Saturday, January 31, 2026
HomeKolom KhususPojok KaderWattunnami: Ketika Waktu, Takdir, dan Iman Bertemu

Wattunnami: Ketika Waktu, Takdir, dan Iman Bertemu

Oleh : Ahmad Sabil*

Ada kalimat yang tidak sekadar diucapkan, tetapi dipendam maknanya oleh sejarah, budaya, dan iman. Salah satu kalimat itu adalah wattunnami. Ia terdengar sederhana, bahkan sering diucapkan tanpa penekanan. Namun di balik kesahajaannya, wattunnami menyimpan pandangan hidup yang dalam tentang waktu, takdir, dan ketundukan manusia kepada kehendak Allah.

Secara kebahasaan, wattunnami berasal dari kata wattu yang berarti waktu, dan nami yang bermakna sudah sampai atau telah tiba. Namun maknanya tidak berhenti pada penunjuk waktu kronologis sebagaimana jam dan kalender. Wattunnami menunjuk pada waktu yang telah ditetapkan, yang datang bersama kesiapan, rahasia, hikmah, dan izin Allah. Ia adalah pengakuan halus bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia.

Karena itu, tidak mengherankan jika ungkapan ini kerap muncul dari lisan pejabat terpilih, pemimpin adat, atau tokoh masyarakat. Dalam konteks tersebut, wattunnami menjadi pernyataan kerendahan hati. Bukan ambisi yang berbicara, melainkan kesadaran bahwa amanah hadir karena waktu telah mengantarkannya. Seolah pesan yang hendak disampaikan adalah, “Bukan saya yang memilih, tetapi waktu, dan tentu saja di balik waktu ada takdir Allah.”

Dalam kebudayaan Makassar, waktu tidak dipandang sebagai sesuatu yang netral. Ia dihormati, bahkan disakralkan, karena diyakini berjalan seiring dengan ketetapan Ilahi. Waktu bukan hanya latar peristiwa, melainkan aktor sunyi yang menentukan kapan sesuatu layak terjadi dan kapan ia harus ditunda.

Namun, makna wattunnami sangat bergantung pada siapa yang menuturkannya. Dari seorang pemimpin, ia dapat bermakna kesiapan memikul tanggung jawab. Dari seorang ulama, ia menjadi ekspresi kebijaksanaan dan kepasrahan pada takdir. Dari orang biasa, ia mencerminkan penerimaan dan keikhlasan. Tetapi dari hati yang sombong, kalimat yang sama bisa berubah menjadi pembenaran hawa nafsu. Di titik inilah wattunnami bukan lagi sekadar kata, melainkan cermin kondisi batin orang yang mengucapkannya.

Islam sendiri menempatkan waktu pada posisi yang sangat agung. Ia adalah salah satu makhluk Allah yang paling misterius: tidak bisa diulang, tidak bisa ditawar, dan tidak menunggu kesiapan manusia.

Allah bahkan bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Waktu adalah saksi hidup manusia. Dia bisa menjadi penolong, tetapi juga bisa menjadi penuntut di hadapan Allah.

Kesadaran ini ditegaskan para ulama sepanjang sejarah. Hasan Al-Bashri mengingatkan bahwa manusia sejatinya hanyalah kumpulan hari; setiap hari yang berlalu berarti sebagian dirinya telah pergi.

Ibnul Qayyim menggambarkan waktu seperti pedang. Jika tidak digunakan, ia akan menebas pemiliknya. Ali bin Abi Thalib mengibaratkan kesempatan seperti awan yang melintas cepat. Jika tidak ditangkap, ia akan lenyap tanpa kembali. Semua peringatan itu bermuara pada satu kesimpulan, yaitu waktu adalah modal iman dan amal.

Dalam fiqih Islam, waktu bahkan memiliki konsekuensi hukum. Setiap ibadah memiliki waktunya, dan nilai amal sangat ditentukan oleh ketepatan waktu. Amal yang benar tetapi dilakukan di luar waktunya bisa tertolak, sementara amal yang sederhana namun dilakukan pada saat yang tepat dapat bernilai luar biasa. Di sini, wattunnami menemukan relevansi teologisnya, bahwa tidak semua kebaikan harus dipaksakan sebelum waktunya tiba.

Keajaiban waktu tampak pada momen-momen kecil yang menentukan. Satu menit di saat sakaratul maut bisa lebih bernilai daripada ribuan tahun kelalaian. Satu doa di sepertiga malam memiliki kekuatan yang tidak dimiliki doa di waktu lain. Dan satu hidayah yang datang tepat pada saatnya mampu mengubah seluruh arah hidup seseorang.

Kisah Nabi Muhammad ﷺ dengan seorang Yahudi buta memberi gambaran yang sangat kuat tentang misteri ini. Setiap hari Nabi menyuapinya dengan penuh kasih, meski orang itu selalu mencaci beliau tanpa mengetahui siapa yang memberinya makan. Nabi tidak pernah memperkenalkan diri. Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar melanjutkan kebiasaan tersebut. Ketika sang Yahudi menyadari perbedaan dan mengetahui bahwa orang yang dahulu melayaninya adalah Muhammad ﷺ, pada saat itulah hatinya terbuka dan ia masuk Islam.

Hidayah itu tidak datang karena Abu Bakar lebih utama dari Nabi. Hidayah datang karena waktunya telah tiba. Nabi menanam dengan kasih sayang, Abu Bakar menyampaikan dengan kejujuran, dan Allah menentukan saat terbukanya hati. Inilah wattunnami dalam makna yang paling hakiki.

Pada akhirnya, wattunnami mengajarkan satu kebijaksanaan penting: tidak semua yang belum terjadi hari ini adalah kegagalan. Bisa jadi ia hanya belum sampai pada waktunya. Dan ketika waktu itu benar-benar tiba, tidak ada satu pun kekuatan di bumi yang mampu menghalanginya.

Wattunnami.
Sudah waktunya Allah berkehendak.
Manusia hanya diminta untuk bersabar, beriman, dan terus berjalan.

Wallāhu a‘lam.

*Ahmad Sabil, S.H.I. adalah Sekertaris DPD Hidayatullah Makassar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments