Oleh : Abdul Qadir bin Muhammad*
Ketika Allah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Dunia Pendidikan
Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tidak berhenti pada perintah membaca di ayat pertama, dan tidak berakhir pada pengingat asal-usul di ayat kedua. Pada ayat ketiga, Al-Quran menghadirkan sesuatu yang sama sekali tidak terduga, dan justru di sinilah fondasi terdalam paradigma pendidikan Islam diletakkan.
Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia pertama kali bukan sebagai Al-Jabbar yang memaksa, bukan sebagai Al-Qahhar yang menundukkan, bukan pula sebagai Al-Muntaqim yang membalas. Allah memperkenalkan diri-Nya, dalam konteks perintah membaca dan mencari ilmu, sebagai Al-Akram. Yang Maha Mulia, Maha Pemurah, dan Maha Memuliakan. Pilihan ini bukan sekadar ungkapan teologis. Ia adalah deklarasi pedagogis terdalam yang pernah diucapkan.
Al-Akram: Analisis Linguistik dan Makna Pedagogisnya
Ayat ketiga surah Al-‘Alaq hadir dalam formulasi yang sangat padat namun sangat kaya:
ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ
“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.”(QS. Al-‘Alaq: 3)
Dalam bahasa Arab, kata Al-Akram merupakan bentuk superlatif dari karim, yang memiliki spektrum makna yang sangat luas, mulia, dermawan, luhur dalam memberi, memuliakan pihak lain, dan tidak menghina ketika memberi. Ibn Faris dalam Maqayis al-Lughah menjelaskan bahwa akar kata كرم dalam seluruh derivasinya selalu mengandung makna kemulian yang disertai dengan pemberian yang tidak merendahkan penerima. Inilah yang membedakannya dari sekedar ‘baik hati’ dalam pengertian umum.
Ketika Allah mengaitkan perintah iqra’ dengan sifat-Nya sebagai Al-Akram, Ia sedang membangun proposisi yang sangat kuat, bahwa ilmu adalah pemberian yang memuliakan, bahwa Allah sebagai sumber ilmu tertinggi memberikannya dengan kemurahan tanpa menghinakan penerimanya, dan bahwa seluruh proses pendidikan yang benar harus mencerminkan sifat Al-Akram ini. Guru yang mendidik dengan menghina, meremehkan, atau menekan, bertentangan secara fundamental dengan paradigma pendidikan Qur’ani.
Perlu juga dicatat bahwa ayat ini mengulang perintah iqra’ untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya muncul di ayat pertama. Para mufassir menjelaskan bahwa pengulangan ini bukan sekadar penekanan, melainkan pemberitahuan bahwa setiap sesi membaca dan belajar harus selalu dikembalikan kepada kesadaran tentang Tuhan Yang Maha Mulia sebagai sumbernya. Belajar yang baik adalah belajar yang terus diperbarui orientasi ilahiahnya.
Landasan Teologis Tarbiyah: Ilmu Sebagai Jalan Pemuliaan
Penghubungan aktivitas belajar dengan sifat Al-Akram secara langsung menegaskan bahwa dalam Islam, ilmu bukan sekadar instrumen untuk mencapai tujuan material. Ilmu adalah sarana pemuliaan manusia sebagai makhluk yang telah diberi kehormatan oleh Allah. Hal ini diperkuat oleh firman Allah di tempat lain yang menjadi salah satu ayat tarbawi paling fundamental dalam Al-Quran:
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah/58: 11)
Kata darajat yang digunakan dalam ayat ini dalam bentuk jamak tanpa batas menunjukkan bahwa pengangkatan derajat melalui ilmu bersifat bertingkat, berlapis, dan tidak terbatas pada satu dimensi kehidupan saja. Ia mencakup derajat sosial, moral, spiritual, dan ukhrawi sekaligus. Ilmu dalam Islam dengan demikian adalah investasi peradaban yang paling komprehensif.
Lebih jauh lagi, Allah menyebut diri-Nya sebagai Al-Akram justru saat memerintahkan aktivitas intelektual, bukan saat memerintahkan aktivitas ritual. Ini mengandung makna yang sangat dalam bahwa mencari ilmu adalah salah satu jalan paling langsung untuk mendekat kepada sifat-sifat Allah, dan bahwa Allah merespons aktivitas belajar dengan kemurahan yang tidak terbatas. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)
Hadits ini bukan hanya janji tentang akhirat. Ia adalah pernyataan tentang mekanisme ilahiah yang bekerja dalam kehidupan orang yang belajar dengan sungguh-sungguh: Allah, sebagai Al-Akram, memberikan kemudahan secara aktif bagi mereka yang aktif mencari ilmu.
