Rabu, Mei 13, 2026
BerandaKolom KhususDari Wartawan ke Penggerak Ekonomi Umat (Catatan Perjalanan Bersama H. Firman, Ketua...

Dari Wartawan ke Penggerak Ekonomi Umat (Catatan Perjalanan Bersama H. Firman, Ketua LPH Sulsel)

Oleh : Abdul Jabbar*

Perjalanan menuju arena Rakornas Ekonomi itu sebenarnya tidak terlalu panjang. Namun, seperti banyak perjalanan yang dipenuhi percakapan bermakna, jarak terasa meluas karena diskusi yang berlangsung begitu padat. Di dalam kendaraan, saya duduk bersama , sosok yang dikenal luas melalui Portal Amanah dan kiprahnya dalam dunia media serta penguatan ekonomi umat.

Sepanjang perjalanan, obrolan kami mengalir dari satu tema ke tema lain. Ada tiga kata yang terus muncul dan seakan menjadi simpul utama pembicaraan kami, yakni jabatan, profesionalisme, dan ekonomi mandiri. Tiga hal ini tampak sederhana jika disebutkan sepintas. Namun ketika dibedah lebih dalam, ketiganya saling berkaitan dan membentuk fondasi penting dalam membangun kekuatan umat di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

H. Firman bercerita tentang perjalanan amanah yang ia jalani. Dahulu, sebagian besar waktunya dihabiskan di ruang redaksi. Hari-harinya dipenuhi aktivitas memburu berita, memverifikasi informasi, menelusuri data, lalu menyusunnya menjadi tulisan yang layak dibaca publik. Dunia media menuntut ketelitian, kecepatan, dan keberanian menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi.

Namun hidup sering kali menghadirkan jalan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Allah kemudian memindahkan beliau dari ruang redaksi menuju ruang ekonomi. Dari seorang wartawan, beliau dipercaya mengelola Departemen Ekonomi di sebuah yayasan, hingga akhirnya mengemban amanah sebagai Ketua LPH Sulsel. Perubahan bidang ini tampak kontras di permukaan, tetapi sesungguhnya memiliki ruh pengabdian yang sama.

Dari cerita itu saya menangkap satu pelajaran penting. Jabatan boleh berubah, medan kerja boleh berganti, tetapi nilai khidmat tidak boleh hilang. Ketika berada di dunia media, pengabdiannya diwujudkan dengan menjaga kebenaran informasi agar masyarakat tidak tersesat oleh kabar yang menyesatkan. Ketika berada di dunia ekonomi, pengabdiannya diwujudkan melalui upaya menjaga kehalalan transaksi, memastikan produk yang beredar sesuai syariat, dan menghadirkan sistem ekonomi yang lebih sehat serta berkeadilan.

Keduanya sama-sama merupakan ruang dakwah. Sama-sama membutuhkan kejujuran dan tanggung jawab. Dalam istilah Al Quran, semuanya membutuhkan qaulan sadida, perkataan dan keputusan yang benar. Sebab pada akhirnya, dakwah tidak hanya berdiri di atas mimbar. Dakwah juga hadir di ruang rapat, pasar, kantor, lembaga usaha, bahkan di meja administrasi dan laporan keuangan.

Pembicaraan kami kemudian bersinggungan dengan arahan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust. Dr. Sholeh Utsman, tentang pentingnya memasuki ruang mutaghayyirat. Sebuah ruang yang menuntut adaptasi dan kemampuan membaca perubahan. Nilai dasar atau tsabit tetap harus dijaga. Amanah tidak boleh berubah. Kejujuran tidak boleh ditawar. Kehalalan harus tetap menjadi prinsip utama. Namun cara bekerja, pendekatan manajemen, teknologi yang digunakan, dan kompetensi yang dimiliki harus terus berkembang mengikuti tantangan zaman.

Di titik inilah profesionalisme menjadi sangat penting. Dalam diskusi kami, muncul satu konsep manajemen yang menarik, yakni First Who, Then What dari buku Good to Great karya . Konsep ini menekankan bahwa keberhasilan sebuah organisasi dimulai dari siapa orang-orang yang berada di dalamnya sebelum membahas apa yang akan dikerjakan.

