupakan tahapan-tahapan menuju idealitas tersebut. Lima surah pertama berdasarkan tartibun nuzul tersebut juga mengandung prinsip-prinsip utama ajaran Islam, yaitu aqidah, akhlak, ibadah, misi dakwah, dan sistem kehidupan.

Surah al-Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama turun menumbuhkan kesadaran bertauhid, melahirkan syahadat, menanamkan akidah sebagai landasan utama dalam berIslam.

Surah al-Qalam menumbuhkan idealisme berIslam dan membentuk akhlak Qur’ani. Surah al-Muzzammil membangun kekuatan spiritual. Surah al-Muddattsir membangkitkan semangat mengemban misi dakwah dan tugas keummatan.

Selanjutnya al-Fatihah menjadi landasan membangun sistem kehidupan dan menegakkan peradaban Islam. [Baca.DR.KH.Nashirul Haq Lc.MA ‘Khittah Hidayatullah Sistematika Wahyu (Tartib Nuzuli) Manhaj Gerakan Tarbiyah Dan Dakwah Penyusun DPP Hidayatullah Jakarta, Thn 2015, h.5-6 ].

Kemudian dalil lainnya yang dijadikan landasan urutan lima surah tersebut adalah riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dan riwayat Jabir bin Zaid rahimahullah. Di riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu tidak disebutkan Surah al-Fatihah setelah al-Muddattsir, akan tetapi disebutkan di riwayat Jabir bin Zaid. Riwayat-riwayat tersebut antara lain:

وأخرج ابن الضريس عن ابن عباس قال: كانت إذا نزلت فاتحة سورة بمكة كتبت بمكة ثم يزيد الله فيها ما يشاء وكان أول ما نزل من القرآن اقرأ باسم ربك، ثم نون ثم المزمّل ثم المدثّر

Artinya; “Ibnu ad-Dhurais meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Alabila pembukaan suatu surah turun di Mekah maka ditulis di Mekah, kemudian Allah menambah (menurunkan ayat) pada surah tersebut sesuai yang Dia kehendaki, dan wahyu al-Qur’an yang pertama turun adalah: Iqra’ bismi rabbika, kemudian Nun, kemudian al-Muzzammil, kemudian al-Muddatsir”. [Muhammad ‘Ali as-Syaukani, Tafsir Fath al-Qadir, Beirut: Dar al-Fikr, …Jilid 5, hlm. 266; Abdurrahman ibn al-Kamal Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur, Beirut: Dar al-Fikr, 1993, Jilid 8, hal. 24].

وروي عن ابن عباس وعكرمة والحسن أنها سابعة قالوا: أول ما نزل من القرآن: اقرأ باسم ربك، ثم ن، ثم المزمل، ثم المدثر، ثم تَبَّتْ، ثم إذا الشمس كورت، ثم سبح اسم ربك. وأما جابر بن زيد فعد الفاتحة بعد المدثر. وقال الزركشي: “فهذا ترتيب ما نزل من القرآن بمكة وعليه استقرت الرواية من الثقات وهي خمس وثمانون سورة”.

Artinya; “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ikrimah dan al Hasan mereka berkata: wahyu al-Qur’an yang pertama turun adalah Iqra’ bismi rabbika, kemudian Nun, kemudian al-Muzzammil, kemudian al-Muddatsir, kemudian tabbat, kemudian Idzas syamsu kuwwirat, kemudian sabbihisma rabbik. Adapun Jabir bin Zaid menempatkan al-Fatihah setelah al-Muddattsir”. [Muhammad at-Thahir ibn ‘Asyur, at-Tahrir wa at-Tanwir, Tunis: Dar Syahnun, 1997, Jilid 30, hal. 27].

Az-Zarkasyi berkata: Inilah urutan turunnya wahyu al-Qur’an di Mekah, berdasarkan (urutan) itu telah disebutkan riwayat dari para perawi yang terpercaya, yaitu delapan puluh lima surah”. [Badruddin Muhammad ibn Abdullah Az-Zarkasyi (794 H), al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Tahqiq: Muhammad Abu Al-Fadhl Ibrahim, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah ‘Isa al-Babi al-Halabi, cet. 1, 1957/1376 H, Jilid 1, hal. 193-194].

Walaupun ada pendapat lain yang menyatakan al-Muddattsir turun sesudah al-Alaq berdasarkan riwayat Jabir bin Abdullah r.a. yang menyebutkan bahwa al-Muddattsir turun setelah terputusnya wahyu (fathratil wahyi). Namun menurut Syeikh Muhammad Izzah Darwazah bahwa dari segi munasabah, Surah al-Qalam …..

Sedangkan alasan membatasi hanya lima surah sebagai kerangka dasar, yaitu sampai Surah al-Fatihah, karena al-Fatihah adalah Ummul Qur’an yang mencakup tema-tema terpenting al-Qur’an, ia merupakan kaidah-kaidah umum yang rinciannya terdapat di semua surah-surah al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai kitab sucinya dengan surah al-Fatihah karena telah menghimpun seluruh maksud dan tujuan (maqashid) al-Qur’an. Itulah sebabnya dinamakan: Ummul Qur’an, Ummul kitab dan al-Asas karena al-Fatihah ibarat kesimpulan dan pembukaan (preambule).[ Ridhwan Jamal Husain, Wujuh Dilaliyah wa Balaghiyah Min Surati al-Fatihah, Kuala Lumpur: al-Jami’ah al-Islamiyah al-‘Alamiyah, cet. I, 2005, hal. 5].

Surah al Fatihah merupakan pembukaan yang luar biasa terhadap al-Qur’an sebagaimana disebutkan oleh banyak ulama tafsir. [Muhammad Izzat Darwazah, at-Tafsir al-Hadits, hal. 285.]. Pelajaran di surah al-Fatihah menghimpun kaidah-kaidah besar, kedudukannya sebagai tema-tema umum agama Islam. [Al-Maidani, Ma’arij at-Tafakkur wa Daqaiq at-Tadabbur, Jilid 1, hal. 285.].

Said Hawa berkata: “Jika al-Fatihah merupakan pembukaan kitab suci al-Qur’an yang di dalamnya terhimpun maksud dan tujuan (maqashid) dan makna-makna al-Qur’an, maka pembahasan di dalam al-Qur’an berkisar masalah akidah, ibadah dan sistem kehidupan (manhajul hayat). Sedangkan Surat al-Fatihah dimulai dengan akidah kemudian ibadah serta tentang sistem kehidupan (manahijul hayat).

Kemudian Said Hawa melanjutkan:

“والقرآن دعوة إلى العقيدة أولا، ثم إلى العبادة، ثم إلى مناهج الحياة، وقد تسلسلت المعاني في هذه السورة على الترتيب”.

Artinya; “Dan al-Qur’an itu mengandung ajakan kepada tauhid terlebih dahulu, kemudian ibadah dan selanjutnya sistem kehidupan. Subtansi-subtansi tersebut telah tersusun secara berurutan di dalam surah (al-Fatihah) ini”

Surah al-Fatihah sebagai kesimpulan al-Qur’an karena mengandung tiga masalah penting yang menjadi pembahasan al-Qur’an yaitu akidah, ibadah dan manhajul hayat. [Said Hawa, al-Asas fi at-Tafsir, Cairo: Dar as-Salam, cet. 5, 1419 H/1999 M, hal. 38].

Sehingga secara methodologis Manhaj Tartiib Nuzuuli atau Manhaj Sistematika Wahyu adalah persoalan penting dalam tarbiyah dan dakwah karena ayat yang turun belakangan tetap mengacu pada ayat yang turun lebih awal. As-Syathibi berkata: “Surah Madaniyah sepatutnya dipahami konteksnya dengan mengacu kepada surah Makkiyah.

Begitupula surah-surah Makkiyah antara satu dengan yang lain, surah-surah Madaniyah antara satu dengan yang lain berdasarkan urutan diturunkannya (Tartibun Nuzul), jika tidak maka hal itu tidak benar, alasannya karena surah Madaniyah pada umumnya dilandaskan kepada ayat Makkiyah.