Paradigma Pendidikan Qur’ani: Dari Tekanan menuju Pemuliaan
Salah satu krisis terdalam pendidikan modern adalah transformasi ruang belajar menjadi arena tekanan. Peserta didik belajar dalam ketakutan akan nilai buruk, penilaian negatif dari guru, dan kegagalan yang akan memalukan. Sistem pendidikan yang bertumpu pada kompetisi destruktif, peringkat yang mengeksklusi, dan penilaian yang menghukum telah secara sistematis menciptakan generasi yang pintar secara teknis namun terluka secara psikologis.
Wahyu ketiga Al-‘Alaq menghadirkan paradigma yang secara radikal berbeda. Allah tidak membuka pendidikan manusia dengan ancaman dan konsekuensi kegagalan. Ia membukanya dengan memperkenalkan diri-Nya sebagai sumber kemurahan. Ini adalah arsitektur motivasi yang sangat cerdas: manusia didorong untuk belajar bukan karena takut dihukum, melainkan karena menyadari bahwa ia sedang mendekat kepada Tuhan Yang Maha Mulia.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pelaksana tarbiyah Qurani menunjukkan prinsip ini dalam setiap aspek metode pengajarannya. Beliau tidak mempermalukan murid yang tidak tahu, tidak mencela secara destruktif, dan senantiasa membangun harapan bahkan kepada mereka yang paling sering melakukan kesalahan. Beliau bersabda:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Sampaikan kabar gembira dan jangan membuat orang lari. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan sekadar panduan umum. Ia adalah prinsip metodologi tarbiyah yang sangat spesifik: proses belajar harus dibangun di atas kemudahan, bukan kesulitan yang disengaja; di atas kabar gembira, bukan ancaman yang menakutkan. Ini adalah implementasi konkret dari sifat Al-Akram dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Dalam konteks ini, peran guru dalam Islam melampaui fungsi sebagai mu’allim yang sekadar menyampaikan materi. Ia adalah murabbi yang memelihara pertumbuhan jiwa, muaddib yang membentuk karakter, dan mursyid yang mengarahkan orientasi belajar kepada Allah. Ketiganya mustahil dijalankan tanpa kehadiran kasih sayang sebagai fundamen relasi guru dan murid.
Al- Akram dan Mitivasi Intrinsik
Psikologi pendidikan modern membedakan dua jenis motivasi belajar yang memiliki dampak berbeda secara signifikan terhadap kualitas dan ketahanan proses belajar. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang didorong oleh faktor dari luar diri, seperti nilai, hadiah, hukuman, atau pengakuan sosial. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang lahir dari dalam diri, dari kesadaran makna, rasa ingin tahu, dan kepuasan dalam proses belajar itu sendiri.
Wahyu ketiga Al-‘Alaq “Iqraʼ wa Rabbukal Akram” secara sangat cerdas membangun motivasi intrinsik yang paling dalam dan paling tahan lama yang bisa dimiliki seorang pelajar, yaitu kesadaran bahwa ia sedang mendekat kepada Allah Yang Maha Mulia melalui aktivitas mencari ilmu. Ini adalah motivasi yang tidak bergantung pada nilai ujian, tidak goyah ketika tidak ada pengakuan sosial, dan tidak padam ketika menghadapi kesulitan, karena akarnya tertanam di dalam jiwa, bukan di dalam kondisi eksternal.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini, yang menjadi fondasi seluruh etika amal dalam Islam, memiliki implikasi langsung bagi motivasi belajar. Ketika niat mencari ilmu diarahkan kepada Allah sebagai Al-Akram, seluruh proses belajar bertransformasi dari aktivitas kognitif biasa menjadi ibadah yang bermakna secara spiritual. Dan ibadah, oleh sifat dasarnya, memiliki sumber motivasi yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan daripada sekadar ambisi duniawi.
Salah satu perkembangan paling menarik dalam neurosains pendidikan pada dua dekade terakhir adalah pembuktian ilmiah terhadap apa yang wahyu pertama telah ajarkan selama empat belas abad bahwa kasih sayang, keamanan emosiownal, dan pemuliaan manusia bukan hanya baik secara moral, tetapi secara biologis merupakan kondisi yang paling optimal bagi otak untuk belajar.
Prinsip Al-Akram dalam pendidikan, yang menciptakan ruang belajar yang aman dan memuliakan, dengan demikian bukan hanya indah secara nilai, tetapi secara neurobiologis mengaktifkan kapasitas berpikir tertinggi yang dimiliki manusia. Wahyu pertama telah merancang kondisi neurobiologis paling optimal bagi pembelajaran bahkan sebelum ilmu neurosains mengetahui cara kerjanya.
Krisis Pendidikan Modern dan Panggilan Untuk Kembali Kepada Al-Akram
Dunia pendidikan hari ini menghadapi paradoks yang menyolok. Akses terhadap informasi semakin mudah dan murah, namun tingkat kecemasan pada pelajar justru meningkat tajam. Laporan WHO (2021) mencatat bahwa gangguan kecemasan dan depresi di kalangan pelajar usia sekolah telah mencapai proporsi yang memprihatinkan di hampir seluruh wilayah dunia. Di satu sisi ada ledakan informasi, di sisi lain ada krisis makna.
Akar masalahnya bukan pada kurangnya kurikulum atau minimnya teknologi. Akarnya adalah pada filosofi pendidikan yang keliru: pendidikan telah dibangun di atas logika produksi tenaga kerja, bukan pemuliaan manusia. Peserta didik diperlakukan sebagai objek yang diisi dengan kompetensi, bukan sebagai subjek yang tumbuh dalam kemuliaan. Guru dipaksa menjadi penyampai konten kurikulum, bukan murabbi yang membimbing jiwa.
Krisis ini memerlukan solusi yang lebih dari sekadar reformasi metode. Ia memerlukan revolusi filosofi. Dan jawaban itu telah ada jauh sebelum krisis ini muncul, tersimpan dalam tiga kata di ayat ketiga surah Al-‘Alaq:
اِقْرَا وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ
“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.”(QS. Al-‘Alaq: 3)
Kembali kepada Al-Akram berarti membangun kembali pendidikan di atas kasih sayang, bukan ketakutan. Di atas pemuliaan manusia, bukan eksploitasi potensinya. Di atas makna spiritual yang dalam, bukan sekadar kecakapan teknis yang dangkal. Ini bukan romantisme masa lalu. Ini adalah kebutuhan mendesak yang dikonfirmasi oleh sains dan dipertegas oleh wahyu.
Reflektif: Membaca Dalam Naungan Tuhan Yang Maha Memuliakan
Wahyu pertama tidak hanya memerintahkan manusia untuk membaca teks. Ia mengundang manusia untuk membaca seluruh kehidupan, diri sendiri, sejarah, alam semesta, dan realitas sosial, dalam cahaya Tuhan Yang Maha Mulia. Setiap aktivitas belajar yang dilakukan bismi rabbika dan dalam kesadaran akan rabbukal akram adalah aktivitas yang terhubung dengan sumber kemuliaan yang tidak pernah habis.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menerima wahyu pertama dalam guncangan jiwa yang sangat besar. Namun Allah tidak membiarkan beliau bertumbuh dalam ketakutan. Allah memperkenalkan diri-Nya dengan kemurahan. Dan dari perkenalan itu lahirlah seorang pendidik terbesar dalam sejarah umat manusia, yang mendidik bukan dengan ancaman melainkan dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan melainkan dengan keteladanan, bukan dengan merendahkan melainkan dengan memuliakan setiap jiwa yang datang kepadanya.
Di tengah krisis pendidikan yang semakin dalam, panggilan itu masih terngiang dengan sangat jelas: Iqra’ wa rabbukal akram. Bacalah, belajarlah, bertumbuhlah. Namun lakukan semuanya dalam naungan Tuhan Yang Maha Memuliakan. Karena hanya dalam naungan itulah ilmu akan benar-benar membebaskan, bukan membelenggu. Hanya dalam naungan itulah pendidikan akan benar-benar memanusiakan, bukan sekadar menghasilkan.
*Penulis adalah ketua STAI Al-Bayan Makassar



