Oleh : Muhammad Nashrullah Alwi*
Dalam banyak narasi sejarah modern, peran militer sering diposisikan sebagai wilayah yang terpisah dari dunia pendidikan. Komandan dipandang sebagai teknokrat perang yang bertugas menyusun strategi dan mengatur pasukan, sementara pembinaan intelektual dianggap sebagai urusan para ulama di ruang-ruang pengajaran.
Namun, lembaran awal sejarah Islam memperlihatkan gambaran yang berbeda. Dalam Sirah Nabawiyah dan perjalanan para Khulafaur Rasyidin, kita menemukan sosok panglima yang tidak hanya piawai di medan perang, tetapi juga berperan sebagai murabbi dan faqih. Mereka bukan sekadar pemimpin taktis, melainkan pendidik yang membentuk kesadaran iman dan ilmu di tengah pasukan.
Keberhasilan ekspansi Islam pada masa awal tidak hanya disokong oleh kecerdikan strategi militer. Ia berdiri di atas fondasi ideologis dan spiritual yang dibangun melalui tradisi halaqah ilmu yang terus hidup bahkan di tengah situasi peperangan.
Keseimbangan antara jihad dan tafaqquh
Landasan pembinaan ini bersumber langsung dari Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara perjuangan fisik dan pendalaman ilmu agama. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya agar mereka dapat menjaga diri. (QS At-Taubah 122)
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting dalam peradaban Islam. Perjuangan tidak boleh berjalan tanpa panduan ilmu. Tafaqquh fiddin berfungsi menjaga arah moral dan etika dari setiap bentuk perjuangan. Tanpa ilmu, kekuatan fisik berpotensi kehilangan orientasi.
Karena itulah generasi sahabat membangun tradisi ilmu yang berjalan seiring dengan aktivitas jihad. Mereka memahami bahwa kemenangan sejati tidak hanya ditentukan oleh strategi militer, tetapi juga oleh kualitas iman dan pemahaman agama para pejuangnya.
Halaqah ilmu di tengah medan perang
Sejarah mencatat bahwa para panglima besar Islam juga berperan sebagai pembina spiritual pasukan. Nama-nama seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal dikenal bukan hanya sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai pengajar ilmu.
Imam Adz-Dzahabi dalam karya monumentalnya Siyar A’lam an-Nubala menggambarkan karakter pasukan Muslim yang memiliki kualitas ruhani yang sangat kuat. Mereka dikenal sebagai ruhbanun fillail wa usudun finnahar. Sosok yang ahli ibadah di malam hari dan menjelma singa garang di siang hari.
Salah satu metode pembinaan yang menonjol adalah tradisi halaqah yang bersifat mobilitas tinggi. Pembinaan tidak selalu berlangsung di masjid atau ruang belajar formal. Dalam perjalanan panjang pasukan atau saat pengepungan benteng, para sahabat senior tetap mengadakan majelis ilmu.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat bahwa di sela-sela perjalanan dan kamp militer, para sahabat duduk melingkar untuk melakukan talqin dan mudzakarah. Talqin dilakukan dengan mendiktekan ayat, hadits, atau prinsip-prinsip fiqh, sementara mudzakarah menjadi ruang diskusi dan penguatan pemahaman.
Mu’adz bin Jabal pernah memberikan pesan yang menggambarkan nilai spiritual dari proses belajar tersebut. Beliau mengatakan:
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلَّهِ خَشْيَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ
Pelajarilah ilmu. Mempelajarinya karena Allah menumbuhkan rasa takut kepada-Nya. Mencarinya adalah ibadah dan mendiskusikannya adalah tasbih. (Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim)
Dengan pola pembinaan seperti ini, pasukan Islam tidak hanya kuat secara fisik tetapi juga matang secara spiritual dan intelektual.
Kepemimpinan yang membina manusia
Rasulullah ﷺ dan para penerusnya juga menerapkan sistem kaderisasi yang rapi di dalam struktur pasukan. Pasukan dibagi dalam unit-unit kecil yang dipimpin oleh seorang naqib atau pemimpin kelompok.
Tugas seorang pemimpin unit tidak berhenti pada urusan taktis. Ia juga bertanggung jawab menjaga kualitas iman dan ilmu anggota pasukannya. Hafalan Al-Qur’an, pemahaman fiqh, serta etika jihad menjadi bagian dari pembinaan rutin di dalam kelompok.
Model ini melahirkan tipe kepemimpinan yang utuh. Seorang komandan bukan hanya pengatur strategi, tetapi juga pembina manusia. Dari tradisi ini lahir generasi pemimpin yang memiliki tiga kekuatan sekaligus.
Yaitu, pertama, kekuatan spiritual melalui tazkiyah yang menjaga keteguhan hati dalam tekanan. Kedua kedalaman intelektual melalui tafaqquh yang melahirkan kemampuan analisis dan ijtihad. Dan ketiga, kemampuan manajerial melalui disiplin dan koordinasi dalam mengelola pasukan.
Kombinasi tiga unsur inilah yang membuat kepemimpinan generasi sahabat memiliki ketangguhan luar biasa.
Pelajaran bagi kepemimpinan masa kini
Warisan sejarah ini memberikan pelajaran penting bagi organisasi modern. Kepemimpinan yang kuat tidak cukup hanya bertumpu pada target kinerja atau ekspansi organisasi. Ia harus dibangun di atas proses pembinaan manusia yang berkelanjutan.
Seorang pemimpin sejatinya adalah mentor yang menumbuhkan kapasitas intelektual, spiritual, dan moral orang-orang yang dipimpinnya. Organisasi yang mengabaikan proses pembinaan biasanya akan mengalami kemunduran moral sebelum mengalami kegagalan struktural.
Sejarah menunjukkan bahwa runtuhnya kekuatan sering kali dimulai ketika tradisi halaqah ilmu berhenti. Ketika proses pembinaan melemah, disiplin dan integritas perlahan ikut memudar.
Sebaliknya, organisasi yang menghidupkan kembali tradisi pembinaan yang dinamis akan melahirkan kader yang bukan hanya cakap dalam eksekusi, tetapi juga kokoh dalam prinsip.
Pada akhirnya, model kepemimpinan yang diwariskan generasi awal Islam mengajarkan satu hal yang sangat penting. Kekuatan sejati sebuah gerakan tidak hanya lahir dari strategi dan struktur, tetapi dari manusia-manusia yang dibentuk oleh ilmu, iman, dan pembinaan yang terus hidup.
Referensi
Safiyyu ar-Rahman al-Mubarakfuri – Ar-Rahiqul Makhtum
Adz-Dzahabi – Siyar A’lam an-Nubala
Ibnu Katsir – Al-Bidayah wan Nihayah
Abu Nu’aim al-Ashbahani – Hilyatul Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya
*H. Muhammad Nashrullah Alwi, Lc., M.M., adalah alumnus Hadits Universitas Islam Madinah yang kini menjabat sebagai Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulsel.