Prinsip ini sesungguhnya bukan hal baru dalam Islam. Rasulullah SAW telah mempraktikkannya jauh sebelum teori manajemen modern lahir. Ketika membangun masyarakat Madinah, Rasulullah tidak hanya membangun sistem, tetapi terlebih dahulu membangun manusia. Beliau menempatkan sahabat sesuai kapasitas dan karakter masing-masing. Abu Bakar dikenal matang dalam urusan finansial dan kepercayaan. Umar memiliki ketegasan dalam pengawasan dan regulasi. Utsman memiliki kekuatan dalam investasi dan pengembangan usaha. Abdurrahman bin Auf dikenal piawai dalam perdagangan dan pemasaran.

Mereka adalah tim inti yang dibangun berdasarkan kapasitas, integritas, dan visi perjuangan. Setelah orang-orang tepat berada di tempat yang tepat, arah perjuangan menjadi lebih mudah dijalankan.

H. Firman menegaskan bahwa profesionalisme bukan sekadar soal gelar akademik atau pengalaman teknis. Profesionalisme adalah kesungguhan menjaga amanah dengan standar kerja terbaik. Karena itu, seseorang tidak selalu harus bekerja secara linear sesuai latar belakang pendidikannya. Ada wartawan yang justru memiliki ketajaman membaca peluang ekonomi karena terbiasa menganalisis data dan tren. Ada lulusan teknik yang sangat rapi membangun sistem gudang dan distribusi. Ada pula aktivis dakwah yang ternyata mampu membangun jaringan bisnis dengan kuat karena memiliki kemampuan komunikasi dan kepercayaan publik.

Yang paling penting adalah karakter amanah, kemauan untuk terus belajar, serta komitmen terhadap visi besar lembaga dan perjuangan umat. Kapasitas teknis bisa diasah. Pengalaman bisa dibangun. Namun integritas adalah fondasi yang harus dijaga sejak awal.

Di LPH Sulsel, profesionalisme itu tampak nyata dalam kerja sehari-hari. Standar halal dijaga dengan ketat. Proses audit dilakukan secara sistematis. Sertifikasi dipastikan berjalan sesuai aturan. Semua dilakukan bukan sekadar untuk memenuhi administrasi, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat muslim agar memperoleh produk yang halal dan baik.

Pembahasan kami lalu mengerucut pada tema yang paling banyak menyita perhatian, yakni ekonomi mandiri. Menurut H. Firman, kemandirian ekonomi umat tidak mungkin lahir hanya dari semangat sesaat. Ia membutuhkan gagasan yang matang, kerja kolektif, dan narasi yang terus dihidupkan.

Di tengah percakapan itu, beliau menyampaikan kalimat yang cukup membekas dalam ingatan saya. Ia mengatakan bahwa ide dan gagasan harus terus dituangkan dalam tulisan. Ekonomi umat membutuhkan narasi. Membutuhkan peta jalan. Membutuhkan dokumentasi pemikiran agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kalimat itu terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini. Banyak gerakan besar gagal bertahan bukan karena kekurangan semangat, melainkan karena gagasannya tidak terdokumentasi dengan baik. Ketika para pelakunya pergi, pengalaman dan pelajaran ikut hilang bersama waktu. Padahal peradaban dibangun bukan hanya dengan kerja fisik, tetapi juga dengan tradisi menulis dan mendokumentasikan ide.

Akhir-akhir ini interaksi kami memang cukup intens. LPH Sulsel tetap menjaga nilai tsabit dengan memastikan seluruh produk pesantren memenuhi standar halal dan thayyib. Sementara Departemen Ekonomi terus bergerak di ruang mutaghayyirat dengan membangun inovasi usaha, memperkuat jaringan ekonomi, serta mendorong lahirnya unit-unit produktif yang mampu menopang kemandirian lembaga.

Perjalanan bersama H. Firman itu akhirnya menyadarkan saya bahwa kemandirian tidak pernah lahir dari kerja seorang diri. Ia tumbuh dari kolaborasi, dari pertukaran gagasan, dan dari kesediaan setiap orang untuk mengambil peran terbaiknya. Dari ruang redaksi menuju ruang ekonomi, dari menulis berita hingga menyusun business plan, semuanya adalah bagian dari ikhtiar panjang membangun kekuatan umat.

Sebab pada akhirnya, peradaban besar selalu dimulai dari gagasan yang dituliskan, lalu diperjuangkan bersama hingga menjadi kenyataan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments