Oleh: Ahmad Sabil*
TIDAK semua ujian dakwah datang dalam bentuk tekanan dari luar. Tidak semuanya berupa keterbatasan dana, penolakan masyarakat, atau tantangan struktural organisasi. Sebagian ujian justru hadir paling sunyi dan bersemayam di dalam hati para pejuangnya sendiri. Dan da bernama prasangka.
Dalam perjalanan dakwah, kita tidak berjalan sendiri. Kita berjalan dalam barisan, dalam jamaah. Dan justru di sanalah ujian itu menjadi lebih halus sekaligus lebih berbahaya. Sebab yang diuji bukan hanya ketahanan fisik atau kecerdasan strategi, melainkan cara kita memandang saudara seperjuangan.
Hidayatullah adalah lembaga dakwah. Dakwah bukan sekadar aktivitas, apalagi rutinitas. Ia adalah jalan hidup. Dakwah berarti mengajak manusia menuju kebaikan. Dan itu dilakukan dengan kesabaran, keteladanan, dan kelapangan hati. Karena itu, sebelum lisan sibuk mengajak orang lain, hati pendakwah harus terlebih dahulu dijaga.
Prasangka, Retakan Kecil yang Menghancurkan Bangunan Jamaah
Prasangka sering kali tidak terasa sebagai dosa besar. Ia datang dalam bentuk dugaan, asumsi, atau “kewaspadaan berlebih” yang tampak masuk akal. Namun di situlah letak bahayanya. Prasangka bekerja perlahan, merayap tanpa suara, tetapi ketika dibiarkan, ia menggerogoti fondasi jamaah.
Dari prasangka lahir jarak. Dari jarak tumbuh kecurigaan. Dari kecurigaan muncul pembicaraan. Dan dari pembicaraan yang tak terjaga, perpecahan menemukan jalannya.
Karena itulah Al-Qur’an memberi peringatan yang sangat tegas kepada orang-orang beriman, yang tentu saja berlaku bagi kita yang berada dalam barisan dakwah. Allah Ta’ala berfiman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini turun bukan untuk mereka yang duduk di luar perjuangan, tetapi untuk mereka yang sedang berada di tengah medan dakwah. Karena di sanalah prasangka paling mudah tumbuh. Terutama ketika kelelahan, perbedaan pandangan, atau keputusan organisasi tidak sejalan dengan harapan pribadi.
Rasulullah ﷺ bahkan memperingatkan dengan ungkapan yang sangat keras:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Cara Pandang Dakwah
Dalam perjalanan dakwah, melihat kekurangan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Kita menyaksikan sikap yang kurang tepat, keputusan yang terasa keliru, atau langkah yang tidak sesuai harapan. Namun persoalannya bukan pada apa yang kita lihat, melainkan dengan kacamata apa kita melihatnya.
Dakwah tidak dibangun dengan kacamata hakim, tetapi dengan hati seorang murabbi. Kita tidak ditugaskan untuk memvonis, melainkan membina. Tidak untuk mengadili, tetapi mendampingi.
Setiap kader sedang berproses. Setiap saudara sedang bertumbuh di titiknya masing-masing. Ada yang melangkah cepat, ada yang tertatih. Ada yang telah lama belajar, ada yang baru mengenal jalan ini. Bahkan Allah ﷻ sendiri memberikan ruang luas bagi manusia untuk memperbaiki diri:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ
“Seandainya Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak ada satu makhluk pun yang tersisa di muka bumi.” (QS. An-Nahl: 61)
Jika Allah saja menangguhkan hukuman demi memberi kesempatan, lalu dari mana datangnya keberanian kita untuk mengunci saudara kita dalam prasangka?
Meneledani Nabi Menutup Pintu Prasangka
Satu peristiwa kecil dalam kehidupan Rasulullah ﷺ mengajarkan adab besar dalam menjaga hati jamaah. Suatu malam, beliau berjalan bersama istrinya, Shafiyyah binti Huyayy radhiyallahu ‘anha. Dua sahabat Anshar melihat beliau bersama seorang perempuan di malam hari, lalu mempercepat langkah.
Rasulullah ﷺ segera memanggil mereka dan bersabda dengan tenang:
“Tenanglah kalian. Sesungguhnya dia adalah Shafiyyah binti Huyayy.”
Para sahabat menjawab dengan penuh adab, “Subhanallah, wahai Rasulullah. Kami tidak mungkin berprasangka buruk kepadamu.”
Namun Rasulullah ﷺ menutup peristiwa itu dengan pelajaran yang sangat mendalam:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah etika hidup berjamaah. Yaitu menutup pintu prasangka bahkan sebelum ia sempat terbuka. Bukan karena tidak saling percaya, tetapi karena memahami betapa halusnya bisikan yang dapat merusak ukhuwah.
Husnuzan sebagai Fondasi Pembinaan
Para ulama merumuskan prinsip dasar dalam muamalah dan pembinaan:
الأصل في الإنسان السلامة والصلاح
“Asal pada diri manusia adalah kebaikan dan keselamatan.”
Dengan prinsip ini, setiap kekurangan tidak diperlakukan sebagai alasan untuk menjauh, tetapi sebagai panggilan untuk mendekat. Bukan untuk membicarakan, tetapi untuk mendoakan. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membina.
Rasulullah ﷺ pun mengingatkan agar seorang mukmin tidak merasa aman dari ujian:
لَا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
“Janganlah engkau menampakkan rasa senang atas musibah yang menimpa saudaramu, karena bisa jadi Allah merahmatinya dan justru mengujimu.” (HR. Tirmidzi)
Menjaga Dakwah dengan Menjaga Hati
Dalam dakwah, siapa pun bisa diuji. Maka keselamatan kita terletak pada husnuzan. Yaitu prasangka baik kepada Allah dan kepada sesama pejuang dakwah.
Allah ﷻ berfirman dalam hadits qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika kita berprasangka baik kepada Allah, Dia akan menjaga langkah dakwah kita. Jika kita berprasangka baik kepada saudara kita, Dia akan menjaga ukhuwah kita.
Maka mari kita luruskan niat, bersihkan hati, dan perbaiki adab dalam jamaah. Kita bukan hakim yang sibuk menilai, tetapi pendakwah yang sibuk membina.
Semoga Allah menjadikan kita jamaah yang kokoh, lembut dalam menasihati, kuat dalam ukhuwah, dan istiqamah di jalan dakwah hingga akhir.lainkan jalan hidup. Dakwah berarti mengajak. Dan itu dilakukan dengan kesabaran, dengan keteladanan, dan dengan hati yang bersih. Sebab sebelum lisan mengajak orang lain menuju kebaikan, hati sang pendakwah harus lebih dahulu terjaga dari penyakit yang merusak.
*Penulis bernama lengkap Ahmad Sabil, S.Pd.I., S.H.I. dan merupakan Ketua DPC Hidayatullah Rappocini, Kota Makassar