Sebagaimana setiap surah yang turun belakangan dilandaskan kepada ayat yang turun sebelumnya, hal ini berdasarkan induksi (istiqra)”. [As-Syathibi, al-Muwafaqat fi Usul as-Syariah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cet. 2, 2003/1424 H, Jilid 3, hal. 304].■ fir

Insyallah, Pernikahan Mubarak di Hidayatullah Makassar 18 Juni Diikuti 20an Pasang

0

HidayatullahSulsel.com— Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel dan Yayasan Albayan Hidayatullah kampus utama Makassar akan kembali melaksanakan Pernikahan Mubarak 2022.

“Pernikahan Mubarak Hidayatullah insyallah direncanakan pelaksanaan pada 18 Juni mendatang,” ungkap Ketua Steering Committe (SC) Ust Abd Oadir Mahmud MA di Makassar, Selasa (10/5/2022).

Pernikahan Mubarak merupakan agenda rutin tahunan Hidayatullah di setiap kepengurusan wilayah dan daerah bekerjasama pelaksanaanya dengan kampus utama maupun kampus madya.

Kegiatan ini menikahkan para kader Hidayatullah secara bersamaan. Prosesnya dilakukan dengan standar ketat sesuai syariat Islam. Telah menjadi tradisi dilaksanakan hampir seusia Hidayatullah, 50 tahun.

Ketua Dept Dakwah dan Layanan Ummat Yayasan Albayan tersebut mengungkapkan, pihaknya menargetkan Pernikahan Mubarak 2022 ini akan mengikutkan 20an pasangan ustad dan ustazah muda Hidayatullah.

Untuk itu pihaknya berharap bagi keluarga dan kader atau pihak lain yang telah memiliki niat untuk menjadi peserta Pernikahan Mubarak agar dapat menghubungi pihak panitia bagi SC maupun OC.

Ketua Organizing Committe Ust Muh Alyas menjelaskan, sebagaimana pelaksanaan Pernikahan Mubarak Hidayatullah selama ini, akan diawali dengan menjaring kader yang dianggap sudah layak nikah, perjodohan sekufu sesuai syari’at, proses khitbah (pelamaran), hingga walimah (acara pernikahan). Seluruh rangkaian proses tersebut diusahakan sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi.

Yang tak kalah penting, tambahnya, pasangan calon pengantin akan mengikuti pembekalan pra nikah atau karantina. Pembekalan akan diadakan selama 10 atau 14 hari berturut-turut.

“Selama masa karantina, berbagai bekal ilmu telah disiapkan oleh panitia. Mulai dari kesiapan mental, penguatan visi misi Pernikahan Mubarakah hingga kedudukan nikah dalam syariat Islam. Tak ketinggalan beberapa adab figh dan doa-doa juga diajarkan kepada calon mempelai, terkait adab penyerahan mahar, etika malam pertama, hingga teori komunikasi bertemu dengan calon mertua,” urai Ketua Dept Ekonomi Yayasan Albayan tersebut.■

Silaturahmi Syawal Hidayatullah Sulsel, Menguji Komitmen Kader

0

HidayatullahSulsel.com — Ada yang unik di Hidayatullah Sulsel, takbir Ied 1443 H masih menggema. Buras masih banyak. Nasu Palekko dan opor ayam, juga masiih hangat.

Tapi sore itu, di 1 Syawal itu, Kader Hidayatullah Sulsel tidak mudik. Mereka harus berkumpul di kampus Hidayatullah Parepare untuk menggelar silaturahmi Syawal, 2-3 Syawal 1443 H.

Para kader Hidayatullah Sulsel dapat warning. Dilarang pulang kampung sebelum melakukan silaturahmi Syawal. Pertemuan perdana tercepat, setelah Idul Fitri.

“Kader-kader dan pengurus inti Hidayatullah Sulsel wajib ikuti silaturahmi Syawal sebelum pulang kampung,” ujar Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel, Sumaryadi, S.Pd.I, kepada HidayatullahSulsel.com.

Silaturahmi Syawal Hidayatullah Sulsel diikuti oleh seluruh pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, pengurus DPD se-Sulsel, dan Kampus Madya Hidayatullah se Sulel. Hadir pula pengurus Kampus Utama Hidayatullah Makassar.

Selain itu, hadir pula organisasi-organisasi pendukung Hidayatullah Sulsel, seperti Pemuda Hidayatullah Sulsel, Muslimat Hidayatullah Sulsel, dan seluruh amal usaha tingkat wilayah. Acara silaturahmi yang digelar 2-3 Syawal ini, dihadiri oleh 23 DPD Hidayatullah seSulsel. DPD Hidayatullah yang tidak sempat hadir, adalah DPD Toraja Utara.

Silaturahmi kader Hidayatullah Sulsel pada 2 Syawal ini sudah menjadi rutinitas tahunan. Silaturahmi Syawal ini awalnya dicetuskan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel periode lalu, Ustad Mardhatillah. Dan terus dilanjutkan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel saat ini Ust Drs Nasri Bukhari MPd.

Syawalan Hidayatullah Sulsel 1443 H ini mengangkat tema: Teguhkan Jati diri Kader; Merekatkan Ukhuwah dan Mengokohkan Jama’ah, secara khusus menghadirkan Ustad Abdurrahman dari Hidayatullah Surabaya.

Ustad Abdurrahman, adalah salah seorang pendiri Hidayatullah Surabaya. Ia juga mantan Ketua DPP pertama Hidayatullah, periode 2000-2005. Saat ini menjabat sebagai anggota Badan Pertimbangan Hidayatullah.

Dalam taushiyahnya, Ustad Abdurrahman menegaskan, tentang pentingnya semangat jihad para kader dalam mengemban amanah di Hidayatullah.

“Keterlibatan kita di lembaga ini, adalah dalam rangka jihad. Mengurus pondok dan organisasi ini harus penuh dengan semangat jihad,” ucapnya.

Ia menegaskan, meskipun dalam mengelola amal usaha atau yayasan yang sudah bergelimang materi, tapi para kader harus tetap menjaga spirit dan nawaitu jihadnya.

Ustad Nasri Buhari, selaku Ketua DPW Hidayatullah Sulsel menjelaskan acara ini sebagai ajang silaturahim pasca Ramadhan. Juga untuk menyerap aspirasi dan inspirasi, setelah bulan suci Ramadhan. Selain itu juga untuk menguji komitmen para kader.

“Acara ini untuk menguji komitmen para kader Hidayatullah Sulsel, juga untuk menyerap inspirasi kader selama bulan suci Ramadhan. Jika ada kader yang tidak hadir tanpa alasan syar’i, akan menjadi catatan tersendiri,” ungkap mantan ketua DPW Sultra periode lalu ini.

“Kami berharap, semua kader tetap hangat, dan semangat dalam menjalankan amanat organisasi. Dan Ramadhan kali ini, bisa menjadi inspirasi sukses para kader dalam mengemban amanah” jelasnya.

Silaturahmi kali ini juga mendapat penguatan spirit dari tiga tokoh senior Hidayatullah Sulsel; Ustad Abdul Majid, (Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel), Ustad Ahkam Sumadiana (instruktur nasional Hidayatullah), dan Ustad Ir Abdul Aziz Qahhar Dewan Pertimbangan, yang memberikan pencerahan secara online, langsung dari kota Jeddah.■ Sarmadani Karani

DPW Hidayataullah Sulsel Selenggarakan Silaturrahmi Syawal 1443 H

0

PAREPARE, HidayatullahSulsel.com — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel menyelenggarahkan Silaturrahmi Syawal 1443 Hijriah bagi jajaran pengurus harian DPD dan Yayasan Hidayatullah se-Sulsel.

Kegiatan ini diselenggarakan di kampus madya Parepare, Selasa, (3/5/2022) dengan tema “Teguhkan jati diri kader; Merawat ukhuwah, Mengokohkan jama’ah.”

Hadir sebagai narasumber, Anggota Dewan Pertimbangan DPP Hidayatullah Ustadz Drs. Ec. H. Abdul Rahman, Ketua DMW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Ir. H. Abdul Majid, MA dan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd

Panitia penyelenggara, Ustadz Sumariadi menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini selain untuk merawat ukhuwah dan jama’ah, ini juga adalah untuk melaporkan three sukses yang menjadi program utama kader Hidayatullah selama Ramadhan.

“Kita berkumpul dalam Silaturrahmi Syawalan ini selain meneguhkan jati diri kader dengan menguatkan Ukhuwah dan Jama’ah, kegitan ini juga sebagai laporan three sukses kader selama Ramadhan yaitu, sukses dakwah, sukses tarbiyah dan sukses pelayanan ummat,” terang Sumariadi.■ rid gagah

Khatam 10 Kali, Santri Pondok Tahfidz Tanralili Terima Reward

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — Santri tahfidz putra dan putri yang berhasil mengkhatamkan quran 10 kali menerima penghargaan.

“Ada dua santei yang mencapai penghargaan,” ungkap Mudir Ma’had Tahfidzul Qur an Hidayatullah Tanralili Maros, Ust Firdaus di Maros, Sabtu (1/5/2022).

Pihaknya berharap penghargaan serupa lebih semarak lagi untuk mendorong santri memperbanyak khatamnya selama Ramadhan.

Santri yang meraih penghargaan dengan khataman sesuai target atas nama Farhan dan Habil, santri putri atas nama Fadilah dan Ainun.

Ketua Departemen Dakwah DPD Hidayatullah Maros ust Robianto mengatakan penghargaan tersebut swbagai salah satu proses tarbiah di Hidayatullah.

“Kalau di luar Ramadhan targer biasanya hanya 1 kali tiap bulan, melalui gerakan nawafil Hidayatullah yang dikontrol langsung oleh masing masing murabbi,” jelasnya.■ kaisar.

Guru MQH Mushida Maros Buka Puasa Bersama

0

MAROS, HidayatullahSulsel.com — Telah berlangsung kegiatan buka bersama pada Rabu (27/4/2022), di rumah salah seorang murid MQH binaan Muslimat Hidayatullah (Mushisa) Maros di Dusun Tanete Simbang.

Buka puasa tersebut dihadiri Bupati Maros Chaidir Syam. “Terima kasih kepada ibu-ibu santri MQH, semua guru dan masyarakat bisa hadir semoga tahun yang akan datang bisa lagi lebih banyak,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Muhammad Kaisar.

Menurutnya, peran Mushida Maros dalam pelajaran Al Qur an sudah bisa dirasakan hasilnya, teritama untuk usia lansia juga belajar kembali belajar Quran.

Bupati Luwu Timur Letakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Pesantren Hidayatullah Towuti

0

LUTIM, HidayatullhSulsel.com — Bupati Luwu Timur Drs H Budiman MPd melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Umar Bin Abdul Aziz Ponpes Hidayatullah Towuti, Selasa, (27/4/2022).

Budiman mengaku sangat bersyukur bisa terlibat dalam peletakan batu pertama pembangunan masjid Ponpes Hidayatullah Towuti sebab kesempatan berbuat baik itu tidak semua orang bisa.

“Terlebih lagi Hidayatullah dengan saya itu cukup dekat. banyak teman-teman saya juga orang Hidayatullah. Sehingga bisa mengambil bagian dalam peletakan batu pertama ini merupakan kebahagian bagi saya,” Kata Budiman.

Menurutnya membangun masjid adalah kemuliaan. Merupakan pekerjaan yang pahalanya terus mengalir. Karena itu, Allah pasti akan membantu melalui banyak cara termasuk keterlibatan pemerintah daerah dalam mengawal pembangunan masjid itu sampai selesai.

“Insya Allah saya bersama anggota legislatif khususnya di wilayah Towuti ini akan turut membantu pembangunan masjid ini, semoga apa yang telah kita niatkan ini mendapat ridho dari Allah ta’ala,” harap Budiman.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Luwu Timur Aripin, Wakapolres Lutim Kompol Muh Rifai, Camat Towuti Saenal, Kepala Desa Asuli Martha Soba’ Palengka serta Managemen PT Vale, Kamto.■ Ridwan Gagah